DIALOG BERSAMA AL-MALIKI (Bantahan Tuntas Terhadap Manipulasi dan Kesesatan Al-Maliki) oleh : Syaikh Abdullah Bin Sulaiman Bin Mani’ [7]


————————————————————————————————————————————————————
DALIL KESEMBILAN BELAS: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA
Maliki menyebutkan dalil kesembilan belas, dengan berkata,
“Apa saja yang didukung dalil-dalil syar’i, pembuatannya tidak dimaksudkan untuk melanggar syariat, dan tidak ada unsur kemungkarannya, maka termasuk ajaran agama. Perkataan orang fanatik bahwa hal ini tidak pernah dilakukan ulama salaf bukan menjadi dalil. Ini diketahui betul oleh orang-orang yang mempelajari ushul fiqh. Allah dan Rasul-Nya menamakan bid’ah memberi petunjuk sebagai Sunnah dan menjanjikan pahala bagi pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa melakukan kebiasaan baik dalam Islam, lalu dikerjakan orang sesudahnya, ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun’.”
Dalil ini pengulangan dalil kelima belas. Jika dalil kelima belas telah dipaparkan Maliki dan dibantah secara global dan rinci. Dalil kesembilan belas ini merupakan ringkasan dalil kelima belas. Kita layani Maliki di pengulangan perkataannya yang membosankan. Kita katakan, perayaan Maulid tidak didukung dalil syar’i, baik dalil umum maupun khusus. Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, masa sahabat, masa tabi’in, dan masa tabi’ tabi’in, tidak ada ada seorang pun yang menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam bentuk massal maupun perorangan. Juga tidak ada pembacaan syair-syair pujian untuk beliau di perayaan Maulid pada setiap tahun. Syair-syair pujian hanya dibacakan pada moment dan kondisi tertentu. Hadits yang menunjukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari Senin setiap pekan dan analisis bahwa hari Senin hari kelahiran beliau bukan dalil disyariatkannya perayaan Maulid. Sebab puasa satu hari setiap pekan tidak sama dengan perayaan Maulid setiap tahun. Di perayaan Maulid terdapat berbagai kemungkaran, syirik, dan kebatilan yang hanya diketahui Allah. Puasa hari Senin merupakan kebaikan mutlak, sedang perayaan Maulid jika tidak merupakan kejahatan mutlak maka madharatnya tidak sebanding dengan kebaikannya jika ada. Ketika ditanya tentang puasa hari Senin dan Kamis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّهُمَا يَوْمَانِ تُعْرَضُ اْلأَعْمَالُ فِيْهِمَا عَلَى اللهِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ.
“Hari Senin dan Kamis merupakan hari semua amal dihadapkan kepada Allah. Aku ingin amalku dihadapkan, sementara aku dalam keadaan puasa.”
Jadi, puasa Senin hukumnya sunnah disebabkan beberapa hikmah. Hikmahnya yang paling penting ialah hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan, hari turunnya Al-Qur’an, dan perbuatan hamba diperlihatkan kepada Allah pada hari itu. Kami katakan kepada Maliki, perayaan Maulid merupakan bid’ah yang bertentangan dengan syariat, tidak punya landasan hukum dalam Islam, tidak pernah dikerjakan generasi yang layak menjadi rujukan, orang-orang yang jejak mereka perlu diikuti, diteladani, dan dijadikan petunjuk: para sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in. Perayaan Maulid merupakan bid’ah yang diciptakan makhluk terjelek di muka bumi: orang-orang Qaramithah dan Rafidhah. Jika perayaan Maulid itu baik, tentu sudah dikerjakan sejak dulu oleh orang-orang yang lebih antusias pada kebaikan daripada kita, orang-orang yang lebih tahu jalan menuju kebaikan daripada kita, orang-orang yang lebih bertakwa dalam mengikuti petunjuk daripada kita, orang-orang yang lebih jujur cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada kita, dan apa saja yang beliau cintai, yaitu manhaj kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dengan meninggalkan manhaj sebagai jalan jelas untuk kita: malamnya bagai siang dan siapa saja menyimpang darinya maka binasa. Setelah ayat terakhir turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3).
