انا اعرف(Mengenal Ana)


NAMA asli ana : Dian Nova Aditya dengan nama kunyah Abu Namira Hasna Al-Jauziyah,nama kunyah ini di ambil dari nama anak ana yang kedua. ana di lahirkan di kota Cimahi tanggal 12 November 197, kini ana tinggal di Cimahi. ana lahir dari seorang Ayah bernama Sandi dan ibu bernama Isti Zumaroh, ana merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kegiatan keagamaan ana berawal dari menjabat sebagai Anggota bidang pendidikan dan dakwah DKM Ulil Ilmi UNPAS TAMAN SARI-Bandung tahun 2000-2003.Ana sempat aktif di Yayasan percikan Iman- Bandung dibawah asuhan Ust. Aam Amiruddin, MA,Lc tepatnya di FORSI, dari tahun 2000-2004.karena ada sesuatu hal,ana keluar dan dari tahun 2005 sampai sekarang ana sering mendatangi majelis ilmu syar`i : Ustadz Abu Haidar assundawy. kegiatan ana selain ta`lim adalah berwirausaha dan membaca buku-buku serta majalah-majalah bermanhaj salaf dan mendengar kajian bermanhaj salaf.

Iklan

20 pemikiran pada “انا اعرف(Mengenal Ana)

  1. assalamu’alaikum wa romatullahi wabarakatuh
    blog antum bermanfaat sekali.ana sering copas atau sharing kefb.jazakallahu khoiran katsir.afwan baru ijin sekarang
    apakah antum punya akun fb?

  2. assalamualaikum .salam kenal nama ana abu amr nama asli saya muamar khadafi asal ana dari indramayu, saya seorang mahasiswa di stai ali bin abi tholib. masya allah wa barokallahufika blog antum bagus .

  3. Bismillaah… Akhiy al-Kirom…. Alhamdulillah Ana membaca beberapa tulisan tentang komentar Antum mengenai salah-satu harokah yang menurut Antum Sesat. Namun Ana sangat menyesalkan kenapa antum tidak coba menDakwahkan kepada mereka supaya mereka terbebas dari kesesatannya. Malah antum mengumbarnya di sini. Yang kedua benarkah antum mendapatkan informasi dari sumber Primernya?Semoga Alloh tetap menjaga niat Ikhlash antum dalam menyampaikan yang Haq.

  4. —-> Afwan Ana baru baca Kalimat ini “Afwan jiddan. Ana, tidak menerima komentar yang isinya menyudutkan, melecehkan atau mencela manhaj salaf.karena ana tidak akan layani. ana akan langsung hapus. ana harap dalam menulis komentar di blog ini. sertakan akun Facebook, supaya ana dengan mudah menjelaskan secara mendetail(semampu ana),insya Allah. Abu Namira Hasna Al-Jauziyah” Boleh Tahu maksudnya?????
    Kalau isinya menyudutkan, melecehkan atau mencela selain manhaj salaf, BOLEH YAA….?

  5. begini akhi, jika ada seseorang yang berkomentar di blog ana ini, komentar menjelek-jelekkan, melecehkan manhaj salaf dengan tuduhan tanpa dasar dan tidak ilmiah, ini maksud ana. akhi, ketika ulama atau dai salaf meluruskan kesalahan suatu harokah dengan ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan, maka itu diperbolehkan bahwan harus. perlu di ketahui akhi, manhaj salaf adalah manhaj yang haq, selain manhaj salaf, maka itu manhaj kebatilan. perhatikan ini :

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya kepada Fathimah, ”Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.” (HR. Muslim [2450/98]). Artinya sebaik-baik pendahulu. Kata salaf juga sering digunakan oleh ahli hadits di dalam kitab haditsnya. Bukhari rahimahullah mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata ‘Para salaf menyukai kuda jantan. Karena ia lebih lincah dan lebih berani.” Al Hafizh Ibnu Hajar menafsirkan kata salaf tersebut, “Maksudnya adalah para sahabat dan orang sesudah mereka.” (lihat Limadza ikhtartul manhaj salafy, hal. 31-32).

    1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).

    beliau juga berkata : Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.” (Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, I/174 no. 315).

    2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil melalui kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).

    3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).

    4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil melalui kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)

    5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).

    6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149).

    Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).

    semoga antum faham. jika ingin mengetahui manhaj salaf, bisa lihat di blog ana tentang manhaj salaf.

  6. Na’am Akhiy Al-Kirom, Hizbut-Tahrir… Apakah Akhiy sudah benar-benar memahami perjuangannya?Sudah pernah membaca kitab-kitabnya langsung?atau hanya kutipan2 dari sumber sekundernya?Dan bagaimana Akhiy Al-Khirom menasihati mereka? Supaya mereka kembali kepada jalan yang Haq. Ana sering mengikuti kajian Salaf, hanya saja manhaj Salaf yang mana yang Akhiy maksud, karena ana pernah mendengar beberapa Ustadz yang mengaku bermanhaj salaf as-sholih?Sebagai contoh ada dari HASMI, Salafiy Jihadi yang mereka mengklaim mereka adalah bermanhaj salaf. Mohon penjelasannya. Syukron Jazaakallohu khoyroo

