Fatwa para ulama tentang maulid (1/2)


Fatwa para ulama tentang maulid (1/2)

Oleh: al Ustadz Abu Mu’awiyyah Hammad Hafizhahullahu ta’ala

1. Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abdil Halim Ibnu Taimiyah -rahimahullah– :

a. Beliau berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/298),

“Adapun menjadikan suatu hari raya, selain dari hari-hari raya yang syar’i, seperti beberapa malam dalam bulan Rabi’ul Awwal yang dikatakan bahwa itu adalah malam maulid atau beberapa malam dalam bulan Rajab atau pada tanggal 18 Dzul Hijjah atau Jum’at pertama dari bulan Rajab atau tanggal 8 Syawal yang disebut oleh orang-orang bodoh dengan ‘Iedul Abror [Di Indonesia lebih dikenal dengan istilah “Lebaran Ketupat”], maka semua ini adalah termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang tidak pernah disunnahkan dan tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, Wallahu -Subhanahu wa Ta’ala- A’lam”.

b. Beliau berkata dalam Al-Iqhtidho` (hal. 295),

“… Karena sesungguhnya hal ini (yaitu perayaan maulid) tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, padahal ada faktor-faktor yang mendukung (pelaksanaannya) dan tidak adanya faktor-faktor yang bisa menghalangi pelaksanaannya.

Seandainya amalan ini adalah kebaikan semata-mata atau kebaikannya lebih besar (daripada kejelekannya) maka tentunya para salaf -radhiyallahu ‘anhum- lebih berhak untuk mengerjakannya daripada kita, karena mereka adalah orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dibandingkan kita, dan mereka juga lebih bersemangat dalam masalah kebaikan daripada kita.

Sesungguhnya kesempurnaan mencintai dan mengagungkan beliau hanyalah dengan cara mengikuti dan mentaati beliau, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara batin dan zhohir, dan menyebarkan wahyu yang beliau diutus dengannya, serta berjihad di dalamnya dengan hati, tangan, dan lisan. Inilah jalan orang-orang yang terdahulu lagi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.

2. Imam Tajuddin Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Ali Al-Lakhmy Al-Fakihany –rahimahullah-.

Beliau berkata di awal risalah beliau yang berjudul Al-Mawrid fii ‘Amalil Maulid,

“Saya tidak mengetahui bagi perayaan maulid ini ada asalnya (baca: landasannya) dari Al-Kitab, tidak pula dari Sunnah, dan tidak pernah dinukil pengamalannya dari seorangpun di kalangan para ulama ummat ini yang merupakan panutan dalam agama, yang berpegang teguh dengan jejak-jejak para ulama terdahulu. Bahkan ini adalah bid’ah yang dimunculkan oleh orang-orang yang tidak punya pekerjaan (baca: kurang kerjaan) yang dikuasai oleh syahwat jiwanya dan bid’ah ini (hanya) disenangi oleh orang-orang yang suka makan”.

3. Syaikh ‘Abdul Lathif bin ‘Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Alu Asy Syaikh –rahimahullah-.

Beliau berkata ketika menerangkan tentang dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab,

“Beliau -yakni Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab- mengingkari apa yang terdapat pada manusia di negeri-negeri itu dan selainnya, berupa membesarkan/mengagungkan maulid-maulid dan hari-hari raya jahiliyah yang tidak pernah diturunkan (oleh Allah) hujjah tentang pengagungan tersebut. Tidak datang tentangnya hujjah syar’iyah dan tidak pula argument sedikitpun, karena di dalamnya ada penyerupaan kepada orang-orang Nashrani yang sesat dalam hal hari-hari raya mereka, baik yang berupa waktu maupun tempat. Dia adalah kebatilan dalam syari’at pimpinannya para Rasul”

[Lihat Majmu’atur Rosa`il An-Najdiyyah -cet. Al- Manar- (4/440) dan Ad-Durar As-Sunniyyah (4/409)]

4. Muhammad bin Muhammad Ibnul Haj Al-Maliky –rahimahullah-.

Beliau berkata dalam Al-Madkhal (2/2),

“Termasuk perkara yang mereka munculkan berupa bid’ah -bersamaan dengan keyakinan mereka bahwa itu termasuk sebesar-besar ibadah dan dalam rangka menampakkan syi’ar-syi’ar (Islam)- adalah apa yang kerjakan dalam bulan Rabi’ul Awwal berupa maulid. Acara ini telah menghimpun sejumlah bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan”.