Tidak dibenarkan mengadakan perayaan Maulid dengan dalih ingin menyempurnakan agama dan nikmat, serta meridhai Islam sebagai agama kita. Apakah Tuhan Anda lupa? Allah Mahatinggi dan Mahasuci. Ataukah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak serius menyampaikan risalah dan lupa menyampaikan perintah melaksanakan perayaan Maulid? Apakah beliau sengaja mengharamkan kita mendapat pahala agung dan kedekatan dengan Allah Ta’ala saat beliau tidak mau menjelaskan kepada kita keutamaan besar pada perayaan Maulid dan kebaikan luas, seperti anggapan dan dugaan tokoh bid’ah, Muhammad Alwi Maliki? Mahasuci Engkau ya Allah, ini tuduhan keji.
Adapun pernyataan Maliki bahwa perayaan Maulid tidak mengandung unsur kemungkaran, maka tidak benar, baik secara global atau rinci. Maliki sendiri tahu kebohongannya dan kebatilan ucapannya.
Di perayaan Maulid terjadi hubungan bebas antara laki-laki dengan wanita, pementasan musik, tarian, dan nyanyian, baik sendiri-sendiri atau massal. Juga pemborosan jamuan makan dengan berbagai macam makanan dan minuman. Juga ada penggalangan dana dengan cara menipu orang-orang yang tidak berakal sehat.
Walaupun Maliki dapat membersihkan perayaan Maulid dari berbagai kemungkaran. Pada kenyataannya, seabrek kemungkaran itu merupakan ciri khas perayaan Maulid. Jika Maliki tidak mengakui hal-hal ini di praktek perayaan Maulid, ia tidak mampu mengingkari hal lain yang lebih parah lagi. Yaitu syair-syair pujian yang dibacakan di perayaan Maulid. Syair-syair tersebut sangat berlebihan dan mengangkat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada derajat rububiyah dan uluhiyah. Menurut syair-syair itu, beliau punya hak tidak memberi dan hak memberi, kekuasaan tidak terbatas atas segala sesuatu, beliau tempat berlindung, pemelihara, tempat bergantung, memiliki kunci-kunci langit dan bumi, cahaya yang tidak ada bayangannya di matahari dan bulan, semua makhluk diciptakan demi beliau, kuburan beliau lebih mulia dari Ka’bah, malam kelahiran beliau lebih mulia dari Lailatul Qadar, beliau memiliki hak membagi lahan di surga, dan mengetahui lima perkara yang merupakan hak prerogatif Allah, padahal Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34).
Juga klaim bahwa perbuatan manusia diperlihatkan kepada beliau dan hal-hal lain yang tidak pernah dikatakan Abu Jahal, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, tokoh kafir, syirik, dan durhaka lain. Mereka saja mengakui rububiyah Allah dan mengemukakan alasan atas ibadah mereka kepada berhala, “Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3).
Maliki juga tidak mampu mengingkari berbagai khayalan dan ilusi di perayaan Maulid, yaitu kehadiran ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kewajiban berdiri bagi hadirin sebagai penghormatan pada beliau. Keyakinan semacam ini membuka pintu-pintu bagi setan berikut pembantu-pembantunya dari kalangan jin dan manusia untuk merusak umat dan menjauhkan mereka dari wirid-wirid bersih di syariat Islam. Juga menimbulkan dampak buruk, yaitu terpecah-belahnya umat, kerusakan akidah mereka, dan menjamurnya kelompok-kelompok sesat di antara mereka, seperti Qadiyani, Ismailiyah, Nushairiyah, berbagai tarikat kaum sufi, dan Rafidhah.

Apakah setelah ini Maliki bisa berkata perayaan Maulid tidak mengandung kemungkaran? Setelah kita membongkar seabrek kemungkaran dan syirik di perayaan Maulid dan Maliki dengan akal yang dianugerahkan Allah kepadanya mampu membedakan kebenaran dengan kebatilan, maka apakah setelah ini ia mengakui bahwa perayaan Maulid itu bid’ah, tidak didukung dalil-dalil syar’i, bertentangan dengan tujuan syariat, mengandung kerusakan dan kemungkaran, serta membuka seluas-luasnya pintu-pintu syirik kepada Allah?

