Punk, Gaya Hidup Anak Jalanan


(Punk, Gaya Hidup Anak Jalanan)

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin.

Di jalan, sering kita temukan pemandangan,segerombolan anak muda-bahkan bisa dikatakan remaja-mengenakan kaos hitam, berjaket lusuh, celana jin sobek, sepatu boots, bertato, ditindik dengan rambut gaya monhawk; mencukur tipis atau habis bagian kanan kiri rambut dan membiarkan bagian tengahnya tetap panjang. Bisa juga dengan model rambut deathhawk yang membiarkan sedikit rambut dekat telinga menjuntai ke bawah sehingga menimbulkan kesan lusuh, urakan dan seram.

Dandanan mereka terkadang dilengkapi dengan aksesori kalung salib terbalik atau logo naji-swastika. Sebagian mereka hidup secara liar, tidak memilikihunian yang tetap. Hidup mereka dari jalan ke jalan. Tidak sedikit ditemukan dari kalangan mereka terjerat narkoba, suka mabuk-mabukan dan memalak; meminta uang secara paksa kepada masyarakat. Jika mereka hendak berpergian atau beralih tempat, mereka cukup bergerombol menghentikan kenderaan bak terbuka lalu menumpanginya. Kesan di masyarakat, mereka adalah gerombolan anak muda yang hidup bebas tanpa aturan, semau gue. Masyarakat mengenal mereka sebagai gerombolan punk(baca : pang).

Punk tumbuh empat puluh tahun yang lalu. Berawal dari satu generasi di Amerika dan Inggris yang kemudian menyebar ke berbagai belahan bumi. Menurut Profane Existence, sebuah fanzine (publikasi internal)asal Amerika yang menyebutkan bahwa Indonesia dan Bulgaria adalah negara dengan tingkat perkembagan punk peringkat teratas di dunia. Lanjutkan membaca

Iklan