  7. akhi fakir. khusus hizbut tahrir, ana sudah mengenalnya sejak 11 tahun yang lalu, malah ana punya kitab yang diterbitkan hizbut tahrir. Ana sudah tahu pemahaman dan pergerakan Hizbut Tahrir, sejak kurang lebih 11 tahun
    lamanya.
    Ana memiliki buku berbuntuk pdf, karya-
    karya Taqiyuddin An-Nabhani :
    1. Mafhum Al ‘Adalah Al Ijtima’iyah fi Al
    Fikri Al Islami AlMu’ashir.
    2. Nizhamul Islam.
    3.An Nizhamul Ijtima’i fil Islam.(sistem
    pergaulan dalam Islam)
    4.Mahafim Hizbut Tahrir.
    5. Asy Syakhshiyah Al Islamiyah (3 jilid).
    6. At Takattul Al Hizbi.
    7.Nizhamul Hukm fil Islam.
    8. Ad Dusiyah.
    buku2 yang langsung dikeluarkan hizbut
    Tahrir :
    nafsiayah-edisi-5(Pilar-pilar Pengokoh
    Nafsiyah Islamiyah).
    Ana sudah membaca dan mengkaji buku2
    HTI, di antaranya :
    buku Materi Dasar Islam(Islam mulai akar
    hingga daunnya) Arif B. iskandar(ed.)
    penerbit Al-Azhar press.
    buku : menegakkan Syariat Islam penulis tim
    HTI penerbit : HTI.
    buku : hakikat Ahlussunnah wal jamaah
    karya Fathiy Syamsuddin Ramadhan Al-
    Nawiy penerbit al-Azhar press.
    Ana juga memiliki tesis berJudul aslinya
    “Hizbut Tahrir: Tsaqafatuhu wa Manhajuhu
    fii Iqamati Daulah Khilafah” karya DR.
    Muhammad Muhsin Radly -hafizhahullah-,
    syabab HT ‘Iraq. Judul terjemahannya
    “Tsaqofah dan Metode Hizbut Tahrir Dalam
    Mendirikan Negara Khilafah Islamiyah”. Tesis
    ini telah diterjemahkan oleh Ustadz
    Muhammad Bajuri seorang syabab HTI dari
    Jawa Timur dan diterbitkan oleh Ustadz
    Syamsuddin Alwahidah.
    di dalam tesis ini, DR. Muhammad Muhsin
    Radly -hafizhahullah menjelaskan sejarah
    hizbut tahrir dari awal dan bagaimana
    syarat-syarat menjadi anggota hizbut
    tahrir, Lafadz qosam, detail tentang
    tholabun nushroh, struktur kepengurusan
    hizb.dll

    Majalah Al-Wa’ie edisi no. 114 tahun X
    1-28 Febuari 2010 dengan judul cover
    depan : Menyikapi Kemungkaran (dari Aliran
    sesat hingga neoliberalisme).
    Buletin Al Islam edisi 597, 16 Rabiuts Tsani
    1433 H./ 9 Maret 2012. Dengan judul :
    Dukungan Kepada revolusi kaum Muslim di
    suriah: Basyar al-Assad, sang penjagal,harus
    ditumbangkan.
    Disamping ana mencopy tulisan2 yang ada
    di situs resmi Hizbut Tahrir, yang semuanya
    ana pelajari dan mengkaji.
    Di dunia nyata : ana sering dialog dengan
    daris Hizbut Tahrir-Subang(juga sahabat
    ana), juga pernah dialog dengan ustadz
    Dadan(ustadz Hizbut Tahrir Subang/ketua
    Hizbut Tahrir cabang Kota Subang). Ana pun
    punya rekaman ta’lim dari ustadz hizbut
    tahrir Yogjakarta yang membahas Qodho
    dan qodar, yakni Ustadz Dwi Condro Triono.
    Jadi selama 11 Tahun lamanya, ana sudah
    faham pergerakan dan pemahaman hizbut
    Tahrir. sumber2 dan data2 dari hizbut Tahrir
    (di atas) ana bandingkan dengan buku2
    bermanhaj salaf, mendengarkan kajian
    ustadz2 ahlussunnah. Yang ana dapat
    simpulkan : ternyata hizbut Tahrir dalam
    memperjuangkan khilafah Islamiyah dan
    syariah tidak berjalan di atas manhaj
    ahlussunnah. Karena banyak sekali
    pemahaman2 hizbut Tahrir yang
    menyimpang dari syariat Islam. Hizbut Tahrir
    dalam pemahamannya banyak mengadopsi
    pemikiran : Mutazilah, khawarij, Qodariyah,
    Asy’ariyah, maturidiyah.
    Bukan berarti, ana mencari-cari kesalahan2
    hizbut Tahrir. Ana lakukan ini, untuk
    mengatahui apakah cara yang ditempuh
    Hizbut Tahrir dalam memperjuangkan
    khilafah dan syariat sesuai sunnah Rasulullah
    shallallahu alaihi wasallam atau tidak!
    Ternyata Dengan terbukti dengan SANGAT
    MEYAKINKAN BAHWA hizbut tahrir, tidak
    menempuh jalan sesuai sunnah Rasulullah
    shallallahu alaihi wasallam dalam usahanya
    menegakkan khilafah dan syariah.
    akhi, faqir, ana akan sebutkan beberapa penyimpagan HT, yang ana nukil dari buku2 mereka sendiri lalu ana bantah :

    Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan ada tauhid siyasah,
    menurut Taqiyuddin An-Nabhani : Tauhid
    siyasah adalah pemikiran2 dan hukum2
    berkaitan dg masalah keakhiratan seperti
    kiamat, pahala, siksa, peringatan, petunjuk,
    dorongan untuk menperoleh pahala dll,
    sedang tauhid siyasah pemikiran2 dan
    hukum2 berkaitan dg masalah dunia seperti
    pembebanan hokum, kebaikan, kebururkan,
    perdagangan, sewa-menyewa, perkawinan,
    perseroan, warisan , sangsi, jihad dll.
    Sehingga pandangan hidup yang lahir dari
    aqidah Islam adalah halal dan haram. Yang
    ini merupakan thoriqoh unutk membangun
    keterikatan terhadap hukum2 syara’.
    Sehingga perkara apa saja yg halal baik yang
    hukumnya wajib, sunnah atau mubah, maka
    ia akan diambil tanpa ragu. Sedangkan jika
    perkara itu hukumnya haram atau makruh
    maka ia akan meninggalkannya tanpa ragu
    pula (Lihat Kitab Hadis Ash-Shiyam oleh
    Imam An-Nabhani, Bab Aqidah Ar-Ruhiyah
    wa Aqidah As-Siyasiyah).
    kita katakan : Apakah ada ulama
    ahlussunnah yang berpendapat ada tauhid
    siyasah, seperti yang dijelaskan oleh
    Taqiyuddin An-Nabhani di atas? jawabnya
    tidak ada. dan penamaan tauhid siyasah
    adalah perkara baru dalam Islam.

    Ana Tanggapi :

    : Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah baik dari kalangan salaf maupun khalaf setelah meneliti dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah tentang Tauhid mereka menyimpulkan bahwa Tauhid itu dibagi menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Al-Asma’ Wa Ash Shifat.

