menyorot-acara-tv-take-him-out.


Take Me Out : Biro Jodoh Kapitalis Primitif dan Ajang Pamer Aurat

Bismillah,
Acara reality show di Indonesia diramaikan dengan biro perjodohan bernama Take Me Out Indonesia. Acara ini tentang 30 perempuan berusia 20-40 tahun single dan mencari pasangan bisa untuk suami, pacar, atau sekedar coba-coba. Di setiap episodenya, ada 7 pria single yang keluar satu demi satu untuk dipilih dan memilih para perempuan itu.

Suksesnya acara Take Me Out, memunculkan acara serupa dengan judul Take Him Out yang berisi kebalikannya. Take Him Out berisi 30 pria single dan 7 perempuan single di setiap episodenya. Belum lagi Take A Celebrity Out. Walah….hanya karena laris, muncullah acara-acara sejenis. Aji mumpung tuh kayaknya!

Biro Jodoh Asal Tiru
Take Me Out adalah sebuah program televisi yang lisensinya dipegang FremantleMedia. Saat ini Take Me Out telah ditayangkan di 3 negara Eropa (Spanyol, Netherland, Denmark), menyusul UK. Dari sini aja, udah kelihatan banget nuansa asal tiru yang penting laku. Rating tinggi, iklan berdatangan, dan itu artinya banyak rupiah berdatangan. Sedangkan bagi pesertanya, lumayanlah bisa nampang di layer kaca dan ditonton oleh orang se-Indonesia raya.

Orang Indonesia memang suka sekali meniru terutama dalam hal tayangan-tayangan TV. Kalo yang ditiru baik sih, nggak masalah. Tapi kalo yang ditiru adalah hal-hal yang negatif, maka ini yang bahaya. Biro jodoh di TV ini adalah salah satu acara yang diadopsi habis dari mereka yang berbudaya sangat jauh dari kita.
Bukan masalah timur dan barat tapi yang lebih urgent adalah budaya non Islam yang diadopsi habis-habisan oleh masyarakat kita yang mayoritas muslim. Lihat saja gaya berbusana para perempuan di acara itu. Atas bawah terbuka semua. Hanya di bulan Ramadhan dan awal Idul Fitri aja mereka kayaknya diharusnya berpakaian yang agak tertutup.
Ini dari segi gaya busana. Cara memilih pasangan, juga dilakukan secara primitif. Kok bisa? Kan mereka berada di panggung canggih dan modern penuh sentuhan teknologi, mungkin itu pikirmu. Modern enggaknya sesuatu, itu bukan ditentukan dari penampilan fisik semata. Itu cuma artificial alias palsu. Primitif atau modern itu bisa dilihat dari bagaimana acara ini merancang 30 kandidat dalam memilih satu calon di depan.
Fisik, itu yang utama pria memilih perempuan. Meskipun yang perempuan cerdas, tapi kalo gak cantik dan langsing jangan harap bakal terpilih. Jenis pekerjaan, itu pilihan utama perempuan dalam memilih si pria. Profesi direktur dan pemilik sebuah perusahaan, bisa dipastikan hampir semua perempuan menyalakan lampunya agar dipilih oleh si pria.
Iman dan takwa? Boro-boro, jauh dah! Belum lagi baju pembawa acara yang atas bawah serba terbuka. Bener-bener ajang pamer aurat.
Take Me Out Ramadhan
Episode Take Me Out Ramadhan adalah yang paling bikin muak dari semua episode yang ada. Gimana enggak, kalo yang haq dan yang batil dicampur aduk jadi satu. Ibarat minum susu kecampur sama air comberan. Hueks…siapa sudi?
Di acara tersebut menghadirkan narasumber yang terkenal dengan Ustadz Cinta. Dia bertugas untuk memberi nasihat-nasihat cinta memakai dalil-dalil yang terkesan maksa. Mending bener, yang banyak malah argumen cap Jaka Sembung alias tuh dalil gak nyambung. Bagaimana mungkin seseorang yang disebut ustadz dan paham Islam bisa menjadi narasumber dalil bagi acara umbar aurat dan jelas-jelas hedonis itu? Uang memang bisa melupakan segalanya. Gak masalah ayat-ayat Allah dijual, yang penting doku tebal. Na’udzubillah.
Baju pun sudah mulai berubah bentuk. Para perempuan yang semula pada pamer sekwilda (maaf, sekitar wilayah dada) dan bupati (buka paha tinggi-tinggi) sudah mulai ditertibkan. Celana panjang atau rok menutup lutut, dengan baju atasan yang tidak boleh terlalu terbuka menghiasi Take Me Out Ramadhan dan Syawal. Tapi, biarpun para peserta udah mulai sopan gaya berbusananya, ternyata pembawa acara tetap cuek-cuek aja. Pundak, leher dan dada terbuka lebar tak masalah. Begitu juga dengan rok pendek di atas lutut tetap muncul di episode demi episode.
Islam Punya Jalan !
Bila berani mengatakan itu buruk, pasti ada yang baik. Bila mengatakan itu batil, pasti ada yang hak/benar. Bila mengatakan itu tidak sesuai dengan syariat Allah, pasti ada yang sesuai. Yupz…Islam gak cuma bisa menunjuk masalah tapi juga bisa menyodorkan solusi.
Dalam Islam, kewajiban menikahkan anak perempuan itu adalah menjadi tugas wali atau ayah gadis tersebut. Ayah inilah yang berusaha mencari laki-laki yang baik dan shalih sebagai suami putrinya. Bila karena satu dan lain hal, wali tidak bisa melakukan kewajibannya, maka tugas negara untuk menyelesaikan permasalahan ini sesuai dengan hukum syara’.
Ayah yang baik, akan memilihkan calon suami untuk putrinya dengan memilih laki-laki yang shalih. Abu Nu’im mentakhrij dalam Al-Hilyah, 1/215, dari Tsabit al-Banaty, dia berkata sbb:
“Yazid bin Mu’awiyah menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’ untuk menikahi putrinya. Namun Abu Darda’ menolak lamarannya itu. Seseorang yang biasa bersama Yazid berkata, ‘Semoga Allah memberikan kemaslahatan kepadamu. Apakah engkau berkenan jika aku yang menikahi putri Abu Darda’?” Yazid menjawab, “Celaka engkau. Itu adalah sesuatu yang amat mengherankan.” Temannya berkata, “Perkenankan aku untuk menikahinya, semoga Allah memberikan kemaslahatan kepadamu.” Terserahlah,” jawab Yazid. Ketika Abu Darda’ benar-benar menikahkan putrinya dengan temannya Yazid itu, maka tersiar komentar yang miring, bahwa Yazid menyampaikan lamaran kepada Abu Darda’, tapi lamarannya ditolak. Tapi ketika ada orang lain dari golongan orang-orang yang lemah, justru Abu Darda’ menerima dan menikahkannya. Lalu Abu Darda’ berkata,” Aku melihat seperti apa kurasakan di dalam hatiku. Jika ada dua pelamar, maka aku memeriksa rumah-rumah yang dilihatnya bisa menjadi tumpuan agamanya.”
Sobat muda, menjadi wanita itu mulia lho. Bahkan seorang ayah yang memiliki anak wanita yang dididik dengan Islam hingga menikahkannya dengan lelaki shalih, insya Allah jaminannya surga, lho. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tiada seorang muslim yang memiliki tiga anak perempuan kemudian dia memberi nafkah sampai keduanya menikah atau meninggal dunia kecuali keduanya menjadi dinding baginya dari api neraka.” Seorang perempuan bertanya, “Apakah dua anak juga?” Rasul menjawab, “Atau dua anak perempuan” (HR Thabrani).
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa diuji dengan anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka (anak-anak perempuan itu) menjadi benteng untuknya dari api neraka.” (HR Bukhari, Muslim)
Nah, karena saat ini kondisi umat Islam sedang berada di kemundurannya, maka sang ayah tak lagi tahu kewajibannya, apalagi negara. Dengan dikompori oleh ide feminisme, jadilah perempuan merasa bebas lepas untuk menentukan sikap termasuk dalam hal jodoh. Demi menarik lawan jenis, mereka tak segan umbar aurat. Demi mendapatkan suami tajir mereka rela merendahkan harga dirinya agar dipilih dan bisa mengalahkan saingannya.
Biro jodoh atau sebuah upaya jasa untuk mempertemukan dua anak manusia dengan tujuan pernikahan itu hal yang boleh-boleh aja dlam Islam. Yang jadi pertanyaan adalah sejauh mana pelaksanaan biro jodoh itu agar sesuai dengan syariat Islam dan bukan malah menjadi pengumbar maksiat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rambu-rambu dalam memilih pasangan: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara; (1) karena hartanya, (2) karena kebaikan keturunan atau kedudukannya, (3) karena kecantikannya, dan (4) karena agamanya. Maka beruntunglah engkau yang memilih wanita yang beragama, karena dengan demikian itu engkau akan berbahagia” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu akan menyebabkan dia sesat (membinasakannya); dan janganlah kamu menikahi wanita karena harta bendanya, mungkin hartanya itu menyebabkan ia sombong (sesat). Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, Demi Allah, perempuan budak yang hitam legam itu lebih utama apabila ia beragama (Islam)” (HR Ibnu Majah).
Berdasar rambu-rambu ini, sebuah biro jodoh yang bertanggung jawab tidak akan mengumbar identitas fisik para pesertanya dengan mudah. Visi dan misi menikah itu lebih diutamakan sebagaimana saran Rasulullah di atas.
Ketika laki-laki memilih perempuan, factor takwa adalah utama. Bukan fisik, wajah apalagi postur tubuh. Karena sesungguhnya, anugerah fisik itu adalah given alias sudah dari sononya. Manusia gak bisa memilih untuk punya hidung seindah Katie Holmes misalnya. Atau mata seindah Katherine Zeta Jones. Ya udah, apa yang ada disyukuri saja dengan memanfaatkannya di jalan Allah. Bukan untuk mengumbar maksiat.
Ketika perempuan memilih laki-laki pun, bukan faKtor pekerjaan dan gaji yang utama. Tapi lebih ke kualitas diri yang bakal jadi calon qowwam atau pemimpin rumah tangga. Percuma juga bayaran jutaan tapi gak bisa baca Qur’an. Mobil mentereng tapi ternyata jarang shalat wajib. Aduh….biar cakep dan tajir, pria jenis ini mah buang ke laut aja.
Tujuan tak menghalalkan cara
Islam memang beda. Tujuan baik untuk mencarikan jodoh para pesertanya, tidak lantas membuat caranya selalu baik. Begitu juga dengan acara macam ini. Meskipun dibungkus dengan hadirnya ustadz cinta, tidak secara otomatis acara ini bisa dianggap sesuai dengan aturan Islam. Apalagi dengan romantic room yaitu sebuah tempat untuk berdua-duaan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang kepribadian pasangan masing-masing. Nah, berlipat-lipat deh maksiat yang ada.
Padahal jelas-jelas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai dengan mahram-nya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad)
Di saat ustadz cinta berbusa-busa memutarbalikkan ayat demi terlegalisasinya acara tersebut, apakah berani ia menyebut hadits ini? Apakah ia berani menyebut surat Al-Isra’ ayat 32? Oh ya, redaksional ayat tersebut terjemahannya sbb:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
So, jangan sampe tujuan baik tapi caranya salah. Nggak sekadar niat yang benar, tapi caranya juga harus benar sesuai tuntunan syariat Islam. Ok?
Sadarlah!
Sekarang saatnya bagi kamu kaum perempuan dan laki-laki yang dieskploitasi kejombloan mereka untuk sadar. Apa pun dalihnya, uang adalah tuhan para penyelenggara acara itu, tak peduli harus dengan memanfaatkan perasaan orang lain. Dalam hal jodoh, perasaan jelas terlibat. Dan itu adalah komoditas yang akan memancing pemasang iklan untuk berdatangan. Uang adalah hasil akhirnya. Sangat khas kapitalisme.
Jodoh itu masalah serius, bukan main-main. Apa bisa seorang jodoh yang baik dunia akhirat didapat dari penilaian fisik selama 10 menit? Pasti factor nafsu yang banyak berperan di sana. Tata karma menundukkan pandangan pada memandang sesuatu yang haram gak berlaku sama sekali. Boro-boro bisa menundukkan pandangan, baju aja pada sengaja dibuka-buka begitu.
Seorang muslim selalu melibatkan peran serta Allah dalam setiap langkah kehidupannya, termasuk dalam hal jodoh. Shalat istikharah mustahil bin mustajab diingat dalam momen seperti ini yang penuh dengan suasana hedonis dan pamer body serta materi. Jadi bagi kamu yang mungkin terbersit keinginan untuk ikut ajang ini, pikir-pikir lagi deh. Banyak maksiat dan kemudharatan terjadi di sana. Masa iya setelah penjelasan panjang lebar ini, hati dan pikirmu tidak terketuk untuk berubah? Berubah jadi yang lebih baik, paling tidak bukan malah ikut melestarikan ajang seperti ini.
Gaungkan opini seperti ini di lingkunganmu, agar orang-orang juga ikutan sadar dan tak terlalu kesengsem sama acara sejenis. Nonton sih boleh-boleh aja tapi gak perlu sampai maniak dan ketagihan. Karena ada loh ternyata orang-orang yang gak bisa tidur kalo belum nonton Take Me Out. Walah..segitunya.
Saatnya kita buka kebobrokan kapitalisme yang sangat tidak memanusiakan manusia termasuk menjadikan komoditi ajang perjodohan yang seharusnya sacral. Sudah terlalu lama dunia ini terpuruk akibat kapitalisme ini. Jadi sekarang saatnya Islam dilirik sebagai solusi tak terkecuali dalam memilih jodoh dan ajang perjodohannya. Manusia itu punya harga diri, perasaan dan keimanan. Bukan sekedar onggokan daging yang dinilai dari tampilan luar fisik yang sifatnya sangat fana. Jadi, ayo bergerak dan berdakwah! Tetap semangat ya. Wallahu a’lam.
By: Ria Fariana

Read more: http://www.abuayaz.co.cc/2010/11/menyorot-acara-tv-take-him-out.html#ixzz18Pmw0WMT

Ukhuwah Islamiyah atau Hizbiyah?


Ditulis: Al-Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufran

Musuh Islam tidak hanya membunuh, membantai dan memerangi kaum muslim, tetapi mereka juga mempunyai sindikat yang rapi namun menjijikkan. Mereka merekrut tokoh atau yang ditokohkan dari kalangan umat Islam untuk dididik di negeri mereka. Setelah dicekoki dengan syubhat dan pemikiran sesat, dengan rasionalisasi ajaran Islam dan dengan memberi hadiah titel serta janji dikembalikkanlah sang tokoh ini ke negara asalnya untuk menyesatkan saudara-saudaranya.

Sindikat ini bisa jadi lebih sadis daripada pembunuhan dan pembantaian, karena mungkin saja yang mereka bunuh masih bisa mempertahankan aqidah dan tauhidnya, tetapi penyesatan dan pemurtadan dari dalam bisa berakibat jutaan muslimin melepaskan agamanya tanpa mereka sadari.

Para tokoh yang menyandang beraneka gelar ini dengan leluasa mengelabuhi umat, bahkan ada yang dianggap wali dan dipertuhankan. Semua urusan diserahkan kepada mereka, apapun kata mereka akan menjadi pegangan awam. Salah satu istilah yang mereka kedepankan adalah “umat Islam itu bersaudara”, dengan mencomot surat Al-Hujurat ayat 10.

Istilah yang mereka pinjam ini memang indah dan benar karena itu Kalamullah, tetapi mereka ingin menyesatkan umat dengan kalimat haq ini. Para tokoh penyesat umat yang ingin mendapat pujian dari orang Yahudi, Nasrani dan antek-anteknya, mereka mengatakan, “Orang Islam harus bersaudara dengan orang Yahudi dan Nasrani, karena agama mereka juga dari Alloh, karena para nabi bersaudara, mereka pun beribadah kepada Alloh . Lantaran itu kita harus jalin ukhuwah dengan mereka, maafkan bila mereka marah dan membantai kaum muslimin, mereka itu ’kan saudara! Perlu dinasihati dan diselesaikan dengan baik. Kaum muslimin tak usah menyinggung kesalahan dan kezhaliman mereka.”

Selanjutnya dari kalangan para da’i yang masih senang dengan bid’ah, kermusyrikan dan partai, agar bisa menggaet jama’ah dan agar tidak bubar, mereka berkomentar, “Tidak mengapa mereka mengamalkan bid’ah, syirik dan berpartai, yang penting kita jalin ukhuwäh islamiyah, karena mereka saudara kita. Tidak mengapa jalan yang mereka tempuh berbeda, ibaratkan pergi ke Jakarta, biarkan lewat pantura, atau pansela, yang penting sampai.”

Kata manis yang merusak ini disambut gegap gempita oleh sebagian umat karena yang bicara bukan lulusan SMU. Tetapi sebagian lagi bingung, kok begitu pemimpin kita?

Berikut ini jawabannya. :

Allah melalui firman-NyA :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang;orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Alloh supaya kamu mendapat rahmat.” (QS.Al-Hujurat: 10).

MAKNA UKHUWAH

Agar kita tidak salah dalam memahami makna ukhuwah dan tidak salah dalam penerapannya maka alangkah baiknya bila kita pelajari istilah Ini.

Kata ukhuwah menurut bahasa berasal dari “akhun” artinya berserikat dengan yang lain karena kelahiran dari dua belah pihak, atau salah satunya atau karena persusuan. Lalu kata ini dipakai untuk perserikatan, persaudaraan kabilah, agama, hubungan antar manusia, kasih sayang, dan keperluan lainnya. (Mufradat Alfazhil Qur’an, AlAllamah Ar-Raghib Al-Ashfahani, hal.68)

Atau dengan bahasa lain ukhuwah menurut bahasa ialah saudara sekandung, sebapak, seibu, atau saudara persusuan. Lalu digunakan istilah ini untuk kepentingan lain, persaudaraan antar negara, antar suku, kabilah, desa, partai, dan lainnya.

MACAM-MACAM UKHUWAH

Penggunaan istilah ukhuwah bukanlah hanya diperuntukkan bagi kaum muslimin saja, tetapi dipakai pula untuk agama dan kebutuhan lain. Adapun macam ukhuwah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah sebagai berikut:

1. Persaudaraan keturunan

Misalnya saudara sekandung, sebapak, seibu, dan lainnya.

“Dan sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (QS.Al-Mujadilah:22), lihat juga surat An-Nisa ayat 11- 13,176, Yusuf ayat 58)

2. Persaudaraan sepersusuan

“Dan saudara perempuan sepersusuan.” (QS.An-Nisa:23)

3. Persaudaraan kaum muslimin

Seperti dalam surat Al-Hujurat ayat 10.

