SERIUS BERISLAM


 SERIUS BERISLAM

Ustadz  Abdullah Zaen, MA

Membaca judul di atas, seakan bisa dipahami bahwa di sana ada orang yang tidak serius dalam berislam. Memang begitulah realita yang ada, ternyata tidak sedikit orang yang belum serius dalam berislam. Kekurangseriusan tersebut tercermin, antara lain, dalam bentuk tidak mendalami agama dengan benar, atau tidak mempraktekkannya secara totalitas. Padahal Allah ta’ala telah mengingatkan,

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً”

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan”.QS. Al-Baqarah (2): 208.

Agar serius dalam berislam, maka kita perlu memahami dengan benar berbagai makna yang dikandung dalam kata ”Islam” itu sendiri. Yang di antaranya adalah:

1. Menerima dan berserah diri.

Hal ini merupakan salah satu prinsip dasar seorang dalam berislam. Bahwa dia harus pasrah dan menerima ajaran agama ini secara total. Sebagaimana telah dijelaskan di dalam firman Allah ta’ala,

“وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ”

Artinya: Siapakah yang lebih baik agamanya dibanding orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan“. QS. An-Nisa (4): 125.

Maka, orang yang mengaku beragama Islam, ia haruslah menerima dan pasrah dengan setiap detil ajaran Islam. Baik itu dalam akidah, ibadah maupun akhlak. Continue reading

Nabi Isa ‘Alaihissalam Dalam Aqidah Umat Islam


Nabi Isa ‘Alaihissalam Dalam Aqidah Umat Islam

Bismillah, walhamdulillah, washshalaatu wassalaamu ‘ala rasulillah,

nabi isaSungguh, Allah adalah Zat Yang Mahabijaksana. Dia memiliki kebijaksanaan yang sempurna yang jauh melampaui kebijaksanaan seluruh makhluk. Di antara bentuk kebijaksaan Allah adalah Ia ciptakan surga dengan segala macam kenikmatannya sebagai tempat kembali para hamba-Nya yang beriman kepadanya.

Dan merupakan bentuk keimanan kepadanya adalah beriman dengan para nabi dan rasul yang telah Ia utus ke dunia ini. Kita diperintahkan untuk meyakini mereka sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sepanjang sejarah manusia, telah banyak para nabi dan rasul yang Allah utus ke dunia ini yang bertugas menyampaikan dan mengajarkan agama-Nya serta mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya. Salah satu di antara mereka adalah Nabi Isa ‘alaihissalaam.

Siapa itu Nabi Isa

Beliau adalah seorang lelaki yang lahir dari perut seorang wanita perawan nan suci bernama Maryam. Ibunya merupakan anak perempuan dari seorang lelaki pilihan Allah bernama ‘Imran dari keturunan Bani Israil (anak-anak Nabi Ya’kub alaihissalam). Keluarga Imran ini merupakan salah satu keluarga yang dipilih Allah untuk mendapatkan keistimewaan dari-Nya berupa nikmat kenabian.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). Sebagiannya merupakan keturunan dari yang lainnya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Ali ‘Imran: 33-34)

Bagaimana Kelahiran Beliau?

Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan tanpa proses pernikahan ibunya Maryam dengan seorang lelaki. Artinya, beliau lahir tanpa ayah. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang mustahil bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Continue reading

Misteri Kematian Nabi Khidhr


Misteri Kematian Nabi Khidhr

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

gunungDalam dunia Sufi, sosok Khidhr[1]‘Alaihissalam adalah sosok manusia yang sangat ajaib. Dia hidup kekal nan abadi, memiliki ilmu syari’at dan ilmu laduni, beridentitas wali bukan Nabi. Yang paling unik dari klaim mereka adalah Khidhr ‘Alaihissalam dapat bertemu dengan para wali untuk mengajarkan ilmu-ilmu hakikat dan mengikat perjanjian dengan para penganut setia Sufi. Oleh karenanya tak aneh bila kita mendapati dongeng-dongeng para tokoh Sufi seperti Ibnu A’robi[2] dan asy-Sya’roni[3] yang bercerita bahwa mereka bertemu dengan Khidhr ‘Alaihissalam.

