Meluruskan Penyimpangan Manhaj Dakwah


(Meluruskan Penyimpangan Manhaj Dakwah)

Ditulis Oleh: Ust. Aunurrafiq bin Ghufron Lc

Dakwah yang berarti menyeru, memang dikagumi ummat. Rasanya tidak ada seorapun yang tidak punya keinginan berdakwah. bahkan orang kafir baik Yahudi dan Nashrani, mereka gotol sekali mengerahkan tenaga dan harta untuk mengajak manusia kepada kekufuran. Tidak ketinggalan pula orang-orang musyrik, ahli bid’ah dan munafik, mereka pun sangat giat berdakwah untuk menghancurkan Islam dan ummatnya dari dalam.
Para Dai pemecah belah ummat bermunculan di tengah masyarakat, masing-masing membela misi, ada yang bertujuan untuk membela organisasi, partai, kebid’ahan dan kesyirikan. Ada pula yang bertujuan membela Islam, ikut meyebarkan ajaran Islam, namun dainya bodoh dari ilmu agama, bukan orang berilmu (modalnya hanya semangat saja-red), mereka berdakwah dengan tujuan berbeda, dengan cara dan Manhaj (metode) berbeda pula sebagai contoh berdakwah dengan hiburan, nyanyian/musik, olah raga , seni agar orang mau berkumpul (dengan ditambahi embel-embel islami: musik islami, lagu islami, seni islami, dll-red-).
Adapula model dakwah dengan cara gulingkan dulu pemimpin thagut untuk meraih kejayaan, menegakkan khilafah, baru kemudian mengajarkan tauhid dan ibadah. Ada lagi dengan beramar ma’ruf saja namun tidak mengingkari kemungkaran, supaya ummat tidak lari. Adapula dengan cara memantapkan ekonomi dulu baru memantapkan aqidah. Mereka menyeru,” mari kita masuk ke parlemen kafir untuk mempengaruhi mereka, mari wujudkan imamah sirri (rahasia)dulu untuk mengumpulkan jamaah dan seterusnya.”
Apakah tujuan dan sarana tersebut benar menurut Islam ? simak bahasannya.

Apakah setiap dakwah itu pasti baik ?

Dakwah diambil dari kalimat ‘ da’aa ” yang berarti seruan atau panggilan, sedang pelakunya disebut Da’i atau da’iyyah yakni orang yang menyeru kepada agama atau pemikiran ( lihat : al mu’jamul wasith 1/286).
Penggunaan istilah dakwah maupun da’i tidaklah secara mutlak memiliki nilai yang baik atau sebaliknya, namun tergantung apa yang didakwahkan dan siapa pelaku dakwahnya. Ayat Al Qur’an menyebutkan da’i dan dua macam pertama Da’i yang menyeru kepada al haq (kebenaran) dan kedua da’I yang menyeru kepada kesesatan/kebatilan.
Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,
” (orang mukmin berkata: Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepda keselamatan, namun kamu menyeru aku ke neraka? (kenapa) kamu menyeru supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui, padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
{QS  Ghafir : 41-42).
Alloh Azza wa Jalla juga berfirman, yang artinya:
“Mereka (orang musyrik) mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.”[QS Al Baqoroh:221].
Inilah sebagian dari ayat yang menunjukkan bahwa ada da’i yang menyeru kepada kebaikan dan adapula da’i jelek (suu’) yang menyeru kepada kesesatan.Secara Lahir, da’i  yang menyebarkan kesesatan mereka memposisikan diri sebagai pembela Islam, pendakwah Islam, namun pada hakekatnya perusak agama dan pengacau ummat.
Mereka mempermainkan ayat Alloh Azza wa Jalla dan sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam untuk menghancurkan aqidah muslimin sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari jalan Hudhaifah -rodliallohu anhu- yaitu ketika para sahabat lainnya -rodliallohu anhuma- bertanya kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tentang kebaikan, maka Hudhaifah bin Yaman -rodliallohu anhu- bertanya kepada Nabi tentang kejelekan., diantara pertanyaan beliau adalah :
” Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?’, Rosululloh menjawab: ‘Ya, yaitu para da’i  yang menyeru (mengajak) ke pintu-pintu neraka Jahannam, siapa yang menerima ajakannya akan dicampakkan ke Neraka Jahannam.’. Lalu aku bertanya:’Wahai Rosululloh jelaskanlah kepadaku siapa mereka?’. Beliau menjawab:’Mereka itu dari ummat kami dan berkata dengan dalil-dalil kami.” [HR  Bukhori no 3339].
Dengan hadits diatas, maka waspadalah,jangan tertipu dan jeratan para penyeru kesesatan, da’i penjahat, bukan karena mereka merampok harta, namun merusak aqidah ummat. Tiada yang bisa mengetahui dan melawan para da’i suu’ ini melainkan orang yang benar-benar mendalami Islam sesuai pemahaman salafush shalih.

