Meluruskan pemahaman WAHABI, Menyelamatkan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab


Allahumma, Rabb Jibril, Mikail, Israfil. Yang menghamparkan langit serta bumi. Mengetahui yang ghaib dan yang terang. Engkaulah yang memutuskan hukum di antara hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan. Dengan izin-Mu, tunjukanlah kebenaran padaku, dalam perselisihan itu. Sesungguhnya Engkau lah Yang Memberi Petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim, no. 770, I/534)

Pengantar

Sebenarnya, Wahabi merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad kedua hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -ed), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.

Untuk menciptakan permusuhan di tengah Umat Islam, kaum Imperialisme dan kaum munafikun memancing di air keruh dengan menyematkan baju lama (Wahabi) dengan berbagai atribut penyimpangan dan kesesatannya untuk menghantam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau setiap dakwah mana saja yang mengajak untuk memurnikan Islam. Karena dakwah beliau sanggup merontokkan kebatilan, menghancurkan angan-angan kaum durjana dan melumatkan tahta agen-agen asing, maka dakwah beliau dianggap sebagai penghalang yang mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri Islam. Contohnya Inggris mengulirkan isue wahabi di India, Prancis menggulirkan isu wahabi di Afrika Utara, bahkan Mesir menuduh semua kelompok yang menegakkan dakwah tauhid dengan sebutan Wahabi, Italia juga mengipaskan tuduhan wahabi di Libia, dan Belanda di Indonesia, bahkan menuduh Imam Bonjol yang mengobarkan perang Padri sebagai kelompok yang beraliran Wahabi. Semua itu, mereka lakukan karena mereka sangat ketakutan terhadap pengaruh murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengobarkan jihad melawan Imperialisme di masing-masing negeri Islam.

Tuduhan buruk yang mereka lancarkan kepada dakwah beliau hanya didasari tiga faktor:

1. Tuduhan itu berasal dari para tokoh agama yang memutarbalikkan kebenaran, yang hak dikatakan bathil dan sebaliknya, keyakinan mereka bahwa mendirikan bangunan dan masjid di atas kuburan, berdoa dan meminta bantuan kepada mayit dan semisalnya termasuk bagian dari ajaran Islam. Dan barangsiapa yang mengingkarinya dianggap membenci orang-orang shalih dan para wali.
2. Mereka berasal dari kalangan ilmuwan namun tidak mengetahui secara benar tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya, bahkan mereka hanya mendengar tentang beliau dari pihak yang sentimen dan tidak senang Islam kembali jaya, sehingga mereka mencela beliau dan dakwahnya sehingga memberinya sebutan Wahabi.
3. Ada sebagian dari mereka takut kehilangan posisi dan popularitas karena dakwah tauhid masuk wilayah mereka, yang akhirnya menumbangkan proyek raksasa yang mereka bangun siang malam.

Dan barangsiapa ingin mengetahui secara utuh tentang pemikiran dan ajaran Syaikh Muhammad maka hendaklah membaca kitab-kitab beliau seperti Kitab Tauhid, Kasyfu as-Syubhat, Usul ats-Tsalatsah dan Rasail beliau yang sudah banyak beredar baik berbahasa arab atau Indonesia.

***

Penulis: Ustadz Zainal Abidin, Lc.
Artikel ini sebelumnya dipublikasikan oleh Koran Republika, edisi Selasa, 25 Agustus 2009
Dipublikasi ulang oleh muslim.or.id di sini dengan penambahan beberapa catatan kecil.

Penjelasan

Selubung Makar Dibalik Julukan Wahabi

Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena timpang dan penilaian miring terhadap dakwah tauhid yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi an-Najdi rahimahullah. Julukan Wahabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik julukan itu semua?

Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia. Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju sunnah. Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Fenomena ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang diemban Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan para pengikutnya. Musuh-musuh tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Di Najd dan sekitarnya

Ø Para ulama su’ yang memandang al-haq sebagai kebathilan dan kebathilan sebagai al-haq

Ø Orang-orang yang dikenal sebagai ulama namun tidak mengerti tentang hakikat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan dakwahnya

Ø Orang-orang yang takut kehilangan kedudukan dan jabatannya (lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Wahhabiyyah, hal. 90-91, karya DR. Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwair. Ringkasan keterangan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

2. Di dunia secara umum

Mereka adalah kaum kafir Eropa seperti Inggris, Perancis, dan lain-lain, Daulah Utsmaniyyah, kaum sufi, Syi’ah Rafidhah, Hizbiyyun dan pergerakan Islam, dan para kaki tangannya.

Bentuk permusuhan mereka beragam. Terkadang dengan fisik (senjata) dan terkadang dengan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya. Adapun fisik (senjata), maka banyak diperankan oleh Dinasti Utsmani yang bersengkongkol dengan kafir Eropa -sebelum keruntuhannya-. Demikian pula Syi’ah Rafidhah dan para Hizbiyyun. Sedangkan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya, banyak dimainkan oleh kafir Eropa dan misionarisnya, kaum sufi, dan tak ketinggalan pula Syiah Rafidhah dan Hizbiyyun. Dan ternyata, memunculkan istilah Wahabi sebagai julukan bagi pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, merupaka trik sukses mereka untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid. Padahal, istilah Wahabi itu sendiri merupakan penisbatan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahabi) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk penisbatannya adalah Muhammadiyyah, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahab.” (Imam wa Amir wa Da’watun Likulli al-‘Ushur, hal. 162)

Tak cukup sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya, menjadi sejoli bagi julukan keji tersebut. Tak ayal, yang lahir adalah potret buruk dan keji tentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah, yang tak sesuai dengan realitanya. Sehingga istilah Wahabi nyaris menjadi momok danmonster yang mengerikan bagi umat.

Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli dalam menerima informasi. Terlebih ketika narasumbernya adalah orang-orang kafir, munafik, atau ahlul bid’ah. Agar kita tidak dijadikan bulan-bulanan oleh kejamnya informasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu.

Meluruskan Tuduhan Miring tentang Wahabi

1. Tuduhan: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalah seorang yang mengaku sebagai Nabi, ingkar terhadap Hadits Nabi, merendahkan posisi Nabi, dan tidak memepercayai syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bantahan:

Ø Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah adalah seorang yang mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terbukti adana kaya tulis beliau tentang sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik Mukhatasar Sirah ar-Rasul, Mukhtasar Zadil Ma’ad fi Hadi Khair al-‘Ibad, ataupun yang terkandung dalam kitab beliau al-Ushul ats-Tsalatsah.

Ø Beliau rahimahullah berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah wafat -semoga shalawat dan salam-Nya selalu tercurah kepada beliau-, namun agamanya tetap kekal. Dan inilah agamanya; yang tidaklah ada kebaikan kecuali pasti beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tidak ada kejelekan kecuali pasti beliau peringatkan. Kebaikan yang telah beliau sampaikan itu adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan kejelekan yang beliau peringatkan adalah kesyirikan dan segala sesuatu yang dibenci dan dimurkai Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala mengutus beliau kepada seluruh umat manusia, dan mewajibkan atas tsaqalain; jin dan manusia untuk menaatinya. (al-Ushul ats-Tsalatsah)

Ø Beliau rahimahullah juga berkata: “Dan jika kebahagiaan umat terdahulu dan yang akan datang karena mengikuti para Rasul, maka dapatlah diketahui bahwa orang yang paling berilmu tentang ajaran Rasul dan paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang paling mengerti tentang sabda para Rasul dan amalan-amalan mereka serta benar-benar mengikutinya, mereka itulah sesungguhnya orang yang paling berbahagia di setiap masa dan tempat. Dan merekalah golongan yang selamat dalam setiap agama. Dan dari umat ini adalah ahlus sunnah wal hadits.” (ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah (II/21), karya Abdurrahman bin Qasim an-Najdi)

Ø Adapun tentang syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata -dalam suratnya kepada penduduk Qashim-: “Aku beriman dengan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliaulah orang pertama yang bisa memberi syafa’at dan juga orang pertama yang diberi syafa’at. Tidaklah mengingkari syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kecuali ahlul bid’ah lagi sesat.” (Tash-hihu Khata’in Tarikhi Haula al-Wahhabiyyah, hal. 118, karya DR. Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwair)

2. Tuduhan: Melecehkan Ahlul Bait.

Bantahan:

Ø Beliau berkata dalam Mukhtasar Minhaj as-Sunnah: “Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hak atas umat ini yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Mereka berhak mendapatkan kecintaan dan loyalitas yang lebih besar dari seluruh kaum Quraisy…” (Aqidah as-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab as-Salafiyyah wa Atsaruha fi al-‘Alam al-Islami (I/446), karya Syaikh DR. Shalih bin Abdullah al-‘Abud)

Ø Di antara bukti kecintaan beliau kepada Ahlul Bait adalah dinamainya putra-putra beliau dengan nama-nama Ahlul Bait seperti Ali, Hasan, Husain, Ibrahim, dan Abdullah.

3. Tuduhan: Bahwa beliau sebagai Khawarij, karena telah memberontak terhadap Daulah Utsmaniyyah. Imam al-Lakhmi rahimahullah telah berfatwa bahwa Wahabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij ‘Ibadhiyyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mu’rib fi Fatawa Ahli al-Maghrib, juz 11, karya Ahmad bin Muhammad al-Wansyarisi.

Bantahan:

Ø Adapun pernyataan bahwa Syaikh rahimahullah telah memberontak terhadap Daulah Utsmaniyyah, maka ini sangat keliru. Karena Najd kala itu tidak termasuk wilayah teritorial kekuasaan Daulah Utsmaniyyah. Demikian pula sejarah mencatat bahwa kerajaan Dir’iyyah belum pernah melakukan upaya pemberontakan terhadap Daulah Utsmaniyyah. Justru merekalah yang berulang kali diserang oleh pasukan Dinasti Utsmaniyyah. Lebih dari itu Syaikh rahimahullah mengatakan -dalam kitabnya al-Ushul as-Sittah-: “Prinsip Ketiga: Sesungguhnya di antara (faktor penyebab) sempurnanya persatuan umat adalah mendengar lagi taat kepada pemimpin, walaupun seorang budak dari negeri Habasyah.” Dari sini Nampak jelas, bahwa sikap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah terhadap waliyyul ‘amri (pemimpin) sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan ajaran Khawarij.

Ø Mengenai fatwa Imam al-Lakhmi rahimahullah, maka yang beliau maksudkan adalah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum dan kelompoknya, bukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan para pangikutnya. Hal ini karena tahun wafatnya Imam al-Lakhmi adalah 478 H, sedangkan Syaikh wafat pada tahun 1206 H. amatlah janggal bila ada orang yang telah wafat, namun berfatwa tentang seseorang yang hidup berabad-abad setelahnya. Adapun Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum, maka dia meninggal tahun 211 H. sehingga amatlah tepat bila fatwa Imam al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikutnya, Imam al-Lakhmi merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara, dan fitnah Wahabiyyah Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Imam al-Lakhmi, hubungan antara Najd dengan Andalusia dan Afrika Utara sangatlah jauh. Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan bahwa Wahabiyyah Khawarij yang diperingatkan Imam al-Lakhmi adalah Wahabiyyah Rustumiyyah, bukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan para pengikutnya.

Ø Lebih dari itu, sikap Syaikh terhadap kelompok Khawarij sangatlah tegas. Beliau berkata -dalam suratnya untuk penduduk Qashim-: “Golongan yang selamat itu adalah kelompok pertengahan antara Qadariyyah dan Jabariyyah dalam perkara taqdir, pertengahan antara Murji’ah dan Wa’idiyyah (Khawarij) dalam perkara ancaman Allah subhanahu wa ta’ala, pertengahan antara Haruriyyah (Khawarij) dan Mu’tazilah serta antara Murji’ah dan Jahmiyyah dalam perkara iman dan agama, dan pertengahan antara Syi’ah Rafidhah dan Khawarij dalam menyikapi para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tash-hihu Khata’in Tarikhi Haula al-Wahhabiyyah, hal. 117, karya DR. Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwair). Dan masih banyak lagi pernyataan tegas beliau tentang kelompok sesat Khawarij ini.

4. Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.

