Pijakan asya`iroh dalam menentukan dan membatasi Sifat Allah (bagian 2)


Pijakan asya`iroh dalam  menentukan dan membatasi Sifat Allah (bagian 2)

Oleh Ustadz Abu Nu`am al-Atsari

Aggapan Bahwa Dzahir Nash-Nash sifat Berkonsekuensi Tasybih(penyerupaan)sehingga harus di ta`wil.

 Ini adalah landasan mereka pula dalam menentukan dan membatasi sifat Allah. Maka kita dapati Ibnu Furok menta`wil seluruh nash-nash sifat dalam kitabnya : Musykilul Hadist. Dia membuat bab : “penyebutan khobar yang harus di ta`wil dan yang dzohirnya berkonsekuensi Tasbih”. Oleh karena itu Asy`iroh menta`wil seluruh nash yang menurut anggapan mereka berkonsekuensi tasybih. Sehingga di antara mereka bersyair dan sekaligus menjadi pijakan mereka : setiap nash yang berkonsekuensi tasybih ta`willah dia dan serahkan maknanya kepada Allah, dan carilah penyucian(bagi Allah subhanahu wa ta`ala).

Al-Baijuri menjelaskan makna syair di atas :

“yang dimaksud nash di sini adalah lawan dari kias(analogi),istimbath dan ijma`. Yaitu dalil dari kitab atau sunnah baik secara shorih (gamblang) atau dzohir” (Tuhfatul Muriidi `Ala Jauhari At-Tauhid hal. 56).

Berdasarkan kaidah ini as-sanusi(salah satu tokoh Asy`airoh)membuat hukum analogi yang diterapkan pada setiap orang yang menyakini dzohir nash, katanya :” adapun orang yang menyangka bahwa jalan mula mengetahui kebenaran adalah Al-Quran dan sunnah dan mengharomkan selain keduanya, maka di bantah bahwa ke-hujjah-an keduanya tidak diketahui kecuali harus melalui penelitian akal, dan didapati pada keduanya(Al-Quran dan sunnah)dzohir nash yang diyakini oleh orang yang menyakininya merupakan kekufuran dan kebid`ahan menurut sekelompok orang.(syarh Aqidah Ahli tauhid. Hal. 502). Katanya pula : “ pokok kekufuran itu ada enam, yang keenam : berpegang kepada dzohir al-kitab dan sunnah dalam masalah aqidah tanpa disertai bukti-bukti akal dan dalil syar`i yang qoth`i, disebabkan jahilnya terhadap dalil-dalil akal dan tanpa dikatkan dengan gaya bahaya Arab. Berpegang dengan Al-Quran dan sunnah dalam masalah aqidah tanpa diiringi bukti-bukti akal merupakan pokok kesesatan Hasyawiyyah, yang mana mereka  berpendapat adanya tasybih, tajsin(Allah itu memiliki Badan)dan jihah(Allah berada di suatu tempat)dengan alasan mengamalkan dzohir firman Allah : “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Dan ayat lainnya.(Hasyiah Ad-Dasuki `ala Ummil Barahini, ad-Dasuki, hal. 219).

 

 

Bantahan :

 

Inti perkataan Asya`iroh adalah : Allah mensifati diri-Nya didalam Quran dengan sifat yang apabila ditetapkan sesuai dzohirnta akan berkonsekuensi tasybih (serupa dengan makhluk),dan penyifatan yang tidak layak bagi-Nya. Demikian pula Rosulullah shallallahu alaihi wasallam mensifati Robb-Nya dengan sifat-sifat yang dzohirnya tasybih. Sedang Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak mwnjelaskan maksud dan sifat-sifat tadi. Tidak ragu lagi bahwa perkataan ini merupakan celaan terhadap Al-Quran, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tugas kenabiannya.

Syaikhul Islam berkata : jika orang yang berkata demikian(seperti perkataan Asy`iroh)meyakini bahwa dzohir nash merupakan sifat makhluk atau serupa dengan ciri khas mereka maka tidak diragukan bahwa hal ini bukan yang dimaksudkam. Para salaf dan para imam kaum muslimin pun tidak menamakan hal itu sebagai dzohir nash, dan mereka tidak setuju apabila dzohir Al-Quran dan hadist itu berupa berupa suatu kekufuran dan kebatilan. Allah Azza wa jalla tersucikan dari pensifatan diri-Nya dengan suatu kekufuran dan kebatilan. Orang yang berkata bahwa dzohir nash konsekuensi  tasybih, terjatuh kedalam kesalahan dilihat dari dua sisi : pertama ; mereka membuat makna yang rusak lalu diposisikan sebagai dzohir lafadz, sehingga mengharuskan mengta`wilan yang justru menyelisihi dzohirnya. Padahal perkaranya tidak demikian. Kedua : menolak makna yang benar, padahal itulah dzohir lafadz yang sesungguhnya, dengan alasan bahwa hal itu batil.(Risalah Tadmuriyyah hal. 47).

Al-Allamah As-Syanqithi berkata : ketahuilah, pertama : bahwanya tidak terhitung manusia yang tersalah dalam masalah ini, terutama darinkalangan orang-orang belakangan, di mana mereka menyangka bahwa makna yang segera terfahami akal, semisal makna istiwa dan tangan yang termaktub dalam Al-Quran adalah menyerupai sifat makhluk. Mereka berkata :” ksrenanya kita wajib menta`wil dari dzohirnya berdasarkan ijma` sebab memaknai nash tadi menurut dzohir adalah kekufuran, lantaran siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk adalah kafir. “ orang yang memiliki akal sedikit ilmu pun mengetahui bahwa hakikat perkataan ini yaitu bahwa Allah telah mensifati diri-Nya dalam kitabnya dengan sesuatu yang segera terfahami di pikiran merupakan kekufuran kepada Allah dan perkataan yang tidak layak bagi-Nya. Tidak samar lagi bahwa perkataan ini merupakan kesesatan yang terbesar dan rekayasa kedustaan terbesar terhadap Allah dan Rosul-Nya. Pendapat yang benar-benar –yang tidak diragukan lagi walau bagi orang yang memiliki ilmu- adalah setiap sifat Allah yang ditetapkan oleh Rosul bagi-Nya sama sekali tidaklah serupa dengan sifat-sifat makhluk. Penyandaran sifat kepada Allah berbeda sama sekali dengan penyandaran sifat kepada makhluknya.(Adwa`ul bayan hal.319).

