Nasehat Untuk Hizbut Tahrir


Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu –a’zhamallahu lahul ajra wats tsawab

Agama Adalah Nasehat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) bertanya : Untuk siapa wahai Rasulullah ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang muslim”. (HR.Muslim).

Sebagai aplikasi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, maka saya ingin menyampaikan nasehat kepada seluruh kelompok dakwah islam, agar senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih berdasarkan pemahaman para ulama salaf, seperti : para sahabat, tabi’in, para imam mujtahidin dan orang-orang yang senantiasa meniti jejak mereka.

Kepada Hizbut Tahrir

1.Wasiat saya kepada mereka, agar menegakkan hukum islam dan ajarannya pada diri-diri mereka, sebelum menuntut orang lain untuk menegakannya. Sekitar 20 tahun yang lalu, pernah ada 2 orang pemuda dari mereka yang mengunjungiku di Syiria, dalam keadaan dicukur jenggotnya. Dari keduanya tercium bau rokok, dan meminta kepadaku diskusi dan bergabung dengan mereka. Maka saya katakan kepada mereka, kalian mencukur jenggot dan menghisap rokok, padahal keduanya adalah haram menurut syariat. Dan kalian juga membolehkan jabat tangan dengan lawan jenis (yang bukan mahramnya –ed), padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ditusuknya jarum dari besi pada kepala seorang diantara kalian itu lebih baik dari pada menyentuh perembuan yang tidak halal baginya.” (HR.Thabrani). Kedua pemuda tersebut berkata : Diriwayatkan dalam shahih bukhari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjabat tangan dengan wanita ketika baiat ?. Maka saya katakana : Tolong besok datangkan kepadaku haditsnya. Maka setelah itu keduannya pergi dan tidak kembali lagi, karena keduanya berbohong. Karena Imam Bukhari sama sekali tidak menyebutkan yang demikian, tapi hanya menyebutkan baiat kepada para wanita dengan tanpa jabat tangan. Tapi sungguh aneh sebagian Ikhwanul Muslimin –juga- membolehkan jabat tangan dengan lawan jenis (yang bukan mahramnya –ed). Seperti Syaikh Muhamad al-Ghazali dan Yusuf al-Qardhawi -semoga Allah mengembalikan mereka ke jalan yang benar- sebagaimana yang saya katakan ketika saya berdialog dengannya. Dia berdalih dengan hadits seorang budak yang menarik tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memenuhi kebutuhannya. (HR.Bukhari). Saya katakan : Cara pengambilan dalilnya tidak benar, karena Jariyah (budak perempuan) ketika menarik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyentuh tangannya tapi hanya menyentuh lengan baju yang ada ditangannya Karena ‘Aisyah berkata :”Sekali-kali tidak, demi Allah “Tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan perempuan sedikitpun dalam baiat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membaiat mereka (para wanita) kecuali dengan ucapannya : Sungguh saya telah membaiat kamu atas yang demikian itu.” (HR.Bukhari). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya saya tidak pernah berjabatan tangan dengan perempuan.” (HR.Tirmidzi dan beliau berkata : hadits ini hasan shahih)

2.Saya pernah mendengan ceramah seorang syaikh dari Hizbut Tahrir di Yordania yang membahas tentang para pemimpin yang tidak berhukum dengan dengan hukum Allah. Akan tetapi, takkala saya mendatangi rumahnya, mertuanya mengadu tentang dia kepadaku sambil mengatakan : Sesungguhnya syaikh tadi telah memukul istrinya sampai mengenai matanya dan membekas. Maka saya katakanan kepadanya (syaikh) : Sesungguhnya kamu menuntut para pemimpin untuk menegakkan syariat Allah, tetapi kamu tidak menegakkan syariat dalam rumahmu, apakah benar bahwa engkau telah memukul istrimu sampai mengenai matanya ? maka ia menjawab : Iya, betul tapi hanya pukulan ringan dengan gelas teh.!!. Maka saya katakana ke padanya : Praktekkanlah Islam pada dirimu dulu, kemudian setelah itu tuntutlah orang lain untuk mempraktekkannya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanaya, apa hak istri atas suami ? beliau menjawab : “Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberi baju apabila engkau mamakai baju, jangan memukul wajah, jangan menjelek-jelekannya dan jangan engkau menghajr (pisah ranjang) kecuali didalam rumah.” (Hadits shahih riwayat al-arba’ah : Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I fan Ibnu Majah). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila seseorang diantara kalian memukul budaknya hendaklah ia menjauhi wajah”. (Hadits hasan riwayat Abu Daud)

Note:

1. Dialihbahasakan oleh Abdurrahman Hadi Lc. Dari kitab “Kaifa Ihtadaitu ila at-Tauhid wa ash-Shiratil Mustaqim

2. Diambil dari note fb Iib Nizamul Adli via  Abu Mushlih via www.muhfa.com

Iklan

Hizbut Tahrir Penentang Dakwah Para Salaf


Pengantar

Sudah mafhum di masyarakat bahwa banyaknya organisasi-organisasi Islam, pastinya dengan bermacam-macam tujuan yang berbeda; cara (uslub), metode (thariqah), bahkan manhaj sekalipun, walaupun mereka juga menamakan dirinya “organisasi Islam”, saling berpecah belah dan berselisih satu sama lain. Mereka yang pada awalnya bertujuan untuk mengorganisasi dakwah dan menegakkan syariat Islam –dengan cara mereka sendiri-sendiri- berubah menjadi saling menghujat dan saling menyalahkan antar kelompok dakwah. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk menyampaikan hujatannya kepada khalayak.

Tapi amat disayangkan sekali, mereka saling menyalahkan terkadang tidak dilandasi dengan ilmu, tapi dengan pendapat-pendapat mereka sendiri. Jadi, organisasi mana yang tidak bersesuaian dengan pendapat serta ide-ide mereka, maka mereka dengan serta merta mengkritik habis-habisan organisasi tersebut. Padahal kita semua tahu, jika seseorang mengkritik seseorang, minimal dia harus punya bukti secara meyakinkan akan kesalahan seseorang itu, tentu saja dengan penjelasan yang ilmiah tentang kesalahannya. Sedangkan untuk mengkritik suatu organisasi Islam, haruslah dengan dasar-dasar syariat Islam, menjelaskan kesesatannya dengan memakai dan menempatkan dalil secara tepat.

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang manhaj dakwah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Tentu saja tulisan ini merujuk pada pendapat-pendapat ulama yang berdakwah sesuai manhaj para pendahulu (salaf) mereka, yaitu Rasulullah dan para sahabat beliau. Tulisan ini juga bertujuan untuk membongkar kedok suatu organisasi Islam yang mereka mengatakan bahwa mereka berdakwah sesuai manhaj salaf, namun dalam kenyataannya –baik dalam tulisan-tulisannya, ide-idenya, maupun perilaku mereka- sangat bertentangan dengan para salafiyyun (orang-orang yang bermanhaj salaf), bahkan mereka sangat keras sekali permusuhannya dengan salafiyyun ini. Selanjutnya juga akan dijelaskan ide-ide mereka yang rusak dan sumber dari ide-ide mereka, serta mendudukkan secara tepat bagaimana salafiyyun memandang suatu masalah yang mereka khilaf (berbeda pendapat) dengan para musuh salaf ini. Organisasi Islam yang dimaksud saya khususkan kepada Hizbut Tahrir, yang mana organisasi ini sudah mendunia, baik di negeri-negeri Islam ataupun negeri-negeri kufur.

Mengenal Manhaj Salaf

Seperti kita ketahui, bahwa kebenaran hanyalah satu. Tidaklah mungkin kebenaran itu bersifat mendua dalam satu permasalahan, termasuk pula dalam permasalahan manhaj. Sebagai perumpamaan, Adik bertanya kepada ayah dan kakak berapa umur nenek, ayah menjawab bahwa nenek berumur 79 tahun, sedangkan kakak menjawab bahwa nenek berumur 97 tahun, lalu manakah yang benar? Hanya dua kemungkinan yang tersedia, pertama; salah satu jawaban benar, kedua; kedua jawaban salah, tidaklah mungkin bahwa nenek berumur 79 tahun sekaligus berumur 97 tahun dalam waktu yang bersamaan. Jika seseorang bertanya, “siapakah pembawa kebenaran itu?” maka tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam sang pembawa kebenaran, dan sekaligus ia adalah salaf (pendahulu) terhadap umatnya, sabda Nabi kepada Fathimah, “Aku adalah sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu.” (HR Muslim).

Orang-orang yang mendekati kebenaran adalah orang-orang yang bersama beliau semasa hidupnya, karena mereka langsung menafsirkan Al Qur-an sesuai tafsir Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dan orang orang yang mengikuti mereka (sahabat) dengan baik. Maka orang-orang yang mengikuti Nabi dan para sahabatnya untuk selanjutnya disebut sebagai salafiyyun. Abu Rosyid berkata:
“Manhaj salaf adalah suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh sahabat Rasulullah, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dinul Islam (agama Islam) yang dibawa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut salafy atau as-salafy, jamaknya adalah salafiyyun atau as-salafiyyun.”

