Download Audio Mutiara Hikmah Dalam Menghadapi Fitnah oleh Ustadz Ali Basuki (27 November 2011)


Bismillah. Alhamdulillah, pada kesempatan ini ana hadirkan rekaman nasihat dari ustadz Ali Basuki  dengan tema : Mutiara Hikmah dalam menghadapi fitnah yang diselenggarakan di  Sengkang, Kab. Wajo Sulawesi Selatan pada Hari Ahad  tanggal 27 November 2011 M/ 1 Muharram 1433 H. Semoga Nasihat yang sangat berharga dari ustadz Ali Basuki, kita dapat mengambil pelajaran dalam menghadapi fitnah-fitnah yang menimpa kita.

silahkan download rekamannya di :

http://www.box.com/s/eo6le9okmtxlpjmm8xlx –> Part 1

http://www.box.com/s/7v9oleh2x634vban62t9 –> Part 2

semoga Bermanfaat.

Sumber dari akhi Utta Aljihadi  di akun FB

NB : diberi kata pengantar oleh : Abu Namira Hasna Al-Jauziyah  untuk Maktabah Online Abu Namira

Iklan

Dialog Antara Syaikh Muhammad Nasuruddin Al-Albani dengan Abdul Fattah Abu Ghuddah


Dialog Antara Syaikh Muhammad Nasuruddin Al-Albani dengan Abdul Fattah Abu Ghuddah

oleh : Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

Ketika Syaikh al-Albani bersoal-jawab dengan ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah, Syaikh al-Albani menanyakan kepadanya, “… Dalam sunnah (hadis) dijelaskan bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan khamr (arak) sebagai penyakit, bukannya obat. Lalu adakah wajar bagi seorang doktor Muslim untuk menyatakan khamr ini sebagai obat sedangkan Nabi mensifatkannya sebagai penyakit?”

Abu Ghuddah menjawab, “Mungkin hadis tersebut dha’if (lemah), tidak sahih.”

Al-Albani menyatakan, “Mana mungkin hadisnya lemah, bukankah ia diriwayatkan dalam Shahih Muslim?”

Abu Ghuddah menjawab, “Untuk lebih jelas dan yakin, nanti kita akan semak lagi.”

Lalu ada orang lain menyampuk, “Jika hadisnya benar-benar sahih, adakah engkau akan menerimanya atau tetap berpegang dengan mazhab (mazhab Hanafi)?”

Abu Ghuddah menjawab dengan selamba, “Aku akan berpegang dengan mazhab.” (lihat: al-Albani, Muqaddimah Kasyfu Niqab ‘Amma fii Kitaab Abi Ghuddah).

NB : biografi Syaikh Al-albani :Klik Di sini

Abdul Fattah Abu Ghuddah adalah sekretaris jendral Ikhwanul Muslimin di Siria. Menimba ilmu dari al-Kautsari dan menjadi menantu Al-Kautsari dan pembela utama madrasah pemikirannya. Dia didaulat sebagai ahli hadits Ikhwanul Muslimin yang memiliki banyak karya tulis di bidang hadits. Menikah dengan puteri al-Kautsari dan menjadi menantunya. Mengikuti jejak mertuanya (al-Kautsari) di dalam membela ahlul bid’ah dan melariskan kesesatannya. Para ulama ahlus sunnah bangkit membantah penyimpangan-penyimpangannya, diantaranya adalah al-‘Allamah Bakr bin Abdillah Abu Zaid yang menulis Baro’atu Ahlus Sunnah minal waqii’ati fi Ulama`il Ummah dan Syaikh Syamsu al-Afghoni (salah seorang murid Imam Al-Albani dari Afghanistan) yang menulis buku al-’Umdah likasyfil Astaar ’an Asroori Abi Ghuddah. ed.

oleh Abu Namira Hasna Al-Jauziyah di

Di Kota Cimahi-Jawa Barat

Rabu 30 November 2011/ 5 Muharram 1433 H.

Beberapa Alasan Menolak Kebenaran


Beberapa Alasan Menolak Kebenaran

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Saudaraku pembaca yang budiman…

Kalau ada yang bertanya, “Kalau memang itu ajaran dan keyakinan  berdasarkan dari Al Quran dan As Sunnah serta dipahami oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu kenapa kebenaran itu tidak diikuti, diamalkan dan diajarkan, malah ditolak, dicela, diremehkan?”

