Fatwa para ulama tentang maulid (2/2)


Fatwa para ulama tentang maulid (2/2)

Oleh: al Ustadz Abu Mu’awiyyah Hammad Hafizhahullahu ta’ala

12. Muhadditsul Yaman, Asy-Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy –rahimahullah-.

a. Beliau ditanya tentang hukum perayaan maulid dan Isra` Mi’raj: Apakah dia adalah bid’ah atau sunnah yang baik, maka beliau menjawab,

“(Semuanya adalah) bid’ah, semua ini tidak pernah ada di zaman Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- …”.

Lalu beliau membawakan beberapa dalil tentang haramnya berbuat bid’ah. Lihat kitab beliau Ijabatus Sa`il no. pertanyaan 166.

 

b. Dalam no. 167 ketika beliau ditanya tentang perayaan maulid, Isra` Mi’raj, dan tahun baru, maka beliau menjawab, “(Semuanya adalah) bid’ah sedangkan Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak” (Telah berlalu takhrijnya).

Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir bahwa perayaan ini adalah bid’ah, tidak tsabit (shohih) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, tidak pula dari para sahabat dan para tabi’in. Yang pertama kali merayakannya adalah ‘Ubaid bin Maimun Al-Qiddah.

Ada yang berpendapat bahwa (awal) perayaannya pada abad keenam oleh sebagian raja-raja bodoh yang ingin mengadakan perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- lebih megah daripada maulid Nashrani (Kelahiran Nabi ‘Isa -‘alaihis salam-).

Semua ini disebutkan oleh Abu Syamah dan dia mensyukurinya. Akan tetapi, Abu Syamah telah bersalah ketika mensyukuri perkara yang dibuat-buat ini karena ini adalah bid’ah. Demikian pula hari ibu dan hari kemerdekaan, semuanya adalah hari-hari raya jahiliyah yang tidak pernah diturunkan oleh Allah suatu sulthon (argumen/hujjah) atasnya.

Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah bersabda:

“Saya terutus kepada kalian sedang kalian (dulunya) mempunyai dua hari raya yang kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyah, dan sungguh Allah telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr (’Idul Adh-ha) dan hari Fithr (’Idul Fithri)” (Telah berlalu takhrijnya).

Hari raya selainnya merupakan hari-hari raya jahiliyah yang kami berlepas diri darinya. Maka kaum muslimin, wajib atas mereka untuk mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Inipun kalau perayaan maulid itu selamat dari ikhtilath (percamburbauran antara lelaki dan wanita), pelaksanaan perbuatan fahisy (keji), dan selamat dari bentuk-bentuk kesyirikan, dan selainnya. Semua ini adalah kebatilan-kebatilan yang tidak akan hilang kecuali dengan menyebarkan sunnah Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-.

13. Faqihuz Zaman Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin –rahimahullah-.

a. Beliau berkata dalam Al-Fatawa, kumpulan Asyraf ‘Abdul Maqshud (1/126) ketika ditanya tentang hukum syar’i perayaan maulid Nabawy,

“… Seandainya perayaan maulid beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- termasuk perkara-perkara yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka pasti akan disyari’atkan.

Seandainya disyari’atkan, maka pasti akan terjaga karena Allah telah menjamin untuk menjaga syari’at-Nya, dan seandainya terjaga maka tidak akan ditinggalkan oleh para khalifah yang mendapatkan petunjuk, demikian pula para sahabat, yang mengikuti mereka dengan baik, dan yang mengikuti mereka setelahnya.

Tatkala mereka semua tidak pernah mengerjakan sesuatu apapun dari hal tersebut, diketahuilah bahwa hal itu bukan termasuk agama Allah”.

b. Dan dalam Majmu’ Fatawa beliau, kumpulan Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaimany (7/364-365), beliau berkata,

“Dari penjelasan yang telah berlalu, nampak jelas bagi kita bahwa perayaan maulid Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- adalah tidak boleh. Bahkan dia adalah perkara bid’ah dikarenakan 2 hal:

1. Malam kelahiran Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidaklah diketahui secara pasti, bahkan sebagian orang-orang belakangan menguatkan bahwa malam maulid adalah malam ke 9 Rabi’ul Awwal, bukan malam ke 12. Oleh karena itulah, menjadikan perayaan ini pada malam ke 12 adalah tidak memiliki landasan dari sisi sejarah.