    Diantara Pernyataan Ulama Salaf Tentang Pembagian Tauhid

    1. Al-Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi rahimahullah (wafat tahun 321 H).

    Dalam salah satu karya monumentalnya, Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah, Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi menegaskan:

    ”Kita katakan tentang tauhidullah dalam keadaan meyakini dengan taufiq Allah, bahwa sesungguhnya Allah adalah Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya, tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkannya, tidak ada ilah selain Dia.”

    Penjelasan tentang pernyataan Al-Imam Ath-Thahawi rahimahullah

    “Allah adalah Esa tidak ada sekutu bagi-Nya” meliputi tiga jenis tauhid sekaligus, karena Allah Esa dalam Rububiyyah-Nya, dalam Uluhiyyah, dan dalam Al-Asma wa Ash-Shifat -Nya.

    “Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan-Nya” ini adalah Tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat

    “Tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkannya”, ini adalah Tauhid Ar-Rububiyyah.

    “Tidak ada ilah selain Dia” ini adalah Tauhid Al-Uluhiyyah.

    2. Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari rahimahullah (wafat tahun 387 H) dalam karya besarnya yang berjudu l-Ibanatul Kubra, beliau mengatakan: “Bahwa dasar iman kepada Allah yang wajib atas makhluk (manusia dan jin) untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya, ada tiga hal:

    Pertama: Seorang hamba harus meyakini Rububiyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan adanya pencipta.

    Kedua: Seorang hamba harus meyakini Wahdaniyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan jalannya orang-orang musyrik yang mengakui sang Pencipta namun menyekutukan-Nya dengan beribadah kepada selain-Nya.

    Ketiga: Meyakini bahwa Dia bersifat dengan sifat-sifat yang Dia harus bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu, Qudrah, Hikmah, dan semua sifat yang Dia menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya.”

    Penjelasan Tentang Makna Tiga Macam Tauhid tersebut

    1. Tauhid Ar-Rububiyyah, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Rabb. Makna Rabb adalah Dzat yang Maha Menciptakan, yang Maha Memiliki dan Menguasai, serta Maha Mengatur seluruh ciptaan-Nya. Ayat-ayat yang menunjukkan tauhid Ar-Rububiyyah sangat banyak, di antaranya (artinya):

    ”Sesungguhnya Rabb kalian hanyalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia beristiwa` di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, hak mencipta dan memerintah hanyalah milik Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. [Al-A’raf: 54]

    Kaum musyrikin Quraisy juga mengakui Tauhid Rububiyyah berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla (artinya):

    “Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” [Al-’Ankabut: 61]

    Dari ayat diatas bisa disimpulkan bahwa kaum musyrikin mengakui bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Yang Maha Menciptakan, Maha Mengatur, dan Maha Memberi Rizki. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 6/294)

    Penyimpangan Dalam Tauhid Rububiyyah

    Penyimpangan dalam tauhid rububiyyah yaitu dengan meyakini adanya yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini selain Allah Azza wa Jalla dalam hal yang hanya dimampui oleh Allah Azza wa Jalla.

    Seperti keyakinan bahwa penguasa dan pengatur Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul. Ini suatu keyakinan yang bathil. Barangsiapa meyakini bahwa penguasa dan pengatur laut selatan adalah Nyi Roro Kidul maka dia telah berbuat syirik (menyekutukan Allah Azza wa Jalla) dalam Rububiyyah-Nya. Karena hanya Allah-lah Yang Menguasai dan Mengatur alam semesta ini.

    Begitu juga barangsiapa meyakini bahwa yang mengatur padi-padian adalah Dewi Sri, berarti ia telah syirik dalam hal Rububiyyah-Nya, karena hanya Allah-lah Yang Maha Menciptakan dan Mengatur alam semesta ini.

    Meyakini bahwa benda tertentu bisa memberi perlindungan dan pertolongan terhadap dirinya seperti jimat, keris, cincin, batu, pohon, dan lain-lain.

    Serta keyakinan bahwa sebagian para wali bisa memberi rizki, dan bisa pula memberi barokah, juga termasuk kesyirikan dalam Rububiyyah-Nya.

    2. Tauhid Al-Uluhiyyah, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak diibadahi dengan penuh ketundukan, pengagungan, dan kecintaan. Dinamakan juga dengan Tauhidul ’Ibadah atau Tauhidul ’Ubudiyyah, karena hamba wajib memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata. Ayat-ayat Al-Qur`an yang menunjukkan tauhid jenis ini sangat banyak, diantaranya:

    “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah.” [Muhammad: 19]

    Juga firman Allah Azza wa Jalla:

    ”Beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” [An-Nisa`: 36]

    Rabbul ’Alamin adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak dan pantas untuk diibadahi. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memerintahkan umat manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya, karena Dia adalah Rabb. Termasuk juga Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum musyrikin arab, yang mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb satu-satunya, untuk mereka beribadah hanya kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

    ”Wahai umat manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb kalian.” [Al-Baqarah: 21]

    Penyimpangan-penyimpangan dalam tauhid uluhiyyah.

    Penyimpangan dalam tauhid jenis ini yaitu dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla seperti berdoa kepada kuburan atau ahli kubur, meminta pertolongan kepada jin, meminta barokah kepada orang tertentu, menyandarkan nasibnya (bertawakkal) kepada benda tertentu, seperti batu, jimat, cincin, keris, dan semacamnya. Karena do’a dan tawakkal termasuk ibadah, maka harus ditujukan hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata.

    3. Tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat, adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki nama-nama yang indah (al-asma`ul husna) dan sifat-sifat yang mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla beritakan dalam Al-Qur`an, atau sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah r dalam hadits-haditsnya yang shahih. Sekaligus meyakini dan beriman bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah Azza wa Jalla.

    Di antara sekian banyak ayat Al-Qur`an yang menunjukkan tauhid ini, firman Allah Azza wa Jalla:

    ”Hanya milik Allah al-asma`ul husna, maka berdo’alah kalian kepada-Nya dengan menyebutnya (al-asma`ul husna) dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (mengimani) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-A’raf: 180]

    Allah Azza wa Jalla berfirman:

    ”Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy Syura: 11]

    Penyimpangan dalam tauhid Al-Asma’ wa Ash Shifat:

    – Tidak meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai sifat-sifat yang sempurna tersebut. Padahal telah disebutkan dalam Al-Qur’an atau dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih.

    – Menyerupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Padahal Allah Azza wa Jalla telah berfiman (artinya):

    ”Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy Syura: 11].