Bantahan:

Ø Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Syaikh rahimahullah, karena beliau mengatakan: “Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/makam) Abdul Qadir Jailani dan yang ada di kuburun Ahmad al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya, bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha Suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203, karya Syaikh Mas’ud an-Nadwi)

5. Tuduhan: Wahabiyyah adalah madzhab baru dan tidak mau menggunakan kitab-kitab empat madzhab besar dalam Islam.

Bantahan:

Ø Hal ini sangatlah tidak realistis. Karena beliau mengatakan -dalam suratnya kepada Abdurrahman as-Suwaidi-: “Aku kabarkan kepadamu bahwa aku -alhamdulillah- adalah seorang yang berupaya mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pembawa aqidah baru. Dan agama yang aku peluk adalah madzhab ahlus sunnah wal jama’ah yang dianut para ulama kaum muslimin semacam imam yang empat dan para pengikutnya. (Tash-hihu Khata’in Tarikhi Haula al-Wahhabiyyah, hal. 75, karya DR. Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwair)

Ø Beliau juga berkata -dalam suratnya kepada Imam ash-Shan’ani rahimahullah-: “Perhatikanlah -semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatimu- apa yang ada pada Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam, para shahabat sepeninggal beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Serta apa yang diyakini para imam panutan dari kalangan ahli hadits dan fiqh, seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal -semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka-, supaya engkau bisa mengikuti jalan/ajaran mereka.” (ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah (I/136), karya Abdurrahman bin Qasim an-Najdi)

Ø Beliau juga berkata: “Menghormati ulama dan memuliakan mereka meskipun terkadang (ulama tersebut) mengalami kekeliruan, dengan tidak menjadikan mereka sekutu bagi Allah subhanahu wa ta’ala, merupakan jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun mencemooh perkataan mereka dan tidak memuliakannya, maka ini merupakan jalan orang-orang yang dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala (Yahudi).” (Majmu’ah ar-Rasa’il an-Najdiyyah (I/11-12. Dinukil dari al-Iqna’, hal. 132-133, karya Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali)

6. Tuduhan: Keras dalam berdakwah (inkar al-munkar).

Bantahan:

Ø Tuduhan ini sangat tidak beralasan. Karena justru beliaulah orang yang sangat perhatian dalam masalah ini. Sebagaimana nasihat beliau kepada para pengikutnya dari penduduk daerah Sudair yang melakukan dakwah (inkar al-munkar) dengan cara keras. Beliau berkata: “Sesungguhnya sebagian orang yang mengerti agama terkadang jatuh dalam kesalahan (teknis) dalam mengingkari kemungkaran, padahal posisinya di atas kebenaran. Yaitu mengingkari kemungkaran dengan sikap keras, sehingga menimbulkan perpecahan di antara ikhwan… Ahlul ilmi berkata: “Seorang yang ber-amar ma’ruf dan nahi munkar membutuhkan tiga hal, berilmu tentang apa yang akan dia sampaikan, bersifat belas kasihan ketika ber-amar ma’ruf dan nahi munkar, serta bersabar terhadap segala gangguan yang menimpanya.” Maka kalian harus memahami hal ini dan merealisasikannya. Sesungguhnya kelemahan akan selalu ada pada orang yang mengerti agama, ketika tidak merealisasikannya atau tidak memahaminya. Para ulama juga menyebutkan bahwasanya jika inkar al-munkar akan menyebabkan perpecahan, maka tidak boleh dilakukan. Aku mewanti-wanti kalian agar melaksanakan apa yang telah kusebutkan dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena, jika kalian tidak melaksanakannya niscaya perbuatan inkar al-munkar kaian akan merusak citra agama. Dan seorang muslim tidaklah berbuat kecuali apa yang membuat baik agama dan dunianya.” (Muhammad bin Abdul Wahab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘Alaihi, hal. 176, karya Syaikh Mas’ud an-Nadwi)

7. Tuduhan: Muhammad bin Abdul Wahab itu bukanlah seorang yang berilmu. Dia belum pernah belajar dari para syaikh, dan mungkin saja ilmunya dari syaithan.

Bantahan:

Ø Pernyataan ini menunjukkan ketidaktahuannya tentang biografi Syaikh rahimahullah, atau pura-pura buta dalam rangka penipuan intelektual kepada umat.

Ø Bila ditengok sejarahnya, ternyata beliau sudah hafal al-Qur’an sebelum berusia 10 tahun. Belum genap 12 tahun dari usianya, sudah ditunjuk sebagai imam shalat berjama’ah. Dan pada usia 20 tahun sudah dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah itu rihlah menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa’, Bashrah (yang kedua kalinya), Zubairm kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya pun banyak, di antaranya adalah:

· Di Najd: Syaikh Abdul Wahab bin Sulaiman dan Syaikh Ibrahim bin Sulaiman

· Di Makkah: Syaikh Abdullah bin Salim bin Muhammad al-Bashri al-Makki asy-Syafi’i

· Di Madinah: Syaikh Abdullah bin Ibrahim binSaif, Syaikh Muhhamad Hayat bin Ibrahim as-Sindi al-Madani, Syaikh Isma’il Muhammad al-Ajluni asy-Syafi’i, Syaikh Ali Afandi bin Shadiq al-Hanafi ad-Daghistani, Syaikh Abdul Karim Afandi, Syaikh Muhammad al-Burhani, dan Syaikh Utsman ad-Diyarbakri.

· Di Bashrah: Syaikh Muhammad al-Majmu’i.

· Di Ahsa’: Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif asy-Syafi’i.

8. Tuduhan: Tidak menghormati para wali Allah, dan hobinya menghancurkan kubah/bangunan yang dibangun di atas makam mereka.

Bantahan:

Ø Pernyataan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak menghormati para wali Allah subhanahu wa ta’ala, merupakan tuduhan dusta. Beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim-: “Aku meyakini adanya karamah dan keluarbiasaan yang ada pada wali Allah subhanahu wa ta’ala, hanya saja mereka tidak berhak diibadahi dan tidak berhak pula untuk diminta dari mereka sesuatu yang tidak dimampu kecuali oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ø Adapun penghancuran kubah/bangunan yang dibangun di atas makam mereka, maka beliau mengakuinya –sebagaimana dalam suratnya kepada para ulama Makkah-. Namun, hal itu sangat beralasan sekali, karena kubah/bangunan tersebut telah dijadikan sebagai tempat berdo’a, berqurban, dan bernadzar kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Sementara Syaikh sudah mendakwahi mereka dengan segala cara, dan beliau punya kekuatan bersama waliyyul ‘amri untuk melakukannya, baik ketika masih di Uyainah ataupun di Dar’iyyah.

Ø Hal ini pun telah difatwakan oleh para ulama empat madzhab. Sebagaimana telah difatwakan oleh sekelompok ulama madzhab Syafi’i seperti Ibnul Jummaizi, ash-Zhahir at-Tazmanti, dan lainnya, seputar penghancuran bangunan yang ada di pekuburan al-Qarrafah, Mesir. Imam asy-Syafi’i sendiri berkata: “Aku tidka menyukai (yaitu mengharamkan) pengagungan terhadap makhluk, sampai pada tingkatan makamnya dijadikan masjid.” Imam an-Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzab dan Syarh Muslim mengharamkan secara mutlak segala bentuk bangunan di atas makam. Adapun Imam Malik, maka beliau juga mengharamkannya, sebagaimana yang dinukilkan Ibnu Rusyd. Sedangkan Imam az-Zaila’i (madzhab Hanafi) dalam Syarh al-Kanz mengatakan: “Diharamkan mendirikan bangunan di atas makam.” Dan juga Imam Ibnul Qayyim (madzhab Hanbali) mengatakan: “Penghancuran kubah/bangunan di atas kubur hukumnya wajib, karena ia dibangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 284-286, karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan alu asy-Syaikh)

Demikianlah bantahan ringkas terhadap beberapa tuduhan miring yang ditujukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Untuk mengetahui bantahan atas tuduhan-tuduhan miring lainnya, silahkan baca karya-karya tulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, kemudian buku-buku para ulama lainnya seperti:

1. ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah, karya Syaikh Abdurrahman bin Qasim an-Najdi

2. Shiyanah al-Insan ‘an Waswasah asy-Syaikh Dahlan, karya al-‘Allamah Muhammad Basyir as-Sahsawani al-Hindi

3. Raddu Auham Abi Zahrah, karya Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, demikian pula buku bantahan beliau terhadap Abdul Karim al-Khathib

4. Muhammad bin abdul Wahab Mushlihun Mazhlumun wa Muftara ‘Alaihi, karya Syaikh Mas’ud an-Nadwi

5. Aqidah as-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab as-Salafiyyah wa Atsaruha fi al-‘Alam al-Islami, karya Syaikh DR. Shalih bin Abdullah al-‘Abud

6. Da’watu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Baina al-Mu’aridhin wa al-Munshifin wa al-Mu’ayyidin, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, dan sebagainya.

Pujian para Ulama terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Dakwahnya

Pujian ulama dunia terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya amatlah banyak. Namun karena terbatasnya tempat, cukuplah disebutkan sebagiannya saja.

1. Imam ash-Shan’ani (Yaman)

Beliau kirimkan dari Shan’a bait-bait pujian untuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya. Bait sya’ir yang diawali dengan:

Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal di sana

Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya

2. Imam asy-Syaukani (Yaman)

Ketika mendengar wafatnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, beliau layangkan bait-bait pujian terhadap Syaikh dan dakwahnya. Di antaranya:

Telah wafat tonggak ilmu dan pusat kemuliaan

Referensi utama para pahlawan dan orang-orang mulia

Dengan wafatnya, nyaris wafat pula ilmu-ilmu agama

Wajah kebenaran pun nyaris lenyap ditelan derasnya arus sungai

3. Syaikh Muhammad Hamid al-Fiqi (Mesir)

Beliau berkata: “Sesunnguhnya amalan dan usaha yang beliau lakukan adalah untuk menghidupkan kembali semangat beramal dengan agama yang benar dan mengembalikan umat manusia kepada apa yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, serta apa yang diyakini para shahabat, para tabi’in, dan para imam yang terbimbing.

4. Syaikh Taqiyyudin al-Hilali (Irak)

Beliau berkata: “Tidak asing lagi bahwa Imam Rabbani al-Awwab Muhammad bin Abdul Wahab, benar-benar telah menegakkan dakwah tauhid yang lurus. Memperbaharui (kehidupan uamt manusia) seperti di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Dan mendirikan daulah yang mengingatkan uamt manusia kepada daulah di masa al-Khulafa’ ar-Rasyidin.”

5. Syaikh Mulla Umran bin Ali Ridhwan (Iran)

Beliau –ketika dicap sebagai Wahabi- berkata:

Jikalau mengikuti Ahmad disebut sebagai Wahabi

Maka kutegaskan bahwa aku adalah Wahabi

Kubasmi segala kesyirikan dan tiadalah bagiku

Rabb selain Allah Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Pemberi

6. Syaikh Ahmad bin Hajar al-Buthami (Qatar)

Beliau berkata: “Sesungguhnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi adalah seorang da’i tauhid, yang tergolong sebagai pembaharu yang adil dan pembenah yang ikhlas bagi agama umat.”

7. al-‘Allamah Muhammad Basyir as-Sahsawani al-Hindi

Kitab beliau Shiyanah al-Insan ‘an Waswasah asy-Syaikh Dahlan, sarat akan pujian dan pembelaan terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya.

8. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (Yordania)

Beliau berkata: “Dari apa yang telah lalu, nampaklah kedengkian yang sangat, kebencian durjana, dan tuduhan yang keji dari para penjahat (intelektual) terhadap Imam al-Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab -semoga Allah merehmatinya dan mengaruniainya pahala-, yang telah mengeluarkan manusia dari gelapnya kesyirikan menuju tauhid yang murni…”

9. Ulama Saudi Arabia

Tak terhitung banyaknya pujian mereka terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya, turun-temurun sejak Syaikh masih hidup hingga hari ini.

Penutup

Akhir kata, demikianlah yang dapat kami sajikan seputar istilah Wahabi yang menjadi momok di Indonesia pada khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Semoga sajian ini dapat menjadi penerang di tengah gelapnya permasalahan, dan pembuka cakrawala berpikir untuk tidak berbicara dan menilai kecuali di atas pijakan ilmu.