4. Persaudaran para utusan

Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Para nabi itu adalah saudara tiri ibu mereka berbeda, agama mereka satu, tidaklah sesudah kami ada nabi.” (HR.Muslim 4/1 837).

lbnu Taimiyah rohimahullah berkata, “Agama Alloh itu satu, adapun yang berbeda adalah syari’at dan manhaj.”

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (QS.Al-Maidah:48). Maka para utusan adalah satu agama, satu keyakinan dan amalan.” (Lihat Fatawa lbnu Taimiyah 15/1 59).

Dari keterangan lbnu Taimiyah Rohimahullah ini, tidaklah diterima keislaman orang Yahudi dan Nasrani melainkan harus mengikuti Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam .

5. Persaudaraan setan

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya. (QS.Al-lsra’:27)

6. Persaudaraan orang munafik

Orang-orang yang mengatakan kepada saudarasaudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” (QS.AIi lmran:168).

Ayat ini turun sehubungan perkataan tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul dan kawan kawannya. (Lihat Tatsir lbnu Katsir 1/426, Tatsir Ad-Durul Mantsur 6/27)

7. Persaudaran orang kafir

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka….” (QS.Ali lmran:1 56)

Berkata Al-Raghib Al-Asfahani, “Mereka dikatakan bersaudara karena berserikat dan bersahabat dalam kekufuran.” (Mufradat Altazhil Qur’an hal.68).

8. Persaudaraan ahli Kitab

“Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahil Kitab.” (QS.Al-Hasyr:11)

Karena itu jangan berkawan dengan orang munafik dan ahli kitab, bahayanya lebih besar dan tidak ada manfaatnya.

9. Persaudaraan anak yatim

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu.”” (QS.Al-Baqarah:220)

Dan keterangan diatas jelaslah bahwa penggunaan istilah ukhuwah bukanlah hanya untuk umat Islam yang Ahli Sunnah saja.

MAKNA ORANG MUKMIN BERSAUDARA

Banyak orang mengaku dirinya muslim dalam rangka melancarkan misi kezhalimannya. Mereka mengatakan bahwa orang mukmin bersaudara di dalam surat Al-Hujurat ayat-10 di atas, adalah umum termasuk orang Yahudi dan Nasrani dan semua orang muslim tanpa pandang bulu, dengan alasan mereka juga beriman kepada Alloh. Untuk menjawab kedustaan ini akan kami sampaikan komentar ahli tafsir dari para ulama yang mu’tabar.

lbnu Taimiyah Rohimahullah berkata, “Ukhuwah di sini adalah ukhuwah sesama mukmin, karena orang mukmin disifati oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :

“Perumpamaan orang mukmin di dalam kasih sayang mereka, belas kasihan mereka, kelembutan mereka seperti satu badan. (HR.Muslim 4687; lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 3/419)”.

Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi berkata, “Persaudaraan di dalam ayat ini ialah persaudaraan seagama, karena kemuliaan bukanlah terletak pada keturunan.” (Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 16/322) .

lbnu Jarir At-Thabari berkata, “Allah menjelaskan bagi orang yang beriman kepada-Nya, bahwa orang mukmin itu bersaudara karena agamanya, maka hendaknya mereka memperbaiki saudaranya bila mereka bertengkar dan hendaknya meluruskan mereka dengan hukum Alloh dan Rasulullah” (Tatsir Jami’ul Bayan fi Tat sirit Qur’an 26/66).

Imam Syafi’i berkata, “Ayat ini menunjukkan putus hubungan antara orang mukmin dengan orang kafir, demikian pula dalil Sunnah memberi hukum yang sama.” (LihatAhkamul Qur’an 1/273)

Abu Hanifah berkata, “Kata ukhuwah itu umum, kadangkala untuk ukhuwah Islamiyah seperti surat AlHujurat ayat 10.” (Lihat Al-Mabsuth oleh As-Sarakhsi 7/ 68 )

Muharriad bin Abi BakarAyyub Az-Zar’i berkata, “Ukhuwah pada ayat ini adalah khusus untuk kaum muslimin seperti yang disebutkan di dalam surat At Taubah ayat 71”

Adapun sebutan ukhuwah lslamiyah, bukan sekedar cukup dia muslim, tanpa rnemperhatikan kriterianya. Tetapi dia harus ahli tauhid, ahli ibadah sesual dengan Sunnah dan orang yang bertaubat. Alloh berfirrnan:

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara saudaramu seagama.” (QS.At-Taubah:11).

Alloh melarang kita mengambil teman orang Islam yang mereka lebih cenderung kepada kekufuran daripada Iman. Lihat suratAt-Taubah ayat 23.

Jika orang Islam memiliki sifat di atas, mereka adalah saudara kita, harus kita jalin ukhuwah lslamiyah, walaupun kita belum pemah jumpa atau lain bangsa dan negara.

“Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama.” (QS.Al-Ahzab:5)

BATASAN UKHUWAH ISLAMIYAH

Memang benar bahwa umat Islam satu sama – lain bersaudara, hendaknya saling kasih sayang, bantu membantu, saling menghormati satu sama lain sebagaimana disebutkan di dalam hadits. Tetapi prinsip ini bukan berarti mutlak tanpa ada taqyid atau batasan, sehingga apa yang mereka kerjakan harus didukung dan dibantu, bahkan dipuji dan disanjung.

Sebab bila prinsip ini kita terima, tentu kita akan menolak nahi mungkar sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok manusia yang menamakan dirinya juru dakwah. Mereka biarkan kemungkaran, yang penting ajak manusia untuk shalat jama’ah. Tidak mengapa mereka berbuat syirik, menyembah kuburan, jin, dan kyai yang penting mereka golongan atau partai kita. Prinsip ini seperti orang yang menanam padi yang penting dipupuk, tidak perlu ada pemberantasan hama penyakit. Petani yang akalnya sehat tentu akan menolak pemikiran amburadul ini, maka bagaimana dengan tugas da’i yang intinya mengajak insan agar beribadah kepada Alloh Tabaroka wa Ta’ala dan menjauhi kemusyrikan?

Adapun batasan yang harus kita perhatikan untuk menjalin ukhuwah lslamiyah sesama kaum muslimin sebagai berikut:

1. Bila dakwah mereka menyeru tauhid dan memberantas kemusyrikan.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah thaghut itu.”” (QS.An-Nahl:36)

Ketauhilah bahwa dakwah tauhid adalah dakwah yang menjalin ukhuwah lslamiyah, karena makna tauhid adalah menyatukan pandangan hidup dan mempersatukan Umat.

2. Bila mereka menghidupkan Sunnah Nabi dan memberantas bid’ah

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan semua kaum muslimin agar berpegang kepada Sunnah dan menjauhi bid’ah.

lrbadh bin Sariyah rodhiallahuanhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Maka wajlb bagimu (hai umatku!) berpegang kepada Sunnahku dan sunnah sahabat yang mendapatkan petunjuk dan yang menyampaikan petunjuk, berpeganglah dengan Sunnah ini, dan gigitlah dengan gigi gerahammu, dan jauhilah perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR.lbnu Hibban 1/179, Shahih, AlMustadrak ala Shahihain 1/174, Tirmidzi 5/44, Ad-Darimi 1/57, lbnu Majah 1/15, Ahmad 4/126)

3. Bila memberantas perpecahan dan mengajak bersatu (tidak berpartai-partai atau bergolongan), kembali kepada ulama salaf

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (QS.ArRum:31-32); dan lihatsuratAli Imran ayat 103.

4. Bila mereka tidak kerja sama dengan orang kafir dan musyrik

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman teman setia. (QS.Al-Mumtahanah:1) dan lihat kisah Nabi Ibrahim yang menolak berteman dengan orang kafir dan musyrik (QS.Al-Mumtahanah:4).

5. Bila mereka tidak berwala’ (loyal) kepada ahli kitab

“Hai orang-orang yang beriman, janganiah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pmimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.” (QS.Al-Maidah:51)

6. Bila mereka menghormati ulama Sunnah dan memusuhi orang yang melecehkannya.

Ulama Sunnah adalah waliyullah, wajib kita muliakan karena Alloh memuliakannya sebagaimana disebutkan di dalam surat Fathir ayat 28.

Abu Hurairah RodhiAllahuanhu berkata, Rasulullah bersabda;

“Alloh berfirman: Barangsiapa yang memusuhi waliku, maka sungguh Aku maklumkan perang kepadanya. (HR.Bukhari 5/2384). Abdur Ra’uf Al-Munawi berkata, “Alloh akan memerangi mereka, seperti halnya disebut di dalam surat Al-Baqarah ayat 279” (Faidhul Qadir 2/241)

Adapun yang dinamakan waliyullah bukanlah wali tukang sihir dan sulap, yaitu walinya orang ahli bid’ah dan musyrik, tetapi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala sebagaimana disebutkan di dalam surat Yunus ayat 62-63.

Karena itu waspadalah dengan kelompok hizbi yang mengatakan bahwa ulama salaf adalah ulama haidh atau nifas atau ulama anti partai. Jika anda tidak mampu memeranginya sebagaimana Alloh memerintahnya, maka tinggalkan mereka. Lihat surat Al-An’am ayat 68.

7. Bila mengembalikan semua perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. (QS.An-Nisa’:59)

Jika mereka mengembalikan persoalan yang mestinya dikembalikan kepada hukum Alloh dan RasulNya, lalu dikembalikan kepada tokohnya atau pimpinan golongannya, ketahuilah mereka itu menjalin ukhuwah partai atau golongan.

8. Bila wasa’il (sarana) dakwah mereka tauqifiyah.

Dakwah islamiyah merupakan amalan yang paling mulia yang bermanfaat untuk pribadi dan umat. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , telah membimbing kita berdakwah selama 23 tahun dengan situasi dan kondisi yang berbeda dan beraneka corak manusia. Beliau dijadikan sebagai suri tauladan yang paling baik dan telah berhasil berdakwah sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Ahzab ayat 21 dan Al-Mumtahanah ayat 6.

Maka barangsiapa yang menjadikan metode dakwahnya ijtihadiyah artinya terserah keinginannya masing-masing, berarti mereka mengaku lebih pandai daripada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan menganggap dienul Islam belum sempurna, atau Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkhianati risalah Alloh Tabaroka wa ta’ala sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik.

9. Bila tidak menyenangi orang yang lebih suka menentang hukum Alloh dan Rasul-Nya

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan RasulNya.” (QS.AI-Mujadilah:22)

10. Ridha berhukum dengan hukum Alloh

“Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (QS.Al-Ahzab:36)

lnilah sebagian sifat dan batasan ukhuwah lslamiyah agar hubungan kita tetap baik dan diridhai oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala dan terhindar dari perpecahan

MAKNA UKHUWAH YANG KELIRU

Bila kita melihat kenyataan umat dengan kacamata ilmu dienul Islam, kita akan melihat banyak kelompok yang menamakan dirinya pemersatu umat, tapi sebaliknya merusak ukhuwah lslamiyah. Misalnya:

1. Kaidah “yang penting tujuannya baik”

Ada yang berpendapat untuk menjalin ukhuwah lslamiyah memakai kaidah “yang penting tujuannya baik, tidak mengapa caranya berbeda”. Prinsip ini ibarat hati tanpa jasad, sebab syarat diterima amal ibadah adalah ikhlas karena Alloh dan mengikuti Sunnah Rasulullah .

“Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hndaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah.” (QS.Al-Kahfi:110)

Ibnu Katsir berkata, “Hendaklah Ia mengerjakan amal yang shalih artinya sesuai dengan syari’at Alloh Tabaroka wa ta’ala.

“Adapun makna janganlah Ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah, yaitu ikhlas mencari ridha Alloh Subhanahu wa ta’ala dan tidak menyertakan niat selain kepada-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsin 3/109) .

2. Yang penting hasilnya

Pninsip yang penting hasilnya, adalah prinsip orang kafir dan hewan.

Dan orang-orang yang kafir itu bensenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. (QS.Muhamad:12) .

Orang yang punya prinsip ini akan menghalalkan segala cara seperti onang kafir dan hewan, karena tolok ukur mereka yang penting berhasil, bahkan boleh jadi mencemooh cara yang haq kanena dianggap menghambat keberhasilan.

3. Berpegang umumnya orang.

Misalnya menjalin ukhuwah dengan mengadakan peringatan maulid nabi, drum band, dzikir bersama adalah budaya yang telah memasyarakat.

Cara ini bukanlah cara untuk menjalin ukhuwah Islamiyah, tetapi menjauhkan umat dan yang haq dan mengajak umat berpecah-belah, kanena masing masing golongan ingin membanggakan dirinya dan merendahkan kelompok yang lain. Prinsip ini layak diberi nama “ukhuwah hiburan!” atau bid’ah.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-onang yang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (QS.Al-An’am:116)

4. Menjalin ukhuwah dengan mendirikan partai atau golongan (atau diatas satu partai/golongan)

Ini pun keliru, karena apabila umat diajak kepada golongan atau partai berarti hilang ukhuwah dan ganti “adawah” (permusuhan). Kenyataannya demikian! Karena itu ketika sahabat Muhajirin bertengkar dengan sahabat Anshar, seraya berteriak, “Hai orang muhajirin, tolonglah aku” dan sebaliknya, Rasulullah segera keluar dan bersabda, Mengapa memanggil dengan panggilan jahillyah… Tinggalkan, karena itu keji. HR.Bukhari 3/1296, Muslim 4/1198, lbnu Hibbani 3/330, Ahmad 3/385, dan lainnya).

5. Cari persamaan dan jangan cari perbedaan .

Inilah kaidah hizbi, ingin mewujudkan ukhuwah lslamiyah dengan mencari kesamaannya dan mendiamkan kemungkaran.

Syaikh lbnu Baz berkata, “Betul, kita wajib bekerja sama dalam hal yang kita sepakati untuk membela dan mendakwakan kebenaran serta mentahdzir yang menjadi larangan Alloh Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,. Adapun hendaknya kita memberikan udzur dan membiarkan perselisihkan secara mutlak tidaklah bisa diterima, tetapi wajib dilihat: jika berkenaan dengan masalah ijtihadiyah yang samar dalilnya, maka kita wajib memakluminya. Adapun perkara yang menyelisihi Kitab dan Sunnah, maka kita wajib mengingkarinya dengan hikmah, dengan keterangan yang baik, dan membantah dengan cara yang baik pula. Perhatikan surat AI-Maidah ayat 2 dan At-Taubah ayat 71.” (Lihat Kitab min Aqwali Samahati Syaikh Ibni Baz fid Da’wah hal.93)

6. Jangan menentang arus

Ada lagi yang berpendirian bahwa untuk menjaga keutuhan ukhuwah Islamiyah, jangan menyinggung perasaan umat, bangkitkan semangat mereka agar tetap menerima Islam. Lalu mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan dibuat-lari.” (HR.Bukhari 1/38, Muslim 3/1359, dan Iainnya)

Prinsip ini menolak perintah Alloh yang mengharuskan ingkar mungkar sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 71 yang itu merupakan ciri khas orang mukmin.

Prinsip ini juga bertabrakan dengan ketetapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang mengharuskan mengubah kemungkaran yang menyalahkan dakwah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam karena menyinggung perasaan umat dan membuat resah.

Dalil di atas memang benar, tapi salah penerapan, semisal orang yang ditegur jangan shalat di kuburan, lalu dia berdalil:

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat.” (QS.AlAIaq: 9-10); padahal ayat ini ditujukan untuk orang kafir Quraisy yang menghalangi beliau shalat di Masjidil Haram, tetapi dipinjam oleh ahli bid’ah untuk menggaet pengikutnya.

7. Orang Yahudi dan Nasrani adalah saudara.

Orang yang mengatakan bahwa umat Islam harus menjalin ukhuwah dengan orang Yahudi dengan alasan mereka juga memeluk agama Islam, karena Islam artinya menyerah kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah dia itu orang yang digaji oleh orang Yahudi untuk merusak Islam.

Pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. ada orang Yahudi yang mengaku dirinya muslim, lalu dibantah oleh beliau, “Kalau kamu mengatakan muslim, tunaikan ibadah haji!’ Mereka menjawab, “Kami tidak diwajibkan haji, bahkan menolak.”

Alloh berfirman:

“Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”(OS-Au lmran:97) (Lihat Tafsir lbnu Katsir 1/387) .

Maksudnya orang yang menolak kewajiban haji dia adalah kafir seperti orang Yahudi dan Nasrani. Dan bukti kekufuran Yahudi dan Nasrani, lihat surat Al-Baqarah:109-l20 dan lainnya.

8. Menjalin ukhuwah dengan ahlul bid’ah dan orang musyrik

Ada yang berkata, “Tidak mengapa mereka menjalankan bid’ah dan syirik, karena mereka juga beribadah, jika mereka keliru, kita pun keliru.”

lnilah prinsipnya orang jahil, tidak mau tahu tentang batalnya amal dan gugurnya Islam. Barangkali kalau dia mendengar cerita bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib RadhiAllahu anhu nembakar orang Syi’ah yang menuhankan beliau, dan memerangi orang Khawarij, padahal mereka ahli membaca Al-Qur’an, khusyuk shalatnya bahkan mereka ikut jihad . Bersabar bila kena musibah atau dimusuhi karena mungkin mereka tidak percaya atau menolak.

“Orang musyrik adalah musuh Alloh Subhanahu wa ta’ala , wajib dijauhi sebagaimana perintah-Nya : “Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik(QS.Al Hijr:94).

Ahlul bid’ah (yang telah tegak hujjah diatasnya, dan masih menentang) pun wajib dijauhi. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang membuat cara ibadah baru, atau membantu orang yang menjalankan Bid’ah, maka dia mendapat laknat dari Allah Subhanahu wa ta’ala, malaikat dan semua manusia. ( HR Bukhari 3/1160, Ibnu Hibban 9/32, Abu Dawud 2/216 )

CARA MENJALIN UKHUWAH ISLAMIYAH.