DALIL KEDUA PULUH: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA
Maliki menyebutkan dalil kedua puluh, dengan berkata,
“Perayaan Maulid itu upaya ingat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut hemat kami, hal ini disyariatkan dalam Islam. Anda lihat mayoritas ritual haji itu untuk mengingatkan berbagai kejadian dan peris-tiwa terpuji. Sa’i antara Shawa dan Marwah, melempar jumrah, dan penyembelihan qurban di Mina. Itu semua kejadian-kejadian masa lalu yang direkontruksi kembali oleh kaum Muslimin dengan cara baru.”
Tadinya, kita berprasangka baik pada Maliki bahwa ia punya kualitas ilmu, pemahaman, dan nalar cukup baik. Setelah membaca tulisan tangannya yang durhaka, cacat, dan berlumuran racun, kita tahu dia sangat bodoh dan sesat, tentara iblis paling taat mengajak orang menyekutukan Allah dan menggiring umat kepada jahiliyah. Bahkan, ia melakukan tindakan yang tidak pernah dilakukan Abu Jahal, Abu Lahab, Ubai bin Khalaf, tokoh-tokoh syirik, kafir, dan durhaka lainnya. Maliki mengajak orang kepada jahiliyah yang mengingkari keesaan Allah Ta’ala dan rububiyah-Nya saat ia berserta pengikutnya menyeru bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mitra Allah dalam menggenggam kunci-kunci langit dan bumi, memiliki hak membagi lahan di surga, memiliki ilmu tidak terbatas, termasuk ilmu Lauh Mahfudz, pena, ruh, lima ilmu yang menjadi hak prerogatif Allah, kuburan beliau lebih mulia dari Ka’bah, malam kelahiran beliau lebih mulia dari Lailatul Qadar, beliau memiliki cahaya yang tiada bayangannya di bawah sinar matahari dan bulan, bualan dan kebatilan lainnya. Demikian pula hal-hal baru dan keanehan-keanehan yang ia se-butkan di bukunya yang jelek, Adz-Dzakhair Al-Muhammadiyah. Ia mengajak orang mengingkari keesaan Allah dan uluhiyah-Nya saat ia memberikan hal-hal suci kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal semestinya diberikan kepada Allah Ta’ala. Ia menganggap beliau tempat berlindung, pelenyap bencana besar, dan jika beliau tidak menghilangkan bencana, siapa lagi yang patut dimintai selain beliau?
Al-Bushairi, panutan Maliki, berkata,
“Hai orang paling mulia, aku tidak punya tempat berlindung
selain kepadamu saat terjadi musibah.”
Al-Bakri, guru Maliki yang lain, berkata,
Serulah beliau sesungguhnya krisis telah meningkat
Dan kondisi kritis semakin membesar
Hai orang paling mulia di sisi Tuhannya
Dan orang paling baik dijadikan sarana berdoa
Aku menderita sakit
Engkau seringkali menghilangkan petaka
Dan sebagiannya hilang sendiri
Hilangkan penyakitku dengan segera
Jika tidak, kepada siapa aku meminta?”
Saya menderita gara-gara sikap keras saya terhadap Maliki dan menjulukinya dengan sifat-sifat menyakitkan. Namun, ini marah di jalan Allah Ta’ala, sikap tegas di medan tauhid, ghirah terhadap hak-hak Allah, dan meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau orang yang besar kecemburuannya kepada hak-hak Allah, bersemangat menjaga keutuhan tauhid, dan antusias agar umat mengetahui kedudukan beliau seperti diberikan Allah kepada beliau.
