Jarh wa Ta’diil


Jarh wa Ta’diil

Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah :
Beliau pernah ditanya :
سماحة الشيخ من هم علماء الجرح والتعديل في عصرنا الحاضر ؟
Samahatusy-syaikh, siapakah yang dimaksud ulama al-jarh wat-ta’diil di masa sekarang ?”.
Beliau menjawab :

والله ما نعلم أحداً من علماء الجرح والتعديل في عصرنا الحاضر ، علماء الجرح والتعديل في المقابر الآن، ولكن كلامهم موجود في كتبهم كتب الجرح والتعديل. والجرح والتعديل في علم الإسناد وفي رواية الحديث ، وما هو الجرح والتعديل في سبِّ الناس وتنقصهم، وفلان فيه كذا وفلان فيه كذا ، ومدح بعض الناس وسب بعض الناس ، هذا من الغيبة ومن النميمة وليس هو الجرح والتعديل
“Demi Allah, kami tidak mengetahui seorang pun ulama al-jarh wat-ta’diil di masa sekarang. ‘Ulama al-jarh wat-ta’diil di dalam kubur sekarang. Akan tetapi, perkataan mereka ada dalam kitab-kitab mereka, yaitu kitab-kitab al-jarh wat-ta’diil. Al-jarh wat-ta’diil ada dalam ilmu sanad dan riwayat hadits. Bukan termasuk al-jarh wat-ta’diil dalam perkara mencela manusia dan merendahkannya, (seperti ucapan) : Fulan ini begini, dan Fulan itu begitu. Memuji sebagian manusia dan merendahkan sebagian yang lain. Ini termasuk ghibah dan namiimah. Sama sekali itu bukan termasuk al-jarh wat-ta’diil” [Disampaikan dalam pelajaran kitab Syarhus-Sunnah lil-Barbahaariy, tanggal 14-1-1427 H].
Beliau juga pernah ditanya :
قلتم أن الجرح والتعديل لا يوجد في هذا الزمان ففهم منه بعض الناس أنكم لا ترون الرد على أهل البدع والمخالفين .. و …. ؟
“Engkau katakan bahwa al-jarh wat-ta’diil tidak ada di jaman ini, yang kemudian sebagian manusia memahami darinya bahwa engkau tidak berpendapat untuk membantah ahlul-bida’, pelaku penyimpangan, dan….?”.
Beliau hafidhahullah menjawab :
الجرح والتعديل ما هو بالغيبة والنميمة المتفشية الآن ، خصوصاً بين بعض طلبة العلم ، فالجرح والتعديل – يا أخي – من علم الإسناد في الحديث ، وهذا من اختصاص الأئمة والمحدثين.
ولا نعلم الآن من أهل الجرح والتعديل ، فيعني معرفة الأسانيد وتصحيحها وتضعيفها ، ما نعلم أحد الآن ، هذا المقصود . نعم!
Al-jarh wat-ta’diil itu bukanlah ghibah dan namiimah (adu domba) sebagaimana yang banyak terjadi sekarang. Khususnya, yang terjadi di kalangan penuntut ilmu. Al-jarh wat-ta’diil – wahai saudaraku – termasuk ilmu sanad dalam hadits, dan ini termasuk kekhususan/wewenang para imam ahli hadits. Dan kami tidak mengetahui sekarang ini adanya ulama al-jarh wat-ta’diil, yaitu pengetahuan tentang sanad-sanad, penshahihan, dan pendla’ifannya. Kami tidak mengetahui seorang pun sekarang ini. Inilah maksudnya. Na’am” [Disampaikan dalam pelajaran Tafsir Surat Al-Hujuraat hingga Surat An-Naas, tanggal 17-4-1427 H].
Beliau juga pernah ditanya :
ما الفرق بين علم الجرح والتعديل الذي في علم الإسناد ورواية الحديث وبين تصنيف الأشخاص وبين التجسس ؟
“Apakah perbedaan antara ilmu al-jarh wat-ta’diil dalam ilmu sanad dan riwayat hadits, pengklasifikasian seseorang (apakah ahlus-sunnah ataukah mubtadi’ – Abul-Jauzaa’), dan tajassus ?”.
Beliau hafidhahullah menjawab :
الجرح والتعديل في علم الإسناد ، وفي علم الإسناد لأجل توثيق الحديث عن الرسول – صلى الله عليه وسلم – ونفي الكذب عنهُ ، فهو لمصلحـة عظيمـة ، أما الغيبة والتجسس فهذه ضرر محض وليس فيها مصلحة
Al-Jarh wat-ta’diil adalah dalam ilmu sanad, dan (ia ada) dalam ilmu sanad dengan tujuan pen-tautsiq-an hadits dari Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan menafikkan adanya kedustaan darinya. Itu dilakukan untuk kemaslahatan yang sangat besar. Adapun ghiibah, maka ini adalah keburukan murni yang tidak ada kemaslahatannya sama sekali” [idem, tanggal : 20-2-1427 H].
Itulah yang dikatakan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah.