2. Dari sisi syari’at, perayaan ini juga tidak memiliki landasan. Karena seandainya, jika dia adalah bagian dari syari’at Allah, maka pasti akan dikerjakan oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- atau beliau sampaikan kepada ummatnya. Seandainya beliau mengerjakannya atau menyampaikannya, maka wajib hal itu terpelihara karena Allah -Ta’ala- berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

(QS. Al-Hijr : 9)

Maka tatkala tidak ada sedikitpun keterangan tentang hal tersebut, diketahuilah bahwa dia bukan bagian dari agama Allah. Jika dia bukan bagian dari agama Allah, maka tidak boleh kita beribadah dan bertaqarrub kepada Allah -’Azza wa Jalla- dengannya”.

Kemudian beliau berkata lagi,

“Maka kami katakan: Perayaan ini, jika dia merupakan bagian dari kesempurnaan agama, maka pasti ada sebelum wafatnya Rasul -‘alaihish sholatu wassalam-. Jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama, maka tidak mungkin dia akan menjadi bagian agama karena Allah -Ta’ala- berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”.

(QS. Al-Ma`idah : 3)

Barangsiapa yang menyangka bahwa dia bagian dari kesempurnaan agama, padahal dia muncul setelah Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maka ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini”.

14. Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan –hafizhohullahu Ta’ala-.

a. Beliau berkata dalam risalah beliau yang ringkas berjudul Hukmul Ihtifal bi Dzikral Maulid An-Nabawy setelah beliau menyebutkan beberapa syubhat orang-orang yang membolehkan perayaan maulid dan membantahnya, beliau berkata,

“Kesimpulan permasalahan, perayaan memperingati maulid Nabawy -dengan berbagai macam bentuk dan beraneka ragam cara pelaksanaannya- adalah bid’ah mungkar yang wajib atas kaum muslimin untuk melarang (pelaksanaan)nya dan juga melarang bid’ah-bid’ah lainnya.

Dan wajib atas mereka untuk menyibukkan diri dengan menghidupkan sunnah dan berpegang teguh dengannya, serta jangan tertipu dengan orang-orang yang mencoba melariskan dan membela bid’ah ini.

Karena orang semacam ini perhatiannya untuk menghidupkan bid’ah-bid’ah lebih besar daripada perhatian mereka untuk menghidupkan sunnah-sunah, bahkan kadang mereka sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap sunnah-sunnah.

Orang yang seperti ini tidak boleh untuk diikuti dan dicontoh walaupun kebanyakan manusia adalah dari jenis ini. Akan tetapi yang dicontoh hanyalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj sunnah dari kalangan salafush sholih dan yang mengikuti mereka walaupun mereka sedikit, karena kebenaran itu tidaklah diketahui dengan orang-orang akan tetapi orang-oranglah yang dikenal dengan kebenaran”.

b. Dalam Al-Muntaqo (2/ no. pertanyaan 160) beliau ditanya seputar perkara maulid, maka beliau menjawab,

“Amalan maulid Nabawy adalah bid’ah, tidak warid (datang) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, tidak pula dari para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, para sahabat beliau yang mulia, dan tidak pula dari zaman-zaman keutamaan bahwa mereka mengerjakan maulid ini.

Padahal mereka adalah manusia yang paling besar kecintaannya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan ummat yang paling bersemangat untuk mengerjakan kebaikan. Akan tetapi mereka tidak pernah mengerjakan satupun ketaatan, kecuali sesuatu yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai pengamalan firman Allah -Ta’ala-:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.

