DIALOG BERSAMA AL-MALIKI (Bantahan Tuntas Terhadap Manipulasi dan Kesesatan Al-Maliki) oleh : Syaikh Abdullah Bin Sulaiman Bin Mani’ [5]


———————————————————————————————————————————————————
DALIL KETIGA BELAS: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA

Maliki menyebutkan dalil ketiga belas, dengan mengatakan,
“Perayaan Maulid adalah pertemuan untuk dzikir, bersedekah, memuji dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Perayaan Maulid hukumnya sunnah dan acara-acara di dalamnya seperti itu perintah syar’i, terpuji, didukung hadits-hadits shahih, dan dianjurkan.”
Kita punya beberapa catatan untuk Maliki terkait dengan argumennya di atas.
Catatan Pertama:
Maliki menyatakan perayaan Maulid adalah pertemuan untuk berdzikir, bersedekah, dan lain sebagainya. Kita katakan kepadanya, betul perayaan Maulid berisi hal-hal seperti itu, namun pertemuan tersebut sarat dengan kemungkaran-kemungkaran. Misalnya, pertemuan bebas antara kaum laki-laki dengan kaum wanita dan pementasan musik dengan aneka ragam alat-alatnya. Jika perayaan-perayaan Maulid Maliki bersih dari kemungkaran seperti ia nyatakan di bukunya, maka perayaan-perayaan Maulid-nya, seperti ia akui, mendidik akal untuk mempercayai ilusi, takhayul batil, dan keyakinan murahan. Sebab, orang-orang yang menghadiri perayaan Maulidnya meyakini kehadiran ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendukung perayaan Maulid. Tidak berlebihan jika dikatakan perayaan Maulid tidak lain pelecehan terhadap akal, penyebaran keyakinan picisan, sarat dengan kemungkaran seperti campur baur antara kaum laki-laki dengan kaum wanita, pagelaran musik, sajian makanan dan minuman secara berlebihan, ajang pemborosan dana, dan hal-hal lain yang diketahui sendiri Maliki beserta kelompoknya di dalam dan luar negeri. Apakah pertemuan seperti itu acaranya dan kondisinya yang tidak etis itu perintah syar’i? Mahasuci Allah, ini kebohongan besar. Jika perayaan Maulid, seperti diakui Maliki, adalah pertemuan untuk berdzikir, bersedekah, memuji dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dzikir dimaksud ialah pembacaan buku-buku tentang Maulid, bukti-bukti kebaikan, dan ajakan-ajakan kepada syirik, bid’ah, memuji kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berlebihan hingga mengangkat posisi beliau ke posisi rububiyah dan uluhiyah. Sedekah dimaksud ialah menghidangkan makanan dan minuman kepada para hadirin tanpa terkecuali, baik orang baik-baik, orang jahat, orang kaya, atau orang miskin. Seperti diketahui orang-orang ahli perayaan Maulid, biasanya di perayaan Maulid dilakukan penggalangan dana. Para hadirin datang dengan jiwa yang terpengaruh upaya penyesatan lalu memberi bantuan yang sebenarnya melebihi kebutuhan perayaan Maulid, lantas dana tersebut diambil petugas dan seterusnya diberikan kepada Maliki dan kelompoknya, para pemimpin perayaan Maulid. Sedang yang dimaksud dengan pujian dan sanjungan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ialah pembacaan syair atau bisa jadi baju gamis Utsman.
Pada perayaan-perayaan Maulid dilakukan pembacaan syair-syair Al-Bushairi dan pujian-pujian lain yang menempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke posisi rububiyah dan uluhiyah. Seperti syair,
“Hai orang paling mulia, aku tidak punya tempat berlindung
Selain kepadamu saat terjadi musibah
Jika pada hari kiamat, engkau tidak memegang tanganku sebagai bentuk kemuliaan
Maka katakan, hai orang yang celaka
Di antara bukti kedermawananmu ialah dunia dan seisinya
Dan di antara pengetahuanmu ialah pengetahuanmu tentang Lauh Mahfuzh dan pena.”
