5 Penjagaan Islam


5 Penjagaan Islam

Islam memerintah kepada setiap kebaikan dan melarang dari setiap keburukan. Setiap perintah agama Islam pasti mengandung manfaat dan kebaikan, dan sebaliknya setiap larangan agama Islam pasti mengandung kerugian dan kejelekan. Oleh karena itu setiap perintah dan larangan Islam termasuk di antara keindahannya. Syariat islam ditetapkan untuk menjaga dan memelihara agama, jiwa, keturunan, akal dan harta yang merupakan adh-Dharuriyat al-Khamsu (lima perkara mendesak pada kehidupan manusia). Sehingga setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini harus mendapatkan hukuman yang ditetapkan Syari’at yang disesuaikan dengan pelanggaran tersebut.

1. Islam menjaga agama.

Islam mengharamkan seseorang murtad (keluar dari agama Islam), bahkan orang yang murtad boleh dibunuh.

Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia! (HR. Bukhari).

Namun yang perlu ditekankan disini adalah, hukuman membunuh orang yang murtad ini tidak dilakukan setiap orang, bukan dengan cara main hakim sendiri, karena hal itu hanya akan menimbulkan kerusakan yang lain. Namun pelaksanaan hukum membunuh bagi orang yang murtad hanya dilakukan oleh ulil amri (pemimpin umat/negara) jika menerapkan hukum islam di negaranya.

2. Islam menjaga jiwa.

Allah Azza wa Jalla mengharamkan pembunuhan dan penumpahan darah umat Islam. Islam memelihara jiwa, oleh karena itu Islam mengharamkan pembunuhan secara tidak haq (benar), dan hukuman bagi orang yang membunuh jiwa seseorang secara tidak benar adalah hukuman mati (dibalas dengan pembunuhan juga atau disebut dengan qishash).

Maka dari itu jarang terjadi pembunuhan di negeri yang menerapkan syari’at Islam. Karena apabila seseorang mengetahui bahwa bila ia membunuh seseorang akan dibunuh pula maka ia tidak akan melakukan pembunuhan, karena hal itu masyarakat hidup dengan penuh rasa aman dari kejahatan pembunuhan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertaqwa.” [Al-Baqarah: 179]

Namun karena asingnya Islam hari ini bagi kaum muslimin sendiri, sehingga penegakan qishash dianggap sebagai suatu perbuatan yang tidak berperikemanusiaan. Allahul musta’an. Hendaknya kaum muslimin tidak mempunya cara berpikir yang demikian, karena hukum qishash ini adalah hukum Allah Ta’ala yang mengandung kemasalahatan yang besar sebagaimana dijelaskan diatas. Mengapa mereka tidak mengatakan “tidak berperikemanusiaan” bagi pelaku pembunuhan, tetapi mengatakan demikian disaat si pembunuh dihukum qishash? Bagaimana jika salah satu orang yang dicintai mereka yang dibunuh? Akankah mereka mengatakan bahwa menegakkan hukum qishash ini perbuatan yang ‘tidak berperikemanusiaan’? Maka renungkanlah!

3. Islam menjaga akal.

Oleh karena itu Islam mengharamkan setiap yang memabukkan seperti khamr (minuman keras), narkoba dan rokok. Karena yang memabukkan dapat merusak akal, cepat atau lambat, baik disadari atau tidak.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr (minuman keras), berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung.” [Al-Maa-idah: 90]

Khamr adalah apa-apa yang menutup akal, baik bentuk-nya basah maupun kering, yang dimakan atau diminum dan setiap yang memabukkan adalah sumber dari segala kejelekan, sarangnya dosa dan pintu setiap kejelekan. Barang-siapa yang tidak menjauhkannya, maka ia telah durhaka kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia berhak mendapatkan hukuman, siksa, adzab dan diancam dengan masuk Neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang jelek-jelek.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“…Dan yang menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan yang mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” [Al-A’raaf: 157]

4. Islam menjaga harta. Oleh karena itu Islam mengajarkan amanah (kejujuran) dan menghargai orang-orang yang amanah, bahkan menjanjikan kehidupan bahagia dan Surga kepada mereka. Islam melarang menipu, korupsi dan mencuri serta mengancam pelakunya dengan hukuman. Islam mensyari’atkan had (hukum) pencurian, yaitu potong tangan pencuri agar seseorang tidak memberanikan diri mencuri harta orang lain. Dan apabila ia tidak merasa takut akan hukuman di akhirat, maka ia akan jera karena dipotong tangannya. Maka dari itu, masyarakat yang hidup di suatu negeri yang menerapkan syari’at Islam merasa aman terhadap harta kekayaan mereka, bahkan jikalau potong tangan dilaksanakan maka sangat jarang sekali adanya pencuri. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” [Al-Maa-idah: 38]

5. Islam menjaga nasab (keturunan). Allah Azza wa Jalla mengharamkan zina dan segala jalan yang membawa kepada zina. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Israa’: 32]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing seorang dari keduanya seratus kali dera dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman.” [An-Nuur: 2]

Demikian Islam menjaga 5 hal yang mendesak bagi kehidupan manusia. Jika kaum muslimin telah memahami hal ini dengan benar, niscaya akan merasakan indahnya islam, bukan merasakan ‘keras’nya islam sebagaimana orang-orang yang cenderung mengikuti hawa nafsunya sehingga menganggap setiap larangan dalam islam hanya membatasi ruang geraknya. Seorang muslim disebut muslim karena sikap taslim (pasrah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, kepada syariat Allah, dengan semboyan “kami mendengar dan kami taat”).

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufik kepada kita semua sehingga menunjukkan dan menolong kita untuk  menjadi muslim yang sempurna.

[Sumber: Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2, dengan beberapa tambahan]

About these ads