(QS. Al-Hasyr : 7)

Maka tatkala mereka tidak pernah mengerjakan maulid ini, diketahuilah bahwa dia adalah bid’ah”.

c. Pada pertanyaan no. 161 beliau ditanya tentang hukum perayaan hari ibu dan hari maulid (hari lahir), maka beliau menjawab,

“Perayaan hari-hari maulid, apakah itu maulid para Nabi, para ulama, raja-raja, dan para pemimpin, semuanya adalah termasuk bid’ah-bid’ah yang Allah -Ta’ala- tidak pernah menurunkan hujjah atasnya.

Semulia-mulia orang yang dilahirkan adalah Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, akan tetapi tidak tsabit (shohih) dari beliau, tidak pula dari para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, tidak pula dari para sahabat beliau, tidak pula dari orang-orang yang mengikuti mereka, dan tidak pula dari zaman-zaman keutamaan bahwa mereka mengadakan perayaan yang berkenaan dengan kelahiran beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-.

Tidaklah hal ini melainkan termasuk bid’ah-bid’ah yang dimunculkan, muncul setelah berlalunya zaman-zaman keutamaan melalui tangan sebagian orang-orang bodoh yang bertaqlid kepada Nashrani dalam perayaan mereka terhadap maulid Al-Masih (Isa) -‘alaihis salam-”.

d. Beliau berkata dalam kitab beliau At-Ta’liqatul Mukhtashoroh ‘alal ‘Aqidatith Thohawiyyah, ketika mensyarah perkataan Imam Ath-Thohawy –rahimahullah-,

[“Kami mengikuti Sunnah dan Jama’ah serta kami menjauhi keganjilan, perselisihan, dan perpecahan”], beliau (Syaikh Al-Fauzan) berkata,

“Termasuk di antara bid’ah-bid’ah, sesuatu yang diamalkan berupa perayaan maulid Nabi (-Shollallahu alaihi wa sallam-). Dia adalah bid’ah, tidak ada dalilnya dari Kitab, tidak pula dari Sunnah, tidak pula berasal dari petunjuk para khalifah yang mendapatkan petunjuk, dan tidak pula dari petunjuk (para ulama yang hidup) pada zaman-zaman keutamaan yang dipersaksikan dengan kebaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.

Bid’ah ini tidaklah muncul kecuali setelah berlalunya zaman-zaman (keutamaan) ini, tatkala tersebarluasnya kebodohan. Orang yang pertama kali memunculkan maulid ini adalah Syi’ah Al-Fathimiyyun yang kemudian diambil (baca : diikuti) oleh orang-orang yang tertipu dan menyandarkan dirinya kepada Ahlus Sunnah karena niat dan maksud yang baik.

Mereka menyangka bahwa hal itu termasuk bentuk mencintai Rasul (-Shollallahu alaihi wa sallam-), padahal bukan seperti itu cara mencintai beliau, akan tetapi mencintai beliau hanyalah dengan mengikuti beliau, bukan dengan berbuat bid’ah”.

15. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albany –rahimahullah-.

Beliau berkata dalam sebagian muhadharah (ceramah) beliau yang terekam dengan berjudul Bid’atul Maulid,

“… kami dan mereka -yaitu para pelaku maulid- bersepakat bahwa perayaan ini adalah perkara baru yang tidak pernah ada sama sekali di zaman beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, bahkan tidak pernah ada di tiga zaman keutamaan sebagaimana yang baru kita sebutkan.

Di antara perkara yang sudah dimaklumi bersama bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sepanjang hidup beliau tidak pernah merayakan hari kelahiran beliau. Karena perayaan hari kelahiran, siapapun orangnya tidaklah datang kecuali berasal dari jalan orang-orang Nashrani Al-Masihiyah. Perayaan itu tidak dikenal oleh Islam secara mutlak pada zaman yang baru kita sebutkan. Maka tentunya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- lebih pantas untuk tidak mengetahuinya. Lagi pula ‘Isa sendiri tidak pernah merayakan kelahiran beliau …”.