Seorang dalam berdakwah haruslah menjadikan Al Qur-an dan as-sunnah sebagai dasar dari dakwahnya. Ini adalah syarat yang harus dipenuhi oleh seorang atau organisasi Islam. Apabila tidak ada salah satunya maka dipastikan bahwa dakwahnya tertolak, karena syarat diterimanya suatu amalan adalah ikhlas karena Allah semata dan sesuai dengan sunnah Rasul. Suatu organisasi akan keluar dari jalan lurus ini (tersesat) manakala ia tidak memahami Al Qur-an sesuai dengan pemahaman Nabi Shalallahu alaihi wasallam, dan tentu saja pemahaman para sahabat Nabi tidak akan bertentangan dengan Nabi. Nashiruddin Al-Albani berkata:
“Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin, yang pasti bahwa tidak mungkin bisa memahami Al Qur-an kecuali dengan penjelasan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan ini adalah perkara yang telah disepakati. Akan tetapi sesuatu yang diperselisihkan kaum muslimin sehingga menimbulkan berbagai pengaruh setelahnya yaitu bahwa semua firqah sesat dahulu tidak mau memperhatikan dasar yang ketiga ini yaitu mengikuti salafush-shalih, maka mereka menyelisihi ayat yang aku sebutkan berulang-ulang : “… dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min.” (QS An-Nisa’: 115).”

Jadi sudah bisa disimpulkan bahwa suatu organisasi Islam dalam dakwahnya dan kegiatannya haruslah bertumpu pada tiga hal; yaitu Al Qur-an, sunnah Rasul, dan pemahaman generasi terbaik (salafush-shalih). Jika salah satu tidak ada, maka diragukan organisasi tersebut berjuang untuk Islam, walaupun dalam perkataannya mereka membela Islam dan mereka ikhlas dalam tindakannya.

Pemahaman Aneh Hizbut Tahrir

Sebelum kita membahas berbagai keanehan Hizbut Tahrir, ada baiknya kita mengenal dulu kelompok mu’tazilah yang pernah subur semasa Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, karena kerangka pemikiran Hizbut Tahrir ini ternyata modifikasi dari mu’tazilah. Ciri yang paling tampak dari mu’tazilah ini adalah mereka menempatkan akal manusia secara berlebihan. Dampak daripada ini adalah akal dijadikan alat untuk menilai atau menghukumi Al Qur-an dan as-sunnah, maksudnya adalah apabila ayat Al Qur-an atau as-sunnah tidak sesuai dengan akal, maka mereka dengan berbagai argumentasi dan alasan akan menolaknya. Ini sangat berbahaya karena menyangkut keimanan sesorang kepada Allah dan Rasul-Nya.

Realisasi dari pemikiran seperti itu adalah bahwa Hizbut Tahrir menolak hadits ahad dijadikan sebagai sandaran aqidah. Mereka berpendapat bahwa aqidah harus terbangun dari kabar yang sifatnya qath’i (jelas) dan mutawatir (banyak yang meriwayatkannya). Bahkan seandainya mereka mendapati hadits yang shahih tapi diriwayatkan secara ahad, maka mereka akan berkata bahwa hadits tersebut tidak berfaedah dan tidak memberikan ilmu untuk keimanan mereka, lebih aneh lagi mereka berkata bahwa hadits ahad hanya bisa dipakai sebagai dasar hukum Islam, tidak sebagai dasar aqidah.

Ada pertentangan antara pemikiran mereka dengan ucapan mereka ketika menemukan hadits Nabi, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata ketika duduk tasyahud akhir di dalam shalat, maka berdoalah untuk minta perlindungan kepada Allah dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dan dari fitnah dajjal. Hadits ini diriwayatkan secara ahad dan shahih. Untuk mengimani neraka jahannam mereka menerimanya karena telah disebutkan dalam Al Qur-an , tapi untuk mengimani adzab kubur mereka kebingungan. Kebingungan mereka dikarenakan hadits tersebut adalah hadits ahad, tapi memuat hukum Islam (tata cara shalat) sekaligus masalah aqidah (mengimani adzab kubur). Sedangkan menurut mereka hadits ahad boleh untuk dijadikan dasar dari hukum Islam tapi tidak untuk masalah aqidah. Karena mereka bingung sendiri dengan pemikirannya, akhirnya mereka memberikan jawaban yang aneh, “kami percaya bahwa adzab kubur itu ada, tapi kami tidak mengimaninya”.

Ternyata pemikiran seperti ini diprakarsai oleh Muhammad Al-Ghazaly. Dia berkata :
“Saya tegaskan sekali lagi, bahwa tidak seharusnya hadits-hadits ahad mengacaukan apa yang mesti dijaga dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, atau ia harus menampakkan hakikat-hakikat agama yang justru mengandung tuduhan”

Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil berkata :
“Maka orang yang tidak mengambil hadits ahad dalam masalah aqidah, niscaya mereka menolak beberapa hadits ahad tentang aqidah lainnya, seperti tentang :
1. Keistimewaan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam melebihi semua Nabi ‘alaihimus salam
2. Syafaatnya yang besar di akhirat
3. Syafaatnya terhadap umatnya yang melakukan dosa besar
4. Semua mu’jizat selain Al Qur-an
5. Proses permulaan makhluk, sifat malaikat dan jin, sifat neraka dan surga yang tidak diterangkan dalam Al Qur-an
6. Pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur
7. Himpitan kubur terhadap mayit
8. Jembatan, telaga, dan timbangan amal
9. Keimanan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan kepada semua manusia akan keselamatannya, sengsaranya, rezekinya, dan matinya ketika masih dalam kandungan ibunya
10. Keistimewaan Nabi Shalallahu alaihi wasallam yang dikumpulkan Imam Suyuthi dalam kitab Al-Khasha’is Al-Kubra, seperti Rasulullah shalallahu alaihi wasallam masuk ke surga ketika beliau masih hidup dan melihat penduduknya serta hal-hal yang disediakan untuk orang yang bertakwa
11. Berita kepastian bahwa sepuluh sahabat dijamin masuk surga
12. Bagi orang yang melakukan dosa besar tidak kekal selama-lamanya dalam neraka
13. Percaya kepada hadits shahih tentang sifat hari kiamat dan padang mahsyar yang tidak dijelaskan dalam Al Qur-an
14. Percaya terhadap semua tanda kiamat, seperti keluarnya Imam Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa alaihis salam, keluarnya api, munculnya matahari dari barat, dan binatang-binatang, dan lain-lain.”

Penolakan terhadap khabar ahad ini ternyata tidak sesuai dengan perilaku Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Rasulullah sering menyampaikan perintah aqidah hanya kepada satu orang, seperti perkataan Nabi kepada Muadz bin Jabal yang diperintahkan untuk berdakwah kepada masyarakat Yaman:
“Hendaknya perkara yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah. (HR Bukhari dan Muslim)
Muadz berdakwah sendirian kepada masyarakat Yaman. Seandainya khabar ahad tidak bisa dijadikan landasan aqidah itu benar adanya, maka dakwah Muadz tidaklah diterima oleh Allah, keimanan semua masyarakat Yaman tidak bisa dipertanggungjawabkan alias keimanan palsu, dan secara tidak langsung mereka menuduh bahwa perkataan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam adalah omong kosong, karena sia-sialah jika beliau tidak mengatakannya kepada sahabat yang lain. Masya Allah, ini adalah senyata-nyatanya kebatilan…

Untunglah, tak satupun ulama salaf yang punya pemikiran seperti ini, mereka sangat patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak mencari-cari argumentasi untuk menghindar dari perintah Rasul karena tidak bersesuaian dengan hatinya, atau karena perkataan Rasul yang dinilai tidak masuk diakal. Mereka menggunakan kaidah “kami dengar dan kami taat” dengan sebenar-benarnya. Oleh sebab itulah adanya ilmu rijalul-hadits yang sangat rumit untuk dipelajari, yang gunanya untuk mengetahui apakah benar suatu hadits itu berasal dari Rasulullah. Setelah dipastikan benar dari Rasulullah (shahih), maka mereka tanpa ragu mengambilnya sebagai landasan aqidah, syariat Islam, muamalah, dsb. Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits, apabila sudah shahih semua umat Islam sepakat wajib untuk mengikutinya.”
Selain pemikiran aneh ini, menolak hadits ahad walaupun shahih, mereka juga punya pemikiran takfir (mengkafirkan). Mereka menganggap bahwa semua negara di dusnia ini adalah negara kafir dikarenakan tidak menjadikan hukum Allah sebagai aturannya. Sebagaimana yang ditulis di dalam booklet mereka :
“Berhubung kaum Muslimin saat ini hidup di darul kufur –karena diterapkan atas mereka hukum-hukum kufur yang tidak diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala- maka keadaan negeri mereka serupa dengan Mekkah ketika Rasulullah diutus (menyampaikan risalah islam).”

