Menyingkap Dakwah Khawarij (4) Merasa Tidak Memiliki Imam


Diantara cara cepat mengetahui sifat-sifat Khawarij, yaitu ada atau tidak dalam diri seseorang adalah mencermati pemahamannya tentang imam sebagai berikut:

1. Hidup dibawah kepemimpinan seorang penguasa muslim tapi tidak merasa punya pemimpin (imam), ini cikal bakal sifat Khawarij

Adapun ahlus sunnah, pemahamannya sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad rahimahullahu dalam masalah ‘aqidah yang diriwayatkan oleh ‘Abdus bin Malik Al-‘Aththar:

ومن غلب عليهم يعني: الولاة بالسيف حتى صار خليفة، وسمي أمير المؤمنين، فلا يحل لأحد يؤمن بالله واليوم الآخر أن يبيت ولا يراه إماماً، براً كان أو فاجراً

“Dan barangsiapa (Muslim) yang mengalahkan mereka, yaitu: pemimpin negara (sebelumnya) dengan pedang (ini contoh cara mendapatkan kekuasaan yang paling buruk –pen) hingga menjadi khalifah (maksudnya : menjadi berkuasa -pen) dan digelari Amirul-Mukminin (zaman sekarang: Persiden, Raja, Sultan, Malik dan lain-lain -pen), maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir bermalam dengan masih beranggapan tidak ada imam, baik imam tersebut seorang yang baik ataupun jahat”. (Al-Ahkam as-Sulthaniyyah oleh Abu Ya’la (hal. 23)).

Akan tetapi, Khawarij mendakwahkan pemahaman yang berbeda dengan ahlus sunnah, sampai-sampai pengikutnya mendapatkan perasaan bahwa ia tidak memiliki imam, sehingga harus membai’at imam yang dikehendaki Khawarij, padahal jelas-jelas penguasa Muslim masih eksis dan berkuasa. Ini suatu kebodohan yang nyata dan tercakup ancaman:

مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ إِمَامٍ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati tidak mempunyai Imam kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah”.

2. Khawarij mengingkari penguasa muslim disuatu Negara, padahal semua orang tahu penguasa itulah pemimpin di negara itu.

Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan,

تدري ما الإمام الإمام الذي يجمع المسلمون عليه كلهم يقول هذا إمام فهذا معناه

“Apakah kamu tahu apa imam (yang kalau keluar darinya diancam mati jahiliyah -pen) itu? Imam itu adalah orang yang bersepakat kepadanya orang-orang muslim (yakni disuatu negara –pen), sehingga dikatakan oleh semua orang kepadanya: “Ini imam”, itulah ma’nanya”. (Al-Khallal dalam As-Sunnah (1/80-81) no. 10 dengan sanad shahih, dan Ibn Hani dalam Masailnya (2/285)).

Sekarang, kalau kita tanyakan kepada rakyat Indonesia dan jawablah dengan jujur jika ditanya, “Siapa pemimpin Negara indonesia?”. Jawabnya pasti, “Persiden”, atau sekarang “Sby”. Terlepas bagaimana cara penguasa tersebut mencapai kekuasaannya.

Mereka berhujjah, “tapi dia (para penguasa) itu tidak dibai’at!!”.

Ini suatu kebodohan, sebab tidak menjadi syarat semua orang harus berbai’at. Makna bai’at itu sendiri adalah sumpah untuk taat, bahkan dinegara kita ketika kita resmi menjadi warga Negara maka secara otomatis kita bersumpah untuk mentaati segala peraturan yang diberlakukan pemerintah. Bagi rakyat cukuplah ketaatan kepada penguasa sebagai bai’at mereka. Dalam hadits diterangkan bahwa tali bai’at itu dileher, ini adalah perumpamaan bahwa bai’at bisa dipaksakan kepada rakyat secara otomatis oleh sebab penguasaan seseorang atas mereka, atau bahkan secara ridho kita letakan bai’at itu dileher kita. Sehingga kemana penguasa menarik ikatan tali itu, kita mengikuti dan taat kepadanya.

Maka ketika seseorang keluar dari ketaatan kepada penguasa sedikit saja, maka secara otomatis pula ia dikatakan melepaskan tali bai’at dilehernya.

مَنْ خَرَجَ مِنَ الْجَمَاعَةِ قِيدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ

“Barangsiapa keluar dari al-jama’ah sejengkal saja sungguh dia telah melepaskan tali ikatan ke-Islaman dari lehernya.”

Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang mati tanpa bai’at di lehernya, maka matinya seperti mati jahiliyah”.

3. Khawarij memisahkan diri dari jama’ah lalu membai’at salah satu diantara mereka

Karena merasa tidak punya imam dan tidak mengakui imam yang berkuasa, Khawarij kemudian memisahkan diri dan membentuk keimaman sendiri –dan inilah tujuan utama mereka-, lalu menuduh orang yang tidak membai’at pemimpin khawarij sebagai mati jahiliyah, mati kafir!!!. Sebagaimana yang terjadi pada Khawarij generasi awal yang keluar dari ketaatan kepada Ali radhiyallahu ’anhu. Diceritakan:

فرجع منهم ألفان وبقى أربعة أو ستة آلاف أصروا وبايعوا عبد الله بن وهب الراسبي فخرج بهم إلى النهروان

“Telah ruju’ dari mereka (karena hujjah yang diterangkan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu kepada mereka -pen) 2000 orang, Dan tetap bersikeras (dalam kesesatannya) 4000 atau 6000 orang, lalu mereka membai’at Abdullah bin Wahab Ar-Rasibi, sehingga mereka keluar bersamanya di Nahrawan”. (Syadzratul Dzahab karya Ibnu Imad (1/50)).

Abdullah bin Wahab Ar-Rasibi adalah amir khawarij pertama yang disepakati mereka, orang yang pertama kali mereka bai’at, dan pemimpin di peperangan Nahrawan, sebagaimana disebutkan juga oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah (7/308), Asy-Syahrastani dalam Al-Milal wan Nihal (1/144) dan lainnya.

Mereka keluar dari ketaatan kepada Ali, Khalifah kaum muslimin, lalu memisahkan diri dan membentuk imamah sendiri dengan membai’at Ar-Rasibi, lalu tanpa malu mengafirkan Ali dan para sahabat lainnya. Dengan tuduhan-tuduhan: “Tidak berhukum dengan hukum Allah, lemah dalam menegakkan kebenaran, mengikuti kelompok yang dzalim” dan lain sebagainya dari tuduhan-tuduhan (lihat Tarikh At-Thabari 8/197).

Ini kerancuan yang jelas, dan justru merekalah yang mendapatkan ancaman,

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa keluar dari ta’at dan berpisah dari al-jama’ah, lalu dia mati maka matinya seperti mati jahiliyah”.

sumber : menyingkap Dakwah Khawarij 1-4 di ambil dari : http://rumahku-indah.blogspot.com/2010/08/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_12.html

About these ads