16. Syaikh ‘Ali bin Muhammad Nashir Al-Faqihy –hafizhohullah-.

Beliau berkata dalam kitab beliau yang berjudul Al-Bid’ah, Dhowabithuha, wa Atsaruha As-Sayyi` fil Ummah, hal. 20-21,

“Sesungguhnya perayaan maulid adalah kedurhakaan kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan penyelisihan yang jelas terhadap larangan beliau. Beliau bersabda dalam hadits Al-Bukhary dan Muslim [Yang benar, lafazh ini hanyalah diriwayatkan oleh Imam Muslim saja sebagaimana yang telah berlalu]:

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (Telah berlalu takhrijnya).

Beliau (jugs) bersabda dalam hadits yang shohih:

“Setiap perkara baru adalah bid’ah” (Telah berlalu takhrijnya).

Sedangkan maulid adalah perkara baru, tidak pernah diamalkan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, tidak pula empat khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk dan tidak pula oleh seorangpun dari para sahabat beliau. Padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui tentang sunnah-sunnah beliau serta lebih bersemangat dalam mengagungkan dan memuliakan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

17. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Muhammad Al-‘Abbad Al-Badr –hafizhohullah-.

Beliau berkata dalam Al-Hatsts ‘alal Ittiba’ wat Tahdzir minal Bida’ wa Bayani Khothoriha, hal. 55-56,

“Termasuk bid’ah-bid’ah zamaniah (yang berkaitan dengan waktu) adalah perayaan maulid-maulid (hari-hari lahir), seperti perayaan maulid beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, karena ini adalah termasuk bid’ah-bid’ah yang dimunculkan di abad keempat Hijriah. Tidak datang dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, para khalifah dan sahabat beliau sedikitpun tentang hal tersebut. Bahkan tidak datang dari tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka, sedangkan telah berlalu 300 tahun sebelum munculnya bid’ah ini”.

18. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz bin Ahmad At-Tuwaijiry –hafizhohullah-.

Beliau berkata setelah menyebutkan perkataan para ulama terdahulu dan belakangan tentang bid’ahnya maulid,

“Maka dari sela-sela syawahid (pendukung-pendukung) berupa atsar-atsar para salafush sholih dan yang mengikuti manhaj mereka ini, nampak jelas bagi kita bahwa mereka telah bersepakat bahwa sesungguhnya perayaan maulid Nabawy adalah bid’ah yang diada-adakan, tidak datang atsarnya (dalilnya) dari Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pula dari para sahabat beliau -ridhwanullahi ‘alaihim-, tidak pula dari para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan yang mengikuti mereka dari kalangan imam-imam yang terkenal dari pendahulu kita yang sholeh -rahmatullah ‘alaihim-”

Lihat Kitab beliau Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 205

19. Syaikh ‘Abdurrahman bin Jibrin –hafizhohullah-.

Beliau ditanya -di sela-sela pelajaran beliau ketika mensyarah (menjelaskan) kitab Al-Ibanah Ash-Shugro– tentang maulid Nabawy dan Isra` Mi’raj, apakah termasuk bid’ah padahal dia adalah amalan kebaikan dan terkadang para pelakunya menangis di dalamnya. Maka beliau menjawab,

“Iya, perayaan maulid adalah bid’ah karena tidak pernah dikerjakan oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sepanjang hidup beliau dan tidak pernah dikerjakan oleh para sahabat yang mereka ini merupakan sebaik-baik manusia (yaitu) para khalifah yang mendapatkan petunjuk. Abu Bakr tidak pernah merayakan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, Umar juga tidak pernah merayakan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pula dikerjakan oleh ‘Utsman dan tidak juga oleh ‘Ali -radhiyallahu ‘anhum- .

Perayaan maulid ini tidak ada pada abad pertama, tidak pula pada abad kedua dan tidak pula pada abad ketiga. Akan tetapi tidak muncul, kecuali pada abad keempat Hijriah yang dimunculkan oleh Kekhalifahan Al-Fathimiyyun Asy-Syi’ah dalam rangka mencontoh dan menyerupai orang-orang Nashrani yang mengadakan perayaan maulid bagi Al-Masih ‘Isa bin Maryam -‘alaihish sholatu wassalam-. Hal ini menunjukkan bahwa dia adalah bid’ah.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:

“Setiap bid’ah adalah sesat” (Telah berlalu takhrijnya).