Bayangkan saja, kita semua ini dihukumi kafir dikarenakan kita tidak berhukum dengan hukum Allah, walaupun kita melakukan perintah Allah seperti shalat, puasa, zakat dan sebagainya. Tapi tidakkah mereka berpikir, jika mereka menganggap semua Muslim adalah kafir karena hidup di negeri kufur, bukankah hal tersebut juga mencakup diri-diri mereka? Ini senjata makan tuan. Kalau kita tanyakan pada mereka, “bukankah dengan demikian kamu juga kufur kepada Allah?”, mereka akan menjawab, “ya, keadaan kami tetap kufur selama hukum Allah tidak diterapkan.”, atau orang-orang diantara mereka yang tidak mau disebut kufur akan menjawab, “tidak, kami tidak kufur karena kami berjuang untuk menegakkan hukum Allah”. Kalau dipikir-pikir memang masuk akal jawabannya, tapi hanya sebatas akal saja, tapi apakah pendapat mereka ini sesuai dengan syariat? Kalau jawaban mereka seperti itu berarti mereka menelan ludah sendiri.

Kesalahan dalam mendefinisikan negara kufur dengan negara Islam ini berdampak pada tindakan-tindakan mereka yang kerap kali disebut masyarakat sebagai radikal. Tentu saja para aktivis Hizbut Tahrir menganggap bahwa tindakan mereka yang seperti itu merupakan perwujudan dari ke-“istiqomah”-an perjuangan. Tidak masalah bagaimana mereka menganggap diri mereka, tapi yang harus diluruskan adalah tentang definisi negara kafir dengan negara Islam.

Tolok ukur dalam menilai suatu negara apakah kafir atau tidak adalah dengan melihat keadaan masyarakatnya. Negara itu disebut sebagai negara Islam bila mayoritas masyarakatnya adalah orang Islam, syiar-syiar agama ditegakkan, dan tidak ada gangguan ketika kita menjlankan ibadah kepada Allah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu ‘Abdillah Luqman Ba’abduh:
“Sebagaian ulama menyebutkan bahwa Daulah Islamiyyah adalah: sebuah daulah yang mayoritas penduduknya muslimin dan ditegakkan padanya syiar-syiar Islam seperti adzan, shalat berjamaah, shalat jumat, shalat’Id, dalam bentuk pelaksanaan yang bersifat umum dan menyeluruh. Dengan demikian, jika pelaksanaan syiar-syiar Islam itu diterapkan tidak dalam bentuk yang umum dan menyeluruh, namun hanya terbatas pada minoritas muslimin maka negeri tersebut tidak tergolong negeri Islam. Hal ini sebagaimana yang terjadi di beberapa negara Eropa, Amerika, dan yang lainnya dimana syiar-syiar Islam dilakukan oleh segelintir muslimin yang jumlahnya minoritas. (lihat penjelasan ini dalam kitab Syarh Tsalatsatul Ushul oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin).”

Mungkin Hizbut Tahrir berdalih bahwa semua penguasa itu kafir, karena menerapkan hukum selain hukum Allah. Kita katakan bahwa tidaklah semua yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir, sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz :
“ 1. seseorang yang mengatakan: “aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
2. seseorang yang mengatakan, “aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama atau sederajat dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga dengan syariat Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
3. seseorang yang mengatakan, “aku berhukum dengan hukum ini dan berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah”, maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.
4. seseorang yang mengatakan, “aku berhukum dengan hukum ini”, namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil yang tidak mengeluarkannya dari keislaman, dan teranggap sebagai dosa besar. (At-Tahdziru Minattasarru’ Fittakfir, Muhammad Al-‘Uraini hal 21-22)”

Dampak dari pemikiran takfir ini tercermin dalam kegiatan mengkritik dan mendiskreditkan pemimpin / pemerintah oleh aktivis Hizbut Tahrir, yang menuju pada pemberontakan, dan berakhir pada kudeta. Sudah bisa dipastikan akan memakan korban jiwa yang tidak sedikit dari kalangan Muslim, terlebih lagi dakwah Islam akan semakin terhambat. Hal ini tampak dalam tulisan mereka:
“Perjuangan politik ini juga tampak jelas dalam kegiatannya menentang para penguasa, mengungkap pengkhianatan dan persekongkolan mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap mereka serta berusaha menggantinya tatkala mereka mengabaikan hak-hak umat, tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, melalaikan salah satu urusan umat, atau menyalahi hukum-hukum Islam.”

Demikianlah, mereka tidak merenungkan sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dari seorang sahabat, ‘Iyadh bin Ghunm : Rasulullah bersabda : “Barangsiapa ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara, maka janganlah secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi, jika ia menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya nasehatnya.” (HR Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, hadits no. 1096)

Seperti kita ketahui bahwa Hizbut Tahrir kerap kali mengadakan diskusi publik, seminar, dan daurah ilmiah. Di dalam acara-acara mereka pasti tidak terlepas dari kritikan yang diikuti dengan caci-maki kepada pemerintah selaku penguasa. Lalu apakah pemerintah mendengar kritikan mereka? Jawabnya tidak sama sekali. Tujuan mereka melakukan hal demikian adalah untuk menanam bom-bom kebencian di dada umat Islam yang bisa meledak setiap saat, tidak bertujuan untuk menasehati pemerintah.

Hizbut Tahrir Melawan Para Salaf

Kita tahu garis besar dari aqidah dan akhlaq Hizbut Tahrir yang sangat berselisihan dengan manhaj dakwah para salaf. Mereka (Hizbut Tahrir) yang berkata bahwa mereka dalam berdakwah mengikuti Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat, ternyata pada kenyataannya malah menyelisihi mereka. Para ulama salafpun telah mentahdzir (memperingatkan umat akan penyimpangannya) Hizbut Tahrir; seperti Syaikh Nashiruddin Al-Albani yang berkata bahwa Hizbut Tahrir adalah mu’tazilah gaya baru, Syaikh Abdul’Aziz bin Baz, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, dan masih banyak lagi deretan ulama salaf yang telah mentahdzir Hizbut Tahrir.

Karena banyak ulama salaf yang tidak sependapat dengan Hizbut Tahrir, maka merekapun menghujat ulama-ulama salaf teresebut. Maka terkuaklah sudah apa yang selama ini tersembunyi di dalam dada mereka, yaitu kebencian terhadap salafiyyun. Malah mereka meyakini bahwa manhaj salaf itu tidak ada, yang ada adalah orang-orang Wahabi yang menurut mereka adalah antek-antek orang kafir. Tapi dalam kenyataannya hujatan itu tidak terbukti, hujatan itu ternyata tidak dilandasi dengan ilmu dan bersifat emotif. Hujatan kepada Muhammad bin Abdul Wahab ini kembali kepada diri-diri mereka, ternyata merekalah yang punya loyalitas kepada orang kafir. Ini terbukti ketika Khomeini menjadi pemimpin Iran, Hizbut Tahrir malah meminta Khomeini agar Iran dijadikan Khilafah Islamiyyah dan Khomeini sebagai khalifahnya. Bahkan Hizbut Tahrir merekomendasikan kitab Al-Hukumiyyah Al-Islamiyyah yang ditulis oleh Khomeini, seorang Syi’ah. Tawaran untuk membentuk Khilafah ini tidak ditanggapi oleh Khomeini. Kalau Hizbut Tahrir meminta Khomeini menjadi khalifah, mengapa tidak sekalian saja mereka meminta Bill Clinton pada waktu itu untuk menerapkan syariat Islam di Amerika?

Banyak sekali hujatan-hujatan mereka kepada salafiyyun, bahkan dalam kehidupan saya pribadipun saya sering menjumpainya. Seperti yang bisa kita lihat di situs milik organisasi bawahan Hizbut Tahrir, http://www.islamuda.com :
“Munafiq teh gaya anjen kitu,kalo bicara bohong, seperti anjen bilang perkara yg direhai allah adalah tauhid, tetapi tauhied kalian dibagi dua, tauhid buat orang kapir jeng tauhid buat orang Islam
eleuh…eleuh kumaha tauhid aya dua,,,,jang…jang yg namanya tauhid teh Satu Oiiii,,,,mana ada orang kafir kenal tauhied (tauhid rububiyah wa Uluhiyah)
eta munafiq namina ucapan jeng kenyataan beda, ayena mah lihat saja waktu iraq diserang,,,apakah arab saudi bukan munafiq??
AKHIRNA TEH AYA JULUKAN BARU BAGI JENG SALAFIYYUN SBG MUNAFIQ,,, Moal berkawan jeng munafiq mah!!”