5. Al-Imam Ibrahim bin Musa Al-Lakhmy Asy-Syathiby –rahimahullah-.

Dalam kitab beliau yang penuh faidah, Al-I’tishom (1/53) tatkala beliau menyebutkan sisi-sisi penyelisihan bid’ah terhadap syari’at. Beliau berkata,

“Di antaranya adalah komitmen di atas kaifiat-kaifiat dan cara-cara tertentu, seperti berdzikir secara berjama’ah di atas satu suara, menjadikan hari kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- sebagai hari raya, dan yang semisalnya”.

6. Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukany –rahimahullah-.

Beliau berkata,

“Saya tidak menemukan satupun dalil yang membolehkannya. Orang yang pertama kali mengada-adakannya adalah Raja Al-Muzhoffar Abu Sa’id pada abad ke tujuh [Tentang orang yang pertama kali melaksanakannya telah kami jelaskan di akhir bab Sejarah Munculnya Perayaan Maulid] dan kaum muslimin telah bersepakat bahwa itu adalah bid’ah”. Lihat kitab Al-Mawrid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid karya ‘Uqail bin Muhammad bin Zaid Al-Yamany hal. 37.

7. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh, Mufti Saudi Arabia -rahimahullah-.

a. Beliau berkata dalam Al-Fatawa war Rosa`il (3/34) ketika menjawab pertanyaan tentang hukum perayaan maulid Nabi –Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-,

“Segala puji hanya milik Allah, perayaan hari-hari maulid (ulang tahun), peringatan hari-hari [Seperti perayaan tahun baru, hari Ibu dan yang semisalnya], kejadian-kejadian [Seperti Isra` Mi’raj, Nuzulul Qur`an, hari Pahlawan, dan yang semisalnya], dan peristiwa-peristiwa tertentu [Seperti hari AIDS, peringatan Tragedi Tri Sakti, dan yang semisalnya], adalah termasuk di antara perkara-perkara yang disyari’atkan oleh orang-orang Nashrani dan Yahudi.

Sedangkan kita telah dilarang untuk merayakan hari-hari raya ahlul kitab dan orang-orang asing (non muslim), karena di dalamnya ada bentuk perbuatan bid’ah dalam agama dan penyerupaan terhadap orang-orang kafir.

Semua perkara yang dimunculkan berupa hari-hari raya dan peringatan-peringatan adalah kemungkaran dan perkara yang dibenci, walaupun di dalamnya tidak ada penyerupaan terhadap ahli kitab dan orang-orang asing karena semuanya termasuk dalam kategori bid’ah dan perkara-perkara baru. Bahkan walaupun perayaan itu untuk memperingati maulid Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, karena asal (landasan) bagi seluruh ibadah adalah tidak disyari’atkan kecuali yang disyari’atkan oleh Allah -Ta’ala-”.

b. Beliau juga berkata dalam menjawab pertanyaan yang semakna dengannya,

“Tidak ada keraguan bahwa perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- adalah termasuk bid’ah-bid’ah yang dimunculkan dalam agama setelah tersebarnya kebodohan di alam Islam, ketika penyesatan, kesesatan, kesalahan, dan prasangka menjadi medan yang membutakan pandangan-pandangan, kekuatan taqlid buta menguat di dalamnya, dan kebanyakan manusia tidak merujuk kepada apa yang ada dalil pensyari’atannya. Akan tetapi, mereka hanya merujuk kepada sesuatu yang dikatakan oleh si anu dan diridhoi oleh si anu. Bid’ah yang mungkar ini tidaklah memiliki satupun atsar yang disebutkan dari sisi para sahabat Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pula dari sisi tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka”.

