Hajr Ekstrim bagian 5


PENJELASAN TENTANG HAKIKAT SIKAP EKSTRIM
DI DALAM MENGISOLIR DAN MENVONIS BID’AH
Petikan dari ucapan para ulama salafiyin
Bagian V : Beberapa Syubuhat dan Jawabannya (Kerjasama dengan Ihya’ut Turats)

اعداد :
أبو سلمى الأثري

Beberapa Syubuhat dan Jawabannya

Ada beberapa Syubuhat yang sering dilontarkan oleh sebagian kalangan untuk melegalisasikan tindakan hajr bahkan tabdi’-nya ke saudaranya sesama ahlus sunnah. Berikut ini adalah syubuhat mereka beserta tanggapan dan jawabannya.

1. Berta’awun dengan Yayasan Ihya’ut Turats

Dalam masalah ini, buku al-Akh al-Ustadz Firanda tampaknya telah memadai. Namun berikut ini sedikit tambahan dari kami.

Mereka mengatakan bahwa Yayasan Ihya’ut Turats adalah yayasan hizbiyah, para ulama sepakat mentahdzirnya[1], berta’awun dengannya sama dengan berta’awun dengan hizbiyah. Barang siapa yang berta’awun dengan hizbiyah maka mereka adalah hizbiyun. Seakan-akan mereka menyatakan, barangsiapa bekerja sama dengan ahlul bid’ah maka mereka sama dengan ahlul bid’ah. Hal ini mirip dengan kaidah yang dilontarkan oleh pembesar Neo Haddadiyun zaman ini, Syaikh Falih al-Harbi yang mengatakan :

من دفع ساقط فهو ساقط ومن دفع مبتدعا فهو مبتدع

“Barangsiapa membela orang yang keliru maka dia keliru dan barangsiapa membela mubtadi’ maka dia adalah mubtadi’.”[2]

Diantara mereka adalah, seorang fanatikus yang bernama Abu Dzulqornain Abdul Ghofur al-Malanji[3], menyusun sebuah artikel yang berjudul “Ulama berbaris tolak Jum’iyah Ihya’ut Turots” yang mana dia menukil dari buku Malhudlot wa Tanbihat ‘ala Fatawa Fadhilatus Syaikh Abdullah al-Jibrin karya Tsaqil bin Shalfiq azh-Zhufairi. Padahal nukilan itu menyebutkan deretan ulama yang mengkritik Abdurrahman Abdul Khaliq hadahullahu.

Komentar saya : Abdul Ghafur al-Malanji telah melakukan talbis dan licik di dalam menggiring opini publik umat, dimana ia mengopinikan ulama yang mengkritik Abdurrahman Abdul Khaliq otomatis juga turut mentahdzir Jum’iyah Ihya’ut Turots. Liciknya lagi, setelah itu dia menyandarkan secara serampangan dan penuh kedustaan bahwa Abdurrahman Abdul Khaliq sebagai “big-boss” para du’at salafiyin yang bekerja sama dengan Ihya’ut Turots Kuwait.

Demikianlah karakter dan sikap Abdul Ghafur ini, dia berani melakukan suatu kedustaan dan kelicikan untuk memenuhi ambisinya agar dapat menembakkan tuduhan-tuduhan dan celaan-celaan kejinya.

Saya katakan kepada Abdul Ghafur : Ya Abdal Ghafur, dari ke-23 nama ulama yang antum sebutkan, apakah mereka semua turut mentahdzir IT (Ihya’ut Turats), mengharamkan bekerja sama dengan IT dan mengharuskan untuk mentahdzir siapa saja yang berta’awun dengan IT?!! Jika antum katakan iya, maka ini jelas menunjukkan antum ini jahil dan telah melakukan kedustaan atas nama mereka. Jika antum katakan tidak, maka antum juga telah berdusta atas nama mereka dan melakukan suatu tindakan talbis kepada umat. Dan jika antum katakan tidak tahu, maka sungguh ini adalah musibah, bagaimana bisa seorang ahlus sunnah berkata tanpa ilmu?!! Haihata haihata…!!!

Saya katakan : diantara ke-23 orang yang disebutkan oleh Abdul Ghafur, beberapa di antaranya tidak mentahdzir IT, bahkan sebagiannya memujinya dan memperbolehkan bekerja sama dengan yayasan ini. Di antara mereka adalah :

- Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz[4]
– Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin[5]
– Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan[6]
– Syaikh Prof. DR. Ali bin Nashir al-Faqihi[7]
– Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr[8]
– Syaikh DR. Abdullah al-Farsi[9]

Hal ini menunjukkan kejahilan Abdul Ghafur dan sikap tadlis-nya untuk memenuhi obsesinya di dalam melancarkan makian dan celaan. Saya juga meminta bukti kepada Abdul Ghafur bahwa ulama berikut ini, yaitu : Syaikh Abdullah al-Ghudayyan, Syaikh Shalih Ghusun, Muhammad al-Maghrawi dan Abdullah as-Sabt juga turut mentahdzir IT dan mengharamkan berta’awun dengan yayasan ini.

Sebagai tambahan, sebenarnya masih banyak lagi ulama yang mentazkiyah yayasan ini dan memperbolehkan berta’awun dengan yayasan Ihya’ut Turots al-Kuwaitiyah, diantaranya adalah :

- Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad al-‘Abbad.[10]
– Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Mufti kerajaan Arab Saudi saat ini.[11]
– Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Menteri Agama Kerajaan Arab Saudi.[12]
– Syaikh Abdullah bin Mani’, Anggota Lajnah Da`imah.[13]
– Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, anggota Lajnah Da`imah.[14]
– Syaikh Shalih bin Ghanim as-Sadlan.[15]
– Syaikh Shalih al-‘Abud
– Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Aqil
Dan selain mereka hafizhahumullahu jami’an.

Selain itu, juga ada sederetan ulama yang mentahdzir yayasan ini, namun mereka tidak mentahdzir secara mutlak salafiyun yang berta’awun dengan yayasan ini, apalagi sampai menghajr dan mentabdi’ mereka. Bahkan mereka menasehatkan supaya berlemah lembut dengan mereka, memberikan nasehat yang baik dan meluruskan mereka dengan cara yang terbaik apabila mereka salah. Di antara barisan para ulama ini adalah :

- Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari
– Syaikh Salim bin Ied al-Hilali.
– Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr.
– Syaikh Masyhur bin Hasan Salman.
– Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jaza`iri.
– Syaikh Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili.
– Syaikh Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili.
– Syaikh Tarhib ad-Dausari.
– Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi.
– Syaikh Washiyullah ‘Abbas.
– Syaikh Khalid al-Anbari.
– Syaikh Husain al-Awaisyah.
– Syaikh Usamah bin Abdul Lathif al-Qushi.
– Syaikh Muhammad bin Sa’id Ruslan al-Mishri.
– Syaikh Bashim Faishal al-Jawabirah.

Dan masih banyak lagi selain mereka. Namun kami juga tidak menafikan juga pendapat ulama yang mentahdzir keras akan yayasan ini dan melarang mengambil bantuan dari mereka secara mutlak. Diantara mereka adalah :

- Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullahu dan murid-murid beliau.
– Syaikh Ahmad Yahya an-Najmi.
– Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi.
– Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri.
– Syaikh Falah Isma’il.

Dan selain mereka. Al-Ustadz Abu Karimah telah mengumpulkan ucapan mereka ini, menukil dari website semisal sahab dan selainnya.

Dari paparan di atas, apakah masalah ini[16] adalah masalah manhajiyah yang tidak boleh berselisih di dalamnya, yang apabila terjadi perselisihan di dalamnya, maka salah satunya menyimpang dan menyempal dari manhaj Ahlus Sunnah atau ini adalah masalah khilafiyah ijtihadiyah yang tidak boleh ada tabdi’ dan hajr di dalamnya, dan seluruhnya adalah ahlus sunnah dan wajib berkasih sayang di antara sesama mereka?!!

Dari paparan di atas, yakni banyaknya ucapan dan pendapat di dalam masalah ini, yang semuanya berasal dari para ulama ahlus sunnah, maka adalah suatu hal yang jauh dari kebenaran apabila dikatakan bahwa perselisihan ini adalah perkara manhajiyah yang apabila berselisih di dalamnya, maka ada salah satu fihak yang keluar dari lingkaran Ahlus Sunnah. Jika demikian keadaannya, maka sungguh betapa banyak para ulama kita yang telah keluar dan menyimpang manhajnya dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Wal’iyadzubillah.

Jika demikian, maka pendapat yang paling tepat dan wasath di dalam hal ini adalah, bahwa perkara ini adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah yang tidak boleh ada hajr dan tabdi’ di dalamnya. Yang boleh dalam hal ini adalah pengingkaran dan munadhoroh (saling berdiskusi) serta munashohah (saling menasehati). Kami katakan dengan tegas, bahwa pendapat yang menyatakan tidak ada pengingkaran di dalam masalah khilafiyah adalah tidak benar. Berikut ini adalah penjelasannya :

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata :

(( وقولهم مسائل الخلاف لا إنكار فيها ليس بصحيح فإن الإنكار إما أن يتوجه إلى القول بالحكم أو العمل. أمّا الأول فإذا كان القول يخالف سنة أو إجماعاً قديماً وجب إنكاره وفاقاً. وإن لم يكن كذلك فإنه يُنكر بمعنى بيان ضعفه عند من يقول المصيب واحد وهم عامة السلف والفقهاء. وأما العمل فإذا كان على خلاف سنة أو إجماع وجب إنكاره أيضاً بحسب درجات الإنكار. أما إذا لم يكن في المسألة سنة ولا إجماع وللاجتهاد فيها مساغ لم ينكر على من عمل بها مجتهداً أو مقلداً.))

“Ucapan mereka bahwa di dalam masalah khilaf tidak ada pengingkaran adalah tidak benar, karena pengingkaran bisa jadi ditujukan kepada ucapan dengan penghukuman/vonis ataupun amalan. Adapun yang pertama, apabila ada ucapan yang menyelisihi sunnah ataupun ijma’ yang terdahulu maka wajib mengingkarinya dengan sepakat. Apabila tidak demikian, maka diingkari dengan artian menjelaskan kelemahannya terhadap orang yang mengatakan bahwa yang benar itu satu dan mereka adalah kaum salaf pada umumnya dan fuqoha’. Adapun amalan, apabila menyelisihi sunnah maka wajib pula diingkari sesuai dengan tingkat pengingkarannya. Adapun jika tidak ada di dalam sunnah dan tidak pula ijma’, maka ijtihad di dalamnya diperbolehkan dan tidaklah diingkari orang yang mengamalkannya karena berijtihad ataupun bertaklid.”[17]

Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata :

((وقولهم “إن مسائل الخلاف لا إنكار فيها” ليس بصحيح؛ …، وكيف يقول فقيه لا إنكار في المسائل المختلف فيها والفقهاء من سائر الطوائف قد صرحوا بنقض حكم الحاكم إذا خالف كتاباً أو سنة وإن كان قد وافق فيه بعض العلماء؟ وأما إذا لم يكن في المسألة سنة ولا إجماع وللاجتهاد فيها مَسَاغ لم تنكر على مَنْ عمل بها مجتهداً أو مقلداً))

“Ucapan mereka ‘sesungguhnya di dalam permasalahan khilaf tidak ada pengingkaran’ tidaklah benar… bagaimana bisa seorang faqih (ahli fikih) berkata tidak ada pengingkaran di dalam masalah yang banyak perselisihan di dalamnya sedangkan para ahli fikih dari seluruh kelompok telah menunjukkan dengan jelas kritikan terhadap keputusan seorang hakim apabila menyelisihi Kitabullah dan Sunnah walaupun keputusan tersebut selaras dengan pendapat beberapa ulama? Adapun di dalam permasalahan itu tidak ada sunnah dan ijma’ (yang menjelaskannya), maka diperbolehkan berijtihad di dalamnya dan tidak diingkari orang yang mengamalkannya karena berijtihad ataupun bertaklid.”[18]

Oleh karena itu di dalam mensikapi masalah khilafiyah adalah dengan pengingkaran dengan cara yang baik, bukannya malah menerapkan hajr dan tabdi’ secara serampangan dan gegabah, yang ujung-ujungnya malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Dan inilah pendapat yang kami pegang, yaitu masalah ini adalah masalah khilafiyah, tidak boleh ada hajr apalagi tabdi’ di dalamnya, namun boleh ada nasehat, diskusi dan pengingkaran di dalamnya.

Adapun pendapat kami adalah : Kami meyakini bahwa Ihya’ut Turats memiliki penyimpangan-penyimpangan di dalam manhajnya, kami lebih menguatkan pendapat bahwa Ihya’ut Turats lebih cenderung kepada hizbiyah oleh karena itu kami pribadi tidak mau bekerja sama dengan Ihya’ut Turats, namun kami tidak bersikap keras terhadap saudara-saudara kami salafiyin yang bekerja sama dengan mereka. Kami tidak mentahdzir mereka, menghajr apalagi sampai membid’ahkan mereka, selama tidak tampak tanda-tanda penyimpangan manhaj yang nyata pada mereka, dan syarat-syarat berupa iqamatul hujjah dan izalatul mawani’ belum ditegakkan atas mereka. Kami bersikap lemah lembut dengan mereka, kami bekerja sama dengan mereka di dalam kebajikan dan ketakwaan dan kami saling menasehati di dalam kebenaran dan kesabaran. Inilah pendapat yang kami berjalan di atasnya. Kami tidak condong kepada sikap ghuluw dan tidak pula tasaahul. Alhamdulillah.[19]

——————————————————————————–

[1] Klaim para ulama bersepakat adalah klaim dusta semata. Lihat bantahan al-Ustadz Firanda dalam masalah ini di dalam bukunya, “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”, cet. I, 2005, Pustaka Cahaya Islam, hal. 251.

[2] Ucapan Syaikh Falih al-Harbi di dalam kaset ceramah yang berjudul al-As`ilah wal Ajwibah al-Manhajiyah minal Jaza`ir. Transkrip ini pernah masuk di website http://www.sahab.net. Namun setelah Syaikh Falih ditahdzir, transkrip ini sudah tidak ada lagi di website tersebut. Kaset rekaman inilah yang dikritik secara pedas oleh al-‘Allamah Abdul Muhsin al-‘Abbad dalam risalah beliau al-Hatstsu yang mengatakan :

ولا ينتهى العجب إذا سمع عاقل شريطا له يحوي تسجيلا لكالمة هاتفية طويلة بين المدينة والجزائر, أكل فيها المسئول لحوم كثير من أهل السنة, وأضاع فيها السائل ماله بغير حقّ, وقد زاد عدد مسئول عنهم في هذا الشريط على ثلاثين شخصا, فيهم الوزير والكبير والصغير, وفيهم فئة قليلة غير مأسوف عليهم, وقد نجى من هذا الشريط من لم يسأل عنه فيه, وبعض الذين نجوا منه لم ينجوا من أشرطة أخرى له, حوتها شبكة المعلومات الإنترنت…

“Keanehan ini tidak hanya berakhir sampai di situ jika seorang yang berakal mendengarkan sebuah kasetnya (Falih al-Harbi, pent.) yang berisi rekaman percakapan telepon yang panjang antara Madinah dan Aljazair. Di dalam kaset ini, fihak yang ditanya (Falih al-Harbi, pent.) memakan daging mayoritas ahlus sunnah, dan di dalamnya pula si penanya membuang-buang hartanya tanpa haq. Orang-orang yang ditanyainya mencapai hampir 30-an orang di dalam kaset ini, di antara mereka (yang ditanyakan) adalah wazir (menteri), pembesar dan penuntut ilmu pemula. Juga di dalamnya ada sekelompok kecil yang tidak merasa disusahkan (yang tidak turut dicela, pent.). yang selamat (dari celaan) adalah orang-orang yang tidak disebutkan di dalam pertanyaan, namun sebagian mereka yang selamat di dalam kaset ini tidak selamat dari kaset-kasetnya yang lain. Penyebaran utamanya adalah situs-situs informasi internet…” (al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah karya al-‘Allamah Abdul Muhsin al-‘Abbad, cet. I, 1425 H., tanpa penerbit (dibagikan gratis), hal. 64-65).

[3] Bagi yang pernah membuka website “Jarh wa Ta’dil” (baca : “Jarh wa Tanfir”) terbesar di Indonesia (sebagaimana klaim mereka dulu), yaitu http://www.salafy.or.id (sekarang sudah tidak begitu aktif lagi semenjak administrasi wesbite ini dihandle langsung oleh seorang ustadz di Malang, sehingga adminnya sudah tidak bisa bebas lagi melepaskan kekang ‘lisan’ dan ‘hasutan’ mereka), tentulah tidak asing dengan nama Abu Dzulqornain Abdul Ghafur al-Malanji. Orang ini dilihat dari tulisan-tulisannya menunjukkan sifat dan karakter ke’kanak-kanak’an sekali. Orang ini juga bukanlah seorang tholibul ilmi yang multazim, apalagi dikatakan ustadz. Pribadinya bagaikan bocah kecil yang masih ingusan, namun apabila mencela bagaikan tokoh ahli jarh wa ta’dil yang paling alim di seantero dunia.

Kegemarannya adalah memakan daging saudaranya sesama ahlus sunnah, (kecuali apabila orang ini sudah mentabdi’ semua orang yang dia cela secara sporadis maka lain ceritanya) hingga telah merasuk hingga ke sanubarinya. Oleh karena itu ‘bau mulut’ orang ini sudah menyebar ke mana-mana, bahkan ‘bau’nya disambut oleh hizbiyun yang bermaksud mengaduk di air keruh untuk menghantam dakwah salafiyah.

Kita bisa lihat, seorang fanatikus Hizbut Tahrir dari Malang yang berkedok dengan nama “Mujaddid” (baca : Mubaddil) yang melemparkan tuduhan-tuduhan kejinya terhadap dakwah salafiyah, tidak lepas dari merujuk kepada tulisan si Abdul Ghafur ini. Demikian pula seorang yang bekedok Abu Rifa’ al-Puari, seorang simpatisan HT yang tidak ketinggalan ikut ambil bagian di dalam menyerang dakwah ini. Semuanya hampir menukil tulisan si Abdul Ghafur yang penuh dengan sumpah serapah, makian, ejekan, celaan, kutukan, dan kata-kata kotor lainnya.

Seharusnya, Abdul Ghafur ini lebih menyibukkan diri dengan ilmu, menuntut ilmu dan berdakwah dengan cara yang hikmah dan hasanah. Jika merasa telah menjadi seorang alim ahli jarh terbesar di dunia, dan selalu terobsesi untuk menjarh serta senantiasa lapar untuk memakan daging para penuntut ilmu ahlus sunnah yang beribu-ribu kali –insya Alloh- jauh lebih baik dari dirinya, maka sebaiknya dia jarh sendiri dirinya dan memakan sendiri dagingnya, karena yang demikian ini lebih utama dan baik baginya.

Jika dia merasa bahwa dirinya adalah ahli jarh dan naqd (kritik) yang bertujuan membela dakwah salafiyah, maka hendaknya dia sibukkan pula dirinya dengan membantah syubuhat dan tuduhan-tuduhan kaum hizbiyun harokiyun kepada dakwah ini. Bukankah banyak di antara kaum hizbiyun yang mencela dakwah ini beserta ulamanya. Apakah Abdul Ghafur tidak pernah tahu tentang celaan syabab HT, kepada Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, kepada Syaikh al-Albani, Syaikh Ibnu Baz dan ulama salafiyin. Apakah Abdul Ghafur tidak tahu akan celaan hizbiyun terhadap Syaikh Rabi’ bin Hadi, Syaikh Muhammad Aman al-Jami dls. Apakah Abdul Ghafur tidak tahu celaan Fauzan al-Anshori kepada dakwah salafiyah? Celaan Abu Rifa’ al-Puari, “al-Mujaddid”, Farid Nu’man, Ali Mustofa Ya’qub, Majalah Sunni milik kaum Ba’alawi, Majalah an-Najah milik kaum takfiriyun dan masih banyak lagi selain mereka…

Saya yakin saudara Abdul Ghafur pasti tahu –insya Alloh-. Namun adakah dirinya memberikan andil dan kontribusi di dalam membantah dan mengcounter syubuhat dan tuduhan mereka?!! Ataukah dia malah menyibukkan diri untuk membantah dan mencela saudara sendiri (kecuali apabila Abdul Ghafur sudah tidak lagi menganggap orang yang dia cela sebagai saudaranya lagi, wal’iyadzubillah). Bahkan tulisan-tulisannya dijadikan bumerang oleh para pembenci dakwah untuk menyerang dakwah ini. Subhanalloh.

Wahai Abdul Ghafur, lihatlah!!! Siapakah yang membela dakwah ini, ulamanya dan ahlinya dari makar ahlul bid’ah?!!

- Siapakah yang membantah tuduhan dusta Fauzan al-Anshori terhadap dakwah salafiyah ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah saudara kami, al-Ustadz Abu Abdirrahman Thayib, Lc.

- Siapakah yang membantah syubuhat dan tuduhan Farid Nu’man di dalam bukunya “Al-Ikhwanul Muslimin Anugerah yang terzhalimi”? Tidak lain dan tidak bukan adalah saudara kami, al-Akh Andi Abu Thalib al-Atsari.

- Siapakah yang membantah tuduhan Prof Ali Mustofa Ya’qub terhadap al-Muhaddits Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullahu? Tidak lain dan tidak bukan adalah saudara kami, al-Ustadz Yusuf Abu ‘Ubaidah as-Sidawi.

- Siapakah yang membantah tuduhan simpatisan dan fanatikus Hizbut Tahrir di dalam forum-forum, milis dan website mereka, semisal di Mujaddid dan Abu Rifa’ al-Puari???

- Dan masih banyak lagi lainnya…

Apakah kami berbangga-bangga dengan amal kami ini??? Wallohi tidak!!! Kami menyebutkan hal ini bukan untuk membanggakan diri! Namun untuk menunjukkan bahwa masih banyak tugas kita yang lebih urgen dan penting di dalam memperjuangkan dan membela dakwah mubarokah ini.

Dan kami menyebutkan ini bukannya menafikan bahwa Anda, saudara-saudara Anda atau ustadz-ustadz Anda tidak memiliki upaya yang seperti ini. Kami tidak menafikan apa yang dilakukan oleh al-Ustadz Abu Karimah di dalam membantah Habib Husein al-Habsyi dalam masalah tersihirnya Nabi. Sungguh, ini buku yang bermanfaat. Demikian pula beberapa tulisan al-Ustadz Abu Karimah yang mengoreksi tentang dzikir jama’I dan selainnya.

Sengaja kami hanya menyebutkan nama al-Ustadz Abu Karimah, karena hanya beliaulah yang kami ketahui memiliki buku-buku bantahan ilmiah terhadap ahlul bid’ah. Juga beliau memiliki bahasa yang ilmiah, beradab, sopan dan tegas. Berbeda dengan Anda, tidak memiliki sifat ilmiah, keras, tidak beradab dan tidak sopan.