Apakah kita melihat ada ilmu yang melandasi ucapannya?, atau dalil, atau argumentasi ilmiah? Tidak. Ucapan ini hanya bermodal semangat dan emosi semata.
Tapi anehnya, salah seorang aktivis Hizbut Tahrir yang juga seorang temanku pernah berkata padaku bahwa dia ingin ikut kajiannya salafiyyun, tapi hanya masalah fiqh saja. Dia mengatakan bahwa salafiyyun kalau membahas fiqh sangat terperinci, lengkap dengan dalil, hadits, dan tafsir dari para mufassirin salafiyyun. Bukankah itu merupakan pujian untuk salafiyyun?
Memang tidak semua kader mempunyai sikap ‘ashobiyyah (fanatisme kelompok), tapi secara perlahan mereka tanamkan sikap ‘ashobiyyah kepada kader-kader mereka yang diharapkan nantinya bisa memperjuangkan ide-ide Hizbut Tahrir. Ke-ashobiyyah-an Hizbut Tahrir ini dengan sangat jelas dikatakan di dalam booklet mereka, bahwa yang menjadi pemersatu antara kader Hizbut Tahrir adalah ide-ide Hizbut Tahrir disamping aqidah Islamiyyah, berikut kutipannya:
“Cara mengikat individu-individu ke dalam Hizbut Tahrir adalah dengan memeluk Aqidah Islamiyyah, matang dalam tsaqafah Hizbut Tahrir, serta mengambil dan menetapkan ide-ide dan pendapat-pendapat Hizbut Tahrir. Dia sendirilah yang mengharuskan dirinya menjadi anggota Hizbut Tahrir, setelah sebelumnya ia melibatkan dirinya dengan (pembinaan dan aktivitas dakwah) Hizbut Tahrir; ketika dakwah telah berinteraksi dengannya dan ketika dia telah mengambil dan menetapkan ide-ide serta persepsi-persepsi Hizbut Tahrir.”

Celakalah bagi mereka yang beramal tidak ikhlas karena Allah, yang menisbahkan kegiatannya dengan menamakan organisasi atau kelompok, apalagi orang-orang yang berjuang memperjuangkan ide-idenya hanya demi kelanggengan kelompok dan meraih dukungan yang sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Sebenarnya ikatan-ikatan di dalam umat Islam hanyalah tauhid dan aqidah Islamiyyah, bukan dengan ide-ide kelompok, apalagi kalau ide-ide itu ternyata menyelisihi Islam.

Itulah sekelumit fakta tentang Hizbut Tahrir, sebenarnya masih banyak lagi fakta yang masih terselubung yang masih belum diketahui khalayak. Banyak sekali pemuda-pemuda yang tertipu dengan kulit Hizbut Tahrir yang terlihat “hebat” di mata orang awam. Tapi ternyata konsep berpikir mereka sangat jauh dari apa yang dibawa oleh pendahulu kita (salaf), yaitu Rasulullah, para sahabat beliau, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Organisasi yang berpecah belah seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin – Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan sebagainya telah menyalahi kaidah Islam tentang larangan untuk berpecah belah. Selama ada kelompok-kelompok seperti itu yang mengatasnamakan Islam sebagai landasan juangnya, maka persatuan umat Islam selama itu pula tidak akan terwujud.

Penutup

Dakwah itu adalah kewajiban, baik itu oleh negara, jama’ah, ataupun perorangan. Kegiatan dakwah ini bertujuan untuk menyebarkan kebenaran yang berasal dari Yang Maha Benar. Dakwahpun juga mempunyai syarat-syarat, yaitu berdasarkan Al Qur-an, mengikuti as-sunnah, dan dengan kerangka berpikir serta pemahaman generasi terbaik umat Islam. Sayang sekali, kebanyakan kelompok-kelompok dakwah sekarang tidak mempunyai dasar ketiga, yaitu pemahaman salaful-ummah.

Sumber dari kekacauan dan perpecahan di tubuh umat Islam ini disebabkan karena mereka tidak merasa cukup dengan apa-apa yang telah ditinggalkan oleh pendahulu mereka. Masalah-masalah yang dulu sudah terselesaikan, ketika muncul kembali pada saat ini, malah menjadi rumit dan tidak terselesaikan karena adanya ruwaibidhah (orang yang sok berbicara tentang urusan orang banyak) yang menyelesaikan setiap masalah berdasarkan keilmuan mereka masing-masing.

Untuk setiap kelompok umat Islam, termasuk Hizbut Tahrir, yang masih menginginkan persatuan umat Islam, maka yang pertama kali harus mereka lakukan adalah keluar dari kelompok mereka, membubarkannya, dan kembali ke tengah-tengah umat Islam dengan tanpa ikatan-ikatan kebanggaan jahiliyyah seperti organisasi, partai, lembaga dakwah yang membuat mereka terdikotomikan di tengah-tengah umat Islam. Dan juga yang paling penting mereka harus meluruskan ide-ide mereka ke jalan pendahulu mereka, dan menyerahkan permasalahan umat ini kepada para ulama salaf dan yang mengikuti mereka (ulama salaf) dengan baik. Sungguh akan berantakan apabila suatu permasalahan tidak diserahkan kepada ahlinya, bukankah kita punya banyak ulama salaf yang siap untuk menyelesaikan masalah umat ini?

——————————————————–

Referensi

· Bin Shalih Al-Fauzan, Abdullah. Syarah 3 Landasan Utama. Solo: Pustaka At-Tibyan
· Al-Albani, Nashiruddin. Hizbut Tahrir Mu’tazilah Gaya Baru. Maktabah As-Sunnah. http://assunnah.cjb.net (diakses 4 November 2005)
· Bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, Yusuf. Kehujjahan Atas Hadits Ahad Dalam Masalah Aqidah. Maktabah As-Sunnah. http://assunnah.cjb.net (diakses 4 November 2005)
· Bin Hadi Al-Madkhali, Rabi’. Tikaman Terhadap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan As-Sunnah. Maktabah As-Sunnah. http://assunnah.cjb.net (diakses 4 November 2005)
· Bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, Zaid. Terorisme Dalam Pandangan Islam. Maktabah As-Sunnah. http://assunnah.cjb.net (diakses 4 November 2005)
· Ramadhani Al-Jazairy, Abdul Malik. Politik Yang Syar’i. Maktabah As-Sunnah. http://assunnah.cjb.net (diakses 4 November 2005)
· Bin Fauzan Al-Fauzan, Shalih. Kata Pengantar Manhaj Dakwah Para Nabi. Maktabah As-Sunnah. http://assunnah.cjb.net (diakses 4 November 2005)
· Bin Hadi Al-Madkhali, Rabi’. Manhaj Dakwah Para Nabi. Maktabah As-Sunnah. http://assunnah.cjb.net (diakses 4 November 2005)
· Tahrir, Hizbut. 2004. Mengenal Hizbut Tahrir: Partai Politik Islam Ideologis. Hizbut Tahrir Indonesia
· Tahrir, Hizbut. 2005. Seruan Hizbut Tahrir Kepada Umat Islam: Khususnya Kalangan Militer. Hizbut Tahrir Indonesia
· Engkus. 2006, Benarkah Konsep Khilafah Hizbut Tahrir??. Islamuda Organizer. http://www.islamuda.com/imud=forum&menu=baca&id=372& page=2.html (diakses 2 Januari 2006)
· Rosyid, Abu. 2003. Manhaj salaf – jalan tepat dalam memahami Islam. Salafy Online Indonesia. http://www.salafy.or.id/manhaj/Manhajsalaf–jalantepat dalammemahamiIslam.html (diakses 10 November 2005)
· Umar As-Sewed, Muhammad. 2004. Sekali lagi : Mengapa harus manhaj Salaf ?. Salafy Online Indonesia. http://www.salafy.or.id/manhaj/ Sekalilagi:MengapaharusmanhajSalaf.html (diakses 10 November 2005)
· Bin Sulaimi Lc, Ruwaifi’. 2005. Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah: Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat Suatu Gerakan. Majalah Asy-Syariah no. 16 : 5-10
· Luqman Ba’abduh, Abu Abdillah. 2005. Khilafah di Atas Manhaj Nubuwwah. Majalah Asy-Syariah no. 16 : 11-16

TA’ASHUB DAN TAKLID PANGKAL HIZBIYAH


Rantai - Belenggu (HaTphotography '09)

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Ta’ashub dan taklid merupakan dua penyakit berbahaya yang cukup rumit untuk ditangani. Keduanya merupakan pangkal hizbiyah dan ashabiyah (fanatisme golongan).

Hizbiyah dan ashabiyah akan mudah dilenyapkan apabila ta’ashub dan taklid ini terkikis habis.

