Dengan Istiqomah Kita Gapai Keluarga Sakinah


Dengan Istiqomah Kita Gapai Keluarga Sakinah

Ustadz Aspri Rahmat Azai

Setiap pemuda atau pemudi yang ingin menikah pasti mendambakan keluarga yang bahagia. Bertabur mutiara cinta dan kasih sayang, tempat menenangkan jiwa dan menghibur diri dari rumitnya kehidupan dunia, dan yang paling penting adalah memban­tunya makin mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala. Itu­lah yang biasa disebut sebagai “Keluarga sakinah”.

Sang istri yang diciptakan sebagai tempat ke­damaian hati, memadu kasih, menyemaikan cinta sejati, kasih sayang yang halal dan murni. Istri merupakan karunia yang diberikan Alloh Ta’ala kepada bani Adam agar dapat makin mensyukuri nikmat­Nya, dan agar mereka dapat saling berbagi kasih sayang sehingga menghasilkan ketenteraman dan kedamaian dalam hati mereka.[1]

Tidak seorang pun manusia di muka bumi ini yang tidak memimpikan kebahagiaan, sebagaima­na tidak satu pun yang suka hidup menderita, su­sah, dan melarat. Hanya saja, ada dua hal yang perlu kita renungkan kembali dalam permasalahan ini, yang erat kaitannya dalam usaha kita mengga­pai kebahagiaan hakiki.

 

Pertama, standar ukuran dan penilaian ter­hadap kata “bahagia”

“Bahagia” memang sebuah kata yang penuh ki­lauan menjanjikan. Hanya saja, setiap, orang ber­beda pandangan dalam memberikan penilaian tentang hakikatnya. Kebanyakan dari kita justru se­ringkali menilai dan mengukur kebahagiaan de­ngan standar materi, semuanya mesti diukur de­ngan benda; banyak harta pasti bahagia, punya kedudukan dijamin bahagia, dapat istri cantik hi­dup pasti bahagia!

Akan tetapi, mari kita renungkan lagi, bukankah dinamakan bahagia jika kita selamat dari rasa takut, khawatir, was-was? Bukankah disebut baha­gia apabila kita merasakan ketenangan hati, keten­teraman jiwa, dan kelapangan dada (dengan meyakini bahwa tidak ada yang mesti dirisaukan dalam hidup ini, juga tidak ada yang bisa membuat kita congkak dan sombong)? Bukankah dikatakan bahagia di saat dalam hati kita terasa sama antara mendapat nikmat dan mengalami cobaan? Dalam sebuah hadits shohih Rosululloh Shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Keadaan orang beriman itu sa­ngat menakjubkan, sesungguhnya semua keadaannya baik, dan tidak seorang pun yang bisa menda­patkan seperti itu. Apabila menda­pat kenikmatan ia bersyukur maka kebaikan buatnya, dan (sebalik­nya) ketika ditimpa musibah ia bersabar maka itu pun kebaikan buatnya.” (HR. Muslim)

Tidakkah dikatakan bahagia ke­tika kita tidak merasa iri melihat melimpahnya harta si kaya, dan sebaliknya kekayaan harta tidak sam­pai membuat kita serakah? Atau ketika si istri berkata kepada suaminya yang berpenghasilan di bawah standar kebutuhan harian : “Suamiku, apa yang kita dapatkan benar-benar berupa nikmat dari Alloh Ta’ala, coba kita lihat keluarga si fulan. Alhamdulillah, kita jauh lebih ‘mendingan’ dari mereka”, bukankah ini membahagiakan?

Kalau semua kenyataan di atas bukan bentuk kebahagiaan yang menjadi impian, lalu bahagia yang bagaimana lagi yang diinginkan?

Sebagian ulama salaf mengung­kapkan sebuah kenyataan, bahwa kekayaan harta dan kedudukan ti­dak selamanya menjamin kebaha­giaan. Mereka berkata : “Kalau sekiranya para penguasa dan pangeran-pangeran kerajaan mengetahui apa yang kami peroleh dari (kenikmatan iman dan keba­hagiaan hati), niscaya mereka akan memenggal kami demi mendapatkan kenikmatan tersebut.”