    – Menyelewengkan atau menta’wil makna Al-Asma’ul Husna, yang berujung pada peniadaan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla.

    – Menentukan cara dari sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, yang bermuara pada penyerupaan dengan makhluk-Nya.

    Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

  8. Taqiyuddin An-Nabhani(pendiri dan amir pertama Hizbut Tahrir) mencela Muawiyah bin abi Sofyan

    Syaikh Taqîyuddîn an-Nabhânî
    ghofarollahu lahu wa lanâ berkata :
    ﻲﺑﺃ ﻦﺑ ﺔﻳﻭﺎﻌﻣ
    ﻝﻮﺳﺮﻟﺍ ﻯﺃﺭ ﻥﺎﻴﻔﺳ
    ﻦﻣ ﻞﻛﻭ ,ﻪﺑ ﻊﻤﺘﺟﺍﻭ
    ﻊﻤﺘﺟﺍﻭ ﻝﻮﺳﺮﻟﺍ ﻯﺃﺭ
    ,ﻲﺑﺎﺤﺻ ﻮﻬﻓ ﻪﺑ
    ﻥﺃ ﺔﺠﻴﺘﻨﻟﺎﻓ
    ﻲﺑﺃ ﻦﺑ ﺔﻳﻭﺎﻌﻣ
    ﻩﺬﻫﻭ ,ﻲﺑﺎﺤﺻ ﻥﺎﻴﻔﺳ
    ﺲﻴﻠﻓ ,ﺄﻄﺧ ﺔﺠﻴﺘﻨﻟﺍ
    ﻝﻮﺳﺮﻟﺍ ﻯﺃﺭ ﻦﻣ ﻞﻛ
    ,ﻲﺑﺎﺤﺻ ﻪﺑ ﻊﻤﺘﺟﺍﻭ
    ﺐﻬﻟ ﻮﺑﺃ ﻥﺎﻜﻟ ﻻﺇﻭ
    ًﺎﻴﺑﺎﺤﺻ
    “Mu’âwiyah bin Abî Sufyân
    berjumpa dan berkumpul dengan Nabî,
    sedangkan setiap orang yang berjumpa
    dan berkumpul bersama nabî adalah
    sahabat, sehingga konklusinya
    Mu’âwiyah bin Abî Sufyân adalah
    seorang sahabat. Konklusi ini salah,
    karena tidak setiap orang yang melihat
    dan berkumpul dengan Nabî otomatis
    adalah seorang sahabat. Jika demikian
    keadaannya maka tentulah Abū Lahab
    bisa dikatakan sebagai Sahabat.” [asy-
    Syakhshiyah al-Islâmîyah Juz I hal. 43].
    Pendapat Syaikh an-Nabhânî ini
    ditegaskan kembali oleh pengikut
    Hizbut Tahrir, sebagaimana dikatakan
    oleh penulis kitab “al-Mulif al-
    Fikrî” (hal. 148) :
    ﻦﻣ ﻞﻛﻭ ﻲﺑﺎﺤﺼﻟﺍ
    ﻰﻨﻌﻣ ﻪﻴﻓ ﻖﻘﺤﺘﺗ
    ﻪﻧﺄﺑ ﺮِّﺴُﻓﻭ ,ﺔﺒﺤﺼﻟﺍ
    ـ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﺐﺤﺻ ﺍﺫﺇ
    ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ
    ﻭﺃ ﺔﻨﺳ ـ ﻢﻠﺳﻭ
    ﻪﻌﻣ ﺍﺰﻏﻭ ,ﻦﻴﺘﻨﺳ
    ,ﻦﻴﺗﻭﺰﻏ ﻭﺃ ﺓﻭﺰﻏ
    ﻢﻠﺳﺃ ﺔﻳﻭﺎﻌﻣﻭ
    ﻢﻟﻭ ,ﺔﻨﺳ 13 ﻩﺮﻤﻋﻭ
    ﻰﻟﺇ ﺐﻫﺫ ﻪﻧﺃ ﺩﺮﻳ
    ﺎﻬﻴﻓ ﻦﻜﺳﻭ ﺔﻨﻳﺪﻤﻟﺍ
    ـ ﻝﻮﺳﺮﻟﺍ ﺓﺎﻴﺣ ﻲﻓ
    ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ
    ,ﻪَﺒَﺣﺎﺻﻭ ـ ﻢﻠﺳﻭ
    ﻲﻓ ﺚﻜﻣ ﻝﻮﺳﺮﻟﺍﻭ
    ﻻ ﺓﺮﻴﺼﻗ ﺓﺪﻣ ﺔﻜﻣ
    ﻰﻨﻌﻣ ﺎﻬﻴﻓ ﻖﻘﺤﺘﺗ
    ﻪﻴﻠﻋﻭ ,ﺔﺒﺤﺼﻟﺍ
    ﺲﻴﻟ ﺔﻳﻭﺎﻌﻤﻓ
    ًﺎﻴﺑﺎﺤﺻ
    “Sahabat dan setiap orang yang
    terpenuhi padanya definisi sahabat,
    telah dijelaskan (bahwa ia disebut
    sebagai sahabat) apabila ia menyertai
    Nabî Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam
    selama setahun atau dua tahun dan
    turut serta di dalam satu atau dua
    peperangan. Sedangkan Mu’âwiyah, ia
    masuk Islâm dan usianya masih 13
    tahun. Tidak ada riwayat yang
    menjelaskan bahwa ia pergi dan tinggal
    di Madinah pada masa Rasul Shallâllâhu
    ‘alaihi wa Sallam masih hidup dan
    menyertai beliau. Rasulullah tinggal di
    Makkah selama beberapa waktu yang
