DIALOG BERSAMA AL-MALIKI (Bantahan Tuntas Terhadap Manipulasi dan Kesesatan Al-Maliki) oleh : Syaikh Abdullah Bin Sulaiman Bin Mani’ [3]


————————————————————————————————————————————————————-
DALIL KEENAM: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA

Maliki menyebutkan dalil keenam, dengan berkata,
“Perayaan Maulid memotivasi orang bershalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti diperintahkan firman Allah, ‘Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya.’ (Al-Ahzab: 56). Apa saja yang bisa merealisir perintah syar’i maka itu perintah syar’i. Shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangkan banyak sekali manfaat dan bantuan Muhammadiyah, hingga tidak dapat ditulis pena.”
Kita punya beberapa catatan untuk Maliki, terkait dengan dalilnya di atas.
Catatan Pertama:
Maliki berargumen perayaan Maulid memotivasi orang untuk bershalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hai Maliki dan para pengikutnya, betapa buruknya Anda! Betapa jauhnya Anda dari Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Kendati Anda mengklaim amat cinta beliau dan gembira dengan sirah beliau. Bukan karena mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan jujur. Tapi, guna mempropagandakan bid’ah dan mencari popularitas pada manusia. Apakah Anda rela hanya bershalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada satu malam saja? Bukankah ini kesesatan, berpaling dari Sunnah, dan lalai tidak ingat kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Apakah Anda ridha tidak tergerak untuk bershalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali setelah tiga ratus lima puluh empat malam?
Bershalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wajib dilakukan saat shalat setiap hari dan saat ingat beliau. Betapa banyak moment-moment untuk ingat beliau!
Setiap orang seharusnya mendekat kepada Allah dengan shalawat dan salam setiap kali ingin mendekat kepada Allah. Seorang hamba perlu berbuat seperti itu dan di setiap situasi. Karena, Allah Ta’ala menyuruh kita bershalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setiap waktu. Ini seperti dinyatakan ayat berikut ini, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
اَلْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ.
“Orang pelit ialah orang yang namaku disebutkan di sampingnya, namun ia tidak bershalawat untukku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا.
“Barangsiapa bershalawat untukku sekali saja, Allah bershala-wat untuknya sepuluh kali.”
Pada hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan barangsiapa nama beliau disebutkan di sisinya, namun ia tidak bershalawat untuk beliau, ia orang pelit. Shalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semestinya kita lakukan setiap saat, di setiap moment, ketika shalat, sesudah adzan, dan saat-saat lain. Bershalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditekankan dilakukan pada siang dan malam Jum’at, khutbah Jum’at, dan permulaan setiap doa. Sedang menyelenggarakan acara untuk bershalawat dan salam pada suatu malam, setelah tiga ratu lima puluh empat malam, yaitu malam perayaan Maulid, maka tidak sesuai dengan klaim cinta, menghormati, dan mengerjakan perintah Allah Ta’ala untuk bershalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Catatan Kedua:
Maliki mengatakan apa saja yang bisa merealisir perintah syar’i maka itu perintah syar’i. Saya katakan perayaan Maulid tidak memotivasi orang untuk bershalawat dan kirim salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Justru, malah menyakiti beliau dengan bersikap berlebihan terhadap kepribadian beliau, menyanjung beliau di luar batas kewajaran, hingga mendudukkan beliau di posisi Tuhan, yang punya kekuasaan tidak terbatas, kemampuan digdaya untuk memberi manfaat atau madharat, tidak memberi atau memberi. Allah Mahatinggi daripada apa yang dikatakan orang-orang zhalim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serius menjaga kemurnian tauhid, mengarahkan umat, dan melarang mereka bersikap berlebihan. Beliau bersabda,
لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.
