DIALOG BERSAMA AL-MALIKI (Bantahan Tuntas Terhadap Manipulasi dan Kesesatan Al-Maliki) oleh : Syaikh Abdullah Bin Sulaiman Bin Mani’ [ bagian terakhir].


PENUTUP
Barangkali sebagian pembaca buku ini bertanya-tanya, jika Maulid Nabi yang mulia itu bid’ah, mengapa hal itu didiamkan ulama dan dibiarkan, hingga tersebar dan berkembang, bahkan menjadi bagian dari akidah kaum Muslimin? Bukankah menjadi kewajiban bagi mereka untuk mengingkarinya sebelum permasalahan ini semakin parah dan mengakar. Mengapa mereka tidak melakukan hal itu?
Kami jawab, bid’ah semacam ini telah ditolak ulama sejak pertama kemunculannya. Mereka telah menulis buku untuk membantahnya. Siapa yang punya kesempatan membaca buku Al-Madkhal, Ibnul Hajj, ia tahu hal itu. Di antara sanggahan berbobot tentang masalah ini buku yang ditulis Syaikh Tajuddin Umar bin Al-Lakhmi Al-Iskandari, faqih madzhab Maliki, penga-rang kitab Syarhu Al-Fakihani dari risalah Ibnu Abi Zaid Al-Qairuwani. Buku itu diberi judul Al-Maurid fi Al-Kalami ‘anil Maulid. Kami akan mengutip nashnya pada penutup ini. Sayangnya, saat umat berada pada zaman kemunduran semangat untuk menyambut kebaikan dan perbaikan melemah. Pada saat yang sama, mereka punya kekuatan untuk menyambut seruan keja-hatan dan kerusakan. Sebab, badan yang sakit dapat terpengaruh oleh penyakit paling sederhana yang menimpanya, sementara badan yang sehat tidak gampang terpengaruh kecuali oleh penya-kit paling kuat dan berbahaya. Contoh kasat mata yang biasa kita saksikan bahwa dinding yang kokoh kuat sulit dirobohkan oleh beliung dan kampak, sedang dinding rapuh yang hendak roboh akan roboh hanya oleh hembusan angin atau depakan kaki. Oleh karena itu, keberadaan bid’ah ini dalam masyarakat Islam tidak menunjukkan ketiadaan pengingkaran ulama terhadapnya.
Inilah buku Tajuddin Al-Fakihani yang pengantarnya sudah menunjukkan pengingkarannya terhadap perayaan Maulid. Setelah memanjatkan pujian dan sanjungan kepada Allah yang memang pemiliknya, ia berkata, “Amma ba’du, telah berulang-ulang dikemukakan pertanyaan tentang sekelompok orang yang mengharap berkah, yakni perkumpulan yang dilakukan sebagian orang pada bulan Rabi’ul Awwal atau yang mereka namakan Maulid, apakah hal itu ada dasarnya di syariat Islam atau bid’ah dan perkara baru dalam agama?
Mereka ingin masalah ini dijawab dengan jelas dan gam-blang. Saya katakan berkat taufiq Allah, saya tidak tahu dasar syar’i peringatan Maulid di Al-Qur’an dan Sunnah. Juga tidak ada ceritanya hal itu dilakukan salah seorang ulama umat ini, padahal mereka teladan agama yang berpegang teguh kepada atsar generasi terdahulu. Perbuatan itu bid’ah dan dilakukan orang-orang batil dan nafsu yang memuaskan tukang makan. Jika kita memberlakukan lima hukum dalam Islam padanya, kita