Biografi Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr


Biografi Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr

Beliau adalah Al-Allamah al-Muhaddits al-Faqih az-Zahid al-Wara’ asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad bin ‘Utsman al-‘Abbad Alu Badr –semoga Allah memelihara beliau dan memperpanjang usia beliau dalam ketaatan kepada-Nya dan memberkahi amal dan lisan beliau-, dan kami tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah Azza wa Jalla. Alu Badr merupakan keturunan Alu Jalas dari Kabilah ‘Utrah salah satu kabilah al-‘Adnaniyah. Kakek tingkatan kedua beliau adalah ‘Abdullah yang memiliki laqob (gelar) ‘Abbad, yang kemudian akhirnya keturunan beliau dikenal dengan intisab kepada laqob ini, diantaranya adalah Syaikh ‘Abdul Muhsin sendiri. Ibu beliau adalah putri dari Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Badr.

Kelahiran Beliau

Beliau lahir setelah sholat Isya’ pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 1353H di ‘Zulfa’ (300 km dari utara Riyadh). Beliau tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh masyaikh Zulfa.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Ketika dibangun Madrasah Ibtida’iyah pertama kali di Zulfa pada tahun 1368, Syaikh masuk ke madrasah ini pada tahun ketiga dan memperoleh ijazah Ibtida’iyah pada tahun 1371 H. Kemudian Syaikh pindah ke Riyadh dan masuk ke Ma’had al-‘Ilmi Riyadh, salah satu tempat belajar Imam Ibnu Bazz rahimahullahu sebelumnya. Setelah lulus, syaikh melanjutkan studinya di Kuliah Syari’ah di Riyadh. Menjelang tahun akhir studi beliau di Kuliah, beliau mengajar di Ma’had Buraidah al-‘Ilmi, ketika akan ujian akhir kuliah, beliau kembali ke Riyadh dan menyelesaikan ujian beliau. Lanjutkan membaca

Iklan

Fatwa Syaikh Al ‘Allamah Abdul Muhsin Al ‘Abbad ttg Jihad di Dammaj


Fatwa Syaikh Al ‘Allamah Abdul Muhsin Al ‘Abbad ttg Jihad di Dammaj

Berikut ini adalah teks pertanyaan akhuna Abdurrahman Al Umaysan (thalib asal Yaman yg studi di Jami’ah Islamiyyah) thd Syaikhuna Al Abbad:

قد سألت شيخنا العلامة عبدالمحسن العباد البدر – حفظه الله – ظهر يوم الثلاثاء الموافق 4 من شهر الله المحرم هـ1433 في مسجده عن الجهاد في دماج وماذا تنصحوننا أن نفعل وكذلك أهل اليمن – إذ إن شيخنا متتبع لأخبارهم منذ فرض عليهم الحصار

Saya bertanya kepada syaikhuna Al ‘Allamah Abdul Muhsin Al ‘Abbad -hafizhahullah- pada hari Selasa siang, tggl 4/1/1433 H di mesjid beliau; tentang jihad di Dammaj dan apa yang antum nasehatkan supaya kami dan warga Yaman lakukan, mengingat engkau -wahai Syaikh- selalu mengikuti berita mereka sejak pengepungan dimulai?

فأجاب شيخنا متألما: لا شك أن ما يحصل في دماج من قتال هو جهاد في سبيل الله فمن استطاع من أهل اليمن أن يقاتلهم فليفعل لكن لابد من استئذان الأبوين وأنا أقول مناوشة الرافضة من جوانب متعددة هو الأولى، لأن الوصول لدماج والقتال معهم صعب لأنهم محاصرون من كل جانب

Maka Syaikh menjawab dengan nada sedih: Tidak diragukan bahwa perang yang terjadi di Dammaj adalah JIHAD FI SABILILLAH. Siapa pun dari warga Yaman yang bisa memerangi mereka, hendaklah turut serta, namun harus minta izin terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya. Menurutku, menyerang kaum rafidhah dari banyak sisi lebih diutamakan, mengingat sulitnya untuk masuk ke Dammaj dan sulitnya berperang bersama mereka  (ikhwan kita -pent), karena mereka dikepung dari seluruh penjuru.