“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan, seperti halnya orang-orang Nasrani yang memuji Isa bin Maryam secara berlebihan. Aku hanyalah seorang hamba. Karena itu, katakan (tentang aku), ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Apakah perayaan Maulid yang membuahkan keyakinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam punya kunci-kunci langit dan bumi, otoritas membagi lahan di surga, dermawan dan di antara pemberian beliau ialah dunia dan seisinya, mengetahui Lauh Mahfudh dan pena, kuburan beliau lebih baik dari Ka’bah, malam kelahiran beliau lebih baik dari Lailatul Qadar, Adam dan seluruh makhluk diciptakan karena beliau, beliau cahaya yang tidak punya bayangan di bawah sinar matahari dan bulan, tetap hidup di kuburan, mengumandangkan adzan, berpuasa, haji, dan hal-hal lain seperti dikatakan Maliki di bukunya itu tidak lain perayaan Maulid yang diserukan Maliki dan menumbuhkan keyakinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam punya semua sifat di atas, padahal sifat-sifat tersebut punya Allah semata? Hai Maliki, saya sarankan Anda bertakwa kepada Allah. Ketahuilah, kelak Anda berdiri di depan Allah dan Dia akan menghisab Anda dengan hisab sulit. Ingatlah firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa menyekutukan Allah, maka sungguh ia berbuat dosa besar.” (An-Nisa’: 48).
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang yang menyekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka.” (Al-Maidah: 72).
Hai Maliki, Anda menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rival Allah dan mensejajarkan beliau dengan-Nya dalam hal-hal yang merupakan hak prerogatif Allah. Hanya Allah yang punya kunci-kunci langit dan bumi. Dialah pihak yang punya otoritas tidak memberi dan hak memberi. Dialah yang memberi manfaat dan madharat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada orang yang paling dekat dengan beliau, Fathimah, “Mintalah harta semaumu. Tapi, ingat aku tidak bisa membelamu sedikit pun di sisi Alla.” Allah berfirman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang ingin sekali paman beliau mendapat petunjuk, tapi ditetapkan Allah sebagai orang celaka, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Al-Qashash: 56).
Catatan Ketiga:
Maliki mengatakan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangkan banyak sekali manfaat, hingga tidak dapat ditulis pena.
Memang, manfaat shalawat banyak sekali. Sebagai contoh manfaatnya, shalawat itu bukti merespon firman Allah Ta’ala yang menyuruh kita bershalawat, karena meneladani Allah dan para malaikat-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56).
Sedang bantuan Muhammadiyah, kita tidak tahu apa yang dimaksud Maliki dengan kalimat tersebut. Barangkali, itu hasil keyakinannya bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam punya kunci-kunci langit dan bumi, hak membagi lahan di surga, di antara bukti kedermawanan beliau ialah dunia dan seisinya, mengetahui segala hal termasuk Lauh Mahfudh dan pena, semua makhluk diciptakan karena beliau, dan perkataan lain yang berlebihan. Apakah dengan shalawat-shalawatnya itu, Maliki menginginkan bantuan Muhammad, bukannya bantuan Allah? Kita tidak bisa mempresentasikan syirik kepada Allah melainkan pola pikir Al-Maliki dan anak buahnya adalah gambaran yang paling keji. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Perkataan Maliki, “Bantuan Muhammad,” mengingatkan kita pada orang-orang sufi dan tarikat. Jika salah seorang dari mereka mengalami kesulitan atau mendapat musibah, ia berkata secara berulang-ulang, “Hai Muhammad, bantulah aku. Hai Rifai, bantulah aku. Hai Badawi, bantulah aku.” Kita amat prihatin melihat kondisi Maliki seperti ini. Padahal, ia pemuda yang menimba ilmu syar’i dari sekolah-sekolah negeri di semua levelnya hingga tahu betul akidah salaf. Salah seorang kawannya menyebutkan, Maliki bersemangat dan terkesan dengan akidah salaf. Ia hidup pada jaman ilmu pengetahuan dan kemajuan yang memungkinkan menyingkap semua kebobrokan dan ketidak-beresan orang-orang sufi. Banyak sekali hal-hal tidak beres di otak mereka. Kita sekali lagi amat prihatin, kenapa Maliki bisa menjadi tokoh sufi, propagandis bid’ah, khurafat, syirik, dan lebih tertarik dengan dunia daripada akhirat. Ia menipu orang-orang awam agar menjadi budak-budak yang mencium tangannya dan memberi penghormatan dengan menundukkan kepala di depannya. Ia mengajak manusia untuk menyembahnya. Kelak, ia akan berdiri di depan Allah. Jika tidak segera bertaubat, ia bersama orang-orang yang dimurkai Allah, yaitu orang-orang yang diberi ilmu, tapi tidak mengamalkannya.
Catatan Keempat:
Maliki mengatakan pena tidak mampu menulis lagi pengaruh dan fenomena cahaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini juga perkataan berlebihan. Cahaya apa yang tidak sanggup ditulis pena?