Sebenarnya, menurut nalar orang yang sedikit saja memiliki ilmu agama, keduanya mudah difahami sebagai penyakit umat yang amat berbahaya, namun menurut waqi’ (kenyataan), ternyata tanpa disadari banyak orang yang termakan oleh penyakit ini. Tidak hanya orang-orang awam, bahkan orang-orang yang cukup memiliki bekal sebagai juru dakwah pun kadang-kadang ikut terjebak ke dalamnya. Dua buah penyakit umat yang cukup mudah dimengerti tetapi sulit dihindari. Teori dengan prakteknya berbeda, prinsip ilmiah dengan amaliahnya berlainan.

Syaikh Ali bin Hasan al-Atsari memberikan contoh sebagai berikut :
“Kita lihat misalnya, seorang pemuda atau sekelompok pemuda, ketika diajak dialog oleh seorang Thalib al-‘ilmi (pengkaji ilmu) tentang masalah fikriyah (berkaitan dengan pola fikir) atau masalah dakwah…. Apabila pembicaraannya ternyata sesuai dengan apa yang menjadi doktrin mereka…, selaras dengan apa yang mereka pegangi…, dan lawan dialognya bisa menyepakati apa yang menjadi keyakinan dan kebiasaan mereka, maka lawan dialognya itu akan dianggap sebagai saudara yang ikhlas, dihormati, dan disayangi sepenuh hati.

Sebaliknya jika perkataan anda menyalahi prinsip pemikiran mereka atau menyalahi beberapa sisi pendapat mereka…, mereka akan melancarkan perkataan-perkataan keji dan melepaskan berbagai tuduhan kepada anda melalui sebuah busur yang menyebabkan satu pleton orang kuat pun takkan berdaya menghadapinya.

Bahkan anda lihat, dengan tenangnya mereka sebar luaskan (fitnah keji) ini tanpa kejelasan bukti sama sekali.

Contoh lain yang juga (nyata) ialah:
Bahwa da’i-da’i atau sosok-sosok tertentu lain yang ketokohannya sudah tertanam dalam benak sebagian orang sebagai panutan, uswah serta suri tauladan yang dikagumi dan dipercaya kata-katanya, ternyata dalam akal pikiran dan jiwa orang-orang yang mempunyai semangat serta emosi menggebu itu, sosok-sosok pribadi tersebut telah menjadi lambang kebenaran dan perkataannya menjadi dalil.

Ini jelas penyelewengan besar.

Mereka, dengan bahasa lidah atau bahasa fakta, mengatakan: “Kita harus menghormati da’i-da’i itu…, mereka adalah panutan kita!! Awas jangan diganggu…, jangan dibantah atau dikritik!!”

Ini tentu sangat mengherankan… adakah di sana seorang manusia yang tak boleh dikritik atau dibantah selain para nabi……

Kalau saja sebagian mereka sudi mengganti istilah penghormatan mereka (kepada tokoh idolanya -pen.) dengan istilah pengkultusan, – disebabkan jeleknya keadaan mereka yang sesungguhnya-, tentu akan lebih pantas dan lebih cocok dengan realita mereka.

Mengapa demikian…, sebab hanya dengan melakukan bantahan terhadap salah seorang tokoh mereka, sekalipun dengan bahasa lembut dan tidak kasar saja…, sudah mereka anggap sebagai tindakan jahat dan batil…

Isyarat paling sederhana pun…, meski dilakukan dengan ramah…, tetap mereka anggap sebagai tantangan nyata dan sebagai tindakan tak beradab… Bersamaan dengan perbuatan-perbuatan rusak mereka yang bersumber dari prinsip-prinsip ashabiyah (fanatisme golongan) yang jelek ini…, mengalir pulalah gelombang-gelombang tuduhan (keji) terhadap orang-orang tak berdosa, serta tahdzir (peringatan agar manusia tidak mendekat) terhadap orang-orang yang sebenarnya bersih. Bahkan (sammpai pada tingkat) memutuskan silaturrahmi dengan orang-orang yang sebenarnya suci dan bertakwa.” [Lihat Syaikh Ali Hasan al-Atsari, dalam muqadimah kutaib (kitab kecil) berjudul “Sual wa Jawab Haula Fiqhi al-Waqi’, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, terbitan Daar al-Jalalain, Riyadh, Saudi Arabia, cet. I, 1412 H/1992 M, hal.10-12].

Itulah beberapa contoh konkrit yang dikemukakan oleh Syaikh Ali Hasan tentang betapa berbedanya antara teori yang dikuasai oleh seseorang mengenai tercelanya ta’ashub dan taklid dengan kenyataan yang dilakukannya.

Demikianlah realita yang ada sekarang ini, ta’ashub dan taklid sudah menggejala di mana-mana hingga ciri-ciri hizbiyah-pun menjadi akrab dengan banyak pribadi yang mengaku anti hizby. Bahasa lidah mengingkari, namun bahasa fakta mengakui.

Imam Ibnul al-Qayyim rahimahullah, mengingatkan, menjelaskan dan memberi nasihat:
“Sepeninggal generasi-generasi terbaik umat ini, (disusul dengan lenyapnya para imam abad ke IV H, dan perginya para pengikut angkatan pertama mereka) datanglah kemudian generasi-generasi yang memecah belah agamanya. Mereka hidup bergolong-golongan dan masing-masing bangga dengan apa yang ada pada dirinya. Mereka telah memotong-motong perkara agamanya menjadi berkeping-keping…

Segolongan orang menjadikan ta’ashub madzhabi (fanatisme madzhab) sebagai agama yang dipegang erat-erat dan sebagai modal keyakinan yang digembor-gemborkan.

Sementara segolongan yang lain merasa puas dengan sikap taklid buta. Mereka berpegang pada prinsip:

“Artinya : Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” [Az-Zukhruf : 23]

Dua golongan manusia: muta’ashib (fanatikus golongan) dan muqallid (orang yang taklid) di atas sama-sama berada pada keadaan yang teramat jauh dari kebenaran yang semestinya diikuti.

Rasanya tepat sekali jika ungkapan (ayat al-Qur’an al-Karim) berikut ditujukan kepada mereka:

“Artinya : (Apa yang dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan bukan (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab” [An-Nisa’: 123]

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
“Kaum muslimin telah berijma’ (bersepakat) bahwa barangsiapa yang telah melihat sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan jelas, maka ia tidak boleh meninggalkannya lantaran mengikuti pendapat seseorang.”

(Sementara itu) Abu Umar dan ulama-ulama lain mengatakan :
“Orang-orang telah bersepakat bahwa muqallid (orang yang taklid) tidak terhitung sebagai ahli ilmu (agama). Dan ilmu (agama) ialah memahami al-haq (kebenaran) melalui dalilnya.”

Demikianlah yang dikatakan oleh Abu Umar rahimahullah, sebab manusia memang tidak pernah berselisih pendapat bahwa ilmu ialah pemahaman yang dihasilkan dari dalil. Adapun jika tanpa dalil maka namanya taklid!!!

Dua pernyataan ijma’ di atas (pernyataan imam Syafi’i tentang ijma’ berkenaan dengan larangan ta’ashub, dan pernyataan Abu Umar tentang ijma’ berkenaan dengan taklid), memberi pengertian bahwa orang yang ta’ashub (fanatik) terhadap hawa nafsu, serta orang yang taklid buta adalah orang-orang yang tidak tergolong dalam kelompok orang-orang berilmu. Mereka bukan pewaris nabi. Pewaris nabi hanyalah para ulama.

Bagaimana mungkin para muta’ashib (fanatikus golongan) dan para muqallid (orang yang taklid) disebut pewaris nabi, sedangkan mereka sangat keras upayanya menolak ajaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam rangka mengikuti perkataan orang yang menjadi idolanya? Mereka habiskan umurnya guna berfanatik terhadap tokoh idamannya dan untuk mengikuti hawa nafsu, sementara mereka tidak menyadari.

Demi Allah, sesungguhnya ini merupakan fitnah yang membutakan mata dan mematikan hati. Anak-anak kecil tumbuh dalam bimbingan fitnah ini, dan dalam lingkaran fitnah ini pula para orang tua merambati umur tuanya. Akhirnya al-Qur’an dihindari.

Begitulah qadha’ dan takdir Allah telah tertulis. Ketika bencana sudah sedemikian besar dan meratanya sehingga kebanyakan orang tidak kenal lagi kecuali kebejatan ini, dan kebejatan ini dianggapnya sebagai ilmu, maka pada saat demikian setiap pencari kebenaran melalui sumbernya yang benar, akan dianggap sebagai maftun (orang yang telah terkena fitnah). Setiap orang yang mengutamakan al-haq, akan dianggap dungu.

Orang-orang muta’ashib tadi akan senantiasa memasang berbagai jebakan guna menjegal setiap yang berbeda pendapat dengan mereka seraya berkata kepada sesamanya: “Kita kuatir kalau dia (pencari kebenaran tersebut -pen) akan mengganti agama kalian atau akan membuat kerusakan di muka bumi.”