ختم الشيخ بقوله:  الله يدمر الرافضة الله يدمرهم

Syaikh lantas menutup jawabannya dengan mengatakan: Semoga Allah menghancurkan kaum Rafidhah… semoga Allah menghancurkan mereka !

—————————————–

Keterangan:

Jawaban Syaikh di atas menunjukkan bahwa jihad bagi selain warga Dammaj sifatnya fardhu kifayah dan statusnya sebagai jihad thalabi (offensif), karenanya beliau mensyaratkan harus izin orang tua terlebih dahulu, dan mensyaratkan bagi ‘yg mampu melakukannya’. Adapun izin pemerintah/waliyyul amri maka tidak perlu dipertanyakan sebab pemerintah Yaman sendiri telah berulang kali terlibat perang dengan kaum Syi’ah Hutsiyiin selama tujuh tahun belakangan… sehingga izin mereka secara implisit (dhimni) telah terwujud sejak dahulu.

sumber : http://basweidan.wordpress.com/2011/12/01/fatwa-syaikh-al-allamah-abdul-muhsin-al-abbad-ttg-jihad-di-dammaj/

Ketentuan Dasar Dakwah Salafiyah[1]


Ketentuan Dasar Dakwah Salafiyah[1]

(Oleh: Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr)

 

Setelah menyampaikan pujian kepada Allâh Ta’ala, bershalawat atas Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan khutbatul-hajah, kemudian Fadhilatusy-Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr menyampaikan muhadharahnya.

Wahai saudara-saudaraku yang hadir dari dalam dan luar negeri demi menyambut kedatangan ikhwan kalian dari negeri yang jauh. Segala puji bagi Allâh Ta’ala yang telah mengumpulkan kita semua diatas ketaatan kepada Allâh Ta’ala dan manhaj salaf yang benar.

Wahai ikhwah ……
Sesungguhnya dakwah salafiyah telah mengakar kokoh dalam sejarah. Dia bukanlah dakwah yang baru lahir kemarin. Akan tetapi telah ada sejak zaman Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, bahkan sejak zaman para nabi sebelumnya. Oleh karena itu, ushul dan kaidah dakwah salafiyah tidak diambil dari akal dan ijtihad serta istihsan (anggapan baik) manusia, akan tetapi diambil dari sumbernya yang suci yaitu al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful umat ini. Lanjutkan membaca

Mengapa Musibah Terus Mendera ?[*]


Mengapa Musibah Terus Mendera ?

(Mabhats: Majalah As-Sunnah Edisi 01/XI)

Sesungguhnya kami memuji Allâh Tabaraka wa Ta’ala atas apa yang telah Dia siapkan, berupa kesempatan yang baik ini. Yaitu, kami berkumpul di dalam kesempatan ini dengan ikhwan kami seagama dan dalam satu manhaj (jalan); mengikuti Kitabullah, dan Sunnah Rasulullah, serta pemahaman para Salaf yang shalih. Walaupun kita berada dalam batas geografi yang berbeda, dan tempat yang saling berjauhan, namun kemuliaan manhaj ini, kesempurnaan dan kebaikannya, tidaklah memecah-belah antar kita. Maka, jadilah pertemuan ini dalam bagian sejumlah perjumpaan yang telah mengumpulkan kami bersama saudara-saudara kami di negara ini, sejak beberapa tahun yang lalu, lewat ceramah-ceramah dan kajian-kajian ilmiah bersama.

Kami bersyukur kepada Allâh Rabbil ‘Alamin atas nikmat ini. Betapa berharganya kenikmatan ini. Rasa terima kasih juga kami haturkan kepada orang-orang yang memiliki jasa (andil) yang diberkahi dalam mengatur dan menyiapkan pertemuan-pertemuan ini. Khususnya, saudara-saudara (panitia) atau Ta’mir Masjid Istiqlal yang telah memberikan kesempatan ini. Dan ini termasuk dalam bingkai saling menolong yang terpuji secara syar’i. Lanjutkan membaca