Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi (Tanya Jawab seputar Maulid Nabi) -Bagian 2/selesai-


Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi (Tanya Jawab seputar Maulid Nabi) -Bagian 2/selesai-

Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed –hafizhahullah

Ustadz-ustadz kami mengatakan bahwa memperingati Maulid Nabi merupakan bukti kecintaan terhadap Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam….

Cinta kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan juga cinta Kepada Allah Subhanahu Wata’ala dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti ajarannya) bukan dengan ibtida’(mengada-adakan kebid’ahan). Allah berfirman (yang artinya),

 

Katakanlah (Wahai Nabi): “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran : 31)

 

Demikian juga cinta kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dibuktikan dengan mendudukkan beliau kepada kedudukannya yang mulia sebagai panutan, ikutan, dan teladan yang kita jadikan contoh, bukan mengangkatnya secara berlebihan dan melampaui batas dengan memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada beliau. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya),

 

Jangan kalian puji aku berlebihan sebagaimana kaum Nashara memuji Isa bin Maryam. Hanya saja aku ini adalah hamba Allah, maka katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya“”(Hadits riwayat Bukhari) Lanjutkan membaca

Iklan

Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi (Tanya Jawab seputar Maulid Nabi) -Bagian 1-


Mereka Bertanya Tentang Maulid Nabi (Tanya Jawab seputar Maulid Nabi) -Bagian 1-

Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed –hafizhahullah

 Pada bulan Rabiul Awal ini, ada satu acara ritual tahunan yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu Maulid Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Kali ini kami coba sampaikan beberapa tanya jawab seputar acara ritual yang seakan-akan menjadi kewajiban untuk dilaksanakan setiap tahunnya ini. Mereka bertanya tentang masalah-masalah tersebut sebagai berikut :

 

 

Apa hukum peringatan Maulid Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam?

Peringatan Maulid adalah perkara bid’ah. Acara ini tidak pernah dikerjakan oleh shahabat radhiyallahu ‘anhum dan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkannya. Sedangkan dalam masalah syariat agama ini, kita tidak bisa membuat cara ibadah sendiri, atau menguranginya dan menambahnya dengan cara-cara ibadah yang baru.

 

Diriwayatkan oleh Aisyah, Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak pernah ada daripadanya, maka hal itu tertolak.” (Mutafaqun ‘Alaih)

 

Dalam riwayat yang lain Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak pernah ada perintah kami padanya, maka hal itu tertolak.” (Hadits Riwayat Bukhary Muslim) Lanjutkan membaca

Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Timbangan Islam


Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Timbangan Islam

Oleh: Wira Bachrun Al Bankawi

Bulan Rabiul Awwal telah tiba. Di bulan ini banyak dari kaum muslimin yang mengadakan acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau yang dikenal dengan acara Maulid Nabi. Bagaimana sebenarnya hukum perayaan ini? Apakah dibenarkan oleh Islam ataukah malah sebaliknya? Insya Allah tulisan ringkas ini akan menjelaskan pandangan syariat terhadap Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hakikat Perayaan Maulid

Perayaan Maulid tidak pernah dilakukan oleh generasi awal Islam. Al Imam Ash Shakhhawi mengatakan,

“Perayaan maulid tidak pernah dinukilkan dari salah seorang pun dari dari salafus shalih yang hidup di tiga generasi awal Islam, hanya saja perayaan ini dimunculkan setelah masa tersebut.”

Kalau bukan dari generasi awal Islam, lantas darimana perayaan ini berasal?

Asy Syaikh Abdullah At Tuwaijiri dalam kitab beliau Al Bid’ah Al Hauliyyah memaparkan bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan Maulid adalah Bani Ubaid Al Qadah yang menamakan diri mereka sebagai Fathimiyun. Mereka adalah pendiri sekte sesat Al Baathiniyah yang berkuasa di Mesir sejak tahun 362 H.

Pada saat itu Fathimiyun menetapkan sekurangnya ada 28 perayaan dalam setahun dan di antaranya adalah perayaan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ini menunjukkan kekeliruan banyak orang yang mengatakan bahwa orang pertama yang menyelenggarakan Maulid adalah Shalahuddin Al Ayubi, pahlawan perang salib. Lanjutkan membaca

Sikap Muslim Dalam Menghadapi Fitnah


Sikap Muslim Dalam Menghadapi Fitnah

Mukaddimah

 Berlindunglah Kepada Allah Ta’ala dari fitnah, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sering sekali berdoa meminta perlindungan dari Allah agar tidak terkena fitnah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan sudah memperingatkan umatnya akan timbulnya fitnah, sebagaimana dalam sebuah hadits shahih:
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ ». قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ « الْقَتْلُ »
Artinya: Zaman akan semakin dekat, dicabutnya ilmu, akan timbul fitnah-fitnah, dimasukkan (ke dalam hati) sifat kikir dan akan banyak al harj”, mereka (para shahabat) bertanya: “Apakah al harj, wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Pembunuhan”. HR. Bukhari dan Muslim.
Fitnah jika sudah datang maka akan datang bersamaan dengannya kerusakan sampai hari kiamat. Allah Ta’ala telah memperingatkan adanya fitnah, coba perhatikan firman-Nya:
{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]
Artinya: “Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. 8:25).
 