Lalu beliau berkata,

“Jika perayaan-perayaan ini adalah murni kebaikan atau kebaikannya yang lebih mendominasi maka tentunya para salafushsholih lebih berhak untuk mengerjakannya daripada kita, karena sesungguhnya mereka lebih besar kecintaan dan pengagungannya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dibandingkan kita dan mereka lebih bersemangat untuk mengerjakan kebaikan (daripada kita)”

[Lihat (3/38-39) dari kitab yang sama]

c. Pada (3/40) beliau ditanya dengan pertanyaan yang sama, maka beliau menjawab,

“Segala puji hanya milik Allah. Perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bukanlah perkara yang disyari’atkan dan tidak dikenal di kalangan salafushsholeh -ridwanullahi ‘alaihim-.

Mereka tidak mengerjakannya, padahal ada faktor-faktor yang mengharuskan (pelaksanaannya) dan tidak adanya faktor-faktor penghalang (dalam pelaksanaannya). Seandainya hal itu adalah kebaikan maka pasti mereka telah mendahului kita dalam mengerjakannya karena mereka lebih berhak atas suatu kebaikan daripada kita, lebih mencintai Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan sangat mengagungkan beliau (dibandingkan kita).

Merekalah yang telah berhijrah bersama beliau, mereka meninggalkan kampung, harta, dan keluarga mereka. Mereka telah berjihad bersama beliau sampai terbunuh di dalamnya dan mereka menebus (baca : membela) beliau dengan jiwa dan harta mereka -radhiyallahu ‘anhum wa ardhohum-.

Tatkala hal ini tidak dikenal di kalangan salafushsholeh dan mereka tidak pernah mengerjakannya -padahal mereka adalah (manusia yang hidup di) zaman-zaman yang penuh keutamaan-, maka ini menunjukkan bahwa dia adalah bid’ah yang diada-adakan”.

8. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Mufty Saudi Arabia –rahimahullah-.

a. Beliau berkata dalam risalah beliau yang berjudul At-Tahdzir minal Bida’, (hal. 7-8),

“Tidak boleh merayakan maulid Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan tidak pula maulid (ulang tahun) selainnya, karena hal itu adalah termasuk di antara bid’ah-bid’ah yang dimunculkan dalam agama. Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pernah mengerjakannya, tidak pula para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, tidak pula selain mereka dari kalangan para sahabat -ridhwanullahi ‘alaihim-, dan tidak pula orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pada zaman-zaman keutamaan. Padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui tentang sunnah, lebih sempurna kecintaannya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, dan lebih mengikuti syari’at beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka”.

b. Pada hal. 47-48 beliau ditanya tentang sebagian perayaan, seperti maulid Nabi, Isra` Mi’raj, dan Tahun Baru Hijriah, maka setelah beliau menjelaskan bahwa Allah telah menyempurnakan agama Islam ini dan Dia telah melarang dari berbuat bid’ah di dalamnya, beliau berkata,

“Perayaan-perayaan ini -yang disebutkan dalam pertanyaan- tidak pernah dikerjakan oleh Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Padahal beliau adalah manusia yang paling fasih, paling tahu tentang syari’at Allah, paling bersemangat dalam memberikan hidayah kepada ummat dan memberikan tuntunan kepada mereka menuju perkara yang mendatangkan manfaat bagi mereka dan yang diridhoi oleh Maula (Penolong) mereka (yakni Allah -Subhanahu wa Ta’ala-).

Hal ini juga tidak pernah dikerjakan oleh para sahabat beliau -radhiyallahu ‘anhum-, padahal mereka adalah manusia yang terbaik, paling berilmu setelah para nabi, dan yang paling bersemangat dalam (mengerjakan) kebaikan. Hal itu juga tidak pernah dilakukan olah para imam yang berada di atas hidayah di zaman-zaman keutamaan.