Contoh lain, perkataan Al-Bakri,
“Berlindunglah kepada beliau di apa saja yang engkau harapkan
Karena beliau tempat aman dan tempat berlindung
Serulah beliau sesungguhnya krisis telah meningkat
Dan kondisi kritis semakin membesar
Hai orang paling mulia di sisi Tuhannya
Dan orang paling baik dijadikan sarana berdoa
Aku menderita sakit
Engkau seringkali menghilangkan petaka
Dan sebagiannya hilang sendiri
Hilangkan penyakitku dengan segera
Jika tidak, kepada siapa aku meminta?”
Dan pujian-pujian lain kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berlebihan, melewati batas kewajaran, bertentangan dengan perintah dan keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau ingin umat mengetahui posisi ideal beliau, lalu tidak memuji beliau secara berlebihan dan mengangkat beliau ke posisi Tuhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.
“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan, seperti halnya orang-orang Nasrani yang memuji Isa bin Maryam secara berlebihan. Aku hanyalah seorang hamba. Karena itu, katakan (tentang aku), ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Apakah menyalahi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengerjakan perbuatan-perbuatan yang membuat beliau marah, dan memuji beliau secara berlebihan padahal beliau tidak meridhainya, itu termasuk sunnah dan perintah syar’i? Ataukah malah dilarang dan bentuk penyimpangan dari jalan lurus?
Catatan Kedua:

Maliki mengatakan perayaan Maulid didukung hadits-hadits shahih, dan dianjurkan. Kita katakan kepada Maliki, jika tujuan Anda dzikir kepada Allah Ta’ala, membicarakan nikmat-Nya, amar ma’ruf nahi munkar, bersedekah kepada orang-orang berhak disedekahi, memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyanjung beliau dengan sanjungan yang tidak mengeluarkan beliau dari posisi yang diberikan Allah kepada beliau, maka benar, jujur, dan adil. Hanya saja, itu tidak dilakukan pada satu malam dalam setahun, tapi pada seluruh malam seperti diperintahkan Allah di Al-Qur’an atau melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu semua diperintahkan syariat kepada kita di setiap waktu, tempat, dan setiap orang. Ada hadits-hadits shahih yang mensyariatkan dan menganjurkannya. Ini bukan berarti kita membenarkan dalil Maliki. Di catatan pertama, saya sudah jelaskan bahwa dzikir, sedekah, dan pujian-pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diadakan di perayaan Maulid tidak diperintahkan syariat, karena campur aduk dengan kemungkaran, syirik, dan melecehkan akal. Semua itu dilarang syariat, membuat Allah dan Rasul-Nya murka, bertentangan dengan konsekwensi syahadat Laa Ilaaha Illallah dan syahadat Muhammad Rasulullah, serta mengondisikan akal untuk menerima ilusi dan khayal. Apakah akal Maliki sudah tidak normal hingga tidak mampu lagi membedakan hal-hal yang bertentangan? Ataukah hawa nafsunya membuatnya buta dan tuli? Semoga Allah merahmatimu, wahai Asy-Syathibi, bahwa orang-orang pecinta bid’ah itu tidak berani berdebat dan menghadapi hujjah dengan hujjah, karena mereka mengosongkan akal mereka dari dalil syar’i. Dan, Maliki dan kelompoknya termasuk orang-orang yang Anda maksud.

DALIL KEEMPAT BELAS: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA
Maliki menyebutkan dalil keempat belas, dengan berkata,
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.’ (Hud: 120). Tampaknya, hikmah kisah para nabi dan rasul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu untuk meneguhkan hati beliau yang mulia. Dewasa ini, kita lebih membutuhkan berita dan kisah beliau untuk meneguhkan hati kita, daripada kebutuhan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri kepada kisah.”
