Nasihat Pembawa Bendera Jarh Wa Ta’dil Kepada Ikhwah Ahlus Sunnah..


Nasihat Pembawa Bendera Jarh Wa Ta’dil Kepada Ikhwah Ahlus Sunnah..

Oleh: Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali

 Pada hari-hari ini, kita melihat dakwah salafiyah mengalami kemunduran dan penyusutan. Itu tidak lain karena dakwah ini telah kehilangan sikap bijaksana yang dicontohkan oleh para ‘ulama, bahkan telah kehilangan sikap bijaksana yang dicontohkan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa Sallam sebelum kehilangan yang lain, yaitu kehilangan sikap santun, kasih sayang, akhlak, lemah lembut dan lunak yang diajarkan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa Sallam.

 

Suatu kali Aisyah Rodhiyallohu ‘anha pernah memaki seorang Yahudi, maka Nabi memberikan teguran:

 

“Wahai, Aisyah! Sesungguhnya Allah mencintai kelemah-lembutan dalam semua urusan.” (HR Muslim, 2165)

 

Hadits ini, bila hari ini ada orang ‘alim menyebutkannya untuk memberikan pengarahan kepada pemuda agar menempuh manhaj yang benar dalam berdakwah ilallah, tentu mereka akan berkata : “Ini adalah TAMYI’ (mengikuti arus sana-sini atau tidak tegas)”.

 

Orang-orang yang mengganti akhlak mulia tersebut, justru menggunakan cara-cara yang membuat orang lari, padahal Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

 

“Sesungguhnya di antara kamu ada yang membuat orang lari (dari al haq)” (HR Bukhari no. 7159 dan Muslim no 466, dari hadits Abu Mas’ud Al Anshari).

 

Wahai pencari ilmu, jangan sekali-kali engkau menyangka bahwa bagian dari kesempurnaan manhaj yang benar, adalah keharusan mencela atau melecehkan tokoh-tokoh mereka. Sebab Allah Ta’ala telah berfirman:

 

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampau batas tanpa pengetahuan”. (QS. Al An’am: 108).

Saya ingin mengingatkan kalian –wahai saudaraku- tentang dua hal:

1. Pertama; Menjalin persaudaran sesama Ahli Sunnah seluruhnya.

 

Wahai,salafiyyun! Tebarkan ruh cinta dan kasih sayang sesama kalian. Realisasikan perintah Rasulullah atas diri kita, bahwa orang-orang beriman itu seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan. Mereka layaknya sebuah tubuh, jika salah satu anggota badannya sakit, maka seluruh anggota badan lainnya-pun ikut merasakan demam dan tidak tidur.

 

2. Kedua; Jauhilah faktor-faktor yang menyeret kepada dendam dan permusuhan; perpecahan dan saling antipati.

 

Prioritaskan jalinan tali persaudaraan. Jika pernah terjadi konflik diantara kalian, maka lupakanlah yang telah berlalu. Mulai saat ini, keluarkanlah lembar catatan yang putih (lembaran baru).

 

Aku nasihatkan kepada ikhwah:

 

Terhadap orang yang MUQASHIR, tidak sepatutnya kita jatuhkan atau kita menghabisinya. Kepada orang yang berbuat kekeliruan di antara kita, tidak perlu kita menghabisinya -barakallah fikum. Tetapi kita koreksi dengan lembut dan hikmah. Kita berikan kepadanya bukti kecintaan dan sayang, serta seluruh etika yang baik disertai dakwah yang benar, sehingga ia bisa bertaubat. Kalau masih ada kelemahan pada dirinya, hendaknya kita tidak tergesa-gesa memberikan respon negatif. Jika kita tidak demikian, Demi Allah, tidak akan ada orang yang tersisa, tidak akan ada yang akan tertinggal!!

 

Sekarang ini, sebagian orang memojokkan salafiyyin; bahkan sampai tingkat ulamanya dan menyematkan kepada mereka label mumayyi’in! Sekarang, tidak ada ‘ulama kecuali telah dituduh negatif. Ini adalah tradisi Ikhwanul Muslimin dan budaya ahli bid’ah. Termasuk senjata ahli bid’ah, adalah memulainya dengan menjatuhkan kehormatan para ‘ulama. Ini justru praktek Yahudi Masoni; -yang berupa- “jika engkau ingin menghancurkan sebuah pemikiran, maka hancurkan wibawa ‘ulama dan tokoh-tokohnya!”

 

Jangan merasa aman terhadap mereka atas agama kalian. Janganlah kalian percaya kepada mereka, Barakallah fikum. Waspadailah mereka dengan ekstra waspada. Bersatu padulah dan jalin persaudaraan sesama kalian. Aku tahu, kalian tidak ma’shum (terjaga dari dosa). Ulama juga tidak ada yang ma’shum. Kita kadang mengalami kekhilafan.. kecuali, kalau ada orang yang masuk ke dalam Syi’ah, Mu’tazilah, atau Jahmiyah, atau hizbiyah lainnya, maka orang semacam inilah yang harus dijauhi.