Wallahu A’lam bish-Shawab

Disadur dari http://anditasb.multiply.com/journal/item/50

Iklan

KILAS BALIK PENCETUS PEMIKIRAN SESAT TAKFIR-KHOWARIJ


Oleh: Abu Abdirrahman bin Thoyyib

Berbicara mengenai terorisme dan pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai negara, khususnya Indonesia dan Saudi Arabia, tidak terlepas dari pembahasan masalah takfir/pengkafiran. Tidaklah mereka yang berani dan nekad serta tega membunuh kaum muslimin, entah dengan bom bunuh diri atau bom waktu dan yang lainnya, melainkan telah mengakar dalam hatinya pemikiran takfir. Mereka menganggap bahwa kaum muslimin sekarang ini tidak ada bedanya dengan orang-orang kafir (Yahudi maupun Nashoro). Maka dari itu mereka menghalalkan darah, harta dan kehormatan kaum muslimin.

Sejarah telah membuktikan akan hal ini. Tidaklah orang-orang Khowarij[1] menghalalkan darah Ali dan para sahabat yang lain, melainkan dilatarbelakangi oleh keyakinan mereka, bahwa Ali dan para sahabat itu telah kafir. Oleh karena itu simak dengan seksama hal-hal berikut ini :

A- Peringatan akan bahaya takfir

Masalah takfir adalah masalah yang amat sensitif. Tidak boleh seseorang berbicara dalam masalah ini, kecuali dengan ilmu serta petunjuk dari para ulama. Karena barangsiapa yang mengkafirkan saudaranya muslim tanpa ilmu, maka dia telah melakukan dua kesalahan fatal, yaitu :

1- Berbicara terhadap Allah tanpa ilmu. Padahal Allah berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah.” (QS. Al-An’am : 21).

Dan Dia juga berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS.Al-A’roof : 33)

Dan Allah berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Isra’ : 36)

Kenapa bisa dikatakan demikian ? karena takfir adalah hak Allah dan Rasul-Nya. Yang disebut dengan orang kafir adalah yang dikatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya r. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata : “Mewajibkan dan mengharamkan, dosa dan pahala, serta takfir dan tafsiq (menuduh orang sebagai fasik) adalah hak Allah dan Rasul-Nya saja. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk menghukumi didalamnya” (Majmu’ Fatawa : 5/545). Ibnul Qoyyim v berkata dalam qosidah nuniyahnya :

الكُفْرُ حَقُّ اللهِ ثُمَّ رَسُوْلِهِ بِالنَّصِّ يَثْبُتُ، لاَ بِقَوْلِ فُلاَنِ

مَنْ كَانَ رَبُّ اْلعَالَمِيْنَ وَعَبْدُهُ قَدْ كَفَّرَاهُ فَذَاكَ ذُواْلكُفْرَانِ

(Penetapan sesuatu itu) kufur adalah hak Allah kemudian Rasul-Nya

dengan penetapan nash bukan dengan ucapan si fulan (si B)

Barangsiapa yang oleh Rob semesta Alam dan Rasul-Nya

Dikafirkan maka dialah orang kafir

 

2- Orang tersebut telah melampaui batas terhadap saudaranya sesama muslim. Karena pengkafiran tersebut memiliki konsekwensi penghalalan darah, kehormatan dan hartanya, tidak boleh dia mewarisi atau diwarisi, tidak boleh disholatkan atau didoakan jika meninggal, serta tidak boleh disemayamkan di pemakaman kaum muslimin. Dan yang lebih parah lagi kalau yang dikafirkan itu seorang penguasa/pemimpin kaum muslimin, maka ini akan menimbulkan pertumpahan darah dan pemberontakan. Fallahul Musta’aan wa ilaihi Al-Musytaka.

Dikarenakan bahayanya yang sangat besar, maka Islam pun memperingatkan darinya dan para ulama juga ikut andil dalam menjelaskan masalah besar ini. Rasulullah r bersabda :

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ ِلأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَ فِي رِوَايَةِ

مُسْلِمٍ : إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ …

“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya : wahai kafir, maka (dosa) pengkafiran ini akan kembali kepada salah satu dari keduanya, jika dia benar dalam berkata (maka tidak mengapa), tapi jika tidak maka ucapan itu akan kembali kepadanya”. (HR.Bukhori (6104) dan Muslim (111) dengan lafadz (apabila seseorang mengkafirkan saudaranya (muslim) ….).

Adapun peringatan ulama akan bahaya takfir tanpa ilmu amat banyak sekali, diantaranya :

1- Al-‘Ala’ bin Ziyad v seorang tabi’in berkata : “Engkau menuduh kafir orang muslim atau kamu membunuhnya itu sama saja”.[2]

2- Ibnu Abil ‘Izzi v berkata : “Ketahuilah –semoga Allah merohmatimu- bahwa pemikiran takfir sangat banyak fitnah dan bahayanya, serta menimbulkan perpecahan. Sesungguhnya kekejian yang besar adalah menuduh bahwa Allah tidak mengampuni dan merahmati orang muslim, bahkan menganggapnya kekal di dalam neraka selama-lamanya, padahal ini adalah hukum bagi orang kafir setelah mati”.[3]

3- Imam al-Qurthubi v berkata : “Pemikiran takfir itu sangat berbahaya, banyak manusia yang terjerumus kedalamnya hingga mereka jatuh berguguran. Adapun para ulama, mereka berhati-hati sekali dalam masalah ini, sehingga mereka itu selamat, dan tidak ada yang sebanding dengan keselamatan dalam perkara ini”.[4]

 

B- Syarat-Syarat Takfir

Tidak semua yang melakukan perbuatan kufur atau mengatakan perkataan kufur bisa dinamakan kafir, hingga tegak padanya hujjah dan terpenuhi syarat-syaratnya, serta dihilangkan darinya pencegah-pencegahnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata : “Terkadang perkataan kufur bisa dikatakan secara umum bagi yang mengatakannya sebagai orang ‘kafir’, misalnya “Barangsiapa yang mengatakan perkataan (kufur ini) maka dia kafir”. Akan tetapi person (individu tertentu) yang mengatakan perkataan tersebut tidak bisa dikatakan kafir hingga tegak baginya hujjah, yang bisa menjadi kufur orang yang meninggalkannya”[5]

Beliau juga berkata : “Sesunguhnya orang yang duduk denganku telah mengetahui, bahwa aku termasuk orang yang paling melarang (berhati-hati) dalam masalah pengkafiran dan penfasikan seorang muslim, kecuali kalau sudah tegak baginya hujjah yang barangsiapa menyelisihinya dia kafir atau fasik”[6]

Beliau juga berkata : “Oleh karena itu aku mengatakan kepada orang-orang Jahmiyah dari kalangan Hululiyah (yang meyakini bersemayamnya Allah dalam diri makhluk-Nya) dan penolak (nama dan sifat Allah) yang meniadakan bahwa Allah diatas Arsy-Nya : “Seandainya aku menyetujui kalian, maka aku kafir karena aku tahu bahwa ucapan kalian itu kufur! Akan tetapi kalian menurutku tidak kafir sebab kalian itu bodoh”. Dan ucapan ini ditujukan kepada ulama, qodhi, syaikh dan pemimpin mereka. Sebab kebodohan mereka adalah syubhat dari akal pemimpin mereka yang tidak mau mengambil nash shohih atau akal yang sehat, yang sesuai dengan nash tersebut”.[7]

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab v berkata : “Jika kami tidak mengkafirkan orang yang menyembah berhala yang ada di kuburan Ahmad Badawi karena kebodohan mereka, serta ketidakadanya orang yang memperingatkan mereka, maka bagaimana mungkin kita mengkafirkan orang yang tidak berbuat syirik hanya lantaran dia tidak bergabung dengan kami ?!” [8]

Syarat-syarat takfir itu ada tiga yaitu ilmu, niat (berbuat), dan tidak dipaksa. Dan lawan dari ketiga ini dinamakan pencegah takfir, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v : “Adapun jika orang tersebut memiliki ilmu tentang apa yang dia ucapkan, dan dia tidak dipaksa, serta dia memang berniat mengucapkan hal tersebut maka dia bisa (dikafirkan)”[9]. Adapun dalil dari ketiga syarat tersebut adalah :

1- Ilmu lawannya jahl, dalilnya kisah Dzatu Anwaat

Dari Abu Waqid al-Laitsi z dia berkata : “Dahulu kami bepergian bersama Rasulullah r ke Hunain, sedangkan kami baru saja keluar dari kekafiran. Orang-orang musryrikin memiliki sebuah pohon bidara yang dinamakan Dzatu anwaat, mereka menggantungkan senjata mereka di atasnya (untuk ngalap /mencari berkah). Ketika kami melewati sebuah pohon bidara kami mengatakan kepada Nabi r : ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwaat sebagaimana yang dimiliki oleh orang-orang musyrikin dahulu !’ maka Nabi r bersabda : ‘Allahu Akbar, ini adalah jalannya orang-orang terdahulu, demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, ini seperti ucapan Bani Israil kepada Musa :

اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ

“Buatkanlah untuk kami sesembahan seperti mereka.” (QS. Al-A’raf : 138) sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.” (HSR. Tirmidzi)

Ucapan dan permintaan (untuk mencari berkah kepada selain Allah) dari para sahabat di atas adalah kekufuran. Tapi karena mereka masih belum tahu hukum ucapan dan permintaan tersebut, karena mereka baru masuk Islam, maka Nabi r tidak menvonis mereka kafir. Dari sinilah kita dilarang seenaknya mengkafirkan kaum muslimin, khususnya para penguasa tanpa memperhatikan dahulu syarat takfir di atas. Bisa jadi penguasa yang berhukum dengan selain hukum Allah belum mengetahui apa hukum perbuatan mereka tersebut.

2- Tidak dipaksa lawannya dipaksa, dalilnya kisah Ammar bin Yasir.

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS.An-Nahl : 106)

3- Niat berbuat dan lawannya tidak ada niat (bukan disengaja), dalilnya orang yang mengatakan : “Ya Allah engkau adalah hambaku dan aku adalah Robbmu” (HR.Muslim)

Ucapan orang ini kufur karena menghina Allah, Robb semesta alam, tapi karena orang tersebut mengucapkannya secara reflek/tidak sengaja, maka Nabi r tidak menvonisnya kafir. Oleh karena itulah jangan tergesa-gesa mengkafirkan kaum muslimin.