bisa katakan bisa jadi hukumnya wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram. Yang jelas perayaan Maulid bukan wajib atau sunnah menurut ijma’ ulama, karena sunnah adalah apa yang dituntut Allah dan Rasul-Nya tanpa ada cercaan saat meninggalkannya. Sedang ini tidak diizinkan Allah dan Rasul-Nya dan tidak dilakukan, setahu saya, oleh para sahabat, tabi’in, ulama yang taat. Inilah jawabanku tentang perbuatan ini di depan Allah Ta’ala jika saya ditanya tentang masalah ini. Perayaan Maulid juga bukan mubah, karena bid’ah dalam agama bukan mubah menurut kesepakatan kaum Muslimin. Jadi, tidak ada sisa hukum lain selain makruh atau haram. Pembicaraan ini mesti menyangkut dua pembahasan serta perbedaan antar keduanya,
Pertama, perayaan Maulid dilakukan seseorang dengan hartanya untuk keluarga dan sahabatnya di rumahnya. Di perkumpulan itu, mereka tidak mengadakan makan-makan dan tidak melakukan dosa apapun.
Inilah yang kita kategorikan bid’ah makruh dan jelek, sebab perbuatan ini tidak dilakukan orang-orang taat yang terkemuka, fuqaha Islam dan ulama, lentera segala zaman dan hiasan semua tempat.
Kedua, perayaan Maulid sudah dicemari dosa dan dijadikan ibadah andalan, di mana seseorang rela mempersembahkan apa yang dimilikinya sedang jiwanya mengikutinya, hatinya merasa sakit dan merintih karena sakitnya perbuatan dosa. Para ulama berkata, mengambil harta dengan malu-malu sama dengan mengambilnya dengan pedang. Apalagi hal itu dilakukan dengan nyanyian dan perut penuh dengan makanan, alat musik seperti rebana dan seruling. Pertemuan antara orang tua dan anak muda polos serta wanita pengundang fitnah, baik para wanita itu bercampur dengan para laki-laki atau tidak, juga diiringi tarian dengan anggukan dan lenggak-lenggok, hanyut dalam hura-hura lupa hari yang menakutkan. Demikian pula para wanita jika mengadakan pertemuan antar sesama mereka, mengeraskan suara mereka mendayu merdu dalam alunan lagu, mereka keluar untuk melakukan tilawah dan dzikir yang tidak disyariatkan dan hanya adat semata. Mereka melupakan firman Allah,
“Sesungguhnya Tuhanmu selalu mengawasi.”
Jenis inilah yang disepakati keharamannya dan tidak dianggap baik oleh orang yang punya hati bersih. Perbuatan itu dilakukan orang yang hatinya telah mati, risau oleh dosa dan kesalahan. Saya tambahkan untuk Anda bahwa mereka juga menganggapnya ibadah, bukan perbuatan mungkar dan haram. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un.( Lihat, Al-Inshaf, halaman 53-55.)
Akhirnya, saya berharap Allah Ta’ala berkenan memberi-nya hidayah dan mengembalikannya ke jalan yang lurus. Seruan terakhir kami, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam untuk nabi kita Muhammad, keluarga, dan semua sahabat beliau.
Harar, 3 Sya’ban 1403.