Pena tidak sanggup menulis kalimat-kalimat Allah, menghitung nikmat-nikmat-Nya, dan mengkalkulasi bentuk-bentuk ibadah kepada Allah Yang Mahahidup, Maha Menahan pemberian, Maha Pemberi, Pemberi manfaat dan madharat, Mahakuasa atas segala sesuatu, Raja pada hari kiamat, Mahaperkasa, Mahatinggi, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Sedang shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kendati manfaat dan pahalanya sangat banyak, namun besarnya secara kongkrit hanya diketahui Allah yang mencatat seluruh hal, baik kecil atau besar. Cukuplah sebagai bukti manfaatnya bahwa shalawat merupakan respon nyata atas perintah Allah.

DALIL KETUJUH: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA
Maliki menyebutkan dalil ketujuh, dengan berkata,
“Perayaan Maulid mencakup ingat Rasulullah , semua mukjizat dan sirah beliau serta mengenalkannya. Bukankah kita diperintahkan mengenal beliau, meneladani amal perbuatan beliau, dan mempercayai mukjizat-mukjizatnya? Buku-buku tentang Maulid mewujudkan semua ini.”
Kita punya catatan untuk Maliki, terkait dengan dalil-dalilnya di atas:
Tidak diragukan, membaca sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sejak kelahiran beliau hingga wafat dianjurkan. Dengan tahu itu semua, kita dapat meneladani beliau. Seluruh isi kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sarat dengan kecemelangan dan kehebatan. Iman kuat, kesabaran dan ketundukan kepada Allah. Jihad di jalan-Nya. Syukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya, baik dengan perkataan atau perbuatan, hingga kedua kaki beliau bengkak karena beribadah. Dan sisi-sisi cemerlang lainnya. Mengkaji semua itu dan merenungkan ibrah-ibrah kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan kok dilakukan pada suatu malam setelah tiga ratus lima puluh empat hari. Itu semua harus dilakukan setiap waktu dan dipelajari di masjid, forum-forum umum atau khusus, dan semua jenjang sekolah dari awal hingga akhir.

Betul, kita diperintahkan tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meneladani amal perbuatan beliau, dan beriman kepada ajaran beliau. Itu semua tidak ada di buku-buku tentang Maulid, tapi di buku-buku hadits beserta syarah-nya, sirah, dan sejarah. Ulama Islam memberi perhatian besar pada aspek ini hingga membuat kita seolah-olah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat di dalam iman mereka kepada Allah dan keikhlasan mereka, serta jihad di jalan Allah, saat kita membaca sirah Rasulullah . Sedang buku-buku tentang Maulid, Maliki sendiri tahu kalau buku-buku tersebut hanya berisi pujian-pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga menempatkan beliau ke tingkatan Tuhan. Dengan nama-nama-Nya yang bagus dan sifat-sifat-Nya yang agung, kita berdoa kepada Allah agar Dia memberi petunjuk kepada Maliki dan mengembalikannya ke jalan yang benar. Di perayaan-perayaan Maulid, para penyelenggaranya menyejajarkan pihak lain dengan Allah, dalam kekuasaan tidak terbatas, kemampuan, ilmu, memberi manfaat atau madharat, hak tidak memberi atau memberi, dan lain-lain yang merupakan hak murni Allah Ta’ala, yang tidak layak dimiliki siapa pun, bahkan malaikat terdekat dan sekali pun. Itulah buku-buku Maulid Maliki yang ia klaim dengan dusta mengenalkan Rasulullah untuk diteladani dan ajarannya diimani. Mahasuci Allah. Ini kebohongan besar.