 

C- Kilas balik Pencetus Takfir

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v mengatakan : “Kelompok Khowarij adalah orang pertama yang mengkafirkan kaum muslimin, dan mengatakan kafir bagi setiap pelaku dosa. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah mereka, serta menghalalkan darah serta hartanya”[10]

Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan v berkata : “Yang pertama kali jatuh dalam jurang pengkafiran umat Islam adalah Khowarij. Dan benih Khowarij ini, muncul pertama kali pada zaman Nabi r. Datang seseorang (Dzul Khuwaisiroh) kepada Nabi r disaat beliau sedang membagikan harta rampasan perang, setelah datang dari Hunain. Orang itu berkata : “Wahai Muhammad, berbuat adillah, karena engkau tidak berbuat adil !” maka Rasulullah r bersabda : “Celaka engkau, siapa yang akan adil jika aku tidak adil ?!” kemudian beliau bersabda : “Akan keluar dari tulang rusuk orang ini sekelompok orang, yang kalian akan meremehkan sholat kalian jika kalian bandingkan dengan sholat mereka. Dan kalian juga akan meremehkan puasa kalian jika kalian bandingkan dengan puasa mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah menembus sasarannya” (HR. Bukhori)

Dan Khowarij inilah yang ikut andil dalam pengepungan rumah Utsman y hingga beliau terbunuh, dan mereka jugalah yang membunuh Ali bin Abi Tholib y. Pembunuhan terhadap Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib yang dilakukan oleh Abdurrohman bin Muljam ini, mereka yakini sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, karena mereka menganggap telah bisa membunuh orang kafir. Imron bin Hiththon Al-Khooriji (seorang tokoh khowarij) mengatakan :

يَا ضَرَبَةً مِنْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي اْلعَرْشِ رِضْوَانَا

إِنِّي َلأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ أَوْفَى اْلبَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَا

Wahai sabetan (pedang) dari seorang yang bertakwa. Dia tidak menginginkan dengan (pembunuhan) itu

Melainkan untuk mencapai keridhoan dari (Allah) yang memiliki Arsy

Aku selalu mengingatnya dan aku menganggapnya

Sebagai orang yang paling berat timbangan (kebaikannya) disisi Allah

Subhanallahu, membunuh sahabat yang termasuk salah satu khulafa’ ar-rosyidin, yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunnahnya, dan beliau adalah salah seorang yang diberi kabar gembira untuk masuk surga, dianggap oleh Khowarij sebagai amal ibadah yang mulia. Maha benar Allah yang telah berfirman :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Artinya : ” Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi : 103-104)

Kalau ada yang memuji pembunuh Ali y, maka pembunuh Utsman juga ada yang memujinya. Siapa dia ? Dialah tokoh Ikhwanul Muslimin Sayyid Quthub. Dia mengatakan : “Dan yang terakhir, muncul pemberontakan terhadap Utsman. Tercampur di dalamnya kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kejahatan. Akan tetapi bagi yang melihat setiap perkara dengan kaca mata Islam, serta merasakannya dengan semangat keIslaman, maka dia akan menyatakan bahwa pemberontakan tersebut secara umum merupakan kebangkitan Islam.”[11]

Diantara sebab mengapa Khowarij mengkafirkan Ali y adalah anggapan mereka, bahwa Ali tidak berhukum kepada hukum Allah. Mereka dan anak cucunya (para teroris dan mujahidin gadungan) selalu mengkafirkan para penguasa kaum muslimin dengan ayat :

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Tidak ada hukum selain hukum Allah” (QS. Yusuf :40)

Dan firman-Nya :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu kafir” (QS. Al-Maidah : 44).

Imam Al-hafidz Abu Bakr Muhammad bin Al-Husein Al-Ajurri v berkata : “Diantara syubhat Khowarij adalah (berpegangnya mereka dengan-pent) firman Allah I : “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Mereka membacanya bersama firman Allah : ‘Namun orang-orang kafir itu mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka” (Surat Al-an’am : 1). Apabila mereka melihat seorang hakim yang tidak berhukum dengan kebenaran, mereka berkata : Orang ini telah kafir, dan barangsiapa yang kafir, maka dia telah mempersekutukan Tuhannya. Maka mereka para pemimpin-pemimpin itu adalah orang-orang musyrik”[12].

Al-Imam Al-Qodhi Abu Ya’la v berkata dalam masalah iman : “Khowarij berhujjah dengan firman Allah ta’ala : “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Dzohir dalil mereka ini, mengharuskan pengkafiran para pemimpin yang dzolim, dan ini adalah perkataan Khowarij, padahal yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah orang-orang yahudi”[13].

Abu Hayyan v berkata dalam tafsirnya : “Khowarij berdalil dengan ayat ini untuk menyatakan, bahwa orang yang berbuat maksiat kepada Allah itu kafir, mereka mengatakan : Ayat ini, adalah nash untuk setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, bahwa dia itu kafir”[14].

Abu Abdillah Al-Qurthubi v menukil perkataan dari Al- Qusyairi v : “Madzhabnya Khowarij adalah barangsiapa yang mengambil uang suap dan berhukum dengan selain hukum Allah maka dia kafir”[15]

Wahai kaum muslimin, sadarlah akan bahaya pemikiran mereka ! Para kholifah dari kalangan sahabat saja, mereka bantai, meskipun dengan nama jihad, apalagi kita !!! Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran Khowarij, dan semoga Allah membasmi mereka semuanya, Amin Ya Robbal ‘Alamin.

[Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 23, hal. 4-10]


[1] Akan datang sebentar lagi penjelasan singkat mengenai Khowarij.

[2] Hilyatul auliya’ 2/246

[3] Syarhuth Thohawiyah 2/432

[4] Al-Mufhim 3/111

[5] Majmu’ al-fatawa : 23/345

[6] Majmu’ al-fatawa 3/229

[7] Ar-roddu ‘alal Bakri 2/494

[8] Minhajul haq wal ittiba’ oleh Syaikh Ibnu Sahman.

[9] Majmu’ Fatawa 14/118

[10] Majmu’ al-Fatawa 7/279.

[11] Al-’Adaalah Al-Ijtima’iyah hal.160

[12] Asy-Syariah (1/342).

[13] Masaaailil Iman (340-341) dan telah lewat perkataan ini.

[14] Al-Bahrul Muhith (3/493).

[15] Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an (6/191).

 

Sumber: http://ibnuramadan.wordpress.com/2009/06/11/kilas-balik-pencetus-takfir/

KEDUSTAAN DAN KESESATAN BUKU : “Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan”


Oleh : Al-Ustadz Abu Ahmad as-Salafi -hafidzohulloh-

 

burning_bookDi antara karakteristik ahli bid’ah dari masa ke masa, mereka selalu mencela dan mencoreng citra Ahli Sunnah wal Jama’ah untuk menjauhkan umat dari al-haq. Al-Imam Abu Hatim ar-Rozi rohimahulloh berkata: “Ciri ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar.”(1) Al-Imam Abu Utsman ash-Shobuni rohimahulloh berkata: “Tanda yang paling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka terhadap pembawa sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Mereka melecehkan dan menghina ahli Sunnah dan menamakan ahli Sunnah dengan Hasyawiyyah (orang-orang pinggiran yang tidak faham agama dengan sebenarnya), Jahalah (orang-orang bodoh), Dhahiriyyah (orang-orang fundamentalis), dan Musyabbihah (orang-orang yang menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya).”(2)

Di antara deretan buku-buku ‘hitam’ yang mencela Salafiyyun dan Dakwah Salafiyyah ialah buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan yang beredar baru-baru ini. Isi buku ini tidak jauh berbeda dari buku para pendahulunya seperti Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah oleh Sa’id Romadhon al-Buthi(!) atau Salaf wa Salafiyyun Ru’yah minad Dakhil oleh Ibrahim As’as(!). Buku kecil ini sarat dengan syubhat yang menyesatkan serta kedustaan atas Salafiyyin dan Dakwah Salafiyyah.

Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan membela dakwah yang haq, dengan memohon pertolongan kepada Alloh akan kami paparkan sebagian kesesatan dan kedustaan buku ini agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.

 

Penerbit dan Pengedar Buku Ini

Buku ini disusun oleh Tim Studi Kelompok Sunniyyah dan diterbitkan oleh Pustaka MIM pada bulan Robi’ul Awwal 1427 H/April 2006 M. Pengedar buku ini adalah HASMI yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Huda, Bogor.

Sebagai catatan, beberapa bulan lalu telah datang pertanyaan dari sebagian pembaca Majalah AL FURQON kepada kami yang belum sempat kami jawab, yaitu: “Apakah HASMI termasuk kelompok Sururi?” Insya Alloh dengan menelaah buku yang mereka sebarkan ini jatidiri mereka bisa diraba.

Menyebarkan Keraguan Terhadap Istilah Salafiyyah dan Salafiyyun

TimStudiKelompokSunniyyah (TSKS) berkata di hal. 7-8 buku mereka ini: “Manhaj Ahli Sunnah terkadang pula disebut atau dinamakan dengan istilah Salafiyyah, walaupun sebenarnya nama Salafiyyah tidak mendapatkan legitimasi resmi sebagai nama lain dari manhaj Ahlus Sunnah. Salafiyyah hanyalah merupakan kata atau istilah bantu untuk memastikan bahwa As-Salaf Ash-Shalih (tiga generasi pertama) berjalan di atas manhaj tersebut!”

Bandingkan perkataan mereka ini dengan perkataan Sa’id Romadhon al-Buthi dalam judul kitabnya: “Salafiyyah adalah fase kurun waktu yang penuh berkah dan bukan madzhab Islami”(!)

Perkataan al-Buthi ini telah dibantah oleh Syaikh Sholih al-Fauzan(3) di dalam kitab beliau Nazhorot wa Ta’qibat ‘ala Ma fi Kitabi Salafiyyah li Muhammad Sa’id Romadhon minal Hafawat, kata beliau: “Penafsiran bahwasanya Salafiyyah hanyalah suatu kurun waktu dan bukan jama’ah adalah penafsiran yang ghorib (asing) dan batil, apakah dikatakan bahwa kurun waktu adalah Salafiyyah? Ini tidak pernah dikatakan oleh seorang pun. Yang benar, istilah Salafiyyah ditujukan pada jama’ah orang-orang yang beriman yang hidup di kurun pertama dari masa Islam yang berpegang teguh pada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam! dari orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka ini disifati oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dalam sabdanya:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah genenasiku, kemudian yang datang sesudah mereka, kemudian yang datang sesudah mereka.” (Muttafaq’Alaih)

Ini adalah sifat bagi suatu jama’ah dan bukan sifat bagi suatu kurun waktu, ketika menyebut tentang perpecahan umat, sesudahnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengatakan sifat semua kelompok ini “Semuanya di neraka kecuali satu” dan beliau menyifati satu kelompok yang selamat ini adalah yang mengikuti manhaj salaf dan berjalan di atasnya, beliau bersabda: “Mereka adalah yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini.” Hal ini menunjukkan adanya jama’ah salafiyyah yang terdahulu dan jama’ah salafiyyah belakangan yang mengikuti manhaj jama’ah salafiyyah yang terdahulu. Di lain pihak ada kelompok-kelompok yang menyelisih jama’ah salafiyyah, dan (mereka) diancam dengan neraka.”

TSKS berkata dalam buku mereka ini hal. 11: “Pada dekade terakhir, muncul suatu arus pengajian atau pemahaman yang, menamakan diri mereka sebagai Salafiyyun … penamaan ini merupakan hal baru (bid’ah)!”

Perkataan TSKS ini telah dibantah oleh Syaikh Bakar bin Abdulloh Abu Zaid(4) yang menjelaskan tentang disyari’atkannya penamaan Salafiyyun, beliau berkata: “Jika disebut salaf atau salafiyyun atau salafiyyah, maka dia adalah nisbah kepada Salafush Sholih: para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, bukan orang-orang yang cenderung kepada hawa nafsu dari generasi sesudah sahabat dan menyempal dari jalan para sahabat dengan nama atau simbol -mereka inilah yang disebut kholafi, nisbah kepada kholaf-. Adapun orang-orang yang teguh di atas manhaj kenabian menisbahkan diri kepada Salafush-sholih sehingga mereka disebut salaf dan salafiyyun, dan nisbah kepada mereka adalah salafi.” (Hukmul Intima’ hal. 90)

Melecehkan Para Ulama

TimStudiKelompokSunniyyah (TSKS) berkata dalam hal. 13 buku mereka ini: “Ketika pada tahun 1990 terjadi perang Kuwait, muncullah beberapa bentuk pertentangan di antara masyayikh yang ada di Saudi Arabia …. Yang dimaksud para masyayikh adalah beberapa masyayikh di Najd dan Madinah. Dari segi ilmu, mereka semua di bawah level Lajnah Daimah atau Hay’ah Kibar al-Ulama.”

Kami katakan: TSKS hendak menyamakan level (taraf) antara para ulama Madinah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, Syaikh Muhammad Aman al-Jami, Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi, Syaikh Sholih bin Sa’ad as-Suhaimi, dan yang lainnya dengan para tokoh khotbah muda dari Najd seperti Salman al-Audah, Safar Hawali, Aidh al-Qorni, dan yang lainnya! Setiap orang yang jujur dan obyektif akan mengatakan bahwa mereka tidaklah selevel dengan para ulama Madinah dari segi usia, apalagi dari segi ilmu! Realita yang sesungguhnya, perbandingan antara dua kelompok ini adalah perbandingan antara para ulama dengan para tokoh khotbah, seperti yang dikatakan oleh Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu anhu tentang zaman ini:

إِنَّكُمْ فِيْ زَمَانٍ كَثِيْرٌ عُلَمَاؤُهُ قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ وَإنَّ بَعْدَكُمْ زَمَانًا كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ وَالعُلَمَاءُ فِيهِ قَلِيلٌ

“Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di zaman yang banyak ulamanya dan sedikit juru khotbahnya, dan sesungguhnya akan datang sesudah kalian suatu zaman yang banyak juru khotbahnya dan sedikit ulamanya.” (Diriwayatkan oleh Abu Khoitsamah dalam Kitabul Ilm hal. 109 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam takhrijnya)

Ketika para juru-juru khotbah ini menampakkan bid’ah dan fitnah, para ulama Ma-dinah seperti Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidhohulloh, Syaikh Muhammad Aman al-Jami rohimahulloh, dan Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafidhohulloh memperingatkan umat dari kesesatan mereka. Bantahan para ulama Madinah terhadap mereka ini didukung dan direkomendasi oleh Ketua Lajnah Da’imah dan Hafah Kibar al-Ulama Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh, anggota Lajnah Da’imah dan Hai’ah Kibar al-Ulama Syaikh Sholih al-Fauzan hafidhohulloh, dan yang lainnya.