 

Syaikh Utsaimin rahimahullah, mengomentari perkataan di atas : “Tidakkah kamu melihat bahwa yang paling senang hidupnya di dunia ini adalah para raja dan anak keturunan me­reka. Memang, secara lahiriah tidak ada yang dapat menandingi kenik­matan yang mereka miliki. Segala bentuk kenikmatan duniawi ada di tangan mereka, hanya saja sebatas kenikmatan lahiriah atau kesenang­an badan saja. Lain halnya dengan kenikmatan hati yang diperoleh oleh orang-orang beriman, seorang mu’min meskipun hanya memiliki pakaian compang-camping, hidup di dalam gubuk yang tidak bisa me­lindungi dari tetesan hujan, dan se­ngatan panasnya matahari, tetapi ketenangan hati dan kekuatan iman serta kenikmatan ibadah dan ketun­dukan pada Alloh Ta’ala membuat hidup­nya terhiasi kemudahan dan kela­pangan.

Bukankah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah setiap kali dimasuk­kan ke dalam tahanan, beliau rahimahullah mem­baca ayat :

…. Maka diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu, di sebelah dalamnya ada rohmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (QS. al-Hadid [57]: 13)

Beliau  rahimahullah membaca ayat ini hanya karena ingin menampakkan nikmat Alloh Ta’ala, bukan karena kesombongan. Lalu beliau rahimahullah mengucapkan perka­taannya yang masyhur : ‘Apalagi yang mesti diperbuat musuh-musuhku terhadapku, karena sesung­guhnya surgaku berada dalam ha­tiku (yaitu iman, ilmu dan keyakin­an), jika aku ditahan maka itu me­rupakan khulwah (menyendiri da­lam rangka ibadah) bagiku, dan jika aku diasingkan maka itu berarti si­yahah (berjalan di muka bumi un­tuk menambah iman), dan bila sampai mereka membunuhku maka itu mati syahid.’”

Syaikh Utsaimin rahimahullah melanjut­kan : “Inilah hakikat keyakinan, dan inilah kebahagiaan hakiki dan ke­tenteraman jiwa yang sebenarnya.”[2]

 

Kedua, bagaimana mendapat­kan hidup bahagia?

Telah dijelaskan di atas bahwa hakikat bahagia adalah bahagia hati, ketenteraman, dan ketenangan jiwa. Lantas bagaimana kita menda­patkan itu semua?

Sebagai jawaban, mari kita baca sebuah firman Alloh Ta’ala dalam al-Qur’an :

sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Robb kami ialah Alloh”, kemudian mereka istiqo­mah, maka malaikat akan senanti­asa turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih ; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Alloh kepa­damu.” (QS. Fushshilat 1411: 30)

Salah satu faktor yang membawa kita kepada kehidupan yang baha­gia adalah istiqomah di atas agama Alloh, tetap berpegang teguh de­ngan ketaatan kepada Alloh Ta’ala.

 

MAKNA ISTIQOMAH

Ibnu Rojab rahimahullah menjelaskan, makna “Istiqomah” yaitu meniti jalan yang lurus (yaitu agama Islam yang lurus dan tidak bengkok) dengan melakukan berbagai ketaatan, yang zhohir dan yang batin, dan meninggalkan semua larangan.[3]

Ibnu Hajar rahimahullah secara ringkas mendefinisikan bahwa “istiqomah” ialah sebuah sebutan untuk tin­dakan melakukan perintah dan menjauhi larangan.[4]

Alloh ‘Azza wa jalla berfirman kepada Nabi Shallallu ‘alaihi wa sallam :

“Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagai­mana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah bertaubat beserta kamu dan ja­nganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Dia maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Hud [11]: 112)

Dalam ayat di atas Alloh Ta’ala menje­laskan bahwa istiqomah adalah ke­balikan dari sikap melampaui batas, dan berlebihan, jadi melanggar pe­rintah Alloh Ta’ala, dan juga melampaui batasan-batasan yang telah ditetapkan-Nya adalah sikap melanggar is­tiqomah.