Jawabannya saudaraku pembaca…ada beberapa perkara kenapa seseorang menolak kebenaran dan tidak mau mengikutinya alias “ngeyel” dalam kesalahan meskipun jelas-jelas keliru dan salah kaprah, perhatikan beberapa perkara berikut Lanjutkan membaca

Download Audio: Fitnah-Fitnah Di Akhir Zaman (Ustadz DR. Ali Musri, MA) (Karanganyar, 27 November 2011)


Fitnah  maknanya adalah cobaan atau ujian dari Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya dengan kebaikan atau keburukan, dengan nikmat atau musibah, maka ini adalah salah satu bentuk fitnah.  Ibnul Qayyim mengatakan bahwa fitnah itu ada dua macam: fitnahsyubuhat -yang merupakan fitnah paling besar- dan fitnah syahwat. Seorang hamba dapat terjangkit dua fitnah ini sekaligus, atau terjangkit salah satu saja tanpa lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25).

Bentuk-bentuk Fitnah : 1. Fitnah Perpecahan, 2. Fitnah: Musuh-musuh Islam bersekongkol terhadap kaum muslimin, 3. Fitnah Pembunuhan dan Kekacauan, 4. Fitnah Merajalelanya Zina, 5. Fitnah Harta

Jalan Keluar dari Fitnah : 1.Menyibukkan diri dengan Ibadah, 2. Menuntut Ilmu Syar’i, 3.Menjauhi Tempat dan Sebab Munculnya Fitnah, 4. Mengembalikan Persoalan kepada Pemerintah dan Ulama, 5.Tetap Bersatu dalam Barisan Kaum Muslimin dan Imam Mereka, 6. Menahan diri dari berbicara dan tidak menerima isu-isu yang berkembang, serta berusaha mengikutinya, 7.Memohon Perlindungan Kepada Allah Ta’ala.

Selengkapnya silahkan baca dan simak dalam materi berikut ini, semoga bermanfaat

Makalah Kajian

Makna dan Jenis Fitnah

Jalan Keluar dari Fitnah

sumber : Radio Suara Quran

Pijakan asya`iroh dalam menentukan dan membatasi Sifat Allah (bagian 2)


Pijakan asya`iroh dalam  menentukan dan membatasi Sifat Allah (bagian 2)

Oleh Ustadz Abu Nu`am al-Atsari

Aggapan Bahwa Dzahir Nash-Nash sifat Berkonsekuensi Tasybih(penyerupaan)sehingga harus di ta`wil.

 Ini adalah landasan mereka pula dalam menentukan dan membatasi sifat Allah. Maka kita dapati Ibnu Furok menta`wil seluruh nash-nash sifat dalam kitabnya : Musykilul Hadist. Dia membuat bab : “penyebutan khobar yang harus di ta`wil dan yang dzohirnya berkonsekuensi Tasbih”. Oleh karena itu Asy`iroh menta`wil seluruh nash yang menurut anggapan mereka berkonsekuensi tasybih. Sehingga di antara mereka bersyair dan sekaligus menjadi pijakan mereka : setiap nash yang berkonsekuensi tasybih ta`willah dia dan serahkan maknanya kepada Allah, dan carilah penyucian(bagi Allah subhanahu wa ta`ala).

Al-Baijuri menjelaskan makna syair di atas :

“yang dimaksud nash di sini adalah lawan dari kias(analogi),istimbath dan ijma`. Yaitu dalil dari kitab atau sunnah baik secara shorih (gamblang) atau dzohir” (Tuhfatul Muriidi `Ala Jauhari At-Tauhid hal. 56). Lanjutkan membaca

Download Audio Ustadz Ali Musri : “Kemandirian Umat” di Masjid Raya Cipaganti-Bandung


Bismillah. Alhamdulillah,kini ana hadirkan rekaman ta`lim ustadz Ali Musri Senjam Putra, M.A dengan tema : “Kemandirian Umat” yang diadakan di masjid Raya Cipaganti pada Sabtu Sore pada tanggal 26 November 2011, pukul 16.30- 17.30. sebelum di download, seperti biasa, agar bisa mendengarkan rekaman kajiannya, harus menggunakan GOM player, jika mau download, klik :  Free Download from brothersoft.com

silahkan download rekaman audionya di :

: http://www.jalurcepat.com/685f0v150kge/ustadz_Ali_Musri-_Kemandirian_Umat.htm

disebarluaskan oleh : Maktabah Online Abu Namira