Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan


Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan

Telah sampai kepada kami sebuah buku yang berjudul Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran. Secara global buku ini adalah salah satu buku yang mengkampanyekan penyatuan antara agama Islam dan agama Syi’ah. Buku ini asalnya adalah makalah yang disampaikan oleh penulisnya dalam diskusi di Masjid al-Aqsha Ujungpandang (Makassar) Tabun 1980, makalah ini belum sempat termuat di dalam kumpulan-kumpulan makalah penulis yang berjudul Membumikan Al-Qur’an.

Dalam pengantar buku ini penulis menyatakan keberatan jika dituduh sebagai seorang yang beraliran Syi’ah dan mengatakan:

Sebenarnya keberatan penulis atas tuduhan itu bukan karena menganggap aliran Syiah sesat dan menyesatkan, tetapi karena dugaan itu tidak benar.

Hanya, setelah kami telaah buku ini ternyata di dalamnya penulis banyak mempropagandakan pemikiran-pemikiran Syi’ah dan melontarkan syubhat-syubhat yang membahayakan aqidah dan pemahaman seorang muslim.

Karena itulah, insya Alloh dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini sebagai pembelaan terhadap manhaj yang haq dan nasihat kepada kaum muslimin secara umum.

Penulis dan Penerbit Buku Ini

Buku ini ditulis Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, MA dan diterbitkan Penerbit Lentera Hati Ciputat Tangerang cetakan pertama Maret 2007 MI Robi’ul Awal 1428 H.

Tikaman Penulis Terhadap Para sahabat Nabi

1.   Penulis menyatakan bahwa Umar bin Khoththob adalah seorang sahabat Nabi yang daya ingatnya menyangkut ayat-ayat al-Qur’an tidak terlalu akurat (hlm. 7).

2.   Penulis berkata di dalam hlm. 33:

Lalu perselisihan antara beliau (Ali bin Abi Thalib) dengan Mu’awiyah dengan dalih agar para pembunuh Utsman yang ketika itu belum dikenal ditangkap dan dijatuhi hukuman -walau sebelumnya Mu’awiyah membiarkan khalifah III itu terkepung. Mu’awiyah -menurut banyak pakar- hanya menjadikan tuntutan tersebut sebagai dalih agenda politik untuk berkuasa, melebihi kekuasaannya ketika itu sebagai gubernur wilayah Syam yang berkedudukan di Damaskus.

Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan miring yang lainnya dari penulis kepada para sahabat.

Kami katakan: Ini adalah celaan kepada dua orang sahabat yang mulia. Dengan demikian penulis telah renyelisihi pokok yang agung yang disepakati oleh Ahli Sunnah, yaitu wajibnya loyal kepada para sahabat Rosululloh mencintai mereka dengan tidak berlebih-lebihan dalam mencintai seorang dari mereka, dan tidak menvebut mereka dengan selain kebaikan:

Al-Imam al-Khothib al-Baghdadi menyebutkan ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan para sahabat, di antaranya:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang MuhajirIn dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surge-surga yang ntengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. at-Taubah [9]: 100)

Kemudian beliau berkata: “Hadits-hadits yang semakna dengan hal ini banyak sekali, semuanya sesuai dengan apa yang datang dalam nash al-Qur’an, yang semuanya menunjukkan kesucian para sahabat dan pemastian atas keadilan mereka, mereka tidak butuh rekomendasi dari siapa pun setelah rekomendasi Alloh kepada mereka, Alloh Zat Yang Maha Mengetahui isi hati mereka … Ini adalah madzhab seluruh ulama dan fuqoha yang perkataannya dianggap (diakui, Red).” (al-Kifayah hlm. 96)

Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah berkata: “Diantara pokok-pokok Ahli Sunnah adalah selamatnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rosululloh sebagaimana penyifatan Alloh     dalam firman-Nya:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr [59]: 10)

Sikap Ahli Sunnah ini adalah merupakan ketaatan kepada Rosululloh terhadap sabdanya:

“Janganlah kalian mencaci para sahabatku, demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar Gunung Uhud tidaklah itu mencapai satu mud infaq seorang dari mereka dan tidak juga mencapai separuhnya.” (Muttafaq’alaih, al-Bukhori: 3673 dan Muslim: 2540)

Maka Ahli Sunnah menerima apa saja yang yang datang dalam Kitab, Sunnah, dan ijma’ tentang keutamaan-keutamaan dan tingkatan-tingkatan mereka. Ahli Sunnah berlepas diri dari cara orang-orang Rofidhoh yang membenci dan mencaci para sahabat, dan berlepas diri dari cara orang-orang Nawashib yang menyakiti ahlulbait dengan perkataan atau perbuatan.