Dakwah: Ibadah atau seni ?

Pertanyaan ini perlu dijawab, mengingat sebagian kaum muslimin ada yang menilai bahwa dakwah boleh dengan seni dan hiburan. Buktinya tidak sedikit orang muslim yang kagum dengan dakwah penyanyi dangdut yang menampilkan ayat-ayat Al Qur’an disertai joget dan musik-naudzubillah min dzalik-.
Padahal dakwah adalah ibadah yang agung karena dakwah berarti mengajak manusia beribadah kepada Alloh Azza wa Jalla saja dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, sedang hukumnya adalah fardlu kifayah, yaitu diwajibkan bagi orang yang berilmu dien dan memiliki kemampuan.

Adapun dalil yang menerangkan bahwa dakwah adalah ibadah

1. Dakwah adalah tugas setiap nabi dan utusan Alloh Azza wa Jalla .

Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,” Manusia itu ummat yang satu, (setelah timbul perselisihan) Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” [QS Al Baqoroh 213].
Mustahil bila perintah Alloh Azza wa Jalla kepada para utusanNya sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bukan termasuk ibadah.

2. Alloh Azza wa Jalla mengaitkan dakwah dengan ibadah lainnya :seperti sholat, zakat dan ketaan kepada Alloh Azza wa Jalla dan Rosul-Nya.

Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya,” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagia sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RosulNya.” [QS At taubah 71].

3. Dakwah termasuk ibadah yang mulia, karena manfaatnya bukan untuk perorangan/individu, seperti sholat, haji, puasa. Tapi untuk kemaslahatan (kebaikan) dan perbaikan ummat di dunia dan akherat. Maka mustahil bila dien yang dibangun diatas maslahah ini, lalu dakwah yang menyeru kepada kemaslahatan tersebut bukan termasuk ibadah.

Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya”Siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru kepada Allah. mengerjakan amal shalih dan berkata:’Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” [QSFussilat :33].
Imam hasan Al basri -rahimahullah- berkata,” mereka (para da’i ) yang disebut dalam ayat ini termasuk pilihan Alloh Azza wa Jalla , kekasihNya, waliNya. sebaik-baik makhluk dipermukaan bumi dan kholifatulloh.” [Lihat : Tafsir Ibnu katsir 4/129].

4. Pahala dakwah sangatlah besar.

Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Ali -Rodliallohu anhu- , yang artinya” Demi Allah, sungguh bila Allah memberi petunjuk satu orang disebabkan dakwahmu, itu lebi baik bagimu daripada unta merah.”[HR Bukhori 2787].
Beliau juga bersabda,” Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala semisal [pahala yang diterima] pelakunya.”[HR Tirmidzi 2595].
Syaikh Abdusalam bin Barjas -rahimahullah- mengomentari hadits ini,” Hendaklah orang muslim segera berlomba-lomba untuk mengejar keutamaan pahala ini.” {lihat : al hujjajul qowiyyah ‘ala anna wasaail d’wah taufiqiyah, hal 9].
Maka mustahil jika amalan da’i  yang cukup besar pahalanya ini bukanlah ibadah.

5. Meninggalkan dakwah dan nahi munkar bagi yang mampu akan diancam dengan adzab yang amat pedih.
     Dari Hudzaifah bin Yaman -rodliallohu anhu- Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,yang artinya,” Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, sungguh kalian harus memrintah yang baik dan menghentikan kemungkaran atau (bila tidak mau) hampir saja Allah akan mengirim kepadamu berupa adzab dari-Nya, kemudian engkau berdoa lalu Allah tidak mengabulkan doamu.” [HR Tirmidzi no 2095, ABu daud 3774, Ahmad no 22212, dan dishahihkan oleh Al Albani no 7070].
Tidaklah terjadi ancaman yang sangat keras melainkan karena melakukan pelanggaran ibadah, yaitu tidak berdakwah.