Ini adalah termasuk bid’ah, demikian pula halnya dengan perayaan malam Isra` Mi’raj, semuanya adalah termasuk bid’ah-bid’ah.

Seandainyapun seseorang itu menangis, tapi bila tangisannya tersebut di atas selain hidayah, maka tangisannya tidak akan bermanfaat baginya. Terkadang seseorang itu menangis sedangkan dia di atas kekafiran sehingga tangisannya tidak bermanfaat baginya. Tangisannya tidak menambah baginya kecuali semakin jauh (dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala-).

Tidakkah engkau membaca firman Allah -Ta’ala-:

“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”. (QS. Al-Ghasyiah : 2-5)

[“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina”], tunduk lagi rendah. [“Bekerja keras”], dia telah beramal, sibuk siang dan malam dengan sholat dan puasa, tetapi tidak di atas ilmu, tidak sesuai dengan syari’at lagi berbuat syirik. [“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan”], lelah dalam beribadah dan beramal, akan tetapi bersamaan dengan itu (mereka) [“memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”] yaitu yang sangat panas, yang kedahsyatan panasnya telah sampai pada puncaknya dan dia diberikan minum darinya. Kita memohon keselamatan dan ‘afiat kepada Allah.

Jadi, tidak semua yang menangis berarti di atas kebenaran. Seorang kafir bisa menangis, padahal dia di atas kebatilan. Kita memohon keselamatan dan ‘afiat kepada Allah”.

20. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Ar-Rojihy –hafizhohullah-.

Beliau berkata disela-sela mensyarh kitab Syarhus Sunnah karya Al-Barbahary -rahimahullah– ketika menyebutkan tentang bid’ah-bid’ah yang berkaitan dengan waktu,

“… di sana ada beberapa bid’ah yang berkaitan dengan bulan Rabi’ul Awwal. Yang paling nampak adalah bid’ah perayaan maulid, perayaan hari maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Mereka berkumpul di malam harinya, lalu membaca sirah (sejarah) beliau dan beberapa qoshidah yang memuji Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan terkadang di dalamnya ada syirik akbar kepada Allah -Jalla wa ‘Ala-”.

21. Syaikh Sholih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Asy-Syaikh –hafizhohullah-, Menteri Agama Saudi Arabiah.

Beliau berkata ketika beliau menyebutkan beberapa bid’ah dan larangan yang berkenaan dengan tauhid, “Mengadakan perayaan-perayaan yang beraneka ragam dengan maksud taqarrub kepada Allah dengannya.

Seperti perayaan maulid nabawi, perayaan hijrah (Nabi), perayaan tahun baru hijriah, perayaan Isra` dan Mi’raj, dan yang semisalnya.

Perayaan-perayaan ini adalah bid’ah, karena dia adalah ajang berkumpulnya (manusia) pada amalan-amalan yang dimaksudkan sebagai taqarrub kepada Allah. Sedangkan tidak boleh bertaqarrub kepada Allah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan, dan Allah tidaklah boleh disembah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan. Maka semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah terlarang untuk mengerjakannya”

Lihat Al-Minzhor fii Bayani Katsirin minal Akhtho` Asy-Sya`i’ah.

22. Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmy –hafizhohullah-, Mufty Saudi Arabia Bagian Selatan

Dalam kitab beliau yang menjelaskan tentang kesesatan Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh yang berjudul Al-Mawridul ‘Adzbizh Zhallal, beliau berkata,

“Perayaan ini (maulid) adalah bid’ah yang dimunculkan oleh Al-‘Ubaidiyyun [Biasa juga dinamai dengan Al-Fathimiyyun, Syi’ah atau Al-Bathiniyyah [ed]] yang menguasai Mahgrib (baca: Maroko) yang kemudian kekuasaannya meluas sampai ke Mesir pada abad ke 5 Hijriah.

Maulid tidak pernah dikerjakan oleh seorangpun dari khalifah yang empat, tidak pula oleh seluruh sahabat lainnya dan juga tidak pernah dikerjakan oleh seorangpun dari orang yang hidup di zaman-zaman keutamaan. Apakah mereka mengetahui keutamaannya lantas meninggalkannya atau mereka tidak mengetahuinya?!