DALIL KEDELAPAN: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA
Maliki menyebutkan dalil kedelapan, dengan berkata,
“Upaya balas budi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bisa dilakukan dengan menunaikan sebagian kewajiban kita terhadap beliau. Misalnya, menjelaskan sifat-sifat sempurna dan akhlak mulia beliau. Dulu, para penyair menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membela beliau dengan syair-syair mereka. Beliau merestui karya mereka dan memberi imbalan berupa hal-hal baik kepada mereka. Jika beliau ridha pada orang yang memuji beliau, bagaimana beliau tidak ridha pada orang yang menghimpun akhlak-akhlak utama beliau. Itu jelas upaya mendekat kepada beliau dengan upaya meraih cinta dan keridhaan beliau.”
Kita punya beberapa catatan untuk Maliki terkait dengan dalilnya di atas.
Catatan Pertama:
Maliki mengatakan upaya balas budi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bisa dilakukan dengan menunaikan sebagian kewajiban kita terhadap beliau.
Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada manusia kalau beliau tidak minta imbalan uang atas penyampaian risalah yang beliau lakukan, karena imbalannya ada pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Katakan, ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun kepada kalian dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya’.” (Al-Furqan: 57).
Allah Ta’ala berfirman, “Katakan, ‘Upah apa pun yang aku minta kepada kalian, maka itu untuk kalian. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu’.” (Saba’: 47).
Allah Ta’ala berfirman, “Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam.” (Yusuf: 104).
Dan ayat-ayat lain yang semakna. Jadi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu rasul Allah. Dia mengutusnya membawa risalah, menyuruh beliau menyampaikan risalah tersebut, menjanjikan pahala besar saat bertemu dengan-Nya, dan menyuruh beliau memberi penjelasan kepada umat bahwa beliau tidak minta gaji dan ucapan terima kasih pada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti rasul-rasul lainnya yang profil hidup mereka disebutkan di Al-Qur’an. Cara mereka menyampaikan risalah kepada kaumnya masing-masing juga disinyalir Allah. Mereka semua bicara terus terang kepada kaumnya masing-masing bahwa mereka tidak minta gaji dan ucapan terima kasih dari kaumnya sebagai imbalan atas penyampaian risalah kepada mereka. Balasan para rasul ada pada Allah. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan salah seorang rasul, “Hai kaumku, aku tidak minta upah kepada kalian bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kalian memikirkan (nya)?” (Huud: 51).
Allah Ta’ala berfirman, “Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (Ali Imran: 144).
Tidak diragukan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam punya jasa besar pada kita selaku umat beliau. Kita cinta beliau melebihi cinta kita kepada diri kita dan keluarga. Tapi, cinta beliau itu tidak pada hal-hal yang beliau benci dan hal-hal yang merupakan hak prerogatif Allah, misalnya hak menciptakan, mengatur, dan disembah.
Cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berarti mengangkat beliau ke posisi rububiyah dan uluhiyah. Itu syirik kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di Makkah selama tiga belas tahun, guna memerangi syirik kepada Allah dan mengajak manusia mentauhidkan Allah dalam uluhiyah, rububiyah, asma’ dan sifat-Nya.
Betul sekali, perayaan Maulid bukan bukti balas budi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Justru, merupakan bid’ah, karena tidak pernah beliau perintahkan dan beliau benci perayaan semacam itu. Jika perayaan Maulid disertai kemungkaran, syirik, dan khurafat yang merupakan kebutuhan setiap perayaan Maulid seperti telah dijelaskan sebelumnya, maka bid’ah tersebut berubah statusnya menjadi hari raya jahiliyah. Andai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, beliau pasti memerangi para penyelenggara perayaan Maulid. Beliau mengecam keras salah seorang sahabat yang berkata, “Apa yang dikehendaki Allah dan Engkau kehendaki.” Beliau bersabda, “Apakah engkau hendak menjadikanku rival Allah? Katakan, ‘Apa yang dikehendaki Allah saja’.”
Cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti mengikuti Sunnah beliau, meneladani beliau, mengambil ibrah dari kehidupan beliau dan kehidupan para sahabat sepeninggal beliau. Allah Ta’ala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dan apa yang dilarangnya pada kalian maka tinggalkan.” (Al-Hasyr: 7).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap dari kalian tidak beriman, hingga hawa nafsunya mengikuti apa saja yang aku bawa.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Dan dalil-dalil lain, yang menegaskan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu tidak dengan berlebihan menyebutkan kepribadian beliau, atau menyanjung beliau hingga melewati batas kewajaran, atau menisbatkan perbuatan-perbuatan Allah kepada beliau.
Dengan niat jujur mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita katakan bahwa kita cinta, menghormati beliau, dan mempersembahkan hal-hal seperti itu bukan sebagai bentuk balas budi kita kepada beliau. Imbalan beliau ada pada Allah. Hanya Allah yang membalas beliau atas kerja beliau menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan menasihati umat, dengan balasan paling baik dan sempurna, karena Dia Mahakuasa atas itu semua.
Catatan Kedua:
Maliki mengatakan para penyair menyediakan diri sebagai pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan syair-syair mereka dan beliau merestui upaya mereka.
Betul, Hassan bin Tsabit menjadi pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau sendiri memberi kesaksian bahwa syair Hassan bin Tsabit kepada orang-orang musyrik lebih tajam dari pedang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga dipuji Ka’ab bin Zuhair, Abdullah bin Rawahah, dan sahabat-sahabat lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senang dengan pujian mereka. Kita berdoa kepada Allah agar memberi pahala kepada siapa saja yang memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pujian yang sesuai dengan kedudukan beliau sebagai nabi dan rasul, karena beliau berhak mendapatkannya. Beliau punya prestasi mengagumkan saat menyampaikan risalah Allah dan bersabar terhadap apa saja yang beliau alami: kelelahan, penghinaan, gangguan, dan dituduh gila, hingga Allah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya pada beliau, serta manusia berbondong-bondong masuk Islam. Jika membaca dalil Maliki ini, saya jadi ingat perkataan seorang penyair,
“Tidakkah Anda lihat pedang itu berkurang kehebatannya
Jika dikatakan lebih tajam dari tongkat?”
Kita tidak habis pikir dengan Maliki dan otaknya! Bagaimana ia menganalogikan pujian para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pujian para pecinta perayaan Maulid, semisal Al-Bushairi, Al-Bakri, dan lain-lain yang menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pesaing Allah, dalam hal pengetahuan tak terbatas, kemampuan memberi manfaat atau madharat, kepemilikan kunci-kunci langit dan bumi, serta sifat-sifat khusus Allah lainnya. Misalnya perkataan,
“Hai orang paling mulia, aku tidak punya tempat berlindung
selain kepadamu saat terjadi musibah
Jika pada hari kiamat, engkau tidak memegang tanganku sebagai bentuk kemuliaan
Maka katakan, hai orang yang celaka
Di antara bukti kedermawanmu ialah dunia dan seisinya
Dan di antara pengetahuanmu ialah pengetahuanmu tentang Lauh Mahfud dan pena.”
Atau perkataan,
“Allah tidak pernah atau tidak sedang mengutus rahmat
yang naik atau turun
Di kerajaan langit atau kerajaannya
Di hal-hal khusus atau umum
Melainkan Muhammad hamba-Nya
Nabi-Nya dan rasul pilihan
Ia penengah dan asal usul rahmat
Ini diketahui siapa saja yang berakal
Dan menyerunya bahwa krisis telah terjadi
Dan masa-masa sulit tengah melanda
Hai orang paling mulia di sisi Tuhannya
Dan orang paling baik dijadikan sarana berdoa
Aku menderita sakit
Engkau seringkali menghilangkan petaka
Dan sebagiannya hilang sendiri
Hilangkan penyakitku dengan segera
Jika tidak, kepada siapa aku meminta?”
Dan perkataan lain meratapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Ketika kulihat zaman memerangi manusia
Kujadikan sandal tuannya sebagai benteng diriku
Aku berlindung darinya di tempat indah
Di benteng kokoh
Dan, saya pun mendapatkan ketenangan di bawah naungannya.”
Demi Tuhanmu, hai Maliki, apakah engkau tidak malu menjadikan pujian-pujian picisan seperti ini yang tidak lain ajakan syirik kepada Allah dalam rububiyah dan uluhiyah, jahiliyah, dan paganisme buta, menjadikannya sekelas dengan syair-syair Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, Ka’ab bin Zuhair, dan lain-lain yang jujur imannya dan adil ketika memuji serta tegas terhadap orang-orang kafir?
Seandainya syair-syair Maulid-mu seperti itu engkau haturkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau tidak cukup menabur tanah ke mulut orang-orang yang melantunkannya, tapi memerangi mereka, seperti halnya beliau memerangi Abu Jahal, Abu Lahab, dan pentolan-pentolan kafir lainnya.