Adapun cara menjalin ukhuwah lslamiyah sesuai dengan Sunnah insya Alloh sebagai berikut:

a. Semua aktivitas hendaknya bertujuan ikhlas mencari ridha Alloh. Lihat surat Al-Bayyinah:5
b. Mengikuti manhaj atau cara yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Lihat surat Ali ‘lmran:85
c. Menjauhi cara baru, utamanya metode dakwah yang tidak dicontohkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , karena kullu bid’atin dhalalah (semua bid’ah sesat), dan karena cara baru memecah-belah umat.
d. Tolong menolong didalam hal kebaikan dan taqwa, utamanya memerintahkan yang baik, dan kerja sama memberantas kemusyrikan, bid’ah, dan kemaksiatan. Lihat surat Al-Maidah:2
e. Bukan hanya pandai menasihati, tetapi juga menerima nasihat. Lihat surat Al-Ashr:3
f. Bersabar bila kena musibah atau dimusuhi karena membela Sunnah. Lihat Surat Luqman : 17
g. lstiqamah berpegang Sunnah, utamanya pada waktu muncul fitnah . Lihat Surat Hud:112
h. Berdakwah untuk memperbaiki bukan merusak. Lihat surat Al-A’raf:85.
i. Menerima islah menurut Sunnah bila diperlukan.
j. Mengembalikan semua perselisihan kepada nash Al-Qur’an atau Sunnah shahihah. Lihat surat An- Nisa’:49
k. Mendahulukan Al-Qur’an dan Sunnah untuk memutuskan segala perkara. Lihat Al-Hujurat:1
l. Mengasihi mad’u (objek dakwah) dengan – meluruskan kesalahannya, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang pengasih akan dikasihi Alloh. Kasihilah penduduk bumi, niscaya kamu akan dikasihi oleh Dzat yang di langit (HR.Tirmidzi 4/323, Abu Dawud 4/285 Ahmad 21160) dan lainnya. Hadits shahih dan Abdullah bin Amr Rodhiallahuanhu”.
m. Menafsirkan ayat dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaful umah, seperti pemahaman sahabat, tabi’in, ahli hadits, fiqh, dan ahli tafsir. Lihat surat At-Taubah ayat 100.
n. Bersatu mengibarkan bendera Sunnah . Lihat surat Al-Ahzab ayat 21.
o. Menelaah kitab dan fatwa ulama salaf masa lalu dan sekarang utamanya menghadapi masalah ijtihadiyah, manhaj dakwah dan lainnya.
p. Menghormati ulama salaf dan membetulkan kesalahannya.

Allahu ta’ala a’lam bish showab.

Sumber : Majalah Al Furqon Edisi 2 Tahun V Ramadhan 1426

GELAR HAJI BAGI YANG SUDAH MENUNAIKAN IBADAH HAJI.


“Pak haji..!”, demikianlah orang-orang kita menggelari pabak-bapak dan wak-wak yang sudah pernah berangkat ke Tanah Suci tunuk menunaikan Ibadah Haji.
haji
Pak Haji dan Bu Hajah adalah gelar bagi orang-orang yang sudah naik haji ke tanah suci, Mekkah Mukarromah.  Begitu bangganya kebanyakan orang-orang kita dengan gelar ini dan begitu senangnya bapak-bapak itu dipanggil dengan “Pak Haji” begitu pula ibu-ibunya dengan “Bu Hajah”
Berbagai macem lambang  atau tanda, mereka kenakan agar dapat dikenali oleh orang-orang, sehingga mereka tak keliru memanggilnya, dari sekedar pake sarung dan baju koko (orang kita biasa menyebutnya baju taqwa), atau menyelempangkan sorban di pundaknya, yang lebih tinggi tingkatannya adalah membawa biji-bijian tasbih ke sana kemari.
Disebagian daerah, sejak keberangkatan si calon Pak Haji atau Bu Haji, keluarga yang ditinggal menyewa para tukang baca Al-Qur’an untuk membacanya sampai bapak-bapak dan ibu-ibu itu pulang dari tanah suci.
Dan juga, setelah kembalinya dari tanah suci, pesta yang begitu istimewa dan meriah di adakan di rumah masing-masih Bapak-bapak Haji itu, tak lupa di pintu masuk rumah mereka tertulis dengan kaligrafi yang begitu cantik dan menarik “Selamat Datang Pak Haji Pulan dari Tanah Suci”.
Semua itu, selain yang katanya untuk syukuran, juga untuk mengenalkan kepada masyarakat dan para tentangga bahwa bapak itu sudah naik haji, jadi jangan memanggilnya kecuali ditambah “Pak Haji”.
Demikianlah keadaan masyarakat kita dan masyarakat beberapa negara tetangga. Parahnya, kebanyakan bapak-bapak yang sudah mencicipi nikmatnya ibadah haji itu, tak mau dipanggil kecuali dengan “Bapak Haji” atau “Haji Fulan”. Maka jangan coba-coba anda memanggilnya hanya dengan Bapak Fulan atau wahai Fulan, bukan hanya tidak mau menoleh, terkadang lirikan tajam juga akan di arahkan kepada anda, atau bahkan sandal dan kelompen juga melayang ke muka anda …

Nah, potret realita di atas yang sudah menjamur di masyarakat kita, bagaimanakah sebenarnya bimbingan Islam tentangnya? Bolehkah kita menggelari diri kita yang sudah pernah “munggah” haji dengan pak haji, bang haji, dek haji, atau bu haji, nek haji, atau yang lainnya?!

Berikut ini, kami lampirkan fatwa Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimi Hafizhahullah Ta’ala, seorang Pengajar di Masjid Nabawi, Madinah Nabawiyah. Simak dan perhatikan:

Pertanyaan: “Para Haji di tempat kami, apabila seorang dari mereka telah kembali (ke daerahnya) tidak rela dipanggil, “wahai fulan”, namun harus ditambah: “Haji Fulan”?

Beliau menjawab:  Ini perkara yang berbahaya sekali, sebagiannya menggantungkan tanda di rumahnya, biar ia dipanggil “HAJI FULAN” dan  meletakkan bingkai yang besar kemudian digantungkan di rumahnya, atau disetiap sisi di ruang tamu. Tidak diragukan lagi, (perbuatan seperti) tidak boleh, dan dikhawatirkan akan menyeretnya kepada perbuatan RIYA’.

Para shahabat yang berjumlah 120 ribu, mereka juga telah menunaikan haji, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang digelari dengan “PAK HAJI”. na’am….

[ Selesai fatwa Syaikh Shalih As-Suhaimi. Diterjemahkan sebisanya dari situs beliau: http://www.alsoheemy.net/play.php?catsmktba=1966 ]
Demikianlah wahai saudaraku, wahai bapak dan ibu haji penjelasan Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi, ulama tersohor dari Madinah.
Sungguh benarlah beliau Hafizhahullah, berapa banyak gelar seperti itu membawa dan menyeret pelakunya kepada perbuatan RIYA’, Sombong, dan bangga diri. Tidak diragukan itu semua adalah termasuk perbuatan dosa bosar yang tercela dalam Islam.
Semoga  Allah selalu meluruskan hati dan niat kita….. Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

Hizbut Tahrir Memang Bukan Ahlussunnah(karena mereka mengkritik ahlussunnah)


Hizbut Tahrir Bukan Wahabi

(Memang Hizbut Tahrir Bukan Wahabi !)

 

Quantcastimage

Bismillah, Alhamdulillah dalam kesempatan ini, ana nukil pernyataan Hizbut Tahrir yang mengkritik orang-orang bermanhaj salaf yang ana ambil dari situs resmi mereka. dalam tulisan ini mereka  banyak melontarkan tuduhan yang tidak benar dan mengabaikan dakwah tauhid,bahkan hizbut tahrir menolak adanya pembagian tauhid, yakni tauhid uluhiyyah, tauhid Rububiyyah dan tauhid asma wa shifat. ana akan tebali dan mencoret sebagian  kalimat-kalimat rancu yang di tulis oleh syabab Hizbut Tahrir. Tujuan ana menukil salah satu tulisan yang terdapat di website resmi mereka :  http://www.hizbut-tahrir.or.id dengan judul : Hizbut Tahrir Bukan Wahabi, hanya untuk mengingatkan kepada kaum muslimin, agar mengetahui pemahaman mereka yang menyimpang dari ajaran Islam dan kita bisa hati-hati terhadap syubhat-syubhat mereka. semoga setelah ana menukil tulisan ini, bisa  bermanfaat bagi kita, Amin.(Abu Namira Hasna Al- Jauziyah).

Soal:

Siapa sebenarnya Wahabi? Benarkah Hizbut Tahrir Wahabi atau setidaknya mirip Wahabi? Jika tidak, ada apa sebenarnya di balik tuduhan seperti ini?

Jawab:

Wahabi adalah gerakan Islam yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab (1115-1206 H/1701-1793 M). Muhammad bin Abdul Wahhab sebenarnya merupakan pengikut mazhab Hanbali, kemudian berijtihad dalam beberapa masalah, sebagaimana yang diakuinya sendiri dalam kitab, Shiyânah al-Insân, karya Muhammad Basyir as-Sahsawani.1 Meski demikian, hasil ijtihadnya dinilai bermasalah oleh ulama Sunni yang lainnya.

Nama Wahabi sendiri telah dikubur oleh para pengikut dan penganutnya. Boleh jadi karena sejarah kelam pada masa lalu. Namun, mereka mempunyai alasan lain. Menurut mereka, ajaran Muhammad bin Abdul Wahbab adalah ajaran Nabi Muhammad, bukan ajarannya sendiri. Karenanya, mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafi atau Muwahhidûn, yang berarti “orang-orang yang mentauhidkan Allah”, bukan Wahhâbi.

Secara historis, gerakan Wahabi telah mengalami beberapa kali metamorfosis. Mula-mula adalah gerakan keagamaan murni yang bertujuan untuk memurnikan tauhid dari syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat, yang dimulai dari Uyainah, kampung halaman pendirinya tahun 1740 M. Di kampungnya, gerakan ini mendapatkan penentangan. Muhammad bin Abdul Wahhab pun terusir dari kampung halamannya dan berpindah ke Dar’iyyah. Di sini, pendiri Wahabi itu mendapat perlindungan dari Muhammad bin Saud, yang notabene bermusuhan dengan Amir Uyainah. Dalam kurun tujun tahun, sejak tinggal di Dar’iyyah, dakwah Wahabi berkembang pesat.

Tahun 1747 M, Muhammad bin Saud, yang notabene adalah agen Inggris, menyatakan secara terbuka penerimaannya terhadap berbagai pemikiran dan pandangan keagamaan Muhammad bin Abdul Wahhab. Keduanya pun sama-sama diuntungkan. Dalam kurun 10 tahun, wilayah kekuasaan Muhammad bin Saud berkembang seluas 30 mil persegi. Muhammad bin Abdul Wahhab pun diuntungkan, karena dakwahnya berkembang dan pengaruhnya semakin menguat atas dukungan politik dari Ibn Saud. Namun, pengaruhnya berhenti sampai di wilayah Ihsa’ 1757 M.

Ketika Ibn Saud meninggal dunia tahun 1765 M, kepemimpinannya diteruskan oleh anaknya, Abdul Aziz. Namun, tidak ada perkembangan yang berarti dari gerakan ini, kecuali setelah tahun 1787 M. Dengan kata lain, selama 31 tahun (1957-1788 M), gerakan ini stagnan.

Namun, setelah Abdul Aziz, yang juga agen Inggris itu, mendirikan Dewan Imarah pada tahun 1787 M, sekaligus menandai lahirnya sistem monarki, Wahabi pun terlibat dalam ekspansi kekuasaan yang didukungnya, sekaligus menyebarkan paham yang dianutnya. Tahun 1788 M, mereka menyerang dan menduduki Kuwait. Melalui metode baru ini, gerakan ini menimbulkan instabilitas di wilayah Khilafah Utsmani; di semenanjung Arabia, Irak dan Syam yang bertujuan melepaskan wilayah tersebut dari Khilafah. Gerakan mereka akhirnya berhasil dipukul mundur dari Madinah tahun 1812 M. Benteng terakhir mereka di Dar’iyyah pun berhasil diratakan dengan tanah oleh Khilafah tahun 1818 M. Sejak itu, nama Wahabi seolah terkubur dan lenyap ditelan bumi.2

Namun, pandangan dan pemikiran Wahabi memang tidak mati. Demikian juga hubungan penganut dan pendukung Wahabi dengan keluarga Ibn Saud.

Metamorfosis berikutnya terjadi ketika mereka mengubah nama. Nama Wahabi tidak pernah lagi digunakan, mungkin karena rentan. Akhirnya, mereka lebih suka menyebut diri mereka Salafi. Namun, pandangan dan cara mereka berdakwah tetap sama. Inilah fakta sejarah tentang Wahabi. Dari fakta ini jelas sekali, bahwa Wahabi (Salafi) ikut membidani lahirnya Kerajaan Arab Saudi. Karena itu, tidak aneh jika kemudian Wahabi (Salafi) senantiasa menjadi pendukung kekuasaan Ibn Saud sekalipun Wahabi (Salafi) bukan merupakan gerakan politik.

Ini jelas berbeda dengan Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir adalah partai politik yang berideologi Islam. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan mendirikan Khilafah yang menerapkan sistem Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Politik adalah aktivitasnya.3 Meski begitu, Hizbut Tahrir tidak pernah terlibat dalam pendirian rezim manapun yang berkuasa saat ini di dunia. Hizb juga tidak pernah terlibat dalam dukung-mendukung kekuasaan/negara manapun. Sebabnya, semua negara yang ada di seluruh dunia saat ini bukanlah negara yang dibangun berdasarkan akidah Islam dan memerintah berdasarkan hukum-hukum Allah. Dalam pandangan Islam, menurut Hizb, satu-satunya negara bagi umat Islam di seluruh dunia adalah Khilafah, yang notabene pernah dirongrong oleh konspirasi Inggris dan agennya, dinasti Ibn Saud, termasuk di dalamnya menggunakan Wahabi.

Pandangan keagamaan Wahabi sebenarnya bukan hal yang baru. Dalam masalah akidah, misalnya, Wahabi, banyak mengambil pandangan Ibn Taimiyyah dan muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah. Tauhid, menurut mereka, ada dua yaitu: tauhid rububiyyah wa asma’ wa shifat dan tauhid rububiyyah. Tauhid yang pertama bertujuan untuk mengenal dan menetapkan Allah sebagai Rabb, dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tauhid yang kedua terkait dengan tuntutan dan tujuan (at-thalab wa al-qashd).4 Syaikh ‘Abd al-’Aziz bin Baz, kemudian membagi tauhid tersebut menjadi tiga: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid al-asma’ wa as-shifat.5

Ini berbeda dengan Hizb. Dalam tauhid, Hizb tidak mengenal klasifikasi seperti ini. Dalam pembahasan tentang sifat, misalnya, Hizb tidak membahas sifat dan asma dalam konteks itsbât bilâ tahrîf wa la ta’thîl wa la takyîf wa la tamtsîl (menetapkan sifat dan asma Allah, tanpa menyelewengkan, mengabaikan, mendes-kripsikan tatacara-Nya dan menyerupakannya dengan yang lain), sebagaimana lazimnya Wahabi.6 Hizb membahas sifat justru untuk meluruskan perdebatan yang tidak berkesudahan, antara Muktazilah, yang menyatakan bahwa sifat Allah sama dengan Dzat-Nya, dan Ahlussunnah, yang menyatakan, bahwa sifat Allah tidak sama dengan Zat-Nya. Dalam pandangan Hizb, perdebatan seperti ini tidak bisa dan tidak boleh dilakukan, karena tidak berangkat dari fakta, melainkan didasarkan pada asumsi mantik.7

Bagi Wahabi, masalah utama umat Islam adalah masalah akidah; akidah umat ini dianggap sesat, karena dipenuhi syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Karena itu, aktivitas dakwah mereka difokuskan pada upaya purifikasi (pemurnian) akidah dan ibadah umat Islam. Akidah dimurnikan dari syirik, baik syirik ashghar (syirik kecil), akbar (syirik besar) maupun syirik khafi (syirik yang samar-samar); juga tahayul dan khurafat. Ibadah juga harus dimurnikan dari bid’ah, yang didefinisikan sebagai membuat metode yang tidak dicontohkan sebelumnya. Dalam pandangan mereka, bid’ah ada dua: bid’ah dalam adat dan tradisi; bid’ah dalam agama. Bid’ah yang pertama, menurut mereka, hukumnya mubah/boleh. Bid’ah yang kedua semuanya haram dan sesat (dhalalah). Bid’ah yang kedua ini mereka bagi menjadi dua: Bid’ah qawliyyah i’tiqadiyyah, seperti ucapan dan pandangan Jahmiyah, Muktazilah, Rafidhah dan sebagainya; bid’ah fi al-’ibâdah.8

Ini berbeda dengan Hizb. Pandangan seperti ini, menurut Hizb, juga berbahaya karena menganggap seolah-oleh umat Islam belum berakidah Islam. Ini tampak pada pandangan mereka terhadap kaum Muslim yang lain, selain kelompok mereka, yang dianggap sesat. Bahkan mereka tidak jarang saling sesat-menyesatkan terhadap kelompok sempalan mereka. Pandangan ini, menurut Hizb, sebagaimana disebutkan dalam kitab Nidâ’ al-Hâr, tidak proporsional. Betul, bahwa ada masalah dalam akidah umat Islam, tetapi tidak berarti mereka belum berakidah Islam. Bagi Hizb, umat Islam sudah berakidah Islam. Hanya saja, akidahnya harus dibersihkan dari kotoran dan debu, yang disebabkan oleh pengaruh kalam dan filsafat. Karena itu, Hizb tidak pernah menganggap umat Islam ini sesat. Hizb juga menganggap, bahwa persoalan akidah ini, meski penting, bukanlah masalah utama. Bagi Hizb, masalah utama umat Islam adalah tidak berdaulatnya hukum Allah dalam kehidupan mereka. Karena itu, fokus perjuangan Hizb adalah mengembalikan kedaulatan hukum Allah, dengan menegakkan kembali Khilafah.

Bagi Hizb, akidah umat harus dibersihkan agar bisa menjadi landasan yang kokoh dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara. Setelah itu, akidah yang hidup di dalam diri umat ini akan mampu membangkitkan mereka dari keterpurukan, dan akhirnya mendorong mereka untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah dan hukum Allah di muka bumi.

Dengan pandangan Wahabi seperti itu terhadap akidah umat Islam, ditambah ketidaktahuan mereka tentang konstruksi masyarakat—yang terdiri dari manusia, pemikiran, perasaan dan system—maka wajar jika sejarah Wahabi berlumuran darah kaum Muslim. Situs-situs penting dan bersejarah di dalam Islam pun mereka hancurkan. Semuanya dengan dalih membebaskan umat Islam dari syirik dan khurafat. Ini jelas berbeda dengan Hizb. Hizb tahu persis konstruksi masyarakat sehingga dalam dakwahnya tidak pernah menyerang manusia atau obyek-obyek fisik, seperti situs-situs penting dan bersejarah; melainkan menyerang pemikiran, perasaan dan sistem yang diyakini dan dipraktikkan oleh manusia. Itulah yang menjadi fokus serangan Hizb. Karena itu, dakwah Hizb dikenal sebagai dakwah fikriyyah lâ ‘unfiyyah (intelektual dan non-kekesaran).