Kalau kalian mengatakan bahwa mereka mengetahui keutamaannya tapi mereka meninggalkannya, maka kalian telah berdusta atas nama mereka. Kalau kalian mengatakan bahwa mereka tidak mengetahuinya sedangkan kalian yang mengetahuinya, maka kalian lebih berhak untuk tidak tahu daripada mereka”.

23. Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hady Al-Madkhaly –hafizhohullah-.

Beliau berkata dalam kumpulan fatwa beliau yang berjudul Al-Ajwibah As-Sadidah (3/564-565),

“Adapun perayaan maulid Rasul yang agung -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maka tidak datang pensyari’atannya baik dari Al-Kitab, maupun sunnah qauliyah (berupa ucapan), (sunnah) fi’liyah (berupa perbuatan) dan (sunnah) taqririyah (berupa persetujuan) serta tidak juga dari atsar perbuatan para salaf yang mulia yang merupakan penjaga agama ini dari berbagai bid’ah dan benteng aqidah kaum muslimin dari kerusakan dan kerancuan”.

Kitab-kitab para ulama yang membahas akan bid’ahnya maulid

Adapun para ulama yang berbicara dan mengarang kitab tentang bid’ahnya maulid adalah:

1. Syaikh Abu Bakr Al-Jaza`iry.

Risalah beliau berjudul Al-Inshof fima Qila fil Maulid minal Ghuluwwi wal Ij’af.

2. Syaikh Hamud bin ‘Abdillah At-Tuwaijiry.

Beliau mengarang sebuah kitab yang berisi bantahan terhadap 3 orang yang membolehkan maulid, yang beliau namakan Ar-Roddul Qowy ‘alar Rifa’iy wal Majhul wa Ibni ‘Alwy wa Bayanu Akhtho`ihim fil Maulid An-Nabawy.

3. Syaikh ‘Abdullah bin Sulaiman bin Mani’.

Beliau juga mengarang sebuah kitab yang berjudul Al-Hiwar ma’al Maliky yang berisi bantahan terhadap Muhammad Alwi Al-Maliky, seorang ahli bid’ah yang membolehkan perayaan maulid. [Namun yang disayangkan bahwa orang ini (al-maliky) ditokohkan oleh sebagian tokoh agama -terlebih orang awam- di negeri kita, bahkan dianggap sebagai “wali Allah”. Padahal wali Allah bukanlah orang-orang yang suka menghidupkan suatu bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi –Shollallahu ‘alaihi wasallam-.[ed]]

4. Syaikh Abu Ath-Thoyyib Muhammad bin Syamsul Haq Al-‘Azhim Abady, seorang ulama India.

Beliau menulis mengenai pengingkaran terhadap bid’ah maulid dalam ta’liq (komentar) beliau terhadap kitab Al-Aqdhiyah wal Ahkam dari Sunan Ad-Daraquthny ketika beliau mengomentari hadits ‘A`isyah tentang bid’ah.

5. Syaikh Basyiruddin Al-Qonujy, Guru Abu Ath-Thoyyib.

Beliau memiliki karangan tersendiri dalam masalah ini yang beliau namakan Ghoyatul Kalam fii Ibtholi ‘Amalil Maulid wal Qiyam.

6. Syaikh Mushthofa Al-‘Adawy.

7. Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushoby Al-‘Abdaly Al-Yamany.

8. ‘Abdul Majid Ar-Roimy.

9. Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah Ar-Roimy.