TSKS berkata dalam hal. 13 dari buku mereka ini: “Pada waktu yang sama di Yaman pun terdapat pula seorang tokoh ahli hadits(5) yang sangat terkenal dalam hal menjarh (menilai negatif) para dari, sehingga pada saat itu mulai terlahirlah arus porak-poranda.”

Kami katakan: Pelecehan ahli bid’ah kepada Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i (6) ini bukanlah yang kali pertama. Orang yang melecehkan Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh dikatakan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh sebagai seorang yang jahil atau pengikut hawa nafsu (simak kaset Silsilatul Huda wan Nur no. 851).

TSKS berkata pada hal. 19 buku mereka ini: “Pemimpin-pemimpin asli mereka, walaupun sangat sedikit, tetapi berpencar di beberapa negeri di Timur Tengah. Di antara para pemimpin tersebut ada yang gemar mengaku sebagai murid(7) dari salah seorang ulama hadits terkenal yang sangat kita hormati. Pengakuan ini masih harus dibuktikan.”

Kami katakan: Sindiran para penulis buku ini kepada Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafidhohulloh tidaklah berarti, karena setiap penulis biografi Syaikh al-Albani rohimahulloh selalu mencantumkan nama Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafidhohulloh. dalam deretan nama murid-murid Syaikh al-Albani rohimahulloh. Dan tidak satu pun dari Salafiyyin yang menganggap beliau sebagai pemimpin sebuah jama’ah yang dibai’at dan ditaati sebagaimana dilakukan oleh para hizbiyyin terhadap amir-amir jama’ah mereka!

Menyamakan Para Ulama Salafiyyin Dengan Murjifun

TSKS berkata pada hal. 21 buku mereka ini: “Ulah kaum sempalan tersebut memang cukup ganjil dan mungkin yang pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Kalaupun ada yang mendahului mereka dalam meniti manhaj pemorak-porandaan seperti ini maka tidak lain adalah kaum Murjifun (perusak) yang ada di Madinah pada zaman Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam’

Kami katakan: Perkataan mereka ini hanyalah daur ulang dari perkataan gembong mereka, Salman al-Audah, dalam kasetnya Tahrirul Ardhi Am Tahrirul Insan yang menyebut para ulama Salafiyyin di Madinah sebagai Murjifin di Madinah. (Lihat al-Quthbiyyah cet. kedua hal. 150)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz rohimahulloh telah membantah perkataan Salman ini dengan mengatakan: “Para saudara kita masyayikh yang dikenal, yang berada di Madinah, kami sama sekali tidak meragukan tentang mereka. Mereka adalah para pemilik aqidah thoyyibah (yang bagus). Mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, seperti Syaikh Muhammad Aman bin Ali al-Jami, Syaikh Robi’ bin Hadi, Syaikh Sholih bin Sa’ad as-Suhaimi, Syaikh Falih bin Nafi’, dan Syaikh Muhammad bin Hadi; semuanya kami kenal dengan istiqomah, ilmu, dan aqidah thoyyibah.” (Bayan Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz tertanggal 28/7/1412 H di Makkah, sebagaimana dalam al-Quthbiyyah cet. kedua hal. 151)

Membela Ahli Bid’ah

TSKS berkata dalam hal. 17 buku mereka ini: “6. Menuduh tanpa bukti dan memutarbalikkan fakta tanpa malu, khususnya tuduhan kepada para ulama yang tertulis dalam daftar musuh-musuh Zionis Internasional, seperti Sayyid Quthb -Rahimahullah- yang dihukum gantung oleh antek-antek Zionis di Mesir.”

Kami katakan: Sayyid Quthb bukanlah seorang ulama sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Sholih al-Fauzan hafidhohulloh, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidhohulloh, dan Syaikh Sholih al-Luhaidan hafidhohulloh. Bahkan banyak sekali perkataan Sayyid Quthb yang merupakan bid’ah dan sesat, seperti: mencela Nabi Musa alaihissalam, mencela para sahabat rodhiyallohu anhum, mengatakan bahwa al-Qur’an makhluk, menganut paham hulul (Alloh menyatu dengan makhluk) dan jabriyyah (Manusia tidak memiliki kekuatan dalam melakukan kehendak dan perbuatannya seperti bulu yang tertiup angin), menolak sifat-sifat Alloh dengan menempuh cara-cara Jahmiyyah (pengikut Jahm bin Shofwan), menolak hadits-hadits yang shohih dalam masalah aqidah, mengimani paham sosialisme, dan yang lainnya.(8)

Pembelaan kelompok Quthbiyyah Sururiyyah terhadap Sayyid bukanlah hal baru. Tokoh mereka, Muhammad Surur, berkata dalam kitabnya Dirosat fi Siroh Nabawiyyah (hal. 321-323): “Sayyid Quthb dizholimi oleh dua kelompok manusia: Dizhalimi oleh sebagian murid-murid dan pengagumnya, karena mereka sangat kagum kepadanya, kagum kepada keteguhannya di atas kebenaran dan kesabarannya menerima ujian di jalan Alloh, kagum kepada keluasan wawasannya, kebersihan fithrohnya, dan kedalaman pengetahuannya … dan kami menyertai mereka dalam hal ini semua….”

Pembelaan senada juga datang dari Muhammad Sholih al-Munajjid dalam risalahnya Arba’una Nashihatan li Ishlahil Buyut hal. 23-25, Aidh al-Qorni dalam kitabnya Lahnul Khulud hal. 20, Salman al-Audah dalam kasetnya Taqwimur Rijal, dan masih banyak lagi dari kalangan mereka.

Mencomot Fatwa Lajnah Da imah yang Sejalan Dengan Kepentingan Mereka

Akhir-akhir ini banyak kelompok bid’ah di tanah air beramai-ramai mencomot Fatwa Lajnah Da’imah yang mengkritik sebagian tulisan dari Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafidhohulloh. Di antara kelompok-kelompok bid’ah tersebut adalah HASMI(9)di dalam akhir dari buku yang mereka edarkan: Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan -yang sedang kita bahas sekarang ini-, dan MMI di dalam selebaran mereka yang berjudul Aqidah Jama’ah Salafiyyah Dalam Tinjauan Syar’i.

Sikap para hizbiyyun ini sangat mengherankan, karena sepanjang sejarah perjalanan mereka baru kali ini mereka begitu antusias menukil sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia. Tempo hari, mereka menuding para ulama Saudi hanyalah ulama haid dan nifas, tidak paham waqi’ (realita), antek-antek CIA, ulama penguasa, dan sederet tuduhan-tuduhan keji yang lainnya(!), lalu hari ini secara serempak mereka menukil sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia dan menyebarluaskannya.(?!)

Sehubungan dengan Fatwa Lajnah Da’imah ini, kami nukilkan tanggapan Syaikh DR. Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidhohulloh -Imam Masjid Nabawi dan Qodhi di Pengadilan Tinggi Madinah Nabawiyyah- di dalam ceramah beliau yang berjudul ‘Ala Thoriqi Sunnah pada tanggal 5 Rabi’ul Awwal l422H:

Penanya berkata: “Fadhilatusy Syaikh, bagaimana pendapat Syaikh tentang fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Da’imah tentang kedua kitab Syaikh Ali al-Halabi: at-Tahdzir dan Sho’ihatu Nadzir, bahwasanya kedua kitab ini mengajak kepada pemikiran Irja’ yaitu bahwasanya amalan bukanlah syarat sahnya iman, padahal kedua kitab ini tidak membahas masalah syarat sahnya iman atau syarat kesempurnaan iman?!”

Syaikh DR. Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidhohulloh menjawab:

“Yang pertama, wahai saudara-saudaraku! Syaikh Ali dan Masyayikh lainnya satu jalan. Syaikh Ali adalah saudara tua sebagaimana para Masyayikh yang mengeluarkan fatwa ini. Syaikh Ali mengenal mereka, dan mereka pun mengenal Syaikh Ali. Mereka memiliki hubungan baik dengan Syaikh Ali.

Syaikh Ali telah diberi Alloh ilmu dan bashiroh untuk mengatasi masalah ilmiah antara dia dan Masyayikh, dan masalah ilmiah ini untuk menjelaskan al-haq. Adapun Syaikh Ali dan gurunya -Syaikh al-Albani-, setiap orang yang di atas jalan Sunnah tidak ada satu pun yang meragukan bahwasanya mereka di atas manhaj yang diridhai -wa lillahil hamdu-. Syaikh Ali -wa lillahil hamdu-termasuk pembela manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Fatwa tersebut tidak me-nash-kan bahwa Syaikh Ali Murji’ah -tidak akan beliau mengucapkan ini!!- khilaf antara fatwa ini dengan Syaikh Ali pada masalah kitab dan diskusi bersamanya pada perkara ini.

Keberadaan orang-orang lain yang hendak memaksakan kandungan fatwa ini, bahwasanya fatwa ini mewajibkan hukum atas Syaikh Ali bahwa beliau Murji’, maka ini tidak saya pahami, dan aku menyangka bahwa saudara-saudara di sini juga tidak memahami ini. Fatwa ini -wa lillahil hamdu- tidak menyelisihi hubungan antara Syaikh Ali dan Masyayikh, mereka menghormati dan menghargai Syaikh Ali.

Syaikh Ali telah menjelaskan dengan penjelasan ilmiah(10) -sebagaimana dilakukan oleh Salaful Ummah-; tidak ada seorang pun dari kita melainkan mengambil dan memberi, setiap orang diambil perkataannya dan juga dibantah; kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Malik rohimahulloh : “Setiap ucapan diterima dan ditolak, kecuali perkataan Rosul.” Demikianlah umat ini, berselisih pada awalnya antara yang mengambil dan yang menolak. Tetapi manusia -dari segi asalnya- kadang-kadang di tengah ucapan-ucapannya ada ucapan-ucapan yang lain -yaitu yang dinamakan dengan perkataan-perkataan spontan disebabkan adanya perdebatan, dan sebab tabiat asli manusia-, yang terdapat di dalamnya sedikit keras; bahkan juga di antara para sahabat rodhiyallohu anhum sebagaimana terjadi antara Abu Bakar dan Umar, dan antara yang lainnya dari kalangan sahabat -seperti antara Aisyah dan Ali-.

Kesimpulannya, fatwa ini -dalam pandanganku- tidak menghukumi, dan tidak me-nashkan dengan nash yang shorih bahwa Syaikh Ali di atas manhaj (Irja’) ini, sesung-guhnya fatwa ini adalah munaqasyah (pembicaraan) tentang sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh.

Syaikh Ali telah menulis kitab (Ajwibah Mutalaimah) sesudah keluarnya fatwa, bukan dalam rangka membantah, tetapi menjelaskan manhajnya dan manhaj gurunya -Syaikh al-Albani-. Yang kami yakini dan yang kami pertanggungjawabkan di hadapan Alloh, bahwasanya Syaikh Ali dan gurunya -Syaikh al-Albani- paling jauh di antara manusia dari madzhab Murji’ah -sebagaimana telah kami katakan sebelumnya-.

