Apakah Anda Ingin Bahagia?


Apakah Anda Ingin Bahagia?

Apakah Anda Ingin Bahagia?

Semua ingin bahagia

Bahagia di dunia dan akhirat

Tetapi,  bagaimana kan mencapai bahagia bila dayung tak berkayuh

Atau bahtera berlayar di daratan kering.

Saudaraku .. buka hati sebelum membuka mata dan telinga

Bacalah seksama, berikut ini beberapa sebab-sebab yang mendatangkan kebahagian dunia dan akhirat : Lanjutkan membaca

Iklan

10 Renungan Bagi Yang Ditimpa Ujian/Musibah


10 Renungan Bagi Yang Ditimpa Ujian/Musibah

Ujian menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Sebagaimana orang miskin diuji…orang kayapun demikian. Sebagaimana rakyat jelata hidup di atas ujian…para penguasa juga diuji. Bahkan bisa jadi ujian yang dirasakan oleh para penguasa dan orang-orang kaya lebih berat daripada ujian yang dirasakan oleh orang-orang miskin dan rakyat jelata.

Jangan disangka hanya si miskin yang menangis akibat ujian yang ia hadapi…, atau hanya si miskin yang merasakan ketakutan…bahkan seorang penguasa bisa jadi lebih banyak tangisannya dan lebih parah ketakutan yang menghantuinya daripada si miskin. Intinya setiap yang bernyawa pasti diuji sebelum maut menjemputnya…siapapun juga orangnya. Entah diuji dengan kesulitan atau diuji dengan kelapangan, kemudian ia akan dikembalikan kepada Allah untuk dimintai pertanggung jawaban bagaimana sikap dia dalam menghadapi ujian tersebut. Allah berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan” (QS Al-Anbiyaa’ : 35) Lanjutkan membaca

Takut kepada Allah `Azza wa Jalla


Takut kepada Allah `Azza wa Jalla

Al-Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim

Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu-:

Kalian dalam perjalanan malam dan siang, umur-umur berkurang, amal-amal tercatat serta kematian datang dengan tiba-tiba. Siapa yang menanam kebaikan akan segera menuai kesenangan, siapa yang menanam kejelekan akan segera menuai penyesalan. Setiap penanam akan mendapatkan apa yang ditanam. Yang menjadi bagiannya tidak akan meleset darinya, dan ketamakan tidak akan meraih apa yang ditakdirkan. Siapa yang memberi kebaikan maka Allah –Subhanahu wa Ta’ala- akan memberinya kebaikan dan siapa yang menjaga diri dari kejelekan maka Allah –Subhanahu wa Ta’ala- akan menjaganya. Orang-orang yang bertaqwa adalah pemimpin, ahli fiqih adalah penuntun, dan duduk bersama mereka adalah tambahan (ilmu). (Siyar A’lamin Nubala, 1/497). Lanjutkan membaca

Belenggu-Belenggu Hizbiyah 2/2


Belenggu-Belenggu Hizbiyah 2/2

Halaman ke-2 dari 2

Wahai Kaum Muslimin

Sungguh, kini manusia telah dipisahkan dari hubungan dengan ulama Al-Kitab was Sunnah, telah dipisahkan dari pergaulannya bersama dhahirnya syari’ah dengan cara-cara dan sarana-sarana bid’ah yang coraknya bermacam-macam sesuai dengan perubahan zaman.

Oleh karena itu hendaklah anda berpegang kepada para “Ulama Syari’ah” dan para pengkaji “Ilmu Syar’i”, yang menjadi pembela-pembela Al-Kitab was Sunnah dari segenap bid’ah dan noda. Hendaknya anda duduk dan mengitari mereka untuk mendengarkan perkataan mereka. Ingatlah akan firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-Nya, kemudian dia berpaling daripadanya”. [Al-Kahfi : 57][11]

Demikianlah, bahwa hizbiyah mempunyai cara-cara dan sepak terjang bid’ah yang tidak pernah dilakukan para SALAF. Hal demikian teranggap sebagai penghambat ilmu dan sebab terbesar bagi terpecah belahnya jama’ah. Karena betapa banyaknya tali persatuan Islam telah menjadi berantakan, dan betapa banyaknya kaum muslimin menjadi lengah karenanya. [12]

