Tashfiyah dan Tarbiyah Jalan Menuju Kejayaan Umat (Seri-3)


Bagaimana Dengan Zaman Ini?

Orang yang memperhatikan perjalanan para ulama ahlus sunnah di masa yang lalu dan sekarang akan mendapati bahwa para ulama ahlus sunnah menempuh jalan yang satu dalam berdakwah, di atas ilmu dan bashirah (hujjah/argumentasi yang nyata), seperti dijelaskan Allah,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah Subhanahu wa Ta’aladengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Dakwah mereka mencakup ilmu, belajar (ta’allum) dan mengajar (ta’liim). Metode ini dibangun diatas tiga dasar: mengetahui kebenaran, berdakwah kepadanya, dan teguh di atasnya. Metode ini harus ditempuh dengan tashfiyah dan tarbiyah.

Tashfiyah (pemurnian) adalah memurnikan Islam pada semua bidangnya dari semua perkara yang asing dan jauh darinya.

Tarbiyah (pembinaan) adalah membina generasi-generasi Islam di zaman ini, yang sedang tumbuh dengan Islam yang telah dimurnikan. (At-Tashfiyah wat Tarbiyah, hlm.19, karya Syekh Ali bin Hasan al-Halabi)

Mengapa Harus Tashfiyah

Bila kita perhatikan realita umat ini dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disampaikan di atas, kita mendapati bahwa ajaran Islam telah terkotori kebid’ahan dan perkara-perkara yang justru menyelisihi hakikat ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dipahami generasi pertama umat ini. Atas dasar itulah, sangat perlu dilakukan pembaruan dan pemurnian ajaran tersebut dari yang mengotorinya.

Syekh Muhammad al-Basyir al-Ibrahimi menjelaskan, “Setelah kita berpikir, meneliti, dan mengkaji keadaan umat dengan tempat tumbuh penyakit-penyakitnya, maka kita benar-benar mengetahui bahwa jalan-jalan bid’ah dalam Islam adalah sebab terpecahbelahnya kaum muslimin, dan kita mengetahui bahwa ketika kita melawannya berarti kita melawan seluruh keburukan.” (Al-Ashalah: 1/34)

Jelaslah, sebab munculnya perpecahan kaum muslimin adalah jauhnya mereka dari ajaran Islam yang benar. Ajaran yang telah menyatukan para sahabat yang sebelumnya mereka bercerai-berai dan saling memusuhi. Kemudian setelah bercampurnya ajaran tersebut dengan kebid’ahan pada kaum muslimin, terjadilah perpecahan dan permusuhan di antara mereka hingga akhirnya mereka menjadi rendah dan hina seperti sekarang ini.

Sesungguhnya tersebarnya kesesatan akidah, bid’ah-bid’ah ibadah, dan perselisihan dalam agama menjadikan kaum muslimin lepas dari agamanya dan jauh dari dua pondasi utamanya. Itulah yang menjauhkan kaum muslimin dari keistimewaan-keistimewaan agama dan akhlaknya, sehingga sampai kepada kondisi yang kita lihat sekarang.

Oleh karena itu, kaum muslimin tidak mungkin selamat dari bid’ah, kesesatan, atau penyimpangan-penyimpangan kecuali dengan tashfiyah terhadap agama dan hal-hal yang terkait dengannya, dari seluruh noda dan perkara asing yang masuk padanya.

Bidang-Bidang yang Di-tashfiyah

Begitu banyak bidang yang perlu di-tashfiyah karena betapa banyak hal baru, kebiasaan dan penyelewengan yang masuk, baik dalam perkara ushuluddin (perkara pokok dalam agama) maupun furu’ (cabang)nya.

Syekh Ali bin Hasan al-Halabi hafidzuhullah menyebutkan contoh bidang-bidang yang perlu ditashfiyah, yaitu: (1) Akidah, (2) Hukum, (3) Sunnah, (4) Fikih, (5) Tafsir, (6) Tazkiyah, (7) Pemikiran, (8) Tarikh, (9) Dakwah, dan (10) Bahasa Arab.

Yang Melakukan Tashfiyah

Tentulah tashfiyah tersebut dilakukan oleh para ulama yang telah mapan ilmunya. Adapun masyarakat Islam, mereka mengikuti penjelasan ulama. Sesungguhnya, ulama rabbaniyin akan tetap ada sampai akhir zaman yang dikehendaki oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ

“Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pada setiap generasi: mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan.” (Riwayat Ibnu ‘Adi, Al-Baihaqi, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Hibban, dll,; dinyatakan berderajat hasan oleh Syekh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam Hilyatul ‘Alim Al-Mu’allim, hlm.77, juga oleh Syekh Ali bin Hasan di dalam At-Tashfiyah wat Tarbiyah)

Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang terpercaya” dalam hadits ini adalah para ulama ahli hadits di setiap zaman.