    singkat yang tidak memenuhi lamanya
    Mu’âwiyah masuk dalam definisi
    sahabat, karena itulah Mu’âwiyah
    bukanlah seorang sahabat.”
    Akhirnya, dengan mencopot status
    sahabat Mu’âwiyah, maka sah-sah
    saja mencela (jarh) dan menghujat
    (tho’n) Mu’âwiyah, serta
    menuduhnya dengan berbagai tuduhan
    keji. Hal ini sebagaimana dikemukakan
    oleh Syaikh Muhammad asy-Syuwaikî,
    mantan anggota Hizbut Tahrir di dalam
    buku beliau, “ash-Showâ`iq al-
    Hâwiyah” (hal. 37), beliau berkata :
    ﻱﺃ ـ ﻢﻬﻴﻔﻧ ﻥﺇ ﻢﺛ
    ـ ﺮﻳﺮﺤﺘﻟﺍ ﺏﺰﺣ
    ﺔﻳﻭﺎﻌﻣ ﺔﺒﺤﺼﻟ
    ﻥﻮﻟﻭﺎﻄﺘﻳ ﻢﻬﻠﻌﺟ
    ,ﻪﻧﻮﺣﺮﺠﻳﻭ ﻪﻴﻠﻋ
    ﺏﺎﺘﻛ ﻲﻓ ﺀﺎﺟ ﺪﻘﻓ
    ﻲﻓ ﻢﻜﺤﻟﺍ ﻡﺎﻈﻧ“
    ﻦﻣ ﻮﻫﻭ ”ﻡﻼﺳﻹﺍ
    ﺏﺰﺣ ﺕﺍﺭﻮﺸﻨﻣ
    ﺔﻌﺒﻄﻟﺍ ﺮﻳﺮﺤﺘﻟﺍ
    ـ ـﻫ1374 ﺔﻴﻧﺎﺜﻟﺍ
    ـﻫ1410 ﺔﺜﻟﺎﺜﻟﺍﻭ ﻡ1953
    ﺔﻌﺒﻄﻟﺍﻭ ﻡ1990 ـ
    ـ ـﻫ1417 ﺔﻌﺑﺍﺮﻟﺍ
    ﺔﻌﺒﻄﻟﺍﻭ ﻡ1996
    ﺎﻬﻨﻇﺃﻭ ﺔﺳﺩﺎﺴﻟﺍ
    ﻢﻬﻨﻜﻟ ﺔﺴﻣﺎﺨﻟﺍ
    ﻲﻓ ﺎﻤﺑﺭ ﺍﻭﺄﻄﺧﺃ
    ﺔﺧﺭﺆﻣ ﻲﻫﻭ ﺔﻋﺎﺒﻄﻟﺍ
    ﻩﺬﻫ ﻞﻛﻭ ﻡ2002 ـ ـﻫ1422
    ﺕﺮﻛﺫ ﺕﺎﻌﺒﻄﻟﺍ
    ﺖﻤﺠﻬﺗﻭ ﺔﻳﻭﺎﻌﻣ
    ﻦﻴﺴﻤﺧ ﺬﻨﻣ ﻪﻴﻠﻋ
    ﺏﺎﺑ ﻲﻓ ﻚﻟﺫﻭ ,ًﺎﻣﺎﻋ
    ﻦﻣ ﺪﻬﻌﻟﺍ ﺔﻳﻻﻭ)
    ,(ﺭﻮﻛﺬﻤﻟﺍ ﺏﺎﺘﻜﻟﺍ
    ﻪﻧﺇ :ﻪﻨﻋ ﺍﻮﻟﺎﻘﻓ
    ﻪﻧﺇﻭ ,ًﺍﺮﻜﻨﻣ ﻉﺪﺘﺑﺍ
    ﺹﻮﺼﻨﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﻝﺎﺘﺤﻳ
    ﻪﻧﺇﻭ ,ﺔﻴﻋﺮﺸﻟﺍ
    ﺔﻔﻟﺎﺨﻣ ﺪﻤﻌﺘﻳ
    ﻻ ﻪﻧﺇﻭ ,ﻡﻼﺳﻹﺍ
    ﻥﺇﻭ ,ﻡﻼﺳﻹﺎﺑ ﺪﻴﻘﺘﻳ
    ﻰﻠﻋ ﻩﺩﺎﻬﺘﺟﺍ ﺔﻘﻳﺮﻃ
    ﻻ ﺔﻌﻔﻨﻤﻟﺍ ﺱﺎﺳﺃ
    ﻡﻼﺳﻹﺍ ﺱﺎﺳﺃ ﻰﻠﻋ .
    “Sesungguhnya penafian Hizbut Tahrir
    terhadap status sahabat Mu’âwiyah,
    menyebabkan mereka dapat
    mendiskreditkan dan mencela
    Mu’âwiyah. Di dalam buku
    “Nizhâmul Hukmi fîl Islâm” yang
    termasuk publikasi Hizbut Tahrir pada
    cetakan ke-2 (th. 1374/1953), ke-3 (th.
    1410/1990), ke-4 (th. 1417/1996) dan
    cetakan ke-6 yang saya kira sebenarnya
    adalah cetakan ke-5 (th. 1422/2002),
    mungkin salah cetak. Seluruh cetakan
    buku ini menyebut Mu’âwiyah dan
    mendiskreditkan beliau semenjak 50
    tahun lalu. Hal ini terdapat di dalam Bab
    “Wilâyatul Ahdi minal Kitâbil
    Madzkūr”, dimana mereka
    mengatakan bahwa Mu’âwiyah telah
    mengada-adakan suatu kemungkaran
    dan melakukan penipuan terhadap
    nash-nash syariat. Beliau bersandar
    kepada sesuatu yang menyelisihi Islâm
    dan tidak mengikat diri dengan Islâm,
    serta metode ijtihadnya berdiri di atas
    landasan keuntungan semata bukan di
    atas landasan Islâm.”
    Demikian pula di dalam buku “al-
    Kurôsah” atau “Izâlatul Utrubah”,
    karya para pemuda (Syabâb) Hizbut
    Tahrir, mereka menuduh Mu’âwiyah
    bahwa beliau telah melakukan kelicikan
    dan pengkhianatan, serta mencuri
    kekuasaan. Hal ini terdapat di dalam
    bab “Mughtashob as-Sulthah.”