Syarat sah-nya Ibadah

Karena dakwah termasuk ibadah, tentu kita harus mengetahui persyaratannya, supaya dakwah kita diterima oleh Alloh Azza wa Jalla sekalipun manusia/ummat sebagai obyek dakwah kita tidak menerima dakwah yang kita sampaikan.

Adapun syarat sah-nya ibadah adalah :
1. Pelakunya harus muslim, bukan kafir, demikian pula juru dakwah /da’i  haruslah seorang muslim.
2. Pelaku ibadah haruslah ikhlas karena Allah (ingin mencari ridloNya, ingin menjalankan perintahNya, ingin mencari pahalaNya, dan karena takut siksaanNya). Demikian pula niat para da’i  hendaknyalah demikian.
3. Ibadah harus mutaba’ah (mengikuti Petunjuk Nabi dan atau sunnah para shahabat)., Demikian pula cara berdakwah harus mengikuti petunjuk Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam .

Tiga persyaratan ini tercantum dalam firmanNya, yang berarti” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [QS Al Kahfi 110).
adapun makna ayat diatas sebagai berikut:
a. “barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya/Tuhannya”, ini menunjukkan orangnya mukmin/ beriman. sebab orang kafir tidak berharap berjumpa dengan Alloh Azza wa Jalla
b. “maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih”, suatu amal dikatakan shalih (baik) jika mengikuti/sesuai dengan sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan para shohabatnya. Jika tidak ada contohnya, maka tertolak.
Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya”Barangsiapa yang mengamalkan suatu amal sholeh (ibadah) tidak diatas tuntunan kami, maka ditolak.” [HR Muslim 1718].
c. dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” artinya hendaknya dengan hati ikhlas karena Alloh Azza wa Jalla .

Sarana Dakwah
Syaikh Abdussalam bin Barjas -rahimahullah- berkata” sesungguhnya sarana dakwah adalah taufiqiyyah, tidak boleh seorangpun membuat cara atau metode dakwah yang baru yang tidak diizinkan oleh Alloh Azza wa Jalla . Manhaj/metode dakwah yang taufiqiyyah artinya metode dakwah yang meniru metode dakwahnya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan para Shohabat beliau. Pendapat ini adalah pendapat yang paling benar yang diperkuat dengan dalil dan praktek para Salafush shalih dan para ulama yang mengikuti mereka dengan benar. adapun dalil yang menjelaskannya :

1. Alloh Azza wa Jalla berfirman yang artinya,” Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [QS Al Maidah 3].
2.
Imam Malik -rahimahullah- berkata,” barangsiapa mengadakan cara baru dalam ummat ini yang tidak dicontohkan oleh salafush shalih berati dia menuduh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam telah berkhianat, tidak sempurna dalam menyampaikan ajaran agama padahal Alloh Azza wa Jalla telah menyempurnakan agamaNya.”

3. Alloh Azza wa Jalla mewajibkan hambaNya agar taat kepada RosulNya. Kebahagiaan karena mengikuti sunnahnya dan celaka karena menyelisihinya.

Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya” Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan RosulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu :para nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”{QS An Nisa 69].
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RoslNya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal didalamnya selama-lamanya.”[QS Al Jin 23].

4. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam telah memerintahkan seluruh kebaikan dan melarang semua kejelekan, menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk.

Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya” (Nabi) yang menyuruh mereka mngerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dri mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bai mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka mereka segala yang jelek.” [QS Al A’rof 175].
” Dan sesungguhnya kamu (hai nabi) benar-benar menunjukkan kepada jalan yang lurus. yaitu jalan Allah yang milik-Nya segala apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.”[Qs Asy Syuro’ 52-53].

       Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, artinya” Sesungguhnya tidaklah seorang Nabi sebelumku melainkan dia berkewajiban untuk menjelaskan kepada ummatnya perkara yang wajib dia ketahui untuk mereka, dan mengingatkan perkara yang jelek yang dia ketahui untuk mereka [HR Muslim 3431].
Beliau juga bersabda, artinya ” Sungguh kutinggalkan kepadamu dien (agama Islam) yang terang benderang ini, (ibarat) malamya seperti siangnya (sangat jelas-red), tidaklah seorangpun yang berpaling darinya melainkan dia akan celaka.” [HR Ibnu Majah no 43].
Dari dalil-dalil diatas dapat dismpulkan bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam telah menjelaskan sarana dan metode dakwah kepada ummatnya, baik dengan ucapan atau perbuatan. Telah kita tahui bersama bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam mengajari kita doa dan adab untuk buang air kecil maupun besar dan semisalnya, Tidak mungkin beliau mengajari adab dan doa tersebut   kemudian pada sisi lain beliau tidak mengajari kita bagaimana metode, sarana dakwah , padahal dakwah adalah ibadah yang agung ,dengan dakwah-lah Islam akan tegak.
Petunjuk Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam menyinari kegelapan, hujjahnya kuat tak terbantahkan, dilanjutkan oleh para Shohabat -rodliallohu anhum- dan para imam dan ulama yang mengikuti mereka dengan benar. Mereka sangat marah bila para da’i  menyelisihinya atau mengadakan cara dakwah yang baru. Tiada cara untuk mewujudkan masyarakat seperti kehidupan para shahabat dan pengikutnya melainkan dengan manhaj/metode dan cara syar’I . Imam Malik -rahimahullah- berkata,” tidak  mungkin akan menjadi baik ummat ini, melainkan dengan cara seperti pendahulu mereka menjadi baik,” [lihat Al Hujajul Qowiyah hal 54-57].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- pernah ditanya :” Ada seorang da’i  senior yang kondang di masyarakat. Dia ingin mengumpulkan penjahat seperti pembunuh, pembegal, pencuri, pecandu khamer. Da’i  senior ini berusaha mendakwahi mereka agar berhenti dari kejahatannya dan menjadi orang yang ahli ibadah. Tetapi hal itu tidak mungkin terwujud kecuali dengan mendatangkan lagu-lagu merdu, penyanyi dengan bersyair yang wajar tanpa disertai penyanyi wanita. Ketika ide tersebut dilaksanakan, ternyata berhasil apa yang menjadi rencananya. Wahai Syaikh, apakah sarana ini boleh dilaksanakan karena maslahah-nya yang sangat besar?. Syaikhul Islam kemudian menjawab,”Perlu dimaklumi bersama bahwa Alloh Azza wa Jalla telah mengutus Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dengan petunjuk dan dien yang haq agar memenangkan Islam diatas semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi, bahwa Allah telah menyempurnakan dien yang mulia ini.” Setelah memaparkan dalil-dalil secara panjang lebar, kemudin Syaikhul Islam berkata,” apabila telah jelas masalah ini, maka  saya katakan kepada penanya:” Sesungguhnya da’i  kondang yang ingin membuat para penjahat tadi bertobat dan tidak mengerti metode dakwah kecuali metode bid’ah tersebut. Hal ini sangat menunjukkan bahwa di Da’i  tadi jahil/bodoh terhadap metode dakwah yang dapat membuat para ahli maksiat tersebut bertobat. Karena Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan para sahabat , Tabi’in juga mendakwahi manusia yang lebih bejat dari penjahat tadi namun dengan metode dakwah yang syar’I bukan metode bid’ah..” [ lihat majmu Fatawa Ibnu taimiyah 11/620-621].
Syaikh Bakr bin Abdulloh Abu Zaid berkata,” Dakwah terdiri dari tujuan dan sarana, hakikat tujuan dakwah adalah taufiqiyyah, tidak ada peluang untuk berijtihad, hakekat dakwah tetap tidak berubah. dakwah tidak berubah karena perubahan zaman, tempat dan keadaan. Sedangkan sarana dakwah menurut asalnya taufiqiyyah pula yaitu kembali kepada manhaj nubuwah.”. Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” Barangsiapa yang mengadakan perkara baru didalam urusan agama ini yang tidak ada contohnya, maka ditolak.” Alhamdulillah, setelah Alloh Azza wa Jalla menerangkan kaum muslim dengan negerinya pula, tatkala Allah mensyariatkan jihad, peranahan, amar ma’ruf nahi mungkar, nasehat dan dakwah. Allah  juga mensyariatkan pula wasail atau sarananya dengan aneka macam ragamnya. Allah tidak menyerahkan sarana ini kepada mereka, tapi Allah-lah yang menentukannya.” [lihat kitab : Hukmul Imtima’ ilal firoq wal ahdzab wal jamaah 157-158].
Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz -rahimahullah- berkata,” barangsiapa ingin memperbaiki masyarakat Islam atau masyarakat kuffar dipermukaan bumi ini dengan manhaj (metode, cara), wasail (sarana) dan usaha yang bukan dari pendahulunya (salafush shalih), maka hal itu salah.” [lihat Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz 1/249].