Oleh sebab itu, sesungguhnya siapa saja yang memiliki rasa harga diri, hendaknya jangan pedulikan mereka dan jangan ridha terhadap apa yang ada pada mereka. Kalau Sunnah Nabawiyah ditunjukkan kepadanya, ia segera bergegas mengambilnya dan tidak berkutat membelenggukan dirinya pada mereka.

Tunggulah saatnya, ketika segala apa yang ada di dalam kubur dibangkitkan kembali, ketika segala yang tersimpan di dada terbongkar, ketika kaki-kaki seluruh makhluk berdiri sama rata di hadapan Allah, ketika tiap-tiap hamba melihat sendiri apa yang telah dilakukannya, ketika antara orang-orang yang benar dapat terbedakan dengan orang-orang yang batil, dan ketika orang-orang yang berpaling dari Kitabullah dan Sunnah Nabi mengetahui bahwa mereka sesungguhnya adalah para pendusta.” [Dinukil dari I’lam al-Muwaqi’in: Ibnu al-Qayyim, tahqiq: Muhammad Muhyidin Abdu al-Hamid, terbitan Daar al-Fikr, cet. III, 1397 H/1977 M, juz I hal. 7-8.]

Dengan demikian, agar orang tidak terjerumus pada sikap hizbiyah, maka ia harus mewaspadai dan menghindar dari sikap ta’ashub dan taklid. Caranya ialah seperti apa yang diungkapan oleh imam Ibnu al- Qayyim berikut ini:

“Sesungguhnya hal yang paling pantas dan paling utama untuk orang saling berlomba dan berpacu adalah meraih sesuatu yang bisa menjamin kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat dan bisa memberi petunjuk pada jalan yang menghantarkan pada kebahagiaan itu.

Nah, sesuatu itu adalah al-‘ilmu an-nafi’ (ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu agama yang benar) dan amal shaleh. Tanpa keduanya tak bakal ada kebahagiaan bagi seorang hamba, dan tanpa mengaitkan diri pada sarana-sarana yang bisa digunakan untuk memperoleh keduanya, maka keselamatan tidak mungkin akan teraih.

Barangsiapa yang dianugerahi (oleh Allah) dua hal di atas, berarti dia sangat beruntung. Sebaliknya bagi siapa saja yang diharamkan untuk memperoleh keduanya (ilmu bermanfaat dan amal saleh), niscaya seluruh kebaikan diharamkan baginya.

Keduanya merupakan titik beda antara manusia-manusia terhormat dengan manusia-manusia hina. Dengan keduanyalah akan terbedakan antara orang baik dengan orang jahat, antara orang yang bertakwa dengan orang yang menyimpang….” [Ibid, hal. 5]

Dengan ilmu (dinul Islam) yang benar dan dengan amal saleh. Insya Allah orang akan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan akan terhindar dari kesengsaraan. Juga akan terhindar dari ruwetnya hizbiyah.

Nas’alullaha an-najata wa as-saamata fi ad-Dunya wa al-Akhirah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 23/Tahun II/Hal.37-40. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Hukum Ungkapan “Almarhum”


Jenazah Idham Chalid Dimakamkan di Cisarua Bogor
Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-`Utsaimîn rahimahullâh

Pertanyaan:

Apa hukum ungkapan “Si fulan yang diampuni (al-maghfur lahu) atau “Si fulan yang dirahmati (almarhum)”?
Jawaban:

Sebagian orang mengingkari ungkapan-ungkapan ini dengan mengatakan bahwa kita tidak mengetahui apakah si mayit termasuk orang yang dirahmati dan diampuni atau bukan? Pengingkaran ini bisa benar jika orang yang berkata dengan ungkapan ini berkata dengan maksud mengabarkan bahwa si mayit telah dirahmati dan diampuni; karena kita tidak boleh mengabarkan bahwa si mayit telah dirahmati atau diampuni tanpa ilmu. Allah Ta’ala berfirman:
(وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا(٣٦
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al Israa’: 36)
Orang-orang yang berkata dengan ungkapan ini tidak bermaksud demikian. Orang-orang yang mengatakan almarhum atau almarhumah bermaksud berdoa kepada Allah agar Allah memberi rahmat. Karena itu kita berkata, “fulan rahimahullah“, “fulan ghafarallahu lahu“. Ungkapan ini tidak ada perbedaan dengan “fulan almarhum” karena kalimat “fulan almarhum” dan “fulan rahimahullah” keduanya kalimat khabariyah (pengkabaran). Berarti orang yang melarang penggunaan “almarhum” harus juga melarang “fulan rahimahullah“.
‘Ala kulli hal, kita katakan tidak ada pengingkaran dalam ungkapan ini, karena kita bukan bermaksud memberi kabar melainkan meminta dan berharap kepada Allah.
Sumber: Al-Manâhil Lafzhiyah, Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-`Utsaimîn, Penerbit: Muasasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-`Utsaimîn dan Takhrij dari Maktabah Sunnah Kairo, Mesir; Judul Indonesia: Beragam Ungkapan dan Pemahaman dalam Timbangan Syarî`at. Pertanyaan ke-93 halaman 83-84. Penerjemah: Abû Zaid Resa Gunarsa, Editor: Abû `Umar Al-Bankawi, Muraja’ah: Al-Ustâdz `Alî Basuki, Penerbit: Penerbit Al-Ilmu.

Tangisan Umar bin Khaththab -radyallahu ‘anhu-


Bagi Umar bin Khaththab, al-Qur`anul Karim mempunyai kedudukan tersendiri dalam kehidupannya. Sebab ia masuk ke dalam Islam setelah ia mendengar lantunan bacaan surat Thaha. Keislamannya membawa kemuliaan bagi Islam dan kaum muslimin. Berapa banyak riwayat yang telah kita dengar yang menjelaskan tentang kisah kekuatan dan kesungguhannya dalam membela agama Allah, kecemburuannya terhadap perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, kezuhudannya, wara`nya, keadilannya, serta kerendahan hatinya.

Adapun tentang keadaannya di saat bersama al-Qur`an tidak ragukan lagi. Beliau adalah seorang laki-laki yang senantiasa memahami ayat-ayatnya, menangis ketika membacanya, bersegera untuk membacanya, dan sangat perhatian terhadap bacaan al-Qur`anul Karim. Inilah sebagian atsar beliau ketika membaca al-Qur`an :

Dari Abdullah bin Syaddad –radhiyallahu `anhu- berkata, “Aku pernah mendengar isak tangis Umar, padahal ketika itu aku berada di shaf paling belakang pada shalat shubuh. Ketika itu ia sedang membaca surat :

إِنَّمَا أَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْ إِلَى اللهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. (QS. Yusuf: 86)

Dia terus menangis hingga air matanya mengalir di atas kedua selangkangnya.”

Imam An-Nawawi –rahimahullah- berkata, “Dalam riwayat lain disebutkan bahwa itu terjadi ketika shalat Isya dan itu menunjukkan bahwa Umar bin al-Khaththab terus mengulang-ulang ayat tersebut.”

Dari Hisyam bin Husain –radhiyallahu `anhu- ia berkata, “Umar bin al-Khaththab pernah membaca al-Qur`an dan melewati satu ayat yang membuatnya sangat ketakutan (dalam beberapa riwayat lain membuatnya menangis terisak-isak), hingga ia limbung ke tanah dan tidak keluar dari rumahnya sehari atau dua hari. Maka orang-orang pun mengunjunginya dan menyangka ia sedang sakit.”

Dari Abi Ma`mar –radhiyallahu `anhu- menuturkan, “Umar bin al-Khaththab pernah membaca surat Maryam, kemudian ia sujud seraya berkata dalam sujudnya, “Aku telah bersujud lantas di mana tangisannya?” Itu ketika beliau membaca ayat :

خَرُّوْا سُجَّداً وَبُكِيّاً

“…..maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58)

Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu `anhu- senantiasa menghidupkan al-Qur`an dalam setiap tingkah lakunya dan di mana iapun berada. Beliau pernah melewati rumahnya seorang pendeta, kemudian beliau memanggilnya, “Wahai pendeta!, (tatkala pendeta tersebut keluar) Umar memandangnya dengan penuh keprihatinan dan kemudian menangis.”

“Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” Tanya pendeta tersebut.

Lalu Umar menjawab, “Aku teringat dengan firman Allah Ta’ala yang berbunyi :

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas (naar).”  (QS. Al-Ghaasyiyah : 3-4)

Wahai Pendeta, ayat inilah yang membuat aku sekarang menangis.

Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu `anhu- senantiasa memberi peringatan dengan al-Qur`an dan menasehati manusia dengan ayat-ayatnya. Dan pengaruhnya sangat berbekas di dalam hati karena disampaikan oleh orang yang benar-benar ikhlas (dalam menyampaikannya), dan itu dapat kita saksikan melalui sebuah kisah yang dinukil oleh Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika beliau menafsirkan awal surat al-Mukmin.