    ana Tanggapi : Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yahya, telah bercerita kepada kami Abu Mushir Abdul A’la bin Mushir, dari Sa’id bin Abdul Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abdurrahman bin Abi ‘Amirah, dan dia seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dia bersabda kepada Muawiyah:

    “Ya Allah jadikanlah dia sebagai orang yang bisa memberikan petunjuk dan seorang yang diberi petunjuk (Mahdi) dan berikanlah hidayah (kepada manusia) melaluinya.”

    (HR. At Tirmidzi No. 3842, Imam At Tirmidzi berkata: hasan gharib. Ahmad No. 17895, Al Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir, 5/240. Ibnu Abi ‘Ashim, Al Aahaad wal Matsani No. 1129, Al Khathib dalam Tarikh Baghdad , 1/207-208, Ibnul Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah No. 442, Al Khalal dalam As Sunnah No. 699, Ibnu Qaani’ dalam Mu’jam Ash Shahabah, 2/146, Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 660, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 8/358. Imam Ibnu Abdil Bar dan Al Hafizh Ibnu Hajar mengisyaratkan kelemahan hadits ini. Lihat Al Ishabah, 4/342-343 dan Fathul Bari, 7/104).

    Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu adalah sekretaris Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

    Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, menceritakan bahwa Abu Sufyan Radhiallahu ‘Anhu berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

    قال: ومعاوية، تجعله كاتبا بين يديك. قال “نعم”.

    Abu Sufyan berkata: “Dan Mu’awiyah, kau jadikanlah dia sebagai juru tulis bagimu.” Beliau bersabda: “Ya.” (HR. Muslim No. 2501)

    Beliau adalah salah seorang juru tulis wahyu, dan ini menunjukkan keutamaannya. Kalau bukan karena keutamaannya, karena apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkatnya?

    Pandangan Ulama Salaf Tentang Mu’awiyah

    – Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma

    Berikut ini terdapat dalam At Tarikh Al Kabir-nya Al Imam Al Bukhari dengan sanad shahih:

    قال ابراهيم بن موسى فيما حدثوني عنه عن هشام (بن يوسف ) عن معمر قال سمعت (همام ) بن منبه عن ابن عباس قال ما رأيت احدا اخلق للملك من معاوية.

    Berkata Ibrahim bin Musa, dari Hisyam bin Yusuf, dari Ma’mar, dia berkata: saya mendengar Hammam bin Munabbih, dari Ibnu Abbas berkata: “Belum pernah saya menemukan orang yang paling ahli dalam mengatur pemerintahan selain Mu’awiyah Radhiyallahu ‘Anhu.” (At Tarikh Al Kabir, 7/327. Lihat juga Imam Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyqi, 59/174)

    – Abdullah bin Umar Radhialllahu ‘Anhuma

    Dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar berkata:

    ما رأيت أحدا كان أسود بعد رسول الله (صلى الله عليه وسلم) من معاوية قلت هو كان أسود من أبي بكر قال أبو بكر كان خيرا منه وكان هو أسود منه قال قلت فهو كان أسود من عمر قال عمر والله كان خيرا منه وكان هو أسود منه قال قلت هو كان أسود من عثمان قال رحمة الله على عثمان عثمان كان خيرا منه وهو أسود من عثمان

    “Aku belum pernah melihat seorang pun yang kepemimpinannya lebih cakap setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibandingkan Mu’awiyah.” Aku (Nafi’) bertanya: “Dia lebih cakap dibanding Abu Bakar?” Ibnu Umar menjawab: “Abu Bakar lebih baik darinya tetapi dia lebih cakap dalam kepemimpinan dibanding Abu Bakar.” Aku bertanya: “Apakah dia lebih cakap disbanding Umar?” Ibnu Umar menjawab: “Umar, demi Allah, lebih baik darinya tetapi dia lebih cakap dalam hal kepemimpinan dibanding Umar.” Aku bertanya: “Apakah dia lebih cakap dibanding Utsman?” Ibnu Umar menjawab: “Semoga Allah merahmati Utsman, Utsman lebih baik darinya tetapi dia lebih cakap dalam kepemimpinan dibanding Utsman.”(Imam Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyqi, 59/174)

    – Imam Mujahid Rahimahullah (seorang mufassir masa tabi’in, murid senior Ibnu Abbas)

    Berkata Al A’masy, bahwa Mujahid berkata:

    لو رأيتم معاوية لقلتم هذا المهدي

    “Seandainya kalian melihat Mu’awiyah niscaya kau akan katakana: “Inilah Mahdi!” (Ibid, 56/172)

    – Imam Abu Ishaq As Subai’i Rahimahullah

    Abu Bakar bin ‘Iyasy berkata, dari Abu Ishaq As Subai’i:

    كان معاوية وكان وما رأينا مثله

    “ Pada masa Mu’awiyah, saya belum pernah melihat orang yang sepertinya.” (Ibid)

    Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah

    Muhammad bin Yahya bin Sa’id mengatakan:

    سئل ابن المبارك عن معاوية فقيل له ما تقول فيه قال ما أقول في رجل قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) سمع الله لمن حمده فقال معاوية من خلفه ربنا ولك الحمد فقيل له ما تقول في معاوية هو عندك أفضل أم عمر بن عبد العزيز فقال لتراب في منخري معاوية مع رسول الله (صلى الله عليه وسلم) خير أو أفضل من عمر بن عبد العزيز

    Abdullah bin Al Mubarak pernah ditanya tentang Mu’awiyah,”Apa pendapatmu tentangnya?” Beliau menjawab,”Apa yang harus kukatakan terhadap lelaki, yang ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan: Sami’ Allahu liman hamidah (Allah mendengar hamba yang memujiNya), lalu Mu’awiyah menyambutnya dari belakang Rabbana wa Lakal Hamdu (Segala puji bagiMu, wahai Rabb kami).”

    Lalu ada yang bertanya: “Apa pendapatmu terhadap Mu’awiyah, apakah menurutmu ia lebih utama dari pada Umar bin Abdul Aziz?” Beliau berkata,”Sungguh celaka aku ini, Mu’awiyah yang telah menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentu lebih utama dan lebih baik daripada Umar bin Abdul Aziz.” (Tarikh Dimasyqi, 59/207-208. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

    Imam Abdullah bin Al Mubarak juga mengatakan:

    تراب في أنف معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز

    “Debu pada hidung Mu’awiyah adalah lebih utama dibanding Umar bin Abdul ‘Aziz.” (Tarikh Dimasyqi, 59/207. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

    – Imam Abu Mas’ud Al Ma’afi bin ‘Imran Rahimahullah

    Muhammad bin Abdullah bin ‘Imar berkata:

    سمعت المعافى بن عمران وسأله رجل وأنا حاضر أيما أفضل معاوية بن أبي سفيان أو عمر بن عبد العزيز فرأيته كأنه غضب وقال يوم من معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز ثم التفت إليه فقال تجعل رجلا من أصحاب محمد (صلى الله عليه وسلم) مثل رجل من التابعين