Contoh penyimpangan dakwah

1. Mengkhususkan dakwah dengan mendatangkan qussos (tukang cerita).

        Banyak kita jumpai  para da’i  yang hanya mengobral cerita, dongeng bahkan tidak jarang menjadi senda gurau seperti melawak. Mereka menceritakan kisah kejadian masa lalu yang mungkin benar dan mungkin juga bohong.Tujuannya tidak lain kecuali menyenangkan hati orang, menarik simpati jamaah agar hadir dan mengaet massa karena cerita memang tidak akan menusuk perasaaan jamaah.
Imam Ibnu Jauzi berkata,” Pada dasarnya cerita itu tidak tercela apabila memang benar, sebab mengabarkan peristiwa umat masa lampau untuk bisa diambil pelajaran, tetapi dakwah model ini dibenci oleh ulama salaf karena tidak ada contoh dari ulama salaf.”.
Abdulloh bin Umar -rodliallohu anhu- berkata,” Tidak pernah terjadi dakwah dengan cerita pada zaman Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , Abu bakar dan Umar -rodliallohu anhuma-.”
Muawiyah bin Qurroh berkata,” Apabila kami melihat da’i  bercerita, kami mengatakan: ‘inilah cerita ahli bidah.” [Lihat ” Al Hujjajul Qowiyah hal 58-59].

2. Berdakwah dengan cara menampilkan seni suara, lagu/nyanyian, nasyid dan syair-syair

Sebagian kaum muslimin berdakwah dengan lagu-lagu, walanya bertujuan untuk menghentikan kemungkaran, menghilangkan ketegangan dan menghibur hati orang agar orang yang tersesat mendapat petunjuk.
Syaikhul Islam Ibny Taimiyah -rahimahullah- berkata,” Dakwah dengan cara ini dalah bid’ah, peristiwa ini terjadi setelah abda generasi yag mulia, yaitu genersi para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in.”
Imam Asy Syafii -rahimahullah- berkata,” Dinegeri baghdad ini ada orang zindiq (munafik) yang membuat cara baru, yaitu berdakwah  dengan seni suara (nyanyian, musik-red) untuk menghalangi manusia membeca Al Qur’an.”
Imam Ahmad -rahimahullah- ketika ditanya tentang berdakwah dengan seni suara, beliau menjawab,” Perkara itu bid’ah dan jangan duduk bersama mereka.” [lihat Al Hujajul Qowiyah hal 61].
Bagaimana sesuatu yang haram yakni nyanyian (seni suara,lagu, musik, nasyid dan semisalnya)  dijadikan sarana dakwah ?, padahal telah kami terangkan diatas dakwah adalah ibadah yang mengajak manusia ke jalan Alloh Azza wa Jalla ?!! [lihat tafsir Ibnu katsir dalam surat Luqman ayat 6].
[Dan dakwah mengunakan seni suara, musik, nasyid dan semisalnya adalah bentuk tasyabuh/meniru terhadap orang kafir, telah kita ketahui bahwa kaum kafir nasrani menjadikan lagu, musik, seni suara sebagai sarana ibadah mereka. walaupun sebagian orang-orang bodoh zaman ini mengatakan bahwa ‘kami berbeda dengan musik/lagu/seni suara orang kafir tersebut, yang kami lakukan adalah seni islami.’ Kami katakan’ sesungguhnya perbedaaan nama/istilah tidaklah  dapat  mengubah hakekat  maknanya.’ -red-]

3. Berdakwah dengan sandiwara.
Syaikh Hamud At Tuwaijiri berkata,” memasukkan sandiwara sebagai sarana dakwah, bukanlah sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan bukan pula sunnah khulafaur Rasyidin.’ [lihat hujajul Qowiyah hal 62].
Syaikh Bakr Abu Zaid berkata ” apabila kamu telah menyadari bahwa sandiwara ini muncul setelah abad yang mulia, muncul pada abad ke 14 Hijriah, dan didukung oleh para penggemar seni, ditunjang pula dengan alat-alat musik. Akhirnya acara ini masuk pula di kapel-kapel ,tempat ibada nasrani, lalu disambut pula oleh kaum muslimin dengan menampilkan khusus dengan diberi label ‘ sandiwara islami.’, qasidah-qasidah islami’, akhirnya merembet ke sekolah-sekolah, perttemuan-pertemuan islam. Ketahuilah, Islam itu sudah sempurna, tidak membutuhkan metode dakwah dengan sandiwara. apalagi ada istilah sandiwara agama, jelas ini menyangkut masalah ibadah yang tidak lepas dari contoh dan tuntunan, padahal tidaklah sandiwara itu pernah dilakukan oleh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam  dan tidak pula pada zaman sahabat.” [ lebih lanjut, silahkanbaca: At tamsil, Haqiqatuhu, tarikhuhu, hukmuhu.’oleh Syaikh Bakr Abu Zaid , hal 27-28].

