Husnuzh-zhon, sulitkah?


Husnuzh-zhon, sulitkah?

Di dalam sebuah ayat al-Qur’an Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. (QS al-Hujurot: 12)

Adalah para salaf kita yang sholih, apabila mendapati apapun dari orang lain sesutau yang sekiranya tidak disuka oleh jiwa mereka tidak berpurba-sangka. Malah justru sebaliknya. Mereka meminta alasan untuk membenarkan apa yang didapatinya. Mereka meminta alasan bukan karena ingin mendustakan apa didapatinya. Dan inilah husnuzh zhon. Berbaik-sangka. Demikianlah pesan-pesan hikmah para salaf kita. Agar kita senantiasa berhusnuzh zhon terhadap saudara kita. Lanjutkan membaca

Iklan

Sakit Hati, Mengapa terjadi?


Sakit Hati, Mengapa terjadi?

Apabila ada tiga cawan, yang satunya kosong belum terisi, yang satunya lagi terisi setengahnya, adapun yang ketiganya telah penuh terisi, kiranya cawan yang mana diantara ketiganya yang masih bisa menerima sesuatu? Jawabannya tentu yang masih kosong dan atau yang masih terisi setengahnya. Adapun yang telah penuh maka tidak mungkin lagi bisa menerima sesuatu. Apabila sebuah cawan kita isi dan terus kita isi, maka akankah cawan itu tetap lapang atau bahkan semakin lapang, atau justru cawan itu akan semakin sempit ruangannya?

Kita sepakat bahwa cawan itu akan semakin sempit saja ruangannya seiring dengan semakin bertambahnya isi yang kita masukkan. Tahukah Antum, bahwa ada cawan yang tidak pernah penuh walau terus diisi? Apabila ada cawan yang meski terus diisi tidak akan semakin sempit ruanganya ialah hati.

Hati yang lembut semakin diisi dengan iman dan dengan ilmu yang bermanfaat justru semakin luas dan semakin lapang menghadapi segala sesuatu. Berarti sebaliknya, apabila hati yang lembut ini semakin ditinggalkan oleh iman dan ilmu yang bermanfaat pasti ia menjadi semakin sesak lagi sempit. Sedangkan sempitnya hati dan sesaknya itulah hakikat sakit hati. Berarti sakit hati akan muncul apabila hati semakin ditinggalkan oleh iman dan ilmu yang bermanfaat. Dan ia akan muncul apabila hati terus dikotori oleh sesuatu yang mengotori iman dan meracuninya. Lanjutkan membaca

Jarh wa Ta’diil


Jarh wa Ta’diil

Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah :
Beliau pernah ditanya :
سماحة الشيخ من هم علماء الجرح والتعديل في عصرنا الحاضر ؟
Samahatusy-syaikh, siapakah yang dimaksud ulama al-jarh wat-ta’diil di masa sekarang ?”.
Beliau menjawab :

والله ما نعلم أحداً من علماء الجرح والتعديل في عصرنا الحاضر ، علماء الجرح والتعديل في المقابر الآن، ولكن كلامهم موجود في كتبهم كتب الجرح والتعديل. والجرح والتعديل في علم الإسناد وفي رواية الحديث ، وما هو الجرح والتعديل في سبِّ الناس وتنقصهم، وفلان فيه كذا وفلان فيه كذا ، ومدح بعض الناس وسب بعض الناس ، هذا من الغيبة ومن النميمة وليس هو الجرح والتعديل
“Demi Allah, kami tidak mengetahui seorang pun ulama al-jarh wat-ta’diil di masa sekarang. ‘Ulama al-jarh wat-ta’diil di dalam kubur sekarang. Akan tetapi, perkataan mereka ada dalam kitab-kitab mereka, yaitu kitab-kitab al-jarh wat-ta’diil. Al-jarh wat-ta’diil ada dalam ilmu sanad dan riwayat hadits. Bukan termasuk al-jarh wat-ta’diil dalam perkara mencela manusia dan merendahkannya, (seperti ucapan) : Fulan ini begini, dan Fulan itu begitu. Memuji sebagian manusia dan merendahkan sebagian yang lain. Ini termasuk ghibah dan namiimah. Sama sekali itu bukan termasuk al-jarh wat-ta’diil” [Disampaikan dalam pelajaran kitab Syarhus-Sunnah lil-Barbahaariy, tanggal 14-1-1427 H]. Lanjutkan membaca

Siapa Bilang Peci Hitam Dilarang ?


Siapa Bilang Peci Hitam Dilarang ?

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ. ح وحَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ عِيسَى، عَنْ شَرِيكٍ، عَنِ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي زُرْعَةَ، عَنِ الْمُهَاجِرِ الشَّامِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ فِي حَدِيثِ شَرِيكٍ يَرْفَعُهُ، قَالَ: ” مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ زَادَ، عَنْ أَبِي عَوَانَةَ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ “،
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، قَالَ: ثَوْبَ مَذَلَّةٍ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Iisaa[1] : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah[2] (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Iisaa, dar Syariik[3], dari ‘Utsmaan bin Abi Zur’ah[4], dari Al-Muhaajir Asy-Syaamiy[5], dari Ibnu ‘Umar, ia berkata (secara mauquuf) – dan dalam hadits Syariik ia memarfu’kannya – beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa memakai pakaian syuhrah, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian semisal pada hari kiamat” – dan dalam riwayat Abu ‘Awaanah terdapat tambahan : “kemudian akan dibakar padanya di dalam neraka”.
Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami, ia berkata : “Yaitu pakaian kehinaan” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4029]. Lanjutkan membaca