Syaikh Ali -demikian juga Syaikh al-Albani-, jika ditanyakan kepadanya: ‘Apakah definisi Iman?’ Tidak akan kita dapati dalam ucapannya perkataan Murji’ah yang mengatakan bahwa amalan tidak masuk dalam keimanan. Bahkan nash-nash Syaikh al-Albani menashkan bahwa definisi iman adalah keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.” (Tanbihat Mutawaimah hal. 553-557)

Inilah yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca tentang buku ini. Sebetulnya masih banyak hal lain dari kesesatan dan kedustaan buku ini yang perlu dijelaskan, tetapi Insya Alloh apa yang telah kami paparkan sudah bisa memberikan peringatan kepada kita tentang bahaya buku ini. Semoga Alloh selalu menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikutinya. Amin. []

Catatan Kaki

(1) Ashlu Sunnah hal. 24.

(2) Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 116.

(3) TSKS menyebut beliau sebagai “ulama terkenal” di dalam hal. 19 dari buku mereka ini. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah mereka mau mengoreksi buku mereka ini setelah mendengar perkataan Syaikh Sholih Fauzan ini? Ataukah mereka menggunakan kaidah intifa’ bi ghoiri intima’ (mengambil manfa’at tanpa harus mengikuti) sebagaimana dilakukan oleh sebagian tokoh-tokoh mereka terhadap Daulah Su’udiyyah Salafiyyah!

(4) TSKS juga menyebut beliau sebagai “ulama terkenal” di dalam hal. 19 buku mereka ini(?!)

(5) Maksud mereka ialah Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh (red.)

(6) Untuk mengenal lebih lanjut Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh lihat Majalah AL FURQON Th. 5 Edisi 1 rubrik Tokoh.

(7) Maksud mereka ialah Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari murid al-Allamah al-Muhaddits Nashiruddin al-Al hafidhohulloh bani rohimahulloh (red.)

(8) Di antara ulama yang menjelaskan aqidah, manhaj, dan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb ialah Syaikh Abdulloh ad-Duwaisy, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Syaikh Sholih al-Fauzan, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, dan Syaikh Sholih al-Luhaidan, dan Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi. (Lihat Majalah AL FURQON Th. 6 Edisi Spesial Romadhon-Syawwal rubrik Kitab)

(9) HASMI singkatan dari Harokah Sunniyyah Muslim Indonesia, sebuah organisasi di bawah naungan Yayasan Al-Huda Ciomas – Bogor. Mereka memiliki cara-cara licik. Di antaranya, mengundang sebagian du’at salafiyyin dalam acara-acara mereka untuk mengelabui umat, lantas setelah sebagian du’at salafiyyin ini pergi maka mereka yang melanjutkan acara dengan menyampaikan kesesatan-kesesatan mereka.

(10) Dalam kitabnya yang berjudul Ajwibah Mutalaimah ‘ala Fatwa Lajnah Daimah.

***

Sumber : Majalah al-FurQon Edisi 05 Tahun VI // Dzul-Hijjah 1427 [Januari 2007]

Siapakah Wahhabi?


Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc

Selubung Makar di Balik Julukan Wahhabi

Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullahu[1]. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik itu semua …?
Para pembaca, dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia. Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah. Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Fenomena ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang diemban Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.

Musuh-musuh tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.Di Najd dan sekitarnya:

– Para ulama suu` yang memandang al-haq sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai al-haq.

– Orang-orang yang dikenal sebagai ulama namun tidak mengerti tentang hakekat Asy- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.

– Orang-orang yang takut kehilangan kedudukan dan jabatannya. (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir hal.90-91, ringkasan keterangan Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz)

2. Di dunia secara umum: Mereka adalah kaum kafir Eropa; Inggris, Prancis dan lain-lain, Daulah Utsmaniyyah, kaum Shufi, Syi’ah Rafidhah, Hizbiyyun dan pergerakan Islam; Al-Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, dan para kaki tangannya. (Untuk lebih rincinya lihat kajian utama edisi ini/ Musuh-Musuh Dakwah Tauhid) Bentuk permusuhan mereka beragam. Terkadang dengan fisik (senjata) dan terkadang dengan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya. Adapun fisik (senjata), maka banyak diperankan oleh Dinasti Utsmani yang bersekongkol dengan barat (baca: kafir Eropa) –sebelum keruntuhannya–. Demikian pula Syi’ah Rafidhah dan para hizbiyyun. Sedangkan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya, banyak dimainkan oleh kafir Eropa melalui para missionarisnya, kaum shufi, dan tak ketinggalan pula Syi’ah Rafidhah dan hizbiyyun.[2] Dan ternyata, memunculkan istilah ‘Wahhabi’ sebagai julukan bagi pengikut dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan trik sukses mereka untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid tersebut. Padahal, istilah ‘Wahhabi’ itu sendiri merupakan penisbatan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi -pen) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.” (Lihat Imam wa Amir wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162) Tak cukup sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya menjadi sejoli bagi julukan keji tersebut. Tak ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk dan keji tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai dengan realitanya. Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster yang mengerikan bagi umat. Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli dalam menerima informasi. Terlebih ketika narasumbernya adalah orang kafir, munafik, atau ahlul bid’ah. Agar kita tidak dijadikan bulan-bulanan oleh kejamnya informasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Meluruskan Tuduhan Miring tentang Wahhabi [1].

Tuduhan: Asy- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang mengaku sebagai Nabi[3], ingkar terhadap Hadits nabi[4], merendahkan posisi Nabi, dan tidak mempercayai syafaat beliau.

Bantahan:

– Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang sangat mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terbukti dengan adanya karya tulis beliau tentang sirah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik Mukhtashar Siratir Rasul, Mukhtashar Zadil Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad atau pun yang terkandung dalam kitab beliau Al-Ushul Ats-Tsalatsah.

– Beliau berkata: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat –semoga shalawat dan salam-Nya selalu tercurahkan kepada beliau–, namun agamanya tetap kekal. Dan inilah agamanya; yang tidaklah ada kebaikan kecuali pasti beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tidak ada kejelekan kecuali pasti beliau peringatkan. Kebaikan yang telah beliau sampaikan itu adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan kejelekan yang beliau peringatkan adalah kesyirikan dan segala sesuatu yang dibenci dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus beliau kepada seluruh umat manusia, dan mewajibkan atas tsaqalain; jin dan manusia untuk menaatinya.” (Al- Ushul Ats-Tsalatsah)

– Beliau juga berkata: “Dan jika kebahagiaan umat terdahulu dan yang akan datang karena mengikuti para Rasul, maka dapatlah diketahui bahwa orang yang paling berbahagia adalah yang paling berilmu tentang ajaran para Rasul dan paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang paling mengerti tentang sabda para Rasul dan amalan-amalan mereka serta benar-benar mengikutinya, mereka itulah sesungguhnya orang yang paling berbahagia di setiap masa dan tempat. Dan merekalah golongan yang selamat dalam setiap agama. Dan dari umat ini adalah Ahlus Sunnah wal Hadits.” (Ad-Durar As-Saniyyah, 2/21)

– Adapun tentang syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim: “Aku beriman dengan syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliaulah orang pertama yang bisa memberi syafaat dan juga orang pertama yang diberi syafaat. Tidaklah mengingkari syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kecuali ahlul bid’ah lagi sesat.” (Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 118)

2. Tuduhan: Melecehkan Ahlul Bait

Bantahan:

– Beliau berkata dalam Mukhtashar Minhajis Sunnah: “Ahlul Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hak atas umat ini yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Mereka berhak mendapatkan kecintaan dan loyalitas yang lebih besar dari seluruh kaum Quraisy…” (Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/446)

– Di antara bukti kecintaan beliau kepada Ahlul Bait adalah dinamainya putra-putra beliau dengan nama-nama Ahlul Bait: ‘Ali, Hasan, Husain, Ibrahim dan Abdullah.

3. Tuduhan: Bahwa beliau sebagai Khawarij, karena telah memberontak terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Al-Imam Al-Lakhmi telah berfatwa bahwa Al-Wahhabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij ‘Ibadhiyyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi, juz 11.

Bantahan:

– Adapun pernyataan bahwa Asy-Syaikh telah memberontak terhadap Daulah Utsmaniyyah, maka ini sangat keliru. Karena Najd kala itu tidak termasuk wilayah teritorial kekuasaan Daulah Utsmaniyyah5. Demikian pula sejarah mencatat bahwa kerajaan Dir’iyyah belum pernah melakukan upaya pemberontakan terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Justru merekalah yang berulang kali diserang oleh pasukan Dinasti Utsmani.

Lebih dari itu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan –dalam kitabnya Al- Ushulus Sittah: “Prinsip ketiga: Sesungguhnya di antara (faktor penyebab) sempurnanya persatuan umat adalah mendengar lagi taat kepada pemimpin (pemerintah), walaupun pemimpin tersebut seorang budak dari negeri Habasyah.”

Dari sini nampak jelas, bahwa sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap waliyyul amri (penguasa) sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan ajaran Khawarij.

– Mengenai fatwa Al-Lakhmi, maka yang dia maksudkan adalah Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan kelompoknya, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Hal ini karena tahun wafatnya Al-Lakhmi adalah 478 H, sedangkan Asy- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli 1792 M. Amatlah janggal bila ada orang yang telah wafat, namun berfatwa tentang seseorang yang hidup berabad- abad setelahnya. Adapun Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum, maka dia meninggal pada tahun 211 H. Sehingga amatlah tepat bila fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikutnya, Al-Lakhmi merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara, dan fitnah Wahhabiyyah Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi, hubungan antara Najd dengan Andalusia dan Afrika Utara amatlah jauh. Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan bahwa Wahhabiyyah Khawarij yang diperingatkan Al-Lakhmi adalah Wahhabiyyah Rustumiyyah, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya6.

– Lebih dari itu, sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap kelompok Khawarij sangatlah tegas. Beliau berkata –dalam suratnya untuk penduduk Qashim–: “Golongan yang selamat itu adalah kelompok pertengahan antara Qadariyyah dan Jabriyyah dalam perkara taqdir, pertengahan antara Murji`ah dan Wa’idiyyah (Khawarij) dalam perkara ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, pertengahan antara Haruriyyah (Khawarij) dan Mu’tazilah serta antara Murji`ah dan Jahmiyyah dalam perkara iman dan agama, dan pertengahan antara Syi’ah Rafidhah dan Khawarij dalam menyikapi para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Tash- hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal 117). Dan masih banyak lagi pernyataan tegas beliau tentang kelompok sesat Khawarij ini.

4. Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.[7]

Bantahan:

– Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: “Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)

5. Tuduhan: Wahhabiyyah adalah madzhab baru dan tidak mau menggunakan kitab-kitab empat madzhab besar dalam Islam.[8]

Bantahan:

– Hal ini sangat tidak realistis. Karena beliau mengatakan –dalam suratnya kepada Abdurrahman As-Suwaidi–: “Aku kabarkan kepadamu bahwa aku –alhamdulillah– adalah seorang yang berupaya mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pembawa aqidah baru. Dan agama yang aku peluk adalah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dianut para ulama kaum muslimin semacam imam yang empat dan para pengikutnya.” (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 75)

– Beliau juga berkata : dalam suratnya kepada Al-Imam Ash-Shan’ani: “Perhatikanlah –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu– apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat sepeninggal beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Serta apa yang diyakini para imam panutan dari kalangan ahli hadits dan fiqh, seperti Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka–, supaya engkau bisa mengikuti jalan/ ajaran mereka.” (Ad-Durar As- Saniyyah 1/136)

– Beliau juga berkata: “Menghormati ulama dan memuliakan mereka meskipun terkadang (ulama tersebut) mengalami kekeliruan, dengan tidak menjadikan mereka sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun mencemooh perkataan mereka dan tidak memuliakannya, maka ini merupakan jalan orang-orang yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala (Yahudi).” (Majmu’ah Ar-Rasa`il An- Najdiyyah, 1/11-12. Dinukil dari Al-Iqna’, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, hal.132-133)

6. Tuduhan: Keras dalam berdakwah (inkarul munkar)

Bantahan:

– Tuduhan ini sangat tidak beralasan. Karena justru beliaulah orang yang sangat perhatian dalam masalah ini. Sebagaimana nasehat beliau kepada para pengikutnya dari penduduk daerah Sudair yang melakukan dakwah (inkarul munkar) dengan cara keras. Beliau berkata: “Sesungguhnya sebagian orang yang mengerti agama terkadang jatuh dalam kesalahan (teknis) dalam mengingkari kemungkaran, padahal posisinya di atas kebenaran. Yaitu mengingkari kemungkaran dengan sikap keras, sehingga menimbulkan perpecahan di antara ikhwan… Ahlul ilmi berkata: ‘Seorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar membutuhkan tiga hal: berilmu tentang apa yang akan dia sampaikan, bersifat belas kasihan ketika beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar terhadap segala gangguan yang menimpanya.’ Maka kalian harus memahami hal ini dan merealisasikannya. Sesungguhnya kelemahan akan selalu ada pada orang yang mengerti agama, ketika tidak merealisasikannya atau tidak memahaminya. Para ulama juga menyebutkan bahwasanya jika inkarul munkar akan menyebabkan perpecahan, maka tidak boleh dilakukan. Aku mewanti-wanti kalian agar melaksanakan apa yang telah kusebutkan dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena, jika kalian tidak melaksanakannya niscaya perbuatan inkarul munkar kalian akan merusak citra agama. Dan seorang muslim tidaklah berbuat kecuali apa yang membuat baik agama dan dunianya.”(Lihat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 176)

7. Tuduhan: Muhammad bin Abdul Wahhab itu bukanlah seorang yang berilmu. Dia belum pernah belajar dari para syaikh, dan mungkin saja ilmunya dari setan![9]

Jawaban:

– Pernyataan ini menunjukkan butanya tentang biografi Asy-Syaikh, atau pura-pura buta dalam rangka penipuan intelektual terhadap umat.