Anehnya lagi, di tengah bulan ramadhan yang penuh berkah, dimana ketika itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang kaum muslimin dari berkata keji dan kotor, si Abdul Ghafur ini melepaskan lagi ‘taring’ dan ‘bisa’ beracunnya, kali ini yang dizhalimi adalah Ustadzuna Abu ‘Auf bin Abdil Karim at-Tamimi raghmun unufihi. Tidak hanya itu, dia dengan beraninya menyematkan label “al-Kadzdzab’ kepada beliau hafizhahullahu. Celaan dan makiannya ini berangkat dari kebodohan, kegelapan di atas kegelapan, kedengkian, hawa nafsu, kezhaliman dan buruk sangka terhadap saudaranya sesama muslim (apalagi sesama ahlus sunnah).

Tulisan gelapnya ini disambut dengan gegap gempita oleh fanatikus juhala’ dari kalangan mereka, bahkan mereka mengklaim bahwa tuduhan Abdul Ghafur adalah haq, karena tidak ada bantahan dan klarifikasi sedikitpun terhadap risalahnya. Saya sebenarnya bermaksud untuk memberikan bantahan dan klarifikasi, namun Ustadzuna Abu ‘Auf menahan saya dan mengatakan bahwa tidak ada faidahnya membantah tulisan seperti sampah itu. Kemudian saya bersikeras kepada beliau, sembari menyatakan bahwa apabila tidak dijawab maka mereka akan semakin menjadi-jadi dan semakin besar kepala, karena mereka menyatakan diamnya kita adalah pertanda benarnya mereka… Maka al-Ustadz Abu ‘Auf menjawab dengan tegas dan beliau sampaikan pula pada pembukaan Dauroh Ilmiyah ke-3 (tahun 1424 H./2003 M.)…

“Janganlah sekali-kali seseorang menyangka bahwa diamnya ahlul haq dari penjelasan kebenaran yang terdapat pada mereka berarti pengecut. Atau jangan pula menyangka bahwa diamnya ahlul haq untuk menyingkapkan orang-orang yang menyelisihi mereka pertanda kelemahan, atau kesabaran mereka dari kewajiban mereka di dalam menerangkan dan memberi penjelasan pertanda kelesuan… tidak seribu kali tidak!!! Tetapi sikap mereka itu adalah sikap kedewasaan, sikap pengekangan jiwa dan sikap kesabaran atas atas orang yang menyelisihi agar kembali kepada kebenaran dan petunjuk…”

Beliau juga berkata : “Dan burung kecil sekalipun mengaku seperti burung elang tetaplah ia burung kecil, kedudukannya sekali-kali tidaklah akan diperhitungkan…”

Kemudian beliau tutup dengan menukil ucapan al-Imam Ibnul Qoyim al-Jauziyah di dalam Qashidah Nuniyah-nya sebagai berikut :

لا يفزعنك قعاقع وقراقع وجعاجع عريت عن البرهان

فالبهت عندهم رخيص سعره حثوا بلا كيل ولا ميزان

فاحمد إلهك أيها السني إذ عافاك من تحريف ذي البهتان

يا من يشب الحرب جهلا مالكم بقتال حزب الله قط يدان

وجنودكم ما بين كذاب ودجا ل ومحتال و ذي البهتان

أنى تقوم جنودكم لجنودهم وهم الهداة وناصرو الرحمن

Janganlah mengejutkanmu suara guntur, gemeretak

dan deruman yang kosong dari petunjuk

Karena kedustaan bagi mereka adalah sesuatu yang murah harganya

Seperti pemberian sedikit yang tidak ternilai oleh neraca dan timbangan

Maka pujilah Alloh wahai sunni

Karena Dia telah menyelamatkanmu dari penyimpangan si pendusta itu

Wahai orang yang memprovokasi untuk memerangi ahlus sunnah lantaran kebodohan

Kalian tidak mempunyai dua tangan untuk memerangi golongan Alloh sama sekali

Dan tentara-tentara kalian adalah dari golongan para pendusta,

para dajjal dan penipu

Bagaimana mungkin tentara-tentara kalian mampu menghadapi tentara-tentara hizbullah

Yang mana mereka adalah pemberi petunjuk dan penolong-penolong Alloh

[4] Beliau mentazkiyah yayasan ini terakhir kali pada tanggal 6-5-1418 menjelang wafatnya beliau. Barangsiapa yang mengatakan bahwa beliau ruju’ dan menasakh ucapannya ini, maka dia telah berdusta dan haruslah menunjukkan keterangannya. (Lihat Syahadatul Muhimmah dan al-Hatstsu oleh al-‘Allamah al-‘Abbad, melalui perantaraan “lerai Pertikaian”, cet. I, hal. 227.)

[5] Beliau mentazkiyah yayasan ini terakhir kali pada tanggal 25-5-1418 menjelang wafatnya beliau. (lihat “lerai” hal. 227)

[6] Syaikh Fauzan menasehatkan untuk tidak bersikap keras terhadap Jum’iyah ini, tidak mentahdzir-nya dan mencukupkan diri dengan memberikan nasehat dan ucapan yang baik terhadap mereka. Beliau juga memberikan taqdim terhadap kitab al-Mubin li Manhaji Jum’iyah at-Turots al-Kuwaitiyah as-Salafiyah. Beliau hafizhahullahu berkata :

أنا أوصي جميع إخواني وخاصة الشباب والطلبة أن يشتغلوا بطلب العلم الصحيح سواء كانوا في المساجد أو في المدارس أو في المعاهد أو في الكليات أن يشتغلوا بدروسهم وبمصالهم ويتركوا الخوص في هذه الأمور لأنه لا تأتي بخير وليس من المصلحة الدخول فيها…

“Saya wasiatkan kepada seluruh saudara-saudaraku, khususnya kepada para pemuda dan penuntut (ilmu) agar menyibukkan diri dengan menuntut ilmu yang benar, baik di masjid, sekolah, ma’had ataupun di perkuliahan, agar mereka senantiasa menyibukkan diri dengan pelajaran mereka dan kemanfaatan bagi mereka. Juga supaya mereka meninggalkan menyelami pembahasan di dalam perkara ini, karena hal ini tidaklah mendatangkan suatu kebaikan dan tidaklah bermanfaat masuk ke dalam pembahasan ini…” (Muhadhorot fil Aqidah wad Da’wah oleh Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan (III/332); melalui perantaraan Daf’u Zhulm wa Iftiroo`aat Fauzi al-Jadidah oleh DR. Abdullah al-Farsi dalam http://alsaha.fares.net/sahat?128@78.azDzf2mcKjZ.o@.1dd3e122)

[7] Lihat “lerai” hal. 225.

[8] Ibid. hal. 217 dan 225.

[9] Dahulu beliau termasuk orang yang keras mentahdzir Ihya’ut Turots, namun setelah beliau bertemu dengan ulama senior semisal Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan, Syaikh al-Abbad dan Syaikh Shalih bin Ghanim as-Sadlan, beliau akhirnya berubah sikap mau berta’awun dengan yayasan ini. Beliau berkata :

وفضيلة الشيخ الفوزان هو الذي نصحني شخصيا عندما زرته في مكتبة بالإفتاء قبل أكثر من سبعة سنوات و سألته عن سبب تقديمه للكتيب المبين لمنهج جمعية احياء التراث الكويتية السلفية بترك الشدة على الجمعية والتحذير منها والإكتفاء بالنصيحة والقول الحسن معهم. وقد نصحني قبل ذلك أيضا فضيلة الشيخ صالح السدلان وفقه الله ونحن في الطائرة في طريقنا للمشاركة في مؤتمر اسلامي…

“Dan Fadhilatus Syaikh al-Fauzan, beliaulah yang menasehatiku secara pribadi ketika aku mengunjungi beliau di Maktabah (Perpustakaan) al-Ifta’ kurang lebih tujuh tahun yang lalu, dan aku menanyakan kepada beliau sebab beliau memberikan taqdim (kata pengantar) terhadap sebuah kitab kecil yang menjelaskan tentang manhaj Jum’iyah Ihya’ut Turots al-Kuwaitiyah as-Salafiyah, dan beliau menasehatkanku agar meninggalkan kekerasan terhadap jum’iyah dan dari mentahdzirnya serta mencukupkan diri dengan nasehat dan ucapan yang baik terhadap mereka. Aku juga telah dinasehati sebelumnya oleh Fadhilatus Syaikh Sholih as-Sadlan wafaqohullahu dan kami saat itu sedang berada di atas pesawat hendak menuju untuk mengikuti sebuah mu’tamar Islami…” Lihat Daf’u Zhulm (op.cit).

[10] Sebagaimana di dalam risalah beliau Rifqon dan al-Hatstsu.

[11] Rekomendasi terakhir beliau adalah pada tanggal 11-8-1421. lihat “lerai” hal. 224 dan 227.

[12] Rekomendasi terakhir beliau adalah pada tanggal 24-10-1423. (ibid. hal. 224 dan 227).

[13] Ibid. hal. 224

[14] Ibid, hal. 225

[15] Sebagaimana di dalam Daf’u Zhulm (Op.Cit.)

[16] yaitu masalah kondisi yayasan ini yang para ulama berbeda pendapat tentangnya, ada yang menyatakan sebagai yayasan hizbiyah dan haram bekerja sama dengannya secara mutlak, ada yang menvonis hizbi namun tidak mutlak mengharamkan kerja sama dengannya, dan ada pula yang menyatakan kebolehannya secara mutlak dan mentazkiyah-nya

[17] Lihat Bayanud Dalil ‘ala Buthlanit Tahlil karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 210; melalui perantaraan artikel berjudul Qouluhum inna Masa`ilal Khilaf La Inkara Fiha Laysa Bishahih, http://www.dorar.net.

[18] Lihat I’lamul Muwaqqi’in karya Imam Ibnul Qoyyim, Juz III hal. 300; melalui perantaraan (ibid.)

[19] Inilah pendapat yang dipegang oleh para du’at dan asatidzah munshifin, semisal al-Ustadz Abu ‘Auf at-Tamimi dan staf pengajar Ma’had Ali Al-Irsyad as-Salafi, sikap al-Ustadz ‘Aunur Rafiq Ghufran dan staf pengajar Ma’had Al-Furqon al-Islami, sikap al-Ustadz Muhammad Arifin Baderi dan rekan-rekan beliau di Madinah, dan selain mereka. Sikap mereka ini hafizhahumullahu adalah sikap yang wasath dan adil. Yang mana mereka tidak fanatik terhadap salah satu dari dua pendapat ulama yang bersebarangan, antara yang memuji dan mencela.

(Bersambung Bagian 6)

Hajr Ekstrim bagian 4


PENJELASAN TENTANG HAKIKAT SIKAP EKSTRIM
DI DALAM MENGISOLIR DAN MENVONIS BID’AH
Petikan dari ucapan para ulama salafiyin
Bagian IV : Ucapan Para Ulama Tentang Hajr dan Tabdi’ : (Syaikh Shalih as-Suhaimi, Shalih Alu Syaikh, Salim al-Hilali)

اعداد :
أبو سلمى الأثري

Ucapan Fadhilatus SyaikhSholih bin Sa’ad as-Suhaimi

Fadhilatus Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhahullahu berkata di dalam pengajian beliau, Syarh Arba’in Nawawiyah tentang masalah tabdi’ dan hajr sebagai berikut :

فلذلك ينبغى لطلاب العلم أن يفهموا هذه القضية ، بعض طلاب العلم ، إذا أخطأ أخوه أو زميله ووقع فى شىء ربما كان متأولاً أو ناسياً أو جاهلاً قال له : أنا سأهجرك .. أنت كرابيسى .. أنت كرابيسى .. لا اسلم عليك .. لماذا تمشى مع فلان ؟ ولماذا تمشى مع علان ؟ ! وقد وجدنا هذا من صغار الطلبة وللأسف .. الذين يهرفون بما لايعرفون ، وهذا خطأ !

”Maka oleh karena itulah sepatutnya bagi para penuntut ilmu untuk memahami permasalahan ini. Sebagian penuntut ilmu, apabila saudaranya atau temannya bersalah dan terjatuh kepada sesuatu yang seringkali disebabkan oleh ta’wil, lupa ataupun tidak tahu, maka dia berkata kepadanya : ”aku akan menghajrmu… kamu karabisi… kamu karabisi… aku tidak akan mengucapkan salam padamu… kenapa kamu jalan dengan Fulan? Kenapa kamu jalan bersama ’Alan?!” Dan kami dapatkan fenomena ini dari para penuntut ilmu pemula, dan sayangnya… mereka ini mentahrif (merubah) dengan apa yang tidak mereka ketahui. Ini adalah suatu kesalahan!

ارجع إلى المشايخ كبار العلماء ، يفتونك فى الهجر من عدمه ، فقد تقتضى المصلحة عدم الأيش ؟ الهجر أحياناً ، وقد تقتضى الهجر فى مسألة أقل أيش ؟ منها إذا كان يؤمل أن تكون سبباً فى هداية المهجور .. فمسألة الهجر ينظر إليها من زاوية وقاعدة المصالح وأيش ؟ المفاسد ! ….

Kembalilah kepada masyaikh ulama senior, mereka menfatwakanmu tentang hajr berupa ketiadaannya, dan terkadang kemaslahatan itu dituntut dengan ketiadaan apa? Ketiadaan hajr kadang-kadang, dan hajr terkadang dituntut di dalam masalah untuk minimalisir apa? Diantaranya (hajr) digunakan untuk memperoleh sebab orang yang dihajr mendapatkan hidayah… maka masalah hajr diperhatikan koridor dan kaidah maslahatnya, dan apa?… dan mafasid (kerusakannya)!!!

ماينظر إليها من رأيك ولامن من رأيى أنا الخاص وعواطفنا .. لا ياعبدالله وكذلك كلام الشيخ هنا ترى مقيد ، اهجره ثم العنه ، كل هذا مقيد بالجمع بين اقاويل السلف وقبل ذلك الجمع بين نصوص الكتاب والسنة !!

Bukannya diperhatikan dengan fikiranmu, fikiranku secara khusus ataupun perasaan kita… tidak wahai hamba Alloh. Demikian pula dengan ucapan seorang syaikh di sini maka perhatikanlah secara muqoyyad (terikat), (ucapan) ”hajrlah dan kutuklah”, maka semuanya ini muqoyyad dengan cara menghimpun antara ucapan-ucapan salaf dan sebelumnya dengan menghimpun antara al-Kitab dengan as-Sunnah!!

أنا اسألكم سؤالاً .. أيهما أعظم جرماً كعب بن مالك ورفقته أم المنافقين ؟ هل هناك مقارنة ؟ .. لا .. المنافقون ماشأنهم كفار أم مسلمون ؟ .. كفار ! ومع هذا داراهم النبى صلى الله عليه وسلم . والمداراة ليست مداهنة ولاموالاة ، لاتعتبر مداهنة ولاموالاة وإنما تأخير مايقتضى التقديم لمصلحة تعود على الإسلام والمسلمين ،

Aku tanya kalian satu pertanyaan… manakah yang lebih besar dosanya, Ka’ab bin Malik beserta (kedua) sahabatnya ataukah kaum munafikin? Apakah ada perbandingannya?… tidak!!! Kaum munafikin, bagaimana keadaan mereka, kafir ataukah muslim??? Mereka kafir!!! Walaupun demikian Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam tetap bermudarah (bersikap ramah) terhadap mereka. Mudarah bukanlah mudahanah (bersikap baik untuk mencari muka/menjilat) dan muwalah (memberikan loyalitas), (sikap nabi ini) tidak dianggap mudahanah ataupun muwalah, dan sesungguhnya hal ini termasuk mengakhirkan apa yang seharusnya didahulukan untuk suatu kemaslahatan yang akan kembali ke Islam dan kaum muslimin.

فالسكوت على المنافقين فى عهد الرسول صلى الله عليه وسلم ليس مداهنة ، ولامجاملة ولاموالاة وإنما بينت لك المرين وهما أولاً اكتفاء شرهم وأذاهم ، وكذلك ثانياً لئلا يقال أن محمداً يقتل أصحابه …

Maka didiamkannya kaum munafik pada zaman Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bukanlah termasuk mudahanah, mujamalah (berbaik-baik) maupun muwalah. Namun aku jelaskan kepada kalian dua hal (faidahnya), yaitu yang pertama adalah untuk membatasi kejahatan dan gangguan mereka (kaum munafik), dan yang kedua yaitu, supaya tidak dikatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya…”[1]

Ucapan Ma’ali asy-Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Alu Syaikh

Di dalam kaset Nashihatu lisy Syabaab, Ma’ali asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhahullahu ditanya dengan pertanyaan berikut :

السائل : الشيخ بارك الله فيك فيه قضية كَثُر حولها الجدل قضية الهجر، فالسؤال: متى يُهجر المبتدع ومن الذي يحكم بالهجر؟

”Syaikh semoga Alloh memberkahimu, ada sebuah perkara yang di dalamnya banyak sekali perdebatan dan perkara itu adalah perkara hajr. Pertanyaannya : kapankah seorang mubtadi’ perlu dihajr dan siapakah yang berhak dihukumi dengan hajr??”

Syaikh hafizhahullahu menjawab :

الشيخ : ينبغي أن يكون السؤال: ومن هو المبتدع أيضا؟ لأنّ من الذي يحكم بالبدعة أولى من الذي يحكم بالهجر. أما حكم الهجر فهو: الهجر مشروع والنبي صلى الله عليه وسلم هجر الثلاثة الذين خلفوا -كما تعلمون- هجرهم شهرا أو أكثر، فدل على مشروعية الهجر؛ يعني لأجل الدين، لأجل الشرع، لأجل المصلحة الشرعية للمهجور.

”Selayaknya pertanyaannya juga harus menanyakan siapakah mubtadi’ itu, karena siapa yang berhak dihukumi bid’ah lebih utama (ditanyakan) ketimbang siapakah yang berhak dihajr. Adapun hukum hajr adalah disyariatkan, dan nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menghajr tiga orang sahabatnya yang tidak turut berperang –sebagaimana telah kalian ketahui- selama sebulan atau lebih, hal ini menunjukkan disyariatkannya hajr, yaitu demi agama dan demi kemashlahatan syar’i orang yang dihajr.”

Syaikh melanjutkan :

فدل على القاعدة التي قعدها أهل العلم والأئمة من المحققين وقررها شيخ الإسلام ابن تيمية في مواضع بأن الهجر تبع للمصلحة الشرعية، فإنما يهجر من ينتفع بالهجر، وأما من لا ينتفع بالهجر فإنه لا يهجر؛ لأن الهجر تعزير إصلاح، فإذا كان التعزير غير نافع فإنه لا يشرع؛ لأنه عليه الصلاة والسلام لم يهجر الجميع.

”Hal ini menunjukkan suatu kaidah yang ditetapkan oleh para ulama dan para imam muhaqqiqin (peneliti) dan disepakati oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di berbagai tempat (dari kitab-kitab beliau), yaitu bahwasanya hajr itu mengikuti mashlahat syar’iyyah. Maka orang-orang yang bermanfaat dihajr maka perlu dihajr dan yang tidak bermanfaat maka tidak perlu dihajr, karena hajr itu dimaksudkan untuk perbaikan, dan jika hajr tidak berfaidah mendatangkan kemashlahatan maka tidaklah disyariatkan, oleh karena itulah nabi tidak menghajr semua orang (seperti kaum munafikin, dll pent.)”

والهجر قد يكون عمل، قد يكون بقلب، قد يكون بترك السلام، بترك رد السلام، قد يكون بترك دعوته أو استجابة دعوته… إلى آخر ذلك، فهذا مقيد بمن ينتفع به.

”Hajr itu terkadang bisa dalam bentuk amalan, bisa juga dengan hati, atau bisa dengan meninggalkan salam atau meninggalkan menjawab salam, bisa dengan tidak mengundang atau memenuhi undangannya dan selainnya… maka hal-hal ini terikat/tergantung pada manfaat orang yang dihajr.”

المسألة الثانية من الذي يحكم بالبدعة؟ البدعة حكم شرعي، والحكم على من قامت به بأنه مبتدع هذا حكم شرعي غليظ؛ لأن الأحكام الشرعية تبع الأشخاص: الكافر، ويليه المبتدع، ويليه الفاسق، وكل واحدة من هذه إنما يكون الحكم بها لأهل العلم؛ لأنه لا تلازم بين الكفر والكافر، فليس كل من قام به كفر فهو كافر، ثنائية غير متلازمة،

”Masalah kedua, tentang siapakah yang berhak dihukumi (sebagai pelaku) bid’ah? (Menvonis) bid’ah adalah hukum syar’i, dan menvonis orang yang mengamalkan bidah sebagai mubtadi’ adalah hukum syar’i yang berat sekali, karena hukum-hukum syar’iyyah yang menyangkut perseorangan/individu seperti kafir, mubtadi’ dan fasiq, maka tiap-tiap hukum ini adalah haknya ahlu ilmi (ulama). Sesungguhnya tidaklah melazimkan/mengharuskan antara kufur dengan kafir, dan tidaklah amalan kufur itu melazimkan pelakunya menjadi kafir, pasangan (tsanaa’iyyah) tidaklah saling melazimkan/mengharuskan satu dengan lainnya.”

وليس كل من قامت به بدعة فهو مبتدع، وليس كل من فعل فسوقا فهو فاسق بنفس الأمر، قد يُقال إنه كافر ظاهرا باعتبار الظاهر، وفاسق ظاهرا، ومبتدع ظاهرا، لكن هذا لا يعني إطلاق الحكم، فالتقييد بالظاهر غير إطلاق الحكم كما هو مقرر في موضعه.

”Tidaklah setiap orang yang mengamalkan bid’ah maka ia adalah mubtadi’ dan tidaklah setiap orang yang melakukan kefasikan maka ia menjadi fasik. Terkadang dikatakan, sesungguhnya dia kafir secara zhahir dipandang dari zhahirnya, dia fasiq secara zhahir, dia mubtadi’ secara zhahir, namun hal ini tidaklah berarti hukum mutlak, taqyid (mengikat) dengan zhahir tidaklah menghukumi secara mutlak sebagaimana telah ditetapkan pembahasannya.”

فالحكم بالبدعة وبأن قائل هذا القول مبتدع وأن هذا القول بدعة ليس لآحاد من عرف السنة، وإنما هو لأهل العلم؛ لأنه لا يحكم بذلك إلا بعد وجود الشرائط وانتفاء الموانع، وهذه مسألة راجعة إلى أهل الفتوى وأنّ اجتماع الشروط وانتفاء الموانع من صنعة المفتي.

”Menghukumi bid’ah dikarenakan seseorang mengucapkan perkataan ini sebagai mubtadi’ atau ucapan itu sebagai bid’ah bukanlah hak bagi setiap orang yang mengetahui sunnah, namun hal ini adalah haknya ahli ilmu. Karena seseorang tidaklah dihukumi sebagai mubtadi’ melainkan setelah terpenuhinya syarat dan dihilangkannya penghalang, dan masalah ini dikembalikan kepada ahlu fatwa, karena memenuhi syarat dan menghilangkan penghalang adalah tugas seorang mufti…”[2]

Ucapan Fadhilatus Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly

Syaikhuna Salim bin ’Ied al-Hilaly hafizhahullahu berkata ketika menjawab pertanyaan tentang apakah dhowabith (kriteria) di dalam hajr dan tabdi’ :

ضوابط التبديع أولا أن يكون الأمر الذي نحذر منه بدعة الأمر الثاني أن يكون المبتدع مصرا على بدعته ووقع فيها هوى وقصدا فإن كان صاحب البدعة قد وقع في البدعة هوى وقصدا ونصح وأقيمت عليه الحجة وبين له أن هذه بدعة ولم يرجع إلى الحق فهذا الذي نقول مبتدع وليس كل من وقع في البدعة مبتدع وليس كل من وقع في البدعة وقع حكم البدعة عليه لأن أحيانا البدعة قد تقع من عالم اجهادا فيحكم على الفعل أو القول أنه بدعة ولا يحكم على الفاعل أنه مبتدع يكون له أجر خطأ أجر المجتهدين.

