Pijakan Asya`iroh dalam Menentukan dan Membatasi Sifat Allah (bagian 1)


Oleh Ustadz Abu Nu`am al-Atsari

Pijakan Asya`iroh dalam menetapkan pembatasan asma dan sifat Allah beserta bantahannya.

  1. Asya` iroh mendahulukan akal daripada Naql, jika terjadi Ta`arudh(pertentangan).

Al-  Fakhrurrozi,muhammad bin Umar bin Al-Husain bin Ali Al-Quraisyi(wafat 606 H) tokoh depan faham Asya`iroh, ahli kalam, dan salah satu tokoh ahli fiqh mahdzhab syafi`iyyah yang terkenal, berkata : ….Fasal ketiga puluh dua: jika bukti-bukti akal bertentangan dengan dzohir naql(Al-Quran dan hadist)bagaimana solusinya?ketahuilah!bila dilalah(indikasi)akal yang qoth`i(absolut)telah menetapkan sesuatu hal, kemudian di dapati dalil-dalil naql yang nampaknya bertentangan dengannya, maka tidak terlepas dari satu di antara empat keadaan.

Pertama : membenarkan keduanya, berarti menetapkan dua hal yang berlawanan, ini mustahil. Kedua : menolak keduanya, ini juga mustahil. Ketiga : membenarkan dzohir naqil dan menolak dzohir akal, ini batil, karena kita tidak bisa mengerti kebenaran dzohir naql melainkan harus menggunakan akal, di dalam menetapkan adanya pencipta, sifat-Nya, pembuktian bahwa mu`jizat itu meruakan tanda kebenaran Rosulullah shallallahu alaihi wasallam dan munculnya mu`jizat pada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Keempat : Kalau celaan terhadap indikasi akal yang absolut diperbolehkan maka akal menjadi teragukan dan akhirnya tertolak. Akibatnya dalam penetapan masalah pokok ini (aqidah) akal tidak terpakai. Jika demikian otomatis indikasi naql juga tidak bermanfaat. Jelas kiranya bahwa celaan terhadap akal karena ingin membenarkan naql berakibat celaan terhadap keduanya, dan ini batil. Jika empat keadaan ini batil, maka tidak tersisa kecuali harus membenarkan indikasi akal yang qoth`i(absolut). Adapun indikasi naql bisa dikatakan : mungkin shohih mungkin juga tidak(tidak shohih) mungkin yang di maksud adalah bukan dzohirnya.(tektual).(Asasut Taqdis hal. 168). Lanjutkan membaca

Iklan