Mungkinkah Kaum Muslimin Akan Berjaya?


Mungkinkah Kaum Muslimin Akan Berjaya?

( Manhaj: Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIII )

Di tengah berbagai konflik politik dan pertarungan antar manusia di berbagai belahan dunia, banyak kaum Muslimin yang lupa bahwa Allâh Ta’ala pernah memenangkan Nabi Nuh ‘Alaihissalâm ketika beliau memohon kepada Allâh Ta’ala :

“Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan,
oleh sebab itu menangkanlah (aku).”

(Qs al-Qamar/54:10)

Allâh Ta’ala pernah menolong Nabi Hud ‘Alaihissalâm dan Nabi Shâlih ‘Alaihissalâm meskipun manusia yang mendukung mereka sedikit, sedangkan musuh sangat banyak. Allâh Ta’ala juga pernah menolong Nabi Ibrâhîm ‘Alaihissalâm dan Nabi Luth ‘Alaihissalâm serta semua Nabi dan Rasul.

Allâh Ta’ala berfirman :

Qs an-Nûr/24:55

“Dan Allâh telah berjanji
kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan yang mengerjakan amal-amal saleh
bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”

(Qs an-Nûr/24:55)

Janji Allâh Ta’ala dalam ayat ini pernah dibuktikan kepada kaum Muslimin, para Sahabat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam. Sebelum dimenangkan oleh Allâh Ta’ala, mereka tidak dipandang kecuali dengan pandangan penuh pelecehan dan hinaan. Namun tiba-tiba kaum yang dipandang sebelah mata ini bisa menguasai Persia, Roma, Yaman dan Afrika dan berkibar-kibar di Eropa.

Ketika mereka sudah memenuhi persyaratan-persyaratan menang yaitu beriman dan beramal shalih, maka Allâh Ta’ala memenuhi janji-Nya. Allâh Ta’ala menjadikan mereka sebagai penguasa di muka bumi serta Allâh Ta’ala memperlakukan sunnatullâh di tengah-tengah mereka.

Namun setelah generasi ini berlalu, setan berhasil menyeret generasi-generasi berikutnya ke dalam lembah kesesatan.

Qs Maryam/19:59

“Maka datanglah sesudah mereka,
pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat
dan memperturutkan hawa nafsunya,
maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”

(Qs Maryam/19:59)

Generasi-generasi akhir ini tidak lagi memenuhi persyaratan untuk meraih kemenangan, sehingga Allâh Ta’ala tidak lagi memberikan kemenangan kepada umat ini. Sebaliknya, kaum Muslimin terhina di negeri sendiri, kehormatan mereka diinjak-injak oleh orang-orang kafir dan orang-orang menyimpang. Orang-orang kafir di antaranya telah menenggelamkan sebagian wilayah kaum Muslimin ke dalam ideologi komunis, sebagian lagi ke dalam cengkeraman para salibis. Terakhir, Baitul Maqdis jatuh ke dalam genggaman Zionis, pembunuh para Nabi dan kaum yang dikutuk dan dilaknat dalam al-Qur’ân.

Mungkinkah Kaum Muslimin Akan Memperoleh Kemenangan dan Kejayaan ?

Jawabannya ada pada janji Allâh Ta’ala dalam firman-Nya pada Al-Qur’an surat an-Nur ayat ke-55 di atas.

Dengan demikian, maka kita harus mengetahui syarat-syarat untuk memperoleh kemenangan dan kejayaan itu kembali. Syarat-syarat yang disebutkan dalam ayat di atas yaitu beriman dan beramal shalih. Iman dengan enam rukunnya yaitu beriman kepada Allâh Ta’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir serta takdir baik dan buruk. Ini merupakan pondasi yang tidak boleh dilalaikan sama sekali, meskipun hanya sesaat.

Sedangkan melakukan amal shalih maksudnya melakukan segala yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang dengan dasar taat kepada Allâh Ta’ala serta beriman kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam. Sehingga dalam pengertian secara global ini akan tercakup di dalamnya usaha untuk pelurusan akidah, penyesuaian segala ibadah dengan sunnah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Menegakkan had-had syar’i, menjaga lisan agar tidak mencederai kehormatan orang lain, menjaga mata agar tidak memandang sesuatu yang haram, menjaga pendengaran, adab meminta ijin dalam rumah, mengajari anak cara meminta ijin, menjaga anggota badan dan kemaluan dan lain sebagainya masuk dalam kategori amal shalih.