”Kriteria di dalam tabdi’ adalah : pertama, haruslah perkara yang kita mentahdzir (memperingatkan) darinya adalah suatu bid’ah (yang jelas). Yang kedua, mubtadi’ (pelaku bid’ah) itu haruslah tetap keras kepala di dalam melakukan kebid’ahannya dan dia melakukannya karena dilatarbelakangi oleh hawa nafsu dan dengan kesengajaan. Apabila seorang pelaku bid’ah melakukan kebid’ahan karena hawa nafsunya dan dengan sengaja, kemudian dia telah dinasehati dan ditegakkan hujjah atasnya, serta diterangkan padanya bahwa amalannya itu adalah bid’ah dan ia tidak mau kembali kepada kebenaran, maka orang yang begini ini kita katakan sebagai mubtadi’. Namun tidaklah setiap orang yang melakukan bid’ah dia adalah mubtadi’ dan tidaklah setiap orang yang melakukan bid’ah maka vonis bid’ah jatuh kepadanya, karena terkadang suatu bid’ah itu jatuh kepada seorang alim yang berijtihad, maka dihukumi perbuatan dan ucapannya sebagai bid’ah namun pelakunya tidaklah dihukumi sebagai mubtadi’. Dan dia mendapatkan pahala atas kesalahannya sebagaimana pahalanya seorang mujtahid.”

وأنا أضرب مثال كان الشيخ رحمه الله يقول أن القبض بعد الرفع من الركوع بدعة طيب من الذي قال بهذا الشيخ أبن باز رحمة الله عليه هل كان الشيخ الألباني يقول عن الشيخ إبن باز مبتدع أو أنه صاحب بدعة كان يقول له أجر المجتهد المخطئ فليس كل من وقع في البدعة وقعت البدعة عليه أو وقع حكم البدعة عليه لا يكون مبتدعا إلا بشرطين الشرط الأول أن يواطئ البدعة الشرط الثاني أن يصر على البدعة مع العلم بها فإذا أصر على البدعة سمي مبتدعا

”Aku contohkan satu misal di sini, dulu syaikh rahimahullahu (maksudnya adalah Imam al-Albani, pent.) berpendapat bahwa bersedekap ketika bangun dari ruku’ adalah bid’ah. Baik! orang yang berpendapat seperti ini adalah asy-Syaikh Ibnu Baz rahmatullah ’alaihi. Lantas, apakah syaikh al-Albani mengatakan bahwa syaikh Ibnu Baz adalah seorang mubtadi’ atau mengatakan beliau adalah seorang pelaku bid’ah? Beliau mengatakan bahwa Syaikh Ibnu Baz mendapatkan pahala sebagai seorang mujtahid yang tersalah, dan tidaklah setiap orang yang jatuh kepada bid’ah maka kebid’ahan jatuh kepadanya atau hukum/vonis bid’ah jatuh kepadanya. (Seseorang) tidak akan terhukumi sebagai mubtadi’ kecuali dengan dua syarat, syarat pertama adalah harus mensepakati bid’ah (atau kebid’ahannya suatu bid’ah yang jelas, pent.), syarat kedua adalah haruslah pelaku melangsungkan kebid’ahannya dimana ia telah mengetahui akan bid’ahnya. Apabila ia tetap bersikeras melangsungkan kebid’ahannya maka orang ini disebut mubtadi’.[3]”

Syaikh Salim al-Hilali juga ditanya tentang apakah kaidah hajr itu, beliau menjawab :

الهجر مبني على المصالح والمفاسد كما حققه كثير من العلماء وعلى رأسهم شيخ الإسلام إبن تيمية مناط الهجر يا إخوة هو المصلحة والمفسدة هذا هو مناط الهجر المفسدة والمصلحة

”Hajr itu dibangun di atas (pertimbangan) mashlahat dan mafsadat (kerusakan)-nya sebagaimana telah ditetapkan oleh mayoritas para ulama, dan yang paling utama di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Poros/pusatnya hajr wahai saudara sekalian adalah mashlahat mafsadat, dan inilah dia yang merupakan porosnya hajr yaitu mafsadat dan mashlahatnya…[4]”

Sebenarnya masih banyak lagi ucapan masyaikh Ahlus Sunnah Salafiyin tentang masalah ini. Namun apa yang tersebut di atas sudah cukup untuk merepresentasikan sikap dan pendapat para ulama Ahlus Sunnah di dalam masalah hajr dan tabdi’ ini.

Faidah Penting

Faidah yang dapat dipetik dari nasehat masyaikh di atas dan kaidah utama ahlus sunnah dalam perkara ini adalah :
1. Menvonis orang lain dengan mubtadi’, fasik dan kafir merupakan hak Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu di dalam tabdi’ haruslah berpedoman pada firman Alloh dan sabda Rasul-Nya, kemudian kepada para ulama Robbani sebagai pewaris nabi.
2. Hajr (boikot/isolir) terkait erat dengan mashlahat yang terkandung di dalamnya. Jika tidak bermashlahat dan madharatnya lebih besar maka tidak diterapkan. Jika mashlahat-nya lebih besar maka diterapkan sesuai dengan keadaan dan kondisinya.
3. Tidaklah setiap orang yang jatuh kepada amalan bid’ah secara otomatis orang tersebut menjadi mubtadi’.
4. Tabdi’ dan hajr adalah wewenang ahlul ilmi setelah terpenuhinya syarat dan hilangnya penghalang.
5. Tidak ada hajr dan tabdi’ terhadap perselisihan sesama ahlus sunnah di dalam perkara ijtihadiyah. Yang ada hanyalah nasehat dan pengingkaran yang baik, ilmiah dan beradab.
6. Ulama telah berijma’ (konsensus) bahwa mubtadi’ itu perlu dihajr. Namun ini tidak mutlak dan perlu dilihat mashlahat dan madharatnya, situasi dan kondisi Penghajr, yang dihajr dan jenis pelanggaran kebid’ahannya.
7. Hajr dan Tabdi’ adalah syariat Islam yang mulia. Tidaklah layak digunakan sebagai ambisi pribadi untuk urusan duniawi atau atas dasar hasad, dengki dan iri hati, atau karena tujuan-tujuan yang hina dina.
8. Tidaklah mengapa menyandarkan suatu ucapan atau perkataan dengan bid’ah apabila memang benar bid’ah, namun tidak otomatis menvonis pelakunya sebagai mubtadi’. Karena hukum terhadap fi’il (perbuatan) tidak mengharuskan hukum terhadap fa’il (pelaku) pula.
9. Nasehat dan diskusi yang baik adalah lebih didahulukan daripada tahdzir, hajr apalagi tabdi’. Terutama kepada sesama ahlus sunnah.
10. Tidak selayaknya di antara du’at terjadi hajr apalagi tabdi’ hanya karena permasalahan perbedaan ushlub dakwah yang tidak menyebabkan keluar dari lingkaran Ahlus Sunnah.
11. Menghajr suatu kebid’ahan atau pelaku bid’ah dapat dilakukan dengan perbuatan, ucapan ataupun dengan hati, menurut kadar kemampuan dan melihat situasi dan kondisi serta mashlahat dan madharatnya.
Dan masih banyak lagi faidah yang dapat dipetik dari ucapan para ulama dan masyaikh di atas, namun yang sedikit ini semoga telah mencukupi.

——————————————————————————–

[1] Pengajian Syarh Arba’in an-Nawawiyah oleh Fadhilatus Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi; dinukil dari Muntadiyat al-Barq as-Salafiyah.

[2] lihat : Masa`il fil Hajri wa maa yata’allaqu bihi : Majmu’atu min ba’dli asyrithoti asy-Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Ali Syaikh, I’dad : Salim al-Jaza`iri, download dari http://www.sahab.org

[3] Dinukil dari Tanya Jawab di dalam http://www.islam-future.net (website resmi Syaikh Salim bin Ied al-Hilali).

[4] Ibid.

(Bersambung Bagian 5)

Hajr Ekstrim bagian 3


PENJELASAN TENTANG HAKIKAT SIKAP EKSTRIM
DI DALAM MENGISOLIR DAN MENVONIS BID’AH
Petikan dari ucapan para ulama salafiyin
Bagian III : Ucapan Para Ulama Tentang Hajr dan Tabdi’ : (Syaikh Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnu Utsaimin, Muqbil al-Wadi’i)

اعداد :أبو سلمى الأثري

Ucapan Samahatul Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz

Samahatul Imam Abdullah bin Abdil Aziz bin Bazz rahimahullahu ditanya tentang bagaimana sikap seorang muslim yang berada di atas sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ia memiliki hubungan erat (nasab) dengan kelompok yang mengamalkan bid’ah seperti menambah lafazh adzan dengan asyhadu anna ‘Aliyya waliyyullah dan hayya ‘ala khayril ‘amal, mereka juga mengatakan bahwa keturunan Muhammad dan Ali adalah sebaik-baik keturunan, serta melakukan aqiqoh bid’ah di saat ada kerabat yang meninggal dengan memotong domba dan tidak menghancurkan tulangnya, namun tulang dan kotorannya dikuburkan dengan anggapan hal ini adalah baik dan wajib diamalkan. Kemudian beliau rahimahullahu juga ditanya apakah boleh menikahi mereka, berlemah lembut dengan mereka, menghadiri walimah-walimah mereka padahal mereka menunjukkan aqidah mereka secara terang-terangan dan mereka mengklaim bahwa mereka adalah al-Firqoh an-Najiyah dan selain mereka adalah di atas kebatilan.Syaikh rahimahullahu pertama menjawab tentang bid’ahnya lafazh adzan dan aqiqoh bid’ah di atas, kemudian beliau menjawab tentang bagaimana sikap muslim yang berada di atas sunnah di dalam mensikapi mereka sebagai berikut :

وأما قول السائل ما موقف المسلم الذي على السنة المحمدية وله بهذه الطائفة رابطة نسب هل يوادهم بمعنى يكرمهم ويكرمونه ويتزوج منهم ويزوجهم مع العلم بأنهم يجاهرون بعقيدتهم ويقولون إنهم الفرقة الناجية وأنهم على الحق ونحن على الباطل . . ؟

”Adapun pertanyaan penanya bagaimana sikap seorang muslim yang berada di atas Sunnah al-Muhammadiyah sedangkan dia dengan kelompok ini memiliki ikatan darah (nasab), apakah ia (perlu) menyayangi mereka dengan artian memuliakan mereka sehingga mereka juga turut memuliakannya, dan menikahi (wanita) dari kalangan mereka serta menikahkan mereka, padahal telah diketahui bahwa mereka menampakkan aqidah mereka secara terang-terangan dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah al-Firqoh an-Najiyah dan mereka (mengklaim) berada di atas kebenaran sedangkan kita di atas kebatilan…?”

والجواب : إذا كانت عقيدتهم هي ما تقدم في الأسئلة مع موافقة أهل السنة في توحيد الله سبحانه وإخلاص العبادة لله وعدم الشرك به لا بأهل البيت ولا بغيرهم فلا مانع من تزويجهم والتزوج منهم وأكل ذبائحهم والمشاركة في ولائمهم وموادتهم على قدر ما معهم من الحق وبغضهم على قدر ما معهم من الباطل؛ لأنهم مسلمون قد اقترفوا أشياء من البدع والمعاصي لا تخرجهم من دائرة الإسلام

”Maka jawabnya : Jika aqidah mereka adalah sebagaimana yang dikemukakan di dalam pertanyaan sebelumnya, (yaitu) tetap mensepakati ahlus sunnah di dalam tauhidullah subhanahu wa Ta’ala dan mengkihlaskan ibadah hanya untuk-Nya semata tanpa mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun baik dengan ahlul bait atau selainnya, maka tidaklah mengapa menikahkan mereka dan menikah dengan mereka, memakan sembelihan mereka dan berkumpul (menghadiri) di walimah-walimah mereka. Kita menyayangi mereka sebatas kebenaran yang ada pada mereka dan kita membenci terhadap kebatilan yang mereka miliki, karena sesungguhnya mereka adalah kaum muslimin yang terhimpun pada mereka sesuatu dari kebid’ahan dan kemaksiatan yang tidak sampai mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam.”

وتجب نصيحتهم وتوجيههم إلى السنة والحق وتحذيرهم من البدع والمعاصي فإن استقاموا وقبلوا النصيحة فالحمد لله وهذا هو المطلوب ، أما إن أصروا على البدع المذكورة في الأسئلة فإنه يجب هجرهم وعدم المشاركة في ولائمهم حتى يتوبوا إلى الله ويتركوا البدع والمنكرات كما هجر النبي صلى الله عليه وسلم كعب بن مالك الأنصاري وصاحبيه لما تخلفوا عن غزوة تبوك بغير عذر شرعي

”Maka wajib menasehati dan mengarahkan mereka kepada as-Sunnah dan al-Haq, serta memperingatkan mereka dari kebid’ahan dan kemaksiatan. Jika mereka berlaku lurus dan menerima nasehat, falhamdulillah, maka inilah yang dituju/dikehendaki. Jika mereka masih bersikeras dengan bid’ah-bid’ah yang disebutkan di pertanyaan tadi, maka wajib menghajr mereka dan tidak boleh menghadiri walimah-walimah mereka hingga mereka mau bertaubat kepada Allah dan meninggalkan kebid’ahan dan kemungkaran. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam menghajr Ka’ab bin Malik al-Anshari dan dua orang rekannya yang tidak turut berperang di perang Tabuk tanpa udzur syar’i.”

وإذا رأى قريبهم أو مجاورهم أن عدم الهجر أصلح وأن الاختلاط بهم ونصيحتهم أكثر فائدة في الدين وأقرب إلى قبولهم الحق فلا مانع من ترك الهجر؛ لأن المقصود من الهجر هو توجيههم إلى الخير وإشعارهم بعدم الرضا بما هم عليه من المنكر ليرجعوا عن ذلك

”Namun jika seseorang memandang bahwa tidak menghajr teman atau tetangganya adalah lebih bermashlahat dan bercampur dengan mereka serta menasehati mereka lebih dekat dengan penerimaan mereka kepada kebenaran, maka tidak terlarang meninggalkan hajr. Karena tujuan dari hajr adalah mengarahkan mereka kepada kebaikan atau mensyiarkan ketidakridhaan terhadap kemungkaran agar mereka mau kembali (ruju’) dari kemungkaran tersebut.”

فإذا كان الهجر يضر المصلحة الإسلامية ويزيدهم تمسكا بباطلهم ونفرة من أهل الحق كان تركه أصلح كما ترك النبي صلى الله عليه وسلم هجر عبد الله بن أبي بن سلول رأس المنافقين لما كان ترك هجره أصلح للمسلمين

”Jika sekiranya hajr akan merusak mashlahat Islami dan semakin menambah mereka untuk berpegang dengan kebatilan dan mereka lari dari ahlul haq, maka meninggalkan hajr lebih bermashlahat, sebagaimana nabi meninggalkan hajr kepada Abdullah bin Ubai bin Salul, pimpinan kaum munafikin, yang mana ketika nabi tidak menghajrnya adalah demi kemashlahatan kaum muslimin.”

أما إن كانت هذه الطائفة تعبد أهل البيت كعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم أو غيرهم من أهل البيت بدعائهم والاستغاثة بهم وطلبهم المدد ونحو ذلك ، أو كانت تعتقد أنهم يعلمون الغيب أو نحو ذلك مما يوجب خروجهم من الإسلام ، فإنهم والحال ما ذكر لا يجوز مناكحتهم ولا مودتهم ولا أكل ذبائحهم بل يجب بغضهم والبراءة منهم حتى يؤمنوا بالله وحده …

”Namun, jika kelompok ini menyembah ahlul bait seperti Ali, Fathimah, Husain atau Hasan Radhiyallohu ’anhum, atau mempersembahkan do’a kepada mereka, beristighotsah dan memohon pertolongan atau semacamnya kepada mereka, atau meyakini bahwa mereka mengetahui perkara yang ghaib atau semacamnya dari amalan-amalan yang mewajibkan pelakunya keluar dari Islam. Maka sesungguhnya mereka dan perkara-perkara yang disebutkan (di atas) menyebabkan tidak boleh menikahi mereka, tidak pula mengasihi mereka, tidak memakan sembelihan mereka, bahkan wajib membenci dan berlepas diri dari mereka, hingga mereka beriman kepada Allah Ta’ala semata…”

Lantas syaikh menyebutkan dalil-dalil pengharaman syirik, dan beliau rahimahullahu melanjutkan jawabannya :

أما قول هذه الطائفة أنهم الفرقة الناجية وأنهم على الحق وغيرهم على الباطل فالجواب عنه أن يقال : ليس كل من ادعى شيئا تسلم له دعواه بل لا بد من البرهان الذي يصدق دعواه كما قال الله سبحانه : قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ …

“Adapun klaim mereka bahwa mereka adalah al-Firqoh an-Najiyah dan merekalah yang berada di atas kebenaran, dan orang-orang selain mereka adalah berada di atas kebatilan. Maka jawabannya adalah : tidaklah setiap orang yang mengklaim sesuatu maka klaimnya telah bebas/selamat, namun haruslah klaim itu disertai burhan (bukti-bukti yang nyata) yang mendukung klaimnya. Sebagaimana firman Allah sunhanahu : “Katakanlah, datangkan bukti-buktimu jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS al-Baqoroh : 111)…” dst hingga akhir jawaban beliau…[1]

Ucapan Muhadditsul Ashr al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani

Samahatul Imam, Muhaddits al-Ashr, Muhammad Nashirudin al-Albany rahimahullahu berkata di dalam mendefinisikan siapakah mubtadi’ itu sebagai berikut :

أثر أبي هريرة رضي الله عنه يصلح أن يكون مثالاً عن أنَّ وقوع العالم في بدعة لا يعني أنه مبتدع, وأنَّ وقوع العالم في ارتكاب محرّم أي القول في إباحة ما هو محرم اجتهادًا منه لا يعني أنه ارتكب محرما. فأقول : أثر أبي هريرة رضي الله عنه هذا الذي ينصّ على أنّه كان يقوم يوم الجمعة قبل الصلاة يعظ الناس, يصلح بأن يكون مثالاً صالحاً, كون البدعة قد تقع من عالم وليس مع ذلك أنه مبتدع.

“Atsar Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu sesuai untuk dijadikan sebagai contoh dari permasalahan bahwa jatuhnya seorang alim ke dalam kebid’ahan tidak otomatis menjadikannya mubtadi’. Dan jatuhnya seorang alim ke dalam perbuatan haram yaitu dengan berpendapat tentang bolehnya sesuatu yang haram karena hasil ijtihadnya maka tidak otomatis menyebabkannya sebagai pelaku keharaman. Aku katakan, atsar Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu ini yang menashkan/menunjukkan bahwa beliau berdiri pada hari Jum’at sebelum sholat, memberikan nasehat kepada manusia, merupakan contoh tepat yang sesuai, bahwasanya terkadang bid’ah itu dilakukan oleh seorang yang alim namun tidaklah menjadikannya sebagai mubtadi’ begitu saja.”

وقبل الخوض في تمام الجواب أقول : المبتدع هو أولا الذي من عادته الابتداع في الدين, وليس الذي يبتدع بدعة ولو كان هو فعلا ليس عن اجتهاد وإنما عن هوى, مع هذا لا يسمى مبتدعاً. وأوضه مثال لتقريب هذا المثال, أن الحاكم الظالم قد يعدل في بعض أحكامه فلا يقال فيه عادل, كما أن العادل قد يظلم في بعض أحكامه فلا يقال فيه ظالم, وهذا يؤكد القاعدة الإسلامية الفقهية أن الإنسان بما يغلب عليه من خير أو شر إذا عرفنا هذه الحقيقة عرفنا من هو المبتدع.

”Sebelum masuk lebih mendalam kepada jawaban, aku katakan : pertama, mubtadi’ itu adalah orang yang kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama. Dan tidaklah orang yang melakukan kebid’ahan walaupun ia melakukannya bukan dari ijtihadnya tetapi dari hawa nafsunya, namun walau demikian ia tidak dikatakan sebagai mubtadi’. Aku terangkan sebuah contoh yang mirip dengan contoh ini, seorang hakim yang zhalim, terkadang berlaku adil dalam sebagian keputusannya namun dia tidaklah dikatakan sebagai hakim yang adil, sebagaimana juga hakim yang adil terkadang melakukan kezhaliman pada sebagian keputusannya namun dia tidak dikatakan sebagai hakim yang zhalim. Hal ini menyokong suatu kaidah fikih islami bahwasanya seseorang itu dihukumi dari kebaikan dan keburukan yang dominan pada dirinya, apabila kita telah mengetahui realita ini niscaya kita mengetahui siapakah mubtadi’ itu.”

فيشترط إذن في المبتدع شرطان : أولاً : أن لا يكون مجتهدا وإنما يكون متّبعاً للهوى, والثاني : أن يكون ذلك من عادته ومن دينه.

”Kalau begitu, disyaratkan bagi mubtadi’ itu dua syarat, yaitu : pertama, dia bukanlah termasuk mujtahid namun ia adalah pengikut hawa nafsu, dan kedua yaitu, dia tidaklah melakukannya sebagai kebiasaannya atau sebagai bagian dari agamanya.[2]”

Samahatul Imam juga ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut :

السائل : هل صحيح أن هجر المبتدعة في هذا الزمان لا يطبق؟

“Apakah benar bahwa menghajr ahli bid’ah di zaman ini tidak tepat untuk diimplementasikan?”

Samahatul Imam rahimahullahu menjawab :

هو يريد أن يقول لا يحسن أن يطبق, هل صحيح لا يطبق؟ هو لا يطبق لأنه المبتدعة و الفساق والفجار هم الغالبون, ولكن هو يريد أن يقول لا يحسن أن يطبق, وهو كأنه السائل يعنيني أولا يعنيني. فأقول: نعم, هو كذلك, لا يحسن أن يطبق, وقد قلت هذا صراحة آنفا حينما ضربت المثل الشامي: أنت مسكّر وأنا مبطّل.