 

Adapun seorang salafyun yang loyal dengan kalangan salafiyyin, yang mencintai manhaj Salaf -Barakallah fikum-, yang antipati kepada hizbiyah, membenci bid’ah dan benci pengusungnya serta tanda-tanda lain dari manhaj Salaf; kemudian mengalami kelemahan pada sebagian aspek, maka kita harus bersikap lembut kepadanya, tidak kita tinggalkan; tetapi kita nasihati dan bersabar dengannya dan mencoba memperbaikinya -Barakallah fikum.

 

Sedangkan ungkapan:

 

“Siapa yang berbuat salah, berarti ia telah hancur”;

 

Maka jika kita berpegang dengan kaidah ini, niscaya tidak akan ada orang yang tersisa!! Karena itu, lihatlah mereka (para Hizbiyun), saat menggarap (mempengaruhi) generasi muda, maka mereka memulainya dengan menghabisi para ‘ulama. Inilah (sebenarnya hakikat) manhaj Ikhwanul Muslimin.

 

Demi Allah, fitnah ini sangat membahayakan dakwah salafiyyah. Tidak hanya di sini, bahkan di seluruh dunia. Ini adalah madzhab baru yang tidak dikenal oleh Ahlu Sunnah; -yaitu- menuduh Ahlu Sunnah sebagai kelompok mumayyi’un, yang maksudnya adalah mubtadi’ dan diarahkan khusus kepada Ahli Sunnah. Aku kira, tidak tertutup kemungkinan, bahwa di antara mereka (orang-orang yang gemar memvonis), ada orang yang disusupkan kepada manhaj Salaf dan para pengikutnya.

Tanya Jawab

-> SOAL :
Masalah yang Antum kemukakan dalam ceramah –hafizhakumullah- apakah mereka mempunyai jalan yang benar dalam proses dakwah salafiyah? Apakah mereka berada dalam barisan salafiyyin? Orang-orang yang menuduh setiap orang dengan tuduhan tamyi’ karena sebuah kesalahan semata. Mohon diberikan contohnya?

-> JAWAB:
Tidak ada perlunya membawakan misal. Ada faktanya dan Antum mengetahuinya! Ini perkara yang berada di tengah-tengah kalian, bisa dideteksi. Kalian mengetahuinya dengan baik. Tidak diragukan lagi, faktanya ada.

Semoga Allah membasmi fitnah ini. Demi Allah, fitnah ini sangat membahayakan dakwah salafiyyah. Tidak hanya di sini, bahkan di seluruh dunia. Ini adalah madzhab baru yang tidak dikenal Ahlu Sunnah; menuduh Ahlu Sunnah sebagai kelompok mumayyi’un, maksudnya mubtadi’ dan diarahkan khusus kepada Ahli Sunnah.

Aku kira, tidak tertutup kemungkinan, bahwa diantara mereka ada orang yang disusupkan kepada manhaj Salaf dan para pengikutnya. Ini adalah fenomena yang telah diketahui, (dan) merupakan cara ahli ahwa. Mereka menyusupkan orang ke tengah-tengah salafiyyun. Yahudi juga menyusupkan aktor yang menyesatkan di tengah-tengah kaum muslimin. Jadi, mereka menggunakan kostum manhaj Salaf, bilamana sasarannya salafiyyin.

Engkau lihat, banyak ahli bid’ah yang mengklaim dirinya sebagai salafiyyah. Bahkan klaimnya dilontarkan dengan penuh semangat dan kekuatan. Mereka mendorongmu keluar dari dakwah salafiyyah. Mereka ini, (jangan sampai kalian merasa tenang dengan mereka -barakallah fik- ) bahkan ada di dalam barisan kaum muslimin di seluruh dunia. Engkau akan temui orang yang disusupkan dengan mengatasnamakan Islam; Ini sudah menjadi rahasia umum.

Orang-orang yang cerdik bisa mengetahui mereka, dari gerak-gerik mereka, dari sikap-sikap mereka, dari penilaian-penilaian mereka dengan berbagai faktor pendukung dan petunjuk.

# Sumber: Ditranskrip Dari Nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali Kepada Ikhwah Ahlusunnah Dalam Ceramahnya Di hadapan Mahasiswa Universitas Islam Al Madinah (Ceramah Tersebut Dibukukan oleh Markaz Al Imam Al Albany; Dalam Kitab “Al Hats-tsu ‘Ala Al Mawaddah wal I’tilaf,wa At Tahdzir min Al Furqah wal Ikhtilaf” dan diterbitkan oleh Penerbit Ad Darul Atsariyyah, Amman, Yordania)