4. Dakwah dengan mendirikan baiat kelompok
Metode dakwah dengan baiat sudah tersebar dimana-mana., mereka beraggapan bahwa baiat akan dapat mendirikan negara Islam dan ummat Islam akan menang.
Syaikh bakr Abu Zaid berkata,” Diantara sarana yang dapat memecah belah ummat ialah baiat yang dilakukan oleh sebagian kelompok sufi, yang sekarang dinamakan jamaah islam. Demikian hawa nafsu saling seret menyeret. Perlu diketahui bahwa baiat di dalam Islam hanya satu, yaitu baiat kepada imamah udhma (besar) yaitu membaiat umat dalam satu imam, dan imam itu disepakati oleh jamaah yang memiliki kekuatan, ahli halli wal aqdi.” [lihat hukmul imtima’ hal 162].
Syaikh Shalih bin Fauzan AluFauzan berkata,” diwajibkan bagi kaum muslimin didalam satu negeri hendaknya baiat mereka satu imam (jika ada), tidak boleh ada baiat yang jumlahnya banyak sekali.” [ lihat : murojaat fi fiqhil waqi’ siyasi wal fikri hal 37]
Jika dibantah :’bukankah Islam mewajibkan kita berjamaah?1′, jawabnya ‘betul, namun bukan sembarang jamaah ahli bidah, misalnya mendirikan imam sirri (rahasia). Jika dibantah:’ Bukanlah pengamalan sebagian rukun Islam harus dikerjakan dengan jamaah ? , jawabnya betul, contohnya sholat jamaah, sholat Ied, namun amalan ini dianalogikan dengan mendirikan jamaah sirri maka ini adalah qiyas/analogi yang batil. Jika dibantah lagi : Bukankah Allah memerintahkan dalam surat Ali Imron 194  adalah kalimat ‘ummat’ jamaah ?; jawabnya : betul, namun makna ummat menurut bahasa ada limabelas makna. Perlu diketahui pada ‘minkum ummat’, kata ‘min’ sebagian ulama memahaminya menunjukkan jenis tertentu (bukan sembarang umat). Pendapat yang lain mengatakan ‘min’ menunjukkan sebagian, maksudnya bukan setiap manusia dinamakan ulama.” [ lihat Ad Dakwah ila Allah hal 14-15, Syaikh Ali Hasan Al Halabi ]