“Dia (penanya) bermaksud mengatakan bahwa praktek hajr tidak layak untuk diterapkan, apakah benar tidak layak diterapkan? Yang benar adalah praktek hajr memang tidak diterapkan karena mubtadi’, orang-orang fasik dan fajir (durhaka) adalah dominan di zaman ini. Akan tetapi dia (penanya) ingin mengatakan tidak layak untuk diimplementasikan. Dan penanya seakan-akan memaksudkanku dengan pertanyaannya ataukah tidak memaksudkanku. Maka aku katakan, “iya” keadaannya adalah demikian, tidak layak untuk diterapkan. Saya telah mengatakannya dengan jelas tadi ketika aku membuat permisalan tentang pepatah Syaami (orang Syam) : “Kamu menutup (pintu masjid) maka aku tidak jadi sholat.”[3]

Beliau rahimahullahu ditanya kembali :

السائل : لكن مثلاً إذا وجدت بيئة, الغالب في هذه البيئة أهل السنة مثلاً, ثم وجدت بعض النوابت ابتدعوا في دين الله عزّ وجل, فهنا يطبق أم لا يطبق؟

“Tapi (wahai syaikh), misalkan ada sebuah lingkungan, dan yang dominan di lingkungan ini adalah ahlus sunnah misalnya, kemudian ditemukan ada sekelompok orang yang berbuat bid’ah di dalam agama Alloh Azza wa Jalla, maka apakah (hajr) diterapkan ataukan tidak?”

Beliau rahimahullahu menjawab :

يجب هنا استعمال الحكمة, هذه الفئة الظاهرة القوية, هل إذا قاطعت الفئة المنحرفة عن الجماعة, يعود الكلام سابق هل ذلك ينفع الطائفة المتمسكة أم يضّرها, هذا من جهتهم, ثمّ هل ينفع المقاطعين والمهجورين من الطائفة المنصورة أم يضّرهم, هذا سبق جوابه كذلك. يعني لا ينبغي أن تأخذ مثل هذه الأمور بالحماس وبالعاطفة وإنما بالروية والأناة و الحكمة…

“Yang wajib adalah kita harus menggunakan hikmah. Jika kelompok yang lebih kuat yang mayoritas yang meng­hajr kelompok yang menyeleweng –kita kembalikan kepada pembahasan yang telah lalu- apakah hal ini akan memberikan manfaat pada kelompok yang berpegang pada kebenaran ataukah malah akan mencederai (memudharatkan)nya? Ini dari satu sisi. Kemudian dari sisi lain apakah hajr yang diterapkan oleh ath-Thaifah al-Manshurah bermanfaat bagi kelompok yang di­hajr atau justru menimbulkan mudharat bagi mereka. Jawabannya telah lalu, yaitu tidaklah patut dalam permasalahan seperti ini kita mengambil sikap dengan semangat dan perasaan belaka, namun seharusnya dengan sikap hati-hati, tenang (tidak gegabah) dan penuh hikmah…”[4]

Ucapan Faqiihuz Zaman Samahatus SyaikhMuhammad Sholih al-Utsaimin

Samahatul Imam, Faqiihuz Zaman, Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullahu berkata :

فإذا كان في الهجر من فعل معصية لترك واجب أو فعل محرم فائدة فإنه يهجر حتى تتحقق الفائدة ، وأما من كان هجره لا يفيد شيئاً بل لا يزيد الأمر إلا شدة وإلا بعداً عن أهل الخير فلا يهجر ، لأن الشرع جاء بالمصالح وليس بالمفاسد ، فإذا علمنا أننا لو هجرنا هذا العاصي لم يزدد إلا شراً وكراهة لنا وكراهة ما معنا من الخير ، فإننا لا نهجره ، نسلم عليه ونرد عليه السلام لأنه وإن عصى الله ، والمؤمن لا يهجر فوق ثلاث ، هذا هو الحكم فيما يتعلق بالهجر ،

”Apabila menghajr orang yang melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban atau berbuat kemaksiatan memberikan faidah, maka dia (perlu) dihajr hingga dapat mewujudkan faidah. Akan tetapi orang yang hajrnya tidak membuahkan faidah sedikitpun, namun malah menambah keras kepala dan menjauh dari kebenaran, maka janganlah dihajr. Karena syariat itu datang dengan membawa kemashlahatan bukan kerusakan. Apabila kita telah tahu bahwa apabila kita menerapkan hajr pada kemaksiatan ini tidaklah menambah melainkan keburukan, kebencian terhadap kita dan kebencian terhadap apa yang kita bawa berupa kebaikan, maka kita jangan menghajrnya. Kita ucapkan salam padanya dan kita jawab salamnya. Karena, walaupun dia telah bermaksiat kepada Alloh, seorang mukmin itu tidaklah dihajr lebih dari tiga hari. Inilah hukum yang berkaitan dengan hajr.

وفي النهاية يسوءني أن أحد المسلمين اليوم يمر بعضهم ببعض لا يسلم أحدهم على الآخر ، يتلاقيان يضرب كتف أحدهما كتف الآخر لا يسلم عليه وكأنما مر بجيفة أو يهودي أو نصراني ، مع أنهم أخوه ، ومع هذا إذا سلم عليه ماذا يستفيد ؟ عشر حسنات نقداً ، إيمان ، محبة ، ألفة ، دخول الجنة .قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( والله لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أفلا أخبركم بشئ إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم ) فبين أن إفشاء السلام من أسباب المحبة من الإيمان والإيمان سبب لدخول الجنة

”(Keadaan) akhir-akhir ini sungguh mengecewakanku, bahwasanya ada seorang muslim pada hari ini, mereka berlalu melewati sebagian lainnya namun tidak saling mengucapkan salam antar satu dengan lainnya, seakan-akan mereka berlalu dengan ketakutan atau seakan-akan mereka melewati orang Yahudi atau Nasrani, padahal mereka adalah saudaranya, padahal apabila dia mengucapkan salam, apa faidah yang dapat ia peroleh? (dia akan memperoleh) sepuluh kebaikan secara sempurna, keimanan, kecintaan, keterpaduan dan masuk ke dalam surga. Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

والله لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا أفلا أخبركم بشئ إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم

”Demi Alloh, kalian tidak bakal masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku beritakan dengan sesuatu amalan yang apabila kalian laksanakan maka kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkan salam di tengah-tengah kalian.”

Beliau menjelaskan bahwa menyebarkan salam termasuk sebab-sebab yang dapat menghantarkan kepada kecintaan dan keimanan, sedangkan keimanan itu merupakan sebab masuk ke dalam surga.

ويؤسفنا جداً أن نرى مسلمين يلتقي بعضهم ببعض ولا يسلم ، بل ربما كانا أخوين زميلين في الدراسة ، سواء في دراسة المسجد أو في دراسة الكلية أو المعهد أو المدارس الأخرى ، لا يسلم بعضهم على بعض إذاً ما فائدة العلم ؟ ما فائدة طلب العلم ؟إذا لم يتربَّ طالب العلم بالتربية الحسنة التي دل عليها الكتاب والسنة ،

Sungguh sangat menyedihkan sekali, kami melihat kaum muslimin bertemu antara satu dengan lainnya namun tidak saling mengucapkan salam. Bahkan betapa banyak dua orang bersaudara yang berteman baik di suatu sekolah, baik di Masjid, perkuliahan, ma’had ataupun sekolahan lainnya, mereka tidak saling mengucapkan salam antara satu dengan lainnya. Lantas, apa manfaatnya ilmu?!! Apa faidahnya menuntut ilmu?!! Apabila tidak berimplikasi sama sekali terhadap seorang penuntut ilmu pendidikan yang baik, yang telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

وكان عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم فما الفائدة من التعليم فهو والجاهل سواء ، إن لم يكن الجاهل خيراً منه ، ولهذا احثكم على إفشاء السلام لفوائدة العظيمة ، وهو لايضر ، لأنه عمل اللسان ، واللسان لو يعمل من الصباح إلى الغروب ما كلَّ ولا ملَّ فنسأل الله لنا ولكم الهداية والتوفيق والعصمة والتوبة إنه على كل شئ قدير .

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam telah mewajibkan untuk menuntut ilmu, lantas apa faidahnya belajar apabila dirinya dengan orang bodoh itu sama saja?!! Kalau tidak demikian maka orang bodoh itu lebih baik baginya. Oleh karena itu, aku anjurkan kalian semua untuk menyebarkan salam agar memperolah faidah yang agung, dan hal ini (menyebarkan salam) tidaklah membahayakan, dikarenakan hal ini merupakan perbuatan lisan, dan lisan apabila dipergunakan dari pagi hari sampai sore, tidak bakal habis dan berkurang. Kami memohon kepada Alloh hidayah, taufiq, keterpeliharaan dan taubat bagi diri kami dan kalian, sesungguhnya Dia atas yang demikian ini adalah Maha Mampu.”[5]

Syaikh rahimahullahu juga berkata :

فكل مؤمن وإن كان فاسقاً فإنه يحرم هجره ما لم يكن في الهجر مصلحة ، فإذا كان في الهجر مصلحة هجرناه ، لأن الهجر حينئذ دواء ، أما إذا لم يكن فيه مصلحة أو كان فيه زيادة في المعصية والعتو ، فإن مالا مصلحة فيه تركه هو المصلحة .

”Maka setiap mukmin, walaupun ia seorang yang fasiq, haram menghajrnya selama tidak mendatangkan faidah. Namun jika bermashlahat maka kita lakukan. Karena hajr adalah obat, jika hajr tidak mempunyai mashlahat atau justru malah menambah kemaksiatan dan kedurhakaan, maka sesuatu yang tidak bermashlahat meninggalkannya adalah suatu mashlahat pula.[6]

Ucapan Muhaddits Yaman al-’Allamah asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i

Berkata asy-Syaikh al-’Allamah al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullahu ketika ditanya tentang kriteria di dalam menghajr :

الحمد لله رب العالمين وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أما بعد:

”Segala puji hanyalah milik Alloh Pemelihara alam semesta, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan para sahabatnya seluruhya. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq selain Alloh semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du :

فالهجر : هجر المسلم يعتبر من الكبائر والرسول صلى الله عليه وسلم يقول : ( لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث ) نعم ويقول أيضاً :( إن الله سبحانه وتعالى يغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن فيقول انظروا هذين حتى يصطلحا ) فهجر المسلم يعتبر من الكبائر ،

Hajr (dalam artian) menghajr seorang muslim itu termasuk dosa besar, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث

”Tidak halal bagi seorang muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari.”

Dan sabda beliau pula :

إن الله سبحانه وتعالى يغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن فيقول انظروا هذين حتى يصطلحا

”Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bertikai. Lantas beliau berkata : perhatikanlah dua perkara ini sampai keduanya terbebas”

Maka menghajr seorang muslim itu termasuk dosa besar.

وقد وقع مع النبي صلى الله عليه وسلم أن هجر الثلاثة الذين خلفوا عن غزوة تبوك هجرهم نحو خمسين ليلة وهكذا أيضاً هجر نساءه عند أن تظاهرن عليه وطلبن منه النفقة فيما لا يقدر عليه هجرهن شهراً ثم بعد ذلك أمره الله أن يخيرهن بين البقاء معه وبين الفراق ( يا أيها النبي قل لأزواجك إن كنتن تردن الحياة الدنيا وزينتها فتعالين أمتعكن وأسرحكن سراحاً جميلاُ وإن كنتن تردن الله ورسوله والدار الآخرة فإن الله أعد للمحسنات منكنَّ أجراً عظيماً )

Terjadi di zaman Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bahwasanya beliau menghajr tiga orang yang tidak turut dalam perang Tabuk, beliau menghajr mereka selama 50 malam. Beliau juga meng­hajr isteri-isteri beliau tatkala mereka membangkang dari beliau dan menuntut harta kepada nabi yang tidak beliau sanggupi, beliau hajr mereka selama sebulan, kemudian setelah itu beliau memberikan pilihan kepada mereka antara tetap bersama beliau ataukah perceraian.

يا أيها النبي قل لأزواجك إن كنتن تردن الحياة الدنيا وزينتها فتعالين أمتعكن وأسرحكن سراحاً جميلاُ وإن كنتن تردن الله ورسوله والدار الآخرة فإن الله أعد للمحسنات منكنَّ أجراً عظيماً

”Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, Maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan Aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (al-Ahzab : 28-29)

Beliau rahimahullahu lalu melanjutkan perkataannya :

فالهجر الذي وقع من النبي صلى الله عليه سلم قليل وقليل ، فلا ينبغي لكل من رأي منه تقصيراً أن تهجره فإن النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ( حق المسلم على المسلم خمس ومنها إذا لقيتها فسلم عليه ) والهجر في هذا الزمن وفي غير هذا الزمن لابد أن لا يكون شهوة . بينك وبين صاحبك خصام قلت : أنا أهجرك لله ، لكن لو فتشت نفسك وأنصفت لكان الهجر لأجل نفسك فلا يكون لحظ النفس

Hajr yang terjadi dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam sangatlah sedikit dan sedikit. Maka tidaklah sepatutnya bagi setiap orang yang ia melihat ada kekurangan pada seseorang lantas kamu menghajrnya, karena Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

حق المسلم على المسلم خمس ومنها إذا لقيتها فسلم عليه

”Hak muslim yang satu dengan muslim lainnya ada lima, diantaranya apabila bertemu maka ucapkan salam padanya.”

Hajr di zaman ini dan selain zaman ini, haruslah tidak boleh atas dasar syahwat (hawa nafsu). Jika ada permusuhan antara dirimu dengan temanmu, kamu berkata : ”aku menghajrmu karena Alloh” akan tetapi jika kau tilik dirimu dan kau berlaku adil maka sesungguhnya hajr itu adalah untuk dirimu bukan untuk kebahagian diri.

تهجر لله سبحانه وتعالى فمثلاً ولدك أو أخوك أو جارك أخوك في الله هجرته وما شعرت إلا وقد انحرف ، أو ذهب إلى الشيوعين ، أو إلى غيرهم ، وأنت تعتبر آثماً وأنت المتسبب في انحرافه ، فلا بد أن تنظر المصلحة ، مثلاً إذا هجرت ولدك يوماً أو يومين وهو محتاج إليك ، وسيرجع وأنت متأكد أنه سيرجع ، أما إذا كان سيخطفه الخربيون ، أو كان سيضيع ويميع في الشوارع ، فعليك أن تصبر عليه وتدعو الله له بالهداية ، فإن دعوتك بإذن الله مستجابة تدعو الله أن يهديه

Kamu menghajr karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala, misalnya anakmu, atau saudaramu, atau tetangga saudaramu, menghajrnya di jalan Alloh, dan tidaklah kamu rasakan melainkan tambah menyimpang, atau berubah menjadi sosialis atau selainnnya, maka kamu menjadi dosa dan menjadi sebab atas penyimpangannya. Maka haruslah kamu perhatikan maslahatnya. Misalnya apabila kamu hajr anakmu sehari atau dua hari sedangkan ia butuh kepadamu dan dia akan kembali (taubat) maka kamu harus yakin bahwa dia bakal kembali. Adapun jika hizbiyun akan merenggutnya, atau dia akan menyia-nyiakan dan meremehkan syariat, maka kamu wajib bersabar atasnya dan do’akan baginya hidayah dari Alloh, karena do’amu dengan izin Alloh adalah mustajabah, maka berdo’alah kepada Alloh supaya Ia memberinya hidayah.

نعم أنصحكم أن لا تحضروا محاضرة المبتدعة من حزبيين ، ومن غيرهم لماذا ؟ لأنهم يبثون السموم فيها شعرتم أو لم تشعروا ، أما إذا لقيته في الطريق فالسلام عليكم ، وعليكم السلام ، وإذا صافحك فصافحه ، لكن من أجل سلامة قلوبكم والمحافظة على قلوبكم من الشبه أنصحكم أن لا تحضروا محاضرات المبتدعة سواء كانوا حزبيين أم غيرهم ، نعم من أجل المحافظة على سلامة القلوب فإن أحدكم ربما يخرج على سيارته من صنعاء إلى حضرموت وليس له إلا أن يدعو إلى حزبه المغلف ، أو إلى حزبه الظاهر والله المستعان .

Iya, aku nasehatkan kalian untuk tidak menghadiri pengajiannya mubtadi’, baik dari kaum hizbiyin ataupun selain mereka, kenapa? Karena mereka akan menancapkan bisa beracunnya baik kamu rasakan maupun tidak kamu rasakan. Adapun apabila kamu bertemu dengannya di jalan, maka ucapkan assalamu’alaykum, wa’alaykumus salam, apabila dia mengajakmu bersalaman maka bersalamanlah dengannya. Akan tetapi, dalam rangka untuk keselamatan hati kalian dan menjaga hati kalian dari syubuhat, maka aku nasehatkan kalian supaya tidak menghadiri pengajian mubtadi’, baik mereka dari hizbiyin ataupun selainnya. Iya, dalam rangka untuk menjaga keselamatan hati. Karena sesungguhnya, betapa banyak salah seorang diantara kalian keluar melakukan perjalanan dari Shon’a menuju Hadhromaut, tidak ada yang mengajak dirinya melainkan orang yang mengajak kepada partainya yang tertutup (tersembunyi) atau kepada partainya yang tampak, Dan hanya kepada Alloh kita memohon pertolongan.”[7]

——————————————————————————–

[1] Lihat : al-Ajwibah al-Mufiidah ‘an Ba’dli Masa`ilil Aqidah oleh al-Imam Abdul Aziz bin Baz, diterbitkan oleh : Ri`aasah al-idaaroh al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Iftaa’, cet. III, 1422/2002, Riyadh, hal. 25-31.

[2] Dari kaset Man Huwa al-Mubtadi’, Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shoutiyah no. 785, side B; dinukil dari buku Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama`u fit Tahdziiri min Jama’ati al-Hajri wat Tabdii’, penyusun : Kumpulan Penuntut Ilmu, cet. II, 1424 H., tanpa penerbit, hal. 18-19.

[3] Dari kaset Haqiqotul Bida’ wal Kufri, Silsilah al-Huda wan Nur no. 666, side B; dinukil dari al-Manhajus Salaf ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani karya ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim hal. 90-91; Bagi yang ingin mendapatkan terjemahan lengkap ceramah ini bisa didownload di http://geocities.com/fsms_sunnah (Download Centre Maktabah Abu Salma).

[4] Ibid.

[5] Syarh Riyadhus Shalihin oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, tahqiq : Syaikh Abdullah ath-Thoyar, cet. I, 1415 H./1995 M, Darul Wathon, Riyadh, juz IV, hal. 219-220.

[6] Lihat Muzilul Ilbas fi Hukmi ‘ala an-Naasi karya Said bin Shabir Abduh, hal. 252; Melalui perantaraan Aqwalu A`immah ad-Da’wah as-Salafiyah fi hadzal ‘Ashr fi Mas`alati al-Hajr wat Tabdi’di dalam http://www.muslm.net/vb

[7] Lihat al-Ajwibah as-Sadidah fi Fatawa al-‘Aqidah oleh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi, juz I, hal. 167-168; melalui perantaraan Aqwal (ibid.)

(Bersambung Bagian 4)

Hajr Ekstrim bagian 2


PENJELASAN TENTANG HAKIKAT SIKAP EKSTRIM
DI DALAM MENGISOLIR DAN MENVONIS BID’AH
Petikan dari ucapan para ulama salafiyin
Bagian II : Pendahuluan dan Definisi Istilah

 

اعداد :
أبو سلمى الأثري

Pendahuluan

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام الأتمان الأكمال على خاتم الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحابته أجمعين والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. الحمد لله جعل دينه وسطا بين طرفين مذمومين، وحقا بين باطلين منبوذين:

Segala puji hanyalah milik Alloh Pemelihara semesta alam, sholawat dan salam yang sempurna semoga senantiasa tercurahkan kepada penutup para nabi dan rasul yaitu penghulu kita Muhammad, kepada keluarga dan sahabat beliau seluruhnya serta siapa saja yang mengikuti mereka hingga hari kiamat.

Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah menjadikan agama-Nya sebagai agama moderat diantara dua sisi yang tercela dan sebagai kebenaran diantara dua kebatilan yang hina, yaitu :

أحدهما: طرف الغلو وهو الزيادة عن الحق والإيغال في التشدد. والثاني: طرف التقصير عما أمر به بالتفريط في الواجبات والتجرؤ على المحرمات. قال الله عز وجل ﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾ [البقرة:143]. فهذه الأمة المباركة أهل الحق الذين هم على منهج السلف الصالح:

Pertama : sisi ekstrimitas yaitu menambah-nambahi suatu kebenaran dan berlebih-lebihan di dalam radikalisme.

Kedua : sisi melalaikan apa yang diperintahkan kepadanya dengan menyia-nyiakan kewajiban dan meremehkan keharaman.

Alloh Azza wa Jalla berfirman :

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾

“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang moderat agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Al-Baqoroh : 143).

Umat yang penuh berkah ini ini adalah penganut kebenaran yang mana mereka berada di atas manhaj as-Salaf ash-Shalih :

هم وسط في باب صفات الله تعالى، بين أهل التعطيل وأهل التمثيل.

وهم وسط في باب أفعال الله تعالى بين الجبرية والقدرية النفاة.

وهم وسط في باب الإيمان، بين الحرورية والمعتزلة وبين المرجئة الجهمية.

وهم وسط بين من يسب أصحاب النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ويكفِّرونهم وينالون منهم، وبين من يغالون في بعض أصحاب رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ويجعلونهم في مصاف الآلهة أو الأئمة المعصومين.

Mereka moderat di dalam pembahasan sifat-sifat Alloh Ta’ala di antara penganut faham ta’thil (menafikan sifat) dan penganut faham tamtsil (mempersonifikasi sifat).

Mereka moderat di dalam pembahasan perbuatan Alloh Ta’ala di antara kaum jabariyah dan qodariyah yang menafikannya.

Mereka moderat di dalam masalah keimanan di antara kaum haruriyah dan mu’tazilah dan antara murji`ah dan jahmiyah.

Mereka moderat di antara orang yang mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, mengkafirkan dan merendahkan mereka, dengan orang yang berlebihan terhadap sebagian sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan bahkan memberikan mereka dengan sifat-sifat ketuhanan atau menjadikan mereka sebagai imam yang ma’shum.

والوسط مقام معتدل بين الغلو والجفاء، والتفريط والإفراط، وهو الطريق الذي أمر الله عز وجل به، وسار عليه رسوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حتى توفاه الله، وأخبر أن السلامة في سلوكه، والهلكة في الزوغان عنه. قال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قد تركتم على البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك».

Moderat merupakan posisi pertengahan di antara sikap ekstrim dengan sikap lalai, dan posisi di antara sikap radikal dengan sikap meremehkan. Sikap moderat ini adalah jalan yang diperintahkan oleh Alloh Azza wa Jalla dan jalan yang ditempuh oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam sampai Alloh mewafatkan beliau. Alloh memberitakan bahwa keselamatan adalah dengan menempuh jalan ini dan kebinasaan adalah dengan berpaling darinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

«قد تركتم على البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك».

“Aku telah meninggalkan kalian di atas (agama) yang terang benderang, malamnya bagaikan siangnya dan tidak ada yang berpaling darinya melainkan ia pasti binasa.”

و أن هذا الدين العظيم دين اليسر، قال تعالى:﴿يُرِيد ُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾[البقرة:185]، فكما أن هذا الدين دين الوسطية، أيضا هو دين اليسر والسهولة، دين الرفق، ﴿يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾[البقرة:185]،

Agama yang agung ini adalah agama yang mudah, Alloh Ta’ala berfirman :

﴿يُرِيد ُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾

“Alloh menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (Al-Baqoroh : 185).