Mengiringi Tashfiyah dengan Tarbiyah

Nah, jalan menuju kejayaan harus dimulai dengan mengembalikan ajaran Islam ini seperti perkara pertamanya dengan melakukan tashfiyah, hingga kembali sebagaimana yang dijalani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, baik dalam akidah, ibadah, suluk (jalan hidup) dan seluruh perkara yang berkaitan dengan syariat. Namun, tidak hanya berhenti sampai di sini. Hal tersebut harus dilanjutkan dengan tarbiyah (pembinaan) umat di atas dasar ilmu yang sudah shahih dan sudah di-tashfiyah (dimurnikan).

Syekh al-Albani rahimahullah menyatakan, “Apabila kita ingin kejayaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kerendahan diangkat dari kita, serta kita dimenangkan dari musuh-musuh kita, maka untuk mencapai itu semua, seluruh hal yang telah saya isyaratkan–dari kewajiban meluruskan pemahaman dan menghilangkan pemikiran-pemikiran yang menyelisihi dalil-dalil syar’i–tidaklah cukup …. Disana ada hal lain yang sangat penting sekali-–inilah inti yang sebenarnya–dalam meluruskan pemahaman, yaitu beramal; karena ilmu adalah sarana untuk beramal. Apabila seseorang telah belajar dan ilmunya sudah ter-tashfiyah, kemudian dia tidak mengamalkan ilmu tersebut, maka sangat otomatis terjadi ilmu tersebut tidak menghasilkan buah. Oleh karena itu, ilmu harus disertai dengan amalan. Sudah menjadi kewajiban para ulama untuk mengurus pembinaan kaum muslimin yang baru di atas dasar ketetapan yang ada dalam Alquran dan Assunah. Jangan membiarkan manusia berada di atas pemikiran dan kesalahan yang mereka warisi. Sebagiannya pasti batil menurut kesepakatan para ulama, sebagiannya masih diperselisihkan dan memiliki kekuatan dalam penelitian dan ijtihad serta ra’yu (pendapat pribadi), dan sebagian ijtihad dan ra’yu ini menyelisihi sunnah. Setelah dilakukan tashfiyah terhadap perkara-perkara ini dan menjelaskan semua kewajiban memulai dan berjalan padanya, maka harus ada tarbiyah (pembinaan) terhadap orang-orang baru di atas ilmu yang shahih ini. Pembinaan inilah yang akan membentuk masyarakat Islam yang bersih untuk kita dan kemudian akan tegak daulah Islam untuk kita. Tanpa dua hal ini, yaitu ilmu yang shahih dan pembinaan yang benar di atas ilmu yang shahih ini, mustahil-–menurut keyakinan saya–tiang-tiang Islam akan tegak atau hukum Islam atau negara Islam.” (At-Tashfiyah wat Tarbiyah wa Haajat an-Naas Ilaihaa, hlm.29-31)

Hal ini dijabarkan oleh Syekh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi dalam pernyataan beliau, “Orang-orang yang mengenal Islam dan ikhlas terhadapnya telah banyak melaporkan bahwa kelemahan dan kemunduran yang menimpa umat Islam hanyalah disebabkan jauhnya mereka dari hakikat Islam.  Aku melihat bahwa hal itu kembali kepada tiga perkara:

–       Pertama: Bercampurnya sesuatu yang bukan berasal dari agama (Islam) dengan sesuatu yang berasal dari agama (Islam).

–       Kedua: Lemahnya keyakinan terhadap sesuatu yang termasuk bagian dari agama (Islam).

–       Ketiga: Tidak mengamalkan hukum-hukum agama (Islam).

Berdasarkan ini, maka mengetahui adab-adab yang benar yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ibadah dan mu’amalah, tinggal dan bersafar, bergaul dengan orang lain dan sendirian, gerakan dan diam, bangun dan tidur, makan dan minum, berbicara dan diam, dan selain itu yang ada pada kehidupan manusia, dengan berusaha mengamalkannya sesuai dengan kesanggupan, itu adalah obat satu-satunya untuk penyakit-penyakit itu. Sesungguhnya banyak dari adab-adab itu mudah pada jiwa, maka jika seseorang mengamalkan sesuatu yang mudah baginya, dengan meninggalkan hal yang menyelisihinya, insyaAllah Subhanahu wa Ta’ala tidak lama (kemudian) dia ingin menambah. Sehingga mudah-mudahan tidaklah lewat satu masa tertentu kecuali dia telah menjadi teladan bagi orang lain di dalam hal itu.

Dengan mengikuti petunjuk Nabi yang lurus itu, dan berakhlak dengan akhlak yang agung itu, walaupun sampai batas tertentu, hati akan bersinar, dada akan longgar, jiwa akan tenang, sehingga keyakinan menjadi mendalam, dan amalan menjadi baik. Jika banyak orang yang meniti jalan ini, tidak lama penyakit-penyakit itu akan hilang, insyaallah“. (Mukaddimah pada kitab Fadhlullahis Shamaad 1/17; dinukil dari At-Tashfiyah wat Tarbiyah, hlm: 19-20, karya Syekh Ali bin Hasan al-Halabi)

Demikian kemudahan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada penulis, mudah-mudahan bermanfaat.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiiin

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.
Artikel www.UstadzKholid.com