Organisasi, Mengapa Harus Diributkan ?


Organisasi, Mengapa Harus Diributkan ?

وشرعية الجمعيات أو المؤسسات أو الهيئات الخيرية، أمر لا يُنكره أحد، ما دامت هذه الجمعيات تعمل لنصرة الحق ودعمه وتأييده، بشرط أن يَسلم أهلها من التحزب المقيت، ومن فتنة المال، الأمر الذي يسيء للدعوة في كل مكان، وأما إذا كانت هذه الأعمال الخيرية شعاراً فقط، ومن ورائها مقالات مخالفة، ورمي لبعض العلماء بالإرجاء أو التجهم أو الجهل بواقع الأمة وجرّ المسلمين إلى الفتنة مع حكامهم، وتبدأ الفتنة بالتكفير، وتنتهي بالاغتيال والاستحلال والتفجير، أو اتخاذ بيعات تفرق صفوف المسلمين، فهذا ونحوه ليس من عمل الهيئات الخيرية، وليس لمثل ذلك مَدَّ المحسنون وأهل الخير أيديهم لهذه الجمعيات، والمسألة ليست مسألة شعارات، فإن رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم لما سمع من قال: يالَلْمهاجرين، وقال آخر: يالَلأنصار فقال:”أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم، دعوها فإنها منتنة” مع أن الغلامين رفعا شعار المهاجرين والأنصار، ولا شك في فضلهما، فليراجع امرؤ نفسه، وليتق الله ربه (يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ ) [الطارق:9].

 

“Dan disyari’atkannya perkumpulan-perkumpulan, yayasan-yayasan, atau organisasi-organisasi sosial merupakan perkara yang tidak seorang pun mengingkarinya selama perkumpulan-perkumpulan ini berusaha untuk membela, menolong, dan menguatkan kebenaran. Yaitu dengan syarat, anggotanya selamat dari sifat tahazzub yang tercela dan fitnah harta – suatu perkara yang menjelekkan dakwah di setiap tempat. Adapun jika amal-amal kebaikan ini hanya sekedar syi’ar semata, dan di balik itu terdapat perkataan-perkataan yang menyelisihi (kebenaran); menuduh sebagian ulama berpemahaman irjaa’, Jahmiyyah, atau bodoh terdapat realitas umat; menyeret kaum muslimin kepada fitnah terhadap penguasa mereka; memulai fitnah dengan takfir dan mengakhirinya dengan pembunuhan, penghalalan (darah), dan peledakan/pemboman; atau mengambil baiat-baiat yang mencerai-beraikan persatuan kaum muslimin; maka hal ini dan yang semisalnya bukanlah pekerjaan organisasi-organisasi sosial. Dan tidak selayaknya para muhsinin mengulurkan bantuannya kepada yayasan-yayasan semacam ini. Permasalahannya bukanlah sekedar permasalahan syi’ar semata, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar orang yang mengatakan : ‘Wahai orang-orang Muhaajiriin’, dan yang lain berkata : ‘Wahai orang-orang Anshaar’, beliau bersabda : ‘Apakah dengan seruan-seruan Jaahiliyyah (kalian menyeru), sedangkan aku masih ada di tengah kalian. Tinggalkanlah ia, karena busuk baunya’. Padahal dua orang anak tadi mengangkat syi’ar orang-orang Muhaajirin dan Anshaar yang tidak diragukan lagi tentang keutamaannya[1]. Hendaklah seseorang kembali melihat perkara dirinya sendiri, dan takut kepada Rabbnya : ‘Pada hari dinampakkan segala rahasia’ (QS. Ath-Thaariq : 9)”.
[selesai – dinukil oleh Abul-Jauzaa’ dari buku As-Siraajul-Wahhaaj karya Abul-Hasan Al-Ma’ribiy, yang telah mendapat rekomendasi dari Asy-Syaikh Ibnu Baaz, Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah Alusy-Syaikh, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin, Asy-Syaikh Ibnu Jibriin, Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy, Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy, dan Asy-Syaikh Usaamah Al-Quusiy].[2]
Penjelasan singkat di atas sangat jelas. Adapun sikap sebagian ikhwah yang menuduh orang yang tergabung dalam satu organisasi, yayasan, atau perkumpulan sebagai hizbiy karena fanatik dengan fatwa ulama tertentu, maka ini bukan sikap bijaksana. Organisasi, yayasan, atau perkumpulan dilarang oleh syari’at bukanlah karena semata-mata dzatnya, akan tetapi muqayyad terhadap sifat-sifat yang ada di dalamnya. Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