Beliau –rahimahullah- berkata, “Seorang laki-laki pemberani dari Syam pernah digiring ke hadapan Umar bin al-Khaththab –radhiyallahu `anhu-. Namun Umar bin al-Khaththab enggan menemuinya, dan bertanya kepada para shahabatnya, ‘Apa yang telah dilakukan oleh si fulan?’ Mereka semua menjawab, ‘Ia senantiasa meminum khamr.’ Kemudian Umar bin al-Khaththab memanggil sekretarisnya seraya berkata, “Tulislah, dari Umar bin al-Khaththab kepada Fulan bin Fulan, semoga salam sejahtera senantiasa terlimpahkan kepadamu. Di hadapanmu Aku memuji Allah Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukumanNya; Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepadaNya-lah kembali (semua makhluk).”

Kemudian beliau berkata kepada para shahabatnya, “Berdo`alah kepada Allah untuk saudara kalian, semoga ia menerima surat (nasehat) ini dengan hati yang tulus dan semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya.”

Tatkala surat tersebut sampai kepada laki-laki itu, iapun segera membaca surat tersebut dan mengulang-ulang bacaannya. Kemudian laki-laki tersebut berkata,

“Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukumanNya; Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepadaNya-lah kembali (semua makhluk). (QS. Al-Mukmin : 3).

Allah Ta’ala telah mengingatkanku akan adzabNya yang amat pedih, dan menjanjikan kepadaku untuk mengampuni dosa-dosaku.” Ia terus mengulang-ulang kalimat tersebut dalam dirinya hingga kedua matanya bercucuran dengan air mata. Kemudian ia menghentikan minuman khamrnya dan memperbaiki keislamannya. Ketika berita tersebut sampai kepada Umar bin al-Khaththab ia berkata, “Demikianlah, jika kalian melihat saudara kalian terperosok dalam kehinaan (kemaksiatan) maka ingatkanlah ia (dengan kitab Allah Ta’ala.-pent.), dan berdo`alah kepada Allah Ta’ala untuknya semoga Dia mengampuni dosa-dosanya. Dan janganlah kalian menjadi penolong-penolong syeitan dalam menyesatkannya.”

Dikutip dari buku “Mengapai Syafa’at al-Qur’an” penulis: Manshur bin Muhammad al-Muqrin, Abdullah bin Ibrahim al-Luhaidan, Daar An-Naba’

Okt 20 Bolehkah Kita Berwudhu Di Kamar Mandi?


Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Ustadz, ana mau tanya, bolehkah kita berwudhu di kamar mandi? (Indrawan Saputra)
Jawaban:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillaah khairil anbiyaa’I wal mursaliin wa ‘alaa ‘aalihii wa shahbihii ajma’iin.
Amma ba’du:
Boleh berwudhu di dalam kamar mandi, apabila aman dari percikan najis.
Berkata Komite Tetap Untuk Riset llmiyyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia:
إذا وضع حائل بين الماء الذي ينزل من الصنبور وبين محل النجاسة بحيث إن الماء إذا نزل على الأرض تكون هذه الأرض طاهرة فلا مانع من الوضوء والاستنجاء
“Apabila ada batas antara kran air dan antara tempat najisnya sehingga air turun ke tempat yang suci maka tidak mengapa berwudhu dan istinja’ (di dalam kamar mandi tersebut)” (Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah 5/86)
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu:
يجوز الوضوء في الحمام ولا حرج فيه ولكن ينبغي للإنسان أن يتحفظ من إصابة النجاسة له فإذا تحفظ من ذلك فليتوضأ في أي مكان كان
“Boleh berwudhu di kamar mandi dan tidak masalah akan tetapi hendaknya menjaga diri dari ditimpa najis, apabila bisa terjaga dirinya dari najis maka silakan dia berwudhu dimana saja” (http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1637.shtml)
Beliau rahimahullahu  juga berkata:
يجوز للإنسان أن يتوضأ في المكان الذي تخلى فيه من بوله أو غائطه لكن بشرط أن يأمن من التلوث بالنجاسة بأن يكون المكان الذي يتوضأ فيه جانباً من الحمام بعيداً عن مكان التخلي أو ينظف المكان الذي ينزل فيه الماء من الأعضاء في الوضوء حتى يكون طاهراً نظيفاً
“Boleh bagi seseorang berwudhu di tempat dia buang air kecil dan buang air besar, dengan syarat aman dari percikan najis, yaitu tempat wudhunya jauh dari tempat buang air, atau dibersihkan dahulu tempat turunnya air dari anggota badan sehingga menjadi bersih dan suci” (http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1096.shtml)
Hukum membaca dzikir di kamar mandi
Membaca dzikir di kamar mandi makruh, karena berbicara di dalam kamar mandi hukumnya makruh dan membaca dzikir termasuk berbicara. Demikian pula kita diperintahkan untuk mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah dan diantara bentuk pengagungan adalah berdzikir di tempat  yang suci bukan di tempat  yang kotor dan membuang hajat.
Allah ta’aalaa berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (32)  [الحج/32[
“Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketaqwaan hati. (QS. 22:32)”
Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
يكره أن يذكر الله وهو جالس على الخلاء
“Dibenci seseorang dzikrullah sedangkan dia dalam keadaan duduk di dalam jamban” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/209 no: 1227, dengan sanad yang hasan)
Abu Wa’il rahimahullahu juga berkata:
اثنان لا يذكر الله العبد فيهما إذا أتى الرجل أهله يبدأ فيسمي الله وإذا كان في الخلاء
“Dua keadaan dimana seorang hamba tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, (pertama) ketika seorang laki-laki mendatangi istrinya, maka hendaklah dia mulai dengan menyebut nama Allah, (kedua) apabila dia berada di jamban” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf  1/209 no: 1229 ,dengan sanad yang shahih)
Abu Ishaq As-Sabii’iy rahimahullah juga berkata:
ما أحب أن أذكر الله إلا في مكان طيب
“Aku tidak suka berdzikir kepada Allah kecuali di tempat yang baik” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf  1/210 no:1236, dengan sanad yang shahih)
Namun kemakruhan ini bisa gugur apabila ada hajat atau keperluan, sehingga menjadi boleh, seperti mengucap tahmid ketika bersin, mengucap tasmiyyah sebelum wudhu. Berikut ini adalah sebagian ucapan salaf yang menunjukkan bolehnya berdzikir di jamban apabila diperlukan.
Berkata Manshur bin Mu’tamir rahimahullah:
وسألته عن الرجل يعطس على الخلاء قال يحمد الله فإنها تصعد
“Dan aku bertanya kepada Ibrahim (An-Nakha’iy)  tentang seseorang yang bersin ketika buang air? Beliau menjawab: Hendaknya dia memuji Allah (yaitu mengucapkan Alhamdulillah) karena tahmid itu akan naik (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf 2/455 no:4063, dengan sanad yang shahih, dan juga Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no: 1233)
Dari Sya’by rahimahullahu, beliau ditanya tentang seseorang yang bersin di jamban, maka beliau berkata:  يحمد الله
“Hendaklah dia memuji Allah”. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1232, dengan sanad yang shahih)
Dari Muhammad bin Siiriin rahimahullahu beliau berkata: لا أعلم بأسا بذكر الله
“Aku tidak memandang adanya masalah dalam dzikrullah (di jamban)” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf 1/210 no:1235, dengan sanad yang shahih)
Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:
لا بأس أن يتوضأ داخل الحمام إذا دعت الحاجة إلى ذلك ، ويسمي عند أول الوضوء ، يقول : (بسم الله) لأن التسمية واجبة عند بعض أهل العلم ، ومتأكدة عند الأكثر ، فيأتي بها وتزول الكراهة لأن الكراهة تزول عند الحاجة إلى التسمية ، والإنسان مأمور بالتسمية عند أول الوضوء ، فيسمي ويكمل وضوؤه
“Tidak mengapa berwudhu di dalam kamar kecil apabila memang diperlukan, dan mengucap tasmiyyah di awal wudhu seraya mengucapkan” Bismillah” karena tasmiyyah(mengucap bismillah) hukumnya wajib menurut sebagian ulama, dan dikuatkan menurut sebagian besar ulama, maka hendaknya dia mengucapkan tasmiyyah ini, dan hilang kemakruhannya karena kemakruhan bisa hilang ketika dibutuhkan tasmiyyah, dan seseorang diperintah untuk tasmiyyah di awal wudhu, maka hendaknya dia bertasmiyyah dan menyempurnakan wudhunya” (Majmu Fataawa Syeikh Abdul Aziz bin Baz 10/28)
Datang dalam Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah:
يكره أن يذكر الله تعالى نطقاً داخل الحمام الذي تقضى فيه الحاجة تنزيهاً لاسمه واحتراماً له لكن تشرع له التسمية عند بدء الوضوء لأنها واجبة مع الذكر عند جمع من أهل العلم
“Dimakruhkan dzikrullah dengan lisan di dalam jamban yang digunakan untuk buang hajat, sebagai penyucian dan penghormatan terhadap nama Allah, akan tetapi disyari’atkan tasmiyyah (membaca: bismillah) ketika di awal wudhu karena hal ini wajib ketika ingat menurut sebagian ahli ilmu” (Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daimah 5/94)
Melirihkan Dzikir Di Kamar Mandi
Dan yang perlu diketahui bahwasanya ketika berdzikir di kamar mandi/wc/jamban maka hendaknya memelankan suaranya. Dari Al-Hasan Al-Bashry  rahimahullah beliau berkata tentang seseorang yang bersin di dalam jamban: يحمد الله في نفسه
“Hendaknya dia memuji Allah dengan di dalam dirinya (yaitu pelan)” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf  1/210 no: 1234, dengan sanad yang shahih)
Dan berkata Hushain bin Abdurrahman rahimahullahu:
انتهينا إلى الشعبي وهو مغضب، فقيل له: ما لك يا أبا عمرو ؟ فقال : إن هذا المارق ، يعني داود بن يزيد الأودي، سألني عن الرجل يعطس في الخلاء، قلت : فما تقول يا أبا عمرو ؟ قال : “ يحمد الله في نفسه”
“Kami mendatangi Asy-Sya’by sedangkan beliau dalam keadaan marah, maka beliau ditanya: Ada apa wahai Abu ‘Amr?
Beliau berkata: Sesungguhnya orang yang maariq  ini –maksudnya Dawud bin Yazid Al-Audy-, telah bertanya kepadaku tentang seseorang yang bersin di tempat buang hajat.
Maka aku berkata: Lalu apa yang kamu katakan wahai Abu ‘Amr?
Beliau menjawab: Hendaklah dia memuji Allah di dalam dirinya ( yaitu dengan pelan)” (Dikeluarkan oleh Al-‘Uqaily dalam Adh-Dhu’afa 2/391, dengan sanad yang shahih)
Perkataan mereka يحمد الله في نفسه  (Memuji Allah di dalam dirinya) ada 2 kemungkinan, memuji Allah di dalam hati atau memuji Allah dengan lisan secara pelan, sebagaimana dijelaskan Syeikhul Islam dalam Al-Fataawaa Al-Kubraa 5/301.
Dan yang zhahir dari atsar sebagian salaf di atas –wallahu a’lam- adalah berdzikir dengan lisan bukan hanya dengan hatinya.
Akhir kata, tentunya lebih baik apabila seseorang di dalam rumahnya memiliki tempat wudhu khusus yang berada di luar kamar mandi/jamban/wc.
Wallahu a’lam.
Ustadz Abdullah Roy, Lc.
sumber  : website  Al-Firqatun Najiyyah