Mahasuci Allah. Hai Maliki, bagaimana kok sama menurut Anda antara kegelapan dengan cahaya dan antara tauhid murni dengan kekafiran nyata. Padahal Anda sendiri mengklaim pakar segala hal? Sungguh, hawa nafsu itu membutakan dan menulikan. Wahai Tuhan kami, jangan sesatkan kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami.

DALIL KESEMBILAN: PEMBAHASAN DAN BANTAHANNYA
Maliki menyebutkan dalil kesembilan dengan berkata,
“Mengetahui akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mukjizat dan simbol beliau menuntut mengimani beliau secara sempurna dan cinta bertambah. Karena, manusia punya tabiat mencintai keindahan, baik akhlak, ilmu, amal perbuatan, situasi, dan keyakinan. Tidak ada yang lebih indah, sempurna, dan mulia, dari akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Meningkatkan cinta dan menyempurnakan iman itu diperintahkan syariat. Karena itu, apa saja yang menghendaki keduanya juga diperintahkan syariat.”
Saya sudah capek mengulangi perkataan saya. Pada dasarnya, tiga atau empat dalil Maliki merupakan satu dalil. Ia sendiri yang mengucapkan satu perkataan secara berulang-ulang dan mengklaim pengulangan dalil. Karena kita berniat membantahnya, kita tetap menantangnya di klaimnya ada pengulangan dalil dan memberi catatan di setiap dalil yang ia ajukan, kendati berulang-ulang.
Tidak diragukan, mengetahui akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh kondisi beliau, misalnya jihad, kesabaran, amanah, kepedulian beliau pada umat, dan kasih sayang beliau pada mereka, itu menguatkan komitmen dengan Sunnah beliau dan meningkatkan cinta beliau. Mengetahui semua itu diperintahkan setiap saat, bukan kok pada suatu malam setelah tiga ratus lima puluh empat malam. Pengetahuan terhadap kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendaknya dilengkapi pengetahuan terhadap kepribadian beliau. Beliau rasul Allah, utusan Rabb alam semesta. Beliau sama sekali tidak memiliki hak prerogatif Allah. Ini berbalik seratus delapan puluh derajat dengan perkataan Maliki dan anak buahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak punya kunci-kunci langit dan bumi. Beliau tidak punya hak membagi lahan di surga. Dunia dan seisinya bukan bukti kedermawanan beliau. Beliau tdak mengetahui sedikit pun seluk beluk Lauh Mahfuzh dan pena. Beliau bukan tempat berlindung dan bergantung saat terjadi musibah atau petaka. Allah Ta’ala berfirman, “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka.” (Ali Imran: 128).
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Al-Qashash: 56).
Allah Ta’ala berfirman, “Kendati kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.” (At-Taubah: 80).
Di Shahih Al-Bukhari disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang berkata,
قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ أُنْزِلَ عَلَيْهِ (وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ اْلأَقْرَبِيْنَ). فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا، اِشْتَرُوْا أَنْفُسَكُمْ لاَ أُغْنِيْ عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا. يَا عَبَّاسَ ابْنَ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا صَفِيَّةَ عَمَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا. وَيَا فَاطِمَةَ بِنْتُ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مِنْ مَالِيْ مَا شِئْتِ، لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا.
“Sesudah turun ayat, ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.’ (Asy-Syu’ara’: 214), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hai orang-orang Quraisy, atau kalimat lain, belilah diri kalian. Aku tidak sanggup membela kalian sedikit pun di sisi Allah. Hai Abbas bin Abdul Muththalib, aku tidak dapat membelamu sedikit pun di sisi Allah. Hai Shafiyah, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari jalur ayah, aku tidak mampu membelamu sedikit pun di sisi Allah. Hai Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mintalah kepadaku harta kekayaan sesukamu, aku tidak bisa membelamu sedikit pun di sisi Allah’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).
Tidak diragukan, cinta Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam itu diperintahkan. Iman kepada beliau juga wajib menurut syar’i. Sebab, beriman kepada beliau sebagai rasul termasuk rukun iman pertama dalam rukun-rukun Islam. Keislaman dan keimanan seseorang tidak sempurna, hingga ia mengakui risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedang perayaan Maulid, maka tidak merealisir cinta Rasulullah n. Selain perayaan Maulid itu bid’ah, perkataan yang menyatakan perayaan Maulid itu disyariatkan, dan apa saja yang selama ini terjadi di perayaan Maulid, misalnya kemungkaran, syirik, dan keyakinan hampa, maka bertentangan dengan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena cinta beliau dan kesempurnaan iman kepada beliau terealisir pada orang yang hawa nafsunya mengikuti apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Praktek perayaan Maulid selama ini dan pernik-perniknya yang sarat dengan dosa sangat bertentangan dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perintah dan Sunnah beliau. Bagaimana Maliki rela rusak dan berdosa? Itulah hawa nafsu yang membutakan dan menulikan. Mahabenar Allah ketika berfirman, “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dada.” (Al-Hajj: 46).

Allah Ta’ala juga berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).” (Al-Jatsiyah: 23).

insya Allah bersambung.

Iklan