Banyak orang yang senang membicarakan orang, ustadz, atau bahkan ulama – yang kemudian mengatasnamakan : al-jarh wat-ta’diil. Waktunya habis berbicara untuk si Fulan dan Fulan. Matanya ngantuk jika membaca kitab tafsir dan fiqh, namun segera segar jika membaca artikel berisi : Ulama Fulan telah men-jarh ‘Alaan, Ustadz Fulan telah menjarh ustadz ‘Alaan, si Fulan hizbiy, si ‘Alaan sururiy, dan seterusnya. Bahkan (mungkin), hapalan jarh-nya tentang Fulan dan Fulan melebihi hapalan Al-Qur’an dan hadits yang dimilikinya. Ia telah menjadikan dirinya layaknya Yahyaa bin Ma’iin ketika berbicara tentang rijaal hadits. Padahal, apa yang dibicarakannya itu hanyalah ghibah – sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Al-Fauzaan hafidhahullah. Padahal, dasar pembicaraannya itu hanyalah ikut-ikutan. Karena ulama Fulan dan ustadz Fulan membicarakannya, maka saya pun harus membicarakannya. Jika bukan saya, lantas siapa lagi yang akan menjelaskan ‘kebenaran’ pada teman-teman saya ?. Begitu pikirnya.[1]
Ia telah menjadikan ilmu al-jarh wat-ta’diil tidak punya taji dan basi. Menjadikan al-jarh wat-ta’diil ibarat gosip murahan yang orang-orang malah mencibirnya ketika ada yang mengatakannya (dengan haknya). Inilah fenomena kebanyakan al-jarh wat-ta’diil yang disinggung oleh Asy-Syaikh Al-Fauzaan hafidhahullah.
Adapun al-jarh wat-ta’diil sendiri akan senantiasa ada sepanjang sejarah manusia ada, hingga hari kiamat. Ia ada untuk kemaslahatan manusia. Pernah ditanyakan kepada Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin rahimahullah :
يقول السائل هل سنة الجرح والتعديل ماتت وما حكم الرد على المخالف بغض النظر عن شخصيته ؟
“Penanya berkata : Apakah sunnah al-jarh wat-ta’diil telah mati/habis, dan apa hukum membantah orang-orang yang menyimpang tanpa memandang siapapun orangnya”.
Beliau menjawab :
أنا أخشى أن تكون هذه كلمة حق أريد بها باطل ، الجرح والتعديل لم يمت ولم يدفن ولم يمرض ولله الحمد هو قائم ، الجرح والتعديل يكون في الشهود عند القاضي ، يمكن يجرحون الخصم ويطلب منه البينة ، ويكون أيضا في الرواية ، وقد سمعنا قراءة أمامنا قول الله تعالى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا } فالجرح والتعديل لا يزال باقياً ما دام نوع الانسان باقياً ما دام نوع الانسان باقيا فالجرح والتعديل باقيا ، لكن أنا أخشى أن يقول قائل أن هذا الانسان مجروح وليس بمجروح ، فيتخذ من هذه الفتوى وسيله لنشر معايب الخلق ، ولهذا أقول إذا كان في شخص عيب ما ، فإن أقتضت المصلحة أو الحاجة أو الضرورة إلى بيانه فلا بأس به ، لا بأس في بيانه والأحسن لا بأس من بيانه ، ولكن الاحسن أن يقول بعض الناس يفعل كذا ، بعض الناس يقول كذا لسببين :
السبب الاول : أن يسلم من قضية التعيين.
والسبب الثاني: أن يكون هذا الحكم شامل له ولغيره.
إلا إذا رأينا شخصاً معيناً قد فتن الناس به وهو يدعو إلى بدعة أو ضلاله فحينئذٍ لا بد من التعيين حتى لا يغتر الناس به.
“Aku khawatir kalimat yang benar ini dipergunakan untuk tujuan bathil. Al-jarh wat-ta’diil tidak mati, tidak terkubur, dan tidaklah sakit/sekarat, segala puji bagi Allah bahwasannya ia masih tegak (hingga sekarang). Al-jarh wat-ta’diil digunakan dalam kesaksian di depan hakim. Mungkin mereka melakukan jarh dikarenakan permusuhan, sehingga dituntut darinya bukti (yang menguatkan jarh-nya itu). Al-jarh wat-ta’dil juga ada dalam riwayat, dimana kita telah mendengar firman Allah ta’ala : ‘Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti’ (QS. Al-Hujuraat : 6). Al-jarh wat-ta’diil senantiasa eksis selama manusia eksis. Selama manusia eksis, maka al-jarh wat-ta’diil akan senantiasa eksis. Akan tetapi aku khawatir ada yang berkata bahwa ‘orang ini telah di-jarh’; – padahal kenyataannya ia bukanlah orang yang (berhak) di-jarh. Kemudian orang yang men-jarh tadi mengambil fatwa ini sebagai jalan untuk menyebarkan aib-aib manusia.[2] Oleh karena itu aku katakan : Apabila pada diri seseorang terdapat satu aib, dan kemudian ada satu maslahat, keperluan, ataupun kebutuhan mendesak untuk menjelaskannya, maka tidak mengapa dengannya. Tidak mengapa menjelaskannya, dan ahsan, tidak mengapa dengannya. Akan tetapi ahsan (lebih baik) agar mengatakan : ‘sebagian orang telah melakukan demikian dan demikian’ ; dikarenakan dua sebab :
Pertama : Selamat dari perkara ta’yiin (menjustifikasi individu tertentu).
