Untuknya Kukirim Al-Fatihah..!!!


Untuknya Kukirim Al-Fatihah..!!!

Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Pada suatu acara, seorang tokoh dengan serius mengatakan: “Sebelum acara ini kita mulai, marilah kita membukanya dengan bacaan al-Fatihah..” Serempak, para hadirin pun tunduk dan khusyuk membacanya bersama-sama.

Di penghujung acara, seorang tokoh diminta menutup acara dengan doa, maka dia pun menghadiahkan doanya untuk para wali yang telah meninggal dunia, lalu mengatakan:

“Al-Fatihah ala hadhroti syaikhina wa waliyyina..”

Kasus-kasus serupa mungkin sering kita jumpai dimasyarakat. Namun, pernahkah kita berfikir bahwa semua itu adalah tata cara beragama yang tidak ada contohnya dan diingkari oleh para ulama?! Marilah kita kaji bersama masalah ini dengan lapang dada.

Teks Hadits

الْفَا تِحَةُ لِمَا قُرِ ئَتْ لَهُ

Al-Faatihatu limaa quriat lahu

“Al-Fatihah itu sesuai untuk apa yang dibaca.”

TIDAK ADA ASALNYA. Yakni dengan lafadz ini, demikian juga kebanyakan keutamaan-keutamaan surat yang disebutkan oleh sebagian ahli tafsir. Demikian dikatakan oleh Syaikh Ali al-Qori. [1]

Jadi hadits dengan lafadz ini tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits. Cukuplah bagi kita keutamaan-keutamaan surat al-Fatihah yang shohih [2] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah sabda beliau:

“Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca induk al-Qur’an (al-Fatihah). Lanjutkan membaca

Iklan