Hukum Sholat Dengan Sajadah Bergambar


Oleh: Syaikh Sholeh bin Sa’ad as-Suhaimi hafidzohulloh

Pertanyaan:

Bagaimana hukum sholat beralaskan sajadah bergambar kubah hijau (yang ada di masjid Nabawi, pent) atau ka’bah atau yang semisalnya?

Jawaban:

Pertama-tama, gambar-gambar ini menyibukkan orang dalam sholat. Dan Rosul shollallohu alaihi wa sallam melepas baju yang ada gambarnya dan berkata :

Sungguh gambar tersebut tadi telah menyibukkanku dalam sholatku.”

Maka kalau Nabi shollallohu alaihi wa sallam saja mengatakan bahwa gambar tersebut menyibukkannya, maka bagaimana dengan kita yang lemah ini?

Kemudian gambar kubah hijau dan gambar ka’bah di sajadah-sajadah adalah termasuk bid’ah yang besar dan khurofat. Pertama-tama kubah hijau merupakan syi’arnya orang-orang yang suka dengan khurofat dan itu bukanlah syi’ar Islam, dan tidak boleh menjadikannya sebagai syi’ar bagi masjid Rosul shollallohu alaihi wa sallam (masjid Nabawi, pent). Dan bukan Rosul shollallohu alaihi wa sallam yang membangunnya, bukan pula para shahabat, bukan pula Umar bin Abdil Aziz dan bukan pula yang datang setelahnya selama masa tertentu. Akan tetapi yang membangunnya adalah raja Abdul Majid at-Turki sekitar 200 tahun yang lalu. Seandainya bukan karena dikhawatirkan timbulnya fitnah, tentu kubah itu sudah dihilangkan. artikel ummushofi.wordpress.com

Aku ingat ketika aku masih kecil sebagian anak kecil bersumpah dengannya dan mengatakan : “Demi kubah hijau”, ini (bersumpah dengan selain nama Alloh, pent) adalah syirik kepada Alloh azza wa jalla. Begitu pula gambar ka’bah di sajadah-sajadah.

Oleh karena itu, ketika guru kami Syaikh bin Baz rohimahulloh memberi fatwa haramnya gambar-gambar ini, ada salah seorang pengusaha –sepertinya ia adalah as-Subai’iy- yang memproduksi sajadah bersegera menghilangkan gambar-gambar tersebut –jazahullohu khoiron-, lalu memproduksi sajadah-sajadah yang tidak ada gambar-gambarnya. Maka yang wajib adalah kita menjauhi gambar-gambar ini karena ini merupakan bid’ah dan khurofat, dan karena ini juga menyibukkan orang yang sedang sholat dari sholatnya.

Kemudian sholat di atas sajadah dilihat dari hukum memakai sajadah itu sendiri tidak ada yang menganggapnya sunnah, akan tetapi (anehnya) sebagian orang menggunakannya sebagai alas walaupun di tempat yang sudah ada alasnya. artikel ummushofi.wordpress.com

Tetapi terkadang seseorang membutuhkannya di tempat-tempat yang tidak ada alasnya, karena adanya panas, dingin, debu, air atau yang selainnya. Dan terkadang ada orang  yang membutuhkannya dikarenakan ada sebagian alas yang terdapat bulu-bulu halus yang bisa mengganggu pernafasan orang yang memiliki alergi atau penyakit asma. Orang yang seperti ini terkadang membutuhkan sajadah, akan tetapi sajadah tersebut wajib untuk tidak bercorak-corak, tidak bergambar-gambar ataupun segala sesuatu yang menarik perhatian. Hendaknya ia memakai sajadah yang biasa saja tanpa gambar, na’am.

Sumber: Rekaman Fatwa di link ini, diterjemahkan dari http://www.al-menhag.net/vb/showthread.php?t=2795. artikel ummushofi.wordpress.com

ما حكم الصلاة على السجادات التى فيها صورة القبة الخضراء والكعبة وما أشبه ذلك؟

أولا هذه الرسوم تشغل الناس عن الصلاة
والرسول صلى الله عليه و سلم قد خلع القميص التي كان فيها بعض الصور و قال قد أشغلتني أنفاً عن صلاتي

و إذا كان النبي صلى الله عليه و سلم يقول بأنها أشغلته فكيف بنا نحن الضعفاء ؟

ثم إن رسم القبة الخضراء ورسم الكعبة على السجادات من أكبر البدع و الخرافات ,أولاً القبة الخضراء شعار الخرافيين و ليست شعاراً إسلاميا, ولا يجوز أن تكون شعارا لمسجد الرسول صلى الله عليه وسلم ,والرسول لم يبنها ولم يبنها الصحابة و لم يبنها عمر بن عبد العزيز و لا من جاء بعدهم بقرون, وإنما بناها السلطان عبد المجيد التركي قبل نحو 200 سنة, و لولا الفتنة لأزيلت.
أذكر وأنا صغير بعض الأولاد الصغار يحلف بها يقول :والقبة الخضراء هذا شرك بالله عز وجل و كذلك رسم الكعبة على السجادات , و لذلك لما افتى شيخنا الشيخ بن باز رحمه الله بتحريم هذه الرسوم ,بادرأحد أصحاب المصانع و أظنه السبيعي الذي يصنع السجاد جزاه الله خيرا, إلى إلغاء تلك الرسوم و إنتاج سجادات ليس فيهن رسوم فالواجب البعد عن هذه الرسوم لأنها من البدع و الخرافات و لأنها تشغل المصلي عن صلاته , يضاف إلى هذا أن تخصيص الصلاة على السجادة من حيث هو لا يظنن أحد أنه سنة , والبعض قد يفرشها حتى على المكان المفروش .

لكن قد يحتاج إليها المرء في الاماكن الغير مفروشة نظرا لوجود حر أو قر أوغبار أو مياه أو نحو ذلك و قد يحتاج إليها احياناً على بعض الفرش الذي فيه بعض الزغب الذي قيد يؤذي الصدر من الناس الذين عندهم حساسية أو ربو في الصدر هذا قد يحتاج إليها لكن يجب أن تكون بدون رسومات وبدون تصاوير وبدون أي شيء يلفت النظر بل تجعل عادية بدون رسوم نعم .

للاستماع من هنا

وللتحميل من هنا