10. Syaikh Muhammad bin Muhammad Mahdy.

11. Syaikh Ahmad bin Hasan Al-Mu’allim.

12. Syaikh Muhammad bin Sa’id Asy-Syaibany.

13. Syaikh ‘Umar bin ‘Ali Saqim.

14. Syaikh Muhammad bin ‘Ali Muhammady.

15. Syaikh Ahmad Adh-Dhomiry.

16. Semuanya disebutkan oleh ‘Uqail bin Muhammad bin Zaid Al-Muqthiry Al-Yamany dalam kitab beliau Al-Mawrid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid hal. 34-40

17. Muhammad Rasyid Ridho.

18. Syaikh Muhammad Basyir As-Sahsawany Al-Hindy dalam kitabnya yang berjudul Shiyanatul Insan. Keduanya disebutkan oleh Syaikh Sholih bin Fauzan dalam risalah beliau yang berjudul Hukmul Ihtifal bi Dzikril Maulid An-Nabawy.

19. Syaikh Abu ‘Abdillah Muhammad Al-Haffar, seorang ulama Maghrib.

20. Syaikh Muhammad Bukhaith Al-Muthi’iy Al-Hanafy, Mufti Negeri Mesir.

21. Syaikh Al-Mujaddid Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab.

22. Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh dalam Ad-Durarus Sunniyah

23. Syaikh Isma’il Al-Anshory, risalah beliau berjudul Al-Qaulul Fashl fii Hukmil Ihtifal bi Maulidi Khairir Rusul.

24. Semuanya disebutkan oleh Nashir bin Yahya Al-Hunainy dalam sebuah risalahnya tentang bid’ahnya perayaan maulid.

25. Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Lathif –rahimahullah-.

26. Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan -rahimahullah-. Akan datang perkataan beliau berdua pada bab setelah ini.

PENGAKUAN dari para ulama yang membolehkan maulid, bahwa maulid BARU MUNCUL setelah generasi terbaik umat ini

1.      Imam As-Suyuthy –rahimahullah– berkata dalam Husnul Maqshod yang tergabung dalam kitab Al-Hawy lil Fatawa (1/189),

Yang paling pertama mengerjakannya (yaitu perayaan maulid) adalah penguasa Irbil Raja Al-Muzhoffar”.

[Lihat kembali masalah ini di akhir bab Definisi dan Sejarah Munculnya Perayaan Maulid]

2.      Imam Abu Syamah -rahimahullah– berkata dalam Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits, hal. 95,

“Termasuk (bid’ah) yang paling baiknya di antara (bid’ah-bid’ah) yang dimunculkan di zaman kita dari jenis ini (yakni bid’ah hasanah [Lihat masalah bid’ah hasanah pada bab Tidak Ada Bid’ah Hasanah Dalam Islam] -menurut beliau-) adalah sesuatu yang dikerjakan di negeri Irbil -semoga Allah memperbaikinya- setiap tahun, pada hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berupa sedekah, amalan kebaikan, menampakkan perhiasan, dan kegembiraan …”.

3.      Al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar –rahimahullah– berkata sebagaimana dalam Al-Hawy hal. 196,

Asal amalan maulid adalah bid’ah, tidak pernah dinukil dari seorangpun dari kalangan salaf ash-sholeh pada tiga zaman (keutamaan)…”.

4.      Imam As-Sakhowy –rahimahullah– berkata sebagaimana dalam Al-Mauridur Rowy fil Maulidin Nabawy karya Mulla ‘Ali Qori`, hal. 12,

“Asal amalan maulid yang mulia tidak pernah dinukil dari seorangpun dari kalangan salafush sholih pada 3 zaman keutamaan, tidaklah dia muncul kecuali pada zaman setelahnya dengan maksud-maksud yang baik”.

[Maksud baik semata tidak menyebabkan suatu amalan diterima sebagaimana telah berlalu penjelasannya pada bab Syarat Diterimanya Amalan]

5.      Muhammad bin ‘Alwy Al-Maliky berkata dalam kitabnya Haulul Ihtifal bil Maulid, hal. 19,

“Perayaan maulid walaupun tidak pernah ada di zaman beliau –Shollallahu ‘alaihi wasallamsehingga dia adalah bid’ah. Akan tetapi bid’ah yang hasanah karena dia masuk ke dalam dalil-dalil syari’at dan kaidah-kaidah (syari’at) yang menyeluruh”.