 


[1]      Lantas bagaimana dengan orang-orang yang mengangkat syi’ar-syi’ar fanatisme golongan yang tentu saja tidak akan menyamai keutamaan Muhaajiriin dan Anshaar (apalagi melebihinya) ?.– Abul-Jauzaa’
[2]      Adapun kritikan bahwa rekomendasi yang ditampilkan di muqaddimah kitab As-Siraajul-Wahhaaj adalah tidak benar, maka inilah yang tidak benar. Asy-Syaikh Abul-Hasan menulis satu risalah tersendiri yang berjudul :
قطع اللجاج بالرد على من طعن في السراج الوهاج

Silakan diunduh di : http://sulaymani.net/fails/rdood/lgag.doc.

Sumber : Blog Abul Jauzaa`

Iklan

HARUSKAH MEMBENCI IBNU TAIMIYYAH?? (Padahal Ibnu Hajar Al-Asqolaani dan para ulama syafi’iyah terkmuka lainnya telah memuji Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit)


HARUSKAH MEMBENCI IBNU TAIMIYYAH?? (Padahal Ibnu Hajar Al-Asqolaani dan para ulama syafi’iyah terkmuka lainnya telah memuji Ibnu Taimiyyah dengan pujian setinggi langit)

Terlalu banyak tuduhan-tuduhan dusta ditujukan kepada Ibnu Taimiyyah untuk memudarkan cahaya kebaikan beliau rahimahullah. Kedustaan-kedustaan ini sebagian besarnya telah dibantah dalam sebuah disertasi untuk meraih gelar doktoral yang berjudul دَعَاوَى الْمُنَاوِئِيْنَ لِشَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ (Tuduhan-Tuduhan Musuh-Musuh Ibnu Taimiyyah) yang ditulis oleh As-Syaikh Abdullah bin Sholeh bin Abdul Aziiz al-Gushn. (silahkan di download di http://waqfeya.net/book.php?bid=1876). Bahkan yang lebih sadis dari sekedar-sekedar tuduhan dusta, ternyata ada sebagian orang yang menggabungkan antara tuduhan dusta dan sekaligus mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abu Salafy yang telah menuduh Ibnu Taimiyyah dengan tuduhan palsu sekaligus menuduh Ibnu Taimiyyah sebagai gembong kaum munafik (lihat kembali http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/117-tipu-muslihat-abu-salafy-cs-3-qtuduhan-ustadz-abu-salafy-bahwasanya-ibnu-taimiyyah-mencela-ali-dan-umarq). Disinyalir Abu Salafy dialah si Idahram yang juga tukang dusta. Ternyata gaya-gaya Abu Salafy ini hanyalah mengikuti gurunya Habib Hasan Saqqoof yang juga telah menuduh dengan tuduhan-tuduhan dusta serta mengkafirkan Ibnu Taimiyyah. Hal ini telah ditegaskan oleh Habib Wahabi Alawi bin Abdil Qodir As-Saqoof, beliau berkata : “Dahulu saya pernah membaca beberapa buku karya Hassaan bin Ali As-Saqqoof, akan tetapi seingatku saya tidak pernah selesai membaca satu bukupun dari buku-buku tersebut karena saya terasa muak dan merinding tatkala melihat celaan, ejekan, hinaan, dan makiannya terhadap para imam Ahlus Sunnah. Kemudian terakhir-terakhir ini tatkala saya mendengar suatu tayangan di channel Mustaqillah dimana dia telah mengkafirkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka sayapun turut berpartisipasi untuk membantahnya…” (‘Abats Ahil Ahwaa’ bi Turoots al-Ummah hal 5-6, silahkan download di http://waqfeya.net/book.php?bid=5414) Lanjutkan membaca