Sebagaimana pula agama ini adalah agama moderat, maka agama ini juga merupakan agama yang mudah dan tidak sulit serta agama yang lembut,

﴿يُرِيد ُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾

“Alloh menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (Al-Baqoroh : 185).

ولكن بعض الناس وللأسف شددوا وغلوا فاتّخذوا العسر منهجا في دين الله، بينما الله عز وجل لا يريد بعباده إلا اليسر، والنبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ما خير بين أمرين إلا اختار أيسرهما ما لم يكن حراما. فالله عز وجل يختار للعباد اليسر، ولا يريد بهم العسر، والرسول صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كذلك يختار لهم أيسر الأمور وأسهلها ويرفق بأمته صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Akan tetapi, ada sebagian manusia bersikap radikal dan ekstrim, mereka menjadikan sulit manhaj di dalam agama Alloh, padahal Alloh Azza wa Jalla tidak menghendaki bagi hamba-hamba-Nya melainkan kemudahan. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau tidaklah memilih dari dua perkara melainkan beliau pilih yang paling mudah yang tidak sampai pada keharaman. Alloh Azza wa Jalla memilihkan bagi hamba-Nya kemudahan dan Dia tidak menghendaki bagi mereka kesulitan, demikian pula Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau memilihkan bagi mereka perkara yang termudah dan tergampang dan beliau bersikap lemah lembut terhadap umatnya Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

ولكن للأسف هناك من ترك الكتاب وحقيقة ما يدعو إليه كتاب الله، وترك السنة الصحيحة وسيرة أفضل الخلق، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، واتخذ التشديد والغلو والعسر طريقا ومنهجا مخالفا لمنهج الكتاب والسنة. أيضا يقول الله عز وجل: ﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ﴾[الحج: 78] لا يريد الله الحرج بعباده، ﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا﴾[ا لقصص:77]، فلم يجعل الناس دائما في عبادة متعبة مهلكة؛ بل أمرهم لأن يتخذوا وقتا للعبادة وأوقاتا للراحة، ولطلب الرِّزق والمعيشة.

Namun, sayangnya masih ada orang yang meninggalkan al-Kitab dan kebenaran yang diserukan oleh kitabullah, dia tinggalkan pula Sunnah yang shahih dan sejarah makhuk terbaik Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Dia jadikan radikalisme, ekstrimisme dan kesulitan pada jalan dan manhaj yang menyelisihi manhaj al-Kitab dan as-Sunnah.

Alloh Azza wa Jalla juga berfirman :

﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ﴾

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj : 78)

dan Alloh tidak menginginkan kesempitan bagi hamba-hamba-Nya,

﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا﴾

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia” (al-Qoshosh : 77).

Alloh tidak menjadikan manusia selalu beribadah terus menerus di dalam kelelahan yang membinasakan, namun Alloh perintahkan mereka supaya mereka mau menjadikan (sebagian) waktu untuk beribadah dan (sebagian) waktu untuk istirahat serta (sebagian) waktu untuk mencari rezeki dan penghidupan.

وهذا الدين أيضا دين الرفق يقول صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه». فعلى المسلم أن يرفق بنفسه ويرفق بعباد الله عز وجل… أيضا قال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «إن الله رفيق يحب الرفق ويعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف» أيضا رواه مسلم في صحيحه. وقال لمعاذ وأبي موسى رضي الله تعالى: عنهما لما بعثهما إلى اليمن قال: «يسرا ولا تعسرا، بشرا ولا تنفرا» وهذا رواه البخاري في صحيحه. فالنبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يأمرهما أن ييسرا قال:«يسرا ولا تعسرا بشرا ولا تنفرا». في رواية أخرى: «يسروا ولا تعسروا، بشروا ولا تنفروا» فهو صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يؤكد هذا المبدأ تيسيرا على الناس وعدم التعسير والرفق بالناس، ما تنظر إلى دليل من كتاب أو سنة فيه الأمر بالعسر والتشديد، أبدا كان الدين ولله الحمد، فيه يسر وسهولة.

Agama ini juga adalah agama kelemahlembutan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

«إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه»

“Sesungguhnya kelemahlembutan itu, tidaklah berada pada sesuatu melainkan ia pasti akan menghiasinya dan tidaklah ia tercabut dari sesuatu, melainkan ia pasti akan memburukkannya.”

Maka wajib bagi seorang muslim untuk berlemah lembut dengan dirinya dan dengan hamba-hamba Alloh Azza wa Jalla.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga bersabda :

«إن الله رفيق يحب الرفق ويعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف»

“Sesungguhnya Alloh itu Maha Lemah-lembut dan mencintai kelemahlembutan, Dia anugerahkan kepada kelemahlembutan apa yang tidak Ia anugerahkan kepada kebengisan.” Juga diriwayatkan Muslim di dalam Shahih-nya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepada Mu’adz dan Abu Musa Radhiyallahu ‘anhuma ketika mengutus keduanya ke Yaman :

«يسرا ولا تعسرا، بشرا ولا تنفرا»

“Permudahlah dan janganlah kalian berdua mempersulit, berikanlah berita gembira dan jangan membuat mereka lari.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Shahih-nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan mereka berdua untuk mempermudah di dalam sabda beliau : “Permudahlah dan janganlah kalian berdua mempersulit, berikanlah berita gembira dan jangan membuat mereka lari.”

Di dalam riwayat lain :

«يسروا ولا تعسروا، بشروا ولا تنفروا»

“Permudahlah dan janganlah kalian semua mempersulit, berikanlah berita gembira dan janganlah kalian membuat mereka lari.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam menegaskan landasan ini sebagai pemudah bagi manusia tanpa sikap mempersulit dan sebagai kelemahlembutan kepada manusia. Anda tidak akan mendapatkan dalil di dalam kitabullah atau Sunnah Rasulullah yang di dalamnya ada perintah untuk mempersulit dan bersikap radikal, untuk selamanya di dalam agama ini -dengan segala pujian hanyalah milik Alloh- di dalamnya ada kemudahan dan kelapangan. [1]

Definisi Ghuluw (Ekstrim)

Al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Ubaikan hafizhahullahu berkata di dalam mendefinisikan Ghuluw :

الغلو: المبالغة في الشيء، ورفعه فوق منزلته، وإعطائه فوق ما يستحقّه، يقال: غلا السعر أي ارتفع ثمن الطعام -أو غيره- فوق عادته، ولذلك قول عمر رَضِيَ اللهُ عنْهُ: يا أيها الناس لا تغالوا في صدقات النساء، فلوا كان ذلك خير لسبقنا إليه رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Ghuluw artinya adalah “berlebih-lebihan terhadap sesuatu dan mengangkatnya melebihi kedudukannya serta memberi melebihi dari yang berhak diperolehnya”. Dikatakan, “harganya berlebihan/mahal (ghola)” maksudnya yaitu harga makanan –atau selainnya- tinggi/naik melebihi biasanya.” Demikian pula ucapan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu :

يا أيها الناس لا تغالوا في صدقات النساء، فلوا كان ذلك خير لسبقنا إليه رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Wahai manusia, janganlah kalian berlebihan/menaikkah harga (taghooluu) di dalam mas kawin wanita, sekiranya hal ini baik niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pasti akan mendahului kita.”[2].”

Ibnu Manzhur berkata di dalam Lisanul ‘Arob :

وأصل الغلاء الارتفاع والمجاوزة في كل شيء إلى أن قال: وغلا في الدين في الأمر يغلو غلوا جاوز حده وفي التنزيل: ﴿لاَ تَغْلُوا ْ فِي دِينِكُمْ﴾ [المائدة:77]. وفي الحديث «إياكم والغلو في الدين» أي التشدد فيه ومجاوزة الحد، ومنه الحديث «وحامل القرآن غير الغالي فيه ولا الجافي عنه»، إنما ذلك لأن من آدابه وأخلاقه التي أمر الله بها القَسط في الأمور وخير الأمور أوساطها، ثم كلا طرفي قسط الأمور ذميم.

“Dan asal berlebihan (al-ghola`) adalah mengangkat dan melampaui batas di dalam segala sesuatu”, sampai beliau mengatakan : “berlebihan di dalam agama : berlebihan di dalam perkara yang mana ia berlebih-lebihan dengan amat sangat sampai melampaui batasannya; dan di dalam al-Qur’an :

﴿لاَ تَغْلُوا ْ فِي دِينِكُمْ﴾

“Janganlah kalian berlebih-lebihan/melampaui batas di dalam agama kalian” (QS al-Maidah : 77); di dalam hadits :

«إياكم والغلو في الدين»

“Jauhilah oleh kalian sikap melampaui batas di dalam agama” artinya yaitu bersikap radikal di dalamnya dan melampaui batas; dan diantaranya hadits :

«وحامل القرآن غير الغالي فيه ولا الجافي عنه»

“dan bawalah al-Qur’an dengan tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkannya”, yang demikian ini adalah merupakan etika dan akhlak yang diperintahkan Alloh untuk bersikap adil di dalam segala perkara dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat, kemudian kedua sisi dari keadilan adalah perkara yang tercela.[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata di dalam mendefinisikan al-Ghuluw :

الغلو مجاوزة الحد الغلو أن يزاد في حمده أو ذمه على ما يستحق ونحو ذلك

“Ghuluw adalah melampaui batas. Ghuluw adalah menambah-nambahi di dalam memuji atau mencela melebihi dari yang layak diberikan kepadanya dan yang serupa ini”.[4]

Ucapan yang semisal ini juga dibawa oleh Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata :

الغلو هو المبالغة في الشيء والتشديد فيه بتجاوز الحد.

“Ghuluw adalah berlebih-lebihan terhadap sesuatu dan bersikap radikal di dalamnya serta melampaui batas.”[5]

Imam Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullahu, cucu Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, penulis kitab Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid berkata :

الغلو هو الإفراط في التعظيم بالقول والاعتقاد ، أي لا ترفعوا المخلوق عن منزلته التي أنزله الله فتنزلوه المنزلة التي لا تنبغي إلا لله

“Ghuluw adalah berlebih-lebihan di dalam mengagungkan baik dengan ucapan maupun keyakinan, maksudnya janganlah kalian mengangkat kedudukan makhluk yang telah Alloh tetapkan padanya, (jika demikian) maka kalian telah menempatkannya pada suatu kedudukan yang tidak sepatutnya melainkan hanya kepada Alloh.”[6]

Di dalam kamus al-Mu’tamad dikatakan :

غلا : -ُ غلوّⴷً الرجل في الأمر : جاوز فيه الحدّ. و – في الدين : تشدّد و تصلّب. و – في الشيء : ارتفع. و- السعر غلاءً : ارتفع, ضدّ رخص فهو غال و غليٌّ

Ghola : Seseorang ghuluw (berlebihan) dengan amat sangat di dalam suatu perkara artinya dia melampaui batas di dalamnya. Ghuluw di dalam agama artinya bersikap radikal dan keras. Ghuluw di dalam sesuatu hal artinya menaikkan/meninggikan. Harganya ghuluw (berlebihan) sekali artinya naik, lawan dari harga murah yaitu mahal.[7]

Adapun Ekstrim, menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” didefinisikan sebagai :

Ekstrem : 1. Paling ujung (paling tinggi, paling keras, dsb); 2. Sangat keras dan teguh, fanatik. Keekstreman : 1. Hal yang keterlaluan; 2. Kefanatikan. Ekstremis : 1. Orang yang ekstrem; 2. Orang yang melampaui batas kebiasaan (hukum dsb). Ekstremitas : 1. Peringkat yang paling ekstrem (tentang Perasaan, penderitaan, kesedihan); 2. Hal (tindakan, perbuatan) yang melewati batas (sangat keras dsb).[8]

Di dalam “Oxford Advanced Learner’s Dictionary”, dikatakan :

Extreme artinya adalah “far from moderate” (jauh dari sikap pertengahan); Extreme [n] (sebagai kata benda) berarti “a feeling, condition, etc as far apart or as different from another as possible” (suatu perasaan, kondisi atau lainnya yang terpisah atau berbeda dari lainnya); Go to Extreme (menjadi ekstrim) artinya “to act or to be forced to act in a way that is far from moderate or normal” (bertindak atau terpaksa bertindak dengan suatu cara yang jauh dari moderat atau normal).[9]

Definisi Hajr (Isolir)

هَجَرَهُ هَجْراً، بالفتح، وهِجْراناً، بالكسر: صَرَمَهُ، وـ الشيءَ: تَرَكَهُ كأهْجَرَهُ، وـ في الصومِ: اعْتَزَلَ فيه عن النكاحِ. وهُما يَهْتَجِرانِ ويَتَهاجَرانِ: يَتَقاطَعانِ، والاسمُ: الهِجْرَةُ، بالكسر.والهِجْرَةُ، بالكسر والضم: الخُروجُ من أرضٍ إلى أُخرى، وقد هاجَرَ. (القاموس المحيط) الهجر ضدّ الوصل (لسان العرب) و التهاجر: التقاطع. (مختار الصحة)

Hajarahu Hajran dan Hijraanan artinya adalah mendiamkannya, hajarahu asy-Syai`a artinya adalah meninggalkannya, hajarahu fish shoumi artinya adalah menjauhi dirinya dari nikah. Huma yahtajiraani wa yatahaajaraani artinya yataqotho’aani (keduanya saling memutuskan hubungan), kata bendanya adalah al-Hijrah. Al-Hijrah adalah keluar dari suatu negeri ke negeri lainnya. Hajr adalah antonim dari al-Washlu (menyambung). Tahaajur maknanya adalah at-Taqoothu’ (saling memutuskan hubungan).[10]

Imam an-Nawawi di dalam Syarh-nya terhadap hadits Arba’in-nya, di dalam menjelaskan makna al-Hijrah, beliau berkata pada definisi ke-6 makna hijrah :

السادسة : هجرة المسلم أخاه فوق ثلاث بغير سبب شرعي, وهو مكروهة في الثلاث, و فيما زاد حرام إلا لضرورة.

“Poin keenam : hajr-nya seorang muslim terhadap saudaranya lebih dari tiga hari tanpa sebab yang syar’i, hukumnya makruh apabila tepat tiga hari dan apabila lebih maka haram hukumnya kecuali apabila dalam keadaan mendesak (darurat)”[11]

Di dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, isolir (~ isolasi) didefinisikan sebagai : “Pemisahan suatu hal dari hal lain atau usaha untuk memencilkan manusia dari manusia lain; pengasingan; pemencilan; pengucilan.”[12] Hajr juga sering kali diasosiasikan pengalihbahasaannya dengan kata boikot. Di dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dikatakan bahwa boikot adalah : “Bersekongkol menolak untuk bekerja sama (berususan dagang, berbicara, ikut serta, dll).”[13]

Di dalam “Oxford Advanced Learner’s Dictionary”, Isolir (Isolate) berarti : “to put or keep somebody or something entirely apart from other people or thing” (membuat orang atau sesuatu terpisah secara menyeluruh dari orang atau sesuatu yang lain.” Boycott bermakna : “(usually a group of people) to refuse to take part in something or to have social contact or to do business with a person, company, country, etc, either as a punishment” ((Biasanya dilakukan oleh sekelompok orang) yang menolak untuk mengambil bagian di dalam sesuatu atau melakukan hubungan social atau melakukan bisnis dengan seseorang, perusahaan, Negara, dll, atau bias juga sebagai suatu hukuman.” [14]

Hukum Hajr atau Muqotho’ah (Isolir atau Boikot) adalah pada asalnya haram, namun dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Bahkan dalam situasi tertentu ia wajib diaplikasikan dan dalam keadaan tertentu ia tidak layak diimplementasikan.

Definisi Tabdi’ (Vonis Bid’ah)

Tabdi’ adalah menvonis atau menghukumi seseorang sebagai mubtadi’ atau ahlul bid’ah. Maka untuk itu harus difahami dulu apakah bid’ah itu.

Di dalam kamus al-Mu’tamad dikatakan :

بدع الشيء : اخترعه و أنشاه لا على مثال, بدّعه : نسبه إلى البدعه. ابتدع الشيء : بدعه, وابتدع البدعة : أحدثها. البدعة : ما أُحدث على غير مثال سابق, عقيدة تخالف الدين, أو الحدث في الدين بعد الإكمال, ما استُحدث بعد النبي من الأهواء والأعماك.

Bada’a asy-Syai`a artinya adalah mengadakan dan membuatnya tanpa ada contohnya, badda’ahu artinya adalah menyandarkannya kepada bid’ah. Ibtada’a asy-Syai`a artinya mengadakannya, ibtada’a al-Bid’ah artinya mengada-adakan bid’ah. Bid’ah adalah perkara yang diada-adakan tanpa ada contohnya sebelumnya, atau aqidah yang menyelisihi agama, atau perkara baru di dalam agama setelah agama ini disempurnakan, atau segala hal yang diada-adakan setelah Nabi dari hawa nafsu dan perbuatan.[15]

Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullahu berkata :

وأصل مادة ((بدع)) للاختراع على غير مثال سابق، ومنه قول الله تعالى: {بَدِيعُ السَّموَاِت والأرْضِ} أي مخترعهما من غير مثال سابق متقدم، وقوله تعالى: {قُلْ ما كُنْتُ بِدْعاً مِن الرُّسُل}، أي ما كنت أول من جاءَ بالرسالة من اللّه إلى العباد بل تقدمني كثير من الرسل، ويقال: ابتدع فلان بدعة يعني ابتدأ طريقة لم يسبقه إليها سابق.

“Asal kata Bid’ah adalah membuat/mengada-adakan sesuatu yang tidak ada contoh sebelumnya. Diantaranya adalah firman Alloh Ta’ala :

﴿بَدِيعُ السَّموَاِت والأرْضِ﴾

“(Dialah Alloh) Badi’ (yang menciptakan ) langit dan bumi”

Artinya yaitu (Alloh) yang mengadakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya

dan firman-Nya Ta’ala :

﴿قُلْ ما كُنْتُ بِدْعاً مِن الرُّسُل﴾

“Katakan(wahai Muhammad) Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara para rasul.”

Artinya yaitu aku (Muhammad) bukanlah orang pertama yang datang dengan risalah dari Alloh kepada hamba-hamba-Nya, namun telah mendahuluiku banyak para rasul.

Dikatakan : fulan mengada-adakan suatu bid’ah maknanya yaitu dia mendahului jalan yang belum pernah ada seorangpun sebelumnya mendahuluinya.”[16]

Imam asy-Syathibi melanjutkan ucapan beliau :

فالبدعة إذن عبارة عن ((طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه))

“Maka kalau begitu, bid’ah adalah ungkapan dari suatu jalan di dalam agama yang diada-adakan yang menyerupai syariat, yang dimaksudkan untuk berjalan di atasnya secara berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.[17]”

Adapun mubtadi’ adalah fail (pelaku) dari amalan bid’ah. Namun tidaklah setiap orang yang melakukan amalan bid’ah dengan serta merta dia menjadi bid’ah, sebagaimana yang dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullahu di dalam Haqiqotul Bida’ wal Kufri :

ليس كل من وقع في البدعة وقعت البدعة عليه

“Tidaklah setiap orang yang terjatuh ke dalam kebid’ahan maka dengan serta merta bid’ah jatuh kepadanya.[18]”

Tabdi’ adalah isim taf’iil dari kata badda’a yubaddi’u yang artinya adalah menyandarkan seseorang atau sesuatu kepada bid’ah. Atau dengan kata lain menghukumi seseorang sebagai mubtadi’ atau ahlul bid’ah. Dikarenakan tidak setiap orang yang jatuh ke dalam bid’ah secara otomatis menjadi mubtadi’, oleh karena itu ada beberapa kaidah dan kriteria yang harus difahami sebelum menvonis seseorang sebagai mubtadi’. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut di dalam nukilan terhadap ucapan ulama salafiyun tentang hal ini.

Korelasi Ghuluw dengan hajr dan tabdi’.

Hajr dan tabdi’ adalah dua istilah syar’i di dalam Islam. Dua kata ini sering bersanding karena korelasi dan kaitannya sangat erat sekali. Para ulama ahli hadits dan ahli fikih bahkan membuat bab di dalam kitabnya yang menjelaskan akan kewajiban hajr terhadap mubtadi’ atau ahlul bid’ah atau ahlul ahwa’. Di antaranya :

- في ((سنن أبي داود)) : باب مجانبة أهل الأهواء و بغضهم.

- في ((الترغيب و الترهيب)) للمنذري : الترهيب من حبّ الأشرار وأهل البدع لأنّ المرء مع من أحبّ.

- في ((الأذكار)) للنووي : باب التبرّي من أهل البدع والمعاصي.

- في ((الإعتقاد)) للبيهقي : باب النهي عن مجالسة أهل البدع.

- Di dalam “Sunan Abu Dawud” : “Bab Menjauhi Ahlul Ahwa dan membenci mereka.”

- Di dalam “at-Targhib wat Tarhib” karya al-Mundziri : “Ancaman mencintai keburukan dan Ahli Bid’ah dikarenakan seseorang itu bersama dengan yang ia cintai.”

- Di dalam “al-Adzkar” karya an-Nawawi : “Bab berlepas diri dari Ahli Bid’ah dan Maksiat.”

- Di dalam “al-I’tiqod” karya al-Baihaqi : “Bab Larangan dari Bermajelis dengan Ahli Bid’ah.”[19]

Sehingga al-Qodhi Abu Ya’la rahimahullahu mengatakan :

أجمع الصحابة والتابعون على مقاطعة المبتدعة.

“Para Sahabat dan Tabi’in bersepakat untuk memboikot mubtadi’”[20]

Namun, apabila kedua istilah syar’i ini disertai dengan kata ghuluw (ekstrim), maka tentunya akan keluar dari istilah syar’i itu sendiri dan akan menjadi suatu penyimpangan, kesesatan dan bid’ah baru. Karena setiap amalan yang disertai dengan ghuluw tentu saja akanlah menyimpang, walaupun niat, tujuan dan maksud pelakunya adalah baik.

Samahatul Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu berkata :

ولا شك أن الشريعة الإسلامية جاءت بالتحذير من الغلو في الدين ، وأمرت بالدعوة إلى سبيل الحق بالحكمة والموعظة الحسنة والجدال بالتي هي أحسن ، ولكنها مع ذلك لم تهمل جانب الغلظة والشدة في محلها حيث لا ينفع اللين والجدال بالتي هي أحسن…

“Tidak ragu lagi, bahwasanya syariat Islam itu datang dengan memperingatkan dari sikap ghuluw di dalam agama dan memerintahkan untuk berdakwah ke jalan yang benar dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik serta berdiskusi dengan cara yang lebih baik. Namun sisi sikap tegas dan keras tidak ditelantarkan (begitu saja apabila ditempatkan) pada tempatnya selama kelembutan dan diskusi dengan cara yang baik tidak berfaidah lagi…”[21]

Ghuluw di dalam hajr dan tabdi’ akan berpotensi pada perpecahan dan pemecahbelahan umat secara sporadis. Ghuluw di dalam hajr dan tabdi’ adalah fitnah besar yang membinasakan. Apalagi jika sifat ini merasuk ke dalam barisan para pemuda yang berintisab (berafiliasi) kepada dakwah salafiyah. Hanya karena masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah maka hajr, tabdi’, tahdzir (peringatan), jarh (melukai/mencela kredibilitas seseorang) dan semisalnya menjadi sarana untuk melayangkan obsesi pribadi dan tumbal sensasi seorang da’i.