5. Berdakwah dengan mendirikan partai politik
Tidak sedikit kaum muslimin yang memiliki semangat kuat untuk membela Islam, namun sayang tidak dilandasi dengan ilmu agama Islam. Mereka menyangka bahwa dengan mendirikan partai politik ‘Islami’ akan memenangkan Islam. Inilah impian dan khayalan mereka.
Jawabnya : Pertama, partai itu sudah ada sejak zaman jahiliyah bahkan kemudian turun temurun hingga sekarang.. Jika kita kembali kepada pra ahli Ilmu, seperti para Rasul dan pengikutnya, para ahli tafsir, para ahli hadits dan fiqh dari zaman dulu sampai sekarang (merekalah yang lebih tahu bagaimana cara dan metode mendirikan masyarakat Islam), ternyata tidak seorang pun dari mereka yang mendirikan partai politik sebagai sarana pengembangan Islam dan mewujudkan masyarakat yang islami.
Telah jelas bagi kita, betapa semangat para ulama yang haq tersebut sangatlah besar untuk mewujudkan masyarakat Islami dan ilmu mereka telah mumpuni. Bisa kitab lihat di kitab-kitab mereka. Sekarang kami bertanya,” Mana ‘ulama partai’ yang bisa menandingi keunggulan ilmu mereka, keikhlasan, kesabaran dan kesungguhan mereka dalam menerapkan ilmu, baik pada kehidupan dirinya dan masyarakat?, Ulama Sunnah tidak berambisi meraih kekuasaan, mereka tahu bahwa mencalonkan dirinya sebagai  pemimpin hukumnya haram.
Kedua : berhasilkah selama ini kelompok kaum muslimin yang getol berpartai mampu mengubah hukum menjadi negara yang berhukum Islam setelah menduduki jabatan tertentu?, ataukah sebaliknya; mereka harus meniru pola hidup mereka, menerima ketetapan mereka, berloyalitas kepada semua pemeluk agama, menyingkirkan Al Qur’an dan Assunnah untuk menikmati musyawarah mereka, mendiamkan kebenaran karena takut kehilangan kursi bahkan menghargai semua agama [bermajelis dengan ahli bidah, bahkan  orang kafir hingga atheis yang jelas rusak aqidahnya,dan jelas-jelas memusuhi Islam -red-], Mereka membuat masyarakat awam tertipu.
Ketahuilah !, dengan munculnya sekian banyak partai tidak akan pernah terwujud persatuan ummat Islam baik secara jasmani apalagi ruhani. Banyaknya partai menumbuhkan rasa dengki, sakit hati, permusuhan sesama muslim dan inilah peluang bagi musuh Islam untuk menghancurkan Islam.
Kami (penulis-red) tambahkan disini , kami pribadi telah menyaksikan sendiri adanya perpecahan dalam penentuan khatib dan imam Sholat jum’at dan Ied karena partai. Pernikahan anak digagalkan karena pelamarnya beda partai, Sumbangan tersumbat karena lain partai, akhirnya partai menduduki kedudukan Tuhan. -naudzubillah min dzalik-.
Ya Allah, sungguh benar firman-Mu yang melarang muslimin berpecah :

” Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang  memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberpa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [QS Ar Rum : 31-32]

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata,” Aku ingin bertanya kepada orang yang mengharuskan dirinya berpartai dengan alasan untuk membela Islam :’Apabila partai kaum muslimin ini kalah (berpecah belah dalam tubuh dan wadahnya), kemana  halaun kaum muslimin ?.’ Ketahuilah, tiada tempat berlindung dari adzab Alloh Azza wa Jalla melainkan kepadaNya. Sesungguhnya fanatik terhadap partai tertentu tidaklah membuat istiqomah ; Ketahuilah bahwa kekuatan partai tidak bisa melawan dan menandingi kesempurnaan Islam yang dianut oleh ulama salaf. Ulama salaf bersatu karena kembali kepada manhaj nubuwah, kembali kepada kitab dan sunnah ash shahihah dalam mencari bekal menuju ridlo Alloh Azza wa Jalla yaitu untuk pulang ke kampung akherat.
firmanNya,” berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” [QS Al baqoroh 197]. [lihat : Hukmul Imtima’ ila firoq wa ahzab wal jamaah hal 167-168].
” Adapun ummat berpecah belah menjadi beberapa golongan dan partai. Masing-masing mengatakan [dan bangga-red]  bahwa yang bnar adalah partaiku dan mengganggap yang lain sesat, mebidahkan dan membuat lari yang lain. Tidak diragukan lagi bahwa partai ini tercela an mencela kebangkitan Islam. Inilah salah satu senjata utama perusak kebangkitan Islam. Aku nasehatkan kepada kalian:’ Wahai saudaraku, bersatulah kalian! cobalah pelajari apa yang menjadi perselisihan mereka, karena kembali kepada yang Haq (kepada Al Quran dan Sunnah Shahihah sesuai pemahaman salafush shalih) hukumnya wajib bagi setiap muslimin.” [ lihat : As Shohwatul Islamiyyah 258-259].
Syaikh Al Albani -rahimahullah- pernah ditanya ,” Wahai Syaikh, bagaimana hukum munculnya beragam kelompok, partai dan organisasi Islam, yang jelas mereka berbeda manhajnya, sarana dakwah dan aqidahnya, demikian pula dasar-dasar ketetapannya, padahal jamaah yang benar di dunia ini hanya satu sebagaimana disebutkan dalam hadits?”. Syaikh Albani -rahimahullah- menjawab,” Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang mengerti Al Quran dan sunnah dan apa yang dilakukan oleh para ulama Salaf akan menilai bahwa partai dan golongan yang berbeda pemikirannya, manhaj, cara berdakwah bukanlah termasuk Ilsam, bahwakan tergolong dalam firman Alloh Azza wa Jalla dalam surah Ar Rum 32, surah Hud :118-119.” [lihat : Fatawa Al Albani oleh Ukasyah bin Adnan hal 106-108].
Syaikh Ibnu Jibrin ketika ditanya,” Bolehkan ummat Islam itu berpartai lebih dari satu?’ Beliau menjawab:” Ketahuilah, sesungguhnya Islam datang untuk menyatukan ummat (dengan tauhid) dan dilarang untuk berpacah belah. Allah berfirman, yang artinya” Dan berpegang teguhlah dengan tali (agama ) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” [QS Ali Imron 103].
Beliau juga pernah ditanya,” bagaimana hukumnya ummat Islam masuk parpol ?”, Bliau menjawab seperti jawaban diatas , dengan menambahkan ayat ” Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih.” [ QS Ali Imron 105]. [lihat : Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin -Al Qidah juz 8 dan kitab : kaifa nu’aliju waqi’ana al alim hal 204-205].