Benar, kita selalu butuh pada setiap waktu, bukan hanya pada satu malam setelah tiga ratus lima puluh empat malam, membutuhkan sesuatu yang meneguhkan hati, menguatkan tekad, dan menambah keimanan kita. Itu bisa dilakukan dengan mengikuti perintah Allah Ta’ala dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, taat dan ibadah secara konsisten sesuai dengan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan segala isinya: kesabaran, iman, jihad beliau, kasih sayang yang sempurna kepada umat, antusiasme beliau dalam memberi petunjuk kepada mereka, dan kecemerlangan lain di kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak diragukan, mempelajari, merenungkan, dan mengikuti petunjuk beliau, itu meneguhkan hati kita, menguatkan tekad baik kita, dan mengimani hikmah keberadaan kita di kehidupan. Hanya saja, hal itu mesti dilakukan setiap waktu, kondisi, dan kesempatan. Di masjid, sekolah, majelis, dan alat komunikasi kita. Kita memang lebih perlu menguatkan tekad dan meneguhkan hati kita.
Betul, hati kita lebih gampang terguncang dan tekad kita lemah jika kita tidak mendengar berita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak membaca sirah beliau kecuali hanya sekali setahun. Apalagi dilakukan dengan main-main, pelecehan harga diri, diam atas kemungkaran atau kesyirikan yang ada, seperti diketahui Maliki dan kubunya. Adakah yang lebih gersang dari kondisi ini? Adakah yang lebih terlarang dari hal ini? Dan adakah hubungan yang lebih terputus dari ini?

Allah memerintahkan hubungan manusia dengan-Nya itu kuat, kokoh, dan berkelanjutan. Dia mewajibkan shalat lima waktu kepada hamba-Nya setiap hari. Shalat mengandung dzikir dan ucapan lain termasuk dzikir kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Misalnya, ucapan tasyahhud pertama, yang berisi ucapan salam kepada beliau dan kesaksian atas risalah yang beliau emban. Juga tasyahhud kedua yang berisi shalawat, doa, dan keberkahan bagi beliau. Maliki mengira dan menduga dengan segala kebingungan-nya seperti tertera di bukunya tanpa ucapan hamdalah dan shalawat, atau buku Maulid lainnya bahwa dirinya telah memberi apa yang menjadi hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang bodoh yang perlu dikasihani ini tidak tahu bahwa dengan penyelenggaraan Maulid sebenarnya ia menjauhkan manusia dari sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sisi keunggulan di kehidupan beliau, tuntutan menjadikan sirah sebagai nasihat dan pelajaran melalui jihad beliau, saat itu semua hanya dilakukan pada satu malam dari tiga ratus lima puluh empat malam. Sebelum itu, dalam waktu yang sedemikian lama ini, manusia sibuk dengan segala urusan dunia, perhiasan dan kesenangannya, serta melupakan apa yang pernah mereka dengar pada malam peringatan Maulid, jika memang mendengarkan kebaikan dan kebenaran, tapi ini jarang terjadi.

DALIL KELIMA BELAS: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA
Maliki menyebutkan dalil kelima belas, dengan berkata,
“Tidak semua yang tidak dilakukan ulama salaf dan generasi pertama itu bid’ah yang mungkar, haram dilakukan, dan wajib dihindari. Apa saja yang telah terjadi harus dibawa pada dalil-dalil syar’i. Jika mengandung kemaslahatan maka wajib. Jika mengandung keharaman maka haram. Jika mengandung makruh maka makruh. Jika mengandung mubah maka mubah. Jika mengandung sunnah maka sunnah. Sarana mempunyai hukum dalam tujuan pensyariatan. Ulama membagi bid’ah menjadi lima bagian.
Bid’ah wajib, seperti membantah orang-orang sesat dan belajar Nahwu.
Bid’ah sunnah, seperti membangun pesantren dan sekolah, azan di atas mimbar, dan melakukan kebaikan yang belum pernah dikerjakan generasi pertama.
Bid’ah makruh, seperti menghias masjid dan memberi ornamen pada mushaf Al-Qur’an.
Bid’ah mubah, seperti menggunakan saringan tepug, melakukan inovasi dalam membuat makanan dan minuman.
Bid’ah haram, yakni hal baru yang bertentangan dengan sunnah, tidak mengandung dalil syar’i secara umum, dan tidak ada sisi kemaslahatannya.”