Ahli Sunnah menahan diri dari apa yang terjadi di antara sahabat, mereka mengatakan bahwa atsar-atsar yang datang tentang kejelekan-kejelekan para sahabat di antaranya ada yang dusta, ada yang telah ditambahi atau dikurangi, dan adapun yang shohih darinya maka para sahabat memiliki uzur (keringanan) karena mereka adalah mujtahid yang adakalanya menepati kebenaran dan adakalanya keliru dalam ijtihadnya.

Bersamaan dengan itu Ahli Sunnah tidak meyakini bahwa tiap-tiap sahabat terjaga dari dosa-dosa yang kecil dan besar, bahkan secara umum mereka pernah berbuat dosa. Akan tetapi, para sahabat memiliki senioritas dan keutamaan-keutamaan yang bisa menutupi kesalahan-kesalahan yang muncul pada mereka. Kemudian jika telah muncul kesalahan seorang dari mereka, bisa jadi dia telah bertaubat atau melakukan kebaikan yang bisa menghapusnya, atau dia diampuni dengan keutamaan mereka atau dengan syafa’at Nabi kepada mereka, atau dia diuji di dunia dengan ujian yang bisa menghapus kesalahannya.

Barang siapa yang menelusuri siroh para sahabat dengan ilmu, bashiroh, dan keutamaan-keutamaan yang Alloh anugerahkan kepada mereka akan mengetahui dengan yakin bahwa para sahabat adalah makhluk terbaik sesudah para nabi. Tidak ada satu pun yang telah dan akan menyamai mereka, mereka adalah manusia-manusia pilihan dari umat ini yang umat ini adalah sebaik-baik umat dan yang paling mulia di sisi Alloh. (Lihat Aqidah Wa-sithiyyah hlm. 142-151)

Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ciri khas agama Syi’ah yang batil adalah celaan mereka terhadap para sahabat Nabi!

Kedustaan Atas Imam Abu Hanifah

Di dalam hlm. 55 penulis menukil pernyataan Abdul Halim Mahmud yang mengatakan bahwa Imam Abu Hanifah membai’at Muhammad bin Abdulloh bin al-Hasan bin al-Hasan bin Ali, dan menjadi salah seorang anggota kelompok/syi’ahnya hingga akhimya ia diadukan kepada Al-Manshur – penguasa dinasti Abbasiyyah – sehingga ia dipenjarakan dan mati dalam penjara.

Kami katakan: Ini adalah kedustaan yang nyata atas al-Imam Abu Hanifah. Beliau tidak pernah membai’at Muhammad al-Alawi dan juga tidak pernah memberontak kepada kholifah al-Manshur sebagaimana bisa dilihat di dalam kitab-kitab yang memuat biografi beliau seperti Tarikh Baghdad kar. al-Khothib al-Baghdadi: 13/323-454, Siyar A’lamin Nubala kar. adz-Dzahabi: 6/390-403, dan Thobaqoh Hanafiyyah kar. Abdul Qodir bin Abil Wafa’ al-Quro-syi: 1/26-32.

Merupakan hal yang dimaklumi bahwa ciri khas agama Syi’ah yang batil adalah kedustaan mereka dengan nama taqiyah!

Siapakah Ahli Sunnah?

Penulis mengaku kebingungan menentukan siapa yang disebut Ahli Sunnah, padahal bukunya ini hendak mengkompromikan antara Ahli Sunnah dan Syi’ahl Penulis berkata di dalam hlm. 57:

Penulis menemukan kesukaran untuk menjelaskan siapa saja yang dinamai Ahli Sunnah dalam pengertian terminologi, karena banyaknya kelompok-kelompok yang termasuk di dalamnya.

Kemudian dalam hlm. 58-59 penulis menye-butkan beberapa nukilan tentang pengertian Ahli Sunnah dari beberapa tokoh yang disetujui oleh penulis karena di akhir nukilan-nukilan penulis mengatakan:

Untuk sementara, apa yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh Sunni tersebut dapat kita jadikan dasar dalam mengenal siapa Ahli Sunnah.

Di antara nukilan-nukilan tersebut adalah:

1.    Ahli Sunnah muncul sebagai reaksi paham Mu’tazilah Washil bin Atha’ (meninggal tahun 131 H).

2.    Maturidiyyah dan Asy’ariyyah dimasukkan dalam kelompok Ahli Sunnah.

3.    Ahli Sunnah adalah kaum muslimin yag mengikuti aliran Asy’ari di dalam aqidah dan keempat imam mazhab -Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Hanafi- dalam urusan syari’ah.