Pendek kata, perbedaan Hizb dengan Wahabi begitu jelas dan nyata. Menyamakan Hizb dengan Wahabi bisa jadi karena tidak mengerti tentang kedua-duanya, atau sengaja untuk melakukan monsterisasi terhadap Hizb, agar disalahpahami, dibenci dimusuhi dan dijauhi oleh umat. Inilah yang sebenarnya hendak dilakukan. Lalu siapa yang diuntungkan dengan semuanya ini, tentu bukan Islam dan kaum Muslim, melainkan kaum kafir penjajah dan para boneka mereka, yang tetap menginginkan negeri-negeri Muslim, seperti Indonesia, ini tetap terjajah. Na’ûdzu billâh. []

Catatan kaki:

1 Lihat, Muhammad Basyir as-Sahsawani, Shiyânah al-Insân, hlm. 475.

2 Lihat, ‘Abdul Qadîm Zallûm, Kayfa Hudimat al-Khilâfah, Dâr al-Ummah, Beirut, 1994.

3 Taqiyuddîn an-Nabhâni, Mafâhîm Hizb at-Tahrîr, Min Mansyûrat Hizb at-Tahrîr, cet. ke-6, edisi Muktamadah, 2001, hlm. 84.

4 Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘Ali as-Syaikh, Fath al-Majîd: Syarah Kitâb at-Tawhîd, Muassasah Qurthubah, t.t., hlm. 25.

5 Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Bâz, Al-Ahkam al-Mulimmah ‘ala ad-Durus al-Muhimmah li ‘Ammati al-Ummah, Makatabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, cet. II, 1423 H, hlm. 30.

6 Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan ‘Ali as-Syaikh, Fath al-Majîd: Syarh Kitâb at-Tawhîd, hlm. 25; Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Bâz, Al-Ahkam al-Mulimmah ‘ala ad-Durus al-Muhimmah li ‘Ammati al-Ummah, hlm. 20.

7 Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah al-Juz al-Awwâl, Min Mansyûrat Hizb at-Tahrîr, cet. ke-6, edisi Muktamadah, 2003, hlm. 116-124.

8 Dr. Fauzan bin ‘Abdullah Fauzan, ‘Aqîdah at-Tawhîd, Mamlakah al-’Arabiyyah as-Sa’udiyyah, Muassasah al-Haramain al-Khairiyyah, Riyadh, hlm. 176-177.

MELURUSKAN PEMAHAMAN KELIRU TENTANG WAHHABI


MELURUSKAN PEMAHAMAN KELIRU

TENTANG SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Oleh: Shalih bin Abdul Aziz As Sindi

Semenjak berlalunya tahun-tahun yang panjang, dalam kurun waktu yang lama, kontroversi tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullah dan dakwahnya masih terus berjalan. Antara yang mendukung dan yang menentang, atau yang menuduh dan yang membela.

Yang perlu diperhatikan mengenai ucapan orang-orang yang menentang Syaikh yang melontarkan kepada beliau dengan bebagai tuduhan, bahwa perkataan mereka tak disertai dengan bukti. Apa yang mereka tuduhkan tidak mempunyai bukti dari perkataan Syaikh, atau didasarkan pada apa yang telah ditulis dalam kitabnya, tapi hanya sekedar tuduhan yang dilontarkan oleh pendahulu mereka, kemudian diikuti oleh orang setelahnya.

Saya yakin tak ada seorangpun yang berfikir obyektif kecuali dia mengakui bahwa cara terbaik untuk mengetahui fakta yang sebenarnya adalah dengan melihat kepada yang bersangkutan, kemudian mengambil informasi langsung dari apa yang telah disampaikannya.

Kitab-kitab Syaikh dapat kita temui, perkataan-perkataannya pun juga masih terjaga. Dengan mengacu kepada itu semua akan terbukti apakah isu-isu tersebut benar atau salah. Adapun tuduhan-tuduhan yang tidak disertai dengan bukti hanyalah fatamorgana yang tak ada kenyataanya.

Dalam artikel ini, berisi catatan-catatan ringan perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb dengan amanah dinukil dari kitab-kitabnya yang valid. Saya telah mengumpulkannya dan yang dapat saya lakukan hanyalah sekedar menyusun.

Catatan berisi jawaban-jawaban langsung dari Syaikh tehadap tuduhan-tuduhan kepada beliau yang dilancarkan oleh para penentangnya dengan jelas ditepisnya segala apa yang dituduhkan.

Saya yakin –dengan taufiq dari Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ- hal itu cukup untuk menjelaskan kebenaran bagi siapa yang benar-benar mencarinya.

Adapun yang membangkang terhadap Syaikh dan dakwahnya, senang menyebarkan kedustaaan dan kebohongan, perlu saya katakan kepada mereka : kasihanilah dirimu sesungguhnya kebenaran akan jelas, agama Allôh akan menang dan matahari yang bersinar terang tak akan bisa ditutupi dengan telapak tangan.

Inilah perkataan Syaikh menjawab tuduhan-tuduhan tersebut, kalau Anda mendapatkan perkataan Syaikh yang mendustakannya maka tampakkan dan datangkanlah jangan Anda sembunyikan…..! Namun kalau tidak –dan Anda tidak akan mendapatkannya- maka saya menasehati Anda dengan satu hal : hendaklah Anda menghadapkan diri kepada Allôh dengan menanggalkan segala hawa nafsu dan fanatisme, sembari memohon kepada-Nya untuk memperlihatkan al haq dan membimbingmu kepadanya, kemudian Anda fikirkan apa yang telah dikatakan oleh orang ini (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), apakah dia membawa sesuatu yang bukan dari firman Allôh dan sabda Rasul-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam?

Lalu fikirkan sekali lagi: apakah ada jalan keselamatan selain perkataan yang benar dan membenarkan al haq?

Bila telah tampak bagi Anda kebenaran maka kembalilah kepada akal sehat, menujulah kepada al haq, sesungguhnya hal itu lebih baik dari pada terus menerus berada dalam kebatilan, hanya kepada Allôh saja segala perkara dikembalikan.

HAKEKAT DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Sebagai permulaan pembahasan, akan lebih baik kalau kita menukil beberapa perkataan ringkas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullah dalam menjelaskan apa yang beliau dakwahkan, jauh dari yang awan gelap propaganda yang dilancarkan para penentangnya, yang mereka menghalangi kebanyakan manusia agar jauh dari dakwah tersebut. Beliau mengatakan :

“Aku katakan –hanya bagi Allôh segala puji dan karunia dan dengan Allôh segala kekuatan- : sesungguhnya Tuhanku telah menunjukkanku ke jalan yang lurus, agama lurus agama Ibrahim yang hanif dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik. Dan aku –Alhamdulillâh-, tidak mengajak kepada madzhab salah seorang sufi, ahli fikih, filosof, atau salah satu imam-imam yang aku muliakan…..

Aku hanya mengajak kepada Allôh Yang tiada sekutu bagi-Nya, aku mengajak kepada sunnah Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam yang beliau menasehatkan ummatnya dari yang awal sampai yang akhir untuk selalu mengikutinya. Aku memohon semoga aku tidak menolak segala kebenaran bila telah sampai kepadaku, bahkan aku persaksikan kepada Allôh, para malaikat dan semua makhluk-Nya, siapapun diantara kalian yang menyampaikan kebenaran kepadaku, pasti akan aku terima dengan sepenuh hati, dan aku akan memukulkan ke tembok setiap perkataan para imamku yang bertentangan dengan kebenaran, kecuali Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam karena beliau tidak mengatakan kecuali kebenaran”. (Ad Durarus Saniyyah: jilid 1, hal: 37,38).

“Dan aku –segala puji hanya milik Allôh-, hanyalah mengikuti, bukan mengada-ada”. (Mu’allafât Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb, jilid 5, hal: 36).

“Gambaran mengenai permasalahan yang sebenarnya adalah aku katakan : tidak ada yang boleh dipinta dengan doa kecuali Allôh saja tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana Allôh berfirman :

فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

((… maka janganlah kamu berdoa kepada seorangpun bersamaan dengan Allôh)) (Q.S. Al Jin : 18).

Allôh juga berfirman berkaitan dengan hak Nabi-Nya :

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

((Katakanlah : “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan-pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan”)). ((Q.S. Al Jin : 21)

Demikianlah firman Allôh dan apa yang disampaikan dan diwasiatkan Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam kepada kita, ….. inilah antaraku denganmu, kalau ada yang menyebutkan tentangku di luar daripada itu, maka itu adalah dusta dan kebohongan”. (Ad Durarus Saniyyah : 1/90-91).

MASALAH PERTAMA : I’TIQAD BELIAU TENTANG NABI SHALLÂLLÂHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb difitnah para musuhnya dengan berbagai tuduhan keji berkaitan dengan i’tiqadnya terhadap Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, tuduhan itu berupa :

Pertama : beliau tidak menyakini bahwa Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam adalah nabi penutup.

Dikatakan demikian, padahal semua kitab-kitab beliau penuh berisi tentang bantahan terhadap syubhat itu. Berikut ini menunjukkan kebohongan tuduhan tersebut, diantaranya dalam perkataan beliau :

“Aku beriman bahwa Nabi kita Muhammad Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam adalah penutup para nabi dan rasul. Tidak akan sah iman seorang hamba pun sampai dia beriman dengan diutusnya beliau serta bersaksi akan kenabiannya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)

“Makhluk paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah yang paling tinggi dalam mengikuti dan mencocoki beliau (Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam) dalam ilmu dan amalannya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:32)

Kedua : Dia telah menghancurkan hak Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, tidak meletakkan beliau pada kedudukannya yang pantas.

Untuk melihat hakikat beliau sebagai tertuduh, saya nukilkan sebagian perkataan yang telah beliau tegaskan berkaitan dengan apa yang diyakini tentang hak Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, beliau berkata :

“Tatkala Allôh berkehendak menampakkan tauhid dan kesempurnaan agama-Nya, agar kalimat-Nya tinggi dan seruan orang-orang kafir adalah rendah, Allôh mengutus Muhammad Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam sebagai penutup para nabi dan kekasih Tuhan semesta alam. Beliau terus menerus dikenal dalam setiap generasi, bahkan dalam Taurat dan Injil telah disebutkan, sampai akhirnya Allôh mengeluarkan mutiara itu, antara Bani Kinanah dengan Bani Zuhrah. Maka Allôh mengutusnya pada saat terhentinya pengutusan para rasul, lalu menunjukkannya kepada jalan yang lurus. Beliau mempunyai tanda-tanda dan petunjuk tentang kebenaran kenabian sebelum diangkat menjadi nabi, yang tanda-tanda tersebut tidak terkalahkan oleh orang-orang yang hidup pada masanya. Allôh membesarkan beliau dengan baik, mempunyai kehormatan tertinggi pada kaumnya, paling bagus akhlaknya, paling mulia, paling lembut dan paling benar dalam berucap, akhirnya kaumnya memberikan julukan dengan Al Amîn, karena Allôh telah menciptakan pada beliau keadaan-keadaan bagus dan budi pekerti yang diridhai-Nya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 90-91).

“Dan beliau adalah pemimpin para pemberi syafa’at, pemilik Al Maqômul Mahmūd (kedudukan hamba yang paling mulia di hari kiamat), sedang Nabi Adam ‘Alaihis Salâm dan orang-orang sesudahnya akan berada di bawah panjinya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 86).

“Utusan yang pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihis Salâm dan yang paling akhir serta paling mulia adalah Muhammad Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam“. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:143)

“Beliau telah menyampaikan penjelasan dengan cara terbaik dan paling sempurna, manusia yang paling menginginkan kebaikan bagi hamba-hamba Allôh, belas kasih terhadap orang-orang yang beriman, telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad di jalan Allôh dengan sebenar-benarnya jihad dan terus menerus menyembah Allôh sampai beliau wafat. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:21).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullah juga mengambil kesimpulan dari sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam :

Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kamu sampai aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan semua manusia”.

Beliau mengatakan :

“Kewajiban mencintai Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam melebihi cinta terhadap diri sendiri, keluarga maupun harta”. (Kitabut Tauhid, hal : 108).

Ketiga : mengingkari syafâ’at Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.

Syaikh berkenan menjawab syubhat ini, beliau mengatakan :

“Mereka menyangka bahwa kami mengingkari syafâ’at Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam? Maha suci Engkau Allôh, ini sungguh ini adalah dusta yang besar. Kami mempersaksikan kepada Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ bahwa Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam adalah pemberi syafâ’at dan diberi kekuasaan oleh Allôh untuk memberi syafâ’at, pemilik Al-Maqômul Mahmūd. Kita meminta kepada Allôh Yang Maha Mulia, Tuhan Arsy yang agung untuk memberikan syafâ’at kepada beliau untuk kita, dan mengumpulkan kita di bawah panjinya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 63-64)

Syaikh telah menjelaskan sebab penyebaran propaganda dusta ini, beliau berkata:

“Mereka itu ketika aku sebutkan apa yang telah disebutkan Allôh dan Rasul-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam serta semua ulama dari semua kelompok, tentang perintah untuk ikhlâsh beribadah kepada Allôh, melarang dari menyerupakan diri dengan Ahlul Kitab sebelum kita yang mereka itu menjadikan ulama dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allôh, mereka mengatakan : kamu merendahkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali!”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 50)

MASALAH KEDUA : TENTANG AHLUL BAIT

Termasuk tuduhan yang diarahkan kepada Syaikh : beliau tidak mencintai Ahlul Bait Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan menghancurkan hak mereka.

Jawaban atas pernyataan ini :

Apa yang dikatakan itu bertentangan dengan kenyataan, bahkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullah mengakui akan hak mereka untuk dicintai dan dimuliakan. Beliau konsisten dengan hal ini bahkan mengingkari orang yang tidak seperti itu. Beliau rahimahullah berkata :

“Allôh telah mewajibkan kepada manusia berkaitan dengan hak-hak terhadap ahlul bait. Tidak boleh bagi seorang muslim menjatuhkan hak-hak mereka dengan mengira ini termasuk tauhid, padahal hal itu adalah perbuatan yang berlebih-lebihan. Kita tidak mengingkari kecuali apa yang mereka lakukan berupa penghormatan terhadap ahlul bait disertai dengan keyakinan mereka pantas untuk disembah, atau penghormatan terhadap mereka yang mengaku dirinya pantas disembah”. (Mu’allâfat asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb, jilid 5, hal:284)

Dan bagi siapa saja yang mau memperhatikan biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb akan membuktikan apa yang telah dia katakan. Cukuplah diketahui beliau telah menamai enam dari tujuh putranya dengan nama para ahlul bait yang mulia –semoga Allôh merahmati mereka. Keenam putra itu adalah : Alî, Abdullâh, Husain, Hasan, Ibrâhîm dan Fâthimah. Ini merupakan bukti yang jelas menunjukkan betapa besar kecintaan dan penghargaannya terhadap ahlul bait.

MASALAH KETIGA : KAROMAH PARA WALI

Beredar isu di kalangan orang bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb mengingkari karomah para wali.

Menepis kebohongan ini, di beberapa tempat Syaikh rahimahullah telah merumuskan aqidah beliau yang tegas berkaitan dengan masalah ini, berbeda jauh dengan apa yang selama ini tersebar. Diantaranya terdapat di dalam sebuah perkataannya tatkala beliau menerangkan tentang akidah beliau :

“Dan aku meyakini tentang karomah para wali”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:32)

Bagaimana mungkin beliau dituduh dengan tuduhan tersebut, padahal dia mengatakan bahwa orang yang mengingkari karomah para wali adalah ahli bid’ah dan kesesatan, beliau berkata:

“Dan tidak ada seorangpun mengingkari karomah para wali kecuali dia adalah ahli bid’ah dan kesesatan”. Mu’allâfat asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb, jilid 1, hal: 169)

MASALAH KEEMPAT : TAKFIR

Termasuk perkara terbesar yang disebarkan berkenaan dengan Syaikh dan orang-orang yang mencintainya adalah dikatakan mengkafirkan khalayak kaum muslimin dan pernikahan kaum muslimin tidak sah kecuali kelompoknya atau yang hijrah kepadanya.

Syaikh telah menepis syubhat ini di beberapa tempat, diantara pada perkataan beliau :

“Pendapat orang bahwa saya mengkafirkan secara umum adalah termasuk kedustaan para musuh yang menghalangi manusia dari agama ini, kita katakan : Maha Suci Engkau Allôh, ini adalah kedustaan besar”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 100)

“Mereka menisbatkan kepada kami berbagai macam kedustaan, fitnah pun semakin besar dengan mengerahkan terhadap mereka pasukan syetan yang berkuda maupun yang berjalan kaki. Mereka menebarkan berita bohong yang seorang yang masih mempunyai akal merasa malu untuk sekedar menceritakannya apalagi sampai tertipu. Diantaranya apa yang mereka katakan bahwa aku mengkafirkan semua manusia kecuali yang mengikutiku dan pernikahan mereka tidak sah. Sungguh suatu keanehan, bagaimana mungkin perkataan ini bisa masuk kedalam pikiran orang waras. Dan apakah seorang muslim akan mengatakan seperti ini? Aku berlepas diri kepada Allôh dari perkataan ini, yang tidak bersumber kecuali dari orang yang berpikiran rusak dan hilang kesadarannya. Semoga Allôh memerangi orang-orang yang mempunyai maksud-maksud yang batil”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 80)

“Aku hanya mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam kemudian setelah dia mengetahuinya lantas mengejeknya, melarang manusia dari memeluk agama tersebut dan memusuhi orang yang berpegang dengannya. Tetapi kebanyakan umat –alhamdulillâh- tidaklah seperti itu”. (Ad Durarus Saniyyah : 1/73)

MASALAH KELIMA : ALIRAN KHAWARIJ

Sebagian orang ada yang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb bahwa dia berada di atas aliran khawarij yang mengkafirkan manusia hanya karena kemaksiatan biasa.

Untuk menjawabnya kita ambil dari redaksi perkataan Syaikh rahimahullah sendiri. Beliau rahimahullah berkata :

“Aku tidak pernah mempersaksikan seorang pun dari kaum muslimin bahwa dia masuk surga atau masuk neraka kecuali orang yang telah dipersaksikan oleh Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Akan tetapi aku mengharapkan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, dan mengkhawatirkan orang yang berbuat jahat. Aku tidak mengkafirkan seorang dari kaum muslimin pun hanya karena dosa biasa dan aku tak mengeluarkannya dari agama Islam”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:32)

MASALAH KEENAM : TAJSIM

Termasuk yang digembar-gemborkan juga tentang Syaikh adalah beliau dianggap mujassim, yaitu menyerupakan sifat-sifat Allôh dengan sifat-sifat makhluk.