Makna fitnah adalah sesuatu yang genting, berubah-rubah, tidak ada stabilitas dan semisalnya, akibat dari penyimpangan terhadap ajaran islam.
 Kaidah-kaidah penting untuk seorang muslim dalam menghadapi fitnah: Lanjutkan membaca

Hukum bernyanyi atau berqasidah dan menabuh rebana di dalam Masjid


Hukum bernyanyi atau berqasidah dan menabuh rebana di dalam Masjid

Hukum bernyanyi atau berqasidah dan menabuh rebana di dalam Masjid

 Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang bernyanyi dan berjual beli di Masjid. ( HR. Tirmidzi dan Nasa’i )

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah pernah bersabda : “Siapapun mendengar seseorang bernyanyi-nyanyi tiada menentu di Masjid maka katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Masjid itu bukan tempat untuk bernyanyi.’ ( HR. Muslim dan Abu Dawud )

Catatan : Kedua hadits di atas dinukil dari buku Parasit Aqidah yang ditulis oleh A.D.EL. Marzdedeq. Penerbit Syaamil Bandung, Desember 2005, halaman. 325. (saya pribadi ‘pengampu blog’ sampai saat ini belum menemukan kedua hadits tersebut pada sumber buku aslinya)

Imam As Suyuthi Rahimahullah menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan yang tidak boleh ada di dalam masjid: Lanjutkan membaca

KUNCI KEBAHAGIAAN


KUNCI KEBAHAGIAAN

Bismillaah, walhamdulillaah, wash sholaatu wassalaamu alaa rosuulillaah, wa alaa aalihii wa shohbihii wa man waalaah…

Menindak lanjuti anjuran Syeikh Abdur Rozzaq –hafizhohulloh– dalam tabligh akbarnya -(di Masjid Istiqlal 1 Shofar 1431 / 17 Januari 2010)- untuk menyebarkan uraian Ibnul Qoyyim tentang kunci kebahagiaan, maka pada kesempatan ini, kami berusaha menerjemahkannya untuk para pembaca, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua…

SEBAB-SEBAB LAPANGNYA DADA

(1) Sebab utama lapangnya dada adalah: TAUHID.

Seperti apa kesempurnaan, kekuatan, dan bertambahnya tauhid seseorang, seperti itu pula kelapangan dadanya. Alloh ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: {أَفَمَن شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّنْ رَبِّه} [الزمر: 22].

Apakah orang yang dibukakan hatinya oleh Alloh untuk menerima Islam, yang oleh karenanya dia mendapat cahaya dari Tuhannya, (sama dengan orang yang hatinya membatu?!)

Alloh juga berfirman:

وقال تعالى: {فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلاَمِ، وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاءِ} [الأنعام: 125].

Barangsiapa dikehendaki Alloh mendapat hidayah, maka Dia akan membukakan hatinya untuk menerima Islam. Sedang barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, maka Dia akan jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Lanjutkan membaca

Nasihat Pembawa Bendera Jarh Wa Ta’dil Kepada Ikhwah Ahlus Sunnah..


Nasihat Pembawa Bendera Jarh Wa Ta’dil Kepada Ikhwah Ahlus Sunnah..

Oleh: Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali

 Pada hari-hari ini, kita melihat dakwah salafiyah mengalami kemunduran dan penyusutan. Itu tidak lain karena dakwah ini telah kehilangan sikap bijaksana yang dicontohkan oleh para ‘ulama, bahkan telah kehilangan sikap bijaksana yang dicontohkan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa Sallam sebelum kehilangan yang lain, yaitu kehilangan sikap santun, kasih sayang, akhlak, lemah lembut dan lunak yang diajarkan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa Sallam.

 

Suatu kali Aisyah Rodhiyallohu ‘anha pernah memaki seorang Yahudi, maka Nabi memberikan teguran:

 

“Wahai, Aisyah! Sesungguhnya Allah mencintai kelemah-lembutan dalam semua urusan.” (HR Muslim, 2165)

 

Hadits ini, bila hari ini ada orang ‘alim menyebutkannya untuk memberikan pengarahan kepada pemuda agar menempuh manhaj yang benar dalam berdakwah ilallah, tentu mereka akan berkata : “Ini adalah TAMYI’ (mengikuti arus sana-sini atau tidak tegas)”. Lanjutkan membaca