    Aku mendengar Al Ma’afi bin ‘Imran, bahwa ada seorang yang bertanya kepadanya dan aku saat itu hadir: “Mana yang lebih utama antara Mu’awiyah bin Abi Sufyan atau Umar bin Abdil Aziz?” Aku melihat nampaknya dia marah, lalu berkata: “Seharinya Mu’awiyah adalah lebih utama dibanding Umar bin Abdil Aziz.” Lalu dia menengok kepada orang itu, dan berkata: “Kau menjadikan seorang laki-laki sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebanding dengan seorang tabi’in?” (Tarikh Dimasyqi, 59/207. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

    Ribah bin Al Jarah Al Maushili berkata:

    سمعت رجلا سأل المعافى بن عمران فقال يا أبا مسعود أين عمر بن عبد العزيز من معاوية بن أبي سفيان فغضب من ذلك غضبا شديدا وقال لا يقاس بأصحاب رسول الله (صلى الله عليه وسلم) أحدا معاوية صاحبه وصهره وكاتبه وأمينه على وحي الله عز وجل

    Aku mendengar ada seorang laki-laki bertanya kepada Al Ma’afi bin ‘Imran: “Wahai Abu Mas’ud, di manakah posisi Umar bin Abdil Aziz dibanding Mu’awiyah bin Abi Sufyan?” Abu Mas’ud nampak sangat marah, dan berkata: “Jangan samakan seorang pun sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Mu’awiyah adalah sahabatnya, iparnya, juru tulisnya, dan orang kepercayaannya dalam menulis wahyu Allah ‘Azza wa Jalla.” (Ibid. Tarikh Baghdad, 1/95)

    Mu’awiyah adalah ipar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena saudaranya yang perempuan yakni Ummu habibah menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

    Al Ma’afi juga pernah berkata:

    كان معاوية أفضل من ستمائة مثل عمر بن عبد العزيز

    “Mu’awiyah lebih utama 100 kali dibanding semisal Umar bin Abdil Aziz.” (Imam Abu Bakar Al Khalal, As Sunnah, No. 668. Syamilah)

    – Imam Al Fadhl bin ‘Anbasah Rahimahullah

    Berkata ‘Isa bin Khalifah Al Hadzdza:

    كان الفضل بن عنبسة جالسا عندي في الحانوت فسئل معاوية أفضل أم عمر بن عبد العزيز فعجب من ذلك وقال سبحان الله أجعل من رأى رسول الله (صلى الله عليه وسلم) كمن لم يره قالها ثلاثا

    Dahulu Al Fadhl bin ‘Anbasah duduk bersama saya di sebuah kedai, dia ditanya apakah Mu’awiyah lebih utama atau Umar bin Abdil Aziz. Dia merasa heran dengan pertanyaan itu, dan berkata: “Subhanallah, apakah pantas disamakan orang yang telah melihat Rasulullah dengan orang yang belum pernah melihat beliau?” Ia ulangi ucapan itu tiga kali. (Ibid)
    Ali bin Jamil berkata, aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak berkata:

    معاوية عندنا محنة فمن رأيناه ينظر إلى معاوية شزرا اتهمناه على القوم أعني على أصحاب محمد (صلى الله عليه وسلم)

    “Bagi kami Mu’awiyah telah menjadi ujian. Maka, Siapa saja yang kami lihat mengomentari Mu’awiyah dengan komentar yang miring, maka kami juga mencurigai sikapnya terhadap seluruh sahabat, yakni sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. ” (Tarikh Dimasyqi, 59/209. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

    Abu Taubah Ar Rabi’ bin Nafi’ Al Halabi mengatakan:

    معاوية ستر لأصحاب النبي (صلى الله عليه وسلم) فإذا كشف الرجل الستر اجترأ على ما وراءه

    “Mu’awiyah adalah tirai bagi para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika seseorang berani membuka tirai ini maka terbukalah apa-apa yang ada di belakangnya (maksudnya para sahabat yang lain tidak akan luput dari celaan, pen).” (Tarikh Dimasyqi, 59/209. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148. Tarikh Baghdad, 1/95. Mawqi’ Al Warraq )

    Imam Ahmad bin Hambal berkata kepada Al Maimuni:

    يا أبا الحسن إذا رأيت رجلا يذكر أحدا من الصحابة بسوء فاتهمه على الاسلام.

    “Wahai Abul Hasan, jika kau lihat ada seorang yang membicarakan seorang sahabat nabi dengan buruk, maka curigailah keislamannya.” (Tarikh Dimasyqi, 59/209. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

    Al Fudhail bin Ziyad berkata:

    سمعت أبا عبد الله يسأل عن رجل تنقص معاوية وعمرو بن العاص أيقال له رافضي ؟ فقال: إنه لم يجترئ عليهما إلا وله خبيئة سوء، ما انتقص أحد أحدا من الصحابة إلا وله داخلة سوء.

    Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hambal) ditanya tentang seorang yang yang merendahkan Mu’awiyah dan Amru bin Al Ash Radhiyallahu ‘anhuma , apakah boleh ia dikatakan Rafidhi (pengikut paham Rafidhah-syiah)? Dia berkata,”Sungguh, hanya orang yang memiliki keyakinan buruk sajalah yang berani mencela keduanya. Sungguh, hanya orang yang berkeyakinan buruk sajalah yang mau membenci salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Tarikh Dimasyqi, 59/210. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

    Imam Waqi’ berkata:

    معاوية بمنزلة حلقة الباب من حركه اتهمناه على من فوقه

    “Posisi Mu’awiyah bagaikan daun pintu. Siapa saja yang menggesernya , maka kami akan mencurigainya.” (Tarikh Dimasyqi, 59/210)

    Abul Harits berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal:

    ما تقول رحمك الله فيمن قال : لا أقول إن معاوية كاتب الوحي ، ولا أقول إنه خال المؤمنين ، فإنه أخذها بالسيف غصبا ؟ قال أبو عبد الله : هذا قول سوء رديء ، يجانبون هؤلاء القوم ، ولا يجالسون ، ونبين أمرهم للناس