– Bila ditengok sejarahnya, ternyata beliau sudah hafal Al-Qur`an sebelum berusia 10 tahun. Belum genap 12 tahun dari usianya, sudah ditunjuk sebagai imam shalat berjamaah. Dan pada usia 20 tahun sudah dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah itu rihlah (pergi) menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa`, Bashrah (yang kedua kalinya), Zubair, kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya pun banyak,10 di antaranya adalah:

Di Najd: Asy-Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman11 dan Asy-Syaikh Ibrahim bin Sulaiman.12

Di Makkah: Asy-Syaikh Abdullah bin Salim bin Muhammad Al-Bashri Al-Makki Asy-Syafi’i.13

Di Madinah: Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif.14 Asy-Syaikh Muhammad Hayat bin Ibrahim As-Sindi Al-Madani,15 Asy-Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Ajluni Asy-Syafi’i,16 Asy- Syaikh ‘Ali Afandi bin Shadiq Al-Hanafi Ad-Daghistani,17 Asy-Syaikh Abdul Karim Afandi, Asy- Syaikh Muhammad Al Burhani, dan Asy-Syaikh ‘Utsman Ad-Diyarbakri.

Di Bashrah: Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i.18

Di Ahsa`: Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif Asy-Syafi’i.

8. Tuduhan: Tidak menghormati para wali Allah, dan hobinya menghancurkan kubah/ bangunan yang dibangun di atas makam mereka.

Jawaban:

– Pernyataan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menghormati para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan tuduhan dusta. Beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku menetapkan (meyakini) adanya karamah dan keluarbiasaan yang ada pada para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya saja mereka tidak berhak diibadahi dan tidak berhak pula untuk diminta dari mereka sesuatu yang tidak dimampu kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”19

– Adapun penghancuran kubah/bangunan yang dibangun di atas makam mereka, maka beliau mengakuinya –sebagaimana dalam suratnya kepada para ulama Makkah–.20 Namun hal itu sangat beralasan sekali, karena kubah/ bangunan tersebut telah dijadikan sebagai tempat berdoa, berkurban dan bernadzar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara Asy- Syaikh sudah mendakwahi mereka dengan segala cara, dan beliau punya kekuatan (bersama waliyyul amri) untuk melakukannya, baik ketika masih di ‘Uyainah ataupun di Dir’iyyah.

– Hal ini pun telah difatwakan oleh para ulama dari empat madzhab. Sebagaimana telah difatwakan oleh sekelompok ulama madzhab Syafi’i seperti Ibnul Jummaizi, Azh-Zhahir At- Tazmanti dll, seputar penghancuran bangunan yang ada di pekuburan Al-Qarrafah Mesir. Al- Imam Asy-Syafi’i sendiri berkata: “Aku tidak menyukai (yakni mengharamkan) pengagungan terhadap makhluk, sampai pada tingkatan makamnya dijadikan sebagai masjid.” Al-Imam An- Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzab dan Syarh Muslim mengharamkam secara mutlak segala bentuk bangunan di atas makam. Adapun Al-Imam Malik, maka beliau juga mengharamkannya, sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnu Rusyd. Sedangkan Al-Imam Az-Zaila’i (madzhab Hanafi) dalam Syarh Al-Kanz mengatakan: “Diharamkan mendirikan bangunan di atas makam.” Dan juga Al-Imam Ibnul Qayyim (madzhab Hanbali) mengatakan: “Penghancuran kubah/ bangunan yang dibangun di atas kubur hukumnya wajib, karena ia dibangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid karya Asy- Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh, hal.284-286)

Para pembaca, demikianlah bantahan ringkas terhadap beberapa tuduhan miring yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Untuk mengetahui bantahan atas tuduhan- tuduhan miring lainnya, silahkan baca karya-karya tulis Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian buku-buku para ulama lainnya seperti:

– Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyyah, disusun oleh Abdurrahman bin Qasim An-Najdi

– Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, karya Al-‘Allamah Muhammad Basyir As- Sahsawani Al-Hindi.

– Raddu Auham Abi Zahrah, karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, demikian pula buku bantahan beliau terhadap Abdul Karim Al-Khathib.

– Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi.

– ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As Salafiyyah, karya Dr. Shalih bin Abdullah Al-’Ubud.

– Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu`ayyidin, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, dsb.

 

 

Barakah Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah yang penuh barakah. Buahnya pun bisa dirasakan hampir di setiap penjuru dunia Islam, bahkan di dunia secara keseluruhan.

 

 

Di Jazirah Arabia[21]

Di Jazirah Arabia sendiri, pengaruhnya luar biasa. Berkat dakwah tauhid ini mereka bersatu yang sebelumnya berpecah belah. Mereka mengenal tauhid, ilmu dan ibadah yang sebelumnya tenggelam dalam penyimpangan, kebodohan dan kemaksiatan. Dakwah tauhid juga mempunyai peran besar dalam perbaikan akhlak dan muamalah yang membawa dampak positif bagi Islam itu sendiri dan bagi kaum muslimin, baik dalam urusan agama ataupun urusan dunia mereka. Berkat dakwah tauhid pula tegaklah Daulah Islamiyyah (di Jazirah Arabia) yang cukup kuat dan disegani musuh, serta mampu menyatukan negeri-negeri yang selama ini berseteru di bawah satu bendera. Kekuasaan Daulah ini membentang dari Laut Merah (barat) hingga Teluk Arab (timur), dan dari Syam (utara) hingga Yaman (selatan), daulah ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan Daulah Su’udiyyah I. Pada tahun 1233 H/1818 M daulah ini diporak-porandakan oleh pasukan Dinasti Utsmani yang dipimpin Muhammad ‘Ali Basya. Pada tahun 1238 H/1823 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah II yang diprakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Su’ud, dan runtuh pada tahun 1309 H/1891 M. Kemudian pada tahun 1319 H/1901 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah III yang diprakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal bin Turki Alu Su’ud. Daulah Su’udiyyah III ini kemudian dikenal dengan nama Al-Mamlakah Al-’Arabiyyah As-Su’udiyyah, yang dalam bahasa kita biasa disebut Kerajaan Saudi Arabia. Ketiga daulah ini merupakan daulah percontohan di masa ini dalam hal tauhid, penerapan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat Islam, keamanan, kesejahteraan dan perhatian terhadap urusan kaum muslimin dunia (terkhusus Daulah Su’udiyyah III). Untuk mengetahui lebih jauh tentang perannya, lihatlah kajian utama edisi ini/Barakah Dakwah Tauhid.

 

 

Di Dunia Islam[22]

Dakwah tauhid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merambah dunia Islam, yang terwakili pada Benua Asia dan Afrika, barakah Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyelimutinya. Di Benua Asia dakwah tersebar di Yaman, Qatar, Bahrain, beberapa wilayah Oman, India, Pakistan dan sekitarnya, Indonesia, Turkistan, dan Cina. Adapun di Benua Afrika, dakwah Tauhid tersebar di Mesir, Libya, Al-Jazair, Sudan, dan Afrika Barat. Dan hingga saat ini dakwah terus berkembang ke penjuru dunia, bahkan merambah pusat kekafiran Amerika dan Eropa.

 

 

Pujian Ulama Dunia terhadap

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Dakwah Beliau

Pujian ulama dunia terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya amatlah banyak. Namun karena terbatasnya ruang rubrik, cukuplah disebutkan sebagiannya saja.23

1. Al-Imam Ash-Shan’ani (Yaman).

Beliau kirimkan dari Shan’a bait-bait pujian untuk Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Bait syair yang diawali dengan:

Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana

Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya

2. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu (Yaman). Ketika mendengar wafatnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau layangkan bait-bait pujian terhadap Asy-Syaikh dan dakwahnya. Di antaranya:

Telah wafat tonggak ilmu dan pusat kemuliaan

Referensi utama para pahlawan dan orang-orang mulia

Dengan wafatnya, nyaris wafat pula ilmu-ilmu agama

Wajah kebenaran pun nyaris lenyap ditelan derasnya arus sungai

3. Muhammad Hamid Al-Fiqi (Mesir). Beliau berkata: “Sesungguhnya amalan dan usaha yang beliau lakukan adalah untuk menghidupkan kembali semangat beramal dengan agama yang benar dan mengembalikan umat manusia kepada apa yang telah ditetapkan dalam Al-Qur`an…. dan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diyakini para shahabat, para tabi’in dan para imam yang terbimbing.”

4. Dr. Taqiyuddin Al-Hilali (Irak). Beliau berkata: “Tidak asing lagi bahwa Al-Imam Ar-Rabbani Al- Awwab Muhammad bin Abdul Wahhab, benar-benar telah menegakkan dakwah tauhid yang lurus. Memperbaharui (kehidupan umat manusia) seperti di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Dan mendirikan daulah yang mengingatkan umat manusia kepada daulah di masa Al-Khulafa` Ar-Rasyidin.”

5. Asy-Syaikh Mulla ‘Umran bin ‘Ali Ridhwan (Linjah, Iran). Beliau –ketika dicap sebagai Wahhabi– berkata:

Jikalau mengikuti Ahmad dicap sebagai Wahhabi

Maka kutegaskan bahwa aku adalah Wahhabi

Kubasmi segala kesyirikan dan tiadalah ada bagiku

Rabb selain Allah Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Pemberi

6. Asy-Syaikh Ahmad bin Hajar Al-Buthami (Qatar). Beliau berkata: “Sesungguhnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi adalah seorang da’i tauhid, yang tergolong sebagai pembaharu yang adil dan pembenah yang ikhlas bagi agama umat.”

7. Al ‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani (India). Kitab beliau Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, sarat akan pujian dan pembelaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.

8. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Syam). Beliau berkata: “Dari apa yang telah lalu, nampaklah kedengkian yang sangat, kebencian durjana, dan tuduhan keji dari para penjahat (intelektual) terhadap Al-Imam Al Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dan mengaruniainya pahala–, yang telah mengeluarkan manusia dari gelapnya kesyirikan menuju cahaya tauhid yang murni…”

9. Ulama Saudi Arabia. Tak terhitung banyaknya pujian mereka terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya, turun-temurun sejak Asy-Syaikh masih hidup hingga hari ini.

 

 

Penutup

Akhir kata, demikianlah sajian kami seputar Wahhabi yang menjadi momok di Indonesia pada khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Semoga sajian ini dapat menjadi penerang di tengah gelapnya permasalahan, dan pembuka cakrawala berfikir untuk tidak berbicara dan menilai kecuali di atas pijakan ilmu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

————————————————————

1 Biografi beliau bisa dilihat pada Majalah Asy Syari’ah, edisi 21, hal. 71.

2 Untuk lebih rincinya lihat kajian utama edisi ini/Musuh-musuh Dakwah Tauhid.

3 Sebagaimana yang dinyatakan Ahmad Abdullah Al-Haddad Baa ‘Alwi dalam kitabnya Mishbahul Anam, hal. 5-6 dan Ahmad Zaini Dahlan dalam dua kitabnya Ad-Durar As-Saniyyah Firraddi ‘alal Wahhabiyyah, hal. 46 dan Khulashatul Kalam, hal. 228-261.