Walhasil, sosok Khidhr ‘Alaihissalam seakan menjadi sebuah khurofat mirip seperti cerita Superman yang dapat terbang ke setiap tempat dan bertemu dengan para handai taulan di setiap negara, lalu mengajarkan berbagai bentuk ibadah dan dzikir-dzikir! Setelah itu, maka jangan tanya lagi tentang kebid’ahan dan kerusakan yang disebabkan keyakinan nyeleneh tersebut.[4]

Bila kita telusuri lebih lanjut akar permasalahan kebobrokan kaum Shufi dalam masalah ini, niscaya akan kita dapati bahwa sumbernya adalah keyakinan bahwa Khidhr hanyalah wali dan dia masih hidup abadi. Dua keyakinan ini telah mampu menjerumuskan manusia kepada bencana, prasangka dusta dan kerancuan yang tidak dapat diterima akal dan agama. Seperti anggapan mereka bahwa wali lebih utama daripada Nabi, dan klaim bahwa si fulan telah bertemu dengan Khidhr ‘Alaihissalam dan mendapat ajaran ini dan itu, adanya ilmu laduni, ilmu dhohir dan batin, dan lain sebagainya.[5]

Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Khidhr masih hidup, apakah hadits-hadits tersebut shohih dalam penelitian ilmu hadits dan ahli hadits. Semoga bermanfaat.

TEKS HADITS

Banyak hadits yang disandarkan kepada Nabi mengenai cerita bahwa Khidhr ‘Alaihissalam masih hidup dan melakukan pertemuan dengan Nabi Yasa’, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatRadhiallahu’anhum, Umar bin Abdul Aziz Rahimahullahu Ta’ala dan sebagainya[6]. Berikut salah satu contohnya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ الْخَضِرَ فِي الْبَحْرِ وَالْيَسَعَ فِي الْبَرِّ ، يَجْتَمِعَانِ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَ الرَّدْمِ الَّذِيْ بَنَاهُ ذُوْ القَرْنَيْنِ بَيْنَ النَّاسِ وَبَيْنَ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ ، وَيَحُجَّانِ أَوْ يَجْتَمِعَانِ كُلَّ عَامٍ ، وَيَشْرَبَانِ مِنْ زَمْزَمَ شُرْبَةً تَكْفِيْهِمَا إِلَى قَابِلٍ

Dari Anas bin Malik berkata: “Rosululloh bersabda: ‘Sesungguhnya Khidhr di lautan dan Yasa’ di daratan, keduanya bertemu setiap malam di benteng yang dibangun oleh Dzul Qornain untuk menghalangi manusia dari Ya’juj dan Ma’juj. Keduanya menunaikan haji atau bertemu setiap tahun, dan keduanya minum air Zam-zam yang mencukupi untuk tahun berikutnya. Continue reading

MENGATASI KONDISI PERPECAHAN UMMAT ISLAM


MENGATASI KONDISI PERPECAHAN UMMAT ISLAM

Bersatu dan berpisah karena Allah

cropped-cropped-kaya-dan-miskin.jpgKondisi umat Islam yang berpecah sering memunculkan keprihatinan. Dari beberapa tokoh Islam sering muncul ajakan agar semua kelompok bersatu dalam satu wadah, tidak perlu mempermasalahkan perbedaan yang ada karena yang penting tujuannya sama yaitu memajukan Islam. Mungkinkah umat Islam bersatu dan bagaimana caranya?

Persatuan dan perpecahan merupakan dua kata yang saling berlawanan. Persatuan identik dengan keutuhan, persaudaraan, kesepakatan, dan perkumpulan. Sedangkan perpecahan identik dengan perselisihan, permusuhan, pertentangan dan perceraian.

Persatuan merupakan perkara yang diridhai dan diperintahkan oleh Allah, sedangkan perpecahan merupakan perkara yang dibenci dan dilarang oleh-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/367)

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita satu jalan yang wajib ditempuh oleh seluruh kaum muslimin, yang merupakan jalan yang lurus dan manhaj bagi agama-Nya yang benar ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan bahwasanya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan kepada kalian agar kalian bertaqwa.” (Al-An’am: 153). Continue reading

Hukum Memegang Tongkat Saat Khutbah


Hukum Memegang Tongkat Saat Khutbah

khotib pegang tongkatPertanyaan :

في بعض المساجد أرى الإمام يمسك بالعصا أثناء خطبته ، فهل هذا من السنة ؟ بارك الله فيكم.