 

Syaikh Al-Allamah Ibnu Utsaimin berkata : bagian kedua “orang yang memahami dzohir nash sifat dengan pengertian yang batil, yang tidak layak bagi Allah yaitu tasybih, dan menetapkan  inilah yang menjadi indikasi  nash-nash itu. Mereka adalah kelompok musyabihah. Madzhab mereka batil dan harom di lihat dari beberapa segi :

 

Pertama : pemahaman mereka merupakan kejahatan terhadap nash sifat dan penolakan terhadap yang dimaksudkan. Bagaimana mungkin yang dimaksudkan berupa tasybih, padahal Allah berfirman : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.

Kedua   :  akal menunjukkan adanya perbedaan dzat dan sifat antara kholiq dengan makhluk. Lalu bagaimans bisa dikatakan bahwa nash-nash sifat menunjukkan adanya keserupaan antara Kholiq dan makhluk?

Ketiga   :  kesamaan nama dan sifat tidak mengharuskan sama persis pada yang dinamai dan yang disifati. Selain itu kalian juga tidak konsisten dengan kaidah kalian sendiri. Kalian menetapkan sifat ilmu,qudrah, irodah,kalam,bashar,sam`, hayyat bagi Allah. Menurut kaidah kalian sifat-sifat ini juga berkonsekuensi tasybih karena makhlik juga memiliki sifat tersebut.

Keempat  :pemahaman mereka masih tersebut menyelisihi faham salaf, otomatis batil.

 

Kemudian jika mereka masih penasaran dan berkata : kami tidak dapat memahami maksud turunnya Allah dan tangan Allah, kecuali harus dimisalkan dengan sifat makhluk. Sebab Allah tidak berbicara kepada kita kecuali harus dimisalkan dengan sifat makhluk. Sebab Allah tidak berbicara kepada kita kecuali dengan sesuatu yang kita mengerti dan fahami. Maka kita jawab :

  1. Yang berbicara kepada kita dengan nash-nash itu adalah Allah. Dia juga yang berkata tentang Diri-Nya.

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia juga melarang hamba-Nya nenyerupakan-Nya dengan sesuatupun, firman-Nya :

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.(Qs. An-Nahl : 74), karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Padahak kamu mengetahui.(Qs. Al-Baqoroh : 22).

Kalam Allah adalah benar dan saling membenarkan.

  1. Katakan kepadanya :  bukankah kamu mengerti bahwa Allah mempunyai dzatdan dzat-Nya berbeda dengan zat makhluk. Dia akan menjawab : tentu. Maka kita katakan : seharusnya kamu juga mengerti bahwa sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk, karena pembicaraan sifat Allah Subhanahu wata`ala sama saja membicarakan  tentang dzat-Nya. Siapa yang membedakan keduanya, maka dia telah kontrakdiksi.
  2. Katakan kepadanya : bukankah kamu melihat bahwa hewan-hewan itu mempunyai sifat yang namanya sama namun berbeda hakikat dan bentuknya?jawabnya : tentu. Kita katakan : jika kamu telah memahami perbedaan sifat-sifat makhluk, mengapa kamu tidak bisa memahami perbedaan antara sifat kholiq dan makhluk? Padahal perbedaan sifat kholiq dan makhluk itu sangat jelas dan nyata. Bahkan menyamakan kholiq dan makhluk adalah mustahil, seperti telah diterangkan pada kaidah keenam tentang kaidah sifat.(Al-Qowa`idul Mutsla, hal. 46-47, majmu fatawa bab Taqrib Tadamuriyyah hal.124-125,pen).

 

Ala kulli hal, pendapat mereka itu mengandung konsekuensi yang sangat berbahaya, yaitu :

  1. Celaan terhadap nash-nash Al-Quran dan hadist.karena mereka beranggapan bahwa keduanya mengandung nash-nash yang tidak boleh diyakini(atau ditafsirkan)menurut dzohirnya. Sebab akan berakibat serupa dengan makhluk.
  2. Anggapan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menyembunyikan kebenaran dan berbicara tentang sifat Allah dengan sesuatu yang tidak layak.
  3. Tuduhan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bahwa beliau tidak menyampaikan dakwah secara benar dan gamblang. Beliau menunda untuk menerangkan apa yang seharusnya disampaikannya, padahal itu sangat dibutuhkan, terutama yang berkaitan dengan masalah aqidah. Padahal dikatakan kepada beliau : Dan kami turunkan kepada Al-Quran. Agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.(Qs. An-Nahl : 44).
  4. Celaan terhadap tugas Al-Quran, dimana Al-Quran adalah penjelas segala sesuatu.(Qs. Nahl : 89).
  5. Tuduhan bahwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  dan khulafa` Rosyidin, para sahabatnya dan para salaf lalai dalam menerangkan sifat-sifat Allah. Mungkin karena kejahilan mereka dan tidak mengetahuinya, atau karena kelalaian. Kedua perkara ini batil.( Al-Qowa`idul Mutsla, hal.44).

Selesai.

diposkan dan disebarluaskan oleh : Maktabah Online Abu Namira