Bagaimanakah hakikat permasalahan ini? Dan bagaiman sikap para ulama terhadap hal ini? Berikut ini beberapa petikan ucapan para ulama seputar hajr dan tabdi’ semoga bermanfaat…

——————————————————————————–

[1] Dinukil dari ceramah al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Ubaikan hafizhahullahu yang berjudul al-Ghuluw fit Takfir wa Aatsaruhu fil Ummah (Sikap Ekstrim di dalam Vonis Kafir dan Dampaknya terhadap Umat). Dicopy dari website pribadi beliau.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Lihat Fathul Majid Syarh Kitab at-Tauhid, karya Syaikh al-Imam Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullahu, bab Ma Ja’a anna Sababa Kufri Bani Adam wa Tarkihim Dinahum huwa al-Ghuluwu fish Shalihin, Tahqiq : Syaikh Muhammad Hamid al-Faqi, Muroja’ah dan Ta’liq : Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Takhrij Hadits : Syaikh Ali bin Sinan, Darul Fikr, Beirut, 1412/1992, hal. 620.

[7] Lihat al-Mu’tamad Qomus ‘Arobiy – ‘Arobiy, Cet. III, pasal Ghoin, hal. 467, Dar ash-Shodir, Beirut 2004.

[8] Lihat “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, Edisi ketiga, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, Jakarta 2002, hal. 291-292.

[9] Lihat “Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English”, A.S. Hornby, Edisi kelima, Oxford University Press, 1995, hal. 409-410.

[10] Lihat al-Qomus al-Muhith (softcopy dari http://www.dorar.net) pasal haa, Lisanul ‘Arob (V/250) dan Mukhtarush Shihah (288).

[11] Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah oleh Imam an-Nawawi, tahqiq Syaikh ‘Ali ath-Thohthowi, Darul Kutub al-‘Ilmiyah, Cet. I, Beirut, 2001, hal. 26-27.

[12] Op.Cit., hal. 445.

[13] Ibid. hal. 160.

[14] Op.Cit. hal. 633.

[15] Op.Cit hal. 24.

[16] Lihat Mukhtashor Kitab al-I’tisham karya Imam asy-Syathibi, Peringkas : Syaikh Alwi Abdul Qodir as-Saqqof, softcopy dari http://www.dorar.net.

[17] Ibid.

[18] Ceramah Haqiqotul Bida’ wal Kufri oleh Syaikh al-Albani. Lihat pula al-Manhajus Salafiy ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani karya Syaikh ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim hal. 64. lihat pula terjemahan lengkap ceramah ini di dalam http://dear.to/abusalma.

[19] Lihat ‘Ilmu Ushulil Bida’ Dirosatun Takmiliyatun Muhimmatun fi ‘Ilmi ‘Ushulil Fiqhi, karya Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid al-Halabi, cet. II, Dar ar-Rayah, Riyadh dan Jeddah, 1417 H., 297.

[20] Lihat Hajrul Mubtadi’ karya Syaikh Bakr Abu Zaid, hal. 32; dinukil dari ‘Ilmu Ushulil Bida’, hal. 298.

[21] Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqoolaat Mutanawwi’ah oleh Samahatul Imam Ibnu Bazz rahimahullahu, penghimpun : Muhammad bin Sa’ad asy-Syuwai’ir, Jilid III, hal. 203.

(Bersambung Bagian 3)

Hajr Ekstrim bagian 1


PENJELASAN TENTANG HAKIKAT SIKAP EKSTRIM DI DALAM MENGISOLIR DAN MENVONIS BID’AH Petikan dari ucapan para ulama salafiyin

Bagian I : Kata Pengantar dan Latar Belakang

 

اعداد :

أبو سلمى الأثري

 

Kata Pengantar

الحمد لله الذي ألف بين قلوب المؤمنين، ورغبهم في الاجتماع والائتلاف، وحذرهم من التفرق والاختلاف، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، خلق فقدر، وشرع فيسر، وكان بالمؤمنين رحيماً، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، الذي أمر بالتيسير والتبشير، فقال: ” يسروا لا تعسروا، وبشروا ولا تنفروا “، اللهم صلى وسلم وبارك عليه، وعلى آله المطهرين، وأصحابه الذين وصفهم الله بأنهم أشداء على الكفار رُحماء بينهم، وعلى من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، اللهم اهدني واهد لي واهد بي، اللهم طهر من الغل جناني، وسدد لإصابة الحق لساني، اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أُضل، أو أزِل أو أزَل، أو أظلم أو أُظلم، أو أجهل أو يُجهل علي. أما بعد:

Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah mempertautkan hati kaum mukminin dan menganjurkan mereka supaya bersatu padu dan saling berhimpun serta memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah melainkan hanyalah Alloh semata yang tidak memiliki sekutu. Dialah yang mensyariatkan dan memudahkan, dan Dia terhadap kaum mukminin adalah sangat penyantun. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diperintahkan dengan kemudahan dan berita gembira. Beliau bersabda : ”Permudahlah dan janganlah kamu persulit, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari dari kebenaran

Ya Alloh limpahkan sholawat, salam dan berkah kepada beliau, kepada keluarganya yang suci dan kepada para sahabatnya yang mana Alloh mensifatkan mereka sebagai kaum yang keras terhadap kaum kafir dan lemah lembut diantara mereka, serta kepada siapa saja yang mengikuti mereka hingga hari kiamat kelak. Ya Alloh tunjukilah diriku, tunjukkan (kebenaran) untukku dan tunjukilah denganku (orang lain). Ya Alloh sucikanlah hatiku dari rasa dengki dan luruskan lisanku dalam menyampaikan kebenaran. Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari menyesatkan (orang lain) dan disesatkan, dari menggelincirkan (orang lain) dan digelincirkan, atau menzhalimi dan dizhalimi, atau membodohi dan dibodohi. Amma Ba’du:[1]

Di tanah air ini, fenomena saling mencela, menghajr, mentahdzir hingga bahkan mentabdi’ adalah suatu hal yang lumrah. Uniknya fenomena ini lebih tampak terjadi pada orang-orang yang mengklaim sebagai salafiyun ahlus sunnah. Walaupun kitab dan ulama rujukannya (mayoritas) sama, namun perselisihan dan perpecahan malah makin subur dan semarak. Di tengah-tengah fenomena hajr dan tabdi’ ini muncul 3 kutub yang saling berseberangan dan semuanya saling mengklaim di atas al-Haq, yaitu :

 

  • Kutub pertama, adalah kutub ifrath dan ghuluw di dalam hajr dan tabdi’, yang mana mereka akan menerapkan hajr dan tabdi’ secara sporadis kepada siapa saja yang berlainan pendapat dengan mereka, baik masalah pokok maupun masalah cabang ijtihadiyah. Kelompok ini mudah sekali menvonis sesat, sikapnya kasar, kaku, bengis, suka mencela dan penyebab manusia lari dari kebenaran. Mereka fanatik terhadap individu tertentu dan menjadikan dasar wala’ dan baro’nya terhadap individu tertentu. Mereka ini adalah kelompok Haddadiyun atau yang terpengaruh dengan pemahaman ini.
  • Kutub kedua, adalah kutub tafrith dan taqshir di dalam hajr dan tabdi’. Tidak ada kata hajr dan tabdi’ di dalam kamus dakwah mereka. Karena menurut mereka, hajr dan tabdi’ tidak berfaidah bagaimana pun keadaannya untuk diterapkan, walaupun terhadap seorang mubtadi’ yang telah jelas-jelas bid’ahnya sekalipun. Mereka telah menafikan syariat dan hukum ini di dalam Islam. Diantara mereka adalah Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan Sururiyun. Walaupun di dalam beberapa perkara mereka jatuh juga dalam sikap ghuluw.
  • Kutub ketiga, adalah kutub i’tidal dan tawasuth di dalam hajr dan tabdi’. Mereka berhati-hati di dalam mengimplementasikan hajr dan tabdi’ menurut kaidah dan kriteria yang telah dijelaskan oleh para ulama. Mereka ini adalah Ahlus Sunnah sejati. Mereka bisa menempatkan wala’ dan baro’ mereka pada tempatnya. Mereka dituduh ghuluw oleh orang-orang yang tamyi’ (manhaj yang lunak terhadap ahlul bid’ah) dan dituduh tamyi’ oleh orang-orang yang ghuluw. Mereka meyakini bahwa bid’ah dan pelakunya itu bertingkat sehingga pensikapan terhadapnya juga bertingkat. Mereka tidak memberikan baro’ total terhadap ahlul bid’ah, namun mereka juga berwala’ pada mereka sebatas kebenaran yang dimiliki. Mereka senantiasa bertatsabut (cek dan ricek) di dalam segala berita dan tidak mudah menyandarkan berita kepada qiila wa qoola. Mereka tidak mudah menggeneralisir begitu saja vonis kepada orang-orang yang berta’awun dengan yayasan yang tertuduh hizbiyah. Mereka senantiasa bersikap hati-hati dan menerapkan hajr apabila mashlahatnya lebih besar dari mudharatnya, dan mereka mau berikhtilath (bercampur dengan kaum muslimin) apabila dipandang mashlahatnya lebih besar.
    Namun, setiap kelompok yang mengaku sebagai salafiyun juga mengklaim bahwa mereka adalah ahlul wasth wal ’adl (kelompok yang moderat dan pertengahan).

Namun pengakuan atau klaim belaka tanpa bukti hanyalah isapan jempol belaka.Faqihuz Zaman Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata memberikan penjelasan siapakah salafiyun ahlus sunnah itu :

السلفية هي اتباء منهج النبي صلى الله عليه و سلم وأصحبه لأنه مَن سلفنا تقدموا علينا, فاتباعهم هو السلفية. وأما اتخاذ السلفية كمنهج خاص ينفرد به الإنسان ويضلّل من خالفه من المسلمين ولو كانوا على حقّ فلا شك أن هذا خلاف السلفية.

Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!”

Beliau rahimahullahu melanjutkan :

لكن بعض من انتهج السلفية في عصرنا هذا صار يضلل كل من خالفه ولو كان الحق معه واتخاذها بعضهم منهجا حزبيا كمنهج الأحزاب الأخرى التي تنتسب إلى الإسلام وهذا هو الذي ينكر ولا يمكن إقراره.

Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan.”

Syaikh melanjutkan lagi :

فالسلفية بمعنى أن تكون حزبا خاصا له مميزاته و يضلل أفراده سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية شيء. وأما السلفية التي هي اتباع منهج السلف عقيدة وقولا وعملا واختلافا واتفاقا وتراحما وتوادا كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر)). فهذه هي السلفية الحقة.

Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر))

Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga.Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”.[2]

Inilah salafiyah yang disebutkan oleh Faqiihuz Zaman al-Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu. Yaitu salafiyah pada segala sisi, baik aqidah, amalan, persatuan, akhlak dan sebagainya. Adapun salafiyah yang membawa bendera fanatik pada ustadznya, menjadikannya sebagai landasan di dalam wala’ dan baro’, menyalahkan dan menvonis sesat siapa saja yang menyelisihinya, bersikap keras lagi kaku, maka ini bukanlah salafiyah sama sekali. Terutama dari masalah akhlaq, banyak para pengklaim sebagai salafiyun yang paling sejati akhlaqnya tidaklah menunjukkan kesalafiyahannya sama sekali, padahal salafiyah di dalam masalah berakhlaq adalah :

هم أحسن الناس أخلاقاً وأكثرهم حلماً وسماحة وتواضعاً، وأحرصهم دعوة إلى مكارم الأخلاق ومحاسن الأعمال من طلاقة الوجه، وإفشاء السلام، وإطعام الطعام، وكظم الغيظ، وكف الأذى عن الناس واحتماله منهم، والايثار والسعي فى قضاء الحاجات، وبذل الجاه في الشفاعات، والتلطف بالفقراء، والتحبب إلى الجيران والأقرباء، والرفق بالطلبة واعانتهم وبرهم، وبر الوالدين والعلماء، وخفض الجناح لهما قال تعالى:) وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ( (القلم:4) وقال صلى الله عليه وسلم:”أثقل شئ فى الميزان الخلق الحسن” صحيح رواه الإمام أحمد.

Mereka adalah manusia yang paling baik akhlaknya, paling banyak bersikap lembut, lapang dan tawadhu’-nya. Mereka adalah yang paling bersemangat berdakwah menyeru kepada akhlak yang mulia dan amal yang paling bagus, dengan wajah yang ceria, menyebarkan salam, memberikan makan, menahan marah, menghilangkan kesusahan manusia, mendahulukan kepentingan kaum muslimin dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Mereka senantiasa mengerahkan daya upaya di dalam menolong mereka, bersikap lembut dengan fakir miskin, bersikap kasih sayang terhadap tetangga dan kerabat, lemah lembut dengan penuntut ilmu, menolong dan berbuat kebajikan kepada mereka, berbakti kepada orang tua dan ulama dan memelihara kedua orang tua (di waktu tuanya). Alloh Ta’ala berfirman :

(وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ)

Sesungguhnya pada dirimu (Muhammad) terdapat akhlak yang agung” (al-Qolam : 4) dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

((أثقل شئ فى الميزان الخلق الحسن))

Sesuatu yang paling berat di timbangan adalah akhlak yang baik.” Shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad.”[3]Oleh karena itu hendaklah kita semua saling introspeksi diri, saling menasehati di dalam kebenaran dan takwa dan saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan. Kewajiban Ahlus Sunnah saat ini adalah :

ولا شك أن الواجب على أهل السنة في كل زمان ومكان التآلف والتراحم فيما بينهم، والتعاون على البر والتقوى. وإن مما يؤسف له في هذا الزمان ما حصل من بعض أهل السنة من وحشة واختلاف، مما ترتب عليه انشغال بعضهم ببعض تجريحاً وتحذيراً وهجراً، وكان الواجب أن تكون جهودهم جميعاً موجهة إلى غيرهم من الكفار وأهل البدع المناوئين لأهل السنة، وأن يكونوا فيما بينهم متآلفين متراحمين، يذكر بعضهم بعضاً برفق ولين.

Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan. Dan suatu hal yang sungguh disayangkan pada zaman ini adalah, apa yang terjadi pada sebagian Ahlus Sunnah berupa pertikaian dan perselisihan, yang berimplikasi pada sibuknya mereka satu dengan lainnya di dalam mencela, mentahdzir dan menghajr. Padahal seharusnya mereka kerahkan seluruh kesungguhan mereka ini dan mereka tujukan kepada selain mereka dari kaum kuffar dan ahlul bid’ah yang senantiasa memusuhi Ahlus Sunnah. Mereka seharusnya menjalin persatuan dan kasih sayang dan saling mengingatkan satu sama lainnya dengan kelemahlembutan dan cara yang halus.”[4]

Latar Belakang

Sesungguhnya, telah banyak ahlul ilmi dan para penuntut ilmu yang telah mendahului saya di dalam menuliskan risalah semacam ini. Semua ini berangkat dari respon dan reaksi atas fenomena dan realita yang terjadi di tengah-tengah maraknya aktivitas hajr, jarh, tahdzir, bahkan tabdi’ di antara barisan salafiyin. Mereka juga membongkar kejahatan sikap ghuluw di dalam tabdi’ dan hajr yang tengah mewabah saat ini. Berikut ini saya sebutkan diantaranya, dan alangkah lebih baik jika yang saya sebutkan ini bisa dirujuk semua atau sebagiannya :

  • Al-‘Allamah al-Muhaddits al-Ashr Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu wa Qaddasallahu ruuhahu di dalam beberapa seri ceramahnya pada Silsilah al-Huda wan Nur, seperti di dalam ceramah yang berjudul Haqiqotul Bida’ wal Kufri.[5]Al-‘Allamah asy-Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam risalah yang berjudul Zhohiratu at-Tabdi’ wat Tafsiq.[6]
  • Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin bin Hammad al-Abbad al-Badr hafizhahullahu wa nafa’allahu bihi dalam risalah emasnya Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah.[7]
  • Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin bin Hammad al-Abbad al-Badr hafizhahullahu wa nafa’allahu bihi dalam risalah emasnya al-Hatstsu ‘ala ittiba’is Sunnah wat Tahdziri minal Bida’ wa Bayanu Khatharihaa.[8]
  • Al-‘Allamah Asy-Syaikh Prof. DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullahu di dalam risalah emasnya yang berjudul al-Hatstsu ‘alal Mawaddah wal I’tilaaf wat Tahdziiru minal Furqoh wal Ikhtilaafi.[9]
  • Fadhilatus Syaikh DR. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hafizhahullahu di dalam Nasehat khusus beliau kepada ikhwah salafiyin Indonesia.[10]
  • Masyaikh Markaz Imam al-Albani Yordania di dalam Dauroh-dauroh mereka hafizhahumullahu.Dan masih banyak lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Para du’at dan penuntut ilmu salafiyin di Indonesia juga turut memberikan kontribusi di dalam hal ini, bisa dicatat seperti :

  • Al-Ustadz Muhammad Arifin Baderi hafizhahullahu di dalam beberapa artikel beliau yang dimuat di website www.manhaj.or.id.[11]
  • Al-Ustadz Abdullah Taslim hafizhahullahu di dalam beberapa artikel beliau yang dimuat di website www.manhaj.or.id.[12]
  • Al-Akh Al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda bin Abidin as-Soronji hafizhahullahu yang menyusun buku “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”.[13]
  • Dan masih banyak lagi sebenarnya para du’at dan penuntut ilmu yang tidak disebutkan di sini.

Perlu ditambahkan, di tengah upaya yang positif dan kontributif ini, dalam rangka munashohah (saling menasehati) dan mengupayakan sebab-sebab ishlah dan persatuan ini, ada sebagian kalangan yang mungkin telah ter’makan’ oleh madzhab ghuluw dan ashobiyah (fanatisme) menolak bahkan mencela secara serampangan tanpa dilandasi oleh ilmu upaya ini. Di sisi lain, ada pula sebagian mereka yang taqshir dan tanpa dilandasi ilmu –terutama ilmu tentang dakwah salafiyah- turut ambil bagian di dalam upaya ini, yang berangkat dengan niat turut membawa perbaikan (ishlah), namun pada kenyataannya malah merusak tatanan dan pilar dakwah salafiyah, dikarenakan ketiadafahamannya akan dakwah salafiyah mubarokah ini.

Iya! Dan yang saya maksudkan adalah al-Akh Abu Abdurrahman ath-Thalibi hadahullahu dalam buku “best seller”-nya yang berjudul “Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak”.[14]Buku ini konon sangat laris bak kacang goreng. Walaupun penulisnya majhul di kalangan dakwah salafiyah, namun ada sebagian saudara kita salafiyun turut ter’makan’ oleh buku ini. Sesungguhnya buku ini dari zhahirnya adalah rahmat namun isinya adalah adzab. Diantara implikasi negatif terbitnya buku ini adalah, munculnya tafriq (pemecahbelahan) dan taqsim (pemilah-milahan) dakwah salafiyah menjadi Salafiyah Yamaniyah[15] dan Salafiyah Harokah. Ini adalah taqsim yang muhdats (bid’ah) lagi buruk.Syaikhuna Salim bin Ied al-Hilaly hafizhahullahu membatalkan taqsim (pemilah-milahan) seperti ini di dalam ucapannya pada saat penutupan Dauroh di Masjid Al-Irsyad Surabaya tahun 2001 silam, beliau berkata :

« … فإنّ من ثبت سلفيته أخٌ لنا سواء كان في مشرق الأرض أو في مغربها… أما تفريق الدعوة السلفية بأنّ هذه سلفيةٌ شاميةٌ أو سلفيةٌ حجازيةٌ أو سلفيةٌ مغربيةٌ أو سلفيةٌ يمنيةٌ فإن نبرأ إلى ذلك فإنّ سلفية واحدة, مات ائمتُنا وهم متّفقون عليها, مات الألباني وهو محبّ لإبن باز ومات إبن باز وهو محبّ للألباني ومات إبن عثيمن وهو محبّ لهما ومات درّة اليمن الشيخ مقبل وهو محبّ للجميع… »

“Karena sesungguhnya, barangsiapa yang telah tetap kesalafiyahannya maka dia adalah saudara kita, sama saja baik dia berada dari bagian barat bumi ataupun timurnya… Adapun memilah-milah dakwah salafiyah menjadi salafiyah Syamiyah atau Salafiyah Hijaziyah atau Salafiyah Maghribiyah atau Salafiyah Yamaniyah, maka kami berlepas diri dari pemilah-milahan ini, karena salafiyah itu satu!!! Telah wafat para imam kita dan mereka semua bersepakat di atasnya, telah wafat al-Albani dan beliau mencintai Ibnu Baz, telah wafat Ibnu Baz dan beliau mencintai al-Albani, telah wafat pula Ibnu ‘Utsaimin dan beliau mencintai keduanya, serta telah wafat permata negeri Yaman, Syaikh Muqbil dan beliau mencintai seluruhnya…”[16]

Beliau hafizhahullahu juga berkata :

« … وأننا بفضل الله نشرنا هذا المنهج في مشارق الأرض وفي مغاربه لا نفرّق بين السلفيّين و لا نفضّل بعضَهم على بعضٍ بل نجمعَ شملهم وندعوا إلى الصلح بينهم وندعوا إلى التوفيق بينهم … »

“Dan kami dengan fadilah dari Alloh, menyebarkan manhaj ini di bumi bagian timur dan barat, dan kami tidak memilah-milah di antara salafiyin, kami tidak mengutamakan antara satu dengan lainnya, namun kami persatukan kalimat mereka dan kami ajak mereka kepada perdamaian di antara mereka serta kami seru mereka kepada saling meluruskan di antara mereka…”[17]

Apa yang saya lakukan di dalam menyusun risalah ini adalah suatu upaya sederhana untuk turut memberikan kontribusi di dalam memberikan nasehat, klarifikasi, kritikan dan masukan, baik untuk diri saya sendiri maupun selainnya. Saya di sini tidak lebih dan tidak bukan hanyalah menyokong dan mendukung apa yang telah dituangkan oleh saudara saya yang mulia, al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda di dalam bukunya “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”.

Saya juga turut sedikit memberikan jawaban dan klarifikasi terhadap syubuhat yang dilontarkan oleh saudara-saudara saya salafiyin yang terpengaruh oleh faham ghuluw ini di bab akhir risalah ini.