[Ini adalah ucapan yang batil, tidak ada satupun dalil -baik yang umum maupun yang khusus- serta kaidah dalam Islam yang menunjukkan bahwa perayaan maulid memiliki asal dalam syari’at, tidak dari dekat dan tidak pula dari jauh sebagaimana yang telah berlalu pada bab Syubhat Orang-Orang yang Merayakan Maulid serta Bantahannya]

6.      Yusuf Ar-Rifa’iy berkata dalam kitabnya Ar-Roddul Muhkim Al-Mani’ hal. 153,

“Sesungguhnya berkumpulnya manusia untuk mendengarkan kisah maulid Nabawy yang mulia adalah perkara yang baru diada-adakan setelah zaman kenabian. Bahkan tidaklah dia muncul kecuali pada awal-awal abad ke 6 Hijriah”.

Catatan Penting

Dari semua perkataan ulama di atas -khususnya para ulama yang melarang dari perayaan maulid-, kita bisa melihat dengan jelas bahwa mereka (para ulama) hanya menghukumi perayaan maulid Nabi –Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam– sebagai bid’ah serta orang-orang yang melakukannya dan yang membelanya adalah pelaku bid’ah [Tapi jika perayaan tersebut berisi perkara-perkara kesyirikan maka perayaannya ketika itu dihukumi sebagai kesyirikan serta orang-orang yang terjun melakukan kesyirikan tersebut dihukumi sebagai orang musyrik, jika terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan hilang semua penghalang-penghalang yang melarang dia untuk dikafirkan, seperti kebodohan atau karena menta`wil dan sebagainya].

Oleh karena itu sungguh suatu kedustaan besar apa yang diucapkan oleh Yusuf Ar-Rifa’iy -dalam kitabnya Ar-Roddul Muhkam Al-Mani’  ‘ala Munkarat wa Syubhat Ibn Mani’, hal. 15 sampai 16- serta Rasyid Al-Marikhy -dalam I’lamun Nabil, hal. 17 sampai 18- yang mana keduanya berkata bahwa para ulama [Yang mereka maksudkan di antaranya adalah Syaikh Ibnu Baz –rahimahullah Ta’ala-] yang mengingkari perayaan maulid menghukumi orang-orang yang merayakan maulid sebagai orang musyrik, na’udzu billah.

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; tidak ada yang mereka katakan kecuali kedustaan”.

(QS. Al-Kahfi : 5)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz –rahimahullah– berkata,

“Saya telah menulis sejak beberapa waktu yang lalu suatu ucapan yang merupakan jawaban dari pertanyaan tentang hukum perayaan maulid, dan saya jelaskan di dalamnya bahwa perayaan tersebut adalah bid’ah yang dimunculkan dalam agama.

…sesungguhnya apa yang disebutkan oleh bagian penyiaran radio Britania dalam sebuah siarannya di subuh hari di London beberapa hari yang lalu tentang saya bahwa saya mengatakan bahwa perayaan maulid adalah kekafiran. Ini adalah kedustaan, tidak ada landasan kebenarannya, dan setiap orang yang memperhatikan ucapanku akan mengetahui hal tersebut”.

[Majmu’ Fatawa (2/380)]

Syaikh Abu Bakr Al-Jaza`iry -hafizhohullah– berkata dalam Al-Inshof fima Qila fil Maulid minal Ghuluwwi wal Ij’af, hal. 76,

“Sesungguhnya bid’ah yang seperti ini -yaitu bid’ah maulid Nabi- tidaklah dikafirkan pelakunya dan tidak pula orang yang menghadirinya. Menyifati seorang muslim dengan kekafiran dan kesyirikan bukanlah perkara yang ringan”.

[Lihat : Al-Maurid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid karya ‘Uqail bin Muhammad Al-Yamany hal. 31-41, Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 195-206 dan Ar-Rodd ‘ala Syubhat man Ajazal Ihtifal bil Maulid karya Abu Mu’adz As-Salafy, bab ketiga]

Diambil dari : Buku Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karya al-Ustadz Hammad Abu Muawiyah, cetakan Maktabah al-Atsariyyah 2007; dari kautsarku dari abdullah al-aussie