Semua itu merupakan salah satu penyakit “Ta’ashub” (berfanatik golongan). Lanjutkan membaca

Belenggu-Belenggu Hizbiyah 1/2


Belenggu-Belenggu Hizbiyah 1/2

Halaman ke-1 dari 2

BELENGGU-BELENGGU HIZBIYAH
Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Atsari

Seorang Imam tsiqah, Ayub As-Sakhtiyaniy pernah berkata : “Jika engkau ingin mengerti kesalahan gurumu, maka duduklah engkau untuk belajar kepada orang lain” [1]

Justru karena inilah, maka kaum hizbiyun (aktifis fanatik terhadap golongan) melarang pengikut-pengikutnya untuk menimba ilmu dari orang-orang selain golongan atau simpatisannya.

Kalaupun sikap mereka menjadi lunak, namun mereka akan memberikan kelonggaran dengan banyak syarat serta ikatan-ikatan yang njelimet, supaya akal-akal pikiran para pengikutnya tetap tertutup bila mendengar hal-hal yang bertentangan dengan jalan mereka atau mendengar bantahan terhadap bid’ah mereka.

Dengan cara ini, sesungguhnya mereka telah mengambil uswah kaum tarekat sufi dan mengambil qudwah pada khurafatnya hubungan antara seorang “syaikh (sufi) dengan pengikutnya”. Manakala persyaratan seorang syaikh atas pengikutnya yang pernah di contohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wajibnya taat melaksanakan “Baiat Islamiyyah yang menjadi keharusan ?” [2]

Imam As-Suyuthi rahimahullah [3] pernah di tanya tentang seorang sufi yang telah berba’iat kepada seorang syaikh, tetapi kemudian ia memilih syaikh lain untuk diba’iatnya : “Adakah kewajiban yang mengikat itu, bai’at yang pertama atau yang kedua..?. Lanjutkan membaca

Husnuzh-zhon, sulitkah?


Husnuzh-zhon, sulitkah?

Di dalam sebuah ayat al-Qur’an Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. (QS al-Hujurot: 12)

Adalah para salaf kita yang sholih, apabila mendapati apapun dari orang lain sesutau yang sekiranya tidak disuka oleh jiwa mereka tidak berpurba-sangka. Malah justru sebaliknya. Mereka meminta alasan untuk membenarkan apa yang didapatinya. Mereka meminta alasan bukan karena ingin mendustakan apa didapatinya. Dan inilah husnuzh zhon. Berbaik-sangka. Demikianlah pesan-pesan hikmah para salaf kita. Agar kita senantiasa berhusnuzh zhon terhadap saudara kita. Lanjutkan membaca

Sakit Hati, Mengapa terjadi?


Sakit Hati, Mengapa terjadi?

Apabila ada tiga cawan, yang satunya kosong belum terisi, yang satunya lagi terisi setengahnya, adapun yang ketiganya telah penuh terisi, kiranya cawan yang mana diantara ketiganya yang masih bisa menerima sesuatu? Jawabannya tentu yang masih kosong dan atau yang masih terisi setengahnya. Adapun yang telah penuh maka tidak mungkin lagi bisa menerima sesuatu. Apabila sebuah cawan kita isi dan terus kita isi, maka akankah cawan itu tetap lapang atau bahkan semakin lapang, atau justru cawan itu akan semakin sempit ruangannya?

Kita sepakat bahwa cawan itu akan semakin sempit saja ruangannya seiring dengan semakin bertambahnya isi yang kita masukkan. Tahukah Antum, bahwa ada cawan yang tidak pernah penuh walau terus diisi? Apabila ada cawan yang meski terus diisi tidak akan semakin sempit ruanganya ialah hati.

Hati yang lembut semakin diisi dengan iman dan dengan ilmu yang bermanfaat justru semakin luas dan semakin lapang menghadapi segala sesuatu. Berarti sebaliknya, apabila hati yang lembut ini semakin ditinggalkan oleh iman dan ilmu yang bermanfaat pasti ia menjadi semakin sesak lagi sempit. Sedangkan sempitnya hati dan sesaknya itulah hakikat sakit hati. Berarti sakit hati akan muncul apabila hati semakin ditinggalkan oleh iman dan ilmu yang bermanfaat. Dan ia akan muncul apabila hati terus dikotori oleh sesuatu yang mengotori iman dan meracuninya. Lanjutkan membaca