6. Berdakwah dengan khuruj

Khuruj merupakan ciri khas Jamaah Tabligh. Mereka diwajibkan khuruj(keluar), meninggalkan anak istri dan keluarga tanpa memberi nafkah apa-apa. mereka khuruj ke masjid-masjid beberapa hari, mengajak orang beramal baik, tetapi tidak ingkarul mungkar [mengingkari adanya kemungkaran ]. Jamaah ini adalah neo-sufi  tarekat sesat, ahli kubur dan mewajibkan bai’at. telah banyak kerusakan kelompok ini yang dibongkar oleh para ulama, seperti Syaikh Hamud At Tuwaijiri dalam kitab beliau setebal 350 hal, Qoulul baligh At tahdzir min Jamaah Tabligh, dan kitab Jamaatut tabligh fi nisbatil qorotil hindiyah, ta’rifuha, aqo-iduha, oleh Ustadz Abu Usamah setebal 476 hal.

7. Mendahulukan Pemantapan Ekonomi

Cara ini banyak dilakukan kalangan harokiyyun ( pergerakan), mereka beranggapan dakwah akan diterima oleh ummat bila kita berupaya untuk membenahi perekonomiannya terlebih dulu sebelum membenahi rohaninya ( iman dan tauhidnya red). Mereka berkata,” Bagaimana ummat akan mengaji ( belajar agama-red) bila kebutuhan primernya tidak terpenuhi?, inilah kemunduran ummat Islam yaitu ketika para dai-nya tidak melihat masyarakatnya yang lapar, Kita kalah dengan orang kafir karena kunci ekonomi pada mereka. Mana mungkin bisa memeiliki senjata bila tidak berduit…” dan syubhat-syubhat sejenisnya.
Kita katakan:” lantas mengapa orang kaya tidak didakwahi lebih dulu sehingga mereka menjadi dai sebelum dai miskin ?, apa kekurangan mereka untuk hadir berjamaah di masjid dan tidak mendengarkan pengajian? apakah mereka masih kurang kenyang atau tidak memiliki kendaraan.Mengapa mereka tidak membangun masjid padahal bisa jadi rumahnya lebih mahal daripada kebutuhan membangun masjid? mengapa mereka tidak naik haji padahal mobilnya lebih mahal dari ongkos naik haji?, Ketahuilah, sesungguhnya kekurangan mereka adalah imam dan tauhid. Oleh karena itu, Islam memperbaiki ummat ini lebih mendahulukan pendidikan aqidah. Kalu hati sudah bertauhid kepada Alloh Azza wa Jalla , miskin dan kurang makanpun masih tetap mau beribadah, sholat jamaah, mendengarkan pengajian, mau berdakwah walaupun peuh kesengsaraan. Tidakkah kalian mengetahui kekhawatiran Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tentang apa yang akan menimpa ummatnya ?
Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :
” Demi Allah !, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kepadamu, tetapi aku khawatir bila kalian dilapangkan riskimu” [HR Muslim no 5261].
Dan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam juga menjelaskan perbaikan aqidah lebih prioritas sebelum perbaikan jasmani, Beliau bersabda”
” Ingatlah! sesungguhnya di dalam badan ini ada segumpal daging, bila baik maka akan baik semua badannya dan bila jelek akan jelek badannya, ingatah dia itu hati.” [ HR Bukhori  no 50].

Dan masih banyak model penyimpangan dakwah lainnya. mudah-mudahan yang sedikit ini bisa kita ambil pelajaran darinya.

sumber : majalah Al-Furqon