Sebenarnya, ulama tidak pernah mengabaikan semua ini. Mereka mengadakan penelitian dan membuktikannya, hingga nampak apa yang termasuk bid’ah dan apa yang bukan termasuk bid’ah. Pada bab Kata Pengantar, kami sebutkan bahwa kami ingin membahas dan membantah dalil-dalil Maliki. Kami juga telah mengemukakan nash-nash yang ditulis ulama dan para pakar, semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, As-Syathibi, Al-Izz bin Abdus Salam, Ibnu Rajab, dan ulama lainnya yang tidak perlu disebutkan lagi.
Mereka semua bicara tentang bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama. Juga mematahkan pendapat yang membagi bid’ah ke dalam hasan (baik) dan qabih (jelek). Mereka menyebutkan bahwa hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menolak dan melarang bid’ah itu global, universal, dan tidak memungkinkan adanya pembagian bid’ah menjadi hasan (baik) yang disyariatkan. Karena pembagian bid’ah itu rancu, salah, dan jauh dari spirit pensyariatan. Justru, bid’ah itu menuduh agama tidak sempurna dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak serius menyampaikan risalah, dan mengguncang keimanan kepada esensi firman Allah, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Aku sempurnakan ni’mat-Ku untuk kalian dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3).
Setiap perkara baru harus diuji dengan dalil syar’i. Jika mengandung kemaslahatan dan didukung dalil syar’i, seperti membantah para pendukung kesesatan dan bid’ah, memperhatikan apa saja yang menjaga Al-Qur’an, baik dengan pengkodifikasian, distribusi, penyusunan ilmu Al-Qur’an, bahasa, hadits, dan hal-hal lain yang didukung kaidah-kaidah umum syariah Islam, maka tidak tergolong bid’ah, kita tidak mengatakan salafus shalih belum pernah mengerjakannya, tapi terjadi sepeninggal mereka. Hal-hal baru seperti itu perlu dilihat hasil akhirnya. Jika diteliti lebih jauh, ternyata berasal dari salafus shalih. Al-Qur’an ada di dada mereka. Mereka pakar bahasa, karena itu, mereka tidak perlu lagi pada ilmu bahasa. Yang terjadi kemudian ialah lidah anak cucu mereka tidak lancar berbahasa Arab, sebab berinteraksi dengan orang-orang asing. Oleh karena itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menghimbau diadakan pengajian Nahwu untuk menjaga bahasa Arab. Setelah itu, disusul munculnya ilmu-ilmu lain, seperti ilmu Al-Qur’an dan ilmu bahasa untuk membantu penguasaan Al-Qur’an; menghapal, mempelajari, dan mengajarkannya. Salafus shalih menyanggah para pendukung hawa nafsu dan kesesatan. Sebagai contoh, Aisyah radhiallahu ‘anha membantah kelompok Haruriyyah (sebuah kelompok kaum Khawarij yang menisbatkan diri ke wilayah Haraura’ dekat Kufah) dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu membantah para ekstrim Syi’ah. Landasan hukum sikap mereka dalam hal ini ialah larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umat agar tidak menjadi para penyeru kejahatan dan kesesatan; kelompok Khawarij dan lainnya. Beliau berjanji jika menjumpai mereka, beliau akan memerangi mereka. Kita tidak mengatakan mewakafkan pesantren termasuk perbuatan salafus shalih. Tahukah Maliki tentang peristiwa Shuffah dan para penghuninya? Shuffah ialah semacam pesantren untuk orang-orang fakir dari kalangan sahabat dan itu landasan hukum pemberian wakaf berupa pesantren kepada orang-orang fakir. Kita juga tidak setuju kalau sekolah dikatakan bid’ah. Tahukah Maliki tentang Darul Arqam, madrasah pertama dalam Islam? Darul Arqam merupakan landasan hukum berdirinya sekolah tempat anak-anak Islam belajar tentang masalah agama dan dunia mereka. Sedang azan di mimbar, maka bukan rahasia umum bahwa azan disyari-atkan sebagai pemberitahuan datangnya waktu shalat dan kaum Muslimin generasi pertama mengumandangkan azan dari atap masjid dan rumah, dengan harapan suara mereka mencapai sasaran luas. Jika ada langkah inovasi untuk memberitahukan datangnya waktu shalat, maka itu disyariatkan. Jadi, semua sarana untuk memberitahukan datangnya waktu shalat merupa-kan tuntutan syariat Islam dan bukan bid’ah karena ada dasar hukumnya di syariat.