 

ISTIQOMAH = JALAN KEBAHAGIAAN

Ibnul Qoyyim rahimahullah[5] menerangkan secara panjang lebar bahwa dengan beristiqomah kita pasti menggapai kebahagiaan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan beristiqomah kita pasti akan mendapat kebahagiaan, dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, dalam menjalin hubungan dengan Alloh Ta’ala maupun hubungan dengan manusia. Dengan mereali­sasikan ketundukan kepada Alloh Ta’ala maka kesejahteraan dapat kita ra­sakan, hati kita jadi tenang, jiwa kita lapang, setiap permasalahan dan kendala dalam hidup pasti akan didapatkan jalan keluarnya.
Alloh Ta’ala berfirman :

…. Dan barang siapa yang ber­taqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari berbagai permasalah­an), dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…. (QS. ath-Tholaq [65]: 2-3)

Dan di ayat lain Alloh ‘Azza wa jalla juga berfir­man :

…. Dan barang siapa yang bertaq­wa kepada Alloh niscaya Alloh menjadikan baginya kemudahan dalam urusan. (QS. ath-Tholaq [65]: 4)

Dan pada ayat selanjutnya dalam Surat yang sama Alloh Ta’ala menekankan lagi apa yang Dia janjikan untuk orang-orang yang bertaqwa yaitu mereka yang selalu istiqomah da­lam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya, sebagai­mana firman-Nya :

Itulah perintah Alloh yang ditu­runkan-Nya kepada kamu, dan ba­rang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya. (QS. ath-Tholaq [65]: 5)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa istiqomah merupakan jalan menuju kebahagiaan dan kesejahteraan, hati yang selalu tenang, jiwa senantiasa tenteram, kehidupan yang dijalani sesuai dengan keten­tuan al-Qur’an dan Sunnah, sebagai seorang suami ia memegang peran yang diamanahkan oleh Alloh Ta’ala, pe­mimpin yang akan diminta pertang­gungjawaban kepemimpinannya, seorang istri juga mempunyai peran yang ditetapkan Alloh Ta’ala dan Rosul-­Nya, begitu juga peran seorang ibu, dilakoni sejalan dengan perintah agama.

Para malaikat senantiasa mene­nangkan kita, menenteramkan jiwa kita : “Janganlah kalian bersedih dan jangan pula takut, karena bagi kalian dijanjikan Surga yang di da­lamnya terdapat segala kenikmatan.” Di sanalah puncak semua kebahagiaan.

Orang-orang yang beristiqomah menjalani kehidupan mereka akan memperoleh kebahagiaan hakiki, baik saat hidup di dunia, berupa ke­tenangan jiwa, ketenteraman hati, dan kemudahan semua urusan, maupun di hari akhir kelak dengan balasan Surga Alloh Ta’ala (lihat QS. al­Ahqof [46]:13-14).

 

BAGAIMANA BERISTIQOMAH?

Di samping itu kita juga perlu mengetahui bahwa Alloh Ta’ala sama se­kali tidak akan membebani kita apa yang tidak sanggup kita lakukan, dan kita dituntut untuk selalu ber­ada dalam norma-norma kebenaran sekalipun kita tidak sanggup untuk mencapai kesempurnaan.

Dalam hadits Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu Rosululloh Shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Senantiasakanlah berbuat yang benar, dan berusahalah untuk se­lalu dekat (dengan kebenaran), dan tetaplah bersikap gembira, ka­rena sesungguhnya tidak seorang pun yang masuk surga lantaran amalannya.” Para sahabat berta­nya : “Apakah engkau pun tidak, wahai Rosululloh ?” Beliau Shallallu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Ya, saya pun tidak, hanya saja Alloh memberi anugerah roh­mat kepada saya, dan ketahuilah (pula) bahwa amalan yang sangat dicintai Alloh ialah amalan yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas dipahami bah­wa kita pertama kali diperintahkan beristiqomah, yaitu melakukan setiap perintah-perintah Alloh Ta’ala. Kemu­dian di saat kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya kita disuruh untuk mendekati kebe­naran itu, dengan melakukan apa yang sanggup kita lakukan, dan ini­lah sebenarnya hakikat agama Islam, sebagaimana dalam hadits shohih yang lain, yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhi yallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh Shallallu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sesungguhnya agama Islam itu mudah, dan tidak seorang pun yang memberat-beratkan dirinya dalam mengamalkan agama ini kecuali ia sendiri yang akan tidak kuat (melaksanakan), maka senantiasakanlah berbuat yang benar, dan berusahalah untuk selalu dekat (dengan kebenaran), dan tetaplah bersikap gembira, dan min­talah pertolongan dengan melaku­kan ghudwah (pergi ke masjid di pagi hari) dan rouhah (pergi ke masjid di petang hari) dan sedikit dari waktu gelap.” (HR. Bukhori)

