Download [Syarah Riyadhusholihin] Bab Larangan Meminta Jabatan oleh Ustadz Zezen Zainal Mursalin,Lc. Hafidzahullah


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu:

يَا عَبْدَ الرَحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلِ اْلإِمَارَةَ. فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أَعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أَعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا.

 (متفق عليه)

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena kepemimpinanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong)”. (HR. Bukhari Muslim)

Masih berkaitan dengan pemasalahan di atas, juga didapatkan riwayat dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “ Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku seraya bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَى الَّذِيْ عَلَيْهِ فِيْهَ.

 (رواه مسلم)

“Ya Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut”. (HR. Muslim).

lebih jelasnya silahkan download audionya, dengan Judul Kajian [Syarah Riyadhusholihin] Bab Larangan Meminta Jabatan Pemateri Ustadz Zezen Zainal Mursalin,Lc.  Hafidzahullah (Mudir Ma’had Mu’adz Bin Jabal Kendari).

Download   (Kajian [Syarah Riyadhusholihin] Bab Larangan Meminta Jabatan)

sumber : Disini

Iklan

Tauhid Dulu atau Daulah Islamiyyah?


Kebingungan tengah melanda umat manusia, tidak tua tidak muda semua pusing memikirkan nasib mereka yang tak kunjung membaik dari dahulu. Mereka mengidamkan sosok pemimpin yang “ideal”, yang karena itu mereka mengadopsi sebuah metode falsafah barat, demokrasi namanya, yang bukan hanya dianut oleh Amerika saja yang notabene sebagai negara demokrasi, namun Indonesiapun menganutnya. Benarkah demokrasi atau sistem pilkada atau yang sejenisnya sebagai satu-satunya solusi tepat memilih pemimpin ideal? Simaklah pembahasan yang satu ini!

Tak ada partai politik yang tak berambisi merebut kursi kepemimpinan. Masing-masing parpol memiliki visi dan misi tersendiri. Dan semua lapisan masyarakat sepakat dengan kesepakatan yang memang telah disepakati bersama untuk mengangkat seorang pemimpin, yakni dengan sistem coblosan. Tidak dipungkiri niat baik mereka; memilih pemimpin yang mampu membangun bangsa dan negara menuju masa depan yang lebih cerah setelah sekian lamanya tenggelam ditelan gelombang kehidupan. Namun, apakah hasilnya sebagaimana yang diniatkan? Faktanya menyedihkan sekali, ibarat jauh panggang dari api. Lanjutkan membaca

At-Tashfiyah wat Tarbiyah


Ditanyakan kepada Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali –hafizhahullah:
Bagaimana sikap kita dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan kepada as-Salafiyyun, bahwa as-Salafiyun tidak peduli dengan masalah Iqamatud-Daulah atau al Khilafah al Islamiyah (mendirikan atau membangun Negara dan Kekuasaan Islam)?

Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali -hafizhahullah- menjawab:

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man walah,
Sebagaimana yang tadi telah disebutkan oleh Syaikh Ali -hafizhahullah- bahwa syubhat-syubhat itu sangat banyak.1 Sehingga menjawabnya pun membutuhkan waktu yang panjang. Oleh karena itu beliau meringkasnya. Dan apa yang telah beliau sampaikan sebenarnya sudah cukup.
Namun, tatkala permasalahan yang ditanyakan berkaitan dengan masalah kenegaraan dan pemerintahan, maka permasalahan ini merupakan permasalahan paling besar, dan merupakan sebab terbesar yang telah membangkitkan dan mengobarkan para pemuda untuk sangat mudah melakukan takfir (pengkafiran) dan pemberontakan atau demo-demo, dan bahkan terorisme berbuat anarkhis. Sebagian permasalahan ini telah dijelaskan oleh Syaikh Ali -hafizhahullah- dan saya akan menjelaskan dari sisi lain, yang kaitannya lebih erat dengan permasalahan politik atau kenegaraan secara ringkas pula, Insya Allah. Lanjutkan membaca

Download AUDIO Kaidah Penting Seputar Takfir (Ust Muh Wasithoh Lc) (6 Kajian)


Fitnah takfir (Bermudah-mudahan dalam mengafirkan)sesama muslim merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai oleh semua pihak. Karena, cepat atau lambat ia akan menghancurkan  masyarakat muslim, dari lingkup yang paling kecil (keluarga), hingga yang paling besar (Negara). Tak heran, bila terkadang kita dikejutkan oleh sebuah fenomena; ada seorang anak yang mengafirkan ayah dan ibunya. Mengafirkan adik, kakak dan saudara-saudaranya. Bahkan mengafirkan pemerintah dan masyarakatnya. Tak berhenti sampai di situ. Ternyata sikap bermudah-mudahan dalam mengafirkan sesama muslim itu berujung pada keyakinan halalnya darah-darah mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Mukhtashar Ash Shawa’iq Al Mursalah, hlm. 421: “Takfir adalah hukum agama. Orang kafir adalah orang yang dikafirkan oleh Allah dan RasulNya.”

Imam Al Qurthubi rahimahullah berkata dalam Al Mufhim Fi Syarh Shahih Muslim (3/111): “Masalah takfir (pengkafiran) adalah masalah yaang sangat berbahaya. Banyak orang yang melibatkan dirinya dalam masalah ini, dan (akhirnya) mereka terjatuh. Sementara tokoh-tokoh besar saling menahan diri, sehingga selamat… Kita tidak menyamakan (nilai) keselamatan dengan sesuatupun.”

Syaikh Ali hafidzahullah “Sesungguhnya tahdzir (peringatan) yang keras terhadap fitnah takfir yang berlebihan sudah menjadi konsekwensi dan menjadi keharusan yang pasti, tatkala orang yang tidak berkompeten berbicara tentangnya, dan orang yang bukan ahlinya telah memasukinya.”

Silahkan simak lebih lengkap dalakm kajian berikut, semoga bermanfaat

01 Memahami  Makna Takfir

02 Jenis dan Keadaan Orang Kafir

03 Kaidah Penting Dalam Takfir

04 Kapan Seorang Muslim Dikafirkan

05 Akibat Ghuluw Dalam Takfir

06 Sebab Kesalahan Takfir

sumber : Disini