Membongkar Kesesatan Ingkar Sunnah [Bagian Ketiga]


Membongkar Kesesatan Ingkar Sunnah [Bagian Ketiga]

B. Dalam Hal Aqidah

1. Tentang syirik 

Melihat definisi syirik yang mereka kemukakan maka kita akan dapati definisi tersebut tidaklah bertentangan, mereka mengatakan bahwa syirik kepada Alloh Azza wa Jalla yaitu meyakini bahwa Alloh Azza wa Jalla memiliki sekutu dalam uluhiyyah atau rububiyyahNya, atau berarti peribadatan kepada selain Alloh Azza wa Jalla .
Namun, dalam prakteknya, mereka memasukkan pengamalan sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan menjalankan hukum-hukum Beliau Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam yang terkandung dalam hadits sebagai suatu kesyirikan atau menghidupkan kesyirikan, sebagaimana dikemukakan oleh dua tokoh mereka Abdullah dan Al Khawajah Ahmaduddin.
kalaulah benar, bahwa mengamalkan sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam merupakan kesyirikan, tentulah Alloh Azza wa Jalla tidak akan memerintahkan para Shohabat rodliallohu anhum untuk tunduk dan patuh kepada keputusan Beliau, sebagaimana firman-Nya yang berarti,
“maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS An Nisa’ 65]Demikian pula, Alloh Azza wa Jalla tidak akan menjadikan hal menerima hukum (keputusan) RasulNya sebagai syarat keimanan.
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diseru kepada Allah dan RasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [QS An Nur 51].
Sementara tidak ada jalan untuk mentaati hukum-hukum Rosul kecuali dengan mengamalkan sunnahnya.
Sedangkan tokoh lainnya -Berwiz- memandang bahwa syirik itu ada tiga macam, yaitu :
a. memalingkan apa yang-semestinya-khusus untuk Allah kepada selain-Nya
b. Mengikuti selain hukum Allah
c. perpecahan kaum muslimin menjadi beberapa kelompok atau golongan yang salaing berseteru,
berdalil dengan firman Alloh Azza wa Jalla ,”
“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [QS ar Rum 31-32]
Dua macam yang pertama tidaklah menjadi masalah, namun macam yang ketiga itulah yang dikritisi disini.
Perlu diketahui bahwa adanya perpecahan didalam Islam tidaklah dinamai dengan kesyirikan dalam Islam, karena Alloh Azza wa Jalla berfirman,
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap golongan lainnya, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” [Qs Al Hujarat 9].
Alloh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa dua kelompok yang saling berperang ini adalah sama-sama kaum muslimin. Maka sifat iman yang Alloh Azza wa Jalla sebutkan dalam ayat diatas menepis adanya kesyirikan pada dua kelompok mukminin yang saling berseteru tersebut. Dan ayat yang telah dicomot dan dijadikan dalil oleh Berwiz, jika diteliti bersama dengan ayat yang sebelumnya dari mulai firmanNya,
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah diatas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah.” [QS Ar Rum 30].
Niscaya kita dapati bahwa Alloh Azza wa Jalla memerintahkan untuk tetap (teguh) diatas agamaNya dan mentauhidkanNya, dan bahwa hal itu merupakan fitrah manusia yang lurus. Maka tetap teguhlah diatas hal itu dan dirikanlah sholat serta janganlah kembali kepada kesyirikan dan kuam musyrikin yang bercerai berai karena berbeda-beda dalam beribadah kepada selain Allah karena hawa nafsu mereka yang berbeda-beda. Jadi, makna bukan berarti bahwa yang bercerai berai itu dikatakan musyrik, karena yang berecerai berai itu masih diharapkan memperoleh ampunan dari Allah selama mereka tidak mati diatas kesyirikan kepada Alloh Azza wa Jalla .

2. Tentang ‘Arsy (singgasana) dan Istiwa’ Alloh Azza wa Jalla diatasnya.
Mereka berpendapat bahwa yang diamksud dengan ‘arsy (singgasana) Allah bukanlah arsy secara hakiki (yang memiliki dzat, bentuk dan sifat) melainkan yang dimaksud adalah kekuasaan dan kerajaan Nya, sedngkan yang dimasksud dengan istiwa’ Alloh Azza wa Jalla diatas arsy adalah menguasai seluruh pengaturan alam dan makhluk, dan bahwa Alloh Azza wa Jalla memiliki kekuasaan penuh atas hal itu. Sama sebagaimana- menurut mereka- bila si fulan memiliki singgasana negara, maka maksudnya bahwa ia memegang seluruh urusan negara tersebut. jadi, menurut mereka bahwa arsy (singgasana) itu adalah kiasan (tentang kekuasaan).
Namun, kita perhatikan Alloh Azza wa Jalla menyebutkan arsy-Nya sebanyak 21 kali di 19 ayat , diantaranya ayat 129 surat At Taubah, ayat 75 surat Az Zumar, dan ayat 17 Surat Al haqqah. Alloh Azza wa Jalla juga menyebutkan tentang istiwa’Nya di atas Arsy-Nya di tujuh tempat, diantaranya ayat 54 surat Al A’raf dan ayat 59 Surat Al Furqon. Penolakan mereka terhadap adanya Arsy (singgasana) Alloh Azza wa Jalla yang hakiki (yang memiliki bentuk, dzat dan sifat) sama dengan apa yang dilontarkan oleh Jahm bin Shafwan tokoh penyebar Jahmiyyah, dan yang sejalan dengannya, sebagai bagian dari penolakan terhadap sifat-sifat Alloh Azza wa Jalla .[tentang sifat-sifat Arsy Allah, lihat : Shahih Bukhori iV/228 dan VIII/176-177, Shahih Muslim VII/83, Sunan Ad Darimi II/262 dan II/447, Sunan At Tirmidzi V/585 dan 590, Fathul Baari XIII/404 dan Ar Raad ‘ala Al Jahmiyyah oleh Said bin Utsman Ad Darimi (hal 12) ].