Pada sebagian masjid, saya melihat imam memegang tongkat ketika khutbah, apakah ini termasuk dianjurkan (sunnah) ? Semoga Allah memberi barakah kepada Anda

Jawaban :

الحمد لله, اختلف الفقهاء في حكم اتكاء الخطيب على العصا ونحوها من قوس أو سيف أثناء خطبة الجمعة على قولين :

Alhamdulillah, para fuqaha’ berbeda pendapat tentang hukum khatib yang bertumpu pada tongkat atau benda yang semisalnya, seperti  busur panah dan pedang saat khutbah jum’at. Pendapat mereka terbagi menjadi dua :

القول الأول : الندب والاستحباب ، وهو مذهب جمهور العلماء من المالكية والشافعية والحنابلة .

Pendapat pertama : dianjurkan dan disunnahkan. Ini adalah madzab mayoritas ulama’ dari kalangan ulama’ Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.

يقول الإمام مالك رحمه الله :” وذلك مما يستحب للأئمة أصحاب المنابر ، أن يخطبوا يوم الجمعة ومعهم العصي يتوكؤون عليها في قيامهم ، وهو الذي رَأَيْنا وسَمِعْنا ” انتهى.” المدونة الكبرى ” (1/151)، وهو المعتمد في كتب متأخري المالكية ، كما في ” جواهر الإكليل ” (1/97)، وفي ” حاشية الدسوقي ” (1/382).

Imam Malik rahimahullah berkata : “Diantara perkara yang dianjurkan untuk para imam yang naik mimbar adalah hendaknya berkhutbah pada hari jum’at dengan membawa tongkat yang mereka gunakan untuk bertumpu saat berdiri. Inilah yang kami lihat dan dengar.” Selesai “Al Mudawinah Al Kubraa” (1/151) Ini adalah kitab yang jadi pegangan ulama’ mutaakhiriin Malikiyah, sebagiman di “Jawaahirul Ikliil” (1/97) dan “Haasiyah Al Adswakhii” (1/382)

ويقول الإمام الشافعي رحمه الله :” أحب لكل من خطب – أيَّ خطبة كانت – أن يعتمد على شيء ” انتهى.” الأم ” (1/272)، وهو معتمد مذهب الشافعية أيضا ، كما في ” نهاية المحتاج ” (2/326)، ” حاشية قليوبي وعميرة ” (1/272) .

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Saya suka jika setiap orang yang khutbah –khutbah apa saja- bertumpu pada sesuatu.” Selesai. “Al Umm” (1/272) Ia kitab yang jadi pegangan madzab Syafi’I, sebagimana di “Nihaayatul Muhtaaj” (2/326) dan “Haasiyah Khulyuubi wa ‘Umairaah”

ويقول البهوتي الحنبلي رحمه الله :” ويسن أن يعتمد على سيف أو قوس أو عصا بإحدى يديه ” انتهى .” كشاف القناع ” (2/36)، وانظر: ” الإنصاف ” (2/397)

Al Buhuuti Al Hanbali rahimahullah berkata : “Dianjurkan memegang pedang, busur panah atau tongkat dengan salah satu tangannya.” Selesai. “Kasyaaful Qanaa’” (2/36) dan lihat “Al Inshaaf” (2/397). Continue reading

TETAP ISTIQAMAH DI WAKTU FITNAH (BHG. 2)


TETAP ISTIQAMAH DI WAKTU FITNAH (BHG. 2)

Syaikh Dr. Amin Al-Sa’di, Pensyarah Perbandingan Agama dan Firaq, Uni. Islam Madinah, Arab Saudi

Penterjemah: Ustaz Abu Omar Idris bin Sulaiman

menjaga diri dari fitnahCARA MENGHINDARI FITNAH

6) IKUTI SUNNAH & JAUHI BID’AH

Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, lima malam sebelum Baginda wafat, Baginda telah memberi peringatan supaya berjaga-jaga daripada kesyirikan, sebab-sebab, dan jalan-jalan yang menuju kepadanya. Baginda bersabda,

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ألا فلا تتخذوا القبور مساجد

“Allah melaknat Yahudi dan Nasara, mereka menjadikan kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah), maka janganlah kamu menjadikan perkuburan sebagai masjid.” (Riwayat Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain dengan tambahan,

فإنِّي أنْهاكم عن ذلِكَ

“Sesungguhnya aku melarang kamu daripada itu.”