Beliau telah menerangkan keyakinan tentang masalah ini dan sungguh sangat jauh dengan apa yang telah dituduhkan padanya, beliau berkata :

“Termasuk beriman kepada Allôh adalah: beriman dengan apa yang Allôh sifati terhadap Dzat-Nya di dalam kitab-Nya, atau melalui sabda Rasul-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, tanpa adanya tahrif (merubah teks maupun makna dari nash aslinya) ataupun ta’thil (menafikan sebagian atau semua sifat-sifat Allôh yang telah Allôh tetapkan terhadap diri-Nya), bahkan aku beri’tikad bahwa tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka aku tidak menafikan dari Allôh sifat yang telah Dia tetapkan terhadap diri-Nya, aku tidak merubah perkataan Allôh dari tempat-tempatnya, aku tidak menyimpang dari kebenaran dalam nama dan sifat-sifat Allôh. Aku tidak menggambarkan bagaimana sebenarnya sifat-sifat Allôh dan juga tidak menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk, karena Dia Maha Suci, tiada yang menyamai, tiada yang setara dengan-Nya, tidak memiliki tandingan dan tidak pantas diukur dengan makhluk-Nya. Karena Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ Yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang yang selain-Nya. Dzat Yang paling benar firman-Nya dan paling bagus dalam perkataan-Nya. Allôh menyucikan diri-Nya dari dari apa yang dikatakan oleh para penentang yaitu ahli takyif (menggambarkan hakikat sifat-sifat Allôh) maupun ahli tamtsil (menyerupakan Allôh dengan makhluk-Nya). Juga mensucikan diri-Nya dari pengingkaran ahli tahrif maupun ahli ta’thil, maka Dia berfirman :

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

((Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allôh Tuhan seru sekalian alam)) (Q.S. As Shâffât : 180-182) (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:29)

“Dan sudah dimaklumi bahwa ta’thil adalah lawan dari tajsim, ahli ta’thil adalah musuh ahli tajsim, sedang yang haq adalah yang berada di antara keduanya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 11, hal:3)

MASALAH KETUJUH : MENYELISIHI PARA ULAMA

Sebagian manusia mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb telah menyelisihi semua ulama dalam dakwahnya, tidak melihat kepada perkataan mereka, tidak mengacu kepada kitab-kitab mereka dan beliau membawa barang baru serta membuat madzhab kelima.

Orang yang paling bagus dalam menjelaskan bagaimana hakikatnya adalah beliau sendiri. Beliau berkata :

“Kami mengikuti Kitab dan Sunnah serta mengikuti para pendahulu yang shalih dari umat ini dan mengikuti apa yang menjadi sandaran perkataan para imam yang empat : Abu Hanîfah Nu’man bin Tsâbit, Mâlik bin Anas, Muhammad bin Idrîs (As Syâfi’î) dan Ahmad bin Hanbal semoga Allôh merahmati mereka”. (Muallafât asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb, jilid 5, hal: 96)

“Bila kalian mendengar aku berfatwa dengan sesuatu yang dengannya aku keluar dari kesepakatan (ijma’) ulama, sampaikan perkataan itu kepadaku”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 53)

“Bila kalian menyangka bahwa para ulama bertentangan dengan apa yang aku jalani, inilah kitab-kitab mereka ada di depan kita”. (Ad Durarus Saniyyah jilid 2, hal: 58)

“Aku membantah seorang bermadzhab Hanafi dengan perkataan ulama-ulama akhir dari madzhab Hanafi, demikian juga penganut madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, semua saya bantah hanya dengan perkataan ulama-ulama muta`âkhirin yang menjadi rujukan dalam madzhab mereka”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:82)

“Secara global yang saya ingkari adalah : keyakinan terhadap selain Allôh dengan keyakinan yang tidak pantas bagi selain Allôh. Bila Anda dapati aku mengatakan sesuatu dari diriku sendiri, maka buanglah. Atau dari kitab yang kutemukan sedang disepakati untuk tidak diamalkan, buanglah. Atau saya menukil dari ahli madzhabku saja, buanglah. Namun bila aku mengatakannya berdasarkan kepada perintah Allôh dan Rasul-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam atau berdasarkan ijma’ ulama dari segala madzhab, maka tidaklah pantas bagi seorang yang beriman kepada Allôh dan hari akhir berpaling darinya hanya karena mengikuti seorang ahli di zamannya atau ahli daerahnya, atau hanya karena kebanyakan manusia di zamannya berpaling darinya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:76)

PENUTUP

Sebagai penutup, disini ada dua nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb :

Pertama : bagi orang yang berusaha menentang dakwah ini berikut semua pengikutnya, serta mengajak manusia untuk menentangnya lalu melontarkan beraneka ragam tuduhan dan kebathilan. Bagi mereka Syaikh berkata :

“Saya katakan bagi yang menentangku, bahwa sudah menjadi kewajiban bagi semua manusia untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam terhadap umatnya. Aku katakan kepada mereka : kitab-kitab itu ada pada kalian, perhatikanlah kandungannya, jangan kalian mengambil perkataanku sedikitpun. Hanya saja apabila kalian telah mengerti sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam kitab-kitabmu itu maka ikutilah meskipun berbeda dengan kebanyakan manusia… Janganlah kalian mentaatiku, dan jangan mentaati kecuali perintah Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam yang ada di dalam kitab-kitab kalian… Ketahuilah tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian kecuali mengikuti Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Dunia akan berakhir, namun surga dan neraka jangan sampai ada orang berakal yang melupakannya”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:89-90)

“Aku mengajak orang yang menyelisihiku kepada empat perkara : kepada Kitabullah, kepada sunnah Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, atau kepada ijma’ kesepakatan ahli ilmu. Apabila masih membangkang aku mengajaknya untuk mubâhalah (mendoakan laknat bagi yang berdusta)“. (Ad Durarus Saniyyah : 1/55)

Kedua : bagi yang masih bimbang. Syaikh berkata :

“Hendaklah Anda banyak merendah dan mengiba kepada Allôh, khususnya pada waktu-waktu yang mustajâb, seperti pada akhir malam, di akhir-akhir shalat dan setelah adzan. Juga perbanyaklah membaca doa-doa yang diajarkan Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, khususnya doa yang tercantum dalam As Shahih bahwa Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam berdoa dengan mengucap :

((Wahai Allôh Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah Yang Memutuskan hukum diantara hamba-hamba-Mu yang berselisih, tunjukkanlah kepadaku mana yang haq diantara yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Menunjukkan ke jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki)).

Hendaklah Anda melantunkan doa ini dengan sangat mengharap kepada Dzat Yang Mengabulkan doa orang kesulitan yang berdoa kepada-Nya, dan Yang telah Menunjukkan Ibrahim ‘Alaihis Salâm disaat semua manusia menentangnya. Katakanlah : “Wahai Yang telah mengajari Ibrahim, ajarilah aku”. Apabila Anda merasa berat dikarenakan manusia menyelisihimu, pikirkanlah firman Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ :

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

((Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allôh.)) (Q.S. Al Jâtsiyah : 18-19)

((Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allôh)) (Q.S. Al An’âm : 118)

Ingatlah sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dalam As Shahih : “Agama Islam bermula dari keadaan asing dan akan kembali dianggap asing seperti saat bermulanya”.

Juga sabda Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya Allôh tidak mengambil ilmu …. Sampai akhir hadits)*, juga sabda beliau : “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku”, juga sabdanya : “Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 42-43)

* Lengkapnya adalah: “Sesungguhnya Allôh tidak akan mencabut ilmu dari dada manusia secara serta merta, akan tetapi mencabutnya dengan memwafatkan para ulama. Sampai apabila tidak menyisakan seorang yang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya dan menjawab tanpa ilmu maka mereka tersesat dan menyesatkan manusia” (HR. Bukhari Muslim).

“Jika telah jelas bagimu bahwa ini adalah al haq yang tidak diragukan lagi, dan sudah merupakan kewajiban untuk menyebarkan al haq itu serta mengajarkannya kepada para wanita maupun pria, maka semoga Allôh merahmati orang yang menunaikan kewajiban itu dan bertaubat kepada Allôh serta mengakui al haq itu pada dirinya. Sesungguhnya orang yang telah bertaubat dari dosanya seperti orang yang tak mempunyai dosa sama sekali. Semoga Allôh menunjukkan kami dan Anda sekalian dan semua saudara-saudara kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wassalam…” (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal:43)2.

Dialihbahasakan oleh al-Ustâdz Muhammad Hâmid ’Alwî (Da’i Islamic Center dan Musyrif Forum Salafyoun.com untuk Indonesia Corner) dari Makalah yang berjudul Tashhîh Mafâhum Khâthi’ah.

BAHAYA HADDADIYAH


Oleh :

Syaikh Salim bin Ied al-Hilali

[Transkrip Rekaman Terjemahan Ceramah Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly hafizhahullahu seputar Da’wah Salafiyah dan Bahayanya Manhaj Haddadiyah]

 

Bismillahi walhamdulillahi wash Sholatu was Salaamu ‘ala Rosulillah, wa Ba’d :

Berikut ini merupakan bahasa penterjemah yang menterjemah kata perkata Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly pada saat Seminar Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah di Brooklyn, New York, yang ditranskrip oleh salah seorang ikhwan Amerika, bagi yang menghendaki kaset baik yang berbahasa Arab maupun Inggris silakan menghubungi QSS dan SSNA

Syaikh Salim hafizhahullahu berkata,

Perkara lain yang juga harus kita perhatikan adalah, bahwa kita memiliki beberapa syabab, yaitu para pemuda yang tidak kita ragukan keikhlasan mereka, namun kita ragukan manhaj mereka, atau kita mempermasalahkan ushlub (cara) atau manhaj mereka. Ada dari orang-orang ini yang mengumpulkan (mencari-cari) kesalahan para penuntut ilmu atau da’i dakwah ini. Mereka himpun setiap kesalahan yang diperbuat oleh para da’i atau penuntut ilmu ini, kemudian mereka menelpon masyaikh dan menceritakan kesalahan-kesalahan ini…

 

Ini adalah manhaj yang jelek, dan orang-orang tersebut, sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak ragu dengan keikhlasan mereka, namun cara yang mereka pergunakan ini adalah tidak benar dan cara ini dapat merusak persaudaraan dan menjadikan hati saling bermusuhan antara satu dengan lainnya, baik diantara ahlul ilmi maupun masyarakat secara umum. Ini merupakan jalan yang buruk!!! Ini jalan yang rusak!! Oleh karena itu mereka seharusnya takut kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala!!!

Tidak!! Kelak mereka akan melihat kesalahan ini… mereka mengangkat telpon dan menghubungi Syaikh Rabi’, atau mereka menelpon Syaikh Ubaid al-Jabiri atau mereka menelpon orang lain yang seperti ini, setelah mereka mengumpulkan kesalahan-kesalahan (saudara mereka).

Mereka seharusnya takut kepaa Allah Tabaroka wa Ta’ala dan sadar bahwa Allah Tabaroka wa Ta’ala memperhatikan dan mengamati mereka… dan ketahuilah bahwa hal ini adalah perkara yang tidak benar, cara yang salah untuk dilakukan… hal ini merupakan jalan yang keliru di dalam melalui perkara ini.

Dan ada diantara mereka yang akan menggambarkan segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang sebagai hizbiyah. Suatu jama’ah atau para ikhwan yang sedang berkumpul di suatu ruangan dan berdiskusi dikatakan hizbiyah!!! Suatu jama’ah atau para ikhwan yang terlibat di dalam suatu yang mereka sepakati dikatakan hizbiyah!! semuanya menurut mereka adalah hizbiyah!!!

Hal ini tentu saja… adalah cara yang salah di dalam memahamai suatu masalah… ini adalah metode yang keliru di dalam memahami suatu perkara. Mereka menghendaki supaya kita hanya berkumpul mengitari satu ulama tertentu saja, dan pandangan yang dimiliki oleh ulama itu maka kita pun harus memegangnya, setiap pendapat yang diambilnya maka kita pun juga harus mengambilnya…

Kalian harus faham… bahwa salafiyah lebih luas daripada hal ini!!! Salafiyah lebih besar dari yang demikian ini!!! Salafiyah bukanlah milik suatu kelompok, komunitas ataupun suatu jama’ah tertentu. Hal ini haruslah difahami karena hal ini telah melahirkan banyak kebingungan di dalam fikiran dan memecah belah hati serta menciptakan problematika yang mengerikan.

Perkara lain yang mereka lakukan adalah bersikap seperti ini… perkara-perkara ini… setelah mereka mengumpulkan kesalahan-kesalahan ini dan menyiarkan situasi keluar dari keadaannya. Meminta fatwa dari seorang syaikh karena (mereka tahu bahwa) syaikh tersebut hanya akan menjawab berdasarkan dari apa yang ia fahami. Maka syaikh itu akan menjawab dengan jawaban yang mereka kehendaki bahwa syaikh itu akan menjawab demikian. Karena, mereka mencari fatwa tertentu yang sebenarnya mereka kehendaki… mereka mencari fatwa tertentu yang sebenarnya sedang mereka inginkan….

Padahal ada beberapa hal… ada banyak hal yang kalian tidak bisa memberikan fatwa yang tepat kecuali jika kalian benar-benar memahami situasi dan kondisi yang melingkupi permasalahan ini, dan inilah sesuatu yang tidak mereka sampaikan… inilah sesuatu yang tidak mereka sampaikan (kepada masyaikh)…!!!

Seorang penuntut ilmu bisa jadi melakukan suatu kesalahan atau bisa jadi memiliki beberapa syubuhat terhadap sesuatu permasalahan… ini adalah suatu hal yang kita seharusnya memberikan waktu atau perhatian…. kita seyogyanya menunjukkan perhatian kita kepada saudara kita. Dan kita harus yakin menganggap saudara kita seperti… jika kita kehilangan satu dari saudara kita, bagaikan kehilangan sebagian tubuh kita… bagaikan ada suatu bagian dari tubuh kita yang terpenggal (putus) jika kita kehilangan salah satu saudara kita. Oleh karena itu kita… kita seharusnya lebih memperhatikan saudara-saudara kita dan kita tidak menginginkan saudara-saudara kita menjadi sesat dan kita juga tidak menghendaki saudara-saudara kita meninggalkan dakwah ini. Karena itulah… kita harus menunjukkan kepedulian kita terhadap mereka…

Ini adalah perkara yang penting yang harus difahami dan Ini merupakan bagian ketakwaan. Orang-orang ini, yang melakukan cara-cara seperti ini… harus faham bahwa Allah melihat mereka. Harus sadar bahwa Allah Tabaroka wa Ta’ala maha mengetahui akan apa yang mereka perbuat. Mereka harus tahu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ”Barangsiapa yang mencari-cari kesalahan orang lain, maka Allah Tabaroka wa Ta’ala akan membuka kesalahan-kesalahannya dan menyibakkannnya walaupun di tengah-tengah rumahnya sendiri. Walaupun di dalam rumahnya sendiri!!!” oleh karena itu tunggulah penyibakan dari Allah… seseorang tidak akan bisa lari dari adzab Allah. Apakah kita tidak tahu bahwa Allah Tabaroka wa Ta’ala melihat apa yang kita lakukan? apakah kita tidak tahu bahwa tidak ada suatu perkataan pun yang akan kita ucapkan melainkan dicatat? Yang mana Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman : ”Dan tidaklah sebah ucapan itu diucapkan melainkan padanya ada malaikat yang mengawasi”

Juga haruslah difahami bahwa dakwah salafiyah ini berdasarkan hujjah. Oleh karena itu, jika ada seorang penuntut ilmu yang tidak sepakat dengan pendapat ulama tertentu karena melihat bahwa dalil ulama ini tidak begitu kuat ataupun tidak meyakinkan dirinya, maka ini adalah suatu hal yang diperbolehkan untuk melakukan tarjih, mendengarkan ulama ini dan mendengarkan pula ulama lain, sembari mengatakan, ”Yang ini punya dalil (yang kuat) dan aku mengambilnya.” Bukannya malah bertaklid buta pada seorang individu dan menyetujui seorang individu pada setiap pernyataan yang dikatakannya tentang setiap orang atau setiap kelompok di muka bumi… ini yang harus kita fahami!!! Perkara lain yang juga harus dihindari (ditinggalkan) adalah mendengarkan setiap orang yang berdakwah (untuk mencari-cari kesalahan atau ketergelinciran, pent)…

Imam, mujtahid dan muhadditsin, imam Jarh wa Ta’dil zaman ini, Syaikh Nashirudin al-Albani rahimahullahu, jika seseorang ada yang bertanya kepada beliau tentang orang lain, beliau senantiasa menjawab, ”Aku tidak dapat menjawabmu. Jika aku mengenalmu maka aku akan menjawabmu, jika aku mengenalmu aku akan menjawabmu.”

Jadi, sikap beliau adalah, beliau tidak akan berbicara tentang orang lain sampai beliau mengenal mereka. Hal ini dikarenakan beliau tidak mendengar dari segala penjuru dunia mengenai seseorang yang berbicara tentang sesuatu, dan bahkan beliau tidak mengenal siapakah individu-individu tersebut. Individu ini berbicara tentang individu lainnya yang mendukung dakwah dan menyeru kepada salafiyah, menyeru kepada yang haq selama bertahun-tahun, oleh karena itulah kita tidak mendengar ucapan-ucapan mereka ataupun menerimanya. Metode ini bukanlah metodenya Imam Jarh wa Ta’dil ini… ini bukanlah jalannya orang yang kita duduk di bawah arahannya dan mempelajari agama ini, orang yang kita tumbuh di dalam majlisnya (yaitu syaikh Albani, pent)

Ingatlah, hizbiyun telah mengetahui bahwa kejahatan mereka telah dibongkar, hizbiyun tahu bahwa kerusakan mereka telah disingkap. Oleh karena itu mereka sekarang menyusup diantara kita dan menghendaki supaya kita menjadi sibuk antara satu dengan lainnya, menginginkan kita tersibukkan antara satu dengan lainnya!!! Ahlus sunnah wal Jama’ah, yaitu mereka yang berada di atas manhaj salaf, seharusnya mereka bergandengan tangan bersama… seharusnya mereka bergandengan tangan bersama!!! Daripada kita sibuk di antara sesama, seharusnya kita berdakwah dan membantah hizbiyun, membantah sufiyun, membantah asy`ariyah dan membantah seluruh ahlul bid’ah. Namun anehnya, kita ini lebih senang mencari kesalahan saudara lainnya, mencari kesalahan antara satu dengan lainnya!!!

Tidaklah cukup kalian mengucapkan kebenaran saja, namun kalian juga harus berlaku adil. Jika kalian mengucapkan kebenaran di tempat yang tidak semestinya, maka ini termasuk ketidakadilan. Ini adalah perkara yang telah Allah tampakkan dengan shidq, kejujuran dan dengan keadilan. Jadi keduanya harus diperhatikan di sini.