وأسأل الله عز وجل أن يوفق الجميع لما فيه تحصيل العلم النافع والعمل به والدعوة إليه على بصيرة، وأن يجمعهم على الحق والهدى، ويسلمهم من الفتن ما ظهر منها وما بطن، إنه ولي ذلك والقادر عليه، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

Saya memohon pada Allah ‘Azza wa Jalla semoga memberikan Taufiq-Nya kepada (kita) seluruhnya untuk mendapatkan ilmu yang bermanfa’at dan beramal dengannya serta berda’wah kepadanya di atas hujjah yang nyata, dan semoga Ia mengumpulkan kita semuanya di atas kebenaran dan petunjuk dan menyelamatkan kita semuanya dari berbagai fitnah baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Allah Maha penolong atas segala hal dan Dia Maha kuasa atasnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kemudian.[18]

Malang, 14 September 2006Al-Faqir ila ‘Afwa RobbihiAbu Salma al-Atsari

——————————————————————————–
[1] Dinukil dari Muqoddimah Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah oleh al-Allamah Abdul Muhsin al-‘Abbad, tanpa penerbit, cet. I, 1423 H./2003 M., hal. 3.

[2] Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun : Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003, tanpa penerbit.[3] Hiyas Salafiyyah Fa’rifuhaa karya Samir al-Mabhuh al-Kuwaiti. Didownload dari http://www.sahab.org.
[4] Ucapan al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah. Op.Cit., hal. 7-8.

[5] Beberapa penulis menukil ucapan beliau ini sebagai ibrah di dalam menjelaskan manhaj yang shahih di dalam masalah tabdi’ dan hajr. Di antaranya adalah seperti yang dilakukan oleh Syaikh ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim di dalam bukunya Manhaj as-Salafiy ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani dan al-Ushul allati bana ‘alaiha ghulatu madzhabihim fit tabdi’, dan Syaikh Said bin Shabir Abduh di dalam kitabnya Muzilul Ilbas fi Ahkam ‘alan Naasi. Demikian pula cuplikannya terdapat di dalam buku al-Akh al-Ustadz Firanda yang berjudul “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”. Bagi yang menghendaki kelengkapan terjemahan tceramah Syaikh al-Albani rahimahullahu ini bisa didownload di http://www.geocities.com/fsms_sunnah.

[6] Buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Imam Bukhari – Solo.

[7]Ada beberapa kalangan yang tidak menyukai buku ini, bahkan mereka “mengaduk di air keruh” dengan mengadukannya ke beberapa ulama yang akhirnya sebagian mereka melarang penyebarannya. Padahal telah jelas bahwa buku ini ditujukan oleh Syaikh kepada kalangan Ahlus Sunnah (Salafiyun) sebagaimana beliau syarh sendiri di Masjid an-Nabawi beberapa saat setelah buku ini keluar. Beberapa ulama kibar semisal Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan dan Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh angkat suara di dalam membela risalah ini. Bahkan Syaikh Abdus Salam Barjas Alu Abdil Karim rahimahullahu marah besar ketika ditanya pendapatnya tentang risalah ini dikarenakan beliau merasa bahwa orang seperti beliau tidak layak untuk dimintai pendapat akan bukunya al-Allamah al-‘Abbad. Namun, seorang muta’aalim dari
Bahrain yang bernama Fauzi al-Bahraini menulis bantahan terhadap buku ini yang berjudul Madza Yuridu Ahlus Sunnah bi Ahlis Sunnah. Alhamdulillah buku ini tertolak karena beberapa masyaikh telah menolak dan membantahnya, diantaranya Syaikh Abdus Salam Barjas, Syaikh Abdul Malik Ramadhani, Syaikh Salim, dll. Bagi yang ingin mendapatkan edisi Bahasa Indonesia (atas kebaikan al-Ustadz Alu Musri Semjan Putra) dan Arabnya, beserta Syarh dan tazkiyah ulama tentangnya, bisa dicopy dari http://www.geocities.com/abu_amman/rifqon.htm.

[8] Buku ini terbit sebagai respon adanya beberapa ulama yang mentahdzir risalah Rifqon beliau sehingga beliau perlu untuk mengklarifikasi dan menjelaskan akan kesalahan mereka. Bahkan pasca buku ini terbit, beberapa oknum dari kaum ghulat semisal Falih al-Harbi dan Fauzi al-Bahraini terbongkar hakikat dan kedok manhajnya yang serupa dengan kaum Ghulat dan Haddadiyah Jadidah. Bab terakhir risalah ini yang berjudul at-Tahdzir min Fitnati at-Tajrih wat Tabdi’ min Ba’dli Ahlis Sunnah fi Hadzal ‘Ashr telah diterjemahkan, bisa dicopy di http://www.geocities.com/abu_amman/rifqon.htm atau di dalam http://muslim.or.id yang sedang diterjemahkan secara berkala keseluruhan risalah ini oleh seorang ukhtun alumni LBIA Yogyakarta –fa jazzahallahu khoyrol jazaa’-.

[9] Risalah ini sebenarnya adalah transkrip ceramah yang disampaikan oleh Syaikh di hadapan mahasiswa Islamic University of Madinah, yang ditranskrip oleh masyaikh Markaz al-Imam al-Albani dan disebarkan di dalam booklet resmi Markaz al-Imam al-Albani. Risalah ini telah diterjemahkan, bisa dicopy di http://www.geocities.com/abu_amman/ (Maktabah Abu Salma).

[10] Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili tercatat sudah memiliki dua nasehat berharga bagi salafiyin terutama salafiyunIndonesia. Pertama yang disebarkan oleh Ustadz Abdullah Z

ein dan Ustadz Anas Burhanudin, diterjemahkan oleh Ustadz Badrus Salam dan disebarkan oleh Majlis Ta’lim al-Furqon. Yang kedua adalah nasehat bagi generasi muda salafiyun, yang diterjemahkan oleh al-Ustadz Muhammad Arifin Baderi. Kedua nasehat ini bisa dicopy di Maktabah Abu Salma : http://www.geocities.com/abu_amman/

[11] Seperti artikel “Bahtera Dakwah Salafiyah di Indonesia”, “Dilema Tahdzir Antara Sebuah Tuntutan Dakwah dan Tumbal Sensasi…”, dll. Semuanya dapat dicopy di http://www.muslim.or.id.

[12] Seperti Tanya jawab yang beliau asuh di http://www.muslim.or.id yang berjudul “Fiotnah Sururi”, “Anda Salah Faham”, dll…

[13] Buku ini yang paling komprehensif, ilmiah dan lengkap pembahasannya. Isinya sarat dengan faidah dan manfaat yang dapat menghilangkan syubuhat dan kerancuan bagi orang-orang yang obyektif di dalam membacanya walaupun ada beberapa kalangan yang mencela dan menolaknya. Apabila buku seorang alim besar semisal al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad saja ada fihak yang menolak, mengkritik bahkan mencelanya, maka apalagi buku yang ditulis oleh al-Ustadz Firanda ini. Kritikan demi kritikan terus datang bertubi-tubi, ada yang ilmiah dan adapula yang berupa celaan dan makian belaka. Namun, alhamdulillah, hal ini tidak menyurutkan beliau, bahkan beliau di dalam cetakan keduanya menambah beberapa hal yang bermanfaat yang semakin mengokohkan isi buku ini. Pada cetakan kedua buku ini, al-Ustadz menambahkan di dalamnya kata pengantar dari 3 asatidzah yang mulia, yaitu al-Ustadz Abu ‘Auf at-Tamimi, al-Ustadz Abu Ihsan dan al-Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin hafizhahumullahu ajma’in. Beliau juga memperkaya dengan tambahan fatwa-fatwa yang bermanfaat dan nukilan-nukilan tambahan yang berfaidah. Alhamdulillah. Semoga Alloh membalas kebaikan bagi penulisnya dan menjadikan bukunya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.

[14] Saya belum membaca keseluruhan buku ini. Namun saya pernah membaca sebagian dengan metode scan reading (membaca cepat dengan melompat-lompat tiap halaman hanya untuk mengetahui isi buku ini). Saya tidak begitu tertarik membaca buku ini secara keseluruhan karena tidak ada yang spesial pada buku ini. Namun, saya agak terperanjat ketika melihat dan mendengar berita bahwa buku ini sangat laris. Wallahu a’lam, apakah laris di kalangan ikhwah salafiyah ataukah laris di kalangan saudara-saudara kita harokiyin dan hizbiyin yang bisa dijadikan ‘rudal’ oleh mereka untuk menyerang dakwah mubarokah ini.

[15] Istilah ini semakin ngetrend di forum-forum internet yang isinya kebanyakan mencela dakwah salafiyah. Istilah ini semakin terkenal lagi setelah al-Ustadz Abduh Zulfidar Akaha –hadahullahu- mempergunakannya di dalam bukunya yang berjudul “Siapa Teroris Siapa Khowarij?” (bantahan terhadap buku “Mereka adalah teroris” karya al-Ustadz Luqman Ba’abduh,) terbitan Pustaka al-Kautsar. Saya telah membaca buku ini dari A sampai Z

-nya, dan ada beberapa mulahadhot (catatan) yang perlu diberikan terhadap buku ini. Syubuhat di dalamnya sangat luar biasa sekali, karena penulis selain memiliki bekal pengalaman yang ‘lebih’ di dalam dunia jurnalistik, penulis juga cukup aktif mencari sumber, data dan fakta dengan surfing dan browsing di dunia maya. Sehingga tidak kurang dari 50 persen isi bukunya berkisar dari sumber internet. Metode jurnalis bak wartawan sangat kentara di dalam bukunya ini. Apabila Alloh meberikan waktu luang maka saya akan sedikit memberikan beberapa catatan ringan dan singkat terhadap buku yang konon sangat ‘fenomenal’ ini.

[16] Ceramah Syaikh Salim al-Hilali yang disampaikan pada saat penutupan Dauroh fi Masa`ilil Aqodiyah wal Manhajiyah di Masjid Al-Irsyad, tahun 2001 silam. Dauroh ini dilaksanakan atas kerjasama Ma’had ‘Ali Al-Irsyad as-Salafi bekerjasama dengan Markaz al-Imam al-Albani Yordania. (rekaman MP-3 menit ke-11:51-12:40).

[17] Ibid. Menit ke-13:29-13-50).

[18] Dinukil dari akhir risalah Rifqon. Op.Cit., hal. 62.

(Bersambung Bagian 2)

Hukum Memakan Ular, Monyet, Kepeting, Kodok, Kelelawar, dll. Bag. terakhir.


Penulis : Al-Ustadz Abu Muawiah Hafidzahullah

Setelah sebelumnya dibahas mengenai hukum Bangkai, Darah, Daging babi, Khamr, Hewan buas bertaring, Burung bercakar kuat, Jallalah (pemakan faeces), Kuda, keledai jinak dan Baghol, maka tulisan berikut akan membahas mengenai Hukum dari:

  • Anjing, Gajah, Kelinci, Belalang, Kadal padang pasir, Kepiting, Gagak, Anjing laut
  • Kucing, Musang, Landak, Kodok, Semut, Burung Hud-hud, Tikus, Kelelawar
  • Monyet, Hyena, Lebah, Kalajengking, Kura-kura, Ular, Tokek, Serangga

1. Anjing.
Para ulama sepakat akan haramnya memakan anjing, di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah bahwa anjing termasuk dari hewan buas yang bertaring yang telah berlalu pengharamannya. Dan telah tsabit dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabd  a:

إِنَّ الله إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu maka Dia akan mengharamkan harganya[1]“.

Dan telah tsabit dalam hadits Abu Mas’ud Al-Anshory riwayat Al-Bukhary dan Muslim dan juga dari hadits Jabir riwayat Muslim akan haramnya memperjualbelikan anjing.

[Al-Luqothot point ke-12]

2. Kucing baik yang jinak maupun yang liar.

Jumhur ulama menyatakan haramnya memakan kucing karena dia termasuk hewan yang bertaring dan memangsa dengan taringnya. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Al-Fauzan. Dan juga telah warid dalam hadits Jabir riwayat Imam Muslim akan larangan meperjualbelikan kucing, sehingga hal ini menunjukkan haramnya.

[Al-Majmu' (9/8) dan Hasyiyah Ibni 'Abidin (5/194)]

3. Monyet.

Ini merupakan madzhab Syafi’iyah dan merupakan pendapat dari ‘Atho`, ‘Ikrimah, Mujahid, Makhul, dan Al-Hasan. Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Dan monyet adalah haram, karena Allah -Ta’ala- telah merubah sekelompok manusia yang bermaksiat (Yahudi) menjadi babi dan monyet sebagai hukuman atas mereka. Dan setiap orang yang masih mempunyai panca indra yang bersih tentunya bisa memastikan bahwa Allah -Ta’ala- tidaklah merubah bentuk (suatu kaum) sebagai hukuman (kepada mereka) menjadi bentuk yang baik dari hewan, maka jelaslah bahwa monyet tidak termasuk ke dalam hewan-hewan yang baik sehingga secara otomatis dia tergolong hewan yang khobits (jelek)”[2].

[Al-Luqothot point ke-13]

4. Gajah.

Madzhab jumhur ulama menyatakan bahwa dia termasuk ke dalam kategori hewan buas yang bertaring. Dan inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr, Al-Qurthuby, Ibnu Qudamah, dan Imam An-Nawawy -rahimahumullah-.

[Al-Luqothot point ke-14]

5. Musang (arab: tsa’lab)

Halal, karena walaupun bertaring hanya saja dia tidak mempertakuti dan memangsa manusia atau hewan lainnya dengan taringnya dan dia juga termasuk dari hewan yang baik (arab: thoyyib). Ini merupakan madzhab Malikiyah, Asy-Syafi’iyah, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad.

[Mughniyul Muhtaj (4/299), Al-Muqni' (3/528), dan Asy-Syarhul Kabir (11/67)]

6. Hyena/kucing padang pasir (arab: Dhib’un)

Pendapat yang paling kuat di kalangan ulama -dan ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’iy dan Imam Ahmad- adalah halal dan bolehnya memakan daging hyena. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Abi ‘Ammar, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, “apakah hyena termasuk hewan buruan?”, beliau menjawab, “iya”. Saya bertanya lagi, “apakah boleh memakannya?”, beliau menjawab, “boleh”. Saya kembali bertanya, “apakah pembolehan ini telah diucapkan oleh Rasulullah?”, beliau menjawab, “iya”“. Diriwayatkan oleh Imam Lima[3] dan dishohihkan oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan selainnya. Lihat Talkhishul Khabir (4/152).

Pendapat ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath (9/568) dan Imam Asy-Syaukany.

Adapun jika ada yang menyatakan bahwa hyena adalah termasuk hewan buas yang bertaring, maka kita jawab bahwa hadits Jabir di atas lebih khusus daripada hadits yang mengharamkan hewan buas yang bertaring sehingga hadits yang bersifat khusus lebih didahulukan. Atau dengan kata lain hyena diperkecualikan dari pengharaman hewan buas yang bertaring. Lihat Nailul Author (8/127) dan I’lamul Muwaqqi’in (2/117).

[Mughniyul Muhtaj (4/299) dan Al-Muqni' (3/52)]

7. Kelinci.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-:

أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم أُهْدِيَ لَهُ عَضْوٌ مِنْ أَرْنَبٍ، فَقَبِلَهُ

“Sesungguhnya beliau (Nabi) -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah diberikan hadiah berupa potongan daging kelinci, maka beliaupun menerimanya”.

Imam Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughny, “Kami tidak mengetahui ada seorangpun yang mengatakan haramnya (kelinci) kecuali sesuatu yang diriwayatkan dari ‘Amr ibnul ‘Ash”.

[Al-Luqothot point ke-16]

8. Belalang.

Telah berlalu dalam hadits Ibnu ‘Umar bahwa bangkai belalang termasuk yang diperkecualikan dari bangkai yang diharamkan. Hal ini juga ditunjukkan oleh perkataan Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-:

غَزَوْنََا مَعَ رسول الله صلى الله عليه وسلم سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ

“Kami berperang bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sebanyak 7 peperangan sedang kami hanya memakan belalang”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

[Al-Luqothot point ke-17]

9. Kadal padang pasir (arab: dhobbun[4]).

Pendapat yang paling kuat yang merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah bahwa dhabb adalah halal dimakan, hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang biawak:

كُلُوْا وَأَطْعِمُوْا فَإِنَّهُ حَلاَلٌ

“Makanlah dan berikanlah makan dengannya (dhabb) karena sesungguhnya dia adalah halal”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Umar)

Adapun keengganan Nabi untuk memakannya, hanyalah dikarenakan dhabb bukanlah makanan beliau, yakni beliau tidak biasa memakannya. Hal ini sebagaimana yang beliau khabarkan sendiri dalam sabdanya:

لاَ بَأْسَ بِهِ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي

“Tidak apa-apa, hanya saja dia bukanlah makananku”.

Ini yang dikuatkan oleh Imam An-Nawawy dalam Syarh Muslim (13/97).

[Mughniyul Muhtaj (4/299) dan Al-Muqni' (3/529)]

10. Landak.

Syaikh Al-Fauzan menguatkan pendapat Asy-Syafi’iyyah akan boleh dan halalnya karena tidak ada satupun dalil yang menyatakan haram dan khobitsnya. Lihat Al-Majmu’ (9/10).

11. Ash-shurod, kodok, semut, burung hud-hud, dan lebah.

Kelima hewan ini haram dimakan, berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata:

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُدِ

“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang membunuh shurod, kodok, semut, dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih).

Adapun larangan membunuh lebah, warid dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.

Dan semua hewan yang haram dibunuh maka memakannyapun haram. Karena tidak mungkin seeokor binatang bisa dimakan kecuali setelah dibunuh.

[Al-Luqothot point ke-19 s/d 23]

12. Yarbu’.

Halal. Ini merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, dan merupakan pendapat ‘Urwah, ‘Atho` Al-Khurosany, Abu Tsaur, dan Ibnul Mundzir, karena asal dari segala sesuatu adalah halal, dan tidak ada satupun dalil yang menyatakan haramnya yarbu’ ini. Inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny (11/71).

[Hasyiyatul Muqni' (3/528) dan Mughniyul Muhtaj (4/299)]

13. Kalajengking, ular, gagak, tikus, tokek, dan cicak.

Karena semua hewan yang diperintahkan untuk dibunuh tanpa melalui proses penyembelihan adalah haram dimakan, karena seandainya hewan-hewan tersebut halal untuk dimakan maka tentunya Nabi tidak akan mengizinkan untuk membunuhnya kecuali lewat proses penyembelihan yang syar’iy.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فَي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: اَلْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الْاَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالٍْكَلْبُ وَالْحُدَيَّا

“Ada lima (binatang) yang fasik (jelek) yang boleh dibunuh baik dia berada di daerah halal (selain Mekkah) maupun yang haram (Mekkah): Ular, gagak yang belang, tikus, anjing, dan rajawali (HR. Muslim)

Adapun tokek dan -wallahu a’lam- diikutkan juga kepadanya cicak, maka telah warid dari hadits Abu Hurairah riwayat Imam Muslim tentang anjuran membunuh wazag (tokek).

[Bidayatul Mujtahid (1/344) dan Tafsir Asy-Syinqithy (1/273)]

14. Kura-kura (arab: salhafat), anjing laut, dan kepiting (arab: sarthon).

Telah berlalu penjelasannya pada pendahuluan yang ketiga bahwa ketiga hewan ini adalah halal dimakan.

[Al-Luqothot point ke-28 s/d 30]

15. Siput (arab: halazun) darat, serangga kecil, dan kelelawar.

Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis serangga, seperti: tokek (masuk juga cicak), kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk dan yang sejenis dengan mereka, berdasarkan firman Allah -Ta’ala-, “Diharamkan untuk kalian bangkai”, dan firman Allah -Ta’ala-, “Kecuali yang kalian sembelih”. Dan telah jelas dalil yang menunjukkan bahwa penyembelihan pada hewan yang bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah teranggap secara syar’iy kecuali jika dilakukan pada tenggorokan atau dadanya. Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan, kecuali bangkai yang tidak disembelih”[5].

[Al-Luqothot point ke-31 s/d 34]

 

Inilah secara ringkas penyebutan beberapa kaidah dalam masalah penghalalan dan pengharaman makanan beserta contoh-contohnya semoga bisa bermanfaat. Penyebutan makanan sampai point ke-25 di atas bukanlah dimaksudkan untuk membatasi bahwa makanan yang haram jumlahnya hanya sekitar itu, akan tetapi yang kami inginkan dengannya hanyalah menjelaskan kaidah umum dalam masalah ini yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur dalam menghukumi hewan-hewan lain yang tidak sempat kami sebutkan.

Adapun makanan selain hewan dan juga minuman, maka hukumnya telah kami terangkan secara global dalam pendahuluan-pendahuluan di awal pembahasan, yang mana pendahuluan-pendahuluan ini adalah semacam kaidah untuk menghukumi semuanya, wallahul muwaffiq.

 

Referensi:

  1. Al-Ath’imah wa Ahkamis Shoyd wadz Dzaba`ih, karya Syaikh Al-Fauzan, cet. I th. 1408 H/1988 M, penerbit: Maktabah Al-Ma’arif Ar-Riyadh.
  2. Al-Majmu’, Imam An-Nawawy, Cet. Terakhir, th. 1415 H/1995 M, penerbut: Dar Ihya`ut Turots Al-Araby.
  3. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd Al-Maliky, cet. X, th. 1408 H/1988 M, penerbit: Darul Kutubil ‘Ilmiyah .
  4. Al-Luqothot fima Yubahu wa Yuhramu minal Ath’imah wal Masyrubat, karya Muhammad bin Hamd Al-Hamud An-Najdy.

[1] Maksudnya diharamkan menjualnya, menyewanya, dan seterusnya dari bentuk tukar-menukar harga.

[2] Al-Muhalla (7/429)

[3] Mereka adalah Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa`iy, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah.

[4] Termasuk kekeliruan dari sebagian orang ketika menerjemahkan dhib’un dengan biawak, padahal keduanya berbeda. Biawak termasuk hewan yang diharamkan untuk dimakan, wallahu a’lam.

[5] Al-Muhalla (7/405).

Sumber :  http://al-atsariyyah.com/?p=307

hukum Bangkai,Darah, Daging Babi, Kuda, keledai, dll, Bag. 4 dari 5.


Penulis : Al-Ustadz Abu Muawiah Hafidzahullah

Setelah memahami ketiga pendahuluan di atas, maka berikut penyebutan satu persatu makanan yang dibahas oleh para ulama beserta hukumnya masing-masing:

1. Bangkai

Bangkai adalah semua hewan yang mati tanpa penyembelihan yang syar’iy dan juga bukan hasil perburuan.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan dalam firman-Nya:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya”. (QS. Al-Ma`idah: 3)

Dan juga dalam firmannya:

وَلاَ تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan”. (QS. Al-An’am: 121)

Jenis-jenis bangkai berdasarkan ayat-ayat di atas:

  1. Al-Munhaniqoh, yaitu hewan yang mati karena tercekik.
  2. Al-Mauqudzah, yaitu hewan yang mati karena terkena pukulan keras.
  3. Al-Mutaroddiyah, yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat yang tinggi.
  4. An-Nathihah, yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya.
  5. Hewan yang mati karena dimangsa oleh binatang buas.
  6. Semua hewan yang mati tanpa penyembelihan, misalnya disetrum.
  7. Semua hewan yang disembelih dengan sengaja tidak membaca basmalah.
  8. Semua hewan yang disembelih untuk selain Allah walaupun dengan membaca basmalah.
  9. Semua bagian tubuh hewan yang terpotong/terpisah dari tubuhnya. Hal ini berdasarkan hadits Abu Waqid secara marfu‘:

مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيْمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ، فَهُوَ مَيْتَةٌ

“Apa-apa yang terpotong dari hewan dalam keadaan dia (hewan itu) masih hidup, maka potongan itu adalah bangkai”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy dan dishohihkan olehnya)

Diperkecualikan darinya 3 bangkai, ketiga bangkai ini halal dimakan:

1.  Ikan, karena dia termasuk hewan air dan telah berlalu penjelasan bahwa semua hewan air adalah halal bangkainya kecuali kodok.