Begitu juga urusan rumah tangga seperti berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada pasangan dan anak, menjaga hak-hak tetangga, amar ma’ruf nahi mungkar, meninggal perbuatan riba, tidak menipu dan tidak bertindak zhalim. Semua jenis perbuatan ini masuk dalam lingkup amal shalih yang disebutkan oleh Allâh Ta’ala dalam al-Qur’ân.

Ayat ke-55 dari surat an-Nûr di atas, merupakan sebuah surat yang mengisyaratkan periode baru dalam sejarah perjalanan hidup Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam. Ayat ini turun setelah terjadi perang Mushthaliq yang didahului dengan perang Ahzâb yang menyebabkan diturunkannya surat al-Ahzâb. Jarak antara kedua peperangan ini begitu singkat.

Perang Ahzâb merupakan kali terakhir kaum musyrik menyerang kaum Muslimin, dan mereka bertempur di Madinah. Setelah itu Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sekarang kita yang akan menyerang mereka, bukan mereka yang menyerang kita.”
(HR Imam al-Bukhâri)
Lalu Allâh Ta’ala menurunkan surat an-Nûr untuk menyucikan kaum Muslimin agar bisa melaksanakan kewajiban berdakwah dan berjihad serta menyiapkan mereka agar berbuat taat sehingga berhak mendapatkan pertolongan Allâh Ta’ala. Allâh Ta’ala menyucikan jiwa-jiwa mereka dengan perintah-perintah yang dijelaskan secara rinci oleh ayat-ayat dalam surat an-Nûr yang mulia ini dan dijelaskan secara global dalam firman-Nya pada Al-Qur’an surat an-Nur ayat ke-55 di atas.

Dengan memperhatikan surat an-Nûr dan al-Ahzâb, didapatkan banyak perintah dari Allâh Ta’ala. Di antaranya dalam surat an-Nûr terdapat aya-ayat berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya bukan karena karunia Allâh dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak ada seorang pun dari kamu yang bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allâh membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allâh Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Qs an-Nûr/24:21)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang tertuduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh yang menuduh itu. Mereka mendapatkan ampunan dan rezki yang mulia (surga).
(Qs an-Nûr/24:26)

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allâh, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
(Qs an-Nûr/24:37)
Sementara dalam Surat al-Ahzâb ayat ke-9 s/d ayat ke-14, Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allâh (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allâh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allâh dengan berbagai macam prasangka. Di situlah orang-orang Mukmin diuji dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allâh dan rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan mengatakan : “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan bertangguh untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.
(Qs al-Ahzâb/33:9-14)
Dan pada ayat ke-23 Allâh Ta’ala berfirman, yang artinya :

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allâh; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).”
(Qs al-Ahzâb/33:23)
Dalam dua surat ini (Qs an-Nûr/24 dan Qs al-Ahzâb/33) terkandung banyak petunjuk dan perintah yang bisa membimbing umat ini hidup lurus agar berhak mendapatkan pertolongan dari Allâh Ta’ala.

Allâh Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari para saksi-saksi dibangkitkan (hari Kiamat).”
(Qs Ghâfir/40:51)
Allâh Ta’ala juga berfirman dalam surat at-Taubah/9 ayat ke-38 s/d ayat ke-40 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allâh” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu ? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat ? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allâh menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allâh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah); sedang dia salah satu dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allâh beserta kita.” Maka Allâh menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Qur`ân menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allâh itulah yang Tinggi. Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(Qs at-Taubah/9:38-40)
Orang yang memperhatikan dengan seksama firman Allâh Ta’ala dalam surat at-Taubah/9 ayat ke-38 s/d ayat ke-40 di atas serta ayat-ayat tentang perang Badar, Ahzâb dan Hunain, dia akan tahu bahwa Allâh Ta’ala telah menolong kaum Muslimin.

Dalam perang Badar, Allâh Ta’ala menolong mereka dengan mengirimkan para malaikat yang memiliki tanda yang bergabung dengan pasukan kaum Muslimin. Dalam perang Ahzâb, Allâh Ta’ala menolong kaum Muslimin dengan mengirimkan angin (yang bisa mengusir musuh) dan tentara. Allâh Ta’ala menolong hamba-Nya, memenuhi janji-Nya serta menghancurkan pasukan sekutu Quraisy.