Kalian mendapatkan ada diantara mereka membicarakan salafiyun, namun mereka diam terhadap seburuk-buruk ahlul bid’ah, diam terhadap seburuk-buruk manusia yang berada di atas kebatilan, seburuk-buruk orang yang berada di atas manhaj yang salah. Ini jelas adalah suatu hal yang tertolak.. ini merupakan situasi baru dan perkara baru yang akan dipergunakan hizbiyun untuk memecah belah hati salafiyun dan memecah belah antara ulama dan para penuntut ilmu… inilah yg harus kita sadari!!! Bahwa seseorang itu hendaknya memiliki kelembutan dan haruslah bersikap adil.

Ketika saya ditanya tentang seseorang yang saya ketahui bahwa dirinya adalah salafi, namun seseorang mengambil ucapannya keluar dari konteks, atau menyodorkan perkataannya yang mana perkataan ini lain dengan apa yang ia pegang, maka saya akan menjawab : ”Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, jika saya tahu maka saya akan menjawabnya!” saya tidaklah melakukan hal ini karena takut… namun inilah manhaj!!! Inilah metodologi!! Dan inilah manhaj yang sebagaimana saya lalui dan saya telah tumbuh dengannya. Sikap yang harus kau ambil adalah sikap untuk Allah Tabaroka wa Ta’ala dan berdasarkan apa yang Rasulullah dan Allah Tabaroka wa Ta’ala cintai. Sikap inilah yang seharusnya diambil!!!

Walaupun saya pribadi telah memisahkan diri saya dari beberapa individu yang mereka adalah murid-murid syaikh Nashir, yang lebih dari 40 tahun bersama syaikh! (Maksud beliau adalah syaikh Ibrahim Syaqrah yang terpengaruh oleh benih fikrah quthbiyun dan menuduh syaikh Albani dengan irja’, pent). Iya, saya memisahkan diri saya dari mereka dan mengambil sikap melawan mereka ketika saya melihat ini adalah sikap yang harus saya ambil dalam rangka mendapatkan keridhaan Allah Tabaroka wa Ta’ala, dan berdasarkan manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kita memerlukan al-hilm (kkasih sayang) dan kesabaran, sedangkan al-hilm ini memerlukan ilmu. Kita membutuhkan ar-Rifq (kelemahlembutan) dan ta`anni (ketenangan), dan mempergunakan waktu kita. Kita perlu untuk menerima pendapat saudara kita, yang mana kita adalah cermin bagi mereka. Jika saudara kita terkena suatu syubuhat dan masalah, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah menarik dirinya di sisi kita dan menasehatinya. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah berbicara kepadanya secara langsung, bertatap muka dan menasehatinya.

Aku memohon kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala agar mempersatukan kita di atas yang haq dan menyelamatkan kita dari kejahatan manhaj yang telah nampak diantara kita, walhamdulillah.

Aku akan memberikan kalian sebuah contoh dari sikap ketidakadilan dan manhaj (rusak) ini, yang aku berbicara tentang orang-orang yang mengumpulkan (mencari-cari) kesalahan, berdusta dan datang di tengah-tengah ulama. Kita sekarang ini berada di New York, yang kita tahu bertetangga dengan New Jersey. Apakah ada diantara kalian yang tidak tahu tentang sikap dari masyaikh terhadap Abu Muslimah (salah seorang da’i Amerika yang terpengaruh hizbiyah, pent.)?

Saya yakin bahwa setiap orang di ruangan ini tahu bagaimana posisi Syaikh Usamah al-Qusy, Syaikh Muhammad Musa Nashr dan saya sendiri serta masyaikh lainnya terhadap Abu Muslimah… bahwa kami mentahdzir dirinya dan kami nyatakan bahwa dirinya adalah hizbi, kami memperingatkan manusia agar menjauhinya, dan kami robohkan bangunan (hizbi) yang sedang ia upayakan untuk ia bangun. Organisasi khabits (busuk) ini, organisasi jelek dan jahat ini, yang mana ia (Abu Muslimah) sedang berupaya untuk mendirikannya dengan membaiat Amir bagi kelompok salafi tertentu, dan lainnya…

Setiap orang telah mengetahui posisi kami, bahwa kami mentahdzir darinya!!! mauqif (sikap), posisi dan pendapat kami adalah jelas. Namun masih ada saja beberapa orang yang pergi ke luar negeri, mereka berdusta dan menemui syaikh Rabi’, dan mengatakan bahwa kami membela Abu Muslimah, kami menyokong Abu Muslimah dan menganggap dirinya sebagai salafi.

Orang yang sama ini juga berbicara tentang QSS (Qur’an Sunnah Society), organisasi salafi pertama…organisasi salafi satu-satunya dan pertama di Amerika Utara… orang-orang ini berkata kepada syaikh Rabi’ bahwa QSS adalah sururi dan dijalankan oleh sururiyun, saya katakan : QSS adalah organisasi salafi bahkan sebelum orang ini menjadi muslim… yang mereka perlukan adalah menunggu dan Allah Tabaroka wa Ta’ala akan menyingkap hakikat mereka… Allah akan membongkar hakikat mereka!!!

Saya contohkan satu orang lagi dari Indonesia, namanya Ja’far Umar Tholib, yang mana dia adalah salah satu pimpinan (panglima) laskar di sana, yang menurut klaimnya, ia akan melakukan jihad atau apapun namanya… dia mampu menipu, berbohong atau melakukan apapun untuk mendapatkan rekomendasi dari syaikh Rabi’ dan syaikh Muqbil, semoga Allah menjaga mereka dan memelihara mereka dari kejahatan orang seperti (Ja’far) ini!!!

Kami pergi mengunjungi Indonesia dan yang kami kunjungi di sana adalah salafiyin (Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, pent). Orang ini (Ja’far) menolak dan mengatakan bahwa kami pergi mengunjungi sururiyin. Namun Allah Tabaroka wa Ta’ala menyingkap kedoknya sebagai seorang takfiri, sebagaimana seorang yang mengkafirkan seorang muslim lainnya!!! dan hal ini terjadi di salah satu pulau di Indonesia, salah satu dari pengikutnya jatuh kepada perbuatan zina, dan dia (Ja’far) pun merajamnya… dia menerapkan hudud atasnya dan merajamnya!!!

Demi Allah!!! Apakah ada seorang saja dari para ulama yang memperbolehkan seorang muslim yang tinggal di negeri kaum muslimin melakukan hal ini sendiri dan menerapkan hudud?!! Adakah diantara kalian yang mengetahui bahwa ada kaset atau ceramah ulama yang memperbolehkan hal ini?!! Mereka merajam orang ini dan akhirnya pemerintah menangkapnya…

Berhati-hatilah kalian dari karakter orang-orang yang seperti ini… karena mereka berada di antara kita. Mereka berusaha untuk menciptakan penyimpangan, mereka berupaya untuk memutuskan hati dan menciptakan kebencian diantara para penuntut ilmu dan kaum muslimin lainnya yang berada di atas manhaj salaf.

Inilah yang Allah sebutkan sebagai syaithan, dimana syaithan menyerah agar supaya dirinya disembah di jazirah Arab, namun (tatkala melihat dirinya tak mampu) maka syaithan berupaya membuat kebingungan, percekcokan dan perselisihan diantara kalian!!! Inilah yang mereka kehendaki.

Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu an Laa ilaaha illa Anta wa astaghfiruka wa aatubu ilaik.

 

BAHTERA DAKWAH SALAFIYYAH DI LAUTAN INDONESIA


Disusun Oleh :

Muhammad Arifin Badri, Lc, MA
Alumni S-2 Universitas Islam Madinah, KSA
dan Mahasiswa S-3 Universitas Islam Madinah, KSA