Kami katakan:

Mengidentikkan Ahli Sunnah dengan Asy-’ariyyah adalah perkataan yang batil karena Asy-’ariyyah bertentangan dengan Ahli Sunnah dalam banyak hal seperti:

1.    Mashdar talaqqi Ahli Sunnah adalah al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’, dan qiyas, sedangkan mashdar talaqqi Asy’ariyyah adalah akal.

Fakhrur Rozi -seorang tokoh Asy’ariyyah- berkata: “Akal adalah landasan naql (dalil syar’i), maka mencela akal untuk membenarkan naql akan membawa pencelaan kepada akal dan naql sekaligus, dan ini adalah batill” (Asasut Taqdis hlm. 221)

Adhuddin al-Iijy -seorang tokoh Asy’ariyyah- berkata: “Mendahulukan naql di atas akal adalah bathil….” (Mawaqif Fi IImil Kalam hlm. 40)

2.    Tauhid menurut Ahli Sunnah adalah tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat,sedangkan tauhid menurut Asy’ariyyah adalah menafikan sekutu atau bilangan serta menafikan bagian atau susunan, karena itulah Asy’ariyyah menolak sifat wajah, tangan, mata, dan yang lainnya bagi Alloh dengan alasan bahwa hal itu (menurut mereka) menunjukkan susunan dan bagian. Adapun Ahli Sunnah mengimani semua sifat Alloh tanpa ta’thil, tamtsil, dan takyif (lihat al-Inshaf kar al-Baqilani -seorang tokoh Asy’ariyyah-hlm. 22).

3.    Iman menurut Ahli Sunnah adalah pengakuan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan. Sedangkan menurut Asy’ariyyah sekadar pembenaran hati (lihat al-Inshaf kar. al-Baqilani hlm. 55).

4.    Ahli Sunnah mengatakan bahwa al-Qur’an adalah Kalamulloh dan bukan makhluk, sedangkan Asy’ariyyah mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sebuah makna yang dipahami Jibril dan terpisah dari Zat Alloh (lihat al-Inshaf kar. al-Bagilani hlm. 96-97).

Al-Imam Ibnu Khuwaiz Mindad -seorang imam madzhab Maliki- berkata: “Ahlul ahwa’ menurut Malik dan seluruh pengikutnya adalah ahlul kalam. Maka setiap ahli kalam adalah ahlul ahwa’ dan (ahlul) bida’, baik dia bermadzhabkan Asy’ariyyah atau bukan.” (Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlihi: 2/117)

Al-Imam Abul Abbas bin Juraij-seorang imam madzhab Syafi’i- berkata: “Kami tidak setuju dengan takwil Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Jahmiyyah, Mulhidah, Mujassimah, Musyabbihah, Karomiyyah, dan Mukayyifah.” (Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hlm. 62)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal membid’ahkan Ibnu Kullab yang merupakan pendiri sebenarnya madzhab Asy’ariyyah (lihat bahasan Madzhab Asy’ariyyah Ahlu Sunnahkah? dalam Majalah AL FURQON Th. Ke-5 Edisi 7 Rubrik Aqidah).

Kemudian mengidentikkan Ahli Sunnah dengan Maturidiyyah juga merupakan perkataan yang batil karena Maturidiyyah bertentangan dengan Ahli Sunnah dalam banyak hal seperti:

1.    Mashdar talaqqi Ahli Sunnah adalah al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’, dan qiyas, sedangkan mashdar talaqqi Maturidiyyah adalah akal.

2.    Maturidiyyah mengatakan adanya majaz di dalam lughoh, al-Qur’an, dan al-Hadits.

3.    Maturidiyyah mentakwil dan men-tafulidh sifat sifat Alloh.

4.    Maturidiyyah menolak berargumen dengan ha¬dits ahad di ttalam aqidah.

5.    Maturidiyyah mengimani sebagian sifat dan menolak sebagian sifat yang lainnya.

6.    Maturidiyvah mengatakan bahwa Kalamulloh adalah Kalam Nafsi tanpa huruf dan tanpa su¬ara.

7.    Maturidiyyah menolak bertambah dan berkurangnya keimanan. (Lihat al-Maturidiytlah Dirosah wa Taqwiman hlm. 514-517 dan Firoq Mu’ashiroh hlm. 1081-1093)