Jadi, praktik keislaman itu tidak akan memberatkan siapa saja. Bu­kankah Alloh Ta’ala telah berjanji dalam al-Qur’an bahwa Dia tidak membebankan apa yang tidak sang­gup kita lakukan, lantas mengapa mesti kita haramkan diri kita dari menjalani ketaatan kepada Alloh Ta’ala, padahal itu adalah hakikat kebahagiaan yang selalu kita angan-angan­kan.

Dan bukankah Alloh Ta’ala telah mem­beri ancaman kepada orang-orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya :

Barang siapa yang berpaling dari mengingat-Ku maka ia akan men­dapatkan penghidupan yang sempit…. (QS. Thoha [20]: 124)

 

INTROSPEKSI

Terkadang sebagian pasangan suami istri sebelum memasuki mahligai rumah tangga, mereka pe­nuh semangat dan sangat rajin me­ngamalkan berbagai macam ibadah di luar amal-amal wajib, seperti sholat sunnah, puasa sunnah, dan sebagainya. Namun setelah berumah tangga semangat itu mulai kendur dan mereka dihinggapi rasa futur (hilang semangat).

Apalagi kalau sudah dianugerahi buah hati dan belahan jiwa, lahir­nya anak membuat pasangan suami istri makin disibukkan. Si istri yang telah menyandang titel ibu disibuk­kan oleh anak kesayangan. Si suami yang sudah menjadi ayah, bekerja di luar rumah, banting tulang, peras keringat mencari nafkah untuk keluarganya. Semua itu makin men­jauhkan mereka dari kebiasaan-ke­biasaan yang lazim dikerjakan se­belum masa pernikahan.

Itulah fenomena yang sangat erat kaitannya dengan perkembangan generasi masa depan. Bukankah kita sebagai pasangan suami istri ada­lah contoh teladan yang akan men­jadi panutan anak-anak kita? Kalau kita tidak mau mempraktikkan is­tiqomah dalam diri kita, bagaimana nantinya akan kita tanamkan ke­pada anak keturunan kita?

Barangkali itulah salah satu pe­nyebab dari berbagai kesulitan dan kendala yang sering kita hadapi dalam hidup berumah tangga, menu­runnya keharmonisan hubungan suami istri, atau sulitnya dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak.

Dahulu, pada masa generasi sa­laf, seorang suami dengan pemikir­an yang cemerlang dapat memutuskan bahwa dirinya berdosa atau ti­dak, terjerumus ke dalam pelang­garan atau tidak hanya dengan me­lihat tingkah dan tindak tanduk istri dan anak-anaknya, serta sikap bina­tang ternaknya.

Mari kita introspeksi diri kita se­lalu dengan menjadikan semua ke­sulitan, musibah, kegersangan jiwa, dinginnya sikap istri, membang­kangnya tindakan anak-anak, dan lain-lainnya sebagai parameter istiqomah. Wallohul Muwaffiq.

Disalin dari: Majalah Keluarga Muslim al-Mawaddah Edisi ke: 10. Thn: 1, Robi’ul Akhir – Jumadil ‘Ula 1429.H-2008.M

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:


[1]Lihat QS. Ar-Rum [30] : 21.

 

[2] Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Syaikh Utsaimin rahimahullah hlm. 210-211 (tafsir surat al-Fajr).

[3] Jami’ul-Ulum wal Hikam karya Ibnu Rojab hlm. 193

[4] Fat’hul Bari karya Ibnu Hajar : 13/257

[5] dalam kitabnya Madarijus-Salikin (2/103-109)