Bid’ah ini tidaklah diada-adakan kecuali oleh sebagian orang-orang belakangan berlandaskan ijtihad dan sangkaan baik, tanpa dalil. Kebanyakan mereka berlandaskan taqlid kepada orang-orang yang telah mendahului mereka dalam perayaan ini. Yang wajib atas seluruh kaum muslimin adalah hendaknya mereka berjalan di atas jalan yang dipijak oleh Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan para sahabat beliau -radhiyallahu ‘anhum- serta harus waspada terhadap perkara-perkara yang diada-adakan oleh manusia dalam agama Allah sepeninggal mereka, inilah jalan yang lurus dan manhaj yang kokoh”

Lihat juga Fatawa beliau (4/280-282)

c. Beliau berkata pada hal. 50-51 ketika beliau ditanya tentang merayakan hari-hari maulid (hari lahir/ulang tahun),

“Perayaan hari-hari maulid (ulang tahun/milad) adalah tidak ada landasannya dalam syari’at yang suci ini, bahkan dia adalah bid’ah …”.

Lalu beliau berkata,

“Telah diketahui bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pernah merayakan hari maulid (ulang tahun) beliau sepanjang hidup beliau, tidak pula pernah memerintahkan untuk mengerjakannya, dan tidak pula pernah mengajarkannya kepada para sahabat beliau.

Demikian pula para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk dan seluruh sahabat beliau, mereka semua tidak pernah mengerjakannya. Padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui sunnah beliau, manusia yang paling mencintai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan manusia yang paling semangat untuk mengikuti apa saja yang dibawa oleh beliau.

Seandainya perayaan maulid beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- disyari’atkan, maka pasti mereka telah bersegera untuk melaksanakannya. Demikian pula para ulama di zaman-zaman keutamaan, tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengerjakannya dan tidak pula menyuruh untuk mengerjakannya”

[Lihat juga Al-Fatawa (4/285)]

d. Beliau juga berkata pada hal. 54-55,

“Tidak ada keraguan bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah mensyari’atkan untuk kaum muslimin dua hari raya, yang mereka berkumpul di dalamnya untuk berdzikir [Tapi bukan dzikir secara berjama’ah. Namun maksudnya berkumpul dalam satu tempat, lalu masing-masing berdzikir sendiri menurut apa yang mereka kehendaki. (ed)] dan melaksanakan sholat, keduanya adalah: ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha sebagai pengganti hari-hari raya jahiliyah.

Dia telah mensyari’atkan hari-hari raya yang mengandung berbagai bentuk dzikir dan ibadah, seperti hari Jum’at, hari ‘Arafah, dan hari-hari Tasyriq. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak pernah mensyari’atkan untuk kita hari raya maulid (hari lahir/ulang tahun), baik maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maupun maulid selainnya.

Bahkan dalil-dalil syari’at dari Kitab dan Sunnah telah menunjukkan bahwa perayaan-perayaan maulid termasuk di antara perkara-perkara bid’ah yang dimunculkan dalam agama serta termasuk tasyabbuh kepada musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang Yahudi, Nashrani, dan selain mereka”.

[Lihat juga Al-Fatawa (4/286-288)]

e. Pada hal. 58, beliau berkata,

“Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengadakan perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- pada malam 12 Rabi’ul Awwal dan tidak pula pada malam selainnya. Sebagaimana halnya tidak boleh bagi mereka untuk mengadakan perayaan terhadap hari lahir siapapun selain beliau -‘alaihish sholatu wassalam-, karena perayaan-perayaan maulid (hari lahir) adalah termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak pernah merayakan hari maulid beliau sepanjang hidup beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, padahal beliau adalah penyampai agama dan pemberi syari’at dari Tuhannya -Subhanahu- dan beliau tidak pula pernah memerintahkan untuk mengerjakannya. Juga tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, tidak pula para sahabat beliau seluruhnya, dan tidak pula orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pada zaman-zaman keutamaan. Maka diketahuilah bahwa itu adalah bid’ah”

[Lihat Al-Fatawa (4/289)]

9. Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin Humaid, anggota Hai`ah Kibarul ‘Ulama (Majelis Ulama Besar) Saudi Arabiah –rahimahullah-.

Beliau berkata ketika membantah orang-orang yang mengatakan bahwa merayakan maulid adalah suatu bentuk menampakkan kesyukuran kepada Allah –‘Azza wa Jalla– atas terciptanya Nabi –Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-,

“Tidak diragukan bahwa beliau adalah pimpinan seluruh makhluk, manusia yang paling agung dan paling afdhol sepanjang masa. Akan tetapi kenapa tidak ada seorangpun dari kalangan para sahabat, tabi’in, para imam ahli ijtihad, dan tidak pula orang-orang yang hidup di 3 abad pertama -yang mereka dipersaksikan oleh Rasul -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dengan kebaikan- yang tegak melaksanakan kesyukuran seperti ini [Yakni dengan mengadakan perayaan maulid]?!