Perhatikan nasihat agung ini, Baginda menekankan perkara ini, kerana di antara sebab-sebab berlakunya fitnah adalah timbulnya perkara-perkara bid’ah di dalam ibadah-ibadah dan yang seumpamanya. Fitnah ini adalah satu tohmahan ke atas Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, sama ada pelaku bid’ah itu merasakannya ataupun tidak.

Ini kerana orang itu seolah-olah berkata “Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam tidak menunaikan tanggungjawab Baginda di dalam agama ini dan tidak menyempurnakan agama ini, maka aku dan Syaikh aku akan mengadakan perkara-perkara tambahan dalam bentuk zikir-zikir, ucapan-ucapan, solat-solat dan seumpamanya sehingga agama ini menjadi sempurna.”

Telah berkata Imam Malik rahimahullahu Ta’ala,

مَنِ ابْتَدَعَ فِي اْلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: {اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا} فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَ يَكُنِ الْيَوْمَ دِيْنًا

“Barangsiapa yang membuat bid’ah di dalam Islam dan melihatnya hasanah (baik), sungguh dia telah mendakwa bahawa Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah, kerana Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku sempurnakan ke atas kamu nikmatKu, dan telah Aku redha Islam sebagai agama bagimu’ (Al-Maidah: 3).Maka apa-apa yang bukan agama pada hari itu (ketika ayat ini turun) maka bukanlah termasuk agama pada hari ini.” (‘Ilmu Ushul Al-Bida’, dinukil dari Al-I’tisaam Imam Al-Syatibi) Continue reading

TETAP ISTIQAMAH DI WAKTU FITNAH (BHG. 1)


TETAP ISTIQAMAH DI WAKTU FITNAH (BHG. 1)

Syaikh Dr. Amin Al-Sa’di, Pensyarah Perbandingan Agama dan Firaq, Uni. Islam Madinah, Arab Saudi

Penterjemah: Ustaz Abu Omar, Idris bin Sulaiman

menjaga diri dari fitnahPerbincangan kita pada malam ini berkisar tentang fitnah akhir zaman di mana ia adalah satu perkara yang cukup penting untuk kita ambil berat dan untuk kita ketahui berdasarkan kepada kedua Al-Quran dan juga Sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Jalla wa ‘Ala di dalam Al-Quran Al-Karim berfirman tentang fitnah,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan berjaga-jagalah kalian dari ‘fitnah’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Keras hukumanNya.” (Surah Al-Anfal: 25)

Perkataan fitnah membawa maksud ujian yang terpaksa dihadapi, di mana apabila seseorang itu dikatakan ditimpa fitnah maknanya seseorang itu telah diuji. Dan fitnah ini boleh menimpa kedua-duanya iaitu orang yang berlaku adil dan juga orang yang berlaku zalim, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Kamu pasti akan diuji terhadap hartamu dan dirimu, dan kamu pasti akan mendengar dari orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang menyekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Surah Ali ‘Imran, 3: 186)

Maka apabila fitnah menimpa orang yang beriman, ia akan membuktikan keimanan orang itu, berbeza dengan orang yang berlaku zalim, apabila ditimpa fitnah maka akan terbuktilah kezaliman dan kesesatan mereka.

WAJIB MENGHINDARI DAN MENYELAMATKAN DIRI DARI FITNAH

Ini membuatkan perlunya kita meminta perlindungan daripada Allah agar kita diselamatkan daripada ditimpa fitnah sama ada fitnah yang zahir mahupun fitnah yang tersembunyi. Ini merupakan sunnah Nabisallallahu ‘alaihi wasallam yang menuntut supaya kita sentiasa menjauhi pintu-pintu fitnah seperti mana sabit di dalam hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang ditimpa fitnah lalu dia bersabar, maka dia akan mendapat kebaikan.” (Sahih. Riwayat Abu Dawud) Continue reading