Disebutkan di Sunan Nasai dengan sanad yang baik hadits dari Anas radhiallahu ‘anhu,
قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ يَا خَيْرَنَا وَابْنَ خَيْرِنَا وَسَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا. فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ. أَنَا مُحَمَّدٌ، عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، مَا أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوْقَ مَنْزِلَتِي الِّتِيْ أَنْزَلَنِيَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
“Beberapa orang sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang terbaik kami, anak orang terbaik kami, penguasa kami dan anak penguasa kami.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai manusia, berkatalah secara wajar dan jangan sampai setan menjerumuskan kalian. Aku Muhammad. Aku hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak ingin kalian mengangkatku di atas kedudukan yang diberikan Allah Ta’ala kepadaku’.” (Diriwayatkan An-Nasai).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak ucapan mereka yang berlebihan dan berargumen bahwa setan masuk pada manusia untuk merusak agama mereka melalui jalan ini. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menutup jalan itu dan memangkas apa saja yang menjurus kepadanya. Kelak, Allah Ta’ala menghisab Maliki beserta para syaikhnya, pemimpinnya, dan pengikutnya, yang membuka pintu syirik untuk umat. Mereka memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berlebihan, persis seperti orang-orang Kristen yang memuji Isa bin Maryam secara berlebihan. Orang-orang Kristen berkata, “Isa putra Allah.” Sedang Maliki beserta pengikutnya mengatakan Muhammad mitra Allah dalam memiliki kunci-kunci langit dan bumi, beliau tempat berlindung dan bernaung, di antara ilmu beliau adalah ilmu tentang Lauh Mahfudz, pena dan ruh, beliau dapat menyingkap segala derita, dan ucapan lain yang menjadi daftar syirik Maliki kepada Allah, baik dalam rububiyah maupun uluhiyah-Nya.
Benar, Maliki mengatakan di dalil kedua puluh, “Haji merupakan upaya mengingat kejadian-kejadian bersejarah, misalnya sa’i, melempar jumrah, dan berkorban. Kenapa kita tidak menerapkan hal ini pada Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, dan lain-lain?
Subhnallah, Maliki tidak cukup menyejajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah. Ia makin menjadi-jadi hingga menyamakan dirinya dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam penentuan hukum.
Kita tidak tahu apakah terhadap orang sekaliber Maliki, kita perlu mengulangi komentar ulama yang telah kita sebutkan? Mereka melarang melakukan qiyas dalam ibadah dan menganalogikan bid’ah dengan mashalih mursalah atau istihsan itu analogi yang tidak pada tempatnya. Sebab, ibadah didasarkan pada sikap menerima secara mutlak tanpa melihat sebab-sebabnya secara rinci yang merupakan syarat-syarat dalam qiyas. Kita juga telah menyebutkan perkataan panjang As-Syathibi yang membeberkan hal itu.
Kita juga tidak tahu apakah kita boleh berdiskusi dengan orang seperti Maliki? Ataukah ia berada dalam kubangan bid’ah dan upaya membangun basis massa yang dikendalikan kedunguan, kebodohan, kesesatan, keluguan, dan mencampakkan akal pikiran di pojok rak, agar penipuan dan pembodohan yang ia lakukan menuai sukses besar, lalu ia mendapatkan penghargaan dan penghormatan, dalam bentuk ucapan atau sikap.
Kami sudah sering mengatakan bahwa kami komitmen mengikuti Sunnah, bukan melakukan bid’ah. Kami komitmen meneladani dan mengikuti apa saja yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Kami semua diwanti-wanti untuk tidak mengerjakan bid’ah oleh lisan Rasul Tuhan semesta alam, “Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dan apa yang dilarangnya pada kalian maka tinggalkan.” (Al-Hasyr: 7).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa membuat hal-hal baru di urusan (agama) kami, padahal tidak termasuk bagiannya, maka tertolak.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka tertolak.”
Dan,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
“Tinggalkan hal-hal baru yang diada-adakan, karena hal baru itu bid’ah, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan masuk neraka.”
Para sahabat meniru adab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menolak bid’ah dan melarang terperosok ke dalamnya. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Ikuti Sunnah dan kalian jangan membuat bid’ah, karena Sunnah sudah cukup bagi kalian.”
Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata, “Setiap ibadah yang tidak dilakukan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jangan kalian lakukan, karena orang pertama tidak meninggalkan ucapan bagi orang terakhir. Bertakwalah kepada Allah wahai para qari’ dan tempuhlah jalan orang-orang sebelum kalian.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan manhaj untuk kita dengan sasaran jelas, malamnya bagai siang, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali ia binasa. Seluruh kebaikan telah beliau tunjukkan kepada umat. Beliau mewanti-wanti mereka untuk tidak mengerjakan keburukan, menyampaikan risalah dengan sempurna, menunaikan amanah, dan menasihati umat secara konkrit. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128).
Pantaskah kita membuang sasaran jelas, syariah yang toleran, dan universal ini, lalu beralih mendengarkan perkataan iblis melalui lisan Maliki? Pernyataan Maliki bahwa ibadah haji merupakan upaya mengingat peristiwa-peristiwa bersejarah itu mengharuskan kita menerapkannya pada Maulid dan upacara lainnya. Pernyataan ini mengingatkan kita pada kisah terjadinya syirik di bumi untuk pertama kalinya.
Di Shahih Bukhari disebutkan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang tafsir firman Allah, “Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, yauq dan nasr.” (Nuh: 23). Ini semua nama orang-orang shalih kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisiki kaum mereka agar membuat patung-patung di majelis-majelis mereka dulu dan menamakan patung-patung itu dengan nama-nama mereka. Kaum mereka mengerjakan perintah setan dan patung-patung tersebut tidak disembah. Setelah generasi tersebut meninggal dunia dan latar belakang pembuatan patung-patung itu tidak diketahui lagi, maka patung-patung itu disembah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Banyak ulama salaf mengatakan, ketika orang-orang shalih tersebut meninggal dunia, maka orang-orang melakukan pertapaan di kuburan mereka, kemudian membuat patung-patung mereka. Lambat laun orang-orang menyembah patung-patung itu.”

DALIL KEDUA PULUH SATU: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA
Maliki menyebutkan dalil kedua puluh satu, dengan berkata,
“Dalil-dalil yang telah kami sebutkan berlaku untuk Maulid yang bersih dari kemungkaran tercela yang wajib ditolak. Jika Maulid berisi hal-hal yang mesti ditentang, misalnya hubungan bebas antara laki-laki dengan perempuan, praktek-praktek haram, dan banyaknya pemborosan yang tidak diridhai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka haram dan dilarang, karena ada praktek-praktek haram. Namun, pengharaman ini bersifat insidentil, bukan pengharaman Maulid itu sendiri. Hal ini diketahui siapa saja yang merenungkannya.”
Sebenarnya, ini bukan dalil, tapi pembelaan Maliki bahwa Maulidnya tidak mengandung unsur tari-tarian, nyanyian, hubungan bebas antara laki-laki dengan perempuan, dan pemborosan di meja makan. Jika Maulid berisi itu semua, maka haram, namun bukan hukum Maulidnya yang haram, tapi haram insidentil karena ada kemungkaran. Jika kemungkaran dihilangkan, Maulid menjadi sesuatu yang disyariatkan. Inilah pandangan dan ketetapan Maliki.
Kami sudah seringkali mengatakan bahwa Maulid mengandung kekafiran kepada Allah: uluhiyah dan rububiyah-Nya, merusak kehormatan akal sehat karena dipaksa meyakini kehadiran ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau ruh lainnya di pertemuan semacam ini, dan diharuskan berdiri untuk menghormati ruh tersebut.
Maulid seperti ini mengandung syirik yang sangat besar dosanya, layak ditentang, dan tidak etis tidak dilakukan orang yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul. Hal-hal yang tidak diakui Maliki pada perayaan Maulid termasuk kemaksiatan, yang memasukkan pelakunya di bawah rahmat Allah: jika berkehendak, Dia menyiksanya dan jika berkehendak maka merahmati dan mengampuninya. Apa yang ditulis di buku-buku Maulid juga termasuk syirik, yang dikatakan Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa menye-kutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 116).
Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang menyekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” (Al-Maidah: 72).

Berdasarkan keterangan di atas, maka kami cukupkan sampai di sini saja bantahan kami terhadap Maulid-nya Maliki, walaupun bersih dari hubungan bebas antara laki-laki dengan perempuan, nyanyian, dan tarian.

insya Allah bersambung