    “Apa pendapatmu –semoga Allah merahmatimu- tentang orang yang mengatakan: “Saya tidak mengatakan Mu’awiyah sebagai penulis wahyu, dan tidak mengatakan sebagai pemelihara kaum mukminin, karena dia adalah perampok yang membawa pedang?” Berkata Abu Abdillah (Imam Ahmad): “Ini adalah ucapan yang buruk lagi jelek, singkirkanlah mereka, jangan duduk bersama mereka, dan kita menjelaskan kepada manusia tentang mereka.” (Imam Abu Bakar Al Khalal, As Sunnah, No. 663. Syamilah)

    Terakhir …. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun memperingatkan orang yang mencela para sahabatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    لا تسبوا أصحابي، فو الّذي نفسي بيده لو أنفق أحدكم مثل أحدٍ ذهباً ما بلغ مُدَّ أحدهم ولا نصيفه

    “Jangan kalian maki sahabatku, demi yang jiwaku ada di tanganNya. Seandainya salah seorang kalian menginfakan emas sebesar gunung uhud, tidaklah mampu menyamai satu mud pun amal mereka bahkan setengahnya.” (HR. Bukhari No. 3470, Muslim No. 2540, Abu Daud No. 4658, Ibnu Majah No. 161, At Tirmidzi No. 3861. Al Baihaqi dalam As Sunannya No. 20696, dan lainnya. Hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah dan Abu Said Al Khudri)

    Sebagian kecil kalangan, justru menjadikan hadits ini untuk menyudutkan Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu, karena Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu telah memerintahkan para khathib Jumat untuk memaki Ali bin Thalib Radhiallahu ‘Anhu di atas mimbar selama Mu’awiyah hidup. Tapi, sayangnya mereka sendiri malah terjebak pada mencela sahabat nabi juga dan dalam jumlah yang lebih banyak, serta dalam kurun waktu berabad-abad sampai hari ini. Mereka bermain dengan hadits ini bahwa Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu mencela salah seorang sahabat nabi yakni Ali Radhiallahu ‘Anhu, tetapi mereka sendiri mencela sahabat nabi dalam jumlah yang sangat banyak. Wallahul musta’an …

  9. akhi fakir : ana nukil langsung dari tulisan ustadz mereka(HTI) :

    Tiga Peristiwa Besar Rabiul Awal, Maulid Nabi, Maulid Daulah Islam dan Maulid Khilafah

    Oleh : KH. M. Shiddiq al-Jawi

    Biasanya pada bulan Rabi’ul Awal kaum muslimin memperingati Maulid Nabi SAW. Padahal, itu hanya satu dari tiga peristiwa besar yang terjadi tanggal 12 Rabi’ul Awal. Ketiga peristiwa tersebut adalah;Pertama, maulid (hari lahirnya) Nabi SAW. Kedua, hijrahnya Nabi SAW ke Madinah, yakni berdirinya Daulah Islamiyah.Ketiga, wafatnya Nabi SAW, yakni berdirinya Khilafah Islamiyah Rasyidah. Ringkasnya, 12 Rabi’ul Awal adalah Maulid Nabi SAW, Maulid Daulah Islamiyah, dan Maulid Khilafah Rasyidah. (Al-Waie (Arab), Edisi no. 278, Rabi’ul Awal 1431 H / April 2010 M).

    perlu di ingat akhi, perkara di atas tidak ada tuntunan dalam syariat Islam. karena hari raya yang sesuai syariat ada dua di tambah satu. yakni idul fitri, idul adha dan jumatan. perhatikan ini :

    Dari Anas Radliallahu ‘anhu ia berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah ( Yaitu hari Nairuz dan hari Mahrajan. Lihat “Aunul Ma’bud” (3/485) oleh Ath Thayib Al-Adhim Abadi (3/485). Maka beliau bersabda (yang artinya) : “Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu : hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri”. (Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad (3/103,178,235), Abu Daud (1134), An-Nasa’i (3/179) dan Al-Baghawi (1098).
    erkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna : “Maksudnya : Karena hari Idul Fihtri dan hari raya Kurban ditetapkan dengan syariat Allah Ta’ala, merupakan pilihan Allah untuk mahluk-Nya dan karena keduanya mengikuti pelaksanaan dua rukun Islam yang agung yaitu Haji dan Puasa, serta didalamnya Allah mengampuni orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan orang-orang yang berpuasa, dan Dia menebarkan rahmat-Nya kepada seluruh mahluk-Nya yang taat. Adapun hari Nairuz dan Mahrajan merupakan pilihan para pembesar pada masa itu. Penyebab ditentukannya hari itu sebagai hari raya buat mereka adalah karena pada kedua hari itu situasi kondisi, suhu udara dan selainnya dari keistimewaan yang akan sirna. Perbedaan antara dua keistimewaan antara Idul Fithri dan Idul Adha dengan hari Nairuz dan Mahrajan sangat jelas bagi siapa yang mau memperhatikannya”. [Fathur Rabbani 6/119].
    sedangkan hari jumat sebagaai hari raya :
    Salah satu hadist yang menyebutkan bahwa hari jum’at adalah hari raya, Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

    يَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمُ عِيدٍ فَلَا تَجْعَلُوا يَوْمَ عِيدِكُمْ يَوْمَ صِيَامِكُمْ إِلَّا أَنْ تَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

    Artinya : “Hari jum’at adalah hari raya. jangan jadikan hari raya kalian sebagai hari kalian berpuasa kecuali telah berpuasa hari sebelumnya atau sesudahnya.

    sekian dari ana tentang penjelasan HTI. semoga antum faham.

  10. assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh, blog antum bagus sekali, perkenalkan ana agung handoko , abu hammam da’watuddin….sekarang di cihanjuang cimahi….ana ingin sekali datang kekajian salaf…..,,antum rumah daerah sebelah mana cimahinya ?

  11. waalaykumusalam warohmatullah wabarokatuh. Alhamdulillah, jazakallah khairan.antum tinggal di cihanjuang cimahi?? wah dekat sama daerah ana, ana tinggal di padasuka-Cimahi. kalau antum ingin menghadiri kajian salaf. coba lihat di blog ana ini, di jadwal kajian salafy di bandung.

  12. assalamualaikum, ana dari Malaysia. satu soalan. Apa pandangan enta mengenai pencukuran janggut? harap dibalas segera.

  13. akhi…izin copy artikelnya.. ana abu hanif dr palembang sumsel.
    Jazakallahu khiran katsiran..baarakallaahu fik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s