4 Sebagaimana dalam Mishbahul Anam.

5 Sebagaimana yang diterangkan pada kajian utama edisi ini/Hubungan Najd dengan Daulah Utsmaniyyah.

6 Untuk lebih rincinya bacalah kitab Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir.

7 Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu ‘Abidin Asy-Syami dalam kitabnya Raddul Muhtar, 3/3009.

8 Termaktub dalam risalah Sulaiman bin Suhaim.

9 Tuduhan Sulaiman bin Muhammad bin Suhaim, Qadhi Manfuhah.

10 Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/143-171.

11 Ayah beliau, dan seorang ulama Najd yang terpandang di masanya dan hakim di ‘Uyainah.

12 Paman beliau, dan sebagai hakim negeri Usyaiqir.

13 Hafizh negeri Hijaz di masanya.

14 Seorang faqih terpandang, murid para ulama Madinah sekaligus murid Abul Mawahib (ulama besar negeri Syam). Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mendapatkan ijazah dari guru beliau ini untuk meriwayatkan, mempelajari dan mengajarkan Shahih Al-Bukhari dengan sanadnya sampai kepada Al-Imam Al-Bukhari serta syarah-syarahnya, Shahih Muslim serta syarah-syarahnya, Sunan At-Tirmidzi dengan sanadnya, Sunan Abi Dawud dengan sanadnya, Sunan Ibnu Majah dengan sanadnya, Sunan An-Nasa‘i Al-Kubra dengan sanadnya, Sunan Ad- Darimi dan semua karya tulis Al-Imam Ad-Darimi dengan sanadnya, Silsilah Al-‘Arabiyyah dengan sanadnya dari Abul Aswad dari ‘Ali bin Abi Thalib, semua buku Al-Imam An-Nawawi, Alfiyah Al- ’Iraqi, At-Targhib Wat Tarhib, Al-Khulashah karya Ibnu Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan seluruh karya tulis Ibnu Hisyam, semua karya tulis Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani, buku-buku Al-Qadhi ‘Iyadh, buku-buku qira’at, kitab Al-Qamus dengan sanadnya, Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i, Muwaththa’ Al-Imam Malik, Musnad Al-Imam Ahmad, Mu’jam Ath-Thabrani, buku-buku As- Suyuthi dsb.

15 Ulama besar Madinah di masanya.

16 Penulis kitab Kasyful Khafa‘ Wa Muzilul Ilbas ‘Amma Isytahara ‘Ala Alsinatin Nas.

17 Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bertemu dengannya di kota Madinah dan mendapatkan ijazah darinya seperti yang didapat dari Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif.

18 Ulama terkemuka daerah Majmu’ah, Bashrah.

19 Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al Wahhabiyyah, hal. 119

20 Ibid, hal. 76.

21 Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin Abdullah As-Salman, yang dimuat dalam Majallah Al- Buhuts Al-Islamiyyah edisi. 21, hal. 140-145.

22 Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin Abdullah As Salman, yang dimuat dalam Majallah Al- Buhuts Al-Islamiyyah edisi. 21, hal.146-149.

23 Untuk mengetahui lebih luas, lihatlah kitab Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu`ayyidin, hal. 82-90, dan ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 2/371-474.

 

Diambil dari : Majalah Asy Syariah Vol.II/No.22/1427H/2006M

Hukum Dzikir Dan Do’a Setelah Shalat Fardlu dengan Suara keras berjama’ah


Penulis :al Ustadz Abu karimah ‘Askary bin Jamal al Bugisi

Kami uraikan masalah ini dan beberapa pendapat ulama tentang tidak disyari’atkannya dzikir jama’i sesudah shalat fardlu. Padahal asalnya, dzikir setelah shalat itu dituntunkan oleh syari’at, dan ini diingkari karena tatacaranya yang bid’ah. Maka bagaimana dengan dzikir dan tatacaranya yang kedua-duanya adalah bid’ah?

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini:

“Di negeri kami ada dua jama’ah. Masing-masing mengaku bahwa dialah yang benar. Selesai shalat, kami lihat salah satu jama’ah itu mengangkat tangan dan berdo’a secara berjama’ah dengan lafaz seperti berikut ini: اللهم صل على محمد عبدك ورسولك النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم تسليما(Ya Allah limpahkan shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepada Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, Nabi yang Ummi (tidak dapat membaca dan menulis). Juga kepada keluarga dan para sahabatnya.”

Ada do’a lain yang mereka namakan Al Fatih. Sementara jama’ah lain, ketika Imam mengucapkan salam, mengatakan:”Kami tidak akan melakukan seperti perbuatan jama’ah pertama. Dan ketika jama’ah yang pertama ditanya, mereka katakan bahwa do’a ini adalah pelengkap atau penyempurna shalat, dan tidak lain hanyalah kebaikan. Adapun jama’ah kedua, mereka mengatakan bahwa do’a ini adalah bid’ah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد.

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak.”

Ada beberapa hadits lain yang mereka jadikan hujjah, dan kami hanyalah orang-orang yang masih muda belum tahu mana yang benar. Mohon agar dijelaskan kepada kami mana yang benar.”

 

Jawab:

“Do’a jama’i setelah Imam mengucapkan salam dengan serempak, tidak ada asalnya yang menunjukkan bahwa amalan ini disyari’atkan. Dan Dewan Riset dan Fatwa memberikan jawaban sebegai berikut:

“Do’a sesudah shalat fardlu dengan mengangkat kedua tangan baik oleh Imam maupun ma`mum, sendirian atau bersama-sama, bukanlah sunnah. Amalan ini adalah bid’ah yang tidak ada keterangannya sedikitpun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum. Adapun do’a tanpa hal-hal demikian, boleh dilakukan karena memang ada keterangannya dalam beberapa hadits. Wabillahi taufiq. Semoga shalawat tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan oara sahabatnya. (Lajnah Daimah).

 

Pada bagian lain, Lajnah menjawab:”Do’a dengan suara keras setelah shalat lima waktu, ataupun sunnah rawatib. Atau do’a-do’a sesudahnya dengan cara berjama’ah dan terus-menerus dikerjakan merupakan perbuatan bid’ah yang munkar. Tidak ada keterangan sedikitpun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang hal ini, juga para sahabatnya radliyallahu ‘anhum. Barangsiapa yang berdo’a setelah selesai shalat fardlu atau sunnah rawatibnya dengan cara berjama’ah, maka ini adalah menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan apabila mereka menganggap orang yang mengingkari hal ini atau tidak berbuat sebagaimana yang mereka lakukan sebagai orang kafir atau bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka ini adalah kebodohan dan kesesatan serta memutarbalikkan kenyataan yang ada. (Lajnah Daimah, lihat Fatwa Islamiyah 1/318-319).

Diambil dari:

http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=33

Shalawat-Shalawat Bid’ah


Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi

Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin, banyak tersebar berbagai jenis shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Shalawat-shalawat itu biasanya dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yang dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun. Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu diperhatikan secara cermat, akan nampak berbagai penyimpangan berupa kesyirikan, bid’ah, ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sebagainya.

A. SHALAWAT NARIYAH
Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
“Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki.”

Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan kaitannya dengan shalawat ini:
1- Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yang diajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu laiahi wasallam, mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan, yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihannya atau menyembuhkan penyakitnya, walaupun yang diminta itu seorang malaikat yang dekat ataukah nabi yang diutus. Telah disebutkan dalam berbagai ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdo’a, dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah Azza wajalla. Firman Allah:
قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحِْويْلاً
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah.
Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan kaum yang berdo’a kepada Al Masih ‘Isa, atau malaikat, ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)
2- Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rela dikatakan bahwa dirinya mampu melepaskan ikatan (kesulitan), menghilangkan kesusahan, dsb, sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau untuk berkata:

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu mengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ للهِ نِدًّا؟ قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
“Apakah engkau hendak menjadikan bagi Allah sekutu? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata.” (HR. An-Nasai dengan sanad yang hasan)

(Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu)

B. SHALAWAT AL-FATIH (PEMBUKA)
Lafadznya adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلَقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمَسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارُهُ عَظِيْمٌ

“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka apa yang tertutup dan yang menutupi apa-apa yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.”

Berkata At-Tijani tentang shalawat ini –dan dia pendusta dengan perkataannya-:
“….Kemudian (Nabi shallallahu alaihi wasallam) memerintah aku untuk kembali kepada shalawat Al-Fatih ini. Maka ketika beliau memerintahkan aku dengan hal tersebut, akupun bertanya kepadanya tentang keutamaannya. Maka beliau mengabariku pertama kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai membaca Al Qur’an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan dari Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.”

Dan ini merupakan kekafiran yang nyata karena mengganggap perkataan manusia lebih afdhal daripada firman Allah Azza Wajalla. Sungguh merupakan suatu kebodohan apabila seorang yang berakal apalagi dia seorang muslim berkeyakinan seperti perkataan ahli bid’ah yang sangat bodoh ini. (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah 225 dan Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)
Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari dan Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Dan juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : { ألم } حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim itu satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)

C. Shalawat yang disebutkan salah seorang sufi dari Libanon dalam kitabnya yang membahas tentang keutamaan shalawat, lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ اْلأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ
“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”

Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah, keduanya termasuk sifat-sifat Allah Azza wajalla. Maka, bagaimana mungkin kedua sifat Allah ini diberikan kepada salah seorang dari makhluk-Nya padahal Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

D. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)
Lafadznya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ
“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah.”

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)
Cukuplah keutamaan palsu yang disebutkannya, yang menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.

E. Shalawat Al-In’am
Lafadznya sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ اللهِ وَإِفْضَالِهِ
“Ya Allah berikanlah shalawat, salam dan berkah kepada baginda kami Muhammad dan kepada keluarganya, sejumlah kenikmatan Allah dan keutamaan-Nya.”
Berkata An-Nabhani menukil dari Syaikh Ahmad Ash-Shawi:
“Ini adalah shalawat Al-In’am. Dan ini termasuk pintu-pintu kenikmatan dunia dan akhirat, dan pahalanya tidak terhitung.” (Mahabbatur Rasul 288)

F. Shalawat Badar
Lafadz shalawat ini sebagai berikut:
shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah
shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah
tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah
wa kulli majahid fillah
bi ahlil badri ya Allah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah

Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:
1. Penyebutan Nabi dengan habibillah
2. Bertawassul dengan Nabi
3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr
Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.
Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ

“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)
Demikian pula di antara doa Nabi: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199)
Bertawassul dengan nama Allah I seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.
Jenis-jenis shalawat di atas banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan di antara para tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki do’a, dzikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekian pahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yang membacanya yang akan menjadikan mereka dengan cepat kepada derajat para wali yang shaleh. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjanjikan bagi yang membacanya kedekatan dari beliau, masuk jannah (surga) ,dan yang lainnya dari sekian propaganda yang tidak bernilai sedikitpun dalam timbangan syariat. Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karena Rasul tidak memerintahkan kita dengan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.
Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkannya kepada kita. Apalagi apabila model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa, yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya, dengan adanya wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang justru disyari’atkan yang telah Allah jadikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaannya.
Berapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur’an dan mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yang sudah tidak peduli lagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda. Berapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis dzikir bid’ah semacam buatan Arifin Ilham daripada halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam? Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Dikutip dari http://www.asysyariah.com, Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi, Judul asli: Shalawat-Shalawat Bid’ah

shalawat badar itu sesat ??!!


 

Shalawat Badar
Lafadz shalawat ini sebagai berikut:

shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah
shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah
tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah
wa kulli majahid fillah
bi ahlil badri ya Allah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah

Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:

1. Penyebutan Nabi dengan habibillah
2. Bertawassul dengan Nabi
3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr

Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.

Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.

Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ

“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)
Demikian pula di antara doa Nabi: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199)

Bertawassul dengan nama Allah I seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.
sumber: http://asysyariah.com/print.php?id_online=160
Shalawat-Shalawat Bid’ah
Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi

sumber  :

http://ainuamri.wordpress.com