Dalam perang Hunain, ketika sekelompok besar umat Islam telah mundur dari medan pertempuran (mereka melarikan diri), lalu Allâh Ta’ala menurunkan ketenangan pada hati Rasul-Nya dan hati kaum Muslimin. Sementara di pihak orang-orang kafir, Allâh Ta’ala mengirimkan tentara yang tidak terlihat mata dan Allâh Ta’ala menyiksa orang-orang yang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.

Orang yang memperhatikan hadits yang menjelaskan tentang peristiwa hijrah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, dia akan tahu bahwa Allâh Ta’ala telah menggagalkan rencana busuk orang-orang kafir. Allâh Ta’ala mencabut penglihatan mereka ketika Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah Beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam. Begitu pula ketika orang-orang kafir mendekati persembunyian Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam di Gua Hira.

Allâh Ta’ala juga melindungi Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dari kejaran Surâqah bin Mâlik, dia terjatuh ketika hampir berhasil menyusul Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam. Allâh Ta’ala telah menggagalkan segala tipu daya yang dilakukan orang-orang kafir.

Dengan merenungi ini, setiap Muslim akan menyadari bahwa dia memiliki kewajiban yang tidak boleh diabaikan yaitu beramal shalih. Dengan amal shalih dakwah Islam akan tersebar, dakwah untuk mengembalikan kejayaan akan tersebar, juga dakwah untuk mengembalikan sebagian negeri yang telah dirampas, merebut kembali Masjidil Aqsha dan lain sebagainya. Ini hanya akan terwujud dengan pertolongan dari Allâh Ta’ala yang Maha Perkasa dan Maha Bijak. Bukan dengan teriakan-teriakan kosong dan hampa, tapi dengan menegakkan syariat dan agama Allâh Ta’ala.

Dalam surat an-Nûr, Allâh Ta’ala berfirman :

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.”
(Qs an-Nûr/24:56)
Dengan dahi yang senantiasa sujud, tangan yang senantiasa basah dengan air wudhu, jiwa yang bersih, badan yang selalu disucikan dan lisan yang terjaga, kemenangan itu akan nyata. Setiap orang hendaknya merasa memiliki tanggungjawab dalam mewujudkan kemenangan demi menyelamatkan al-Quds, menjaga darah kaum Muslimin dan wilayah mereka. Hendaklah masing-masing orang melaksanakan kewajibannya ini.

Allâh Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong (agama) Allâh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(Qs Muhammad/47:7)
Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Jagalah Allâh, pasti Allâh akan menjagamu ! Jagalah Allâh maka pasti engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu ! Jika engkau memohon, maka mohonlah kepada Allâh ! Jika engkau hendak minta tolong maka mohonlah pertolongan kepada Allâh ! Ketahuilah, jika seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat apapun kepadamu kecuali manfaat yang telah ditetapkan oleh Allâh Ta’ala untukmu. Jika mereka berkumpul untuk membahayakanmu, maka mereka tidak akan mampu membahayakanmu dengan apapun juga kecuali dengan apa yang Allâh Ta’ala tetapkan untukmu. Pena-pena sudah diangkat dan tinta sudah kering.”
Kalian memohon kemenangan dari Allâh Ta’ala, akan tetapi masih kurang peduli dengan syari’at Allâh Ta’ala?!

Hendaklah setiap Muslim melaksanakan amanahnya ! Hendaklah dia senantiasa merasa diawasi oleh Allâh Ta’ala dalam mengurusi tanggung-jawabnya.

Semoga Allâh Ta’ala menolong kita dan memberikan kemenangan kepada kita di bumi ini dengan agama yang diridhai oleh Allâh Ta’ala ini. Semoga Allâh Ta’ala menggantikan rasa cemas dengan rasa aman, menggantikan kefakiran dengan kekayaan agar kita bisa melaksanakan syari’at-Nya, menjalankan agama ini. Semoga Allâh Ta’ala memberikan pertolongan kepada orang beriman kepada-Nya dan berjalan di atas syari’at-Nya.

 

Oleh: Syaikh Muhammad Shafwat Nuruddin
Al-Ashâlah, hlm. 54-58, edisi 48/Tahun 10