Alhamdulillah, Washsholatu wasallamu `alaa asyrofil anbiyaai nabiyyinaa
muhammadin wa `alaa aalihi wa ashhaabihi …
Adalah sikap yang bijak dalam segala urusan, bila kita selalu mengevaluasi
setiap perbuatan dan sikap yang pernah kita lakukan, guna mengembangkan
keberhasilan dan meluruskan kesalahan, sehingga hari-hari kita selalu
bertambah baik, bila dibanding hari-hari sebelumnya. Dan pada kesempatan
ini, saya mengajak semua orang yang berkepentingan dengan dakwah
salafiyyah di Indonesia untuk sedikit menoleh kebelakang, guna menilik
kembali, lalu mengevaluasi perjalanan dakwah islamiyyah ini.
Umar bin Khaththab pernah berkata :
Artinya : bermuhasabahlah (intropeksi dirilah) sebelum kalian dihisab. ( HR. At
Tirmidzi dan Ibnu Syaibah ). Hal ini saya anggap penting dan sangat mendesak
untuk bersama-sama kita lakukan, karena saya merasa, dan setiap orang
telah merasakan adanya berbagai aral dan berbagai badai yang sedang
menerpa bahtera dakwah ini.
Bahkan pada akhir-akhir ini semakin banyak badai dan ombak yang menerpa,
bila tidak segera diluruskan laju bahtera ini, saya takut akan oleng dan
tenggelam.
Sungguh indah dan tepat sekali permisalan yang telah diberikan oleh
Rasulullah b bahtera dakwah ini.. tatkala beliau bersabda :
Artinya : Permisalan orang-orang yang menegakkan batasan-batasan ( syariat )
allah dan orang-orang yang melanggarnya, bagaikan suatu kaum yang berbagibagi
tempat di sebuah kapal / ahtera, sehingga sebagian dari mereka ada yang
mendapatkan bagian atas kapal tersebut, dan sebagian lainnya mendapatkan
bagian bawahnya, sehingga yang berada dibagian bawah kapal bila mengambil
air, maka pasti melewati orang-orang yang berada diatas mereka, kemudian
mereka berkata : seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya
kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada diatas kita. Nah apabila
mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginnanya,
niscaya mereka semua akan binasa, dan bila mereka mencegah orang-orang
tersebut, niscaya mereka telah menyelamatkan orang-orang tersebut, dan
mereka semuapun akan selamat. ( HR Bukhori ).
Bila kita amati dan renungkan realita dakwah salaf di negri kita, kita akan
melihat adanya berbagai kekurangan yang mesti dibenahi, dan menurut hemat
saya, ada enam permasalahan yang sepatutnya kita pikirkan bersama,
kemudian kita bersama-sama mencarikan solusi baginya, keenam
permasalahan tersebut adalah :
1
1. Tidak sistematis dalam belajar dan mengajar
2. Sikap tidak jujur terhadap diri ssendiri
3. Kedudukan uang transport bagi seorang da’i.
4. Pemahaman dan sikap warisan dari berbagai firqoh-firqoh (aliranaliran)
yang berseberangan dengan Ahlus sunnah wal jama’ah.
5. Ketidakmampuan kita untuk menjelaskan kebenaran dan mematahkan
argumentasi lawan.
6. Sikap kaku dan beku dalam menerapkan fatwa dan penjelasan
para ulama’.
Untuk lebih jelasnya, akan saya jabarkan keenam permasalahan tersebut satu
demi satu :
Tidak sistematis dalam belajar dan mengajar Bila kita membaca nasehatnasehat
para ulama’ -baik ulama’- terdahulu maupun ulama’ zaman sekarangdalam
perihal menuntut ilmu, maka kita akan dapatkan mereka
menganjurkan kita untuk memulai mempelajari ilmu-ilmu yang paling
penting, kemudian yang penting, dan kemudian yang kurang penting dan
seterusnya,. Sehingga setiap orang yang ingin berhasil dalam menuntut ilmu,
maka dengan ilmu itulah ia memulai belajar.
Dan setelah ia mengetahui ilmu yang paling penting, lalu iapun harus bisa
memilah-milah pembahasan-pembahasan ilmu tersebut, sehingga ia harus
mendahulukan hal-hal prinsip dalam ilmu tersebut, sebelum ia mempelajari
hal-hal lainnya.
Sebagai contoh: Ilmu yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim,
adalah ilmu tauhid, maka ilmu inilah yang pertama kita pelajari. Dan ketika
kita hendak memulai belajar ilmu tauhid, maka kita harus tahu, dari bagian
ilmu tauhid yang mana kita harus memulai ? Apakah kita mulai dari
mempelajari permasalahan tauhid uluhiyah, ataukah tauhid rububiyyah, atau
tauhid asma’ wa shifat ? Mungkin ada yang berkata : Bagaimana, saya bisa
melakukan hal ini, sedangkan saya adalah pemula atau orang awam, yang
belum tahu apa-apa ?
Nah…inilah sumber permasalahan yang ingin saya tekankan. Sebagai tholibul
ilmi pemula, terlebih-lebih masyarakat awam , tentunya ia tidak akan mampu
melakukan hal ini sendiri, oleh karena itu, disini datanglah peran para
asatidzah dan du’at, mereka dituntut untuk mengarahkan dan membimbing
murid-murid mereka, masing-masing disesuaikan dengan kemampuannya.
Nah…kewajiban inilah yang saya rasa telah banyak dilalaikan oleh para
asatidzah dan du’at-du’at kita, sehingga terjadilah kekacauan, dan berbagai
fitnah dimasyarakat.
Artinya : Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang
mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul-Nya
didustakan. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori tanpa menyebutkan sanad, dan
Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan Al Khathib Al Baghdady dalam
kitab Al Jami’, keduanya dengan menyebutkan sanadnya).
2
Sebagai contoh nyata : Pada +/- 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah
(test seleksi mahasisiwa untuk belajar di Al Jami’ah Al Islamiyyah),
berkumpulah sekitar 50 orang thullabul ilmi di sebuah pesantren, lalu
beberapa asatidzah -termasuk saya sendiri- menghubungi beberapa syekh
yang sedang menjalankan test muqobalah tersebut, guna memohon agar
sebagian mereka sudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian
menguji ke 50 thullab tersebut. Alhamdulillah, salah seorang syekh yang ada
kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syekh tersebut bernama :”Syekh
Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil” (Penulis buku Manhaj dan Aqidah
Imam Syafi’iy yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’I), dan ketika beliau
sudah tiba di pesantren yang dimaksud, maka beliau langsung mengetest /
menguji ke-50 thullab, satu demi satu. Dan diantara pertanyaan yang beliau
lontarkan kepada mereka :”Sebutkan rukun-rukun sholat?”
Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil
memberikan jawaban, walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan
ada salah satu dari mereka yang memberanikan diri untuk menjawab, dan
berkata: “Diantara rukun sholat adalah berwudhu sebelumnya”.
Lalu syekh tersebut bertanya kepada salah seorang mereka : “Siapakah yang
lebih kafir, ahlul bid’ah ataukah yahudi?”, maka dengan sekonyong-konyong
orang tersebut berkata : Ahlul bid’ah lebih kafir dibanding yahudi. Tatkala
syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawaban tersebut, beliau
terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan
ini dan berkata: “Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf ?!,
Siapakah yang mengajari kalian demikian ?!.
Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang
ustadz yang berceramah dan berkata : “Sesungguhnya Syekh Muhammad bin
Abdul Wahhab Al `Aqiil telah dipengaruhi oleh orang-orang sururiyyin,
sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yang rumit”.
Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah
pertanyaan tentang rukun sholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa
yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid’ah banyak dari mereka tidak
sampai kepada kekufuran ?!?!?!
Contoh lain : Beberapa saat lalu, ramai terjadi fitnah antara masyarakat
dengan syabab yang telah kenal pengajian salaf, dalam masalah beradzan
diluar masjid, iqomah tanpa menggunakan pengeras suara, menentukan
waktu-waktu shalat dengan menggunakan matahari, mengenakan pakaian
gamis dilingkungan yang tidak kenal gamis, seperti di kampus, dll.
Contoh lain : Setiap kali sampai ke Indonesia sebuah kitab baru, terutama
yang ditulis oleh ulama’-ulama’ zaman sekarang, seperti Syekh Rabi’ bin Hadi
Al Madkholi, Ali Hasan, Mansyur Hasan Salman, atau yang lainnya, kita
langsung ramai-ramai membacakan kitab tersebut, dan marak diadakan
dauroh-dauroh membahas kitab tersebut, dan tatkala ada kitab baru
lagi,maka kitapun ramai-ramai pindah ke kitab tersebut, dan begitulah
seterusnya. Bukan berarti tidak dibenarkan untuk membaca kitab tersebut,
akan tetapi, sistematis dalam belaja dan mengajar harus tetap dijaga.
3
Contoh lain : Tatkala ada salah seorang dari ustadz, atau da’i yang sedang
ditahdzir, maka disetiap kota, dan setiapa majlis, pembicaraan dan materi
kajiannyapun berhubungan dengan ustadz tersebut, baik yang pro ataupun
kontra, sibuk dengan isu seputar permasalahan tersebut, dan melalaikan
ilmu.
Sikap yang tidak punya pendirian ini, bagaikan buih lautan yang diombangambingkan
oleh angin, kemana angin berhembus, maka kesanalah buih
menuju. Oleh karena itu tidak heran kalau keilmuan yang terbentuk dari cara
pedidikan dan dakwah seperti ini, tidak kokoh sebagaimana lemahnya buih
lautan yang tidak pernah tetap pada sebuah pendirian
Sebagai wujud lain dari permasalahan ini adalah : Sering kali kita merasa
cukup dengan hanya mengenal nama sebuah istilah, walaupun tidak
mengenal hakikat.
Para ulama telah banyak menjelaskan, bahwa setiap nama dalam syariat islam
ini, adalah merupakan istilah syar’i, sehingga defiinisi dan maknanyapun
harus dipahami sesuai dengan yang dikehendaki dalam syariat islam, tidak
cukup untuk dipahami secara bahasa Sebagai contoh : kata “sholat” secara
bahasa kata ini bermakna “doa”, akan tetapi dalam syariat kata tersebut
memiliki definisi lain, sehingga kalau kita membaca ayat atau hadits yang
menyebutkan kata “sholat”, maka kita fahami secara istilah syariat, bukan
secara bahasa. Begitu juga halnya dengan istilah -istilah syariat lainnya,
kecuali kalau ada dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dari kata
“sholat” disitu adalah makna secara bahasa, bukan secara syariat.
Nah…sampai saat ini, kita telah banyak mengenai dan tahu berbagai istilah
dalam syariat, akan tetapi yang menjadi permasalahan, apakah kita sudah
mengenal makna istilah tersebut secara syariat, sebagaimana kita mengenal
definisi kata “sholat”, lengkap dengan mengenal syarat, rukun, wajibat, dan
sunnah-sunnahnya?. Untuk lebih jelasnya, kita kenal kata “tasyabbuh”,
apakah kita sudah mengetahui tentang makna kata ini dengan benar, syaratsyarat,
rukun-rukun, dan hukumnya ? atau kita baru tahu namanya saja ?
Sebagai bukti, mari kita renungkan bersama hadits berikut ini :
Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata : “Tatkala
Rasulullah b hendak menuliskan surat ke romawi, (para sahabat berkata
kepada beliau) : Sesungguhnya orang-orang romawi tidak mau membaca surat,
kecuali bila berstempel. Maka Rasulullah b membuat stempel dari perak”. (HR
Bukhori dan Muslim)
Bukankah Rasulullah b dalam kisah ini meniru kebiasaan orang-orang
kafir? Bukankah ini tasyabbuh ? Ini menunjukkan bahwa tidak semua
perbuatan yang menyerupai orang kafir, atau ahli bid’ah diharamkan, akan
tetapi ada beberapa kriteria /syarat yang harus diperhatikan, diantaranya :
1. Perbuatan tersebut merupakan ciri khas mereka.
2. Perbuatan tersebut tidak mendatangkan manfaat.
4
3. Adanya niat meniru, berdasarkan hadits ( Innal a’malu binniyaati /
sesungguhnya setiap amalan disertai dengan niat…)
Sebagai contoh lain : Kita semua tahu, bahwa mobil, pesawat terbang,
berbagai peralatan telekomunikasi yang ada pada zaman kita ini, adalah
dibuat oleh orang-orang kafir, tapi kenapa tidak satu orangpun yang
mengharamkannya hal-hal tersebut dengan alasan tasyabbuh?
Yang lebih memilukan adalah nasib istilah “manhaj salaf”, betapa sering kita
mengaku bahwa kita bermanhaj salaf, mengikuti manhaj salaf, dan berdakwah
sesuai dengan manhaj salaf, tapi mari kita jujur, dan balik bertanya kepada
diri sendiri, apa sebenarnya yang dimaksud dengan manhaj salaf, bagaimana
rumusannya, permasalahan apa saja yang tergolong dalam manhaj salaf,
sejauh mana kita telah kenal atau menguasai atau memahami manhaj
salaf…dst?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang -menurut hemat saya- sampai saat
ini di negri kita Indonesia, belum mendapatkan jawaban dan penjelasan yang
semestinya. Oleh karena itu, setiap kali kita mengenal atau mendengar sebuah
nama atau istilah dalam syariat ini, hendaknya kita jangan merasa puas,
sebelum mengenal dan memahami segala permasalahan yang berhubungan
dengan istilah tersebut. Dengan cara kita tanyakan kepada para `ulama atau
kita baca kitab-kitab yang menjelaskan istilah tersebut hingga tuntas.
Sebagai wujud lain dari permasalahan pertama ini:adalah sikap meremehkan
peranan kaedah-kaedah dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam berbagai
ilmu syariat.
Pada akhir-akhir ini, saya mulai mendengar ungkapan-ungkapan yang
menyeru agar kita tidak menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu ushul
fiqh, qowaid fiqhiyyah dan tidak perlu mempermasalahkan pembagian suatu
ibadah menjadi: rukun, syarat, wajib, dan sunnah. Mereka berkata : “Yang
penting bagi kita adalah mengetahui, bahwa amalan tersebut diamalkan oleh
Rasulullah b, maka kita amalkan, tidak perlu tahu, apakah hal tersebut
merupakan syarat, rukun, atau wajib, atau sunnah dalam suatu sebuah
ibadah.
Yang lebih menyedihkan lagi, bila hal ini diucapkan oleh orang yang mengaku
dirinya bermanhaj salafy, lebih menyedihkan lagi kalau orang tersebut adalah
seorang yang dipanggil ustadz, dan sangat lebih memilukan lagi bila ternyata
yang mengucapkan itu adalah seorang yang menyandang gelar (Lc) yang ia
peroleh dari Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah Munawwarah.
Para ulama semenjak zaman dahulu kala mengatakan : Artinya : Barangsiapa
yang tidak memperoleh hal-hal yangh prinsip, maka dia tidak akan mencapai
ilmu.
Pada kesempatan ini, saya ingin bertanya kepada orang-orang yang
mengatakan ungkapan ini : “Ulama manakah, dan siapakah namanya, yang
berhasil menjadi ulma’, tanpa mempelajari ilmu-ilmu tersebut?”
5
Pada mulanya, saya merasa keheranan mendengar ungkapan ini, tapi setelah
saya pikirkan, kemudian saya cocokkan dengan keadaan orang-orang
tersebut, rasa heran saya menjadi sirna, hal ini dikarenakan saya
berkesimpulan, bahwa orang-orang tersebut, rasa heran saya menjadi sirna,
hal ini dikarenakan saya berkesimpulan, bahwa orang-orang tersebut hanya
ingin menutupi ketidak pahamannya tentang ilmu-ilmu tersebut.
Untuk sedikit memberikan gambaran akan pentingnya mengetahui ilmu-ilmu
tersebut, dan pembagian suatu ibadah menjadi syarat, rukun, wajib, dan
sunnah, berikut ini akan saya jelaskan satu hal yang tidak asing bagi kita
semua.
Ahlis sunnah wal jama’ah telah sepakat dalam mendefinisikan “iman”, bahwa
iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan dan amalan dengan anggota badan.
Dan merekapun telah sepakat, bahwa barangsiapa yang mengingkari sesuatu
yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari urusan agama, apabila ilmu
tentang hal tersebut telah menyebar, seperti halnya wajibnya sholat lima
waktu, puasa bulan ramadlan, mandi janabah, dll, maka dihukumitelah kafir,
keluar dari agama islam, walaupun ia masih tetap menjalankan sholat, puasa,
mandi janabah dll.
Imam An Nawawi berkata : “Adapun pada saat ini, sungguh agama Islam telah
menyebar, dan telah merata dikalangan kaum muslimin ilmu tentang
kewajiban membayar zakat, sehingga diketahui oleh setiap orang khusus dan
orang awam, ulama dan orang bodohpun sama-sama mengetahuinya, maka
tidak diberikan uzur bagi siapapun, karena sebuah alasan yang ia pegangi,
untuk mengingkari kewajiban zakat. Begitu juga halnya dengan orang yang
mengingkari sesuatu yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari urusan
agama, apabila ilmu tentang hal tersebut telah menyebar, seperti halnya sholat
lima waktu, puasa bulan ramadlan, mandi janabah, haramnya zina, khomer,
menikahi mahram. Dan hukum-hukum yang serup, kecuali orang yang baru
masuk Islam, dan tidak mengetahui norma-norma agama islam, maka bila
orang seperti ini mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut, karena
kebodohannya tentang hal tersebut, ia tidak kafir.” ( Syarah Shohih Muslim
1/250 )
Ibnu Taimiyyah berkata : “Sesungguhnya beriman dengan wajibnya kewajiban
kewajiban yang telah jelas dan diketahui oleh setiap orang, dan
diharamkannya hal-hal yang diharamkan yang telah jelas dan diketahui oleh
setiap orang adalah salah satu prinsip keimanan yang paling agung dan salah
satu dari kaedah-kaedah agama Islam, dan orang yang mengingkarinya telah
disepakati akan kekafirannya”. (Majmu’ Fatawa 12/496).
Oleh karena itu, orang yang menjalankan sholat-misalnya-, dengan sempurna,
akan tetapi ia tidak menyakini bahwa takbiratul ihram adalah rukun, maka
sholatnya tidak syah, walaupun ia tetap bertakbiratul ihram. Dan barangsiapa
yang tidak meyakini wajibnya berwudhu sebelum sahalat, maka sholatnya
tidak syah, walaupun ia telah berwudhu sebelumsholat. Inilah salah satu
wujud nyata dari definisi iman menurut Ahlis Sunnah Wal Jama’ah. Untuk
lebih jelas lagi. ilahkan baca buku-buku fiqih yang yang menjelaskan syaratsyarat,
rukun-rukun, dan wajib-wajib sholat.
6
Sikap tidak jujur terhadap diri sendiri
Rasulullah b bersabda : Artinya : Tidaklah salah seorang dari kalian
dikatakan telah beriman, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia
cintai untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhori dan Muslim)
Hadits ini merupakan barometer keimanan setiap muslim, dan merupakan
pedoman dan prinsip yang seharusnya dipegangi oleh setiap muslim dalam
bergaul dan bermasyarakat, yaitu : sebelum kita mengucapkan perkataan atau
bersilap kepada saudara kita, hendaknya kita selalu bertanya kepada hati
nurani kita sendiri “apakah saya suka bila diperlakukan dengan perlakuan
yang akan saya lakukan ini?”
Bila jawabannya adalah “Ya, saya suka”, maka silahkan untuk dilakukan, dan
bila ternyata jawabannya adalah “Tidak”, maka jangan lakukan hal tersebut.
Betapa indahnya pedoman dan prinsip yang beliau ajarkan kepada ummatnya.
Seandainya para da’i, dan ustadz yang ada di negri kita, -terutama mereka
yang mengaku bermanhaj salaf-mengamalkan prinsip ini, saya yakin, banyak
permasalahan yang akan hilang dan sirna dengan sendirinya.
Akan tetapi kenyataan yang ada sangatlah jauh dari apa yang diharapkan.
Sebagai contoh : Yayasan “AL HARAMAIN” yang ada dikota Riyadh, dalam
beberapa periode memberikan sumbangan kepada setiap mahasiswa yang
lulus dari Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah -tanpa terkecuali-, sumbangan
berupa uang. Dan hal ini berjalan beberapa tahun silam, dimulai pada
kelulusan periode 1420-1421, dan beberapa periode selanjutnya. Besarnya
sumbangan tersebut dari tahun ke tahun, berbeda-beda, kadang 1000 reyal,
dan kadang 500 reyal.
Nah…Sekarang saya yakin, para pembaca pasti langsung bertanya, dan
berkata, kalo demikian… alumni jami’ah yang sekarang sudah malang
melintang berdakwah, menyerukan kepada manhaj salaf, dan mentahdzir
setiap orang yang ada hubungan dengan Yayasan Al Haramain, juga menerima
sumbangan tersebut ???!!
Maka jawaban pertanyaan ini -dan saya tahu sendiri- adalah : “Ya, mereka
menerima itu semua dengan kedua tangan terbuka, dan tanpa sedikit ada
keragu-raguan”.
Pada beberapa tahun silam, ada dua orang alumni jami’ah -yang sekarang ini
dengan lantang mentahdzir setiap orang yang menerima sumbangan dari
Yayasan Al Haramain- setelah menerima sumbangan sebesar: 1.000,- Reyal,
mereka ditanya oleh salah seorang kawan : Kenapa kok mau menerima
sumbangan tersebut, bukankah itu dari Al Haramain?, keduanya dengan
sangat lugu berkata : “Lho…kami tidak tahu kalo itu dari Al Haramain”.
Tentu kita tidak akan begitu mudah percaya, karena sumbangan macam ini
sudah berjalan beberapa periode sebelumnya.
7
Dan yang mengherankan pula, setelah keduanya tahu, bahwa sumbangan itu
berasal dari Al Haramain, keduanya tetap dengan erat-erat mengantongi
sumbangan tersebut, dengan harapan jangan sampai ada satu reyal-pun yang
jatuh dari sakunya.
Contoh lain : Pada 9 tahun silam, mahasiswa salafiyyin Indonesia di Al
Jami’ah Al Islamiyyah , mengukirkan sebuah sejarah baru dalam hal
pengiriman kitab ke negara mereka Indonesia, yaitu dengan dikirimkan secara
kolektif dengan menggunakan kontainer ini adalah awal pengiriman kitab
dengan cara ini di Al Jami’ah Al Islamiyyah ). Pengiriman tersebut didanai oleh
Yayasan IHYA `UT TUROTS yang bermarkaskan di negara Kuwait.
Pada kesempatan ini saya ingin bertanya kepada para alumni Al Jami’ah Al
Islamiyyah yang telah malang melintang di medan dakwah, dan mentahdzir
setiap orang yang ada hubungan dengan Yayasan Al Haramain dan Yayasan
Ihya `ut Turots : “Kenapa, masing-masing antum tidak mentahdzir diri antum;
karena telah menerima sumbangan dari Al Haramain dan Ihya’ut Turots ??
Apakah Al Haramain & Ihya’ at Turots menjadi yayasan salafy, bila yang
menerima sumbangan adalah antum sendiri, dan menjadi yayasan kholafy /
surury, bila yang menerima adalah anak-anak yatim, atau orang selain
antum??!. Ataukah barometer salafy antum yang berwarna-warni?”
Contoh lain : Tatkala hangat permasalahan jihad di pulau Maluku, ada salah
seorang ustadz besar yang memberanikan diri melayangkan surat untuk
bertanya akan hukum hal ini kepada Syekh Muhammad bin Sholeh Al