3. Tentang Kenabian
        Kami sebutkan beberapa contoh pendapat mereka dalam masalah kenabian sebagai berikut:
a. Perkara luar biasa (mukjizat)
      mereka mengingkari terjadinya perkara luar biasa dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam -maka sebagaimana lagi dengan ummatnya- selain mukjizat Al Qur’an. Karenanya, peristiwa-peristiwa seperti terbelahnya bulan-di masa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam menghadapi kaum musyrikin yang mendustakan kebenaran risalahnya-, mereka katakan bahwa terbelahnya bulan itu merupakan salah satu dari tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat dan bahwa ayat,
“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.” [QS Al Qomar 1]
tidak ada hubungannya dengan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam secara tekstual maupun kontekstual.
Pernyataan mereka ini tertolak dengan beberapa sisi :
1).Firman Alloh Azza wa Jalla dalam QS Al Qomar:1 jelas sekali mengabarkan peristiwa terbelahnya bulan dan bahwa pertitiwa itu telah terjadi, karena dalam kalimat itu menggunakan kata kerja lampau. Sementara membawakannya kepada masa akan datang tanpa dalil adalah tertolak.
2). Dalam ayat berikutnya, Alloh Azza wa Jalla berfirman, yg artinya :,
” Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata,'(ini adalah) sihir yang terus menerus.’ ” [QS Al Qomar : 2]
Ini menunjukkan bahwa terbelahnya bulan menjadi dua merupakan satu mukjizat yang Alloh Azza wa Jalla berikan kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam untuk menampakkan kebenaran nubuwwah dan risalahnya di hadapan kaum musyrikin, yang kemudian didustakan oleh mereka sebagaimana diisyaratkan dalam ayat berikut,
“Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.” [QS Al Qomar 3].
Maka sikap orang-orang Quraisy yang mendustakan mukjizat Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tersebut menunjukkan bahwa terbelahnya bulan memang telah terjadi di masa lampau ketika itu.
3). Kesaksian lebih dari sepuluh Shohabat rodliallohu anhum yang menyatakan terjadinya peristiwa itu, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab shahihain, kitab-kitab sunan dan musnad-musnad yang tidak diingkari oleh seorang msulim pun.

b. Tentang kemaksuman Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam
Mereka berpendapat bahwa kemaksuman Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam hanyalah dalam hal penyampaian Kitabulloh-sebagaimaan juga para Rosul sebelumnya-. Adapun apa yang bersumber dari pikiran, hati beliau, maka tidak selamat dari bisikan syaithon, sehingga dalam hal ini beliau tidaklah maksum.

     Namun, banyak dalil dari ayat-ayat Al Qur’an yang menunjukkan babhwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam demikian pula dengan para Rosul sebelumnya adalah maksum dan bahwa mereka tidaklah mengatakan sesuatu tentang agama Alloh Azza wa Jalla dengan apa yang bersumber dari hawa nafsu dan pikiran mereka sendiri. Diantara ayat-ayat tsb dalah sebagai berikut, yang artinya :
“…Sesungguhnya hamba-hamba Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka.” [QS Al Hijr 42]
Ayat ini menunjukkan bahwa para syaithon tidak kuasa untuk menggoda hamba-hamba Allah (yang ikhlas), maka bagaimana lagi dengan orang-orang yang Allah pilih sebagai Rosul ?.
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) .”[QS An Najm 3-4]
Ayat ini menunjukkan bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tidaklah mengucapkan sesuatu tentang agama Alloh Azza wa Jalla melainkan atas dasar wahyu dari Allah. Berbicara tentang agama Alloh Azza wa Jalla dari hawa nafsu atau dari bisikan syaithon dengan sengaja adalah suatu kekufuran, sementara Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam maksum (terjaga) dari sifat tersebut. Sampai-sampai Alloh Azza wa Jalla mengancam Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bila Beliau benar-benar mengucapkan sesuatu tentang agama Allah tanpa wahyu dariNya, seperti yang diisyaratkan dalam firmanNya, yang artinya,
” Seandainya di (Muhammad ) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya, Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” [QS Al Haqqah 44-46].
Tidak ditimpakannya ancaman Alloh Azza wa Jalla tersebut kepada beliau Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam sampai beliau wafat merupakan bukti yang amat jelas bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tidaklah mengatakan tentang agama Allah dari hawa nafsunya atau dari bisikan syaithon.

         Masih ada lagi penyimpangan-penyimpangan lain dari kelompok sesat ini, baik dalam masalah penafsiran Al Qur’an, masalah Aqidah, Ibadah, Muamalah dan lainnya.

        Semoga Alloh Azza wa Jalla memberikan petunjuk dan taufikNya kepada kita untuk tetap istiqomah dan tidak terperdaya oleh tipudaya syaithon dan para pengikutnya.

-allahu ‘alam bi shawab-

Ditulis kembali dari Al fatawa vol 11/th 1/1424H.

Iklan