2.  Belalang. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar secara marfu‘:

أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالسَّمَكُ وَالْجَرَادُ, وَأَمَّا الدَّمَانِ: فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Adapun kedua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dan adapun kedua darah itu adalah hati dan limfa”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

3.   Janin yang berada dalam perut hewan yang disembelih. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`iy, bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

ذَكَاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ

“Penyembelihan untuk janin adalah penyembelihan induknya”.

Maksudnya jika hewan yang disembelih sedang hamil, maka janin yang ada dalam perutnya halal untuk dimakan tanpa harus disembelih ulang.

[Al-Luqothot fima Yubahu wa Yuhramu minal Ath'imah wal Masyrubat point pertama]

2. Darah.

Yakni darah yang mengalir dan terpancar. Hal ini dijelaskan dalam surah Al-An’am ayat 145:

أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا

“Atau darah yang mengalir”.

Dikecualikan darinya hati dan limfa sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang baru berlalu. Juga dikecualikan darinya darah yang berada dalam urat-urat setelah penyembelihan.

3. Daging babi.

Telah berlalu dalilnya dalam surah Al-Ma`idah ayat ketiga di atas. Yang diinginkan dengan daging babi adalah mencakup seluruh bagian-bagian tubuhnya termasuk lemaknya.

4. Khamar.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”. (QS. Al-Ma`idah: 90

Dan dalam hadits riwayat Muslim dari Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- secara marfu‘:

كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

“Semua yang memabukkan adalah haram, dan semua khamar adalah haram”.

Dikiaskan dengannya semua makanan dan minuman yang bisa menyebabkan hilangnya akal (mabuk), misalnya narkoba dengan seluruh jenis dan macamnya.

5. Semua hewan buas yang bertaring.

Sahabat Abu Tsa’labah Al-Khusyany -radhiallahu ‘anhu- berkata:

أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ

“Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari (mengkonsumsi) semua hewan buas yang bertaring”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Dan dalam riwayat Muslim darinya dengan lafazh, “Semua hewan buas yang bertaring maka memakannya adalah haram”.

Yang diinginkan di sini adalah semua hewan buas yang bertaring dan menggunakan taringnya untuk menghadapi dan memangsa manusia dan hewan lainnya. Lihat Al-Ifshoh (1/457) dan I’lamul Muwaqqi’in (2/117).

Jumhur ulama berpendapat haramnya berlandaskan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya.

[Asy-Syarhul Kabir (11/66), Mughniyul Muhtaj (4/300), dan Syarh Tanwiril Abshor ma'a Hasyiyati Ibnu 'Abidin (5/193)]

6. Semua burung yang memiliki cakar.

Yang diinginkan dengannya adalah semua burung yang memiliki cakar yang kuat yang dia memangsa dengannya, seperti: elang dan rajawali. Jumhur ulama dari kalangan Imam Empat -kecuali Imam Malik- dan selainnya menyatakan pengharamannya berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas -radhiallahu ‘anhuma-:

نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، وَكُلُّ ذِيْ مَخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ

“Beliau (Nabi) melarang untuk memakan semua hewan buas yang bertaring dan semua burung yang memiliki cakar”. (HR. Muslim)

[Al-Majmu' (9/22), Al-Muqni' (3/526,527), dan Takmilah Fathil Qodir (9/499)]

7. Jallalah.

Dia adalah hewan pemakan feses (kotoran) manusia atau hewan lain, baik berupa onta, sapi, dan kambing, maupun yang berupa burung, seperti: garuda, angsa (yang memakan feses), ayam (pemakan feses), dan sebagian gagak. Lihat Nailul Author (8/128).

Hukumnya adalah haram. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad -dalam satu riwayat- dan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Syafi’iyah, mereka berdalilkan dengan hadits Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- beliau berkata:

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا

“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari memakan al-jallalah dan dari meminum susunya”. (HR. Imam Lima kecuali An-Nasa`iy (3787))

Beberapa masalah yang berkaitan dengan jallalah:

  1. Tidak semua hewan yang memakan feses masuk dalam kategori jallalah yang diharamkan, akan tetapi yang diharamkan hanyalah hewan yang kebanyakan makanannya adalah feses dan jarang memakan selainnya. Dikecualikan juga semua hewan air pemakan feses, karena telah berlalu bahwa semua hewan air adalah halal dimakan. Lihat Hasyiyatul Al-Muqni’ (3/529).
  2. Jika jallalah ini dibiarkan sementara waktu hingga isi perutnya bersih dari feses maka tidak apa-apa memakannya ketika itu. Hanya saja mereka berselisih pendapat mengenai berapa lamanya dia dibiarkan, dan yang benarnya dikembalikan kepada ukuran adat kebiasaan atau kepada sangkaan besar. Lihat Al-Majmu‘ (9/28).

[Al-Muqni' (3/527,529), Mughniyul Muhtaj (4/304), dan Takmilah Fathil Qodir (9/499-500)]

8. Keledai jinak (bukan yang liar).

Ini merupakan madzhab Imam Empat kecuali Imam Malik dalam sebagian riwayat darinya. Dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ الله ورسوله يَنْهَيَاكُمْ عَنْ لُحُوْمِ ِالْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ, فَإِنَّهَا رِجْسٌ

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian untuk memakan daging-daging keledai yang jinak, karena dia adalah najis”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Diperkecualikan darinya keledai liar, karena Jabir -radhiallahu ‘anhu- berkata:

أَكَلْنَا زَمَنَ خَيْبَرٍ اَلْخَيْلَ وَحُمُرَ الْوَحْشِ ، وَنَهَانَا النبي صلى الله عليه وسلم عَنِ الْحِمَارِ الْأَهْلِيْ

“Saat (perang) Khaibar, kami memakan kuda dan keledai liar, dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang kami dari keledai jinak”. (HR. Muslim)

Inilah pendapat yang paling kuat, sampai-sampai Imam Ibnu ‘Abdil Barr menyatakan, “Tidak ada perselisihan di kalangan ulama zaman ini tentang pengharamannya”. Lihat Al-Mughny beserta Asy-Syarhul Kabir (11/65).

[Al-Bada`i' (5/37), Mughniyul Muhtaj (4/299), Al-Muqni' (3/525), dan Al-Bidayah (1/344].

9. Kuda.

Telah berlalu dalam hadits Jabir bahwasanya mereka memakan kuda saat perang Khaibar. Semakna dengannya ucapan Asma` bintu Abi Bakr -radhiallahu ‘anhuma-:

نَحَرْنَا فَرَسًا عَلَى عَهْدِ رسول الله صلى الله عليه وسلم فَأَكَلْنَاهُ

“Kami menyembelih kuda di zaman Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- lalu kamipun memakannya”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Maka ini adalah sunnah taqririyyah (persetujuan) dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Asy-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah, salah satu pendapat dalam madzhab Malikiyah, serta merupakan pendapat Muhammad ibnul Hasan dan Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah. Dan ini yang dikuatkan oleh Imam Ath-Thohawy sebagaimana dalam Fathul Bary (9/650) dan Imam Ibnu Rusyd dalam Al-Bidayah (1/3440).

[Mughniyul Muhtaj (4/291-291), Al-Muqni' beserta hasyiyahnya (3/528), Al-Bada`i' (5/18), dan Asy-Syarhus Shoghir (2/185)]

10. Baghol.

Dia adalah hewan hasil peranakan antara kuda dan keledai. Jabir -radhiallahu ‘anhuma- berkata:

حَرَّمَ رسول الله صلى الله عليه وسلم – يَعْنِي يَوْمَ خَيْبَرٍٍ لُحُوْمَ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ، وَلُحُوْمَ الْبِغَالِ

“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengharamkan -yakni saat perang Khaibar- daging keledai jinak dan daging baghol. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzy)

Dan ini (haram) adalah hukum untuk semua hewan hasil peranakan antara hewan yang halal dimakan dengan yang haram dimakan.

[Al-Majmu' (9/27), Ays-Syarhul Kabir (11/75), dan Majmu' Al-Fatawa (35/208)].

Bersambung ke Bagian 5 (terakhir)..

Sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=307

Bagaimana Hukum Hewan yang Hidup di 2 Alam bag. 3 dari 5


Makanan Halal & Haram Dari A Sampai Z

Penulis : Al-Ustadz Abu Muawiah Hafidzahullah

 

Pendahuluan Ketiga: Makanan manusia secara umum ada dua jenis:

1. Selain hewan, terdiri dari tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, benda-benda (roti, kue dan sejenisnya), dan yang berupa cairan (air dengan semua bentuknya).

Ibnu Hubairah -rahimahullah- dalam Al-Ifshoh (2/453) menukil kesepakatan ulama akan halalnya jenis ini kecuali yang mengandung mudhorot.

2. Hewan, yang terdiri dari hewan darat dan hewan air.

Hewan darat juga terbagi menjadi dua;

a. Jinak, yaitu semua hewan yang hidup di sekitar manusia dan diberi makan oleh manusia, seperti: hewan ternak

b. Liar, yaitu semua hewan yang tinggal jauh dari manusia dan tidak diberi makan oleh manusia, baik dia buas maupun tidak. Seperti: singa, kelinci, ayam hutan, dan sejenisnya.

Hukum hewan darat dengan kedua bentuknya adalah halal kecuali yang diharamkan oleh syari’at[1], yang rinciannya insya Allah akan datang satu persatu.

 

Hewan air juga terbagi menjadi 2:

a. Hewan yang hidup di air yang jika dia keluar darinya akan segera mati, contohnya adalah ikan dan yang sejenisnya.

b. Hewan yang hidup di dua alam, seperti buaya dan kepiting[2].

Hukum hewan air bentuk yang pertama, -menurut pendapat yang paling kuat- adalah halal untuk dimakan secara mutlak. Ini adalah pendapat Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah, mereka berdalilkan dengan keumuman dalil dalam masalah ini, di antaranya adalah firman Allah -Ta’ala-:

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu” (QS. Al-Ma`idah: 96)

 

Adapun bangkainya maka ada rincian dalam hukumnya:

a. Jika dia mati dengan sebab yang jelas, misalnya: terkena lemparan batu, disetrum, dipukul, atau karena air surut, maka hukumnya adalah halal berdasarkan kesepakatan para ulama. Lihat Al-Mughny ma’a Asy-Syarhul Kabir (11/195)

b. Jika dia mati tanpa sebab yang jelas, hanya tiba-tiba diketemukan mengapung di atas air, maka dalam hukumnya ada perselisihan. Yang kuat adalah pendapat jumhur dari kalangan Imam Empat kecuali Imam Malik, mereka menyatakan bahwa hukumnya tetap halal. Mereka berdalilkan dengan keumuman sabda Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Dia (laut) adalah pensuci airnya dan halal bangkainya”. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Imam Al-Bukhary). Lihat At-Talkhish (1/9)

[Al-Bidayah (1/345), Asy-Syarhul Kabir (2/115), Mughniyul Muhtaj (4/291), dan Al-Majmu' (9/32,33), Al-Mughny ma'a Asy-Syarhul Kabir (11/84,195]

 

Adapun bentuk yang kedua dari hewan air, yaitu hewan yang hidup di dua alam, maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat Asy-Syafi’iyah yang menyatakan bahwa seluruh hewan yang hidup di dua alam -baik yang masih hidup maupun yang sudah jadi bangkai- seluruhnya adalah halal kecuali kodok. Dikecualikan darinya kodok karena ada hadits yang mengharamkannya[3]. Lihat Al-Majmu’ (9/32-33)

Bersambung ke Bagian-4..


[1] Manhajus Salikin (hal. 52)

[2] Lihat pembagian ini dalam Tafsir Al-Qurthuby (6/318) dan Al-Majmu’ (9/31-32)

[3] Akan datang dalil pengharamannya pada penyebutan makanan yang ke-21.

Sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=307

Kaidah Islam dalam Penghalalan dan Pengharaman makanan bag. 2 dari 5


Makanan Halal & Haram Dari A Sampai Z

Bagian ke-2 :  Kaidah Islam dalam Penghalalan dan Pengharaman makanan

Penulis : Al-Ustadz Abu Muawiah Hafidzahullah

Pendahuluan Kedua: Manhaj Islam dalam penghalalan dan pengharaman makanan adalah “Islam menghalalkan semua makanan yang halal, suci, baik, dan tidak mengandung mudhorot, demikian pula sebaliknya Islam mengharamkan semua makanan yang haram, najis atau ternajisi, khobits (jelek), dan yang mengandung mudhorot”.

Manhaj ini ditunjukkan dalam beberapa ayat, di antaranya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”. (QS. Al-Baqarah: 168)

Dan Allah mensifatkan Nabi Muhammad dalam firman-Nya:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. (QS. Al-A’raf: 157)

Allah melarang melakukan apa saja -termasuk memakan makanan- yang bisa memudhorotkan diri, dalam firman-Nya:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. (QS. Al-Baqarah: 195)

Juga sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain”.

Karenanya diharamkan mengkonsumsi semua makanan dan minuman yang bisa memudhorotkan diri -apalagi kalau sampai membunuh diri- baik dengan segera maupun dengan cara perlahan. Misalnya: racun, narkoba dengan semua jenis dan macamnya, rokok, dan yang sejenisnya.

Adapun makanan yang haram karena diperoleh dari cara yang haram, maka Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:

إِنَّ دِمَائَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

“Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan-kehormatan kalian antara sesama kalian adalah haram”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

 

Faidah:

1. Makna makanan yang najis adalah jelas, adapun makanan yang ternajisi, contohnya adalah mentega yang kejatuhan tikus. Hukumnya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Maimunah -radhiallahu ‘anha- bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- ditanya tentang lemak yang kejatuhan tikus, maka beliau bersabda:

أُلْقُوْهَا, وَمَا حَوْلَهَا فَاطْرَحُوْهُ، وَكُلُوْا سَمَنَكُمْ

“Buanglah tikusnya dan buang juga lemak yang berada di sekitarnya lalu makanlah lemak kalian”. (HR. Al-Bukhary)

Jadi jika yang kejatuhan najis adalah makanan padat, maka cara membersihkannya adalah dengan membuang najisnya dan makanan yang ada di sekitarnya, adapun sisanya boleh untuk dimakan. Akan tetapi jika yang kejatuhan najis adalah makanan yang berupa cairan, maka hukumnya dirinci; jika najis ini merubah salah satu dari tiga sifatnya (bau, rasa, dan warna) maka makanannya dihukumi najis sehingga tidak boleh dikonsumsi, demikian pula sebaliknya.

2. Makanan yang jelek (arab: khobits) ada dua jenis; yang jelek karena dzatnya -seperti: darah, bangkai, dan babi- dan yang jelek karena salah dalam memperolehnya -seperti: hasil riba dan perjudian-. Lihat Majmu’ Al-Fatawa (20/334).

3. Adapun ukuran kapan suatu makanan dianggap thoyyib (baik) atau khobits (jelek), maka hal ini dikembalikan kepada syari’at. Maka apa-apa yang dihalalkan oleh syari’at maka dia adalah thoyyib dan apa-apa yang diharamkan oleh syari’at maka dia adalah khabits, ini adalah madzhab Malikiyah dan yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana yang akan nampak dalam ucapan beliau.

Adapun jumhur ulama, mereka mengatakan bahwa yang menjadi ukuran dalam penentuannya adalah orang-orang Arab, karena kepada merekalah asalnya diturunkan Al-Qur`an sehingga mereka yang secara langsung diajak bicara oleh syari’at. Lihat Hasyiyah Ibni ‘Abidin (5/194), Al-Majmu’ (9/25-26), dan Asy-Syarhul Kabir (11/64).

Hanya saja ini (pendapat jumhur) adalah pendapat yang kurang kuat, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam menjelaskan makna firman Allah -Ta’ala-:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik.”. (QS. Al-Maidah: 4)

Beliau berkata, “Seandainya makna “yang baik” di sini adalah apa yang dihalalkan, maka tentunya kalimat ini tidak ada faidahnya[1]. Maka dari sini diketahuilah bahwa thoyyib dan khobits adalah sifat yang berada pada sebuah benda, dan bukan yang diinginkan dengannya (thoyyib) sekedar kelezatan dalam memakannya. Karena terkadang seorang manusia menikmati (merasa lezat) dengan apa yang membahayakan dirinya yang berupa racun[2], atau menikmati apa yang dilarang oleh dokter[3]. Dan bukan pula yang diinginkan darinya (thoyyib) dengan merasa nikmatnya sebagian bangsa -misalnya bangsa Arab- terhadap suatu makanan, dan bukan pula dianggap thoyyib karena keberadaannya sebagai makanan yang biasa dimakan (dinikmati) oleh orang-orang Arab. Hal itu karena, keberadaan suatu makanan biasa dimakan dan disenangi oleh sebagian bangsa atau sebaliknya mereka tidak menyukainya karena makanan itu tidak ada di negerinya, (semua ini) tidaklah mengharuskan Allah mengharamkan sebuah makanan kepada segenap kaum mu`minin dengan alasan mereka (sebagian bangsa) tidak terbiasa dengannya sebagaimana tidak mengharuskan Allah menghalalkan suatu makanan kepada segenap kaum mu`minin dengan alasan mereka (sebagian bangsa) terbiasa dengannya. Bagaimana tidak, padahal orang-orang Arab (dahulu) telah terbiasa (menyukai) dengan memakan darah, bangkai, dan selainnya padahal semuanya telah diharamkan oleh Allah -Ta’ala-. …. . Demikian halnya Quraisy, mereka memakan yang khobits yang telah Allah haramkan dan sebaliknya mereka tidak menyukai makanan-makanan yang Allah tidak mengharamkannya”. -Lalu beliau membawakan hadits yang menunjukkan Nabi tidak makan biawak, bukan karena dia haram akan tetapi karena beliau tidak biasa memakannya[4]-. “Maka dari sini jelaslah bahwa ketidaksukaan suku Quraisy dan selainnya (dari bangsa Arab) terhadap sebuah makanan tidaklah mengharuskan (baca: menunjukkan) pengharaman makanan tersebut atas segenap kaum mu`minin baik yang Arab maupun yang ajam (non-Arab). Dan juga sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabat beliau, tidak seorangpun di antara mereka yang mengharamkan makanan yang tidak disukai oleh orang Arab dan sebaliknya tidak pernah membolehkan apa yang (biasa) dimakan oleh orang Arab”[5].

Bersambung ke Bagian-3..

[1] Yakni karena berarti ayatnya akan bermakna, “dihalalkan bagi kalian yang halal”, sehingga kalimatnya tidak memiliki faidah tambahan.

[2] Seperti: narkoba dengan semua jenisnya, rokok, dan selainnya.

[3] Yakni untuk kesembuhannya dari sebuah penyakit.

[4] Akan datang haditsnya pada point ke-19

[5] Majmu’ Al-Fatawa (17/178-180) dan Al-Iktiyarot hal. 321.

Sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=307

apa Saja makanan halal dan Haram bag. 1 dari 5.


Makanan Halal dan Haram A-Z

Bagian 1 :  Asal dari Semua Makanan adalah Boleh dan Halal

Penulis : Al-Ustadz Abu Muawiah Hafidzahullah

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Termasuk di antara keluasan dan kemudahan dalam syari’at Islam, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menghalalkan semua makanan[1] yang mengandung maslahat dan manfaat, baik yang kembalinya kepada ruh maupun jasad, baik kepada individu maupun masyarakat. Demikian pula sebaliknya Allah mengharamkan semua makanan yang memudhorotkan atau yang mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Hal ini tidak lain untuk menjaga kesucian dan kebaikan hati, akal, ruh, dan jasad, yang mana baik atau buruknya keempat perkara ini sangat ditentukan -setelah hidayah dari Allah- dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia yang kemudian akan berubah menjadi darah dan daging sebagai unsur penyusun hati dan jasadnya. Karenanya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

أَيُّمَا لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ أَوْلَى لَهُ

“Daging mana saja yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas untuknya”.

Makanan yang haram dalam Islam ada dua jenis:

1. Ada yang diharamkan karena dzatnya. Maksudnya asal dari makanan tersebut memang sudah haram, seperti: bangkai, darah, babi, anjing, khamar, dan selainnya.

2. Ada yang diharamkan karena suatu sebab yang tidak berhubungan dengan dzatnya. Maksudnya asal makanannya adalah halal, akan tetapi dia menjadi haram karena adanya sebab yang tidak berkaitan dengan makanan tersebut. Misalnya: makanan dari hasil mencuri, upah perzinahan, sesajen perdukunan, makanan yang disuguhkan dalam acara-acara yang bid’ah, dan lain sebagainya.

Satu hal yang sangat penting untuk diyakini oleh setiap muslim adalah bahwa apa-apa yang Allah telah halalkan berupa makanan, maka disitu ada kecukupan bagi mereka (manusia) untuk tidak mengkonsumsi makanan yang haram.

[Muqaddimah Al-Luqothot fima Yubahu wa Yuhramu minal Ath'imah wal Masyrubat dan muqaddimah Al-Ath'imah karya Al-Fauzan]

 

Sebelum kita menyebutkan satu persatu makanan dan minuman yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah beserta hukumnya masing-masing, maka untuk lebih membantu memahami pembahasan, kami dahului dengan beberapa pendahuluan.

§ Pendahuluan Pertama: Asal dari semua makanan adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang menyatakan haramnya.

Allah -Ta’ala- berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah: 29)

Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu -termasuk makanan- yang ada di bumi adalah nikmat dari Allah, maka ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah halal dan boleh, karena Allah tidaklah memberikan nikmat kecuali yang halal dan baik.

Dalam ayat yang lain:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya”. (QS. Al-An’am: 119)

Maka semua makanan yang tidak ada pengharamannya dalam syari’at berarti adalah halal[2].

Faidah:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “Hukum asal padanya (makanan) adalah halal bagi seorang muslim yang beramal sholeh, karena Allah -Ta’ala- tidaklah menghalalkan yang baik-baik kecuali bagi siapa yang akan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya, bukan dalam kemaksiatan kepada-Nya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh”. (QS. Al-Ma`idah: 93)

Karenanya tidak boleh menolong dengan sesuatu yang mubah jika akan digunakan untuk maksiat, seperti memberikan daging dan roti kepada orang yang akan minum-minum khamar atau akan menggunakannya dalam kejelekan”[3].

Bersambung ke Bagian-2..

[1] Arab: tho’am, kata yang mencakup di dalamnya makanan dan minuman. Lihat Tahdzibul Asma` (2/186).

[2] Majmu‘ Fatawa Ibni Taimiyah (21/535)

[3] Al-Ikhtiyarot hal. 321.

Sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=307