Ahli Sunnah tidaklah muncul sebagai reaksi atas paham Mu’tazilah Washil bin Atho’. Yang benar, nama “Ahli Sunnah” adalah nama yang tidak pernah lepas dari perjalanan sejarah umat Islam, sesuai dengan perintah yang tegas dari Rosululloh agar selalu berpegang teguh pada Sunnahnya dan agar selalu menjauhi segala kebid’ahan yang datang sesudahnya sebagaimana dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan waspadalah kalian terliadap perkara-perkara yang baru karna setiap perkara yang yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesa-an.” (Hadits Shohih Riwayat Ahmad dan Ashabus Sunan)

Menurut riwayat yang shohih istilah Ahli Sunnah muncul zaman sahabat sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Sirin seorang tabi’in yang wafat tahun 110 H:

“Dahulu mereka tidak menanyakan tentang sanad, ketika terjadi fitnah, maka mereka berkata: ‘Sebutkanlah Para perawi kalian kepada kaini.’ Maka dilihatlah kepada Ahli Sunnah dan diambil hadits mereka, dan dilihat para ahli bid’ah dan tidak diambil hadits mereka.” (Muqoddimah Shohih Muslim 1/34)

Yang dimaksud fitnah adalah terbunuhnya Kholifah Utsman bin Affan sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Sa’id al-Anshori dalam Shohih ai-Bukhori: 4/1475.

Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama Salaf rohimahumulloh, di antaranya:

1.    Hasan al-Bashri (wafat 110 H), beliau berkata: “Sesungguhnya Ahli Sunnah adalah yang paling sedikit dari manusia pada zaman yang telah lewat, dan mereka paling sedikit dari manusia pada zaman yang tersisa. Mereka adalah orang-orang yang tidak ikut-ikutan dengan orang-orang yang bermewah-mewahan dan tidak juga (ikut-ikutan) dengan ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka, dan mereka sabar di dalam menjalankan Sunnah hingga bertemu Robb mereka.” (Sunan ad-Darimi: 1/83)

2.    Ayyub as-Sikhtiyani (wafat 131 11), beliau berkata: “Apabila aku dikabari tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah oleh al-Lalika’i: 1/59-60)

3.    Imam Ahmad bin Hanbal      (164-241 H), beliau berkata dalam mugoddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzhab Ahlul Ilmi, Ashabul Atsar, dan AhIus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rosul dan para sahabatnya semenjak zaman para sahabat semoga Alloh meridhoi mereka semua- hingga pada masa sekarang ini….”

Dengan nukilan-nukilan di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa lafazh “Ahlus Sunnah” sudah dikenal sejak zaman sahabat. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang dipakai sebagai lawan Ahlul Bid’ah. Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang aqidah Ahlus Sunnah agar umat memahami aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan Ahlu Bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh imam Ahmad bin Han-bal, Imam al-Barbahari, Imam ath-Thohawi, serta yang lainnya.

Abdulloh bin Saba’ tokoh Fiktif?

Penulis berkata dalam hlm. 65:

Tidak sedikit pakar menilai bahwa pribadi Abdullah bin Saba’ sama sekali tidak pernah ada. la adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syi’ah. la (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan.

Kami katakan: Klaim yang mengatakan bahwa Abdulloh bin Saba’ adalah tokoh fiktif selalu diusung oleh orang Syi’ah zaman ini dan orang-orang orientalis agar mereka bisa diterima di tengah-tengah masyarakat. Dakwaan seperti ini bagaikan orang yang mengingkari cahaya matahari di siang hari yang ccrah. Marilah kita lihat pengakuan orang Syi’ah terdahulu terhadap keberadaan Abdulloh bin Saba’ sebagai bukti yang konkrit atas keberadaannya:

1.    An-Nasyi al-Akbar (meninggal 293 H) mencantumkan tentang Ibnu Saba’ dan golongan as-Saba’iyyah yang teksnya: “Dan suatu golongan yang mereka mendakwahkan bahwa Ali masih hidup dan tidak pemah mati, dan ia tidak akan mati sampai ia menghalau (mengumpulkan) orang Arab dengan tongkatnya, orang ini adalah as-Saba’iyyah, pengikut Abdulloh bin Saba’. Dan adalah Abdulloh bin Saba’ seorang laki-laki dari penduduk Sana, seorang Yahudi, telah masuk Islam Iewat tangan Ali, dan bermukim di al-Madain….” (Masa’ilul lmamah wa Mugfatlwfaf mini! Kitabil Ausath Fil Maqolat – tahqiq Yusuf Fan As, Beirut, 1971, hlm. 22, 23)