Padahal mereka lebih besar kecintaannya kepada beliau dibandingkan kita, lebih bersemangat kepada kebaikan, dan lebih mengikuti beliau dibandingkan kita. Bahkan kesempurnaan kecintaan dan pengagungan kepada beliau adalah dengan mengikuti beliau, mentaati beliau, mengikuti perintah beliau, menjauhi larangan beliau, menghidupkan sunnah beliau secara zhohir dan batin, menyebarkan syari’at yang beliau bawa, serta berjihad atas semua hal itu dengan hati, tangan dan lisan.

Inilah cara orang-orang yang terdahulu lagi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka dengan baik, bukan dengan cara mengadakan perayaan-perayaan bid’ah yang merupakan sunnah-sunnah Nashrani”.

[Lihat Ar-Rosa`ilul Hisan fii Fadho`ihil Ikhwan hal. 39]

10. Syaikh Muhammad bin ‘Abdis Salam Asy-Syuqoiry –rahimahullah-.

Beliau berkata dalam kitabnya As-Sunan wal Mubtada’at Al-Muta’alliqah bil Adzkar wash Sholawat, hal. 138-139,

“Pada bulan ini (Rabi’ul Awwal) beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dilahirkan dan pada bulan ini pula beliau diwafatkan, maka kenapa mereka bergembira dengan kelahiran beliau dan tidak bersedih dengan kematian beliau?!

Jadi, menjadikan hari kelahiran beliau sebagai hari raya dan peringatan adalah bid’ah yang mungkar dan sesat, tidak dibawa (baca: diterangkan) oleh syari’at maupun akal.

Seandainya di dalamnya ada kebaikan maka bagaimana mungkin Abu Bakar, Umar, Utsman, dan ‘Ali -ridhwanullahi ‘alaihim- serta seluruh sahabat, tabi’in, orang-orang yang mengikuti mereka, para imam, dan yang mengikuti mereka bisa lalai darinya?!”.

11. Syaikh ‘Ali Mahfuzh –rahimahullah-.

Dalam kitab beliau yang berjudul Al-Ibda’ fii Madhorril Ibtida’, hal. 272 tatkala beliau menyebutkan beberapa contoh hari raya yang disandarkan kepada syari’at, padahal dia bukan termasuk darinya, beliau berkata,

“… di antaranya adalah malam ke 12 Rabi’ul Awwal, manusia berkumpul di masjid-masjid dan selainnya untuk merayakannya (bid’ah maulid). Sehingga mereka melanggar kehormatan rumah-rumah Allah -Ta’ala-, mereka berbuat isrof (berlebih-lebihan) di dalamnya, para pembaca meninggikan suara-suara mereka dengan melantunkan qoshidah-qoshidah berupa nyanyian (nasyid dan yang semisalnya) yang membangkitkan syahwat para pemuda untuk berbuat kefasikan dan kefajiran.

Maka engkau melihat mereka ketika itu berteriak dengan suara-suara kemungkaran, memunculkan di dalam masjid-masjid goncangan yang mengagetkan. Terkadang mereka sama sekali tidak menyinggung dalam qoshidah-qoshidah mereka, sedikitpun di antara kekhususan-kekhususan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, akhlak-akhlak beliau yang mulia, dan amalan-amalan beliau yang bermanfaat dan mulia. Di antara mereka ada yang menyibukkan diri dengan dzikir-dzikir yang dibuat-buat.

Semua perkara ini adalah perkara yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta tidak pernah dilakukan oleh para salafush sholih. Jadi, ini adalah bid’ah dan kesesatan”.

(…bersambung…)

Diambil dari : Buku Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karya al-Ustadz Hammad Abu Muawiyah, cetakan Maktabah al-Atsariyyah 2007; dari kautsarku dari abdullah al-aussie