Abdullah bin Sulaiman bin Mani’
Hakim Pengadilan Kasasi, Makkah Mukarramah dan Anggota Haiah Kibaril Ulama.

UCAPAN MAAF DAN TERIMA KASIH
Sebelum saya letakkan pena untuk mengucapkan selamat tinggal kepada pembaca budiman, batin saya menuntut mempersembahkan terima kasih dan penghargaan kepada Dewan Pimpinan Umum Lembaga Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan. Terutama ketuanya yang terhormat, aktivis dan mujahid di jalan Allah, Syaikh kita Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, wakil beliau yang jujur, Syaikh Ibrahim bin Shalihi Alu Syaikh, sekretaris dan orang kepercayaan beliau yang bertakwa dan shalih, Ibrahim bin Abdurrahman Al-Hushain, doktor yang jujur dan benar, prajurit tak dikenal di medan ilmu dan dakwah menuju Allah, Syaikh Muhammad bin Sa’ad As-Syuwai’ir, pemimpin redaksi majalah Al-Buhutsul Islamiyah.
Untuk mereka semua selain mereka yang memiliki sumbangan berharga dalam mengoreksi buku ini sebelum dicetak, catatan dan arahan serta ralat. Secara khusus, saya sebutkan di antara mereka, Syaikh kita yang mulia Abdurrazzaq Afifi dan dua orang kawan, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Bassam dan Syaikh Muhammad bin Shalih bin Utsaimin. Saya persembahkan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada mereka semua serta doa kepada Allah Ta’ala agar tidak mengharamkan pahala dari jerih payah yang dikerahkan dalam rangka membela akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan tidak mengharamkan pahala sumbangan dan bantuan yang mereka berikan kepada saya, demi munculnya buku ini, sebagai bagian dari pembelaan terhadap akidah dan mempertahankan kejernihan dan kejelasannya pada sasaran yang jelas, malamnya bagai siangnya dan tidak ada yang menyimpang darinya kecuali ia binasa.
Ucapan terima kasih dan penghargaan terbesar saya persembahkan kepada yang mulia DR. Muhammad As-Syuwai’ir, karena ia telah menempuh beban paling berat demi terbitnya buku ini dalam cetakan yang bagus dan terkoreksi. Mudah-mudahan Allah membalasnya dengan kebaikan dan memberatkan timbangannya di hari kiamat atas jerih payah yang ia lakukan.
Saya juga tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada yang siapa saja yang berhak mendapatkannya, mendoakan mendapatkan rahmat untuk syaikh kita yang mulia, Syaikh Abdullah bin Humaid. Saya berdoa mudah-mudahan Allah menempatkan-nya di surga-Nya yang luas dan tidak mengharamkan pahala buku ini untuknya, yang berisi pembelaan kepada akidah dan bantahan terhadap kemungkaran dan kesesatan.
Mudah-mudahan Allah merahmatinya dan menjadikan kuburannya sebagai taman di antara taman-taman surga. Ia pembimbing pertama saya dalam penulisan buku ini dan menyarankan saya membantah Maliki.
Saya minta maaf kepada pembaca budiman atas keterbatasan saya dalam menyampaikan setiap tema, terutama dari sisi ilmiah dalam membantah kemungkaran. Apalagi di antara sidang pembaca ada yang punya perasaan kuat untuk mengingkari apa yang diajarkan Muhammad Maliki, kemungkaran dan kesesatan. Inilah sedikit upaya saya dan sebaik-baik sedekah adalah upaya orang yang serba terbatas.

Allah Maha Penolong dan shalawat serta salam untuk Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat.

BUKU RUJUKAN
1. Al-Qur’anul Karim.
2. Tafsir Ibnu Katsir.
3. Tafsir Ibnu Jarir At-Thabari.
4. Tafsir Al-Qurthubi.
5. Shahih Bukhari
6. Shahih Muslim
7. Shahih An-Nasa’i.
8. Musnad Al-Imam Ahmad.
9. Sunan Abi Dawud.
10. Sunan At-Tirmidzi.
11. Sunan Ibnu Majah.
12. Fathul Bari fi Syarhil Bukhari, Ibnu Hajar.
13. Syarhu Shahih Muslim, An-Nawawi.
14. Muntaqa Al-Akhbar, Al-Majdi dan syarahnya, Nailul Authar.
15. Qiyamu Al-Lail, Abu Abdullah Muhammad bin Nashr Al-Marwazi.
16. Jami’ul Ulumi wa Al-Hikam, Ibnu Rajab.
17. Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarakfuri.
18. Kitabu At-Tauhid Alladzi Huwa Haqqullahi ‘alal Abid, Syaikh Muhammad Abdul Wahhab.
19. Fathul Majid fi Syarhi Kitabu At-Tauhid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan.
20. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, susunan Syaikh Abdurrahman bin Qasim.
21. Iqtidhau As-Shirathil Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
22. Al-I’tisham, As-Syathibi.
23. Al-Madkhal, Ibnul Hajj.
24. Tanbihul Ghafilin, Ibnu An-Nahhas.
25. Al-Mughni, Ibnu Qudamah.
26. Fatawa Muhammad Rasyid Ridha.
27. Al-Inshaf fima Qiila fi Al-Maulid min Al-Ghuluw wa Al-Ijhaf, Abu Bakar Al-Jazairi.
28. Arsip Keputusan Hai’ah Kibari Al-Ulama.

sumber : http://www.alsofwah.com