Utsaimin rahimahullah, dan tatkala jawaban beliau tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan, maka fatwa syekh tersebut, lenyap entah kemana…., Saya
tidak tahu, apakah fatwa tersebut telah ditelan bumi, atau ditelan ambisi.
Oleh karena itu -menurut hemat saya- menumbuhkan rasa malu pada diri
sendiri adalah penting perannya dalam kehidupan seorang muslim.
Diriwayatkan dari sahabat An Nawwas bin Sam’an, beliau berkata: Aku pernah
bertanya kepada Rasulullah b tentang Al Bir (perbuatan baik) dan Al Itsm
(perbuatan dosa), maka beliau bersabda:”Al Birru adalah akhlaq / budi pekerti
yang baik, dan Al Itsmu adalah segala yang engkau merasakan adanya
kejanggalan dan keragu-raguan dalam dadamu (hatimu), dan engkau merasa
tidak suka bila diketahui oleh orang lain. (HR. Muslim)
Kedudukan uang transportasi bagi seorang da’i
Pada permasalahan ini, kita dihadapkan kepada sebuah tradisi dan budaya
yang bersenggolan dengan prinsip paling besar dalam agama Islam, yaitu
keikhlasan dalam setiap aktifitas kita, prinsip hanya mengharapkan balasan
bagi segala amalan kita hanya darri Allah Ta’ala. Pada kesempatan ini, saya
tidak ingin membahas tentang kewajiban ikhlas; karena hal itu sudah
diketahui bersama. Yang ingin saya serukan dalam kesempatan ini, adalah
ajakan kepada seluruh du’at dan asatidzah, agar mengkaji ulang hukum
kebiasaan yang berlaku ditengah-tengah kita, yaitu kebiasaan menerima uang
transportasi.
8
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang hukumnya, mari kita koreksi,
apakah uang transportasi yang kita terima, setelah kita memberikan
pengajian/ceramah/dauroh dll, benar-benar uang transportasi? Ataukah uang
transportasi? Ataukah uang transportasi yang telah digelembungkan berlipat
ganda, dan menurut yang saya ketahui- alternatif inilah yang terjadi,
transportasi inilah yang terjadi, transportasi pulang pergi yang seharusnya
hanya misalnya Rp. 50.000,- akan tetapi amplop yang diterima berisikanminimal
Rp. 100.000,-
Hal kedua yang harus kita kaji ulang adalah hukum menerima uang tersebut,
sebab para ulama’ semenjak dahulu kala sudah berbeda pendapat dalam
menghukumi hal ini, ada yang menghalalkan, dan ada yang memakruhkan,
dan ada yang mengharamkannya, dan pendapat ketiga inilah yang dirajihkan
(dikuatkan) oleh Syekh Muhammad Nashirddin Al Albani rahimahullah.
Sebagai contoh dari kisah-kisah yang sampai kepada saya: Ada beberapa
ustadz yang Alhamdulillah telah berhasil mendirikan Pondok Pesantren, dan
Alhamdulillah pula telah memiliki santri yang cukup banyak, lebih
mementingkan untuk memenuhi undangan pengajian diluar pesantren
terlebih-lebih undangan dari luar kota dibandingkan mengajar di pesantren
yang telah ia dirikan, akibatnya santri pesantrennya sering tidak mendapatkan
pengajaran. Bahkan seringkali, Ustadz tersebut, bila sudah keluar kota untuk
berdakwah, tidaklah kembali ke pesantrenya, kecuali bila sudah kecapekan,
dan sudah mulai merasakan gejala akan jatuh sakit.
Apakah ustadz yang bertindak seperti ini, tidak ingat, bahwa kewajiban
mengajar dipesantrennya lebih besar dibanding berdakwah di luar kota?
Bukankah para santri telah walaupun sedikit membayar SPP, sehingga telah
menjadi hak mereka untuk menerima pengajaran yang telah dicanangkan oleh
pesantren?
Lalu, apakah yang memotivasi ustadz tersebut untuk keluar kota? Bukankah
keluar kota lebih melelahkan? Membutuhkan transportasi? Bukankah
kewajiban berdakwah bisa dilaksanakan tanpa itu semua? Yaitu mengajar di
pesantren yang telah ia dirikan, dan berdakwah dimasyarakat sekitar lokasi
pesantren?
Diantara kisah yang sampai kepada saya : Bahwa daerah-daerah yang
masyakatnya (orang-orang yang telah kenal dan mengikuti kajian salaf)
berperekonomian / berpenghasilan rendah / tidak memiliki donatur yang
kuat, kesusahan untuk mendatangkan ustadz yang siap mengisi pengajian di
tempat-tempat tersebut, terlebih-lebih pengajian rutin.
Diantara kisah yang pernah saya dengar : Ada seorang Ustadz (A) bermusuhan
dengan Ustadz (B), si (A) telah mentahdzir si (B), dengan berbagai alasan. Pada
suatu saat, ada salah seorang murid Ustadz (A) dikarenakan beberapa hal
menghadiri pengajian Ustadz (B) dan enggan menghadiri pengajian Ustadz (A),
maka Ustadz (A) berang seakan sedang kebakaran kumis, lalu mengatakan
bahwa Ustadz (B) telah mencuri muridnya.. Usut punya usut, ternyata
dahulunya anak murid tersebut biasanya selalu memberikan sumbangan
kepada Ustadz (A), dan setelah menghadiri pengajian Ustadz (B), ia tidak lagi
mengucurkan sumbangan tersebut.
9
Pemahaman dan sikap warisan dari berbagai firqoh-firqoh (aliran-aliran)
yang bersebrangan dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Tidak mungkin kita pungkiri, bahwa banyak dari kita, sebelum mengenal
dakwah salaf, manhaj salaf, mengikuti berbagai firqoh-firqoh yang memiliki
manhaj yang bersebrangan dengan manhaj salaf. Ada dari kita yang
dahulunya seorang ikhwani, dan ada juga yang tablighi, dan ada pula yang
sufi, dan ada pula yang takfiri (hizbut tahrir), dan ada pula yang mu’tazili dll.
Hal ini adalah kenyataan yang tidak boleh kita lupakan, sebab selain agar kita
bisa selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, yang telah memberi hidayah kepada
kita, sehingga kenal dengan manhaj salaf, juga agar kita selalu berhati-hati,
dan selalu mengoreksi setiap pemahaman dan sikap kita, jangan sampai
pemahaman dan sikap kita yang sekarang ini, masih terpengaruh dengan
pemahaman dan kebiasaan kita semasa bergabung dengan firqoh-firqoh
tersebut.
Diantara manfaat kita mengingat kenyataan ini, kita akan bisa lebih sabar dan
bersikap lembut kepada orang yang memiliki kesalahan, karena kita akan
selalu berkata kepada diri sendiri, bahwa dahulu -karena kebodohan- saya
juga telah berbuat kesalahan. Sehingga kita akan merasa iba, dan kasihan
terhadap orang tersebut, akibatnya, kita akan lebih gigih untuk menjalankan
segala daya dan upaya agar orang tersebut bisa mendapatkan hidayah,
sebagaimana kita telah mendapatkan hidayah.
Marilah kita renungkan bersama ayat berikut :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila engkau pergi (berperang) di jalan Allah,
maka telitilah, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang
mengucapkan “salam” kpdmu : “Kamu bukan seorang mu’min” (lalu kamu
membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia,
karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitulah keadaan kamu dahulu,
lalu Allah menganugerahkan ni’mat-Nya atas kamu, maka telitilah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( QS. An Nisaa’
: 94 )
Pada ayat ini Allah melarang orang-orang Muhajirin -ketika dalam keadaan
peperangan- dari mengatakan kepada seorang musuh yang menampakkan
keislaman dengan cara mengucapkan salam kepada kaum muslimin, :
“Engkau bukanlah seoarang muslim, engkau mengucapkan salam hanya
sekedar takut dibunuh” lalu dibunuh, karena sangat dimungkinkan bahwa
orang tersebut adalah orang yang benar-benar telah masuk Islam, akan tetapi
takut untuk menampakkan keislamannya. Kemudian Allah mengingatkan
orang-orang Muhajirin akan keadaan mereka sebelum berhijrah, dimana
didapatkan dari mereka banyak orang yang telah masuk Islam, akan tetapi
takut untuk menampakkan keislamannya.
Nah…pada kesempatan ini, saya mengingatkan para da’i, dan ustadz,
bahwasannya dahulu kita seperti mereka, berbuat kesalahan, salah
pemahaman, dan rusak aqidahnya, kenapa kita tidak bersabar dan lebih
lembut mensikapi saudara kita yang memiliki kesalahan, terlebih-lebih bila
terlihat darinya ketulusan dan keseriusan dalam mencari kebenaran.
10
Ketidakmampuan kita untuk menjelaskan kebenaran dan mematahkan
argumentasi lawan
Allah Ta’ala telah memberikan setiap manusia akal dan pikiran, masingmasing
kita memiliki kemampuan akal dan pikiran yang berbeda-beda, ini
adalah sebuah fakta yang kita rasakan bersama, dan harus selalu kita ingat,
tatkala kita berbicara dengan orang lain.
Ada orang yang memiliki pemahaman kuat, shg dengan mendengarkan sedikit
penjelasan, ia langsung paham dan melaksanakan hal tersebut. Akan tetapi,
ada orang yang memerlukan penjelasan dua, tiga, atau empat kali, baru akan
bisa memahami apa yang kita inhginkan. Bahkan ada orang yang tidak bisa
memahami penjelasan kita sama sekali, walaupun sudah berpuluh-puluh kali,
akan tetapi, bila ia mendengarkan penjelasan dari orang lain, dengan cara lain,
ia bisa memahami, kemudian mengamalkan apa yang kita maksudkan.
Selain itu, sebagaimana kita tidak akan menerima pendapat orang lain, kecuali
setelah terjawab berbagai pertanyaan yang ada di dalam akal pikiran, maka
begitu pulalah orang lain, tidak akan menerima pendapat kita, sampai seluruh
pertanyaan dan berbagai alasan yang ada di akal pikirannya terjawab dengan
tuntas.
Hal ini sering kita lalaikan, sehingga kita relatif memaksakan pendapat, tanpa
memperdulikan pendapat dan alasan kita.
Seringkali ketika kita beradu argumentasi, kita melupakan akan hal ini,
sehingga tatkala orang lain tidak atau blm bisa menerima pendapat kita
maka…mulailah kumis kita terbakar sedikit demi sedikit, dan akhirnya
berkobarlah api amarah, dan terlontarlah berbagai klaim, dimulai dari
klaim:”Keras kepala, aqlani, menolak hadits,…hingga vonis mubtadi'”.
Sebagai contoh : Sering kali kita mendengar ada ustadz yang mentahdzir
ustadz lain, dengan alasan, bahwa ustadz tersebut telah dinasehati, dan
tatkala diusut, ternyata yang terjadi hanyalah sebuah perdebatan yang belum
tuntas, kedua belah pihak tidak mampu untuk menjelaskan pendapatnya
dengan gamblang, dan tidak mampu menjawab argumentasi lawan dengan
gamblang pula. Atau hanya sekedar dikirimi kaset, atau buku, yang mungkin
saja belum sempat didengar atau dibaca, dan kalaupun sudah didengar dan
dibaca, belum tentu ustadz tersebut memahaminya dengan baik.
Oleh karena itu, saya mengajak para da’i, dan asatidzah untuk lebih banyak
belajar cara-cara berkomunikasi dengan orang lain, dan cara-cara
berargumentasi dan menjawab argumentasi lawan, yaitu dengan cara
11
mempelajari ilmu ushulul fiqh, mustholah hadits, qowaid fiqhiyyah dan
banyak-banyak membaca kisah perdebatan para ulama ahlis sunnah dengan
ahlul bid’ah.
Sikap kaku dan beku dalam menerapkan fatwa dan penjelasan para ulama
Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa Al Qur’an dan As Sunnah
tidak mungkin bisa dipahami dan kemudian diamalkan, kecuali dengan
perantara penjelasan dan penafsiran para ulama’. Merekalah yang yang
mampu menghukumi setiap kejadian dan permasalahan sesuai dengan yang
telah digariskan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Oleh karena itu, seorang ulama membutuhkan kepada dua jenis pemahaman,
agar fatwa dan hukum yang ia berikan benar-benar sesuai dengan Al Quran
dan As Sunnah, yaitu :
1. Pemahaman yang benar terhadap Al Quran dan As Sunnah, sesuai
dengan pemahaman salafush sholih.
2. Pemahaman yang benar dan sempurna terhadap kasus dan
permasalahan yang hendak ia hukumi
Bila seorang ulama telah memiliki kedua jenis pemahaman tersebut, maka
Insya Allah fatwa dan hukum yang ia berikan akan benar, akan tetapi, bila
salah satu dari keduanya tidak ia miliki, atau terjadi kesalahpahaman
padanya, niscaya ia tidak akan bisa berfatwa dengan baik dan benar.
Ibnul Qoyyim pernah menggambarkan bahayanya seorang yang tidak memiliki
pemahaman jenis kedua, sehingga ia hanya kaku dan beku dengan apa yang
pernah ia dapatkan dalam kitab semata, beliau gambarkan kerusakan yang
akan ditimbulkan oleh orang semacam ini, bagaikan seorang yang tidak
paham ilmu kedokteran, kemudian mengaku-aku menjadi seorang dokter.
Sehingga jatuhlah korban karenanya. Bahkan menurut beliau, bahaya seorang
yang beku dan kaku dengan apa yang ia dapatkan di kitab, tanpa paham
terhadap realita yang ada pada zamannya., adalah lebih besar dibanding
dokter gadungan tersebut, karena kesalahan yang ia timbulkan ada
hubungannya dengan nasib manusia di akhirat.
Pada kesempatan kali ini, saya juga ingin mengingatkan kepada para da’i, dan
asatidzah, agar extra hati-hati bila hendak menerapkan sebuah fatwa atau
sebuah hukum, tolong dipikirkan masak-masak, apakah keadaan masyarakat
kita sesuai dan sudah sepantasnya untuk diterapkan fatwa tersebut ?
12
Sebagai contoh nyata, Ada dari kalangan ulama’ salaf yang menegaskan:
bahwa lebih baik bertetangga dengan kena kera dan babi, dibanding
bertetangga atau duduk dengan dengan ahlul bid’ah. Seharusnya sebelum
kita menerapkan hal ini, kita harus pikirkan, apakah masyarakat kita sama
dengan masyarakat ulama tersebut, masyarakat yang mayoritasnya
memahami manhaj salaf?
Contoh lain : Para ulama telah sepakat, bahwa : Barangsiapa yang
menyatakan Al quran adalah makhluk, maka ia kafir. Nah…apakah setiap
orang yang kita temui dan ternyata mengatakan perkataan tersebut, langsung
kita hukumi sebagai orang kafir??
Imam Ahmad, beliau langsung menghadapi fitnah tentang hal ini, tatkala
mengetahui bahwa Al Makmun (kholifah pada masa beliau) telah mengatakan
bahwa Al Quran adalah makhluq, bahkan sampai memaksa orang-orang yang
ada pada zamannya untuk mengatakan perkataan ini, akan tetapi Imam
Ahmad tidak mengkafirkannya. Yang lebih mengherankan lagi Imam Ahmad
malah berkata : “Seandainya aku mengetahui bahwa aku memiliki do’a yang
mustajabah (dikabulkan), pasti akan aku gunakan untuk mendoakan
pemimpin kaum muslilmin (kholifah)”.
Contoh lain : Beberapa bulan yang lalu, Syekh Muhammad bin Hadi Al
Madkholi, berkenan untuk memberikan tausiyyah (ceramah) via telpon kepada
asatidzah di Indonesia. Pada hari dan waktu yang telah disepakati, beliau
menyampaikan tausiyyahnya, dan setelah selesai, maka beliau
memperkenankan untuk dibacakan beberapa pertanyaan yang sebelumnya
telah mereka siapkan. Diantara pertanyaan yang dibacakan adalah
berhubungan dengan hukum mengajar ditempat ahlil bid’ah, maka beliau
berfatwa : “Tidak boleh mengajar ditempat ahlil bid’ah”, tentunya dengan
berbagai alasan dan dalil yang beliau utarakan.
Setelah acara tersebut selesai, fatwa tersebut langsung diterapkan oleh
beberapa gelintir ustadz, yaitu dengan menunjukkan kepada salah seorang
ustadz yang mengajar di pesantren As Salam Solo-Jateng, dan tatkala ustadz
tersebut tidak menuruti apa yang mereka inginkan, mulailah mereka
mengeluarkan senjata pemungkas, yaitu tahdzir dan hajr, bahkan bukan
hanya itu saja, ustadz tersebut juga diwajibkan untuk membubarkan TK dan
SDIT yang ia bina, dengan alasan yang sangat tidak ilmiyyah.
Tatkala saya berjumpa dengan Syekh Muhammad bin Hadi Al Madkholi, dan
saya sampaikan perilaku mereka, beliau langsung murka, dan mengatakan :
bahwa penjelasan saya tersebut, adalah hukum yang bersifat umum, tidak
boleh langsung diterapkan kepada setiap orang. Karena menerapkan hukum
kepada orang-orang tertentu, memiliki tahapan dan tatacara tersendiri.
Terlebih dari itu semua, kita harus mempertimbangkan maslahat dan
mafsadah yang akan terjadi dari sikap kita kepada ustadz tersebut.
13
Apalagi, setelah beliau mendengar perpecahan antar asatidzah yang terjadi
akhir-akhir ini, beliau semakin murka, dan berkata : Semoga Allah tidak
memasrahkan tugas dakwah ini kepada orang-orang semacam mereka.
Sikap ini -sebagaimana kita ketahui bersama- telah menjadi kebiasaan, bila
ada salah seorang ustadz yang tidak suka dengan ustadz lain, maka ustadz
pertama tadi akan mencari dukungan untuk menghantam ustadz kedua
tersebut, yaitu dengan cara menelpon salah seorang syekh, kemudian
ditanyakan kepadanya hukum suatu permasalahan, sehingga syekh tersebut
memberikan jawaban yang bersifat umum (muthlaq), sebagaimana terjadi pada
kisah yang lalu. Dan setelah ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan, ia
langsung menjadikannya sebagai senjata untuk menyerang ustadz yang tidak
ia sukai, dan demikianlah selanjutnya.
Oleh karena itu para ulama telah meletakkan sebuah qaidah yang
berhubungan dengan hal penerapan hukum pada orang tertentu, atau kasus
tertentu, yaitu “Tidak dipungkiri terjadinya perubahan hukum syar’i, sesuai
dengan perubahan adat atau keadaan pada orang tersebut”.
Oleh karena itu, marilah kita benar-benar mencontoh ulama salaf dalam
berilmu, berfatwa, dan berperilaku, dan jangan sampai kita besar kepala, bak
katak dalam tempurung.
Inilah keenam permasalahan yang menurut pendapat saya, telah
menimbulkan berbagai fitnah dinegri kita. Dan akhir tulisan ini, saya ingin
menekankan, bahwa tulisan ini hanya sebatas pandangan saya, sehingga
saya siap untuk menerima kritikan atau sangkalan yang disertai dengan
alasan serta dalil, bahkan saya sangat mmengharapkan kritikan dan saran
dari kawan-kawan demi tercapainya kebenaran dan kemaslahatan dakwah
dinegri kita.
SELESAI
Ditulis ulang dari sebuah makalah 11 lembar yang berjudul “Bahtera Dakwah
Salafiyah di Lautan Indonesia” yang disusun oleh Al Akh Muhammad Arifun Badri, Lc,
MA ( Madinah ,08 Sya’ban 1424 H / 04 Okt 2003) dan disebarkan oleh “Tasjilat dan
Maktabah Ibnu Taimiyah” Jl. Kresna No. 24, Pulosari Rt. 02 / Rw. 04 Kelurahan
Gayam, Kec/Kab. Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, Indonesia
14
Sebuah Tanggapan :
Bisa sebagai bahan perenungan penulis “Bahtera Dakwah Salafiyyah di Lautan
Indonesia”
MUTIARA NASEHAT SYAIKH ALBANY TERHADAP THOLABUL ‘ILM
“Aku nasehatkan untuk saya pribadi khususnya dan untuk saudara
saudaraku kaum muslimin pada umumnya agar bertaqwa kepada Allah.
Diantara bagian-bagian taqwa yang akan aku nasehatkan adalah :
Pertama, Hendaklah kalian menuntut ilmu syar’i dengan ikhlash karena Allah,
janganlah ada tujuan-tujuan yang lain seperti mengharapkan sesuatu balasan,
ucapan terima kasih atau senang tampil di muka umum.
Kedua, diantara penyakit yang menimpa para penuntut ilmu syar’i adalah ujub
dan lupa daratan, dia merasa sudah memiliki ilmu cukup sehingga berani
berpendapat sendiri tanpa mengambil bantuan dan penjelasan ulama’ salaf.
Sebagaimana mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah memberikan
taufiq kepada mereka, berupa ilmu yang benar dan adab-adabnya, bahkan
mereka tertipu dengan diri mereka sendiri dan mereka menyangka bahwa
mereka telah memiliki kemapanan ilmu sehingga muncul dari mereka pendapatpendapat
yang mengguncangkan, tidak dilandasi dengan pemahaman yang
benar berlandaskan al-Kitab dan as-Sunnah.
Maka nampaklah pendapat-pendapat ini dari pemikiran-pemikiran yang tidak
matang, mereka menyangka bahwa fatwa-fatwa tersebut adalah ilmu yang
diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah. Maka, mereka sesat dengan pemikiranpemikiran
tersebut dan menyesatkan banyak manusia, dan kalian mengetahui
semuanya diantara dampak negatif dari fenomena tadi adalah munculnya
kelompok-kelompok di sebagian negeri islam mengkafirkan kelompok-kelompok
lainnya dengan alasan-alasan yang dibuat-buat, tidak bisa kami kemukakan
dalam kesempatan yang singkat ini, karena pertemuan kami ini sekarang
khusus sedang memberikan peringatan dan nasehat kepada para penuntut ilmu
dan juru da’wah, oleh karena itu saya nasehatkan saudara-saudara kami dari
ahli sunnah dan ahli hadits di seluruh negeri islam agar mereka sabar dalam
menuntut ilmu, dan agar mereka tidak tertipu dengan ilmu yang mereka miliki
sekarang. Mereka harus mengikuti jalan yang telah digariskan, jangan sekalikali
mereka bersandar dengan mengandalkan semata-mata pemahaman
mereka atau mereka beri nama dengan ijtihad mereka.
Saya sering sekali mendengar dari saudara-saudara kami mereka mengatakan
dengan sangat mudahnya, “saya berijtihad” atau “saya berpendapat demikian”
tanpa memikirkan akibat-akibat yang ditimbulkan dari ucapan-ucapannya.
Mereka tidak mengambil bantuan dari kitab-kitab fiqh dan hadits serta
pemahaman ulama terhadap kitab-kitab tersebut. Yang ada hanya hawa nafsu
dan pemahaman yang dangkal dalam menggunakan dalil, sedangkan
penyebabnya adalah ujub dan lupa daratan. Oleh karena itu, sekali lagi aku
nasehatkan kepada para penuntut ilmu agar menjauhi segala akhlak yang tidak
islami, di antaranya agar mereka tidak tertipu oleh ilmu yang telah
didapatkannya serta tidak tergelincir ke dalam ujub.
15
Ketiga, terakhir, agar mereka menasehati manusia dengan cara yang lebih baik,
menjauhi cara-cara yang kasar dan keras dalam berdakwah karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS an-Nahl : 125)
Allah berfirman dengan ayat tadi karena kebenaran itu sendiri berat atas
manusia atau menerimanya, dan berat atas jiwa-jiwa mereka, oleh karena itu
secara umum jiwa manusia sombong untuk menerimanya, kecuali sedikit orang
yang dikehendaki Allah untuk langsung menerimanya. Apabila beratnya
kebenaran itu atas jiwa manusia ditambah dengan beratnya cara berupa
kekasaran dalam da’wah, maka itu berarti menjadikan manusia lari dari
da’wah kebenaran. Kalian tentu mengetahui sabda b:
“Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat orang lari
(dari kebenaran). Beliau mengulanginya tiga kali. Sebagi penutup, saya
memohon kepada Allah Ta’ala agar jangan menjadikan kami sebagai orangorang
yang membuat orang lain lari dari kebenaran, akan tetapi jadikanlah
kami sebagai orang-orang yang memiliki hikmah dan orang-orang yang
mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah.
——————————————————
Disarikan dari Hayatul Albany, Juz I hal. 452-455 oleh Ustadz Fariq Qoshim
Anuz dalam Buku beliau yang bermanfaat, Fikih Nasehat, diterbitkan oleh Darul
Falah.
16