2.    Al-Qummi (301 H) menyebutkan: “Sesungguhnya Abdulloh bin Saba’ adalah orang yang pertama sekali menampakkan celaan atas Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta para sahabat, dan berlepas diri dari mereka. Dan ia mendakwakan sesungguhnya Ali-lah yang memerintahkannya akan hal itu. Dan sesungguhnya taqiyah tidak boleh. Lalu Ali diberitahukan, lantas Ali pun menanyakan kepadanya tentang hal itu maka ia mengakuinya. Dan Ali memerintah untuk membunuhnya, lalu orang-orang berteriak dari setiap penjuru: “Wahai Amirul Mukminin apakah anda akan membunuh seorang yang mengajak kepada mencintai kalian Ahli Bait, dan mengajak kepada setia kepadamu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu, maka biarkan dia pergi ke al-Madain.” (al Maqolat wal Firoq hlm. 20. Diedit dan dikomentari serta diberi kata pengantar oleh Dr. Muhammad Jawad Masykur, diterbitkan oleh Mu’assasah Mathbu’ati Athani, Teheran, 1963)

3.    An-Naubakhti (310 H) setuju dengan al-Qummi dalam memperkuat berita-berita tentang Abdulloh bin Saba’, lalu ia menyebutkan satu contoh, yaitu bahwasanya tatkala berita kematian Ali sampai kepada Abdulloh bin Saba’ di Madain, maka ia berkata kepada orang yang membawa berita itu: “Kamu telah berdusta. Kalau seandainya kamu datang kepada kami dengan otaknya sebanyak tujuh puluh kantong dan kamu mendatangkan tujuh puluh saksi atas kematiannya, maka sungguh kami telah mengetahui sesungguhnya dia belum mati, dan tidak terbunuh, dan tidak akan mati sampai ia memiliki bumi.” (Firoqus Syi’ah kar. Abu Muhammad al-Hasan bin Musa an-Naubakhti hlm. 23, ditashhih oleh H. Raiter, Istanbul, Perc. ad-Daulah, 1931)

Ini adalah sebagian kecil dari nash-nash yang dikandung oleh buku-buku Syi’ah dan riwayat¬riwayat mereka tentang Abdulloh bin Saba’. Boleh dikatakan bahwa nash-nash itu adalah dokumen-dokumen tertulis yang membantah orang-orang dari kalangan Syi’ah belakangan ini yang berusaha untuk mengingkari keberadaan Abdulloh bin Saba’ dan meragukan kabar beritanya.

Demikian juga para ulama jarh wa ta’dil sepakat menyebut biografi Abdulloh bin Saba’, seperti: Ibnu Hibban dalam al-Majruhin: 1/208 dan 2/253, adz-Dzahabi dalam al-Mughni Fi Dhu’afa: 1/399 dan Mizanul I’tidal: 2/426, dan Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan: 3/290.

Dengan demikian, dapatlah kita pastikan bahwa Abdulloh bin Saba’ bukanlah tokoh fiktif melainkan tokoh yang ada realitanya, dan terbukti ia memang ada. Hal itu telah disaksikan sendiri oleh buku-buku Syi’ah terdahulu yang menjadi pegangan mereka. Dan sesungguhnya orang yang berusaha mengaburkan dan mengingkari keberadaan Abdulloh bin Saba’ sama dengan orang yang mengingkari cahaya matahari pada siang hari yang terang benderang dan sama dengan orang yang mengingkari keberadaan Khomeini celaka yang telah meninggal. (Lihat Abdulloh bin Saba’ Haqiqoh Laa Khoyalah kar. Dr. Sa’di al-Hasyimi)

Penutup

Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan sebagai penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini. Sebetulnya masih banyak hal lainnya belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.

Dan kesimpulan yang bisa diambil, penulis dalam bukunya ini telah melontarkan celaan terhadap para sahabat Nabi, membuat kedustaan atas Imam Abu Hanifah, dan ‘kurang paham’ tentang hakikat Ahli Sunnah dan Syi’ah-padahal dia hendak mengkompromikan antara Sunnah dan Syi’ah serta banyak mengusung pemikiran-pemikiran Syi’ah. Semoga sedikit yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat buku ini dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalan-Nya yang lurus dan menjauhkan kita dari semua jalan-jalan kesesatan. Wallohu A’lam bishshowab, Aamiin.[]

Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 8 Tahun ke-8 1430 H