Adapun menghias masjid dan mushaf Al-Qur’an, alhamdulillah, Maliki mengakuinya makruh, padahal banyak sekali sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang hal itu. Sementara hal-hal mubah yang tidak dimaksudkan untuk beribadah, maka termasuk yang disinggung sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.” Jadi, hasil-hasil temuan manusia di urusan dunia dan tidak bertentangan dengan nash-nash umum untuk menjaga kelangsungan hidup dan hal-hal mubah secara umum, itu bukan bid’ah. Ulama mendefinisikan bid’ah adalah cara baru dalam agama.
Maliki menyebutkan pendapat sebagian ulama yang membagi bid’ah ke dalam lima jenis; wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram, lengkap dengan contoh-contohnya. Pembahasan pembagian bid’ah berikut contoh-contohnya sudah saya lakukan. Tinggal jenis bid’ah kelima, yaitu bid’ah haram, karena bertentangan dengan sunnah, tidak membawa kemaslahatan syar’i, dan tidak pernah disinggung-singgung dalil-dalil umum syariah. Saya katakan, jenis bid’ah kelima ini tidak lain adalah bid’ah yang dimaksud, sedangkan perayaan Maulid termasuk bid’ah haram karena bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sunnah menurut istilah ulama ialah semua ucapan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain itu semua adalah perbuatan yang tidak diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bid’ah dalam agama. Maliki mengakui perayaan Maulid itu bid’ah, tidak pernah dikerjakan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, masa para sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in, dari generasi awal Islam. Perayaan Maulid dalam kapasitasnya sebagai bid’ah dan niat beribadah dengannya adalah bid’ah. Termasuk perbuatan yang mengandung kemungkaran di dalamnya, seperti campur aduk antara laki-laki perempuan, pementasan musik, pemborosan makanan dan minuman, pembodohan akal sehat dengan cara memaksanya mempercayai khayalan, ilusi, khurafat tentang kehadiran ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, keharusan memberi pengagungan dan penghormatan dengan cara berdiri, perasaan takut dan khusyu’ seiring dengan dugaan kehadiran beliau, segala kemungkaran seperti ini telah kami sebutkan dan diketahui Maliki dan kubunya, itu tidak hanya tidak berdasarkan dalil syar’i atau tidak mengandung kemaslahatan, tapi, bertentangan dengan syariat Islam, membahayakan syariat, bid’ah, kemungkaran, syirik yang menjadikan makhluk sebagai rival Khaliq dalam hal kepemilikan kunci-kunci langit dan bumi, menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menduduki kedudukan Tuhan, yang di antara kebaikannya adalah dunia dan seisinya, di antara ilmunya ialah ilmu tentang Lauhul Mahfudz dan pena, semua makhluk diciptakan demi beliau, malam kelahiran beliau lebih baik dari Lailatul Qadar, kuburan beliau lebih baik dari Ka’bah, lain-lain yang dipersembahkan dan dibaca pada acara Maulid.

Bisakah Maliki beserta kubunya, pimpinannya, syaikhnya, dan siapa saja yang mengikuti jejak langkahnya menemukan perayaan Maulid di pembagian bid’ah ke dalam lima jenis? Apakah mereka dapat menempatkan Maulid di selain bid’ah haram, karena bertentangan dengan sunnah, tidak ada dalil syar’i yang mesnyariatkannya, dan tidak ada manfaat umumnya? Jika saja mereka menggunakan akal dan menjauhkan diri dari hawa nafsu sejauh-jauhnya, mungkin mereka menerima kita. Namun, jika mereka tetap pada pendirian mereka, mereka pasti mengatakan sesuatu yang aneh bin ajaib. Buih itu akan pergi sia-sia dan kebatilan pasti kalah.

insya Allah bersambung.