Kedua : Menjadikan hukum tersebut menyeluruh, baginya (yang di-jarh) atau selainnya.
Kecuali, jika kita melihat seseorang tertentu menyebabkan manusia terfitnah dengannya, dimana ia mengajak pada kebid’ahan atau kesesatan; maka pada saat itu harus menyebutkan namanya (ta’yiin) hingga manusia tidak terpedaya dengan dirinya” [sumber : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=24112].
Meskipun begitu, al-jarh wat-ta’diil tidaklah dipegang oleh otoritas individu tertentu, hingga dikatakan bahwa barangsiapa yang perkataannya menyelisihi Fulaan dalam jarh atau ta’diil, maka tidak diterima[3]. Ilmu tersebut dipegang oleh para ulama rabbaaniy kita, sepanjang jaman, hingga hari ini.
Semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – perum ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor. Baca juga artikel : Al-Jarh wat-Ta’diil terhadap Mukhaalif dan Ahlul-Bida’ Bukan Hanya dalam Bidang Ilmu Hadits].


[1]      Ia pun menjadi sosok yang ambigu. Mutabbi’ dalam pengakuan, muqallid dalam kenyataan. Paling enggan menerima perbedaan, kecuali jika perbedaan itu berasal dari ulama atau ustadz yang ia pegang.
[2]      Kalimat beliau rahimahullah ini menjadi indikasi ada sebagian fatwa sebagian masyaikh, atau ada beberapa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada sebagian masyaikh digunakan untuk tujuan-tujuan baathil.
[3]      Ini sudah mayhur dalam kitab-kitab rijaal. Betapapun luas ilmu Adz-Dzahabiy tentang rijaal, banyak perkataannya yang diselisihi oleh Ibnu Hajar rahimahumallah. Begitu juga ketika dua imam : Asy-Syaikh Ibnu Baaz dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin rahimahumallah memberikan tazkiyyah kepada jama’ah tabligh, maka jumhur ulama Ahlus-Sunnah Salafiyyah – bahkan banyak di antaranya adalah murid-murid mereka berdua – menyelisihinya. Sama halnya dengan Asy-Syaikh Rabii Al-Madkhaliy hafidhahullah yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Mujaddid Al-Albaaniy rahimahullah sebagai pemegang panji al-jarh wat-ta’diil di jaman ini, betapa banyak ulama-ulama lain tidak sepakat dengan penghukuman beliau dalam naqd individu. Bahkan, mari kita simak tanya jawab ‘menarik’ dari seseorang dengan Asy-Syaikh Al-Ghudayaan rahimahullah berikut :
Penanya :
يا شيخ هل هذا صحيح هناك من يقول أنه يوجد علماء الجرح و التعديل في هذا الزمان ! ، فهل هذا صحيح ؟
“Wahai syaikh, apakah benar orang yang mengatakan adanya ulama al-jarh wat-ta’dil di jaman ini ?. Apakah ini benar ?”.
Beliau menjawab :
والله يا أخي علم الجرح والتعديل موجود في الكتب
“Demi Allah, wahai saudaraku, ilmu al-jarh wat-ta’diil ada/tersimpan dalam kitab-kitab”.
Penanya :
في وقتنا هذا هل يوجد ؟ 
“Di waktu kita sekarang ini, apakah masih ditemukan ?”.
Beliau menjawab :
لا ، علم الجرح والتعديل عن علماء الحديث الذين نقلوا لنا الأحاديث بالأسانيد موجود في كتب الجرح والتعديل فما نحتاج إلى أحد الحين
“Tidak, ilmu al-jarh wat-ta’diil dari ulama hadits yang meriwayatkan hadits-hadits dengan sanad-sanadnya kepada kita, terdapat dalam kitab-kitab al-jarh wat-ta’dil. Kita tidak membutuhkan lagi seorang ulama al-jarh wat-ta’dil saat ini”.
Penanya :
يا شيخ هناك من يقول أن الدكتور ربيع بن هادي المدخلي حامل لواء الجرح والتعديل
“Wahai syaikh, ada yang mengatakan bahwa Asy-Syaikh Dr. Rabii’ bin Haadiy Al-Madkhaliy pemegang bendera al-jarh wat-ta’diil”.
Beliau memotong dan berkata :
لا أعرفه ، أنا لو يصادفني في الطريق ما عرفته يمكن ، ما عليّ من أحد
“Aku tidak mengetahuinya. Seandainya ia bertemu denganku di jalan, mungkin aku tidak mengetahuinya. Aku tidak mempedulikan seorang pun (jika ada yang mengatakan itu)” [selesai].